You are on page 1of 11

Gangguan Menstruasi

A. Definisi Menstruasi
Menstruasi adalah situasi pelepasan endometrium dalam bentuk serpihan dan
perdarahan akibat pengeluaran hormon estrogen dan progesteron yang turun dan berhenti
sehingga terjadi vasokontriksi pembuluh darah yang segera diikuti vasodilatasi
(Manuaba, 2009). Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dimana darah berasal
dari endometrium yang nekrotik (Kusmiyati, dkk, 2008).
Menstruasi yang terjadi setiap bulan secara terus menerus disebut sebagai siklus
menstruasi. Menstruasi biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga
menopause (sekitar usia 45- 55 tahun). Normalnya menstruasi berlangsung selama 3-7
hari. Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki
siklus 25-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun
beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur dan hal ini bisa menjadi indikasi
adanya masalah kesuburan. Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama periode
menstruasi sampai hari dimana perdarahan dimulai disebut sebagai hari pertama yang
kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir yaitu satu hari sebelum perdarahan
menstruasi bulan berikutnya dimulai.
B. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus ovarium
(indug telur) dan siklus uterus (rahim).
1. Siklus Ovarium
Siklus ovarium terbagi menjadi 3 fase:
a. Fase Folikuler
Dimulai dari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan terjadi
pelepasan sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi
pertumbuhan folikel di dalam ovarium. Pada pertengahan fase folikuler,
kadar FSH sedikit meningkat sehingga merangsang pertumbuhan sekitar 3 – 30
folikel yang masing-masing mengandung 1 sel telur, tetapi hanya 1 folikel yang
terus tumbuh, yang lainnya hancur. Pada suatu siklus, sebagian endometrium
dilepaskan sebagai respon terhadap penurunan kadar hormon estrogen dan
progesteron. Endometrium terdiri dari 3 lapisan. Lapisan paling atas dan lapisan
tengah dilepaskan, sedangkan lapisan dasarnya tetap dipertahankan dan
menghasilkan sel-sel baru untuk kembali membentuk kedua lapisan yang telah
dilepaskan. Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari, rata-rata selama
5 hari. Darah yang hilang sebanyak 28 -283 gram. Darah menstruasi biasanya
tidak membeku kecuali jika perdarahannya sangat hebat.
b. Fase ovulasi
Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel
telur. Sel telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16 – 32 jam setelah terjadi
peningkatan kadar LH. Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan
ovarium, akhirnya pecah dan melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini beberapa
wanita merasakan nyeri tumpul pada perut bagian bawahnya, nyeri ini dikenal
sebagai mittelschmerz, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa
jam.
c. Fase Luteal
Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari.
Setelah melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan
membentuk korpus luteum yang menghasilkan sebagian besar progesteron.
Progesteron menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat selama fase lutuel dan
tetap tinggi sampai siklus yang baru dimulai. Peningkatan suhu ini bisa digunakan
untuk memperkirakan terjadinya ovulasi. Setelah 14 hari, korpus luteum akan
hancur dan siklus yang baru akan dimulai, kecuali jika terjadi pembuahan. Jika
telur dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan HCG (hormone chorionic
gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang menghasilkan
progesterone sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri. Tes kehamilan
didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.
2. Siklus Uterus
Siklus uterus berupa pertumbuhan dan pengelupasan bagian dalam uterus-
endometrium.
Setiap satu siklus menstruasi terdapat 4 fase perubahan yang terjadi dalam uterus.
Fase-fase ini merupakan hasil kerja sama yang sangat terkoordinasi antara hipofisis
anterior, ovarium, dan uterus. Fase-fase tersebut adalah :
a. Fase menstruasi atau deskuamasi
Pada masa ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai dengan
perdarahan. Hanya lapisan tipis yang tinggal yang disebut dengan stratum basale,
stadium ini berlangsung 4 hari. Potongan-potongan endometrium dan lendir akan
keluar ketika menstruasi, darah menstruasi tidak membeku karena adanya fermen
yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan - potongan mukosa.

b. Fase post menstruasi


Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan endometrium secara berangsur -
angsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang tumbuh dari sel
- sel epitel kelenjar endometrium. Pada waktu ini tebal endometrium ± 0,5 mm,
stadium ini dimulai waktu stadium menstruasi dan berlangsung ± selama 4 hari.

c. Fase intermenstruum atau stadium proliferasi


Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm. Fase ini
berlangsung dari hari ke 5 sampai hari ke 14 dari siklus haid. Fase proliferasi
dapat dibagi dalam 2 subfase yaitu :

 Fase proliferasi dini

Fase proliferasi dini berlangsung antara hari ke 4 sampai hari ke 9. Fase


ini dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama
dari mulut kelenjar. Kelenjar ini kebanyakan lurus, pendek dan sempit. Bentuk
kelenjar ini merupakan ciri khas fase proliferasi : sel - sel kelenjar mengalami
mitosis.
Sebagian sediaan masih menunjukkan suasana fase menstruasi dimana
terlihat perubahan - perubahan involusi dari epitel kelenjar yang berbentuk
kuboid. Stroma padat dan sebagian menunjukkan aktivitas mitosis, sel - selnya
berbentuk bintang dan lonjong dengan tonjolan - tonjolan anastomosis. Nukleus
sel stroma relatif besar karena sitoplasma relatif sedikit.

 Fase proliferasi akhir


Fase ini berlangsung pada hari ke 11 sampai hari 14. Fase ini dapat
dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti
epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stroma bertumbuh aktif dan padat.
d. Fase pramenstruasi atau stadium sekresi
Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai ke
28. Pada fase ini endometrium kira - kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar
berubah menjadi panjang, berkeluk keluk dan mengeluarkan getah yang makin
lama makin nyata. Dalam endometrium telah tertimbun glikogen dan kapur yang
kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi. Fase sekresi dibagi
dalam 2 tahap, yaitu :

 Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya
karena kehilangan cairan.

 Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan
menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang
mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium
berubah kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar
C. Gangguan Menstruasi

1. Hipermenorea atau menoragia


a. Definisi

Menoragia adalah perdarahan lebih banyak dari normal atau lebih lama dari normal (lebih
dari 8 hari) dengan kehilangan darah lebih dari 80-100 ml (Sarwono, 2002).

Menoragia merupakan perdarahan haid lebih banyak dari normal atau lebih lama dari
normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi. Umumnya
jumlah darah menstruasi yang normal adalah sekitar 30 cc per hari, dan lama haid 4-6 hari. Jika
darah menstruasi seseorang mencapai 80cc, itu sudah abnormal. Dalam istilah kedokteran
disebut hipermenorea (menoragia) atau menstruasi berlebihan.

b. Etiologi
a. Gangguan hormone estrogen yang akan menyebabkan pertumbuhan endometrium.
Akibatnya terjadi peluruhan jaringan endometrium abnormal dan sekali-kali akan
menyebabkan perdarahan yang memanjang dan peluruhan yang tidak teratur.
b. Anovulasi, yaitu kegagalan pelepasan ovarium atau produksi telur yang matang
menyebabkan 90% dari perdarahan uterus yang tidak normal. Ini terjadi pada wanita saat
dan akhir masa produktif. Anovulasi ini menyebabkan pola menstruasi yang bervariasi,
perdarahan yang lebih berat, atau yang lebih ringan dari biasanya. Anovulasi ini
disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
a. Sekresi estrogen berlebihan terjadi gagal berovulasi akan menyebabkan tidak
terbentuknya korpus luteum yang akan memproduksi progesteron untuk perubahan
sekresi endometrium. Sekresi estrogen berlebih awalnya akan menyebabkan
hyperplasia adenomatous, hyperplasia atypical, dan akhirnya adenokarsinoma.
b. Prolactin berlebihan dan mengganggu kelenjar hipotalamus.
c. Sindrom polikista ovarium bisa menyebabkan anovulasi karena berhubungan dengan
sekresi gonadotropin yang tidak normal dan aktivitas androgen yang berlebihan.
d. Infeksi berat bisa menyebabkan perdarahan yang berat karena terganggunya
mekanisme pengumpulan darah, perokok, dan radang serviks merupakan risiko
infeksi serviks.
e. Penyebab organic seperti luka uterus, termasuk letomioma, polip, hyperplasia
endometrial, dan maligna.
c. Manifestasi Klinis

Tanda-tanda dan gejala-gejala termasuk haid tidak teratur, ketegangan menstruasi yang
terus meningkat, darah menstruasi yang banyak (menoragia) dengan nyeri tekan pada payudara,
menopause dini, rasa tidak nyaman pada abdomen, dyspepsia, tekanan pada pelvis, dan sering
berkemih.

Gejala-gejala ini biasanya samar, tetapi setiap wanita dengan gejala-gejala


gastrointestinal dan tanpa diagnosis yang diketahui harus dievaluasi dengan menduga kanker
ovarium. Flatulens dan rasa penuh setelah memakan makanan kecil dan lingkar abdomen yang
terus meningkat merupakan gejala-gejala signifikan.

Gejala Klinis :

a. Perdarahan haid lebih dari 80-100 ml


b. Lamanya haid lebih dari 8 hari.

d. Patofisiologi

Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon


(GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal
ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus,
pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah
ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan
berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi progesteron.
Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari
setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari peluruhan endometrium sebagai
akibat dari penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.

Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi awal yang
disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa
kondisi patologis. Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi
dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada
korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi. Endometrium
berplroliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan
mengakibatkan perdarahan.

e. WOC
Terlampir
f. Penatalaksanaan
 Suplemen zat besi (jika kondisi menorhagia disertai anemia, kelainan darah
yang disebabkan oleh defisiensi sel darah merah atau hemoglobin).
 Prostaglandin inhibitor seperti medications (NSAID), seperti aspirin atau
ibuprofen.
 Kontrasepsi oral (ovulation inhibitor)
 Progesteron (terapi hormon)
 Hysteroctomy (operasi untuk menghilangkan uterus)

4. Hipomenorea
a. Definisi

Hipomenore merupakan suatu keadaan dimana perdarahan haid lebih pendek


atau lebih kurang dari biasanya. Pada kelainan ini siklus menstruasi tetap teratur
sesuai dengan jadwal menstruasi, jumlahnya sedikit, tidak banyak berdarah.
Hipomenore tidak mengganggu fertilitas.

b. Etiologi

Penyebab hipomenore yaitu gangguan hormonal, kesuburan endometrium


kurang akibat dari kurang gizi, atau wanita dengan penyakit tertentu, kekurangan
estrogen maupun progesteron, stenosis hymen, stenosis serviks uteri, sinekia
uteri(sindrom asherman) serta faktor psikologis seperti stres.

c. Manifestasi Klinis

Waktu haid singkat, jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc), kadang-kadang
hanya berupa spotting.
d. Patofisiologi

Jumlah perdarahan haid yang kurang dapat terjadi secara normal. Hal ini
karena ovulasi, dan lapisan endomaterial gagal untuk berkembang secara normal.
Anovulasi terjadi karena rendahnya tingkat hormon tiroid, tingkat prolaktin tinggi,
tingkat insulin tinggi, tingkat androgen tinggi dan masalah dengan hormon lain juga
dapat menyebabkan periode langka. Menstruasi yang jarang juga dapat terjadi setelah
penggunaan jangka panjang dari kontrasepsi oral sebagai akibat dari endomaterial
atrofi progresif. Faktor psikologis seperti stres karena ujian, atau kegembiraan yang
berlebihan tentang peristiwa yang akan datang dapat menyebabkan hypomenore.
Faktor ini menekan aktivitas pusat di otak yang merangsang indung telur selama
siklus ovarium (untuk mengeluarkan hormon seperti estrogen dan progesteron), dan
dapat berakibat pada produksi yang rendah hormon ini.

e. Penatalaksanaan
Pada umumnya hipomenore tidak memerlukan terapi.
Tindakan keperawatan antara lain :
a. Menenangkan dan mengurangi kecemasan klien.
b. Merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.
Daftar Pustaka

Bobak, Lowdermik dan Jensen. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.

Hamitton, Persis Mary. (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 6. Jakarta : EGC.

http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/5/jhptump-a-intanayuan-208-2-babii.pdf

Reeder dkk.2013.keperawatan Maternitas kesehatan wanita,bayi dan keluarga,volume 1.jakarta:


EGC

Mitayani.2011.Asuhan Keperawatan Maternitas.Jakarta : Salemba Medika

Herdman,T.H.2012(ed).NANDA International Nursing Diagnosis: Defenition and


classification,2012 – 2014. Oxford: wiley – blackwell.

Gloria,dkk.2013(ed).Nursing Interventions Classification sixth edition.united states:elsevier.

Moorhead,sue , dkk.2013(ed).Nursing Outcome Classification.fifth edition.united states:elsevier.


Lampiran

Pathway Hipermenorea

LH ↓ Gangguan Produksi Sindrom Infeksi Penyebab


hormon prolaktin polikista berat organik (luka
estrogen berlebih uterus, polip,
Korpus hyperplasia
luteum Sekresi endometrial
tidak Terganggunya
Pertumbuhan Hipotalamus gonado- dan maligna
terbentuk mekanisme
endometrium terganggu tropin
pengumpulan
terganggu tidak
darah
normal
Progesteron
tidak Peluruhan
disekresi Androgen
endomentrium berlebih
memanjang

HIPERMENOREA
Anovulasi

Perdarahan berlebih Kehilangan darah


(> 8 hari) > 80-100 ml Korpus luteum
tidak terbentuk

MK: Ansietas, MK: Kekurangan


Kurang pengetahuan volume cairan
Pathway Hipomenore
Gangguan Kurang gizi Faktor psikologi
hormonal
(stres)

Kesuburan
endometrium Menekan aktivitas pusat
Hormon tiroid kurang di otak yang merangsang
rendah indung telur
Insulin,
prolaktin, lapisan endomaterial
androgen Estrogen dan
gagal untuk berkembang progesteron rendah

HIPOMENORE

Waktu haid singkat Jumlah darah haid sedikit

MK : Ansietas