You are on page 1of 5

Bagaimana Alur Diagnosis An.T?

A. RINITIS ALERGI
 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Hidung dan mata terasa gatal, dan Bersin Bersin sepanjang hari

Pada anamnesis ditanyakan :


 Indetitas
 Keluhan
 Riwayat penyakit sekarang
 Riwayat penyakit dahulu
 Riwayat penyakit keluarga
 Apakah bersin bersin berulang ?
 Apakah keluar ingus (rinore) yang encer?
 Apakah hidung tersumbat?
 Apakah terasa gatal pada hidung dan mata?
 Apakah pada saat bersin, air mata juga keluar?

 PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Fisik untuk rinitis alergi berfokus pada hidung, tetapo pemeriksaan
wajah, mata,telinga, leher, paru-paru dan kulit juga penting.

 WAJAH
- Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan
dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung\
- Nasal crease yaitu lipatan horizontal yang melalui setengah bagian bawah
hidung akibat kebiasaan menggosok ke atas dengan tangan

 HIDUNG
- Pada rhinoskopi akan tampak mukosa edema,basah, berwana pucat
adanya secret encer dan banyak
- Karakteristik mukus encer dan putih
- Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi atau perforasi septum
yang dapat disebabkan oleh rinitis alergi kronik
- Periksa rongga hidung untuk melihat adanya massa seperti polip dan
tumor. Polip berupa massa yang bewarna abu-abu. Dengan dekongestan
topikal polilp tidak akan menyusut, sedangkan mukosa hidung akan
menyusut
 TELINGA, MATA DAN OROFARING
- Dengan otoskpi perhatikan adanya retraksi membran timpani. Kelainan
mobilitas dari membran timpani dapat dilihat dengan menggunakan
otoskopi pnematik. Kelainan tersebut dapat terjadi pada renitis alergi
yang disertai dengan disfungsi tuba eustachius dan OM sekunder.
- Pada pemeriksaan mata akan ditemukan injeksi dan pembengkakan
konjungtiva palpebra yang disertai dengan produksi air mata.

 PEMERIKSAAN BANDING
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain hitung eosinofil
dalam apusan darah tepi, pemeriksaan IgE totan, skin prick test.
Skin test : menggunakan pelbagai allergen untuk mendeteksi allergen
penyebab

- Daftar pustaka
- Mansjoer. arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama.
Jakarta : Balai penerbit FK UI.
Urtikaria

 Anamnesis
Berdasarkan dari anamnesa pasien. Keluhan subyektif biasanya gata, rasa
terbakar, atau tertusuk pada daerah lesi. Selain itu. Pasien memiliki alergi
terhadap obat dan makanan tertentu. Atau pernah mengalami suatu
pengalaman yang salah satu penyebab urtikaria. Misalnya pernah mengalami
suatu penyakit sistemik atau mengalami trauma psikis kejiwaan atau fisik
yang berhubungan dengan suhu maupun tekanan.

 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan kulit ditemukan
1. Lokalisasi : pada badan. Tapi dapat juga mengenai ekstremitas kepala
leher
2. Efloresensi : Eritema dan edema setempat berbatas tegas. Kadang kadang
bagian tengah tampak pucat. Bentuknya dapat papular, epidermis
disekitar urtikaria normal
3. Ukuranya dari beberapa milimeter hingga sentimeter. Dapat berbentuk
dari lentikular, numular. Sampai plakat. Karakteristik lesi berwarna
kemerahan dan terasa gatal.

 Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan darah, urin, dan feses rutin untuk menilai ada tidaknya
infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada organ dalam
- Pemeriksaan gigi, telinga,hidung, tenggorok.
- Tes kulit. Meskipun terbatas kegunaanya dapat dipergunakan untuk
membantu diagnosis. Uji gores (scratch test) dan uji tusuk (prick test)
serta tes intradermal.
- Tes eliminasi makanan
- Pemeriksaan hostopatologik
- Tes dengan es (ice cube test) dan air hangat
- Pada urtikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto tempel
- Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan pada diagnosa urtilkaria
koligernik.

 Daftar pustka
- Djuanda A. Hamzah Mochtar. Aisah S. Eds. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin Edisi keenam cetakan 2013 Tempat, Indonesia balai penerbit
FKUI jakarta.
- Baratawidjaja K. Imunologi Dasar indonesia Balai penerbitan Fakultas
kedokteran Universitas indonesia.
- Baskoro A, soegiato G. Effendi C. Konthen PG. Urtikaria : Buku ajar ilmu
penyakit dalam.

DefinisI Penyakit An,T?

 URTIKARIA
Urtikaria ialah reaksi vaskularisasi di kulit akibat bermacam macam sebab.
Biasanya ditandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan
menghilang perlahan lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di
permukaan kulit, sekitarnya dapat dikelilingi halo. Keluhan subyektif biasanya
gatal, rasa tersengat atau tertusuk. Angioedema ialah urtika yang mengenai
lapisan kulit yang lebih dalam daripada dermis, dapat di submukosa, atau di
subkutis, juga dapat mengenai saluran napas, saluran cerna, dan orhan
kardiovaskular.

 Daftar pustaka
Djuanda A. Hamzah Mochtar. Aisah S. Eds. Ilmu penyakit kulit dan kelamin Edisi
keenam cetakan 2013 Tempat, Indonesia balai penerbit FKUI jakarta.

 RENITIS ALERGi
Renitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang
sama serta dilepaskanya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan
dengan alergen spesifik tersebut. Definisi menurut WHO ARIA ( Allergic
Rhinitis and its impact on asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung
dengan gejala bersin bersin, rinore, resa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar alergen yang diperantai oleh IgE.

 Daftar pustaka
Soepardi Efiatym Iskandar Nurbaiti, Buku ajar ilmu Kesehatan THT edisi 7. Jakarta :
FKUI hal. 106.