You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948
menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai suatu keadaan fisik,
mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau
kelemahan. Sejalan dengan WHO pengertian sehat menurut UU Pokok
Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi
kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya
keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Menurut UU No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, menyatakan bahwa
rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rumah sakit merupakan institusi
pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan
teknologi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu
meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat
agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Depkes RI, 2009).
Meningkatnya tuntutan masyarakat terutama di rumah sakit, secara
berkesinambungan membuat rumah sakit harus melakukan upaya peningkatan
mutu dalam pemberian pelayanan kesehatan. Salah satu mutu pelayanan
kesehatan yang harus ditingkatkan adalah mutu pelayanan keperawatan di
rumah sakit (Depkes RI, 2009). Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan rumah sakit harus juga disertai upaya untuk meningkatkan
kualitas pelayanan keperawatan (Mulyono, 2013).
Berdasarkan UU No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan, menyatakan
bahwa pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat, baik sehat maupun sakit. Pasien sebagai pengguna jasa pelayanan
keperawatan menuntut pelayanan keperawatan sesuai dengan haknya, yakni
pelayanan keperawatan yang bermutu dan paripurna. Keperawatan sebagai

1
profesi dan tenaga profesional yang bertanggungjawab untuk memberikan
pelayanan keperawatan sesuai kewenangan dan kompetensi yang dimiliki
secara mandiri oleh perawat maupun bekerjasama dengan anggota tim
kesehatan lain (Gustini, 2010).
Pengembangan dalam berbagai aspek keperawatan bersifat saling
berhubungan, saling bergantung, saling mempengaruhi dan saling
berkepentingan. Oleh karena itu, inovasi dalam pendidikan keperawatan,
praktek keperawatan, ilmu keperawatan, dan kehidupan keprofesian
merupakan fokus utama keperawatan dalam proses profesionalitas. Proses
profesionalisasi merupakan proses pengakuan terhadap sesuatu yang dirasakan,
dinilai, dan diterima secara spontan oleh masyarakat. Perawat dituntut untuk
mengembangkan dirinya dalam sistem pelayanan kesehatan.
Keperawatan di Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses
mewujudkan keperawatan sebagai profesi, maka akan terjadi beberapa
perubahaan dalam aspek keperawatan, yaitu penataan pendidikan tinggi
keperawatan, pelayanan dan Asuhan Keperawatan, pembinaan dan kehidupan
keprofesian, serta penataan lingkungan untuk perkembangan keperawatan.
Perubahaan-perubahaan ini akan membawa dampak yang positif seperti makin
meningkatnya mutu pelayanan kesehatan atau keperawatan yang
diselenggarakan, makin sesuainya jenis dan keahlian tenaga kesehatan atau
keperawatan yang tersedia dengan tuntutan masyarakat, bertambahnya
kesempatan kerja bagi tenaga kesehatan. Oleh karena alasan-alasan di atas,
pelayanan keperawatan harus dikelola secara profesional melalui Manajemen
Keperawatan.
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi
keperawatan, baik didalam maupun diluar negri yang diakui oleh Pemerintah
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (UU No. 38 Tahun 2014).
Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas bagi pasien
akan mendukung keberhasilan dalam pembangunan kesehatan karena
keberadaan perawat yang bertugas selama 24 jam dirumah sakit dalam
memberikan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien dan jumlah perawat
yang mendominasi tenaga kesehatan berkisar 40-60%, sehingga perawat

2
dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu
(Nursalam, 2012).
Perawat profesional adalah perawat yang bertanggungjawab dan
berwewenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan atau
berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain sesuai dengan kewenanganya
(Depkes RI,2002).
Manajemen menurut Nursalam (2013) merupakan suatu pendekatan yang
dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi, di dalam
Manajemen tersebut mencakup kegiatan POAC (Planning, Organizing,
Actuating, Controlling) terhadap staff, sarana dan prasarana dalam mencapai
tujuan organisasi. Keempat fungsi tersebut saling berhubungan dan
memerlukan keterampilan-keterampilan teknis, hubungan antar manusia,
konseptual yang mendukung asuhan keperawatan yang bermutu, berdaya guna
dan berhasil guna bagi masyarakat.
Manajemen keperawatan menurut Nursalam (2012), merupakan suatu
pelayanan keperawatan professional dimana tim keperawatan dikelola dengan
menjalankan empat fungsi manajemen antara lain perencanaan,
pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian. Ke empat fungsi tersebut saling
berhubungan dan memerlukan keterampilan-keterampilan teknis, hubungan
antara manusia, konseptual yang mendukung asuhan keperawatan yang
bermutu, berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat. Hal ini menunjukan
bahwa manajemen keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam
pengembangan keperawatan di masa depan, karna berkaitan dengan tuntutan
profesi dan kontribusi pelayanan keperawatan terhadap pelayanan kesehatan,
yang di laksanakan di sarana kesehatan sangat tergantung pada manajemen
pelayanan perawatan. Manajemen pelayanan keperawatan merupakan suatu
proses perubahan atau transformasi dari sumber daya yang dimiliki untuk
mencapai tujuan (Nursalam, 2013).
Kepuasan pasien tergantung pada kualitas pelayanan. Pelayanan adalah
semua upaya yang dilakukan karyawan untuk memenuhi keinginan
pelanggannya dengan jasa yang akan diberikan. Suatu pelayanan dikatakan
baik oleh pasien, ditentukan oleh kenyataan apakah jasa yang diberikan bisa
memenuhi kebutuhan pasien, dengan menggunakan persepsi pasien tentang
pelayanan yang diterima (memuaskan atau mengecewakan, juga termasuk

3
lamanya waktu pelayanan). Kepuasan dimulai dari penerimaan terhadap pasien
dari pertama kali datang, sampai pasien meninggalkan rumah sakit. Pelayanan
dibentuk berdasarkan 4 prinsip Service Quality yaitu kecepatan, ketepatan,
keramahan dan kenyamanan layanan.
Pelayanan keperawatan secara profesional perlu mendapatkan perhatian
dalam pengembangan dunia keperawatan.Salah satu strategi untuk
mengoptimalkan peran dan fungsi perawat dalam pelayanan keperawatan
adalah melakukan manajemen keperawatan dengan harapan adanya faktor
kelola yang optimal mampu meningkatkan keefektifan pembagian pelayanan
keperawatan sekaligus lebih menjamin kepuasan klien terhadap pelayanan
keperawatan (Jasun, 2010).
Pelayanan keperawatan merupakan bagian internal dari pelayanan
kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan, keberadaan perawat merupakan posisi
kunci, yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa 40-60 % pelayanan rumah sakit
merupakan pelayanan keperawatan dan hampir semua pelayanan promosi
kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit maupun tatanan
pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat (Nursalam, 2013).
Pemberian asuhan keperawatan yang baik dan benar dapat menjadikan
kepuasan pasien yang tergantung pada kualitas pelayanan. Pelayanan adalah
semua upaya yang dilakukan karyawan untuk memenuhi keinginan
pelanggannya dengan jasa yang akan diberikan. Suatu pelayanan dikatakan
baik oleh pasien, ditentukan oleh kenyataan apakah jasa yang diberikan bisa
memenuhi kebutuhanp asien, dengan menggunakan persepsi pasien tentang
pelayanan yang diterima (memuaskan atau mengecewakan, juga termasuk
lamanya waktupelayanan). Pelayanan dibentuk berdasarkan 5 prinsip Service
Quality yaitu kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan layanan. Dan
pelayanan keperawatan tersebut harus dikelola secara profesional melalui
manajemen keperawatan (Nursalam, 2012).
Salah satu metode dalam aplikasi pelayanan yang bermutu adalah dengan
metode SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Professional).
SP2KP adalah system pemberian pelayanan keperawatan profesional yang
merupakan pengembangan dari MPKP (Model Praktek Keperawatan
Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama profesional antara

4
perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) serta tenaga kesehatan lainnya
(Perry & Potter,2009).
Rumah sakit Umum Daerah Palembang BARI merupakan unsur
penunjang pemerintah daerah di bidang pelayanan kesehatan yang merupakan
satu-satunya rumah sakit umum milik pemerintah kota Palembang. Seperti
yang tertuang dalam Visi dan Misi RSUD Palembang Bari adalah “Menjadi
Rumah Sakit Unggul, Amanah, dan Tepercaya di Indonesia”. Sedangkan
Misinya yaitu Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan prima dengan
berorientasi pada keselamatan dan ketepan sesuai standar mutu berdasarkan
pada etika dan profesionalisme yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.,
Meningkatkan mutu manajemen sumber daya kesehatan serta Menjadikan
RSUD Palembang BARI sebagai rumah sakit pendidikan dan pelatihan di
Indonesia.
Praktek klinik keperawatan mata kuliah manajemen keperawatan yang
dilakukan oleh mahasiswa Program Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah di ruang Penyakit Dalam RSUD
Palembang Bari tidak hanya menekankan proses pembelajaran mahasiswa agar
dapat menguasai ranah atau domain kognitif, tetapi juga memberikan
penekanan yang sama pada arah psikomotor dan afektif yang akan didapatkan
melalui praktek klinik. Mata kuliah ini diberikan untuk membantu mahasiswa
memperoleh pengalaman belajar manajemen keperawatan yang dapat
membantu dalam aplikasi ditatanan pelayanan keperawatan nyata dengan peran
sebagai manajer kepala ruangan, ketua tim, serta perawat asosiasiat. Dalam
rangkaian praktek klinik keperawatan ini, mahasiswa akan mendapatkan
bentuk pengalaman belajar praktik klinik keperawatan dengan Sistem
Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melakukan praktek manajemen keperawatan di Ruang
Penyakit Dalam RSUD Palembang Bari, mahasiswa mampu memahami
manajemen keperawatan baik pengelolaan sarana maupun kegiatan
keperawatan dalam tatanan klinik meliputi :
a. Menunjukkan keterampilan mengorganisasi dan koordinasi kegiatan-

5
kegiatan keperawatan secara efektif.
b. Menerapkan gaya, pendekatan dan strategi pendekatan untuk
mempengaruhi individu dan kelompok tehadap penentuan dan
pencapaian tujuan dalam situasi khusus.
c. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah dalam merencanakan
kegiatan-kegiatan keperawatan serta menerapkan intervensi dan
mengevaluasinya.
d. Menunjukkan kematangan pribadi dan kepemimpinan dalam bekerja
secara teamwork sehingga siap menjadi calon leader yang memiliki
profesional behaviour dan soft skill ditatanan pelayanan keperawatan.

2. Tujuan Khusus
Secara kelompok dan individu, mahasiswa dapat menunjukkan
kemampuan dalam hal:
a. Melakukan pengkajian dalam proses pengumpulan data di Ruang
Penyakit Dalam RSUD Palembang Bari.
b. Menganalisis data dan memahami masalah-masalah dalam
pengorganisasian asuhan keperawatan di Ruang Penyakit Dalam RSUD
Palembang Bari.
c. Mengidentifikasi masalah yang telah ditemukan kelompok
d. Memprioritaskan masalah yang sudah diidentifikasi
e. Merencanakan beberapa alternatif pemecahan masalah yang disepakati
oleh kepala ruangan
f. Mengorganisasikan pelaksanaan kegiatan keperawatan
g. Melakukan usaha-usaha koordinasi kegiatan keperawatan dengan
perawat di Ruang Penyakit Dalam RSUD Palembang Bari
h. Memilih dan menerapkan gaya pendekatan dan strategi dalam
mempengaruhi orang lain untuk pencapaian tujuan praktik manajemen
keperawatan
i. Kelompok melaksanakan penerapan SP2KP dengan melaksanakan
evaluasi setelah pelaksanaan SP2KP
j. Melaksanakan magang sebagai kepala ruang, perawat primer dan
perawat asosoasi secara bergantian selama tiga hari di Ruang Penyakit
Dalam RSUD Palembang Bari

6
C. Tempat dan Waktu
Praktik Klinik Keperawatan Stase Manajemen Keperawatan Mahasiswa
Program Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah
Palembang dilaksanakan di Ruang Penyakit Dalam RSUD Palembang Bari dari
Tanggal 28 Januari – 15 Februari 2019.

D. Peserta
1. Mahasiswa
Praktik Klinik Keperawatan Stase Manajemen Keperawatan Profesi
Ners STIKes Muhammadiyah Palembang angkatan XIII (tiga belas) terdiri
dari 5 mahasiswa yaitu :
a. Andre Pratama, S.Kep
b. AisyahAmalia Putri, S.Kep
c. Aka Maries, S.Kep
d. Amalia Nurazima, S.Kep
e. Idrizal, S.Kep

2. Pembimbing
Pembimbing terdiri dari pembimbing akademik dan pembimbing
lapangan yaitu :
a. Pembimbing Akademik : Sri Yulia, S.Kp,.M.Kep
b. Pembimbing Klinik : Ns. Masrianah, S.Kep.,M.Kes
Ns. Erni Andriyani, S.Kep.,MM
Ns. Selvia Zulfiani, S.Kep. M.KM

3. Metode Pengambilan Data


Metode pengambilan data yaitu dengan menggunakan metode
kuesioner, observasi, dan wawancara.
1) Metode kuesioner yaitu pengumpulan data dengan menggunakan lembar
kuesioner yang dibagikan kepada semua perawat termasuk kepala
ruangan, ketua tim, dan pasien serta keluarga.
2) Observasi yaitu dengan melihat dan mengobervasi secara langsung
seluruh kegiatan yang ada diruangan.
3) Study dokumen yaitu pengambilan data awal dari ITI, rekam medik dan
Kabid Keuangan.

B. Kategori Penilaian
Kategori penilaian berdasarkan Arikunto (2006) yang akan diberikan
pada masing-masing komponen instrumen pengumpulan data 5M (Man,
Money, Material, Machine, Method), pasien, peserta didik yang ada.

7
Berdasarkan kesepakatan kelompok penilaian untuk hasil instrument
dikategorikan menjadi 4 yaitu, sebagai berikut :
1. SangatBaik : 80 - 100 %
2. Baik : 70 - 79%
3. Cukup : 50 - 69%
4. Buruk : <49 %