You are on page 1of 7

‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬

Hikmah di Balik Musibah

KHUTBAH PERTAMA

‫ت أ َ ْع َما ِل‬ ُ ‫ِإ َّن ْال َح ْمدَ هللِ ن َْح َمدُهُ َونَ ْست َ ِع ْينُهُ َونَ ْست َ ْغ ِف ُرهُ َونَعُ ْوذُ ِباهللِ ِم ْن‬
َ ‫ش ُر ْو ِر أ َ ْنفُ ِسنَا َو‬
ِ ‫س ِيِّئَا‬
ُ‫ِي لَهُ َوأ َ ْش َهدُ أ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإالَّ هللاُ َو ْحدَه‬
َ ‫ض ِل ْل فَالَ هَاد‬ ْ ُ‫ض َّل لَهُ َو َم ْن ي‬ ِ ‫نَا َم ْن َي ْه ِد ِه هللاُ فَالَ ُم‬
.ُ‫س ْولُه‬ُ ‫الَ ش َِري َْك لَهُ َوأ َ ْش َهدُ أ َ َّن ُم َح َّمدا ً َع ْبدُهُ َو َر‬

ِّ ْ‫“يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُواْ اتَّقُوا‬


.” َ‫ّللاَ َح َّق تُقَاتِ ِه َوالَ ت َ ُموت ُ َّن إِالَّ َوأَنتُم ُّم ْس ِل ُمون‬

‫ث ِم ْن ُه‬ ِ ‫اس اتَّقُواْ َربَّ ُك ُم الَّذِي َخلَقَ ُكم ِ ِّمن نَّ ْف ٍس َو‬
َّ ‫احدَ ٍة َو َخ َلقَ ِم ْن َها زَ ْو َج َها َو َب‬ ُ َّ‫“ َيا أَيُّ َها الن‬
‫ّللاَ َكانَ َعلَ ْي ُك ْم‬ َ ‫ساءلُونَ بِ ِه َواأل َ ْر َح‬
ِّ ‫ام إِ َّن‬ َ َ ‫ّللاَ الَّذِي ت‬
ِّ ْ‫ساء َواتَّقُوا‬ َ ِ‫َما ِر َجاالً َكثِيرا ً َون‬
.”ً ‫َرقِيبا‬

‫ص ِل ْح لَ ُك ْم أ َ ْع َمالَ ُك ْم َويَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم ذُنُو‬ َ ً‫ّللاَ َوقُولُوا قَ ْوال‬


ْ ُ‫ ي‬. ً ‫سدِيدا‬ َّ ‫“يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬
”ً ‫ع ِظيما‬َ ً ‫سولَهُ فَقَ ْد فَازَ فَ ْوزا‬ َّ ‫َب ُك ْم َو َمن يُ ِط ْع‬
ُ ‫ّللاَ َو َر‬
‫أما بعد‬

Jamaah Jumat rahimakumullah

Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu m
engamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjau
hi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sa
llam, kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah

Orang yang merenungi sunnatullah tentu akan mengetahui bahwa cobaan merupakan salah satu suna
h (ketetapan) Allah yang bersifat kauniyyah qadariyyah (qadar Allah terhadap alam semesta). Allah Sub
hanahu wa Ta’ala berfirman:
ِّ ِ َ‫ت َوب‬
‫ش ِر‬ ٍ ‫ف َو ْال ُجوعِ َونَ ْق‬
ِ ‫ص ِ ِّمنَ اْأل َ ْم َوا ِل َواْألَنفُ ِس َوالث َّ َم َرا‬ ِ ‫َيءٍ ِمنَ ْالخ َْو‬
ْ ‫َولَنَ ْبلُ َونَّ ُك ْم ِبش‬
َ‫صا ِب ِرين‬ َّ ‫ال‬

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al
Baqarah: 155)

Sungguh keliru orang yang beranggapan, bahwa hamba Allah yang paling shaleh adalah orang yang p
aling jauh dari cobaan, bahkan cobaan merupakan tanda keimanan. Di dalam hadis disebutkan:

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah
orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang setelahnya dan setela
hnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. Siapa yang imannya tinggi, maka ujiannya pun b
erat, dan siapa yang imannya rendah maka ujiannya disesuaikan dengan kadar imannya. Ujian ini akan
tetap menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi)

Di samping itu, cobaan adalah salah satu tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya, Rasulullah shallalla
hu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫ي‬ ِ ‫ فَ َم ْن َر‬،‫ َو ِإ َّن هللاَ ت َ َعالَى ِإذَا أ َ َحبَّ قَ ْوما ً ا ْبتَالَ ُه ْم‬،‫ظ ِم ْالبَالَ ِء‬
َ ‫ض‬ ِ َ‫ظ َم ْال َجز‬
َ ‫اء َم َع ِع‬ َ ‫ِإ َّن ِع‬
ُ ‫س ْخ‬
‫ط‬ ُّ ‫ط فَلَهُ ال‬ َ ‫س ِخ‬َ ‫ َو َم ْن‬،‫ضي‬ َ ‫الر‬ِّ ِ ُ‫فَلَه‬

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum
, maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Ny
a dan barang siapa yang kesal terhadapnya, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (HR. Ahmad
dan Tirmidzi, Tirmidzi menghasankannya)

Demikian juga cobaan merupakan salah satu tanda diberikan oleh Allah kebaikan kepadanya. Rasululla
h shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َّ ‫ َو ِإذَا أ َ َرادَ ِب َع ْب ِد ِه ال‬،‫ِإذَا أ َ َرادَ هللاُ ِب َع ْب ِد ِه ْال َخي َْر َع َّج َل لَهُ ْالعُقُ ْو َبةَ فِي الدُّ ْن َيا‬
َ ‫ش َّر أ َ ْم‬
ُ‫س َك َع ْنه‬
‫ى ِب ِه يَ ْو َم ْال ِق َيا َم ِة‬
َ ‫ِبذَ ْن ِب ِه َحتَّى يُ َوا ِف‬
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat hukuman d
i dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya maka ditahan hukuman itu karen
a dosa-dosanya sehingga ia mendapatkan balasannya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Dan sebagai penebus dosanya, meskipun bentuknya kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersa
bda:
َّ ‫يب ْال ُم ْس ِل َم ِإالَّ َكفَّ َر‬
َّ ‫ َحتَّى ال‬، ُ‫ّللاُ ِب َها َع ْنه‬
» ‫ش ْو َك ِة يُشَا ُك َها‬ ُ ‫ص‬ِ ُ ‫صيبَ ٍة ت‬
ِ ‫َما ِم ْن ُم‬
“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosany
a, meskipun hanya terkena duri.” (HR. Bukhari)

Sebaliknya, jika seseorang diberikan dunia ini namun tetap bergelimang di atas kemaksiatan, maka keta
huilah bahwa yang demikian merupakan istidraj (penangguhan azdab dari Allah). Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

َ‫اص ْي ِه َما يُ ِحبُّ فَإِنَّ َما هُ َو ا ْستِ ْد َرا ٌج ث ُ َّم تَال‬


ِ َ‫لى َمع‬َ ‫ْت هللاَ يُ ْع ِطى ْالعَ ْبدَ ِمنَ الدُّ ْنيَا َع‬
َ ‫اِذَا َرأَي‬
.‫االية‬.… ‫سوا‬ ُ َ‫س ْو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم “فَلَ َّما ن‬ ُ ‫َر‬
“Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia yang disenangi kepada seorang hamba pa
dahal ia berada di atas maksiat, maka sebenarnya hal itu adalah istidraj”, kemudian Rasulullah shallallah
u ‘alaihi wa sallam membacakan ayat:

”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membuka
kan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa y
ang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu m
ereka terdiam berputus asa. (QS.Al An’aam: 44). (HR. Ahmad dengan isnad yang jayyid, Shahihul Jami’
no. 561)

Hikmah Adanya Musibah

Jamaah Jumat ‘azzaniyallhu wa iyyakum

Oleh karena itu, seorang muslim yang tertimpa musibah, jika ia seorang yang shaleh, maka cobaan itu
menghapuskan kesalahan-kesalahan yang lalu dan mengangkat derajatnya. Namun jika ia seorang pel
aku maksiat, maka cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosanya dan sebagai peringatan terhadap ba
haya dosa-dosa itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

َ‫ت لَ َعلَّ ُه ْم يَ ْر ِجعُون‬


ِ ‫س ِيِّئَا‬
َّ ‫ت َوال‬ َ ‫َوبَلَ ْونَا ُهم ِب ْال َح‬
ِ ‫سنَا‬

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka k
embali (kepada Allah).” (QS. Al A’raaf: 168)

Yakni agar kembali beribadah kepada Allah, mengingat-Nya dan bersyukur terhadap nikmat-Nya.Ibnul
Qayyim berkata, “Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kes
ombongan, ujub (bangga diri), dan kerasnya hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya
di dunia maupun akhirat. Di antara rahmat Allah, kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang men
jadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga kebersihan ibadahnya. Maha Suci Alla
h yang merahmati manusia dengan musibah dan ujian.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Musibah yang diterima karena Allah semata, lebih baik bagimu
daripada nikmat yang membuat lupa mengingat-Nya.”

ٍ ‫ َو ِل َج ِميْعِ ال ُم ْس ِل ِميْنَ ِم ْن ُك ِِّل ذَ ْن‬،‫ َوأ َ ْست َ ْغ ِف ُرهُ العَ ِظي َْم ال َج ِل ْي َل ِل ْي َولَ ُك ْم‬،‫أَقُ ْو ُل قَ ْو ِلي َهذَا‬
،‫ب‬
َ ‫فَا ْست َ ْغ ِف ُر ْوهُ؛ إِنَّهُ ُه َو الغَفُ ْو ُر‬
‫الر ِح ْي ُم‬

KHUTBAH KEDUA

ُ‫ َوأ َ ْش ُك ُره‬،‫الم ْد َر ِار‬ ِ ‫ض ِل ِه‬ ْ َ‫ أ َ ْح َمدُهُ تَعَالَى َعلَى ف‬،‫ار‬ ِ َّ‫الر ِحي ِْم الغَف‬
َ ،‫ار‬ ِ ‫اح ِد القَ َّه‬
ِ ‫الو‬ َ ِ‫اَل َح ْمدُ ِ ِّلِل‬
ُ‫ َوأ َ ْش َهد‬،‫َّار‬ ُ ‫ َوأ َ ْش َهدُ أ َ ْن َّال ِإلَهَ ِإ َّال هللا َو ْحدَهُ َال ش َِري َْك لَهُ ال َع ِزي ُْز ال َجب‬،‫َعلَى نِ َع ِم ِه ال ِغزَ ِار‬
‫ا‬ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َعلَى آ ِل ِه‬ َ ،‫طفَى ال ُم ْختَار‬ َ ‫ص‬ ْ ‫س ْولُهُ ال ُم‬
ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬ َ ً ‫أ َ َّن نَبِيَّنَا ُم َح َّمدا‬
‫ان‬
ٍ ‫س‬ َ ‫ َو َم ْن ت َ ِب َع ُه ْم ِبإ ِ ْح‬،‫ار‬ ْ َ ‫ َوأ‬،‫ َو ِإ ْخ َو ِن ِه األَب َْر ِار‬،‫ط َهار‬
ِ ‫ص َحابُهُ األ َ ْخ َي‬ ْ َ ‫ط ِيِّ ِبيْنَ األ‬
َ ‫ل‬
‫ب اللَ ْي َل َوالنَّه‬ ُ ‫َما ت ُ َعا ِق‬
Di samping yang disebutkan di atas, hikmah musibah lainnya adalah:

Sebagai jalan menuju surga.

Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan, tidak mungkin mencapainya dengan santai dan berleha-
leha, bahkan untuk mencapainya dibutuhkan kerja keras, penderitaan, kesabaran, dan kesungguhan. O
rang-orang yang Anda lihat berharta banyak dan merasakan berbagai kenikmatan di dunia ini, ia meng
awali hidupnya dengan kerja keras, penderitaan, kesabaran, dan kesungguhan, sehingga di akhirnya ia
mendapatkan kekayaan dan kenikmatan. Nah, sekarang yang hendak Anda kejar adalah kenikmatan ya
ng lebih baik dari itu, kenikmatan yang sesungguhnya, yang tidak memiliki kekurangan dan keterbatasa
n; hidup kekal tidak mati, senantiasa sehat tidak sakit, santai menikmati kesenangan yang ada tanpa sus
ah payah mendapatkannya dsb.

Athaa’ pernah berkata: Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Maukah kamu aku perlihatkan seorang wanita p
enghuni surga?” Aku (Athaa’) menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Yaitu wanita hitam ini. Ia pernah datang kep
ada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Saya terkena penyakit ayan, dan jika sedang kambu
h, auratku terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku!” Beliau bersabda, “Jika kamu mau bersabar,
maka kamu akan masuk surga. Namun jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Dia m
enyembuhkanmu.” Wanita itu berkata, “Aku siap bersabar. Hanya saja jika sedang kambuh auratku terb
uka. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.” Maka Rasulullah shallallahu ‘
alaihi wa sallam mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadis lain disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak s
eorang hamba meninggal dunia, maka Allah akan berkata kepada para malaikat-Nya, ‘Apakah kalian te
lah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Apakah kalian te
lah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Lalu apa yang diucapkan hamb
a-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ (mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raa
ji’uun)’. Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan Baitul h
amd (rumah pujian)’.” (Hasan, HR. Tirmidzi)Lihatlah wanita yang terkena musibah ayan ini, ia siap bersa
bar terhadap musibah sehingga membuatnya akan masuk surga.

Dalam hadis qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

َ‫ضتُهُ ِم ْن ُه َما ْال َجنَّة‬ َ ُ‫ِإذَا ا ْبتَلَ ْيت‬


َ َ‫ع ْبدِى ِب َحبِيبَت َ ْي ِه ف‬
ْ ‫ص َب َر َع َّو‬

“Apabila Aku memberi cobaan kepada hamba-Ku dengan (dijadikan buta) kedua mata yang dicintainy
a, ia pun bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya sikap kesal dan keluh kesah, tidak dapat menghilangkan m
usibahmu, bahkan hanya menambah derita dan dosa.

Membawa keselamatan dari api neraka dan membersihkan dosa-dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang penyakit demam:

ُّ ‫ا َ ْل ُح َّمى َح‬
ِ َّ‫ظ ُك ِِّل ُمؤْ ِم ٍن ِمنَ الن‬
‫ار‬
“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. Al Bazzar, Silsilah Ash Shahii
hah no. 1821)

Di dalam hadis lain disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menjenguk orang
sakit berkata kepadanya, “Laa ba’sa thahuur insya Allah.” Artinya: Tidak apa-apa, penyakit itu akan me
mbersihkan (dosa-dosamu) insya Allah. (HR. Bukhari)

Menyadari betapa besarnya nikmat sehat.

Seseorang akan merasakan nikmat sehat ketika sakit. Ketika seseorang sakit gigi misalnya, ia akan mera
sakan begitu nikmat gigi yang sehat. Ketika telinganya tersumbat sesuatu sehingga tidak dapat mende
ngar secara jelas, ia akan merasakan nikmatnya bisa mendengar dengan baik, dsb. Dengan demikian, i
a pun dapat bersyukur dan merasakan begitu besarnya nikmat yang diberikan Allah kepada dirinya.

Membuat dirinya peka terhadap musibah yang menimpa saudaranya, sehingga ia pun mau membantu
saudaranya.
Di dalam hadis qudsi disebutkan, bahwa Allah akan berfirman kepada anak cucu Adam pada hari kiam
at:

َ ‫ قَا َل أ‬. َ‫ت َربُّ ْال َعالَ ِمين‬ َ ‫عود َُك َوأ َ ْن‬ ُ َ ‫ْف أ‬َ ‫ب َكي‬ ِ ِّ ‫ قَا َل يَا َر‬. ‫ضتُ فَلَ ْم تَعُ ْدنِى‬ ْ ‫يَا ابْنَ آدَ َم َم ِر‬
‫ع ْدتَهُ لَ َو َج ْدتَنِى ِع ْندَهُ يَا ا‬ ُ ‫ت أَنَّ َك لَ ْو‬ َ ‫ض فَلَ ْم تَعُ ْدهُ أ َ َما َع ِل ْم‬َ ‫ت أ َ َّن َع ْبدِى فُالَنًا َم ِر‬ َ ‫َما َع ِل ْم‬
‫ قَا‬. َ‫ت َربُّ ْال َعالَ ِمين‬ َ ‫ط ِع ُم َك َوأ َ ْن‬ ْ ُ ‫ْف أ‬َ ‫ب َو َكي‬ ِ ِّ ‫ قَا َل َيا َر‬. ‫ط ِع ْمنِى‬ ْ ُ ‫ط َع ْمت ُ َك فَلَ ْم ت‬
ْ َ ‫بْنَ آدَ َم ا ْست‬
‫ط َع ْمتَهُ لَ َو َج ْد‬ْ َ ‫ت أَنَّ َك لَ ْو أ‬ َ ‫ط ِع ْمهُ أ َ َما َع ِل ْم‬ ْ ُ ‫ط َع َم َك َع ْبدِى فُالَ ٌن فَلَ ْم ت‬ ْ َ ‫ت أَنَّهُ ا ْست‬ َ ‫َل أ َ َما َع ِل ْم‬
‫ت َربُّ ْال‬ َ ‫يك َوأ َ ْن‬ َ ‫ْف أ َ ْس ِق‬َ ‫ب َكي‬ ِ ِّ ‫قَا َل يَا َر‬. ‫ت ذَ ِل َك ِع ْندِى يَا ابْنَ آدَ َم ا ْست َ ْسقَ ْيت ُ َك فَلَ ْم ت َ ْس ِقنِى‬ َ
‫ت ذَ ِل َك ِع ْندِى‬ َ ‫سقَ ْيتَهُ َو َج ْد‬ َ ‫اك َع ْبدِى فُالَ ٌن فَلَ ْم ت َ ْس ِق ِه أ َ َما إِنَّ َك لَ ْو‬ َ َ‫َعالَ ِمينَ قَا َل ا ْست َ ْسق‬

“Wahai anak Adam, Aku sakit, namun mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Anak Adam menjawab, “Y
a Rabbi, bagaimana aku menjengukmu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tid
akkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Kala
u sekiranya kamu mau menjenguk, tentu kamu akan mendapati-Ku di dekatnya. Wahai anak Adam! Ak
u meminta makan kepadamu, namun mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Ia berkata: “Ya Rabbi
, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tidakk
ah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak member
inya. Kalau sekiranya kamu mau memberi, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian di sisi-Ku. Wa
hai anak Adam! Aku meminta minum kepadamu, namun mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” I
a berkata, “Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Alla
h berfirman, “Hamba-Ku si fulan telah meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kala
u sekiranya kamu mau memberinya minum, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian itu di sisi-K
u.” (HR. Muslim)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua dan meringankan musibah yan
g kita hadapi serta memantapkan langkah-langkah kita.

‫س ِلِّ ُموا ت َ ْس ِلي ًما‬


َ ‫صلُّوا َعلَ ْي ِه َو‬
َ ‫ي َيآأَيُّ َها الَّذِينَ َءا َمنُوا‬ِِّ ‫صلُّونَ َعلَى النَّ ِب‬
َ ُ‫ِإ َّن هللاَ َو َمالَئِ َكتَهُ ي‬
‫ َو َع َلى آ ِل ِإب َْرا ِه ْي‬،‫ْت َع َلى ِإب َْرا ِهي َْم‬ َ ‫صلَّي‬َ ‫ َك َما‬،ٍ‫ َو َعلَى آ ِل ُم َح َّمد‬،ٍ‫ص ِِّل َعلَى ُم َح َّمد‬ َ ‫اللهم‬
ٌ ‫ إِنَّ َك َح ِم ْيدٌ َم ِج ْيد‬،‫َم‬
‫ َو َعلَى آ ِل إِب َْرا ِه‬،‫ت َعلَى ِإب َْرا ِهي َْم‬ َ ‫ار ْك‬َ َ‫ َك َما ب‬،ٍ‫ َو َعلَى آ ِل ُم َح َّمد‬،ٍ‫ار ْك َعلَى ُم َح َّمد‬ ِ َ‫اللهم ب‬
ٌ ‫ إِنَّ َك َح ِم ْيد ٌ َم ِج ْيد‬،‫ي َْم‬
‫ـر لَنَا َوت َ ْر َح ْمنَا لَنَ ُك‬
‫سنَا َو ِإ ْن لَ ْم ت َ ْغـ ِف ْ‬ ‫ـر ِل ْل ُم ْس ِل ِميْنَ َو ْال ُم ْس ِل َماتِ‪َ ،‬ربَّنَا َ‬
‫ظلَ ْمنَا أ َ ْنفُ َ‬ ‫اللهم ا ْغـ ِف ْ‬
‫ون ََّن ِمنَ ْالخَا ِس ِريْنَ‬
‫ار‪ .‬اللهم ِإنَّا نَ ْسأَلُ َك ْال ُهدَى‬ ‫اب النَّ ِ‬ ‫سنَةً َوقِنَا َعذَ َ‬ ‫سنَةً َوفِي ْاْل ِخ َرةِ َح َ‬ ‫َربَّنَا آتِنَا فِي الدُّ ْن َيا َح َ‬
‫اف َو ْال ِغنَى‪ .‬اللهم إِنَّا نَعُ ْوذ ُ ِب َك ِم ْن زَ َوا ِل ِن ْع َم ِت َك َوت َ َح ُّو ِل َعا ِف َي ِت َك َوفُ َجا َء ِة‬ ‫َوالتُّقَى َو ْال َعفَ َ‬
‫آخ ُر دَع َْوانَا‬
‫َط َك‪َ .‬و ِ‬ ‫سخ ِ‬ ‫نِ ْق َمتِ َك َو َج ِميْعِ َ‬

‫سلَّ َم‪.‬‬ ‫ب ْالعَالَ ِميْنَ ‪َ .‬و َ‬


‫صلى هللا َعلَى نَبِيِِّنَا ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ِه َو َ‬
‫ص ْحبِ ِه َو َ‬ ‫أ َ ِن ْال َح ْمدُ هلل َر ِّ ِ‬

‫‪Maraji’: Tafsir Al ‘Usyril Akhir, Shahihul Jami’ (Syaikh Al Albani), Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ti‬‬
‫‪rmidzi, Doa dan Wirid (Ust. Yazid bin A.Q Jawas), Fawaa’idul Maradh (Abdurrahman bin Yahya), dll‬‬