You are on page 1of 6

Definisi CHF

Decompensasi cordis adalah kegagalan jantung untuk mempertahankan peredaran darah sesuai
kebuuhan tubuh.
Gagal Jantung Kongestif atau Congestive Heart Failure (CHF) adalah kondisi dimana fungsi
jantung sebagai pompa untuk mengantarkan darah yang kaya oksigen ke tubuh tidak cukup
untuk memenuhi keperluan-keperluan tubuh. (J. Charles Reeves dkk, 2001).
Gagal Jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah
yang cukup memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrien. (Diane C. Baughman
dan Jo Ann C. Hockley, 2000)
Gagal jantung adalah keadaan patifisologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu
memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. (Price, 1994)
Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrient. (Brunner and Suddarth, 2001)

Klasifikasi CHF
 Klasifikasi Gagal Jantung menurut New York Heart Association (NYHA) :
 Klasifikasi I
 Gejala:
- Aktivitas biasa tidak menimbulkan kelelahan, deyspnea, palpitasi, tidak ada kongesti
pulmonal atau hipotensi perifer
- Asimptomatik
- Kegiatan sehari-hari tidak terbatas
 Prognosa : baik

 Klasifikasi II

 Gejala :
- Kegiatan sehari-hari sedikit terbatas
- Gejala tidak ada saat istirahat
- Ada bailar (rekels dan S3 mutmur)
 Prognosa : baik

 Klasifikasi III
 Gejala :
- Kegiatan sehari-hari terbatas
- Klien merasa nyaman saat istirahat
 Prognosa : baik

 Klasifikasi IV

 Gejala :
Gejala insufisiensi jantung ada saat istirahat
 Prognosa : buruk

 Klasifikasi Gagal Jantung menurut Framingham :


*Kriteria Mayor

1. Paroxysmal Nocturnal Dyspneu (sesak malam hari)


2. Bendungan vena sentral
3. Peninggian tekanan vena jugularis
4. Ronkhi paru
5. Bunyi jantung S3 Gallop
6. Refluks hepatojugular
7. Edema paru
8. Kardiomegali

*Kriteria Minor

1. Batuk malam hari


2. Dyspneu d'effort (sesak saat aktivitas)
3. Edema ekstremitas (bengkak pada kaki atau tangan)
4. Takikardi (nadi >120x/menit)
5. Hepatomegali
6. Efusi pleura
7. Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal

Kriteria Minor tidak bisa digunakan jika ada penyakit penyerta lain seperti pulmonary
hypertension, chronic lung disease, cirrhosis, ascites, dan/atau nephrotic syndrome.

Diagnosis gagal jantung ditegakkan minimal ada 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.

Klasifikasi berdasarkan American College Of Cardiology (ACC) and The


Klasifikasi berdasarkan American College Of Cardiology (ACC) and The
Klasifikasi berdasarkan American College Of Cardiology (ACC) and The
1) Kelas I
 Klasifikasi Gagal jantung menurut American College of Cardiology (ACC) and The
American Heart Association (AHA) :

1. Kelas I
Pasien dengan penyakit jantung. Tidak terdapat batasan dalam
melakukan aktifitas fisik. Aktifitas fisik sehari-hari tidak menimbulkan
kelelahan, palpitasi atau sesak.
2) Kelas II

2. Kelas II
Pasien dengan penyakit jantung. Terdapat batasan aktifitas ringan. Tidak
terdapat keluhan saat istirahat, namun aktifitas fisik sehari-hari
menimbulkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas.
3) Kelas III

3. Kelas III
Pasien dengan penyakit jantung. Terdapat batasan aktifitas bermakna.
Tidak terdapat keluhan saat istirahat, tetapi aktifitas fisik ringan
menyebabkan kelelahan, palpitasi atau sesak.

4. Kelas IV
5. 4) Kelas IV
Pasien dengan penyakit jantung. Tidak dapat melakukan aktifitas fisik
tanpa keluhan. Terdapat gejala saat istirahat. Keluhan meningkat saat
melakukan aktifitas.

 Klasifikasi gagal jantung menurut Stevenson

Klasifikasi Stevenson menggunakan tampilan klinis dengan melihat tanda kongesti dan
kecukupan perfusi. Kongesti didasarkan adanya ortopnea, distensi vena juguler, ronki
basah, refluks hepato jugular, edema perifer, suara jantung pulmonal yang berdeviasi ke kiri,
atau square wave blood pressure pada manuver valsava. Status perfusi ditetapkan
berdasarkan adanya tekanan nadi yang sempit, pulsus alternans, hipotensi simtomatik,
ekstremitas dingin dan penurunan kesadaran. Pasien yang mengalami kongesti disebut basah
(wet) yang tidak disebut kering (dry). Pasien dengan gangguan perfusi disebut dingin (cold)
dan yang tidak disebut panas (warm). Berdasarkan hal tersebut penderita dibagi menjadi
empat kelas, yaitu:2
· Kelas I (A) : kering dan hangat (dry – warm)
· Kelas II (B) : basah dan hangat (wet – warm)
· Kelas III (C) : kering dan dingin (dry – cold)
· Kelas IV (D) : basah dan dingin (wet – cold)
 Klasifikasi gagal jantung menurut Killip
Klasifikasi berdasarkan Killip digunakan pada penderita Infark Miokard Akut, dengan
pembagiannya :
 Derajat I : tanpa gagal jantung
 Derajat II : gagal jantung dengan ronki basah halus di basal paru, S3 galop dan
peningkatan tekanan vena jugularis
 Derajat III : gagal jantung berat dengan edema paru di seluruh lapangan paru
 Derajat IV : syok kardiogenik dengan hipotensi (tekanan darah sistolik < 90 mmHg)
dan vasokontriksi perifer (oliguria, sianosis dan diaphoresis)

 Klasifikasi Forrester

Pasien diklasifikasi secara klinis atas dasar hipoperfusi perifer (sianosis perifer, kulit teraba
dingin, hipotensi, takikardi, kebingungan, oliguria) dan kongesti paru (ronki, foto rontgen toraks
abnormal) dan hemodinamik berdasarkan indeks kardiak yang terdepresi (≤ 2.2 L/menit/m 2) dan
peningkatan tekanan kapiler pulmonal (> 18 mmHg). Mortalitas sekitar 2.2% pada grup I, 10.1%
pada grup II, 22.4% pada grup III, dan 55.5% pada grup IV.

Jadi klasifikasi Forrester:


1. Normal (F I): perfusi jaringan normal atau hipoperfusi ringan, dengan indeks kardiak ≥ 2.2
L/menit/m2, serta PCWP (Pulmonary Capillary Wedge Pressure) < 18 mmHg.
2. Edema pulmonal (F II): perfusi jaringan normal atau hipoperfusi ringan, dengan indeks
kardiak ≥ 2.2 L/menit/m2, serta PCWP > 18 mmHg.
3. Syok hipovolemik (F III) : hipoperfusi berat, dengan indeks kardiak < 2.2 L/menit/m 2, serta
PCWP < 18 mmHg.
4. Syok kardiogenik (F IV) : hipoperfusi berat, dengan indeks kardiak < 2.2 L/menit/m2, serta
PCWP > 18 mmHg.

 Klasifikasi menurut Ross


New York Heart Association (NYHA), pada tahun 1994 mempublikasikan klasifikasi fungsional
gagal jantung, namun klasifikasi yang dipublikasikan NYHA kurang dapat diaplikasikan pada
anak, karena terdapat perbedaan gejala dan tanda antara anak dengan dewasa. Untuk itu,
digunakanlah klasifikasi gagal jantung yang dibuat Ross.
Klasifikasi Ross untuk gagal jantung pada anak sesuai NYHA (Daphne, 2009)
Kelas I : Tidak ada gejala atau pembatasan fisis
Kelas II : Takipnea ringan atau bayi pada saat minum tampak berkeringat. Pada anak yang lebih
besar tampak sesak bila beraktivitas. Tidak ada gagal tumbuh.
Kelas III : Takipnea tampak jelas atau tampak berkeringat saat minum atau beraktivitas. Waktu
minum menjadi lebih lama. Gagal tumbuh sebagai akibat gagal jantung.
Kelas IV : Saat istirahat tampak Takipnea, retraksi, grunting, atau berkeringat.

Ross pada tahun 1992 mempiblikasikan system skor untuk mengklasifikasikan gagal jantung
klinis pada bayi usia <6 bulan. Criteria yang digunakan adalah jumlah susu yang diminum sekali
minum, waktu yang diperlukan untuk minum, laju napas, laju jantung, pola respirasi, perfusi
perifer, adanya diastolic rumble atau suara jantung III, dan hepatomegali.

Table skor klinis gagal jantung bayi menurut Ross (Ross, 2012)

Klasifikasi gagal jantung anak tidak mudah dibuat karena luasnya kelompok umur dengan variasi
angka normal untuk laju napas dan laju jantung, rentang kemampuan kapasitas latihan yang lebar
(mulai dari kemampuan minum ASI sampai kemampuan mengendarai sepeda) dan variasi
etiologi yang berbeda pula. Kriteria Ross hanya dapat digunakan untuk bayi, sehingga Reithman,
membuat sistim skor gagal jantung modifikasi skor Ross, yang dapat digunakan untuk anak usia
0 sampai dengan 14 tahun (Reithman dkk., 1997; Ross, 2012)
Skor klinis gagal jantung modifikasi Ross dapat dilihat pada Tabel 2.4, dengan interpretasi skor
0-2 : tanpa gagal jantung, skor 3-6 : gagal jantung ringan, skor 7-9 : gagal jantung sedang dan
skor 10-12 : gagal jantung berat. Peningkatan skor gagal jantung berhubungan dengan penurunan
curah jantung (Reithman dkk., 1997; Ross, 2012).
Skor klinis gagal jantung anak modifikasi Ross (Ross, 2012)