You are on page 1of 6

REFLEKSI PERKULIAHAN DAN MENGKRITISI ORGANISASI KEPENDIDIKAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi dan Organisasi Kependidikan

Dosen Pengampu : Niam Wahzudik, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh :
Fafii Rochmatillah 1102415071
Rombel 002

KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
Refleksi Mata Kuliah Profesi dan Organisasi Kependidikan

Melalui mata kuliah ini saya memahami, ihwal profesian dalam kependidikan serta sejumlah
organisasi keprofesian yang terkait dengan profesi kependidikan. Saya pribadi lebih tertarik
kepada perihal kode etik dan profesionalisme. Menurut saya pribadi, pokok-pokok materi yang
mesti kita bahas selama 1 semester cukup menjemukan. Beberapa materi yang telah dipelajari
pada semester sebelumnya harus diulang lagi, seperti mengenai profesi ‘bimbingan dan
konseling’ serta ‘manajemen pendidikan’. Beruntung, sebelum sempat presentasi perihal
manajemen kependidikan lebih dulu dialihkan kepada berbagai jenis organisasi keprofesian
yang ada di Indonesia. Selain itu, diskusi mengenai realita di lapangan masih sangat kurang.
Padahal dalam RPS dalam setiap pertemuan tercantum bahwa pembelajaran menggunakan
metode problem solving.
Semester 6 merupakan puncak kejenuhan bagi sebagian besar mahasiswa. Pada semester ini
banyak yang merasa lelah dengan proses pembelajaran yang begitu-begitu saja selama 6
semester. Kami disibukkan dengan makalah, power point, dan presentasi. Sangat sedikit variasi
dalam pembelajaran selama enam semester kebelakang. Ironisnya sejumlah metode
pembelajaran yang telah dipelajari sebelumnya sangat sedikit yang diaplikasikan dalam
perkuliahan. Padahal bukankah dosen Teknologi Pendidikan merupakan pakarnya?

Performa dan kualitas penyampaian presentasi oleh mahasiswa pun menurun jauh
dibandingkan semester-semester sebelumnya. Mahasiswa hanya fokus kepada materi
kelompoknya masing-masing. Ketika suatu kelompok tengah melakukan presentasi, hanya satu
atau dua mahasiswa saja yang fokus memperhatikan. Sedangkan yang lain tidak peduli, bahkan
sering kali sesi diskusi pada akhirnya hanya dilewati karena tidak ada satupun pertanyaan yang
muncul. Presentasi hanya menjadi kegiatan formalitas belaka, bukan lagi suatu kebutuhan. Hal
ini lumrah terjadi ketika dosen tidak masuk kelas. Perkuliahan sama sekali tidak memiliki
gairah.

Jika kondisinya begini, bagi saya lebih memilih pembelajaran kembali ke pola teacher-
centered yang dilakukan dengan metode ceramah dibantu media papan tulis saja. Toh nyatanya
universitas sekaliber Harvard menyatakan bahwa cara tersebut jauh lebih efektif daripada
presentasi menggunakan powerpoint, karena powerpoint dianggap tidak dapat mentransfer
informasi dengan baik.
Mempertanyakan Kontribusi PGRI
terhadap Profesionalisme Guru
Oleh Fafii Rochmatillah

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi guru terbesar di Indonesia
yang paling vokal dalam menyuarakan tuntutan kesejahteraan para guru. Setiap kali penulis
menemukan berita mengenai PGRI kerapkali mengenai demo ihwal tuntutan kesejahteraan
para guru, baik bagi guru yang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun guru
honorer. Untuk memperkuat argumen, penulis mencoba berselancar di internet untuk mencari
pemberitaan mengenai PGRI. Agar lebih objektif, ‘settingan penelusuran’ pada web browser
diatur menjadi ‘jangan gunakan hasil pribadi’.

Selanjutnya, penulis
menggunakan kata kunci
‘persatuan guru republik
indonesia’ pada kolom
pencarian. Hasilnya, dari
laman pertama hingga
laman ke sebelas memuat berita yang dapat dikelompokkan menjadi :

1. Tuntutan PGRI seputar kesejahteraan guru


2. Pernyataan sikap PGRI terhadap peristiwa dalam dunia pendidikan.
3. Kritik PGRI terhadap kebijakan pemerintah.
4. Acara seremonial PGRI, seperti ulang ahun, halal bi halal dan sebagainya.
5. Kegiatan PGRI dengan politikus.
Dari sebelas laman tersebut sama sekali tidak ditemukan pemberitaan mengenai aktivitas PGRI
yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Padahal Dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga PGRI Hasil Konggres XXI Bab VI pasal 8 menjelaskan bahwa
tujuan PGRI antara lain :

a. Mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia berdasarkan


Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
b. Berperan aktif mencapai tujuan nasional dalam mencerdaskan bangsa dan membentuk
negara manusia Indonesia seutuhnya.
c. Berperan serta mengembangkan sistem dan pelaksanaan nasional.
d. Mempertinggi kesadaran dan sikap guru, meningkatkan mutu dan kemampuan
profesi guru dan tenaga kependidikan lainnya.
e. Menjaga, memelihara, memperjuangkan, membela serta meningkatkan harkat dan
martabat guru dan tenaga pendidikan.
Bukankah tujuan pada poin a, b, c, dan e diperoleh melalui poin d? Diakui atau tidak, peran
PGRI dalam upaya peningkatan profesionalisme guru memang sangat minim. Bahkan guru
hanya mengetahui eksistensi PGRI sebatas pihak pemotong gaji setiap bulan untuk iuran
anggota. Kegiatan yang terus konsisten dilakukan pun sebatas memperingati Hari Guru
Nasional (HGN) dan Hari Ulang Tahun PGRI setahun sekali setiap tanggal 24 November.
Dalam kaitannya dengan meningkatakan profesionalisme guru, peran PGRI sejauh ini masih
mengandalkan pihak pemerintah, seperti pelatihan dan melakukan program penataran guru
serta program peningkatan mutu lainnya. PGRI belum banyak kontribusi dalam melakukan
program kualifikasi guru, atau melakukan penelitian ilmiah tentang masalah-masalah
profesional yang dihadapi oleh para guru dewasa ini.

Selama ini tuntutan kesejahteraan guru acap kali disampaikan PGRI melalui demonstrasi
massal. Kesejahteraan memang sangat penting, namun mengacu pada ciri intelektual dan moral
profesi guru, maka model perjuangan yang selama ini dilakukan PGRI melalui pengerahan
massa dan aksi mogok, menjadi kurang tepat. Karena aksi tersebut mengorbankan peserta
didik. Aksi semacam ini menjadikan gerakan buruh dengan gerakan guru sulit dibedakan.
Bukankah guru tidak mau disamakan dengan buruh? Tuntutan kesejahteraan tentu harus
diimbangi dengan peningkatan kompetensi guru. Dalam setiap pemberitaan mengenai demo
PGRI ihwal kesejahteraan guru juga selalu menyelipkan pesan, ‘bagaimana mungkin guru yang
mencerdaskan kehidupan bangsa digaji rendah?’ maka yang menjadi pertanyaan penulis
adalah, ‘kecerdasan semacam apa yang guru berikan?’ Berkaca pada rendahnya hasil Uji
Kompetensi Guru (UKG), mungkinkah guru benar-benar mencerdaskan bangsa?

Membangun mutu pendidikan hanya dapat dilakukan oleh guru profesional. Dengan demikian
jalan utama untuk mensukseskan mutu pendidikan adalah meningkatkan kualitas
profesionalisme guru. Keberadaan PGRI harus dirasakan manfaatnya oleh guru, jangan sampai
keberadaan PGRI hanya menjadi beban anggotanya. Pengembangan profesionalisme guru
menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki tugas dan peran yang strategis, bukan
hanya sekedar memberikan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada siswa,
melainkan lebih penting dari itu, yakni menumbuhkan kreativitas sisawa dalam
mempergunakan pengetahuan yang dimiliki. Karena di era ini seseorang tidak akan dibayar
atas apa yang ia ketahui, karena fungsi tersebut kini telah digantikan oleh google. Itulah
mengapa siswa harus mampu mempergunakan ilmunya dengan kreatif. Disinilah semestinya
pengurus PGRI menjawab dan membawa guru sebagai anggota untuk meningkatkan
profesionalismenya.

Satu hal lagi yang sangat kentara dari organisasi profesi guru terbesar di Indonesia yaitu
dimanfaatkan untuk mobilisasi politik oleh oknum tertentu. Bagaimanapun juga organisasi
guru merupakan potensi kekuatan politik dengan basis massa yang memiliki pengaruh di
kalangan pemilih pemula (siswa) dan masyarakat. Di masyarakat pedesaan guru masih menjadi
sosok sosiokultural yang pendapatnya memiliki daya persuasi bagi masyarakat, sehingga
ketika guru dan organisasi guru menjatuhkan pilihan politik pada kontestan pilkada tertentu,
akan mampu memengaruhi persepsi, opini, dan pilihan politik kelompok masyarakat yang lain.
Soliditas organisasi PGRI dalam memenangkan tokoh tertentu dalam panggung demokrasi
elektoral sudah teruji. PGRI signifikan dalam menggalang dukungan suara untuk tokoh tertentu
dalam momentum elektoral semacam pilgub, pilpres, dan pileg. Meskipun upaya penggalangan
dukungan tidak dilakukan secara terang-terangan, sinyal kontrak politik yang dijalin oleh
organisasi guru cukup menjadi petunjuk arah pilihan politik para guru.

Sinyal kontrak politik PGRI dengan Ganjar Pranow, calon gubernur petahana Jawa Tengah

Guru sebagai pribadi tentu boleh memihak kepada salah satu pasangan calon, tetapi jika dalam
kapasitas suatu organisasi, yang kemudian turut mempengaruhi para anggotanya dalam
menentukan hak pilih tentunya ini tidak etis. Terkait perkara politis, penulis juga pernah
menemukan fakta di lapangan bahwa PGRI dijadikan sebagai kendaraan politik. Salah seorang
guru yang tergabung dalam PGRI secara terang-terangan berbicara pada penulis, “Besok kalau
pilihan legislatif tolong pilih calon x. Dia orang PGRI. Buktiin dong kalau kamu sayang sama
gurumu!”

PGRI semestinya tidak hanya memperjuangkan kesejahteraan saja tugasnya, tetapi bagaimana
cara pengurus mendorong untuk melaksanakan kewajiban ke arah peningkatkan
profesionalisme guru. Kemunculan berbagai organisasi profesi guru barangkali sebagai akibat
ketidakpuasan terhadap organisasi PGRI. Sebagai contoh organisasi Ikatan Guru Indonesia
(IGI) yang berkonsentrasi penuh pada peningkatan mutu guru dan secara gamblang
menyatakan bahwa tidak mengurusi selain kegiatan tersebut kecuali terpaksa. Tentunya hal
semacam ini patut dijadikan refleksi bagi PGRI.