You are on page 1of 3

1.

BENTUK DAN GERAKAN SPERMA YANG TIDAK SEMPURNA

Sperma harus berbentuk sempurna serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke telur agar
dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk, struktur (morfologi), dan gerakan sperma tidak normal
atau gerakannya (motilitas) tidak sempurna/lemah sperma tidak dapat mencapai atau menembus
sel telur.

2. KONSENTRASI SPERMA RENDAH/ JUMLAH SPERMATOZOA

1. Konsentrasi sperma yang normal adalah 100 juta sperma/ml mani atau lebih.
2. Polizoospermia jika kadar spermatozoa >250 jt/ml
3. Normozoosperma jika kadar spermatozoa 70-100 jt/ml
4. Oligozoospermia jika kadar spermatozoa <40 jt/ml , kurang subur
5. Azoospermia jika kadar spermatozoa 0/ml
6. Bentuk abnormal + gerakan lambat + jumlah kurang (oligoasthenoteratozoospermia)
Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi
sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana
ketat), terlalu sering berejakulasi (hiperseks), merokok, alkohol, kelelahan, dan masalah gizi.

3. TIDAK ADA SEMEN/MANI

Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen
maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit
atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.

4. VARIKOKEL (VARICOCELE) DAN HYDROCELE , GANGGGUAN PADA


TESTIS
Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis.
Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan penyimpanan sperma. Varises yang
disebabkan kerusakan pada sistem katup pembuluh darah tersebut membuat pembuluh darah
melebar dan mengumpulkan darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi dan menyalurkan
sperma terganggu. Sedangkan Hydrocele adalah timbunan cairan yang ditestis menyebabkan
testis bengkak dan tegang.

5. TESTIS TIDAK TURUN

Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau kedua testis
tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong skrotum. Karena suhu yang lebih tinggi
dibandingkan suhu pada skrotum, produksi sperma mungkin terganggu.

6. KEKURANGAN HORMON TESTOSTERON


Kekurangan hormon ini dapat memengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.

7. KELAINAN GENETIK DAN METABOLISME

Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua kromosom
X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali tidak memproduksi sperma.

Dalam penyakit Cystic fibrosis, beberapa pria penderitanya tidak dapat mengeluarkan sperma
dari testis mereka, meskipun sperma tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini karena mereka
tidak memiliki vas deferens ( kelainan traktus genetalis) , saluran yang menghubungkan testis
dengan saluran ejakulasi.

8. INFEKSI (GANGGUAN PADA TESTIS)

Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular seksual seperti
klamidia, gonore, dan sifilis sering menyebabkan infertilitas karena menyebabkan skar yang
memblokir jalannya sperma.

9. MASALAH SEKSUAL

Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi prematur,
sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan minyak atau pelumas
tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma.

10. EJAKULASI BALIK

Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung kemih, bukannya
keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkannya, di
antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih, prostat atau uretra, dan pengaruh obat-obatan
tertentu.

11. SUMBATAN DI EPIDIDIMIS/SALURAN EJAKULASI

Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma (epididimis) atau
saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang membawa sperma dari testis ke
lubang penis.

12. LUBANG KENCING YANG SALAH TEMPAT


1. Hipospadia
Yaitu kelainan bawaan dimana uretra (lubang kencing) berada di bagian bawah penis. Bila tidak
dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks.

2. Epispadia yaitu bermuaranya uretra pada punggung zakar.

13. ANTIBODI PEMBUNUH SPERMA

Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria menjalani
vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak kembali saat vasektomi
dicabut.

14. PENCEMARAN LINGKUNGAN

Paparan polusi lingkungan dapat mengurangi jumlah sperma dengan efek langsung pada fungsi
testis dan sistem hormon. Beberapa bahan kimia yang mempengaruhi produksi sperma antara
lain: radikal bebas, pestisida (DDT, aldrin, dieldrin, PCPs, dioxin, furan, dll), bahan kimia
plastik, hidrokarbon (etilbenzena, benzena, toluena, dan xilena), dan logam berat seperti timbal,
kadmium atau arsenik.

15. KANKER TESTIS

Kanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan menyimpan
sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 – 32 tahun.