You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan

untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktivitas

berbagai organ atau sel. Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi

yaitu saluran pernapasan bagian atas, bagian bawah dan paru (Hidayat, 2006).

Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam

proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel

tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan

dalam setiap kali bernafas. Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh

interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis (Harahap,

2004).

Terapi oksigen hiperbarik atau hyperbaric oxygentherapy(HBOT) adalah

suatu terapi yang dilakukan dengan cara memberikan 100%oksigen bertekanan

kepadapasien(Mahdi,1999).Oksigen tersebut memiliki tekanan yang lebih tinggi

daripada tekanan udara atmosfir,biasanya hingga mencapai 3ATA. Pada mulanya,

terapi ini diperuntukkan bagi penderita decompression sickness yang sering

dialami oleh para penyelam.Seiring dengan berjalannya waktu serta melalui

berbagai uji coba, terapi ini juga efektif dan terbukti mampu membantu dalam

1
menyembuhkan berbagai penyakit, terutama terkait dengan restrukturisasi sel-sel

tubuh yang rusak. Dewasa ini, penggunaan HBOT semakin populer karena dapat

membantu proses penyembuhan komplikasi diabetes miletus(Oktaria,2009). Hal

tersebut tentunya sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mana

jumlah penderita diabetesnya menempati peringkat 7 dunia (IDF,2014). Lebih dari

itu, HBOT juga dipergunakan untuk menjaga kecantikan, kebugaran, serta

meningkatkan stamina.

Melihat kegunaan dari terapi oksigen hiperbarik yang sangat luas dalam

mengatasi berbagai penyakit serta jumlah pasien yang membutuhkannya maka

keberadaan alat terapi tersebut diperlukan dalam jumlah yang banyak. Akan

tetapi, faktadi lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan alat HBOT diIndonesia

sangatlah terbatas.

Kebutuhan dasar manusia menurut Maslow dibagi menjadi lima tingkatan,

diantaranya adalah kebutuhan fisiologis, keselamatan dan keamanan, cinta dan rasa

memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri. Dari kelima tingkatan tersebut kebutuhan

fisiologis merupakan prioritas tertinggi dalam hierarki Maslow.

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi adalah kebutuhan

oksigenasi (Potter dan Perry, 2007).

2
B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah memahami Analisa jurnal tentang pemberian oksigenasi

pada pasien pediatrik diharapkan pengetahuan perawat mengenai

pemberian terapi oksigenaso meningkat dan dapat mengetahui

keefektifan terapi oksigenasi terbaru saat ini

2. Tujuan Khusus

a. Memenuhi tugas mata kuliah “ Keperawatan Anak”

b. Untuk mengetahui lebih dalam tentang therapy oksigenasi helium dan

hypebarik

c. Dengan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi yang

membacaa khususnya dan semua pihak pada umumnya.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Oksigenasi

Oksigen adalah salah satu kebutuhan yang paling vital bagi tubuh.

Kekurangan oksigen kurang dari lima menit akan menyebabkan kerusakan sel-

sel otak. Selain itu oksigen digunakan oleh sel tubuh untuk mempertahankan

kelangsungan metabolisme sel. Oksigen akan digunakan dalam metabolisme sel

membentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang merupakan sumber energi bagi sel

tubuh agar berfungsi secara optimal.

Oksigenasi adalah memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh dengan

cara melancarkan saluran masuknya oksigen atau memberikan aliran gas

oksigen (O2) sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh. Prosedur

pemenuhan kebutuhan oksigen dapat dilakukan dengan pemberian oksigen

dengan menggunakan kanula dan masker, fisioterapi dada, dan cara

penghisapan lender (suction).

Tujuan :

1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan

2. Untuk menurunkan kerja paru-paru

3. Untuk menurunkan kerja jantung

4
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh system

respirasi, kardiovaskuler, dan keadaan hematologi.

1. Sistem respirasi/pernapasan

Sistem pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan

sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernapasan,

diafragma, isi abdomen, dinding abdomen, dan pusat pernapasan di otak.

Pada keadaan istirahat frekuensi pernapasan pada bayi < 1 tahun (30-55 x

/menit), balita 1-2 tahun (20-30 x /menit), balita 3-5 tahun (20-25 x /menit), usia

sekolah 6-11 tahun (14-22 x /menit), remaja 12-15 tahun (12-18 x /menit).

Ada tiga langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru, dan difusi.

a. Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan ke paru-

paru, jumlahnya sekitar 500 ml. Udara yang masuk dan keluar

terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara intrapleural lebih

negative (752 mmHg) daripada tekanan atmofer (760 mmHg)

sehingga udara akan masuk ke alveoli.

Kebersihan jalan napas, adanya sumbatan atau obstruksi jalan

napas akan menghalangi masuk dan keluarnya udara dari dan ke paru-

paru.

Adekuatnya system saraf pusat dan pusat pernapasan.

Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru.

Kemampuan otot-otot pernapasan seperti diafragma, eksternal

interkosta, internal interkosta, otot abdominal.

5
b. Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi paru untuk

dioksigenasi, di mana pada sirkulasi paru adalah darah dioksigenasi

yang mengalir dalam arteri pulmonaris dri ventrikel kanan jantung.

Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta dalam

proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida di kapiler dan

alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung.

Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi

volume darah yang besar sehingga dapat dipergunakan jika sewaktu-

waktu terjadi penurunan volume atau tekanan darah sistemik.

c. Difusi, Oksigen terus-menerus berdifusi dari udara dalam alveoli

ke dalam aliran darah dan karbon dioksida (CO2) terus

berdifusi dari darah ke dalam alveoli. Difusi adalah

pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke area

konsentrasi rendah. Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan

membrane kapiler. Perbedaan tekanan pada area membrane respirasi

akan memengaruhi proses difusi. Misalnya pasa tekanan parsial

(P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan tekanan parsial

pada kapiler pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi

masuk dalam darah. Berbeda halnya dengan CO2dengan PCO2 akan

dalam kapiler 45 mmHg sedangkan pada alveoli 40 mmHg maka

CO2dengan maka CO2 akan berdifusi keluar alveoli.

6
2. Sistem kardiovaskuler

Kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat dipengaruhi oleh fungsi

jantung untuk memompa darah sebagai transport oksigen. Darah masuk ke

atrium kiri dari vena pulmonaris. Aliran darah keluar dari ventrikel kiri

menuju aorta melalui katup aorta. Kemudian dari aorta darah disalurkan ke

seluruh sirkulasi sistemik melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta menyatu

kembali membentuk vena yang kemudian dialirkan ke jantung melalui atrium

kanan. Darah dari atrium kanan masuk dalam ventrikel kanan melalui katup

pulmonalis untuk kemudian dialirkan ke paru-paru kanan dan kiri untuk

berdifusi. Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali ke atrium kiri

dan bersikulasi secara sistemik berdampak pada kemampuan transport gas

oksigen dan karbon dioksida.

3. Hematologi

Oksigen membutuhkan transport dari paru-paru ke jaringan dan

karbon dioksia dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah

dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3 % oksigen

larut dalam plasma. Setiap sel darah merah mengandung 280 juta molekul Hb

dan setiap molekul dari keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan

dengan satu molekul oksigenasi membentuk oksihemoglobin (HbO2). Afinitas

atau ikatan Hb dengan O2 dipengaruhi oleh suhu, ph, konsentrasi 2,3

difosfogliserat dalam darah merah. Dengan demikian besarnya Hb dan jumlah

eritrosit akan memengaruhi transport gas.

7
Faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan oksigen antara lain

fisiologi, perkembangan, perilaku, dan lingkungan.

1. Faktor Fisiologi

a. Menurunnya kapasitas pengikatan O2 seperti pada anemia.

b. Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi

saluran napas bagian atas.

c. Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan

transport O2 terganggu.

d. Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil,

luka, dan lain-lain.

e. Kondisi yang memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada

kehamilan, obesitas, muskulus skeleton yang abnormal, penyalit

kronik seperti TBC paru.

2. Faktor Perkembangan

a. Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan.

b. Bayi dan toddler adanya risiko infeksi saluran pernapasan akut.

c. Anak usia sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernapasan dan

merokok.

d. Dewasa muda dan pertengahan : diet yang tidak sehat, kurang

aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-

paru.

8
e. Dewasa tua : adanya proses penuaan yang mengakibatkan

kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru

menurun.

3. Faktor Perilaku

a. Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan

ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya

ikat oksigen berkurang, diet yang tinggi lemak menimbulkan

arterioklerosis.

b. Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen.

c. Merokok : nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah

perifer dan koroner.

d. Substansi abuse (alcohol dan obat-obatan) : menyebabkan

intake nutrisi/Fe menurun mengakibatkan penurunan

hemoglobin, alcohol, menyebabkan depresi pusat pernapasan.

e. Kecemasan : menyebabkan metabolism meningkat

4. Faktor Lingkungan

a. Tempat kerja

b. Suhu lingkungan

c. Ketinggian tempat dan permukaan laut.

9
Perubahan-perubahan fungsi jantung yang memengaruhi kebutuhan oksigenasi:

1. Gangguan kondiksi seperti distritmia (takikardia/bradikardia).

2. Perubahan cardiac output, menurunnya cardiac output seoerti pada pasien

dekom menimbulkan hipoksia jaringan.

3. Kerusakan fungsi katup seperti pada stenosis, obstruksi, regurgitasi

darah yang mengakibatkan ventrikel bekerja lebih keras.

4. Myocardial iskhemial infark mengakibatkan kekurangan pasokan

darah dari arteri koroner ke miokardium.

Perubahan Fungsi pernapasan :

1. Hiperventilasi, merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2

dalam paru-paru agar pernapasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat

disebabkan karena :

a. Kecemasan

b. Infeksi/sepsis

c. Keracunan obat-obatan

d. Ketidakseimbangan asam basa seperti pada asidosis metabolic.

Tanda-tanda dan gejala hiperventilasi adalah takikardia, napas pendek, nyeri

dada (chest pain), menurunkan konsentrasi, disorientasi , tinnitus.

2. Hipoventilasi

Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk

memenuhi penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup.

10
Biasanya terjadi pada keadaan atelektasis (kolaps paru). Tanda-tanda dan gejala

pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran,

disorientasi, kardiakdistritmia, ketidakseimbangan elektrolit, kejang dan

kardiak arrest.

3. Hipoksia

Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi

atau meningkatkan penggunaan O2 pada tingkat seluler.

Hipoksia dapat disebabkan oleh :

a. Menurunnya hemoglobin

b. Berkurangnya konsentrasi O2 jika berada di puncak gunung

c. Ketidakmampuan jaringan mengikat O2 seperti pada keracunan sianida

d. Menurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah seperti pneumonia

e. Menurunnya perfusi jaringan seperti pada syok

f. Kerusakan/gangguan ventilasi.

Tanda-tanda hipoksia antara lain : kelelahan, kecemasan, menurunnya

kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernapasan cepat dan dalam,

sianosis, sesak napas, dan clubbing.

B. Therapy oksigen hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis dalam suatu

ruangan menghisap oksigen tekanan tinggi (100%) atau pada tekanan barometer

tinggi (hyperbaric chamber) dengan tekanan lebih besar daripada 1 ATA.

11
Tekanan 1 atmosfer (760 mmHg) adalah tekanan udara yang dialami oleh

semua benda, termasuk manusia, diatas permukaan laut, bersifat tetap dari semua

jurusan dan berada dalam keseimbangan.

Secaragaris besar, alat HBO Tterdiri dari beberapa komponen utama,

seperti hyperbaricchamber, system suplai oksigen dan pengkondisi anudara

beserta system control alirannya, serta monitoring anel. Selain itu, alat

tersebutjuga dilengkapi dengan beberapa komponen pendukung yang bertujuan

untuk menunjang kenyamanan dan keamanan pasien. Dari berbagai komponen

yang ada, hyperbaricchamber merupakan komponenyang relatifpaling penting

untuk dirancang terlebih dahulu didalam prose spengembangan alat HBOT.

Hyperbaricchambera dalah suatu ruangan yang digunakan oleh pasien

untuk menerima terapi oksigen bertekanan. Berdasarkan jumlah pasien yang dapat

dilayani, terdapat dua tipe hyperbaric chamberr, yaitu monoplace dan multiplace

hyperbaric chamber. Untuk tipe monoplace, ruangan terapi hanya diperuntukan

untuk satu pasien (Mortensen,2008).Terapi dilaksanakan dengan memasukkan

100% oksigen kedalam ruangan tersebut. Dalam hal ini, pasien dapat bernafas

dengan bebas tanpa menggunakan masker. Adapun untuk tipe multiplace, jumlah

pasien yang diterapi didalam ruangan dapat lebih dari satu(Mortensen, 2008).

Masing-masing pasien menggunakan masker atau penutup kepala(helm) untuk

keperluan suplai oksigen bertekanan. Padasisi lain, tekanan disekitar pasien

disesuaikan dengan cara memasukkan udara bertekanan kedalam ruangan. Hal ini

dilakukan mengingat harga oksigen relative mahal serta bersifat mudah terbakar

(combustible). Jadi, pemakaian oksigen untuk meningkatkan tekanan didalam

12
ruangan merupakan langkah pemborosan secara ekonomi dan berbahaya bagi

pasien (Cheng,2004). Selanjutnya, jika dikaitkan dengan tingkat kebutuhan dan

jumlah pasien yang dapat dilayani maka hyperbaric chamber tipe multiplace

nampak lebih layak untuk dikembangkan diIndonesia daripada tipe monoplace.

Terapi oksigen hiperbarik pada suatu ruang hiperbarik (hyperbaric chamber) yang

dibedakan menjadi 2, yaitu:

1. Monoplace : pengobatan satu penderita

2. Multiplace : pengobatan untuk beberapa penderita pada waktu

bersamaan dengan bantuan masker tiap pasiennya

Pasien dalam suatu ruangan menghirup oksigen 100% bertekanan tinggi >1

ATA. Tiap terapi diberikan selama 2-3 ATA, menghasilkan 6 ml oksigen terlarut

dalam 100 ml plasma, dan durasi rata-rata terapi 60-90 menit. Jumlah terapi

bergantung dari jenis penyakit. Untuk kasus akut sekitar 3-5 kali dan untuk kasus

kronik bisa mencapai 50-60 kali. Dosis yang digunakan pada perawatan tidak

boleh lebih dari 3 ATA karena tidak aman untuk pasien dan mempunyai efek

imunosupresif.

Fisiologi Terapi Oksigen Hiperbarik

Fisiologi terapi oksigen antara lain:

1. Dasar dari terapi hiperbarik menggunakan prinsip fisika.

2. Udara yang kita hirup sehari-hari mengandung Nitrogen (N2) 79 %

dan Oksigen (O2) 21%.

13
3. Sedangkan pada terapi hiperbarik oksigen ruangan yang disediakan

mengandung Oksigen (O2) 100%.

4. Terapi hiperbarik juga berdasarkan teori fisika dasar dari hukum-

hukum Dalton, Boyle, Charles dan Henry.

Indikasi Terapi Hiperbarik Oksigen :

Kondisi akut (dimana terapi HBO harus diberikan awal dan dikombinasikan

dengan pengobatan konvensional) :

1. Intoksikasi gas CO

2. Gas gangren

3. Emboli udara dan Penyakit dekompresi

4. Gangguan vaskuler perifer

5. Syok

Kondisi kronis :

1. Ulkus yang tidak mengalami penyembuhan/luka bermasalah

(diabetes/vena dll).

2. Radiasi yang menyebabkan kerusakan jaringan.

3. Cangkok kulit dan penutup (yang mengalami reaksi penolakan/rejection)

4. Osteomyelitis kronis

14
Kontraindikasi Terapi Hiperbarik Oksigen :

1. Kontraindikasi absolut:

a. Pneumothorax

Kontraindikasi absolut adalah pneumothorax yang belum dirawat,

kecuali bila sebelum pemberian oksigen hiperbarik dapat dikerjakan

tindakan bedah untuk mengatasi pneumothorax tersebut.

2. Kontraindikasi relatif

1. ISPA

2. Sinusitis kronis

3. Penyakit kejang

4. Emfisema dengan retensi CO2

5. Panas tinggi yang tidak terkontrol

6. Kehamilan

Komplikasi

Ketika digunakan dalam protokol standar tekanan yang tidak melebihi 3

ATA ( 300 kPa ) dan durasi pengobatan kurang dari 120 menit, terapi oksigen

hiperbarik aman.

Efek samping yang paling umum adalah: Barotrauma

telinga,barotrauma paru, Barotrauma dental, Toksisitas oksigen dan

Reaksi kecemasan.

15
Efek Terapi

Efek yang didapatkan dari terapi HBOT ada dua yang pertama efek

mekanik dan kedua efek fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui

mekanisme oksigen yang terlarut plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan

meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma.

1. Efek mekanik.

Meningkatnya tekanan lingkungan atau ambient yang memberikan manfaat

penurunan volume gelembung gas atau udara seperti pada terapi penderita

dekompresi akibat kecelakaan kerja penyelaman dan gas emboli yang terjadi pada

beberapa tindakan medis rumah sakit. Akibat peningkatan tekanan parsial oksigen

dalam darah dan jaringan yang memberikan manfaat terapeutik: bakteriostatik

pada infeksi kuman anaerob, detoksikasi pada keracunan karbon monoksida,

sianida dan hidrogensulfida, reoksigenasi pada kasus iskemia akut, crush injury,

compartment syndrome maupun kasus iskemia kronis, luka yang tidak sembuh,

nekrosis radiasi, skin graft preparation dan luka bakar.

2. Efek Fisiologis.

Prinsip yang dianut secara fisiologis adalah bahwa tidak adanya O2 pada

tingkat seluler akan menyebabkan gangguan kehidupan pada semua organisme.

Oksigen yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam tubuh melalui

cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari fase

ventilasi, transportasi, dan difusi. Dengan kondisi tekanan oksigen yang tinggi,

diharapkan matriks seluler yang menopang kehidupan suatu organisme

mendapatkan kondisi yang optimal.

16
C. Helium

Helium adalah unsur kimia dengan nomor atom 2 dan massa atom 4,0026.

Unsur bukan logam, tetapi merupakan gas dengan titik beku -272,2° Celcius dan

titik didih 268,9 ° Celcisus. Ditemukan pada tahun 1868 oleh P. Janssen dari

spectrogram matahari yang diambil pada saat gerhana. Helium banyak bersumber

dari alam, tersebar luas di bumi., meskipun umumnya berjumlah kecil. Dapat

diperoleh dari gas alam dan banyak logam radioaktif. Penggunaan helium untuk

menggelembungkan balon, kromatografi, pengobatan terhadap penyakit

pernapasan tertentu, serta sebagai campuran dalam udara buatan untuk astronot

dan penyelam. Dalam bentuk cair digunakan sebagai superkonduktor. Symbol

kimia untuk helium ini adalah He.

Helium adalah unsur kedua terbanyak dan teringan di jagad raya dan salah

satu unsur yang diciptakan pada saat nukleosintesis Big Bang. Dalam Jagad Raya

modern hampir seluruh helium baru diciptakan dalam proses fusi nuklir hidrogen

di dalam bintang. Di Bumi, unsur ini diciptakan oleh peluruhan radioaktif dari

unsur yang lebih berat (partikel alfa adalah nukleus helium). Setelah

penciptaannya, sebagian darinya terkandung di udara (gas alami) dalam

konsentrasi sampai 7% volume. Helium dimurnikan dari udara oleh proses

pemisahan suhu rendah yang disebut distilasi fraksional.

Kegunaan

1. Sebagai gas mulia tameng untuk mengelas

2. Sebagai gas pelindung dalam menumbuhkan kristal-kristal silikon

dan germanium dan dalam memproduksi titanium dan zirconium

17
3. Sebagai agen pendingin untuk reaktor nuklir

4. Sebagai gas yang digunakan di lorong angin (wind tunnels)

Campuran helium dan oksigen digunakan sebagai udara buatan untuk para

penyelam dan para pekerja lainnya yang bekerja di bawah tekanan udara tinggi.

Perbandingan antara He dan O2 yang berbeda-beda digunakan untuk kedalaman

penyelam yang berbeda-beda.

Helium sangat banyak digunakan untuk mengisi balon ketimbang hidrogen

yang lebih berbahaya. Salah satu kegunaan helium yang lain adalah untuk

menekan bahan bakar cair roket. Roket Saturn, seperti yang digunakan pada misi-

misi Apollo, memerlukan sekitar 13 juta kaki kubik He.

Helium cair yang digunakan di Magnetic Resonance Imaging (MRI) tetap

bertambah jumlahnya, sejalan dengan ditemukannya banyak kegunaan mesin ini di

bidang kesehatan.

Dampak gas helium

Jika kita menghirup sejumlah kecil gas helium akan menyebabkan

perubahan sementara kualitas suara seseorang

Ekstraksi helium dari gas alam

Di alam, gas mulia berada dalam bentuk monoatomik karena bersifat tidak

reaktif. Oleh karena itu, ekstraksi gas mulia umumnya menggunakan pemisahan

secara fisis.

18
Gas alam mengandung hidrokarbon dan zat seperti CO2, uap air, Helium

dan pengotor lainnya. Untuk mengekstraksi helium dari gas alam digunakan proses

pengembunan (liquiefaction).

Pada tahap awal, CO2 dan uap air terlebih dahulu dipisahkan, hal ini

dikarenakan pada proses pengembunan CO2 dan uap air dapat membentuk padatan

yang menyebabkan penyumbatan pipa. Kemudian gas alam diembunkan pada suhu

di bawah suhu pengembunan hidrokarbon tetapi di atas suhu pengembunan gas

helium. Dengan demikian, diperoleh produk berupa campuran gas yang

mengandung ± 50% He, N2, dan pengotor lainnya.

Selanjutnya, helium dimurnikan dengan proses sebagai berikut :

a. Proses kriogenik (menghasilkan dingin)

Campuran gas diberi lalu didinginkan dengan cepat agar N2 mengembun

sehingga dapat dipisahkan. Sisa campuran dapat dilewatkan melalui arang

teraktivasi yang akan menyerap pengotor sehingga diperoleh helium yang

sangat murni.

b. Proses absorbsi

Campuran gas dilewatkan melalui bahan penyerap (absorbent bed) yang secara

selektif menyerap pengotor. Proses ini menghasilkan helium dengan kemurnian

99,997% atau lebih.

19
BAB III

ANALISA JURNAL

A. Jurnal Utama

1. Judul

Safety and Efficacy of High-Flow NasalCannula Therapy in

Pretermini Infants:

A Meta-analysis

2. Peneliti

Sarah J. Kotecha, Roshan Adappa, Nakul Gupta, W. John Watkins,

Sailesh Kotecha, Mallinath Chakraborty

3. Populasi dan Teknik Sampling

Dalam analisis ini, 1112 bayi prematur, berpartisipasi dalam uji coba

nasal canule dengan aliran tinggi yang terdiri dari beberapa kategori

yaitu bayi-bayi setelah ekstubasi dan bayi yang terkena trauma di

hidung akibat terapi alirn tinggi ini

4. Desain Penelitian

Uji klinis acak atau kuasi-acak melibatkan bayi prematur,

membandingkan aliran tinggi terapi dengan metode lain dan hasil data
20
yang relevan , dipilih. Data pada keselamatan dan hasil neonatal

umum lainnya diambil pada bentuk pradesain

5. Instrumen yang digunakan

menggunakan Medline, Embase, Scopus, OpenSIGLE, manajemen

informasi kesehatan konsorsium dan Cochrane

6. Uji statistik yang digunakan

Statistik analisis ini dilakukan dengan menggunakan Review Manager

(RevMan) versi 5.3 (The Nordic Cochrane Centre, The Cochrane

Collaboration, 2014, Kopenhagen, Denmark). Untuk data yang

kontinu, mean dan SD (seperti durasi dukungan pernafasan)

dikumpulkan dan dianalisa dengan menggunakan perbedaan rata-rata

tertimbang (WMDs). Untuk kategoris data (seperti kematian atau

pengobatan kegagalan), data yang diambil untuk setiap kelompok

intervensi dan peluang rasio (ORs) dihitung, bersama dengan 95%

confidence interval (CIs). Signifikans didirikan di P <.05

21
B. Jurnal Pembanding yang digunakan

1. Judul Jurnal

Use of Heliox in Children

2. Peneliti

Timothy R Myers RRT-NPS

3. Hasil Penelitian

Bukti dari penelitian yang dilakukan tidak sangat mendukung atau untuk

penggunaan heliox pada anak-anak dengan aliran udara terhambat.

sebagian besar dari heliox berbagai bukti di banyakpenyakit yang dibahas

dalam tinjauan ini menunjukkan bahwa helioxdapat mengurangi kerja

pernapasan,tekanan pernapasan, dyspnea Score dan Skor obstruksi,

berpotensi meningkatkan gas asing dan pengendapan aerosol.

C. Jurnal Pendukung yang digunakan

1. Judul jurnal

Hyperbaric Oxygen Therapy in the Pediatric Patient: The Experience of

the Israel Naval Medical Institute

2. Peneliti

Dan Waisman, MD, Avi Shupak, MD, Giora Weisz, MDand Yehuda

Melamed, MD

22
3. Hasil Penelitian

Persyaratan khusus pasien pediatrik yang harus diambil dari perawatan

diRuang Hiperbarik adalah adaptasi atau persiapan peralatan medis

sesuai usia pasien. Sistem pengiriman oksigen yang cock harus dibuat

tersedia, seperti oxyhood ataupermintaan masker untuk anak -anak agar

lebih kooperatif.

Ada kebutuhan mendasar bagi dokter anak danlembaga-lembaga yang

terlibat dalam perawatan kesehatan pediatrik menjadiaktif terlibat dalam

proses pengambilan keputusan untukHBO terapi pasien pediatrik.

Kebijakan yang sudah dilakukan dan diedukasikan sebelumnya

membuatpemahaman tentang terapi HBO dikenal. Manfaat ini

menjadimodalitas pengobatan, dapat mengurangi mortalitas dan gejala

sisa parah penyakit tersebut

23
Analisis Jurnal Keperawatan dengan PICO

Kriteri Justifikasi & Critical Thinking

Problem Permasalahan kesehatan yang banyak diderita

oleh anak-anak sebagian besar terjadi pada

system pernapasan yang disebabkan oleh polusi

udara yang menimbulkan beberapa penyakit

seperti bronchiolitis, asthma, dan obstruksi jalan

napas dan berbagai permasalahan system

pernapasan lainnya . komplikasi yang sering

terjadi adalah respiratory failure atau gagal napas

kejadian yan sering terjadi pada pasien anak dan

infant menuntut para ahli untuk melakukan

penelitian terapi dan mode terbaru dalam terapi

pengobatan system pernapasan. Para penelitii

melakukan review sistematis dan meta-analisis

uji klinis yang membandingkan efektivitas dan

keamanan terapi nasal canule aliran tinggi,

membandingkan kualitas gas helium dan terapi

hyperbaric untuk menentukan kualitas dan

keamanan terapi yang akan diberikan pada

pasien anak di mulai dari usia infant dan usia

anak lainnya

24
Intervention Metode penelitian yang digunakan Artikel yang

diindeks dengan menggunakan Medline,

Embase,Scopus, OpenSIGLE,manajemen

informasi konsorsium dan Cochrane pusat

mendaftar dari dikendalikan Uji acak atau kuasi-

acak uji klinis melibatkanBayi prematur,

membandingkan aliran tinggi terapi dengan

modesof lain dan melaporkan extractable hasil

data yang relevan.

Comparison Penelitian lain yang dilakukan adalah dengan

metode ulasan yang rasional dan metode untuk

pengobatan heliox untuk anak-anak dengan

asma, airway

obstruksi,bronchiolitis,dancroup

(laringotracheobronchitis).

pada studi Di double-blind randomized Carter

etAl menyelidiki dampak heliox di paru-paru ,

dyspnea dan gejala klinis di 11 anak-anakdirawat

di rumah sakit dengan status asthmaticus.

Penelitian selanjutnya membahas tentang

hyperbaric theraphy untuk masalah kesehatan

25
pernapasan , dilakukan dengan metode Analisis

retrospektif dan review dari semuaCatatan pasien

anak dibawah 18 tahun untuk meninjau

pengalaman yang terakumulasi padaInstitut

medis angkatan laut Israel dalam pengobatan

pasien anak

Outcome Hasil penelitian menunjukan bahwa pada terapi

dengan nasal canule beraliran tinggi atau HFNC

sudah banyak dilakukan di rumah sakit dan

bangsal keperawatan anak-anak karena berbiaya

rendah dan instrument alat yang digunakan

mudah. Dan perlu diperhatikan untuk efek

samping penggunaan aliran tinggi pada nasal

canule dapat membuat membrane nasal menjadi

trauma.

Penelitian lain dilakukan pada jenis gas untuk

terapi masalah kesehatan pernapasan yaitu heliox

(helium oksigen) hasil yang didapat adalah tidak

sangat mendukung atau untuk

penggunaan heliox pada anak-anak dengan

aliran udara terhambat sebagian besar dari

heliox berbagai bukti di banyak penyakit yang

26
dibahas dalam tinjauan ini menunjukkan bahwa

heliox dapat mengurangi kerja pernapasan,

tekanan pernapasan, dyspnea Score dan Skor

obstruksi, berpotensi meningkatkan gas asing

dan pengendapan aerosol. Pada terapi hyperbaric

efektif pada penyakit tertentu seperti luka bakar,

iskemik akut dan luka gangrene . untuk

keefektifan penyembuhan dijalan nafas masih

diuji kembali mengingat anak-anak perlu

adaptasi unutk persiapan sebelum dilakukanya

terapi Sistem pengiriman oksigen yang cock

harus dibuat tersedia, seperti oxyhood atau

permintaan masker untuk anak -anak agar lebih

kooperatif.

27
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital

dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup

seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini iperoleh dengan cara

menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernafas. Penyampaian O2 ke

jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler

dan keadaan hematologis.

Indikasi terapi oksigen ini adalah untuk pasien hipoksia, oksigenasi

kurang sedangkan paru normal, oksigenasi cukup sedangkan paru tidak

normal, oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal,

pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi, pasien

dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah. Kontra indikasi

pemakaian terapi oksigen ini adalah pemakaian kanul nasal/kateter yang

menyebabkan trauma membrane mukosa. Helium oxygen yang masih

diuji kefektifan nya mempunyai Komplikasi yang terlalu lama dapat

mengakibatkan keracunan dan mengurangi kerja system pernapasan

Pada terapi hyperbaric . untuk keefektifan penyembuhan dijalan

nafas masih diuji kembali mengingat anak-anak perlu adaptasi unutk

28
persiapan sebelum dilakukanya terapi Sistem pengiriman oksigen yang

cock harus dibuat tersedia, seperti oxyhood atau permintaan masker untuk

anak -anak agar lebih kooperatif.

B. Saran

Penulisan ini jauh dari kata sempurna diharapkan penulis lebih

dapat memahami dan menganalisa kembali topik yang akan dibahas dan

lebih focus untuk inovasi keperawatan terbaru untuk pengetahuan

kedepan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Astowo. Pudjo. 2005. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi
dan Kedokteran Respirasi. FKUI. Jakarta.

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi bahasa Indonesia,
vol. 8. EGC. Jakarta.

Dan Waisman, MD. Hyperbaric Oxygen Therapy in the Pediatric Patient: The
Experience ofthe Israel Naval Medical Institute. Di upload oleh American
Academy of Paediatric . desember 2018

Rogayah, R. 2009. The Principle Of Oxigen Therapy. Departemen Pulmonologi


Dan Respiratori FK UI. Jakarta.

Potter & Perry. 2002. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,


Proses, dan Praktik. Volume 2. Edisi 4. EGC. Jakarta.

Timothy R Myers RRT-NPS. Use of Heliox in Children. Respiratory Care 2016

Sarah J. Kotecha. Safety and Efficacy of High-Flow Nasal Cannula Therapy in


Preterm Infants: A Meta-analysis. Di review oleh American Academy Of
Pediatric 2015

30