Вы находитесь на странице: 1из 12

Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154 143

KINERJA USAHA PENGGILINGAN PADI, STUDI KASUS PADA


TIGA USAHA PENGGILINGAN PADI DI CIANJUR, JAWA BARAT

Tursina Andita Putri1, Nunung Kusnadi2, dan Dwi Rachmina2


1Mahasiswa Program Studi Magister Sains Mayor Agribisnis, Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
2Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor
e-mail : 1 tursina.anditaputri@yahoo.com

ABSTRACT
It is assumed that government policy to protect farmer’s income by maintaining a high grain price that
leads to a high production cost of rice milling combine with a policy that keeping the rice at relatively low
price to protect consumer, causes a low profit of rice milling business. To prove it, multiple case study was
conducted to portray the performance of rice milling business by identifying and analyzing the cost and
revenue structure of rice milling business. In this study, three types (maklon, non maklon, and combination
of both) of rice milling business were selected. The biggest cost of rice milling business is the cost of
purchasing grain, while the main revenue derived from rice. The rice milling business can still tolerate a
9.81 persent increase of the grain price. It is equal to the maximum price of grain Rp 4281,93 per kg GKP.
While the decline in the price of rice that can still be tolerated is of 10.34 percent that’s referred to a
minimum price of rice Rp 8120.00 per kg. The largest proportion of the rice milling business profit is not
derived from rice as main product but from the by product such as rice bran, rice husk, broken rice, and
groats. Type of businees, price of inputs and outputs, and by-product management would be the key
variables that determine the business performance. These variables should be more studied in the future
research.

Keywords: Multiple Case Study, Performance, Rice Milling Business

PENDAHULUAN sebagai input menjadi beras dan side product


lainnya. Sebagai industri perantara maka
Beras merupakan salah satu komoditi
industri penggilingan padi berperan penting
pangan yang memiliki peran strategis baik
sebagai mata rantai suplai beras nasional.
dari sisi produsen maupun konsumen. Dari
Berdasarkan tipenya maka usaha
sisi produsen diketahui produksi padi
penggilingan padi dapat digolongkan kepada
nasional pada tahun 2012 mencapai 68,59 juta
tiga tipe yaitu maklon, non maklon, dan
ton setara dengan 41,16 juta ton beras. Selain
gabungan. Istilah lain yang digunakan oleh
itu, dari sisi konsumen diketahui bahwa
Winarno (2007) adalah rice milling commercial
konsumsi beras rata-rata penduduk Indonesia
untuk usaha penggilingan padi dengan tipe
mencapai 139 kg per kapita pertahun. Jumlah
maklon dan service mills untuk usaha
tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan
penggilingan padi dengan tipe maklon.
dengan negara lainnya, seperti Thailand dan
Usaha penggilingan padi tipe maklon adalah
Malaysia. Rata-rata konsumsi beras di
usaha penggilingan padi yang menyediakan
Thailand adalah 103 kg per kapita pertahun
jasa penggilingan padi bagi petani maupun
dan Malaysia hanya 77 kg per kapita pertahun
pedagang pengumpul. Penggilingan padi tipe
(USDA, 2012).
non maklon adalah usaha dimana pengusaha
Sistem agribisnis beras melibatkan
penggilingan menggunakan mesin peng-
sejumlah subsistem, mulai dari subsistem
gilingan untuk mengolah gabah miliknya
penyedia input sampai dengan subsistem
sendiri. Oleh sebab itu, pengusaha peng-
pemasaran. Industri penggilingan padi
gilingan padi biasanya juga melakukan jual
merupakan salah satu subsistem agribisnis
beli gabah dan beras.
yang berperan penting mengolah gabah

Kinerja Usaha Penggilingan Padi… Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina
144 Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154

Badan Pusat Statistik 2012 menyebutkan besar. Diperkirakan sekitar 93 persen


bahwa industri penggilingan padi Indonesia ketersedian beras di pasar merupakan akibat
masih didominasi oleh usaha penggilingan beroperasinya unit penggilingan padi swasta
padi skala kecil, yaitu mencapai 94,13 persen. (Patiwiri 2004). Namun, ada juga usaha
Usaha penggilingan padi skala sedang dan penggilingan padi yang bekerjasama dengan
besar hanya mencapai 4,74 persen dan 1,14 Bulog dalam memproduksi beras.
persen. Umumnya unit usaha penggilingan Operasional kegiatan usaha penggilingan
padi skala kecil merupakan investasi pada padi yang bekerja sama dengan Bulog
tahun 1960-an sampai awal 1980-an (Sawit, kemudian akan diatur pada perjanjian
2011). kerjasama.
Usaha penggilingan padi skala kecil pada Unit usaha penggilingan padi pada
umumnya hanya terdiri dari mesin pemecah tahun 2008 diketahui telah mencapai 108.512
kulit (husker) dan mesin penyosoh beras unit dengan kapasitas kumulatif diperkirakan
(polisher) sehingga rendemen beras yang 109,5 juta ton per tahun (Ditjen P2HP, 2009
dihasillkan rendah dan mutu berasnya dalam Thahir, 2010). Produksi padi Nasional
kurang baik. Berdasarkan penelitian yang hanya 60,3 juta ton pada tahun 2008, setara
dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan dengan faktor konversi dari gabah ke beras 65
Mekanisasi pertanian tahun 2003 menunjukan persen. Hal ini menyebabkan banyak usaha
bahwa penggilingan padi skala kecil penggilingan padi bekerja di bawah kapasitas
mempunyai rendemen rata-rata sebesar terpasang. Fenomena ini telah terjadi sejak
55,71% dengan mutu beras yang dihasilkan tahun 2003 sehingga diperkirakan hanya 40
adalah 74,25% beras kepala dan beras patah persen unit penggilingan padi yang
dan menir sebesar 15%. Akan tetapi, apabila beroperasi dengan kapasitas penuh (Thahir,
ada penambahan mesin maka menyebabkan 2010).
peningkatan rendemen giling. Penambahan Banyaknya unit penggilingan padi
mesin separator (pemisah beras pecah kulit bekerja di bawah kapasitas terpasang,
dengan gabah yang belum terkupas) akan disebabkan karena distribusi panen yang
meningkatkan rendemen sebasar 0,94%, tidak merata. Ditribusi panen tidak merata
sedangkan penambahan mesin cleaner menyebabkan volume gabah yang tersedia
(pembersih gabah) akan meningkatkan tidak mencukupi untuk memenuhi kapasitas
rendemen sebesar 0,95%. maksimum usaha penggilingan padi. Thahir
Secara umum, rendemen giling usaha (2010) menyebutkan bahwa sejak tahun 2003
penggilingan padi dari tahun ke tahun terus diperkirakan hanya 40 persen unit
mengalami penurunan secara kuantitatif dari penggilingan padi yang beroperasi dengan
70 persen pada akhir tahun 70an menjadi 65 kapasitas penuh.
persen pada tahun 1985, dan 63,2 persen pada Tingkat kehilangan hasil yang tinggi
tahun 1999. Rendemen tersebut terus pada sistem pengolahan padi di Indonesia
menurun bahkan saat ini rendemen giling mengindikasikan buruknya penanganan
hanya mencapai maksimal 60 persen (Sawit, pengelolaan pascapanen. Diketahui bahwa
2011). Penurunan rendemen giling juga dapat tingkat kehilangan pascapanen mencapai
dipengaruhi oleh penggunaan mesin peng- 13,35 persen. Usaha penggilingan padi
gilingan padi yang telah berumur tua. Tiga berkontribusi sebesar 4.51 persen terhadap
puluh dua persen mesin penggilingan padi tingkat kehilangan hasil pascapanen. Jumlah
yang digunakan diduga telah berumur lebih ini setara dengan 12,99 triliyun rupiah dengan
lebih dari 15 tahun (Thahir, 2010). asumsi produksi padi nasional Tahun 2012
Hampir seluruh usaha penggilingan padi sebesar 68.59 juta ton, tingkat rendemen giling
di Indonesia dikelola oleh pihak swasta. Peran sebesar 60 persen, dan harga beras Rp
swasta dalam pengadaan beras melalui usaha 7500/Kg.
penggilingan padi di Indonesia sangatlah

Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina Kinerja Usaha Penggilingan Padi…
Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154 145

Berbagai masalah tersebut kemudian dihargai maksimal sesuai dengan HPP beras
berdampak pada rendahnya tingkat efisiensi yang berlaku.
teknis usaha penggilingan padi. Efisiensi Kebijakan pemerintah seringkali di-
teknis usaha penggilingan padi di Indonesia upayakan untuk melindungi petani sebagai
dengan studi kasus di Kabupaten Cianjur, produsen padi dan konsumen beras. Akan
Jawa Barat adalah 60,64 persen (Apriande, tetapi, kebijakan tersebut justru akan
2013). Skor efisiensi tersebut jauh menyebabkan usaha penggilingan padi
dibandingkan dengan efisiensi di Vietnam mengalami posisi yang sulit dimana harga
dan Thailand, yaitu masing-masing mencapai gabah sebagai input produksi selalu
91 persen sedangkan dan 87 persen diupayakan tinggi sedangkan harga beras
(Wongkeawchan et al, 2000). sebagai output utama ditekan agar terjangkau
Kondisi tersebut kemudian diperburuk oleh konsumen. Namun, berdasarkan data
dengan adanya kebijakan pemerintah. penyebaran usaha penggilingan padi, dapat
Pemerintah menerapkan kebijakan harga beli diketahui bahwa masih banyak usaha
gabah dan beras atau yang biasa dikenal penggilingan padi di Indonesia yang mampu
dengan HPP (Harga Pembelian Pemerintah). bertahan dan bahkan mengembangkan
Kebijakan HPP gabah bertujuan untuk usahanya. Hal tersebut tentu dipengaruhi
melindungi petani dari rendahnya harga oleh manajemen usaha yang dilakukan oleh
gabah yang diterima petani terutama pada pengelola masing-masing usaha penggilingan
saat panen raya. Berdasarkan Inpres Nomor 3 padi. Oleh sebab itu, penting untuk
Tahun 2012 diketahui HPP untuk gabah mengetahui atau mempelajari kinerja usaha
kering panen (GKP) yaitu sebesar Rp 3.300 per penggilingan padi.
kg di petani atau Rp 3.350 per kg di Berdasarkan latar belakang dan per-
penggilingan. Sedangkan Harga pembelian masalahan yang telah dibahas sebelumnya,
gabah kering giling (GKG) adalah Rp 4.150 maka tujuan penelitian ini antara lain adalah
per kg di penggilingan atau Rp 4.200 per kg di (1) mengidentifikasi struktur biaya dan
gudang Perum Bulog. Akan tetapi penerimaan usaha penggilingan padi; (2)
berdasarkan data BPS (2012), harga jual GKP menghitung pendapatan usaha penggilingan
Rp 4.232 per kg dan GKG mencapai Rp 4.755 padi; (3) mengidentifikasi variabel-variabel
per kg. Hal ini membuktikan bahwa harga kunci yang memengaruhi kinerja usaha
gabah yang ditawarkan oleh petani kepada penggilingan padi.
pedagang pengumpul maupun kepada usaha
penggilingan padi lebih tinggi dibandingkan
HPP yang telah ditetapkan oleh pemerintah. METODE PENELITIAN
Upaya pemerintah untuk melindungi petani Penelitian dilakukan pada bulan Oktober
kemudian akan menyebabkan tingginya biaya 2012 sampai Januari 2013. Objek penelitian ini
yang harus dikeluarkan oleh usaha adalah tiga usaha penggilingan padi
penggilingan padi untuk memperoleh input berdasarkan tipenya, yaitu maklon, non
produksi. maklon, dan gabungan di Kabupaten Cianjur,
Di sisi lain, pemerintah juga menetapkan Jawa Barat.
kebijakan harga beras. Kebijakan harga beras Penelitian ini dilakukan dengan metode
merupakan upaya bagi pemerintah untuk multiple case study. Melalui metode multiple
melindungi konsumen sehingga mendapat- case study diharapkan peneliti bisa
kan beras dengan harga yang relatif murah menggambarkan secara rinci dan dapat
dan terjangkau. Melalui Inpres yang sama membandingkan masing-masing objek
ditetapkan HPP beras sebesar Rp 6.600 per kg penelitian. Pada metode ini hasil yang
di Bulog. Dampak kebijakan ini adalah harga diperoleh hanya menggambarkan usaha yang
beras yang dijual kepada Bulog hanya menjadi objek penelitian atau dengan arti lain

Kinerja Usaha Penggilingan Padi… Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina
146 Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154

hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan mengalami idle capacity. Hal ini terjadi karena
untuk cakupan yang lebih luas. Oleh sebab beberapa hal, seperti terbatasanya jumlah
itu, untuk menjaga kerahasiaan identitas pelanggan yang menggunakan jasa usaha
pelaku usaha dan usahanya maka nama penggilingan padi. Selain itu, pelanggan yang
perusahaan penggilingan padi dirahasiakan. menggunakan jasa penggilingan tersebut
Analisis kuantitatif digunakan untuk adalah skala rumah tangga sehingga jumlah
menjelaskan kinerja usaha penggilingan padi. gabah yang akan digiling tidak banyak.
Pada penelitian ini, kinerja usaha Aktivitas utama usaha tipe non maklon
penggilingan padi diukur berdasarkan adalah melakukan pengolahan gabah menjadi
analisis pendapatan dan efisiensi usaha. beras dan produk samping, dimana input dan
Pendapatan diketahui dengan terlebih dahulu output usaha dimiliki oleh pemilik usaha.
mengidentifikasi struktur penerimaan dan Oleh sebab itu, usaha ini memiliki aktivitas
biaya masing-masing usaha penggilingan pembelian gabah dan penjualan beras. Usaha
padi. Volume dan harga (input dan output) pnggilingan padi tipe gabungan juga
yang digunakan pada penelitian ini adalah melakukan aktivitas serupa dengan usaha
volume dan harga rata-rata yang berlaku tipe non maklon. Namun, usaha tipe maklon
pada saat penelitian. Sedangkan, efisiensi juga menyediakan jasa penggilingan padi
usaha diketahui dengan menggunakan bagi petani dan pedagang pengumpul.
ukuran rasio R/C. Aktivitas usaha tipe non maklon dan
Analisis sensitivitas juga digunakan gabungan juga dilakukan setiap hati, kecuali
pada penelitian ini. Analisis ini berguna untuk hari Jumat. Namun jam kerja kedua usaha ini
mengukur tingkat kenaikan harga gabah dan lebih lama dibandingkan dengan usaha tipe
harga beras yang dapat diterima oleh pelaku maklon, yaitu tujuh jam per hari. Usaha tipe
usaha agar usahanya tetap berada di titik BEP maklon dapat menghasilkan beras sebanyak
(Break Even Point) atau tidak mengalami 10 ton per hari dengan rendemen rata-rata 50
kerugian. Ini dapat menjadi rekomendasi bagi persen. Usaha tipe gabungan hanya dapat
pembuat kebijakan dalam mengontrol harga menghasilkan 4,5 ton beras per hari, dimana
gabah dan beras yang berlaku di pasar 3,2 ton dihasilkan dari gabah pribadi
sehingga tidak merugikan pihak pengusaha sedangkan 1,3 ton beras lainnya berasal dari
penggilingan padi. Analisis sensitivitas ini aktivitas jasa penggilingan padi.
hanya dilakukan pada usaha penggilingan
padi tipe non maklon. STRUKTUR BIAYA
Aktivitas yang dilakukan oleh usaha
HASIL DAN PEMBAHASAN penggilingan padi dalam tiap tahapannya
memiliki biaya yang harus ditanggung oleh
AKTIVITAS USAHA DAN KAPASITAS usaha penggilingan. Biaya tersebut terbagi
PRODUKSI
atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya
Aktivitas produksi pada usaha tipe tetap dikeluarkan oleh penggilingan meliputi
maklon dilakukan setiap hari, kecuali hari biaya penyusutan mesin dan peralatan, biaya
Jumat dengan waktu produksi selama tiga tenaga kerja tetap, biaya pajak, maintainance
jam per hari. Dalam jangka waktu tersebut, mesin dan peralatan, biaya konsumsi pekerja,
usaha ini dapat melayani beberapa pelanggan dan beban bunga atas pinjaman yang
dengan jumlah produksi maksimal 700 kg per diperoleh. Biaya variabel terdiri atas biaya
hari. Kapasitas produksi mesin penggilingan pembelian GKP, biaya pengeringan, biaya
padi yang digunakan dapat mencapai 1500 kg penggilingan, biaya pengolahan, dan biaya
per jam sehingga diketahui bahwa usaha ini penjualan.

Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina Kinerja Usaha Penggilingan Padi…
Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154 147

Tabel 1. Biaya Masing-Masing Usaha Penggilingan Padi Per Ton Beras yang Dihasilkan
Biaya pengusahaan
Komponen Biaya Non
Maklon % % Gabungan %
Maklon
Biaya variabel
Pengadaan GKP - - 7.724.000 92,32 6.016.000 91,87
Pengeringan - - 139.800 1,67 87.500 1,34
Penggilingan 23.657 19,13 50.769 0,61 70.000 1,07
Pengolahan beras - - 18.000 0,22 40.000 0,61
Pengolahan side
- - 68.883 0,82 - -
product
Penjualan - - 133.465 1,60 267.563 4,09
Total Biaya
23.657 19,13 8.134.917 97,24 6.481.063 98.97
Variabel
Biaya tetap
Non penyusutan 94.003 76,02 206.282 2,47 53.373 0,82
Penyusutan 6.003 4,85 24.913 0,33 14.097 0,22
Total Biaya Tetap 100.006 80,87 231.195 2,76 67.470 0,10
Total Biaya 123.663 100,00 8.366.112 100,00 6.548.533 100,00
a Jumlah biaya dalam rupiah (Rp)

Tabel 1 menunjukkan ringkasan dari lipat dari biaya tetap usaha tipe gabungan Hal
komponen biaya yang dikorbankan untuk ini dikarenakan adanya komponen biaya
aktivitas usaha penggilingan padi masing- tenaga kerja tetap bagi lima orang tenaga kerja
masing usaha penggilingan padi. Diketahui pada usaha tipe non maklon. Biaya tetap pada
bahwa komponen biaya pada usaha tipe non usaha tipe non maklon adalah 2,25 persen dari
maklon lebih banyak dibandingkan dengan keseluruhan biaya yang dikorbankan.
komponen biaya pada usaha tipe maklon dan Sedangkan biaya tetap pada usaha tipe
gabungan. Hal ini disebabkan karena aktivitas gabungan hanya sebesar 1,03 persen dari total
usaha yang dilakukan oleh usaha tipe non biaya.
maklon lebih banyak. Penyebab tingginya biaya tetap usaha
Total biaya yang dikorbankan oleh usaha penggilingan padi tipe non maklon juga
tipe maklon untuk produksi satu ton beras, disebabkan oleh tingginya biaya penyusutan
yaitu Rp 123.657,14 dengan persentase biaya pada usaha tipe ini dibandingkan dengan
tetap mencapai 80,87 persen dari keseluruhan kedua tipe lainnya. Hal ini disebabkan karena
biaya. Komponen biaya tetap pada usaha tipe usaha penggilingan tipe non maklon memiliki
maklon hanya terdiri atas biaya tenaga kerja, konfigurasi mesin yang lebih konpleks, yaitu
biaya pajak bumi dan bangunan, serta biaya oven – cleaner – husker – husker – polisher –
maintanance mesin. Diketahui bahwa usaha polisher – grader. Sedangkan, usaha peng
tipe maklon hanya melakukan aktivitas gilingan padi tipe maklon hanya memiliki
penggilingan gabah menjadi beras. Oleh konfigurasi mesin yang sederhana, yaitu
sebab itu, biaya variabel yang dikeluarkan husker – polisher. Usaha penggilingan padi tipe
hanya terdiri atas biaya operasional aktivitas gabungan juga memiliki konfigurasi mesin
penggilingan, seperti biaya pembelian bahan yang serupa dengan tipe maklon, akan tetapi
bakar dan upah tenaga kerja. usaha ini memiliki mesin husker dan polisher
Komponen biaya tetap pada usaha masing-masing dua unit. Selain itu, aset dari
penggilingan padi tipe gabungan juga usaha tipe non maklon juga lebih banyak
terdapat pada usaha tipe non maklon. Biaya dibandingkan kedua tipe usaha lainnya,
tetap per ton beras yang dihasilkan pada seperti bangunan pabrik yang lebih luas,
usaha tipe non maklon mencapai empat kali kendaraan operasional yang lebih banyak,

Kinerja Usaha Penggilingan Padi… Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina
148 Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154

peralatan yang lebih beragam, dan Rp 8.366.112,82. Biaya paling besar di-
sebagainya. korbankan untuk memperoleh gabah sebagai
Angka penyusutan yang relatif kecil input utama dalam aktivitas produksi, yaitu
disebabkan karena umur ekonomis dari mencapai 92,32 persen dari total biaya.
masing-masing mesin dan peralatan, maupun Biaya pengadaan gabah merupakan
aset yang digunakan relatif tinggi. Misalnya komponen biaya terbesar pada aktivitas usaha
pada usaha tipe non maklon, mesin husker dan penggilingan padi, yaitu melebihi 90 persen.
polisher dapat digunakan dalam kurun waktu Harga gabah yang tinggi akan berdampak
20 tahun. Begitu pula dengan peralatan positif dan signifikan pada tingginya biaya
lainnya, seperti timbangan dapat dipakai produksi usaha penggilingan padi. Oleh
mencapai kurun waktu 10 tahun. Akan tetapi, sebab itu, kebijakan pemerintah terhadap
ada juga beberapa mesin dan peralatan yang harga gabah dalam bentuk HPP dalam rangka
hanya dapat dipakai dalam kurun waktu 2 melindungi petani kemudian akan
sampai 5 tahun saja. Hal yang sama juga berdampak pada peningkatan biaya usaha
terjadi pada usaha penggilingan padi tipe penggilingan padi dan sekaligus mem-
maklon dan gabungan. pengaruhi struktur biaya usaha.
Lamanya periode pemakaian mesin dan
peralatan tentu didukung oleh maintanance PENDAPATAN DAN IMBANGAN
yang baik. Oleh sebab itu, biaya maintanance PENERIMAAN DAN BIAYA
pada usaha penggilingan padi juga cukup
Analisis pendapatan dan imbangan
tinggi. Pada usaha penggilingan padi tipe non
penerimaan dan biaya penggilingan padi
maklon, biaya maintanance mencapai 53.88
dilakukan pada masing-masing usaha
persen dari total biaya tetap. Sedangkan pada
penggilingan padi kasus, yaitu usaha dengan
usaha penggilingan padi tipe maklon dan
tipe maklon, non maklon, dan gabungan.
gabungan mencapai 22.46 persen dan 24.99
Analisis pendapatan dilakukan untuk melihat
persen dari total biaya tetap.
gambaran profitabilitas dari masing-masing
Usaha tipe non maklon memiliki
usaha penggilingan padi. Sedangkan analisis
komponen biaya variabel yang terdiri atas
imbangan penerimaan dan biaya (rasio R/C)
biaya pembelian gabah, biaya pengeringan,
dilakukan untuk melihat tingkat efisiensi
biaya penggilingan, biaya pengolahan beras
usaha yang dilakukan oleh masing-masing
maupun produk sampingan, serta biaya
usaha penggilingan padi kasus.
penjualan output. Usaha tipe gabungan juga
Ketiga usaha penggilingan padi tidak
memiliki komponen biaya variabel seperti
hanya menghasilkan beras sebagai output
pada usaha tipe non maklon. Namun, usaha
utama melainkan juga produk samping
tipe gabungan tidak melakukan aktivitas
lainnya, seperti dedak, sekam, menir, dan
pengolahan produk samping sehingga pada
broken rice. Persentase masing-masing hasil
usaha ini tidak ada komponen biaya
tersebut berbeda antara satu penggilingan
pengolahan produk samping. Komponen
dengan penggilingan lainnya. harga produk
biaya variabel dengan nilai terbesar adalah
samping (side product) diduga lebih stabil
biaya pengadaan gabah atau GKP yang
dibandingkan dengan harga beras.
mencapai 93,42 persen untuk usaha tipe non
Berikut disajikan tabel terkait pen-
maklon dan 92,82 persen untuk usaha tipe
dapatan usaha ketiga usaha penggilingan
gabungan dari total biaya variabel.
padi. Komponen biaya kemudian disajikan
Tidak hanya biaya tetap dan biaya
sesuai seperti yang tertera pada tabel 1
variabel, usaha tipe non maklon juga memiliki
sebelumnya. Selain itu, juga terdapat rasio
biaya total terbesar dibandingkan dengan
R/C masing-masing usaha penggilingan
kedua usaha lainnya. Total biaya yang
padi.
dikorbankan oleh usaha tipe non maklon
untuk memproduksi satu ton beras mencapai

Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina Kinerja Usaha Penggilingan Padi…
Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154 149

Tabel 2. Pendapatan dan Imbangan Penerimaan dan Biaya Masing-Masing Usaha


Penggilingan Padi Per Ton Beras yang Dihasilkan
Komponen Maklon % Non Maklon % Gabungan %
Penerimaan Usaha (Rp)
Jasa penggilingan 350.000 76,37 - - 62.500 0,72
Penjualan beras - - 8.960.000 82,55 7.200.000 83,26
Penjualan sekam 29.412 6,42 350.000 3,22 75.000 0,87
Penjualan dedak 78.857 17,21 363.750 3,35 405.000 4,68
Penjualan menir - - 300.000 2,76 210.000 2,43
Penjualan broken rice - - 879.938 8,11 694.688 8,03
Total Penerimaan 458.269 100,00 10.853.688 100,00 8.647.188 100,00
Total Biaya (Rp) 123.663 100,00 8.366.112 100,00 6.548.533 100,00
Pendapatan (Rp) 334.606 - 2.487.576 - 2.098.655 -
R/C 3,705 - 1,297 - 1,320 -
Proporsi Pendapatan
Beras - - 839.865 33,76 528.475 25,18
Side Product 108.269 23.63 1.647.711 66,24 1.570.180 74,82

Sumber penerimaan yang diperoleh usaha lainnya. Akan tetapi, usaha ini memiliki
usaha penggilingan padi kasus berbeda-beda. nilai rasio R/C yang paling kecil, yaitu hanya
Perbedaan tersebut tercermin dari aktivitas 1,297. Artinya, usaha penggilingan padi tipe
usaha yang dilaksanakan oleh masing-masing non maklon memiliki tingkat efisiensi yang
usaha penggilingan padi. Komponen lebih kecil dibandingkan dengan kedua usaha
penerimaan usaha tipe maklon terdiri atas lainnya. Hal ini sesuai dengan apa yang telah
tiga, yaitu upah jasa, penjualan sekam, dan diungkapkan oleh Nugraha (2008) bah-
penjualan dedak. Sumber penerimaan utama wasanya usaha penggilingan padi kecil (PPK)
penggilingan padi tipe maklon berasal dari memiliki tingkat efisiensi yang lebih besar
upah jasa, yaitu sekitar 76,37 persen. dibandingkan dengan usaha penggilingan
Sedangkan sekam dan dedak memberikan padi Besar (PPB).
kontribusi sebesar 23,63 persen terhadap Usaha tipe maklon diketahui memiliki
penerimaan usaha. Berbeda dengan usaha tingkat efisiensi yang paling tinggi. Akan
penggilingan padi tipe maklon, penerimaan tetapi usaha penggilingan padi dengan tipe
terbesar usaha penggilingan padi tipe non maklon ini tidak dapat memenuhi kebutuhan
maklon dan gabungan diperoleh dari hasil beras secara agregat karena kapasitas
penjualan beras sebagai output utama. produksi yang sangat kecil. Hal ini
Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa beras menyebabkan kegiatan industri beras
merupakan sumber penerimaan utama bagi nasional tidak dapat hanya didukung oleh
usaha penggilingan padi tipe non maklon dan aktivitas usaha penggilingan padi tipe maklon
gabungan, yaitu mencapai 82,55 persen dan semata. Oleh sebab itu, keberadaan usaha
83,26 persen dari total penerimaan. penggilingan padi tipe non maklon dan
Sedangkan penyumbang kedua terhadap gabungan sangat dibutuhkan.
penerimaan kedua usaha tersebut adalah Rendahnya tingkat efisiensi usaha tipe
broken rice. Besarnya kontribusi beras dalam non maklon dan gabungan dipengaruhi oleh
total penerimaan usaha menyebabkan adanya berbagai faktor. Salah faktor penyebabnya
kebijakan pemerintah terhadap stabilisasi diduga karena keterbatasan pengelola dalam
harga beras akan menganggu keber- pengelolaan aset dan aktivitas usaha se-
langsungan aktivitas usaha penggilingan. dangkan diketahui kedua usaha ini memiliki
Pada Tabel 3 terlihat bahwa penggilingan ragam aktivitas yang menuntut manajemen
padi tipe non maklon memiliki pendapatan yang lebih kompleks. Selain itu, kedua tipe
lebih besar dibandingkan dengan kedua usaha ini terpengaruh oleh fluktuasi harga

Kinerja Usaha Penggilingan Padi… Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina
150 Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154

gabah maupun beras sehingga struktur samping, seperti sekam lebih stabil jika
penerimaan dan biaya usaha ini relatif tidak dibandingkan dengan harga beras selaku
stabil dibandingkan dengan usaha tipe output utama. Selain itu, dengan mem-
maklon. perhitungkan produk samping maka
Diketahui bahwa ketiga usaha peng- sebagian beban biaya yang ditanggung usaha
gilingan padi pada penelitian ini menerapkan kemudian juga dapat dibebankan kepada
manajemen zero waste pada semua hasil produk samping sehingga biaya produksi
produksinya. Zero waste pada usaha peng- dapat diminimalisir.
gilingan padi berarti bahwa tidak ada limbah
dari usaha penggilingan padi yang tersisa SENSITIVITAS HARGA
sehingga semua output yang dihasilkan dapat
Upaya usaha penggilingan padi untuk
dimanfaatkan dengan baik. Salah satu bentuk
mendapatkan penerimaan maksimal dapat
pemanfaatan output usaha penggilingan padi
melalui berbagai cara, seperti peningkatan
adalah dengan cara menjualnya sehingga
rendemen beras, penurunan harga gabah
memberikan tambahan pendapatan bagi
sebagai input, dan peningkatan harga beras
usaha penggilingan padi.
yang dihasilkan. Peningkatan rendemen beras
Keuntungan yang diperoleh oleh usaha
dapat dilakukan melalui peremajaan mesin
penggilingan padi tipe non maklon dan
penggilingan padi. Hal ini mungkin
gabungan diketahui berasal dari dua
dilakukan oleh pelaku usaha mengingat hal
komponen besar, yaitu beras dan produk
tersebut merupakan sesuatu yang dapat
samping (side product). Beras sebagai
dikendalikan oleh pelaku usaha.
komponen penerimaan terbesar belum tentu
Upaya peningkatan penerimaan usaha
menjadi sumber keuntungan utama usaha.
melalui penurunan harga gabah dan atau
Faktanya terlihat bahwa beras hanya mampu
peningkatan harga beras sangat sulit
menyumbang 33,76 persen terhadap ke-
dilakukan karena hal tersebut diluar kendali
untungan usaha penggilingan padi tipe non
pelaku usaha. Seperti yang telah diketahui
maklon. Sisanya sebesar 66,24 keuntungan
bahwa adanya pemerintah menetapkan
usaha berasal dari side product. Begitu pula
kebijakan HPP gabah untuk melindungi
dengan usaha penggilingan padi tipe
petani kemudian berdampak kepada pe-
gabungan, dimana beras hanya berkontribusi
ningkatan biaya usaha penggilingan padi.
sebesar 25,18 persen terhadap keuntungan
Penurunan harga beras atau kebijakan lainnya
usaha, sedangkan sisanya diperoleh dari hasil
yang berpengaruh terhadap penurunan harga
penjualan produk samping. Hal ini mem-
beras bertujuan untuk melindungi konsumen
buktikan bahwa keberadaan industri
kemudian akan berdampak pada penurunan
pengolahan padi sangat bergantung pada
penerimaan usaha penggilingan padi.
produk samping (side product) bukan pada
Analisis sensitivitas harga dapat
beras sebagai output utama. Banyak usaha
dicontohkan pada satu kasus usaha, yaitu
penggilingan padi tidak menyadari hal ini
usaha tipe non maklon. Kenaikan harga gabah
sehingga hanya fokus kepada pengembangan
yang dapat ditoleransi adalah 9.81 persen dari
beras sebagai output utama.
harga pembelian gabah. Saat ini harga gabah
Walaupun persentase produk samping
yang dibeli adalah Rp 3.862,00 per kg GKP (di
(side product) jauh lebih kecil dibandingkan
atas HPP). Jika harga ini meningkat sebesar
beras sebagai output utama namun
9.81 persen atau menjadi Rp 4281,93 per kg
keberadaannya mampu menyokong keber-
GKG maka usaha penggilingan padi berada di
lanjutan usaha pada usaha penggilingan padi
titik impas atau break even point (BEP).
kasus. Hal ini disebabkan karena saat ini
Sedangkan jika harga gabah berada di atas
produk samping tersebut telah memiliki nilai
harga tersebut maka usaha penggilingan padi
jual yang tidak dapat diabaikan begitu saja.
akan mengalami kerugian, cateris paribus.
Kemudian diketahui bahwa harga produk

Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina Kinerja Usaha Penggilingan Padi…
Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154 151

Penurunan harga beras yang dapat Beras yang dibeli kemudian diolah untuk
ditoleransi oleh usaha penggilingan padi tipe dipasarkan kembali. Selain bertujuan untuk
non maklon adalah 10,34 persen dari harga memenuhi pasokan beras yang dimiliki,
penjualan beras. Apabila harga beras turun upaya ini dilakukan sebagai pilihan lain
sebesar 10,34 persen dari Rp 8.960,00 mejadi untuk dapat meningkatkan pendapatan
Rp 8.120,00 per kg beras maka usaha ini akan usaha. Menurut keterangan dari pelaku
berada pada titik impasnya. Sedangkan, jika usaha, pembelian beras untuk diolah kembali
harga beras di bawah harga tersebut maka memungkinkan pelaku usaha mendapatkan
usaha penggilingan padi akan mengalami penerimaan yang lebih tinggi karena tingkat
kerugian. kehilangan hasil atau penyusutannya diduga
Penurunan harga beras tersebut hanya sekitar tiga persen. Hal ini disebabkan
diketahui mampu menurunkan tingkat karena pengolahan kembali beras akan
profitabilitas usaha penggilingan padi. meningkatkan kualitas beras sehingga harga
Turunnya harga beras dapat terjadi oleh beras dapat meningkat.
mekanisme pasar beras. Selain itu, apabila
beras yang dihasilkan usaha penggilingan
padi dibeli oleh Bulog dengan harga sesuai KESIMPULAN
dengan HPP, yaitu Rp 6.600,00 per kilogram 1. Komponen biaya terbesar usaha tipe
diketahui akan menurunkan pendapatan maklon adalah biaya tenaga kerja
usaha dan kemudian juga berdampak pada sedangkan komponen penerimaan usaha
penurunan tingkat efisiensi usaha. Ber- terbesar berasal dari upah jasa
dasarkan perhitungan, apabila beras sebagai penggilingan padi. Komponen biaya
output usaha dihargai sesuai HPP beras maka terbesar pada usaha penggilingan tipe
pendapatan usaha tipe non maklon hanya Rp non maklon dan gabungan adalah biaya
127.575,00 per ton beras, sedangkan pembelian gabah kering panen (GKP)
pendapatan usaha tipe gabungan hanya Rp yang mencapai 92,32 persen (non maklon)
178.658,00 per ton beras. dan 91,87 persen pada (gabungan).
Sensitivitas harga gabah dan beras Sedangkan komponen penerimaan utama
tersebut dapat digunakan oleh pemerintah pada kedua usaha tersebut berasal dari
untuk menentukan HPP gabah dan beras. penjualan beras.
Apabila pemerintah dapat mempertim- 2. Ketiga usaha penggilingan padi
bangkan sensitivitas harga tersebut maka memperoleh keuntungan dalam aktivitas
pemerintah akan melahirkan kebijakan yang produksinya. Namun, proporsi keun-
better off bagi produsen padi, pengusaha tungan terbesar usaha penggilingan padi
penggilingan padi, dan konsumen. tidak berasal dari penjualan beras (main
Fakta lainnya yang perlu dibahas adalah product), akan tetapi berasal dari produk
ternyata untuk memenuhi target produksi sampingan (side product), yaitu 66 persen
dan memenuhi kebutuhan pelanggan maka pada usaha tipe non maklon dan 74
kedua usaha penggilingan padi (tipe non persen pada usaha tipe gabungan.
maklon dan gabungan) harus membeli beras. 3. Berdasarkan analisis terhadap imbangan
Artinya bahwa ketersediaan dan akses penerimaan dan biaya (rasio R/C) maka
terhadap gabah menjadi kendala untuk diketahui bahwa ketiga usaha peng-
memenuhi demand pelanggan yang dimiliki. gilingan padi kasus telah efisisen.
Dalam satu bulan, usaha penggilingan padi Namun, penggilingan padi tipe maklon
tipe non maklon melakukan pembelian beras lebih efisien dibandingkan kedua usaha
sebanyak 300 ton, sedangkan usaha peng- lainnya. Diduga pemilihan tipe maklon
gilingan padi tipe gabungan membeli rata- oleh suatu usaha merupakan bentuk
rata 5 ton beras per bulan. penghindaran resiko harga. Tipe usaha

Kinerja Usaha Penggilingan Padi… Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina
152 Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154

non maklon memiliki risiko yang tinggi DAFTAR PUSTAKA


dalam menghasilkan keuntungan yang
besar karena sangat tergantung pada Apriande, Cila. 2013. Efficiency Of Rice
Milling Industry, Case Study : Two
besar atau kecilnya harga input terutama
Sub-Districts in Cianjur Regency, West
harga gabah dan harga output yaitu beras. Java Province. [Thesis]. Bogor (ID):
4. Usaha penggilingan padi yang hanya Institut Pertanian Bogor.
fokus pada aktivitas penggilingan gabah
Badan Pusat Stastistik. c2012. Survei Sosial
menjadi beras dan kemudian menjual
Ekonomi Nasional. Jakarta : BPS.
beras yang dihasilkan akan meperoleh
pendapatan dan tingkat efisiensi usaha Kementerian Pertanian. 2012. Instruksi
yang lebih rendah jika dibandingkan Presiden Republik Indonesia tentang
Pengadaan Gabah/Beras dan
dengan usaha penggilingan padi yang
Penyaluran Beras Oleh
juga fokus pada pengelolaan produk Pemerintah.http://bkp.deptan.go.id/t
samping (side product), seperti sekam, inymcpuk/gambar/file/Instruksi_Pre
dedak, menir, dan broken rice. siden_Nomor_3Tahun_2012_Tentang_
5. Harga gabah dan beras merupakan Perberasan.pdf. (diakses 03 Feb 2013)
sesuatu yang di luar kendali pelaku usaha
Nugraha, Arif. 2008. Faktor-Faktor Yang
penggilingan padi. Kenaikan harga gabah Mempengaruhi Perbedaan Pendapatan
yang dapat ditoleransi oleh pelaku usaha dan Efisiensi Produksi Pada
adalah sebesar 9,81 persen, sedangkan Perusahaan Penggilingan Padi di
penurunan harga beras yang dapat Kabupaten Karawang. Skripsi di
ditoleransi adalah sebesar 10,34 persen Institut Pertanian Bogor, 203h.
atau minimal harga beras dijual dengan Patiwiri. Abdul W. 2004. Kondisi dan
harga Rp 8.120,00 per kg beras. Oleh sebab Permasalahan Pengolahan Padi di
itu, penetapan HPP beras sebesar Rp Indonesia. Dalam: Prosiding Lokakarya
6.600,00 per kg beras dapat merugikan Nasional; Upaya Peningkatan Nilai
Tambah Pengolahan Padi. Bogor: F-
usaha penggilingan padi.
Technopark Fateta Institut Pertanian
6. Variabel kunci yang memengaruhi kinerja Bogor; p. 22-41
usaha penggilingan padi diduga terdiri
atas tipe usaha, harga gabah kering Sawit MH, 2011. Reformasi Kebijakan Harga
Produsen dan Dampaknya Terhadap
panen, harga beras, dan manajemen
Daya Saing Beras. Jurnal Pengembangan
pengelolaan produk samping (side
Inovasi Pertanian 4(1): 1-13. Pusat Sosial
product) produksi. Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
www.pustaka.litbang.deptan.go.id

UCAPAN TERIMA KASIH Thahir, Ridwan. 2010. Revitalisasi


Penggilingan Padi Melalui Inovasi
Penulis mengucapkan terima kasih Penyosohan Mendukung Swasembada
kepada Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Beras dan Persaingan Global. Jurnal
Negeri (BPKLN) Kementerian Pendidikan Pengembangan Inovasi Pertanian. Vol.3
(3) : 171-183.
dan Kebudayaan Republik Indonesia yang
telah memberikan Beasiswa Unggulan USDA. 2012. Southeast Asia’s Rice Surplus. A
kepada penulis selama menyelesaikan report from the economic research
pendidikan S2 di Program Studi Magister service. New York: United State
Departemen of Agriculture [USDA].
Sains Agribisnis, Institut Pertanian Bogor.
www.ers.usda.gov

Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina Kinerja Usaha Penggilingan Padi…
Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154 153

Winarno. 2004. GMP dalam Industri


Penggilingan Padi. Dalam: Rokhani H,
Sutrisno, Tajuddin B, abdul Waris,
Haryadi Halid (ed). Dalam: Prosiding
Lokakarya Nasional; Upaya Peningkatan
Nilai Tambah Pengolahan Padi. Bogor: F-
Technopark Fateta Institut Pertanian
Bogor; p. 127-143

Wongkeawchan J, Wiboonpongse A,
Sriboonchitta S, Huang WT. 2000.
Comparison of Technical Efficiency of
Rice Mill Systems. In Thailand and
Taiwan. Taiwan: Chiang Mai
University

Kinerja Usaha Penggilingan Padi… Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina
154 Jurnal Agribisnis Indonesia (Vol 1 No 2, Desember 2013); halaman 143-154

Tursina Andita Putri, Nunung Kusnadi, dan Dwi Rachmina Kinerja Usaha Penggilingan Padi…