Вы находитесь на странице: 1из 35

Aspek Medikolegal dan Pemeriksaan Anak dengan Tes

DNA

E7
Dwi Kartika 102012035
Jefri Sokko 102012073
Kelly 102012078
Resti Aulia Wulandari 102012171
Kelvin Rinaldo Khomalia 102012255
Elizabeth Angelina 102012354
Orlando 102012430
Masitah binti Omar 102012478

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061
Fax. 021-5631731

1
Skenario 3

Seorang perempuan A datang ke anda dan menceritakan keluhannya. Ia seorang wanita


karier dan telah bersuamikan S dengan dua anak. Perkawinan telah berlangsung 12 tahun.
Pada dua bulan yang lalu A telah didatangi seorang perempuan muda B yang mengaku
sebagai istri gelap suami S dan ia mengatakan bahwa akibat hubungannya dengan S telah
lahir seorang anak laki-laki.B memnita kepada S agar mengawininya secara sah demi
kepentingan anak laki-lakinya, tetapi S tidak setuju. B meminta kepada A agar mau
menerimanya sebagai madunya atau setidaknya memberi nafkah kepada anak laki-lakinya
A kemudian berbicara secara baik-baik dengan S tentang hal ini. S mengakui bahwa 2
tahun yang lalu, sewaktu A sedang tugas keluar negri selama 6 bulan, ia berkenalan seorang
wanita muda di cafe, yang dilanjutkan dengan pertemuan di hotel beberapa kali. S yakin
bahwa B bukanlah wanita baik-baik dan menganggap bahwa hubungan S dengan B adalah
hubungan yang short time saja.
A ingin memastikan apakah benar anak laki-laki B adalah benar berasal dari
hubungannya dengan suaminya. A juga meminta pendapat dokter, apa yang harus dilakukakn
agar dapat terlaksana permintaan tersebut.

Pendahuluan

Tiap sistem hukum yang ada di dunia memandang berbeda terhadap delik perzinahan
sebagai bagian dalam delik-delik mengenai kesusilaan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan
cara pandang dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Sistem hukum yang berlaku dalam
masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan, perzinahan akan dipandang
sebagai sebuah perbuatan yang asusila. Namun hal ini berbeda menurut masyarakat yang
lebih bercorak individualis. Mereka menilai perzinahan sebagai bentuk perbuatan yang biasa
dan tergantung kemauan tiap individu. Perzinahan akan dipandang tercela jika terjadi hal itu
dilakukan dalam bingkai perkawinan.

Menurut ketentuan yang diatur di dalam KUHP, perzinahan hanya dapat terjadi jika ada
persetubuhan yang dilakukan orang yang telah terikat dengan perkawinan. Sedangkan orang
yang belum menikah dalam perbuatan ini adalah termasuk orang yang turut melakukan
(medepleger).

2
Ancaman pidana yang ditetapkan dalam pasal 284 ayat (1) KUHP adalah pidana penjara
sembilan bulan, baik bagi pelaku yang telah menikah maupun bagi orang yang turut serta
melakukan perbuatan zina itu.

Ketentuan yang mengatur mengenai persaksian tidak diatur secara khusus dalam delik
perzinahan menurut KUHP. Maka sistem pembuktian delik perzinahan sama dengan sistem
pembuktian delik-delik yang lain. Artinya, alat bukti yang digunakan dalam membuktian
adanya perbuatan zina ini seperti alat-alat bukti yang telah diatur dalam pasal 184 KUHAP,
yaitu :

1. keterangan saksi;

2. keterangan ahli;

3. surat;

4. petunjuk;

5. keterangan terdakwa.

Selanjutnya pasal 185 ayat (3) mengatur bahwa keterangan seorang saksi saja cukup
untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan
kepadanya apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya. Pasal 284 ayat (2)
KUHP mengatur bahwa delik perzinahan adalah delik aduan absolut (absoluut klachdelicten)
yang hanya dapat dituntut atas pengaduan suami atau isteri yang tercemar dengan adanya
perzinahan itu (vide pasal 284 ayat (2) KUHP).1

Peran dokter dalam suatu kasus pembuktian perzinahan ataupun pembuktian identitas
seorang anak dalam suatu kasus adalah dengan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan guna
mendapatkan suatu bukti yang pasti tentang kasus tersebut dalam kasus ini dokter dituntut
untuk bisa membuktikan anak si B merupakan anak dari si S.

Aspek Hukum dalam Pelayanan Kesehatan


Dewasa ini dapat dilihat semua bidang kehidupan masyarakat sudah terjamah aspek hukum.
Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia mempunyai hasrat untuk hidup teratur.
Akan tetapi keteraturan bagi seseorang belum tentu sama dengan keteraturan bagi orang lain,
oleh karena itu diperlukan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antar manusia melalui

3
keserasian antara ketertiban dan landasan hukum. Norma atau kaidah yang mengatur aspek
pribadi terdiri dari norma kepercayaan dan norma kesusilaan. Norma kepercayaan bertujuan
agar manusia hidup beriman, sedang norma kesusilaan bertujuan agar manusia hidup
berakhlak. Norma yang mengatur antar pribadi terdiri dari norma kesopanan dan norma
hukum. Suatu norma hukum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang dilarang
dengan mendapat sanksi apabila larangan tersebut dilanggar. Norma hukum ada yang tertulis
dan ada pula yang tidak tertulis. Hukum tertulis biasanya disamakan dengan peraturan
perundang-undangan. Secara hirarkis peraturan perundang-undangan di Indonesia tersusun
sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Ketetapan MPR
3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.
4. Peraturan Pemerintah
5. Keputusan Presiden
6. Peraturan-peraturan pelaksana lainnya.
a. Peraturan Menteri
b. Instruksi Menteri
Hukum kesehatan merupakan suatu bidang spesialisasi ilmu hukum yang relatif masih baru di
Indonesia. Hukum kesehatan mencakup segala peraturan dan aturan yang secara langsung
berkaitan dengan pemeliharaan dan perawatan kesehatan yang terancam atau kesehatan yang
rusak. Hukum kesehatan mencakup penerapan hukum perdata dan hukum pidana yang
berkaitan dengan hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan.1 Subyek-subyek hukum
dalam sistem hukum kesehatan adalah:
a. Tenaga kesehatan sarjana yaitu: dokter, dokter gigi, apoteker dan sarjana lain di
bidang kesehatan.
b. Tenaga kesehatan sarjana muda, menengah dan rendah; (1). Bidang farmasi (2).
bidang kebidanan (3). bidang perawatan (4). bidang kesehatan masyarakat, dan lain-
lain.
Dalam melakukan tugasnya dokter dan tenaga kesehatan harus mematuhi segala aspek
hukum dalam kesehatan. Kesalahan dalam melaksanakan profesi kedokteran merupakan
masalah penting, karena membawa akibat yang berat, terutama akan merusak kepercayaan
masyarakat terhadap profesi kesehatan. Suatu kesalahan dalam melakukan profesi dapat
disebabkan karena kekurangan: (1) pengetahuan (2) pengalaman (3) pengertian.1 Ketiga
faktor tersebut menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan atau penilaian.

4
Tanggung Jawab Hukum Dokter Terhadap Pasien2
1) Tanggung Jawab Etis
Peraturan yang mengatur tanggung jawab etis dari seorang dokter adalah Kode
Etik Kedokteran Indonesia dan Lafal Sumpah Dokter. Kode etik adalah pedoman
perilaku. Kode Etik Kedokteran Indonesia dikeluarkan dengan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan no. 434 / Men.Kes/SK/X/1983. Kode Etik Kedokteran Indonesia
disusun dengan mempertimbangkan International Code of Medical Ethics dengan
landasan idiil Pancasila dan landasan strukturil Undang-undang Dasar 1945. Kode Etik
Kedokteran Indonesia ini mengatur hubungan antar manusia yang mencakup kewajiban
umum seorang dokter, hubungan dokter dengan pasiennya, kewajiban dokter terhadap
sejawatnya dan kewajiban dokter terhadap diri sendiri.

Pelanggaran terhadap butir-butir Kode Etik Kedokteran Indonesia ada yang


merupakan pelanggaran etik semata-mata dan ada pula yang merupakan pelanggaran
etik dan sekaligus pelanggaran hukum. Pelanggaran etik tidak selalu berarti
pelanggaran hukum, sebaliknya pelanggaran hukum tidak selalu merupakan
pelanggaran etik kedokteran. Berikut diajukan beberapa contoh :

a. Pelanggaran etik murni

1. Menarik imbalan yang tidak wajar atau menarik imbalan jasa dari keluarga
sejawat dokter dan dokter gigi.
2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.
3. Memuji diri sendiri di depan pasien.
4. Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran yang berkesinambungan.
5. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.

b. Pelanggaran etikolegal

1. Pelayanan dokter di bawah standar.


2. Menerbitkan surat keterangan palsu.
3. Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter.
4. Abortus provokatus.

5
2) Tanggung Jawab Profesi2
Tanggung jawab profesi dokter berkaitan erat dengan profesionalisme seorang dokter.
Hal ini terkait dengan:

a. Pendidikan, pengalaman dan kualifikasi lain


Dalam menjalankan tugas profesinya seorang dokter harus mempunyai derajat
pendidikan yang sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya. Dengan
dasar ilmu yang diperoleh semasa pendidikan di fakultas kedokteran maupun
spesialisasi dan pengalamannya untuk menolong penderita.

b. Derajat risiko perawatan


Derajat risiko perawatan diusahakan untuk sekecil-kecilnya, sehingga efek
samping dari pengobatan diusahakan minimal mungkin. Di samping itu
mengenai derajat risiko perawatan harus diberitahukan terhadap penderita
maupun keluarganya, sehingga pasien dapat memilih alternatif dari perawatan
yang diberitahukan oleh dokter.

Berdasarkan data responden dokter, dikatakan bahwa informasi mengenai


derajat perawatan timbul kendala terhadap pasien atau keluarganya dengan
tingkat pendidikan rendah, karena telah diberi informasi tetapi dia tidak bisa
menangkap dengan baik.

c. Peralatan perawatan
Perlunya dipergunakan pemeriksaan dengan menggunakan peralatan
perawatan, apabila dari hasil pemeriksaan luar kurang didapatkan hasil yang
akurat sehingga diperlukan pemeriksaan menggunakan bantuan alat. Namun
dari jawaban responden bahwa tidak semua pasien bersedia untuk diperiksa
dengan menggunakan alat bantu (alat kedokteran canggih), hal ini terkait erat
dengan biaya yang harus dikeluarkan bagi pasien golongan ekonomi lemah.

3) Tanggung Jawab Hukum


Tanggung jawab hukum dokter adalah suatu keterikatan dokter terhadap ketentuan-
ketentuan hukum dalam menjalankan profesinya. Tanggung jawab seorang dokter
dalam bidang hukum terbagi dalam 3 bagian, yaitu:

6
a. Tanggung jawab hukum dokter dalam bidang hukum perdata
1. Tanggung Jawab Hukum Perdata Karena Wanprestasi

Pengertian wanprestasi ialah suatu keadaan dimana seseorang


tidak memenuhi kewajibannya yang didasarkan pada suatu perjanjian
atau kontrak. Pada dasarnya pertanggungjawaban perdata itu bertujuan
untuk memperoleh ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh pasien
akibat adanya wanprestasi atau perbuatan melawan hukum dari tindakan
dokter.

Menurut ilmu hukum perdata, seseorang dapat dianggap


melakukan wanprestasi apabila tidak melakukan apa yang disanggupi
akan dilakukan, melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat dan
melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan
serta melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukannya. Sehubungan dengan masalah ini, maka wanprestasi yang
dimaksudkan dalam tanggung jawab perdata seorang dokter adalah tidak
memenuhi syarat-syarat yang tertera dalam suatu perjanjian yang telah
dia adakan dengan pasiennya.

Gugatan untuk membayar ganti rugi atas dasar persetujuan atau


perjanjian yang terjadi hanya dapat dilakukan bila memang ada
perjanjian dokter dengan pasien. Perjanjian tersebut dapat digolongkan
sebagai persetujuan untuk melakukan atau berbuat sesuatu. Perjanjian itu
terjadi bila pasien memanggil dokter atau pergi ke dokter, dan dokter
memenuhi permintaan pasien untuk mengobatinya. Dalam hal ini pasien
akan membayar sejumlah honorarium. Sedangkan dokter sebenarnya
harus melakukan prestasi menyembuhkan pasien dari penyakitnya.
Tetapi penyembuhan itu tidak pasti selalu dapat dilakukan sehingga
seorang dokter hanya mengikatkan dirinya untuk memberikan bantuan
sedapat-dapatnya, sesuai dengan ilmu dan ketrampilan yang dikuasainya.
Artinya, dia berjanji akan berdaya upaya sekuat-kuatnya untuk
menyembuhkan pasien.

7
Dalam gugatan atas dasar wanprestasi ini, harus dibuktikan bahwa
dokter itu benar-benar telah mengadakan perjanjian, kemudian dia telah
melakukan wanprestasi terhadap perjanjian tersebut (yang tentu saja
dalam hal ini senantiasa harus didasarkan pada kesalahan profesi). Jadi
di sini pasien harus mempunyai bukti-bukti kerugian akibat tidak
dipenuhinya kewajiban dokter sesuai dengan standar profesi medis yang
berlaku dalam suatu kontrak terapeutik. Tetapi dalam prakteknya tidak
mudah untuk melaksanakannya, karena pasien juga tidak mempunyai
cukup informasi dari dokter mengenai tindakan-tindakan apa saja yang
merupakan kewajiban dokter dalam suatu kontrak terapeutik. Hal ini
yang sangat sulit dalam pembuktiannya karena mengingat perikatan
antara dokter dan pasien adalah bersifat inspaningsverbintenis.

2. Tanggung Jawab Perdata Dokter Karena Perbuatan Melanggar Hukum


Tanggung jawab karena kesalahan merupakan bentuk klasik
pertanggungjawaban perdata. Berdasar tiga prinsip yang diatur dalam
Pasal 1365, 1366, 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu
sebagai berikut :
a. Berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Pasien dapat menggugat seorang dokter oleh karena dokter
tersebut telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum,
seperti yang diatur di dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa : “Tiap perbuatan
melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kesalahan
itu, mengganti kerugian tersebut”.
Undang-undang sama sekali tidak memberikan batasan
tentang perbuatan melawan hukum, yang harus ditafsirkan oleh
peradilan. Semula dimaksudkan segala sesuatu yang bertentangan
dengan undang-undang, jadi suatu perbuatan melawan undang-
undang. Akan tetapi sejak tahun 1919 yurisprudensi tetap telah
memberikan pengertian yaitu setiap tindakan atau kelalaian baik
yang : (1) Melanggar hak orang lain (2) Bertentangan dengan
kewajiban hukum diri sendiri (3) Menyalahi pandangan etis yang

8
umumnya dianut (adat istiadat yang baik) (4) Tidak sesuai dengan
kepatuhan dan kecermatan sebagai persyaratan tentang diri dan
benda orang seorang dalam pergaulan hidup.
Seorang dokter dapat dinyatakan melakukan kesalahan.
Untuk menentukan seorang pelaku perbuatan melanggar hukum
harus membayar ganti rugi, haruslah terdapat hubungan erat antara
kesalahan dan kerugian yang ditimbulkan.
b. Berdasarkan Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Seorang dokter selain dapat dituntut atas dasar wanprestasi
dan melanggar hukum seperti tersebut di atas, dapat pula dituntut
atas dasar lalai, sehingga menimbulkan kerugian. Gugatan atas
dasar kelalaian ini diatur dalam Pasal 1366 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, yang bunyinya sebagai berikut: “Setiap orang
bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan
karena kelalaian atau kurang hati-hatinya”.
c. Berdasarkan Pasal 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Seseorang harus memberikan pertanggungjawaban tidak
hanya atas kerugian yang ditimbulkan dari tindakannya sendiri,
tetapi juga atas kerugian yang ditimbulkan dari tindakan orang lain
yang berada di bawah pengawasannya. (Pasal 1367 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata).
b. Tanggung jawab hukum dokter dalam bidang hukum pidana2
Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat,
dalam perkembangan selanjutnya timbul permasalahan tanggung jawab pidana
seorang dokter, khususnya yang menyangkut dengan kelalaian, hal mana
dilandaskan pada teori-teori kesalahan dalam hukum pidana.
Tanggung jawab pidana di sini timbul bila pertama-tama dapat dibuktikan
adanya kesalahan profesional, misalnya kesalahan dalam diagnosa atau
kesalahan dalam cara-cara pengobatan atau perawatan.
Dari segi hukum, kesalahan / kelalaian akan selalu berkait dengan sifat
melawan hukumnya suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mampu
bertanggung jawab. Seseorang dikatakan mampu bertanggung jawab apabila
dapat menginsafi makna yang senyatanya dari perbuatannya, dapat menginsafi

9
perbuatannya itu tidak dipandang patut dalam pergaulan masyarakat dan mampu
untuk menentukan niat / kehendaknya dalam melakukan perbuatan tersebut.
Suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai criminal malpractice apabila
memenuhi rumusan delik pidana yaitu perbuatan tersebut harus merupakan
perbuatan tercela dan dilakukan sikap batin yang salah yaitu berupa kesengajaan
atau kecerobohan. Ada perbedaan penting antara tindak pidana biasa dengan
‘tindak pidana medis’. Pada tindak pidana biasa yang terutama diperhatikan
adalah ‘akibatnya’, sedangkan pada tindak pidana medis adalah ‘penyebabnya’.
Walaupun berakibat fatal, tetapi jika tidak ada unsur kelalaian atau kesalahan
maka dokternya tidak dapat dipersalahkan.
Beberapa contoh dari criminal malpractice yang berupa kesengajaan
adalah melakukan aborsi tanpa indikasi medis, membocorkan rahasia
kedokteran, tidak melakukan pertolongan seseorang yang dalam keadaan
emergency, melakukan eutanasia, menerbitkan surat keterangan dokter yang
tidak benar, membuat visum et repertum yang tidak benar dan memberikan
keterangan yang tidak benar di sidang pengadilan dalam kapasitas sebagai ahli.

Dalam literatur hukum kedokteran negara Anglo-Saxon antara lain dari


Taylor dikatakan bahwa seorang dokter baru dapat dipersalahkan dan digugat
menurut hukum apabila dia sudah memenuhi syarat 4 – D, yaitu : Duty
(Kewajiban), Derelictions of That Duty (Penyimpangan kewajiban), Damage
(Kerugian), Direct Causal Relationship (Berkaitan langsung).

Duty atau kewajiban bisa berdasarkan perjanjian (ius contractu) atau


menurut undang-undang (ius delicto). Juga adalah kewajiban dokter untuk
bekerja berdasarkan standar profesi. Kini adalah kewajiban dokter pula untuk
memperoleh informed consent, dalam arti wajib memberikan informasi yang
cukup dan mengerti sebelum mengambil tindakannya. Informasi itu mencakup
antara lain : risiko yang melekat pada tindakan, kemungkinan timbul efek
sampingan, alternatif lain jika ada, apa akibat jika tidak dilakukan dan
sebagainya. Peraturan tentang persetujuan tindakan medis (informed consent)
sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585 Tahun 1989.

Penentuan bahwa adanya penyimpangan dari standar profesi medis


(Dereliction of The Duty) adalah sesuatu yang didasarkan atas fakta-fakta secara
10
kasuistis yang harus dipertimbangkan oleh para ahli dan saksi ahli. Namun
sering kali pasien mencampuradukkan antara akibat dan kelalaian. Bahwa
timbul akibat negatif atau keadaan pasien yang tidak bertambah baik belum
membuktikan adanya kelalaian. Kelalaian itu harus dibuktikan dengan jelas.
Harus dibuktikan dahulu bahwa dokter itu telah melakukan ‘breach of duty’.

Damage berarti kerugian yang diderita pasien itu harus berwujud dalam
bentuk fisik, finansial, emosional atau berbagai kategori kerugian lainnya, di
dalam kepustakaan dibedakan : Kerugian umum (general damages) termasuk
kehilangan pendapatan yang akan diterima, kesakitan dan penderitaan dan
kerugian khusus (special damages) kerugian finansial nyata yang harus
dikeluarkan, seperti biaya pengobatan, gaji yang tidak diterima.

Sebaliknya jika tidak ada kerugian, maka juga tidak ada penggantian
kerugian. Direct causal relationship berarti bahwa harus ada kaitan kausal
antara tindakan yang dilakukan dengan kerugian yang diderita.

c. Tanggung jawab hukum dokter dalam bidang hukum administrasi

Dikatakan pelanggaran administrative malpractice jika dokter melanggar


hukum tata usaaha negara. Contoh tindakan dokter yang dikategorikan sebagai
administrative malpractice adalah menjalankan praktek tanpa ijin, melakukan
tindakan medis yang tidak sesuai dengan ijin yang dimiliki, melakukan praktek
dengan menggunakan ijin yang sudah daluwarsa dan tidak membuat rekam
medis.

Menurut peraturan yang berlaku, seseorang yang telah lulus dan diwisuda
sebagai dokter tidak secara otomatis boleh melakukan pekerjaan dokter. Ia harus
lebih dahulu mengurus lisensi agar memperoleh kewenangan, dimana tiap-tiap
jenis lisensi memerlukan basic science dan mempunyai kewenangan sendiri-
sendiri. Tidak dibenarkan melakukan tindakan medis yang melampaui batas
kewenangan yang telah ditentukan. Meskipun seorang dokter ahli kandungan
mampu melakukan operasi amandel namun lisensinya tidak membenarkan
dilakukan tindakan medis tersebut. Jika ketentuan tersebut dilanggar maka
dokter dapat dianggap telah melakukan administrative malpractice dan dapat

11
dikenai sanksi administratif, misalnya berupa pembekuan lisensi untuk
sementara waktu.

Pasal 11 Undang-Undang No. 6 Tahun 1963, sanksi administratif dapat


dijatuhkan terhadap dokter yang melalaikan kewajiban, melakukan suatu hal
yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang dokter, baik mengingat
sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah sebagai dokter, mengabaikan
sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh dokter dan melanggar ketentuan
menurut atau berdasarkan Undang-Undang No. 6 Tahun 1963.

Etika kedokteran dapat diartikan sebagai kewajiban berdasarkan moral yang menentukan
praktek kedokteran. Selama beberapa dasawarsa terakhir ini, masalah – masalah etik
kedokteran merupakan masalah yang penting ; masyarakat saat ini telah mempersalahkan
secara agresif mengenai bagaimana dan kepada siapa pelayanan kesehatan diberikan.
Perhatian masyarakat kepada masalah etik kedokteran telah membawa profesi kedokteran
kepada kebutuhan yang meningkat mengenai pandangan masyarakat ini, tidak hanya yang
berkenaan dengan hubungan antara dokter – pasien, tetapi juga bagaimana kemajuan dalam
ilmu & teknologi kedokteran mempengaruhi masalah hak asasi manusia.2

Etika Kedokteran mempunyai 3 azas pokok, yaitu :


1. Otonomi
a. Hal ini membutuhkan orang – orang yang kompeten, dipengaruhi oleh kehendak
dan keinginannya sendiri dan kemampuan (kompetensi), memiliki pengertian
pada tiap-tiap kasus yang dipersoalkan, memiliki kemampuan untuk menanggung
konsekuensi dari keputusan yang secara otonomi atau mandiri telah diambil.
b. Melindungi mereka yang lemah, berarti kita dituntut untuk
memberikan perlindungan dalam pemeliharaan, perwalian, pengasuhan kepada
anak-anak, para remaja dan orang dewasa yang berada dalam kondisi lemah
dan tidak mempunyai kemampuan otonom (mandiri).
2. Bersifat dan bersikap amal, berbudi baik
Dasar ini tercantum pada etik kedokteran yang sebenarnya bernada negatif; PRIMUM
NON NOCERE (janganlah berbuat merugikan/salah). Hendaknya kita bernada positif
dengan berbuat baik dan apabila perlu kita mulai dengan kegiatan yang merupakan
awal kesejahteraan para individu/masyarakat.

12
3. Keadilan
Azas ini bertujuan untuk menyelenggarakan keadilan dalam transaksi dan perlakuan
antar manusia, umpamanya mulai mengusahakan peningkatan keadilan terhadap si
individu dan masyarakat dimana mungkin terjadi risiko dan imbalan yang tidak wajar
dan bahwa segolongan manusia janganlah dikorbankan untuk kepentingan golongan
lain.2

Etika Dokter terhadap Pasien


Hubungan antara dokter dengan pasien adalah hubungan antar manusia dan manusia.
Dalam hubungan ini mungkin timbul pertentangan antara dokter dan pasien, karena masing-
masing mempunyai nilai yang berbeda. Masalah semacam ini
akan dihadapi oleh dokter yang bekerja di lingkungan dengan suatu sistem yang berbeda
dengan kebudayaan profesinya.
Seorang dokter harus dapat menghormati pasien, agar pasient merasa nyaman dengan
pelayanan yang diberikan oleh dokter tersebut. Adapun yang perlu diperhatikan dalam
menghormati pasien adalah mengenai hak-hak pasien.
a. Hak Pasien atas Informasi Penyakit dan Tindakan Medis dari Aspek Etika Kedokteran
Terkait dengan pemberian informasi kepada pasien ada beberapa yang
harus diperhatikan:
1. Informasi harus diberikan, baik diminta ataupun tidak.
2. Informasi tidak boleh memakai istilah kedokteran karena tidak dimengerti oleh
orang awam.
3. Informasi harus diberikan sesuai dengan tingkat pendidikan, kondisi, dan situasi
pasien.
4. Informasi harus diberikan secara lengkap dan jujur, kecuali dokter menilai bahwa
informasi tersebut dapat merugikan kepentingan atau kesehatan pasien atau pasien
menolak untuk diberikan infomasi (KODEKI, pasal 5).
5. Untuk tindakan bedah (operasi) atau tindakan invasif yang lain, informasi harus
diberikan oleh dokter yang akan melakukan operasi. Apabila dokter yang
bersangkutan tidak ada, maka informasi harus diberikan oleh dokter yang lain
dengan sepengetahuan atau petunjuk dokter yang bertanggng jawab.
b. Hak Pasien atas Informasi Penyakit dan Tindakan Medis dari Aspek Hukum Kedokteran
Pasien dalam menerima pelayanan praktik kedokteran mempunyai hak
mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis yang akan diterimanya

13
(Undan-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 52). Penjelasan
tersebut sekurang-kurangnya mencakup :
1. Diagnosis dan tata cara tindakan medis
2. Tujuan tindakan medis yang dilakukan
3. Alternatif tindakan lain dan resikonya
4. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
5. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
Pasien berhak menolak tindakan yang dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi
yang jelas tentang penyakitnya. Pemberian obat-obatan juga harus dengan persetujuan
pasien dan bila pasien meminta untuk dihentikan pengobatan, maka terapi harus
dihentikan kecuali dengan penghentian terapi akan mengakibatkan keadaan gawat
darurat atau kehilangan nyawa pasien. Dalam Pedoman Penegakkan Disiplin
Kedokteran tahun 2008 seorang dokter dapat dikategorikan melakukan bentuk
pelanggaran disiplin kedokteran apabila tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis,
dan memadai (adequate information) kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan
praktik kedokteran.2
c. Hak Pasien atas Informasi dalam Rekam Medik
Berdasarkan PERMENKES RI No. 629/MENKES/PER/III/2008 tentang
Rekam medik Pasal 12 dikatakan bahwa berkas rekam medic adalah milik sarana
pelanayan kesehatan dan isi rekam medik adalah milik rekam medik . Bentuk ringkasan
rekam medic dapat diberikan, dicatat atau dicopy oleh pasien atau orang yang diberi
kuasa atau persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.
Namun boleh tidaknya pasien mengetahui isi rekam medic tergantung kesanggupan
pasien untuk mendengar informasi mengenai penyakit yang dijelaskan oleh dokter yang
merawatnya.
d. Komunikasi Dokter-Pasien yang Baik
Menurut Petunjuk Praktek Kedokteran yang Baik (DEPKES,2008) komunikasi
yang baik antara dokter pasien terkait dengan hak untuk mendapatkan informasi
meliputi :
1. Mendengarkan keluhan, menggali informasi, dan menghormati pandangan serta
kepercayaan pasien yang berkaitan dengan keluhannya.
2. Memberikan informasi yang diminta atau yang diperlukan tentang kondisi,
diagnosis, terapi dan prognosis pasien, serta rencana perawatannya dengan cara

14
yang bijak dan bahasa yang dimengerti pasien. Termasuk informasi tentang
tujuan pengobatan, pilihan obat yang diberikan, cara pemberian serta
pengaturan dosis obat, dan kemungkinan efek samping obat yang mungkin
terjadi.
3. Memberikan informasi tentang pasien serta tindakan kedokteran yang dilakukan
kepada keluarganya, setelah mendapat persetujuan pasien.
4. Jika seorang pasien mengalami kejadian yang tidak diharapkan selama dalam
perawatan dokter, dokter yang bersangkutan atau penanggungjawab pelayanan
kedokteran (jika terjadi di sarana pelayanan kesehatan) harus menjelaskan
keadaan yang terjadi akibat jangka pendek atau panjang dan rencana tindakan
kedokteran yang akan dilakukan secara jujur dan lengkap serta memberikan
empati.
5. Dalam setiap tindakan kedokteran yang dilakukan, dokter harus mendapat
persetujuan pasien karena pada prinsipnya yang berhak memberika persetujuan
dan penolakan tindakan medis adalah pasien yang bersangkutan. Untuk itu
dokter harus melakukan pemeriksaan secara teliti, serta menyampaikan rencana
pemeriksaan lebih lanjut termasuk resiko yang mungkin terjadi secara jujur,
transparan dan komunikatif. Dokter harus yankin bahwa pasien mengerti apa
yang disampaikan sehingga pasien dalam memberikan persetujuan tanpa adanya
paksaan atau tekanan.2

Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)


Sumpah dokter yang paling banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang
berisikan kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap atau seperti code of
conduct bagi dokter.
Kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI) dibuat dengan mengacu kepada Kode
Etik Kedokteran Internasional yang berunsurkan tentang kewajiban umum, kewajiban
terhadap pasien, kewajiban terhadap teman sejawat dan kewajiban terhadap diri sendiri.2
KODEKI berisikan:
Kewajiban umum
Pasal 1:
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2:

15
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar
profesi yang tertinggi.
Pasal 3:
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4:
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5:
Setiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan
pasien.
Pasal 6:
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7:
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya.
Pasal 7a:
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b:
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan
berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam
karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien.
Pasal 7c:
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.
Pasal 7d:
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.
Pasal 8:

16
Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha
menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9:
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.2

Kewajiban dokter terhadap pasien


Pasal 10:
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini, ia tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib menunjuk pasien
kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
Pasal 11:
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.
Pasal 12:
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13:
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

Kejahatan terhadap kesusilaan


Pasal 284 KUHP2
1. Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan:
a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui
bahwa pasal 27 BW berlaku baginya
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa
pasal 27 BW berlaku baginya
c. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa
yang turut bersalah telah kawin

17
d. Seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku
baginya.
2. Dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti
dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.
3. Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75
4. Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum
dimulai
5. Jika suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan
belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja
dan tempat tidur menjadi tetap.

Undang-Undang Republik Indonesia no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak


Bab III tentang Hak dan Kewajiban Anak2
Pasal 4
Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan
dan diskriminasi
Pasal 5
Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan
Pasal 7
1. Setiap anak berhak untuk mengetahui orangtuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang
tuanya sendiri
2. Dalam hal karena suatu sebab orangtuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak,
atau anak dalam keadaan terlantar maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat
sebagai anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pasal 8
Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan social sesuai dengan
kebutuhan fisik, mental, spiritual dan social.
Pasal 26
1. Orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :
a. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak

18
b. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya
c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak
3. Dalam hal orangtua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu
sebab, tidak dapat melaksanakan dan tanggung jawabnya, maka kewajiban dan tanggung
jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.2

Informed Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat
penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi
izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai
persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Tiga elemen Informed consent2,3
A. Threshold elements
Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya
lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap).
Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Kompetensi
manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut kontinuum, dari sama sekali
tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat
berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable
berdasarkan alasan yang reasonable).
Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan
berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai
usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang
dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa
sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu.2,3
B. Information elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding
(pemahaman). Pengertian ”berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi
kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga
pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa ”baik” informasi
harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar, yaitu :

19
1. Standar Praktik Profesi. Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke-
adekuat-an informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas
tenaga medis.Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas
tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko yang ”tidak bermakna”
(menurut medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial
pasien.
2. Standar Subyektif. Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh
pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien
tersebut dalam membuat keputusan. Kesulitannya adalah mustahil (dalam hal
waktu/kesempatan) bagi profesional medis memahami nilai-nilai yang secara
individual dianut oleh pasien.
3. Standar pada Reasonable Person. Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua
standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah
memenuhi kebutuhan umumnya orang awam.1,2,3
C. Consent elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan
authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi
ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari ”tekanan” yang dilakukan tenaga medis yang
bersikap seolah-olah akan ”dibiarkan” apabila tidak menyetujui tawarannya.2,3 Consent dapat
diberikan :
1. Dinyatakan (expressed)
a. Dinyatakan secara lisan
b. Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti
di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko
mempengaruhi kesehatan penderita secara bermakna.Permenkes tentang
persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif
harus memperoleh persetujuan tertulis.
2. Tidak dinyatakan (implied). Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun
tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya.
Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang
paling banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang
menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil
darahnya.

20
Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga)
unsure sebagai berikut :
A. Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter
B. Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan
C. Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan.
Di Indonesia perkembangan “informed consent” secara yuridis formal, ditandai dengan
munculnya pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang “informed consent” melalui SK
PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun 1988. Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes
No. 585 tahun 1989 tentang “Persetujuan Tindakan Medik atau Informed Consent”. Hal ini
tidak berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal dan melaksanakan
“informed consent” karena jauh sebelum itu telah ada kebiasaan pada pelaksanaan operatif,
dokter selalu meminta persetujuan tertulis dari pihak pasien atau keluarganya sebelum
tindakan operasi itu dilakukan.Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna
jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk
melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu:
A. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko
besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3
ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis
yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah
sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan
medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent);
B. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif
dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien;
C. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan
disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai
tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.3
Tujuan Pelaksanaan Informed Consent. Dalam hubungan antara pelaksana (dokter)
dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan “informed consent”,
bertujuan :
A. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan
medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan
medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi
pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan

21
biaya tinggi atau “over utilization” yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan
medisnya;
B. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-
tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan
bersifat negatif, misalnya terhadap “risk of treatment” yang tak mungkin dihindarkan
walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar profesi
medik.
Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai
beberapa fungsi sebagai berikut :
A. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
B. Promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
C. Untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
D. Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
E. Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional
F. Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
G. Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan.3

Aspek Sosial Agama


1. Dampak Perselingkuhan
Apapun jenis perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, dampak negatifnya terhadap
perkawinan amat besar dan berlangsung jangka panjang. Perselingkuhan berarti pula
penghianatan terhadap kesetiaan dan hadirnya wanita lain dalam perkawinan sehingga
menimbulkan perasaan sakit hati, kemarahan yang luar biasa, depresi, kecemasan, perasaan
tidak berdaya, dan kekecewaan yang amat mendalam.

Istri-istri yang amat mementingkan kesetiaan adalah mereka yang paling amat terpukul
dengan kejadian tersebut. Ketika istri mengetahui bahwa kepercayaan yang mereka berikan
secara penuh kemudian diselewengkan oleh suami, maka mereka kemudian berubah menjadi
amat curiga. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan bukti-bukti yang berkaitan dengan
perselingkuhan tersebut. Keengganan suami untuk terbuka tentang detil-detil perselingkuhan
membuat istri semakin marah dan sulit percaya pada pasangan. Namun keterbukaan suami
seringkali juga berakibat buruk karena membuat istri trauma dan mengalami mimpi buruk
berlarut.

22
Secara umum perselingkuhan menimbulkan masalah yang amat serius dalam perkawinan.
Tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan perceraian karena istri merasa tidak sanggup
lagi bertahan setelah mengetahui bahwa cinta mereka dikhianati dan suami telah berbagi
keintiman dengan wanita. Pada perkawinan lain, perceraian justru karena suami memutuskan
untuk meninggalkan perkawinan yang dirasakannya sudah tidak lagi membahagiakan. Bagi
para suami tersebut perselingkuhan adalah puncak dari ketidakpuasan mereka selama ini.

Bagi pasangan yang memutuskan untuk tetap mempertahankan perkawinan, dampak


negatif perselingkuhan amat dirasakan oleh istri. Sebagai pihak yang dikhianati, istri
merasakan berbagai emosi negatif secara intens dan seringkali juga mengalami depresi dalam
jangka waktu yang cukup lama. Rasa sakit hati yang amat mendalam membuat mereka
menjadi orang yang amat pemarah, tidak memiliki semangat hidup, merasa tidak percaya diri,
terutama pada masa-masa awal setelah perselingkuhan terbuka. Mereka mengalami konflik
antara tetap bertahan dalam perkawinan karena masih mencintai suami dan anak-anak dengan
ingin segera bercerai karena perbuatan suami telah melanggar prinsip utama perkawinan.

2. Proses Healing
Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami memberikan dampak negatif yang luar biasa
terhadap istri. Berbagai perasaan negatif yang amat intens dialami dalam waktu bersamaan.
Selain itu terjadi pula perubahan mood yang begitu cepat sehingga membuat para istri serasa
terkuras tenaganya. Kondisi ini, yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan, sama sekali
tidak mudah untuk dilalui. Salah satu perasaan yang secara intens dirasakan adalah kesedihan
dan kehilangan. Perasaan sedih semakin mendalam pada saat-saat menjelang ulang tahun
pernikahan, ulang tahun pasangan, dan tanggal pada saat terbukanya perselingkungan.
Kesedihan akibat perselingkuhan dapat dijelaskan melalui model “proses berduka” dari
Kubler-Ross yang terdiri dari 5 tahapan:

a) Tahap Penolakan
Awal tahap ini diwarnai dengan perasaan tidak percaya, penolakan terhadap informasi
tentang perselingkuhan suami. Dalam beberapa istri merasa mati rasa yang merupakan respon
perlindungan terhadap rasa sakit yang berlebihan. Bila tidak berlarut-larut, penolakan ini
menjadi mekanisme otomatis yang menghindarkan diri dari luka batin yang dalam.

b) Tahap Kemarahan
Setelah melewati masa penolakan, istri akan mengalami perasaan marah yang amat dahsyat.
Mereka biasanya akan sangat memaki-maki suami atas perbuatannya tersebut, sering

23
menangis, bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap suami. Kemarahan seringkali
dilampiaskan pula kepada wanita yang menjadi pacar suami. Keinginan istri untuk balas
dendam kepada suami amatlah besar, yang muncul dalam bentuk keinginan untuk melakukan
perselingkuhan atau membuat suami sangat menderita.

c) Tahap Bargaining
Ketika perasaan marah sudah agak mereda, maka istri akan memasuki tahap bargaining.
Karena menyadari kondisi perkawinan yang sedang dalam masa krisis maka istri berjanji
melakukan banyak hal positif asalkan perkawinan tidak hancur. Misalnya saja berusaha untuk
lebih perhatian pada suami, menjadi pasangan yang lebih ekspresif dalam hubungan seksual,
atau lebih merawat diri. Keputusan ini kadang tidak rasional karena seharusnya pihak yang
berselingkuh yang harus memperbaiki diri dan meminta maaf.

d) Tahap Depresi
Kelelahan fisik, perubahan mood yang terus menerus, dan usaha-usaha untuk memperbaiki
perkawinan dapat membuat istri masuk ke dalam kondisi depresi. Para istri kehilangan gairah
hidup, merasa sangat sedih, tidak ingin merawat diri dan kehilangan nafsu makan. Mood
depresif menjadi semakin buruk bila istri meyakini bahwa dirinyalah yang salah dan
menyebabkan suami berselingkuh.

e) Tahap Penerimaan
Setelah istri mencapai tahap penerimaan, barulah dapat terjadi perkembangan yang
positif. Penerimaan terbagi menjadi dua tipe. Pertama, penerimaan intelektual yang artinya
menerima dan memahami apa yang telah terjadi. Kedua, penerimaan emosional yang artinya
dapat mendiskusikan perselingkuhan tanpa reaksi-reaksi berlebihan. Proses menuju
penerimaan tidak sama bagi semua orang dan rentang waktunya juga berbeda. Selain
perasaan sedih dan marah, para istri juga mengalami obsesi terhadap perselingkuhan suami.
Sepanjang hari mereka tidak bisa melepaskan diri dari berbagai pertanyaan dan detil-detil
perselingkuhan. Banyak istri yang menginterogasi suaminya berkali-kali untuk memastikan
bahwa suami tidak berbohong dan menceritakan keseluruhan peristiwa. 2,3

Pemeriksaan Medis
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik pemeriksaan
fisik yang melihat ciri – ciri fisik dari orang tuanya, misalnya warna rambut, warna
kornea, bentuk muka dan lainnya. Namun, pada pemeriksaan fisik tidak dapat

24
ditentukan secara pasti. Oleh karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan
laboratorium atau penunjang lainnya misalnya pemeriksaan paternitas.3

2. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Golongan Darah
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan penentuan golongan darah sebagai
tes penyaring apa benar seorang anak mempunyai golongan darah yang sama dengan
orang tuanya. Berikut langkah - langkah melakukan pemeriksaan laboratorium untuk
penentuan golongan darah; Ambil beberapa tetes darah yang dipisahkan dengan kotak
– kotak yang didalamnya kemudian akan diberikan antibodi dari masing – masing
golongan darah. Lihat apakah tes terjadi aglutinasi atau tidak. Yang tidak
beraglutinasi terhadap anti, itulah golongan darah anak tersebut.3

PENENTUAN GOLONGAN DARAH


Dalam kasus yang ada kaitannya dengan faktor keturunan, hukum Mendel
memainkan peranan penting. Semua sistem golongan darah diturunkan dari orang tua kepada
anaknya sesuai hukum Mendel. Walaupun masih ada kemungkinan penyimpangan hukum
tersebut, misalnya pada peristiwa mutasi, namun karena frekuensinya sangat kecil
(1:1.000.000) untuk kasus-kasus forensik hal ini dapat diabaikan.

Hukum Mendel untuk sistem golongan darah adalah sebagai berikut:


- Antigen tidak mungkin muncul pada anak, jika antigen tersebut tidak terdapat pada salah
satu atau kedua orang tuanya.
- Orang tua yang homozigot pasti meneruskan gen untuk antigen tersebut kepada anaknya.
(anak dengan golongan darah O tidak mungkin mempunyai orang tua yang bergolongan
darah AB).
Pada manusia dikenal bermacam-macam sistem golongan darah yang antigennya
terletak di permukaan sel darah merah, misalnya sistem ABO, Rhesus, Antigen limfosit
manusia (HLA) dan lain-lain. Selain itu dikenal pula antigen-antigen yang terletak di luar sel
darah merah, misalnya sistem Gm, Gc, Haptoglobin (Hp), serta sistem enzim misalnya
fosfoglukomutase (PGM), adenilate kinase (AK), pseudokholinesterase (PCE/PKE), adenosin
deaminase (ADA), Fosfatase asam eritrosit (EAP), glutamat piruvat transaminase (GPT), 6-
fosfo glukonat dehidrogenase (6 PGD), glukose 6 fosfatase dehidrogenase (G6PD), yang
terdapat dalam serum.

25
Pada kasus paternitas, bila hanya sistem ABO, MNS dan Rhesus yang diperiksa, maka
kemungkinannya adalah 50-60%, sedangkan bila semua diperiksa maka kemungkinannya
meningkat menjadi > 90%.
Perlu diingat bahwa hukum Mendel tetap berdasarkan kemungkinan (probabilitas),
sehingga penentuan ke-ayah-an dari seorang anak tidak dapat dipastikan, namun sebaiknya
kita dapat memastikan seseorang bukan ayah seorang anak (“singkir ayah”/”paternity
exclusion”).3
Contoh Kasus:
 Bayi tertukar
Dilakukan pemeriksaan sistem golongan darah dari bayi serta orangtuanya.
Bayi I Bayi II
A O
Pria O AB
Wanita O O
Dari tabel di atas, jelas bayi II adalah anak dari pasangan pertama dan bayi I anak dari
pasangan kedua.
Bayi I Bayi II
AB A
Pria A AB
Wanita B O
Dari tabel di atas, jelas bayi I anak dari pasangan pertama, tidak mungkin dari
pasangan kedua, karena kemungkinan anak dari pasangan kedua adalah bergolongan A atau
B, sedangkan bayi II adalah anak dari pasangan kedua, walaupun pasangan I juga memiliki
kemungkinan mempunyai anak bergolongan darah A.3
 Ayah yang curiga si anak bukan anaknya yang sejati
Golongan Darah
Anak O MNS Rhesus +
Ibu A MS Rhesus +
“Ayah” B MS Rhesus +
Anak tersebut pasti bukan dari “Ayah” tersebut.

26
Dasar penggolongan pada sistem ABO dan Rhesus sebenarnya sama, yakni presentasi
antigen permukaan yang terdapat di eritrosit. Di dalam tubuh kita, terdapat aglutinogen dan
aglutinin eritrosit yang berbeda sehingga tidak menimbulkan autolisis.
Untuk sistem ABO, rinciannya adalah sebagai berikut:
 Golongan darah A: memiliki aglutinogen A dan aglutinin anti-B
 Golongan darah B: memiliki aglutinogen B dan aglutinin anti-A
 Golongan darah AB: memiliki aglutinogen A dan B, dan tidak mempunyai aglutinin
 Golongan darah O: tidak memiliki aglutinogen, dan aglutininnya anti-A dan anti-B2

Tabel 1 . Golongan Darah5

Untuk mengetahui golongan darah seseorang dapat dilakukan dengan pengujian yang
menggunakan serum yang mengandung aglutinin. Dimana bila darah seseorang diberi serum
aglutinin a mengalami aglutinasi atau penggumpalan berarti darah orang tersebut
mengandung aglutinogen A. Dimana kemungkinan orang tersebut bergolongan darah A
atau AB. Bila tidak mengalami aglutinasi, berarti tidak menngandung antigen A,
kemungkinan darahnya adalah bergolongan darah B atau O.
Bila darah seseorang diberi serum aglutinin b mengalami aglutinasi, maka darah
orang tersebut mengandung antigen B, berarti kemungkinan orang tersebut bergolongan
darah B atau AB. Bila tidak mengalami aglutinasi, kemungkinan darahnya adalah A atau O.
Bila diberi serum aglutinin a maupun b tidak mengalami aglutinasi, kemungkinan darahnya
adalah O.4

27
Tabel 2 . Sistem Golongan Darah ABO5
Fenotipe Genotipe Antigen Antibodi Alamiah
O OO O Anti-A, Anti-B
A AA atau AO A Anti-B
B BB atau BO B Anti-A
AB AB AB Tidak ada

Berdasarkan sistem penggolongan darah ABO, maka dapat diketahui kemungkinan


pewarisan golongan darah dari orangtua terhadap anaknya.

Tabel 3 . Pewarisan Golongan Darah Terhadap Anak5

Faktor genetik mempengaruhi golongan darah tiap orang, karena setiap orang
mewariskan sifat genetiknya kepada generasi berikutnya. Tabel di atas menunjukkan
kemungkinan golongan darah untuk keturunan akibat pewarisan genetik dari orang tua.5

PEMERIKSAAN DNA
Tes DNA merupakan cara paling maju untuk membuktikan atau tidak hubungan secara
biologi. Tes ini berdasarkan analisis materi genetik antara dua orang sebagai contoh anak
dan terdakwa ayahnya. Setengah DNA diwarisi dari ibu dan setengahnya dari ayahnya.
Apabila DNA anak dibanding dengan yang terdakwa ibu bapanya dan tidak sepadan, maka
terbukti 100% bukan ibu bapa secara biologi. Jika susunan DNA sepadan, kemungkinan
99% atau lebih terdapat hubungan biologi. Tes DNA adalah suatu pemeriksaan yang
dilakukan oleh dokter atau petugas laboratorium untukmengetahui DNA sesorang. Macam-
macam tes DNA terdiri dari 3, yaitu tes Fingerprint, tes Maternitas, dan tes Paternitas. Tes
Fingerprint adalah tes yang digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik seseorang baik
melalui sidik jari, susunan gigi maupun bagian badan lainnya. Tes Maternitas adalah tes yang
dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan darah antara seorang anak dengan perempuan
yang diduga ibunya dan sampelnya menggunakan DNA mitokondria (mDNA). Sedangkan
tes Paternitas adalah tes yang digunakan untuk mengidentifikasi adanya hubungan darah

28
antara seorang anak denganl aki-laki yang diduga ayah biologisnya. Tes ini menggunakan
DNA inti (cDNA). 6

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang tes paternitas dan maternitas.7

 Siapa yang diperiksa?


Untuk tes paternitas yang diperiksa adalah ibu, anak, dan terduga ayah. Bisa saja hanya
ayah dan anak yang diperiksa, jika ibu biologis tidak bersedia ikut tes. Partisipasi ibu pada tes
paternitas dapat membantu separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan
dengan DNA terduga ayah.

 Apa yang diperiksa?


Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA. Mulai dari buccal swab
(sel mukosa di pipi bagian dalam, diambil dengan alat khusus seperti cotton buds yang
ujungnya dilengkapi dengan sisir kecil dari karet), darah, kuku, sampai rambut. Untuk bayi,
jaringan bisa diambil dengan buccal swab atau jarum suntik kecil. Menurut Hera, yang paling
efektif adalah darah karena bisa dapat banyak DNA. Namun, kini teknik pengambilan DNA
makin lama makin sensitif, dalam arti bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan,
seperti sidik jari yang menempel di suatu benda dan bekas lipstik.

 Adakah batasan usia?


Tak ada batasan usia. Bahkan pada janin dan orang yang sudah meninggal. Pada tes
paternitas sebelum anak dilahirkan (prenatal), tes DNA dapat dilakukan dengan sampel dari
jaringan janin, umumnya pada usia kehamilan 10-13 minggu atau dengan cara amniosentesis
(tes prenatal) pada usia kehamilan 14-24 minggu. Untuk pengambilan jaringan janin ini harus
dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus
berkonsultasi dengan ahli kebidanan kandungan.

 Bagaimana prosedurnya?
Setelah ditanya alasan dan latar belakangnya, klien harus menandatangani persetujuan
tes paternitas atau tes DNA lainnya di atas materai. Klien juga harus menyerahkan identitas
diri (KTP atau paspor) dan foto. Setelah itu baru diambil darahnya dengan dihadiri saksi.
Apabila anak belum dewasa, diperlukan fotokopi surat kelahiran atau surat perwalian anak
yang menyatakan terduga ayah atau wali anak memiliki hal untuk membawa anak itu
melakukan tes paternitas.

 Seberapa akurat?

29
Tes DNA adalah 100 persen akurat jika dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini
memberikan hasil lebih dari 99,99 persen probabilitas paternitas jika DNA terduga ayah dan
DNA anak, cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok (mismatched)
maka terduga ayah yang dites, 100 persen bukanlah merupakan ayah biologis anak itu.
Dulu, konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah. Kini, begitu ada
tes, dilakukan dua kali dengan dua orang pemeriksa (researcher) Jika hasil dari dua orang itu
berbeda, pasti ada kesalahan. Lalu kami cek lagi. Semua researcher sudah diperiksa DNA-
nya. Sehingga jika ada yang tidak match, jangan-jangan ada kontaminasi. Mungkin terkena
DNA si researcher.

 Bagaimana prosesnya?
Begini proses yang paling sederhana: setelah mengambil jaringan atau darah, (dalam
darah ada plasma, serum, sel-sel darah merah, sel-sel darah putih), dengan suatu detergen,
"dipecahkan" membran sel darah putih. Apapun yang ada di dalamnya akan keluar, termasuk
DNA. Sekarang ada teknologi yang bisa menggandakan sampai jutaan kali fragmen suatu
DNA yang akan diperiksa.

 Berapa lama?
Hasil tes DNA selesai dalam waktu 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya
sampel. Selain itu, seluruh informasi pasien, mengenai tes, dan hasil tes akan dijamin
kerahasiaannya. Karena pertanyaan mengenai paternitas, sangat sensitif. Hasil tes DNA
hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan tes. Tidak Bisa Dipaksakan Tes DNA
tidak bisa dilakukan karena paksaan dari pihak ketiga. Namun, untuk keperluan pengadilan,
jaksa dan polisi bisa meminta. Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi,
kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dari polisi atau
jaksa), maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum.

Secara umum tes DNA adalah untuk :7

1) Seorang wanita yang mahu hak anaknya dari seorang laki-laki yang memenafikan dia
adalah ayah kepada anak tersebut.
2) Seorang laki-laki yang mahu mendapatkan hak penjagaan atau berkunjung.
3) Anak angkat yang mencari keluarga biologinya
4) Orang yang mahu mengidentifikasi alah seorang ibubapanya apabila salah seorang
sudah hilang atau meninggal, atau mengidentifikasi keluarga yang hilang.

30
5) Orang yang mau menentukan grandparentage, hak waris atau apakah kembar identik
atau fraternal.

Prosedur DNA

Antara langkah normal untuk tes paternitas:

1. Pengumpulan sampel

2. Kirim ke lab.

3. Pemeriksaan di lab

4. Ekstrak DNA

5. Profil DNA

6. Korelasi DNA

Sampel yang digunakan hampir setiap bagian tubuh manusia dapat diambil sebagai
sampel, karena setiap sel dalam tubuh seseorang memiliki rangkain DNA inti. Untuk tes
diperlukan sampel yang diambil dari ibu, anak, dan laki-laki yang diduga sebagai ayah
biologis. Hal ini karena seorang anak pada dasarnya menerima jumlah
material genetika yang sama dari ibu dan ayah biologisnya. Sampel tes dapat diambil
melalui cairan amnion (bagi anak dalam kandungan),darah, pulpa gigi atau cara yang
tidak menyakitkan, yakni rambut dan bercak keringat pada pakaian.8

Selepas sampelnya dikumpul, dibungkus dserta disimpan lalu dikirim dengan semua
dokumen supaya mereka memenuhi permintaan secara ilmiah dan sah untuk diterima
oleh undang-undang kehakiman jika diperlukan. 7,8

Mekanisme tes DNA

Untuk metode tes DNA di Indonesia, masih memanfaatkan metode elektroforesis DNA.
Dengan intreprestasi hasil dengan cara menganalisa pola DNA menggunakan marka STR
(short tandem repeats). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa.
Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan
jenisnya. Locus akan diperbanyak melalui proses PCR(polymerase chain reaction) dan hasil
PCR akan dianalisis dengan elektrophoresis untuk memisahkan alel mengikut ukuran. PCR

31
memperbanyak alel STR boleh dideteksi dengan pelbagai metode seperti label warna
fluoresen atau pewarnaan perak. Dengan menganalisa STR ini, maka DNA tersebut dapat
diprofilkan dan dibandingkan dengan sample DNA terduga lainnya.8,9
Preparasi dan isolasi dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya
kontaminasi. Jaringan yang telah difiksasi dalam alkohol atau garam biasanya relatif lebih
mudah diproses dibandingkan dengan fiksasi formalin.Isolasi dilakukan setelah sampel bersih
dari kotoran. Pada prinsipnya isolasi DNA adalah memisahkan DNA dari sel, sehingga
diperoleh hasil akhir berupa DNA murni dalam keadaan terlarut air, atau buffer,maupun
dalam keadaan kering. Prosesnya meliputi lisis sel, destruksi protein melalui reaksi enzimatik
dengan bantuan proteinase,dan pemurnian. Enzim tersebut mengenal urutan tertentu dalam
susunan basa pada DNA lalu memotong DNA pada spesifik tempat yang menghasilkan
fragmen yang bervariasi.

Tahapan selanjutnya adalah memasukkan sampel DNA yang telah dimurnikan ke dalam
mesin PCR sebagai tahapan amplifikasi. Proses amplifikasi dibantu oleh enzim DNA
polimerase khusus yang tahan terhadap suhu tinggi. Umumnya yang digunakan adalah enzim
yang sejenis dengan mikroogarnisme yang biasa hidup disumber mata air panas, sehingga
enzim inistabil pada suhu 94-96°C.Hasil akhir dari tahapan amplifikasi ini adalah berupa kopi
urutan DNA lengkap dari DNA sampel.

Selanjutnya kopi urutan DNA ini akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat
pola pitanya. Fragmen DNA diletakkan pada gel, dan aliran listrik dialirkan padanya. DNA
mempunyai cas negatif bergerak ke kutub positif, fragmen yang kecil bergerak lebih pantas
berbanding yang besar. Beberapa jam kemudian fragmen tersebut tersusun mengikut urutan.
Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi pita DNA setiap orang
juga berbeda. Pola pita inilah yang akan dianalisa pola STR nya.

Mengikat satelit

Kertas nilon direndam dan satu satelit , segmen DNA yang diketahui urutannya ditambah.
Satelit tersebut mentarget spesifik urutan basa dan mengikat dengannya.9 Tahap terakhir
adalah DNA berada dalam tahapan typing, proses ini dimaksudkan untuk memperoleh tipe
DNA. Filem X-ray didedahkan kepada kertas nilon yang mengandung satelit yang berlabel.
Berkas hitam muncul pada tempat satelit. Mesin PCR akan membaca data-data DNA dan
menampilkannya dalam bentuk angka-angka dan gambar-gambar identifikasi DNA.

32
Tahap akhir dari tes DNA adalah mencocokkan tipe-tipe DNA yaitu DNA ibu,anak dan laki-
laki yang diduga sebagai ayah biologis.

Gambar 1. Mekanisme tes DNA9

Interpretasi hasil

Setelah dilakukan pemeriksaan DNA pada tersangka ayah, anak, dan ibu maka ketiga
hasil pemeriksaan DNA tersebut dimasukkan dalam suatu tabel FCM (father child mother).
Pada setiap lokusnya, dicari fragmen DNA maternal, yaitu fragmen DNA anak yang sama
dengan salah satu fragmen DNA ibunya. Kemudian fragmen DNA anak satunya, yang
merupakan fragmen DNA paternal (berasal dari ayah) dibandingkan dengan kedua fragmen
DNA tersangka ayah. Jika ditemukan ada fragmen DNA tersangka ayah yang sama dengan
fragmen DNA paternal anak, maka pria tersebut dinyatakan mungkin merupakan anak dari
pria tersebut. Jika DNA paternal anak tidak sama dengan salah satu DNA tersangka ayah,
maka komposisi tersebut dapat dinyatakan sebagai ekslusi (2,3,4,5). Ditemukannya dua
ekslusi atau lebih pada panel 10 atau 15 lokus memastikan bahwa anak tersebut bukan anak
pria tersebut.8,9

Contoh hasil pemeriksaan paternitas yang menunjukkan bahwa tersangka pria adalah ayah
biologis dari seorang anak.

33
No Lokus Tn. X Anak B Ny. M kesimpulan

01 CSFIPO 11 , 12 11 , 11 11 ,11 mungkin

02 FGA 12 , 15 15 , 16 16 , 18 mungkin

03 TH01 08 , 12 08 , 11 11 , 12 mungkin

04 TPOX 15 , 15 15 , 15 14 , 15 mungkin

05 VWA 19 , 21 19 , 22 20 , 22 Mungkin

06 D3S1358 11 , 12 10 , 12 10 , 22 mungkin

07 D5S818 08 , 11 09 , 11 09 , 11 mungkin

08 D7S820 07 , 09 07 , 07 07 , 08 mungkin

09 D8S1179 14 , 16 14 , 18 17 , 18 mungkin

10 D13S317 12 , 14 14 , 15 15 , 15 mungkin

11 D16S539 08 , 11 08 , 09 08 , 09 mungkin

12 D18S51 14 , 16 16 , 18 15 , 18 mungkin

13 D21S11 14 , 14 13 , 14 13 , 15.2 mungkin

Keterangan :

1. Pada setiap lokus (daerah) DNA yang diperiksa, setiap anak memiliki sepasang pita
DNA, yang dinyatakan sebagai angka yang menunjukkan panjangnya DNA.
2. Satu pita anak pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ibunya (pita materal),
sedangkan satu pita lainnya pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ayah
kandungnya (pita paternal)
3. Eksklusi artinya terdapat ketidaksesuaian (tidak sama) DNA paternal anak dengan
DNA tersangka ayah pada lokus tersebut.
4. Seorang pria dikatakan AYAH BIOLOGIS (genetik) dari seorang anak, jika pita
paternal anak sama dengan salah satu DNA pria tersebut pada setiap lokus DNA yang
diperiksa.

34
5. Seorang pria dikatakan BUKAN AYAH BIOLOGIS (genetik) dari seorang anak jika
dua atau lebih lokus DNA yang diperiksa didapat ada ketidaksesuaian (eksklusi) DNA
paternal anak dengan DNA pria tersebut.
6. Pada tabel diatas didapatkan pada semua lokus DNA ditemukan kesesuaian DNA
paternal anak B dengan DNA Tuan X. Hal ini menunjukkan bahwa anak B adalah
benar anak biologis Tuan X. Paternity Index 5.540.619, menunjukkan bahwa Tuan X
5.540.619kali lebih mungkin merupakan ayah biologis dari anak B dibandingkan pria
lngain yang diambil secara acak dari dalam populasi yang sama.
7. Probability of paternity pada kasus ini adalah 99,99998%

Penutup
Kesimpulan
Dari hasil pemeriksaan forensik klinik , yaitu pemeriksaan fisik , golongan darah dan
pemeriksan DNA yang akurat didapatkan hasil bahwa anak laki-laki B bukan anak dari suami
S.

Daftar Pustaka

1. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Kompilasi Peraturan Perundang-


undangan terkait Praktik Kedokteran.Jakarta : Universitas Indonesia ; 2014. H. 76-82
2. Sampurna B , Syamsu Z, Siswaja T. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Jakarta : Universitas
Indonesia ; 2005. H 30-9 , 49-51
3. Budiyanto A,Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Idries AM, Sidhi, dkk. Ilmu
kedokteran forensik. Jakarta: Penerbit FKUI; 1994.h.182-4
4. Sudoyo A , Setiyohadi B , Alwi I , Simadibrata M , Setiati S. Buku Ajar Imu Penyakit
Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta : Penerbit Interna Publishing; 2009. H 713-715
5. Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. Hematologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2005. Hal 290.
6. Klein RD, Dykas DJ, Bale AE. Clinical testing for the nevoid basal cell carcinoma
syndrome in a DNA diagnostic laboratory. Genet Med. 2005;7(9):611-9.
7. DS, Atmadja. Peranan Pemeriksaan DNAFingerprinting dalam PengungkapanKasus-
Kasus Forensik. Maj Kedok Indon2005.
8. Hongbao Ma, Huaijie Zhu, Fangxia Guan, Shen Cherng. Paternity Test. Journal of
American Science. 2006;2(4):1-17
9. Erfan, Soekry Kusuma. 28 Agustus
2014.PerkembanganMutakhir Deteksi Paternitasdengan Teknologi DNA. Surabaya:
Pidatopada Pengukuhan Jabatan Guru Besardalam Bidang Ilmu KedokteranForensik
Fakultas KedokteranUniversitas Airlangga

35