You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit gigi dan mulut lebih banyak terdapat dalam kondisi rongga mulut yang
kotor. Kebanyakan orang menomorduakan kondisi kesehatan gigi ( Buku Kompas Jakarta,
2007). Plak atau Debris di permukaan gigi dapat dipakai sebagai indikator kebersihan mulut.
Pembersihan gigi yang kurang baik menyebabkan plak mengumpul paling banyak. ( Dentika
Dental Journal, Vol I 2002 ). Kebanyakan penyebab masalah kesehatan gigi dan mulut
adalah plak. Plak inilah yang menjadi fokus utama kita dalam menjaga kebersihan dan
kesehatan gigi dan mulut. Walaupun plak memiliki konsistensi yang lunak sehingga mudah
di bersihkan dengan melakukan penyikatan gigi yang baik dan folssing dengan menggunakan
benang gigi, plak akan tetap terbentuk setelah dibersihkan. Oleh karena itu rutinitas menjaga
kebersihan gigi dari plak sangat penting. Agar plak tidak bertambah banyak dan tebal.
(Ardyan Gilang Ramadhan, 2010). Biasanya mendeteksinya pada permukaan gigi tidak
sukar. Jika tertutupi plak gigi akan tampak kusam. Tetapi plak akan cepat terlihat jika
diwarnai dengan zat pewarna plak akan terbentuk pada semua permukaan gigi.
Perkembangannya paling baik jika daerahnya paling sedikit terkena sentuhan, seperti di
sekitar daerahseperti di sekitar daerah tepi ginggival, pada permukaan proksimal dan di
dalam fissur.

Pembersihan gigi yang kurang baik menyebabkan plak mengumpul paling banyak dan
akan menjadi karang gigi (kalkulus). Kalkulus (karang gigi) adalah plak yang telah
mengalami pengerasan, klasifikasi atau remineralisasi ( buku kompas, 2007). Sedang
menurut Rosebury 1981, kalkulus dapat diklasifikasikan dua macam menurut hubunganya
terhadap tepi ginggiva yaitu :
1) Supra ginggiva calkulus, adalah kalkulus yang terdapat disebelah koronal dari tepi
ginggiva dan terlihat langsung didalam rongga mulut. Konsistensinya cukup keras, putih
kekuning – kuningan, namun mudah rapuh dan mudah terlepas dari permukaan gigi
dengan alat sederhana.

2) Sub ginggival calkulus, adalah kalkulus yang melekat dibawah tepi ginggival, didalam
pocket periodental, sehingga tidak terlihat langsung didalam rongga mulut. Kondisi ini
bisa dilihat dari pemeriksaan rutin rongga mulut.

B. RUMUSAN MASALAH

1) Apa pengertian Oral Hygiene?


2) Apa tujuan Oral Hygiene?

1
3) Apa Prosedur Tindakan Perawatan Mulut (Oral hygiene)?
4) Apa Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene?
5) Apa Akibat Tidak Dilakukannya Oral Hygiene?
6) Bagaimana Penilaian Kebersihan Mulut?

C. TUJUAN

1) Untuk mengetahui pengertian Oral Hygiene


2) Mengetahui tujuan Oral Hygiene
3) Mengetahui prosedur Tindakan Perawatan Mulut (Oral hygiene)
4) Mengetahui faktor-faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene
5) Mengetahui akibat Tidak Dilakukannya Oral Hygiene
6) Mengetahui bagaimana Penilaian Kebersihan Mulut

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Oral Hygiene (kebersihan mulut) adalah melaksanakan kebersihan rongga mulut,


lidah dari semua kotoran / sisa makanan dengan menggunakan kain kasa atau kapas yang
dibasahi dengan air bersih.

Oral hygiene adalah suatu perawatan mulut dengan atau tanpa menggunakan antiseptik
untuk memenuhi salah satu kebutuhan personal hygiene klien. Secara sederhana Oral hygiene
dapat menggunakan air bersih, hangat dan matang. Oral hygiene dapat dilakukan bersama
pada waktu perawatan kebersihan tubuh yang lain seperti mandi, mengosok gigi.

B. Tujuan Oral Hygiene

1) Agar mulut tetap bersih / tidak berbau


2) Mencegah infeksi mulut, bibir dan lidah pecah-pecah stomatitis
3) Membantu merangsang nafsu makan
4) Meningkatkan daya tahan tubuh
5) Melaksanakan kebersihan perorangan
6) Merupakan suatu usaha pengobatan

C. Prosedur Tindakan Perawatan Mulut (Oral hygiene)

Penanganan perawatan rongga mulut (oral hygiene) memiliki prosedur tindakan standar yang
harus diikuti dari standar peralatan hingga prosedur langkah kerja yang dilakukan. Berikut ini
adalah prosedur tindakan perawatan mulut (oral hygiene):

1. Peralatan
1) Larutan pencui mulut / larutan anti septic (Betadine cair)
2) Tog spatel yang dibalut dengan satu lapis kassa
3) Handuk wajah, bengkok
4) Handuk kertas/tissue/ pengalas
5) Gelas dengan air dingin / hangat

2. Langkah-langkah untuk pasien tidak sadar


1) Jelaskan prosedur pada pasien
2) Cuci tangan
3) Atur posisi dengan posisi tidur miring kanan atau kiri
3
4) Pasang handuk dibawah dagu atau pipi pasien
5) Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang dibahasi air hangat atau masak
6) Gunakan tong spatel (sudip lidah) untuk membuka mulut pada saat membersihkan
gigi atau mulut.

3. Langkah-langkah untuk pasien sadar, tetapi tidak mampu melakukan sendiri


1) Jelaskan prosedur pada pasien
2) Cuci tangan
3) Atur posisi dengan duduk
4) Pasang handuk dibawah dagu
5) Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang berisi air hangat atau masak
6) Kemudia bersihkan pada daerah mulut mulai rongga mulut, gusi, gigi, lidah. Lalu
bilas dengan larutan NaCl
7) Setelah bersih oleskan borax gliserin
8) Untuk perawatan gigi lakukan penyikatan dengan gerakan naik turun
9) Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Oral Hygiene

1) Status Sosial Ekonomi


Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan
yang digunakan. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan klien menyediakan bahan-
bahan yang penting seperti pasta gigi.
2) Praktik Sosial
Kelompok-kelompok sosial wadah seseorang berhubungan dapat mempengaruhi praktek
hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, anak-anak mendapatkan praktik oral
hygiene dari orang tua mereka.
3) Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang dapat membuat orang enggan memenuhi kebutuhan hygiene
pribadi. Pengetahuan tentang oral hygiene dan implikasinya bagi kesehatan
mempengaruhi praktik oral hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah
cukup. Klien juga harus termotivasi untuk melakukan oral hygiene.
4) Status Kesehatan
Klien paralisis atau memiliki restriksi fisik pada tangan mengalami penurunan kekuatan
tangan atau keterampilan yang diperlukan untuk melakukan hygiene mulut.
5) Cacat Jasmani / Mental Bawaan
Kondisi cacat dan gangguan mental menghambat kemampuan individu untuk melakukan
perawatan diri secara mandiri.

4
E. Akibat Tidak Dilakukannya Oral Hygiene

1) Masalah umum
a) Karries gigi
Karries gigi merupakan masalah umum pada orang muda, perkembangan lubang
merupakan proses patologi yang mellibatkan kerusakan email gigi dikarenakan
kekurangan kalsium.
b) Penyakit periodontal
Adalah penyakit jaringan sekitar gigi, seperti peradangan membran periodontal.
c) Plak
Adalah transparan dan melekat pada gigi, khususnya dekat dasar kepala gigi pada
margin gusi.
d) Halitosis
Merupakan bau napas, hal ini merupakan masalah umum rongga mulut akibat
hygiene mulut yang buruk, makanan tertentu atau proses infeksi. Hygiene mulut yang
tepat dapat mengeliminasi bau kecuali penyebabnya adalah kondisi sistemik seperti
penyakit liver atau diabetes.
e) Keilosis
Merupakan gangguan bibir retak, terutama pada sudut mulut. Defisiensi vitamin,
nafas mulut, dan salivasi yang berlebihan dapat menyebabkan keilosis.

2) Masalah mulut lain


a) Stomatitis
Kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan pengiritasi, defisiensi vitamin,
infeksi oleh bakteri, virus atau jamur atau penggunaan obat kemoterapi.
b) Glosisitis
Peradangan lidah hasil karena infeksi atau cidera, seperti luka bakar atau gigitan.
c) Gingivitis
Peradangan gusi biasanya akibat hygiene mulut yang buruk, defisiensi vitamin, atau
diabetes mellitus. Perawatan mulut khusus merupakan keharusan apabila klien
memiliki masalah oral ini. Perubahan mukosa mulut yang berhubungan dengan
mudah mengarah kepada malnutrisi.

F. Penilaian Kebersihan Mulut

Kebersihan mulut merupakan suatu tindakan atau perilaku perawatan mulut untuk
memenuhi salah satu kebutuhan personal hygiene. Dimana dalam kebersihan mulut yang
dilakukan seseorang untuk keluarga ataupun orang lain disekitarnya menggunakan standar
lulus pengujian perilaku kebersihan mulut yang diklasifikasikan dengan menggunakan range

5
nilai kuesioner skala likert < dikatakan buruk(negative) sedangkan > 50% dikatakan baik
(positif) dalam suatu kegiatan ataupun tindakan kebersihan mulut.

6
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Merawat gigi dan mulut merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien di
hospitalisasi. Tindakan ini dapat dilakukan oleh pasien yang sadar secara mandiri atau
dengan bantuan perawat. Untuk pasien yang tidak mampu mempertahankan kebersihan
mulut dan gigi secara mandiri harus dibantu sepenuhnya oleh perawat.

Tujuan dari Oral Hygiene adalah untuk mencegah infeksi gusi dan gigi, dan juga untuk
mempertahankan kenyamanan rongga mulut.

7
DAFTAR PUSTAKA

http://adivancha.blogspot.co.id/2013/04/konsep-dasar-kebersihan-mulut-oral.html

https://tugas2kuliah.wordpress.com/2011/12/02/kti-jkg-gambaran-tentang-kebersihan-gigi-
dan-mulut-terhadap-anak-terhadap-timbulnya-karies-pada-anak-usia-sekolah-dasar/