You are on page 1of 8

Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

Analisis Korelasi Kinerja Penyimpanan Obat Terhadap Kepuasan Kerja


Tenaga Kefarmasian di Apotek Kecamatan Marpoyan Damai dan Payung
Sekaki Kota Pekanbaru
Analysis of Correlation of Drug Storage Performance on
Pharmaceutical Worker's Satisfaction at Pharmacy Sub-District
Marpoyan Damai and Payung Sekaki Kota Pekanbaru
Arma Yunisa1*, Husnawati2
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Pekanbaru, 28928

ABSTRAK
Kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja
seseorang. Kepuasan kerja berhubungan erat dengan kinerja. Salah satu kinerja yang bisa diukur dari seorang tenaga kefarmasian adalah
kinerja dalam penyimpanan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh kepuasan kerja tenaga kefarmasian
terhadap kinerja penyimpanan obat di Apotek kecamatan Marpoyan Damai dan Payung Sekaki kota Pekanbaru. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif analitik dengan instrumen penelitian rancangan cross sectional menggunakan kuesioner kepuasan kerja dan lembar
check list. Sampel dalam penelitian ini adalah 20 apotek dengan tenaga kefarmasian yang berjumlah 45 responden yang diambil
menggunakan teknik purposive sampling. Untuk sampel obat dilakukan terhadap 100 item obat dengan teknik stratified random sampling.
Data dianalisis menggunakan uji Gamma didapatkan koefisien korelasi 0,641 dan p value = 0,019 (p <0,05). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat korelasi yang kuat dan sigifikan antara kepuasan kerja tenaga kefarmasian tehadap kinerja dalam penyimpanan obat di
apotek.

Kata kunci : Kinerja Penyimpanan Obat, Tenaga Kefarmasian, Kepuaan Kerja.

ABSTRACT
Job satisfaction is a happy emotional state or positive emotion that comes from a job assessment or a person’s work experience. One of
the measurable performance of a pharmaceutical worker is performance in drug stroge. The purpose of this study is to see how much
influence the job satisfaction of pharmaceutical worker on drug storage in pharmacy subdistrict Marpoyan Damai and Payung Sekaki
Pekanbaru city. This research is an analytical deseriptve research with cross sectional study design instrument using job satisfaction
questionnaire and check list sheet. 20 pharmacy with 45 respondent of pharmaceutical worker that taken by purposive sampling techniques
add 100 items of drugs the sample in this study used stratified random sampling techniques. Data ware analyzed using Gamma test obtained
correlation coefficient 0,641 and p value = 0,019 (p <0,05). The results showed that there is a strong correlation and significant between job
satisfaction of pharmaceutical worker on drug storage in pharmacy.

Keywwords: Drug Storage Performance, Pharmacy Personnel, Job Satisfaction

Asisten Tenaga Kefarmasian. Tenaga kefarmasian


PENDAHULUAN dalam menjalankan pekerjaannya memiliki
berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi oleh
Kepuasan merupakan perasaan senang atau manajemen apotek yang akan menjadi motivasi
kecewa yang ada didalam diri seseorang (Irawan, atau pendorong bagi tenaga kefarmasian untuk
2003). Kinerja merupakan hasil kerja nyata yang melakukan suatu pekerjaannya dengan penuh
ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang tanggung jawab (Siboro, 2012).
dihasilkan sesuai dengan perannya (Rivai dan
Sagala, 2013). Seseorang cenderung bekerja dengan Meskipun begitu banyak peraturan yang dibuat
penuh semangat dan tanggung jawab apabila pemerintah untuk mengatur jalannya pekerjaan
kepuasan dapat diperolehnya dari pekerjaannya kefarmasian, namun masih banyak ditemukan
(Hasibuan, 2013). pelayanan kefarmasian yang masih kurang dan
belum sesuai standar. Seperti Penelitian terhadap 19
Salah satu tempat untuk melaksanakan apoteker penanggung jawab apotek di Jawa Tengah
pekerjaan kefarmasian adalah apotek. Kemampuan menyatakan bahwa sekitar 50% pengunjung belum
Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjalankan pernah bertemu APA dan hanya 5,3% APA yang
tanggung jawabnya sangat mempengaruhi memberikan informasi (Supardi dkk, 2011). Hasil
keberhasil tujuan suatu apotek. SDM apotek yang penelitian Dominica dkk (2016) menunjukkan
paling penting adalah tenaga kefarmasian. Menurut bahwa persentase kehadiran apoteker di apotek kota
UU No 36 Tahun 2014, tenaga kefarmasian terdiri Padang sebesar 58,67% masih dikategorikan
dari Apoteker, Tenaga Teknis Kefarmasian, dan kurang, sehingga pelayanan kefarmasian di apotek
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

pun menjadi kurang dengan persentase 54,69% dan tenaga kefarmasian di apotek. Sampel yang
disimpulkan bahwa variabel kehadiran apoteker digunakan dalam penelitian ini adalah 20 apotek, 45
mempunyai pengaruh signifikan terhadap tenaga kefarmasian yang memenuhi kriterian
pelayanan kefarmasian. inklusi dari total populasi yang berjumlah 52
apotek, dan 100 item obat setiap apotek masing-
Kemudian hasil penelitian di kota Surabaya masing di ambil 5 item obat. Pengambilan sampel
Timur menunjukkan bahwa pelayanan di apotek apotek dan tenaga kefarmasian dilakukan
daerah ini dikategorikan kurang dengan hasil 60%, menggunakan teknik Purposive Sampling. Kriteria
kemudian terdapat korelasi signifikan positif antara inklusi apotek adalah apotek yang bersedia
frekuensi kehadiran apoteker dengan pelayanan berpartisipasi.
kefarmasian. Rendahnya upah/gaji yang diterima
apoteker menjadi faktor utama bagi kehadiran Perhitungan jumlah sampel apotek digunakan
apoteker ke apotek (Kwando, 2014). Selanjutnya rumus Nazir (dalam Notoadmodjo, 2012) :
penelitian dengan hasil bahwa standar pelayanan N. p(1 − p)
n=
kefarmasian di apotek kota Yogyakarta belum (N − 1)D + P(1 − P)
terlaksana dengan baik, faktor penyebab pada 52 x 0,5(1 − 0,5)
penelitian ini adalah program pendidikan, seminar n=
(52 − 1)0,01 + 0,5(1 − 0,5)
atau bentuk lainnya sangat jarang dilakukan n = 17,10~ Sampel apotek minimal
sehingga peluang pengembangan diri terbatas, dan Kriteria inklusi responden tenaga kefarmasian yang
kurangnya pengawasan (Atmini dkk, 2011). Dari bersedia berpartisipasi, tenaga kefarmasian yang
literatur diatas bisa kita simpulkan bahwa perlu sudah lewat masa percobaan (karyawan tetap).
menilai kepuasan kerja tenaga kefarmasian agar
kinerja di apotek meningkat sehingga palayananpun Perhitungan jumlah sampel minimal responden
dapat ditingkatkan. Pelayanan kefarmasian yang digunakan rumus Lameshow, dkk, (dalam
dimaksud meliputi pengelolaan dan pelayanan Notoadmodjo, 2012) :
farmasi klinis.
Z1 − 𝑎/p(1 − p)
n=
Di perkuat oleh hasil survei lapangan juga d
menunjukkan bahwa penyimpanan obat di apotek 1,96 x 0,50(1 − 0,50)
n=
masih ada yang belum dilakukan sesuai dengan 0,50
standar yang berlaku, yaitu obat dipindahkan pada n = 9,8~10 Sampel responden minimal
wadah baru yang hanya dilengkapi dengan nama keterangan :
obat saja, obat tidak disimpan sesuai dengan n = besar sampel
tempatnya seperti obat narkotik/psikotropik tidak Z1-ₐ/2 = nilai Z pada derajat kemaknaan (biasanya
disimpan di lemari khusus, kemudian obat tidak 95% =1,96)
disusun berdasarkan alfabetis, dan kelas terapi/efek P = proporsi suatu kasus tertentu terhadap populasi,
farmakologi. Untuk membantu meningkatkan bila tidak diketahui proporsinya, ditetapkan
ketersediaan profesionalisme tenaga kefarmasian 50% (0,50)
yang memiliki kinerja tinggi terutama dalam d = derajat penyimpangan terhadap populasi yang
meningkatkan penyimpanan obat perlu dianalisa diinginkan (0,01)
korelasi kinerja penyimpanan obat terhadap Kriteria eksklusi responden adalah tenaga
kepuasan kerja tenaga kefarmasian di apotek agar kefarmasian yang tidak mengisi kuesioner dengan
pelayanan kefarmasian di apotek dapat lengkap.
ditingkatkan. Seperti hasil penelitian Puspitawati
(2014) kepuasan kerja berpengaruh positif Perhitungan jumlah sampel obat yang diamati
signifikan terhadap kualitas layanan dengan nilai t penyimpanannya untuk semua apotek sampel
hitung 7,925. digunakan teknik stratified random sampling
dengan perhitungan jumlah sampel minimal yaitu
METODOLOGI (Notoadmojo, 2012) :
Z1/2a 2
Penelitian dilakukan pada bulan September n = pq ( )
b
2016 sampai dengan bulan Januari 2017 dilakukan Keterangan :
di semua apotek yang terletak di wilayah n = ukuran sampel
kecamatan Marpoyan Damai dan Payung Sekaki p = proporsi populasi persentase kelompok pertama
kota Pekanbaru. Metode dalam penelitian ini adalah q = proporsi sisa dalam populasi (1,00 – p)
metode observasional dengan jenis penelitian Z1/2a = derajat koefisien pada (95% = 1,96)
deskriptif analitik. Pengumpulan data dilakukan b = persentase perkiraan kemungkinan membuat
secara pendekatan cross sectional dengan kekeliruan dalam menetapkan sampel. Contoh
melakukan penyebaran lembar kuesioner kepada
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

yangmasih dapat ditolerir (pada penelitian ini penelitian Aulia dkk (2014) dari 50 responden
ditetapkan 10%) apoteker didapatkan data bahwa responden wanita
1,96 2 lebih banyak dari pada pria dengan jumlah 41
n = 0,5 x 0,5( )
0,1 responden yaitu 82%.
n = 96, 04 ~ 96 sampel obat minimal
Dalam hal ini jumlah sampel obat yang diambil
dilakukan pembulatan menjadi 100 item obat yang
akan dijadikan sampel.

Data primer diambil dari kuesioner dan lembar


check list. Dimana kuesioner terdiri dari data
sosiodemografi responden, dan data kepuasan kerja
responden yang diukur berdasarkan sepuluh faktor
kepuasan kerja menurut Gilmer (dalam hasibuan,
2011). Kemudian lembar check list terdiri dari
empat parameter penyimpanan obat yang akan
diukur berdasarkan Permenkes No 35 Tahun 2014 Gambar 1. Hasil Persentase Responden
Tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Berdasarkan Jenis Kelamin
Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan kota
Pekanbaru berupa jumlah apotek yang ada di Berdasarkan hasil penelitian, rentang usia
wilayah kecamatan Marpoyan Damai dan Payung dewasa awal sebanyak 43 orang (95,5%), dan
Sekaki kota Pekanbaru sejumlah 66 apotek. dewasa madya sebanyak 2 orang (4,4%). Hasibuan
Prosedur kerja pengurusan izin penelitian, validasi (2013), berpendapat bahwa secara umum
kuesioner, pengumpulan data, dan analisa data, data disebabkan karena usia dewasa awal merupakan
dianalisa menggunakan skala likert dan uji Gamma. usia yang produktif. Tenaga kerja pada rentang
usia ini pada umumnya memiliki semangat kerja
HASIL DAN PEMBAHASAN
yang lebih tinggi dibandingkan usia dewasa madya
A. Hasil Analisis Univariat dan usia dewasa lanjut (Hasibuan, 2011). Perbedaan
1. Hasil Data Sosiodemografi Responden pada hasil yang didapat disebabkan oleh banyaknya
jumlah apotek saat ini sehingga kebutuhan akan
Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi jenis tenaga kefarmasian juga akan meningkat, hal ini
kelamin responden didapatkan data dari total didukung oleh data jumlah seluruh apotek yang ada
responden 45 orang menunjukkan bahwa yang di kota Pekanbaru pada tahun 2016 yang sudah
berjenis kelamin perempuan yaitu 36 orang (80%) mencapai 349 dan beberapa pengakuan dari tenaga
dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 9 kefarmasian yang bekerja di apotek lebih memilih
orang (20%). Dari data yang diperoleh terdapat bekerja dibanding melanjutkan pendidikan
perbedaan yang cukup besar, dimana responden kejenjang yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini
dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
bekerja di apotek sebagai tenaga kefarmasian Atmini dkk, (2011) menunjukkah hasil dari 24
dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki.hal ini orang tenaga keframasian/responden yang bekerja
karena yang lebih berminat sekolah dibidang di apotek kota Jogyakarta mayoritas berusia dewasa
farmasi cenderung lebih banyak perempuan awal yaitu sekitar 50%.
dibandingkan laki-laki. Dibuktikan oleh data
jumlah seluruh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu
Farmasi Riau (STIFAR) tahun 2016/2017 lebih
kurang 900 orang mahasiswa. Dari jumlah tersebut
menunjukkan bahwa sekitar 95% mahasiswanya
berjenis kelamin perempuan. Hasil ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Santoso dkk
(2013) responden karyawan instalasi farmasi rumah
sakit yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21
responden atau 55%, sedangkan yang berjenis
kelamin laki-laki berjumlah 12 atau 45%.
Kemudian juga didukung oleh penelitian Kurniadi Gambar 2. Hasil Persentase Responden
(2012) yang menyatakan bahwa sebagian besar Berdasarkan Rentang Usia
responden yang bekerja di apotek adalah berjenis
kelamin perempuan sebesar (65.63%), sedangkan Dari total reponden penelitian, didapatkan
responden dengan jenis kelamin laki-laki sebesar responden dengan tingkat pendidikan terakhir S2
(34,38%). Hasil yang sama juga dikemukan oleh Apoteker sebanyak 3 orang (6,6%), S1 Apoteker
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

sebanyak 15 orang (33,3%), S1 Farmasi sebanyak 3 saat ini sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang
orang (6,6%), D3 Farmasi sebanyak 17 orang sesuai dengan bidang pendidikan yang telah
(15,5%), dan SMK farmasi sebanyak 7 orang ditempuh serta mancari gaji/upah yang sesuai,
(11%). Notoatmodjo (2010), menyatakan bahwa sehingga tenaga kefarmasian yang bekerja diapotek
orang-orang yang memiliki pendidikan yang lebih memilih untuk bertahan kerja di apotek, hal tersebut
tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi didukung oleh pengakuan tenaga kefarmasin yang
pula jika dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja di apotek kecamatan Marpoyan Damai dan
memiliki pendidikan yang rendah dan melalui Payung Sekaki kota Pekanbaru mereka mengaku
pendidikan seseorang dapat meningkatkan bahwa tidak memiliki pekerjaan sampingan selain
kematangan intelektual sehingga dapat membuat diapotek sehingga ini bisa jadi suatu alasan yang
keputusan dalam bertindak. Pada hasil penelitian ini kuat kenapa tenaga kefarmasian lebih bertahan
didapatkan jumlah responden yang berpendidikan untuk bekerja di apotek. Penelitian ini sejalan
D3 farmasi lebih banyak dibanding empat kategori dengan yang dilakukan oleh Aulia (2014) mayoritas
pendidikan farmasi lainnya. Hal ini sesuai UU No responden dengan masa kerja 1-5 yaitu 35 orang
36 tahun 2014 bahwa D3 itu disebut TTK (Tenaga (70%) dari total responden 50 orang.
Teknis Kefarmasian) dimana salah satu lahan yang
banyak menampung TTK adalah Apotek
(Anonimb., 2014). Selain itu tenaga kefarmasian
lulusan D3 farmasi, memiliki keterampilan dalam
peracikan obat, pembacaan resep, PIO, dan
penguasaan obat obatan yang dijual di apotek
dibandingkan dengan tamatan SMK Farmasi
(Boschmans et al, 2015). Kemudian juga didukung
oleh beberapa pendapat PSA bahwa mereka lebih
suka menerima karyawan yang tamatan D3
dibanding SMK atau S1 Farmasi, alasan mereka
karena D3 lebih memiliki keahlian dibidang praktek Gambar 4. Hasil Persentase Responden
dibanding SMK kemudian dalam hal upah/gaji Berdasarkan Lama Bekerja
lebih kecil disbanding S1. Hasil penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh 2. Hasil Analisis Kepuasan Kerja Tenaga
Mulyati dan Lukito (2008) bahwa mayoritas Kefarmasian
responden keperawatan dan non medis mempunyai
tingkat pendidikan sarjana muda yang terdiri dari
D3 keperawatan dan D3 kebidanan sebanyak
(86,6%).

Gambar 3. Hasil Persentase Responden Gambar 5. Hasil Kepuasan Kerja Responden


Berdasarkan Pendidikan Terakhir Berdasarkan Faktor Kepuasan Kerja.

Dari total reponden penelitian, menunjukkan Pada penelitian ini analisa kepuasan kerja
responden dengan lama bekerja di apotek < 1 tahun tenaga kefarmasian dianalisa menggunakan skala
sebanyak 14 orang (31,1%), 1-5 tahun yaitu 25 Likert. Analisa ini bertujuan untuk melihat
orang (55,5%) dan >5 tahun sebanyak 6 orang seberapa besar nilai hubungan faktor-faktor yang
(13.3%). Sebagian besar tenaga kefarmasian yang mempengaruhi kepuasan kerja terhadap kepuasan
bekerja di apotek memiliki lama bekerja 1-5 tahun. kerja tenaga kefarmasian. Pada faktor ini terdapat
Hasil ini disebabkan karena peluang kerja diapotek 26 item pernyataan dengan 5 kriteria jawaban
lebih besar dari pada tempat lainnya, ditambah pada meliputi sangat puas, puas, cukup puas, kurang
puas, dan tidak puas. Berdasarkan hasil data
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

penelitian diperoleh nilai korelasi total dari 10 Hasil penelitian faktor-faktor kepuasan kerja
faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebesar tenaga kefarmasian secara keseluruhan didapat
79,38% dengan interpretasi puas. Dari hasil sudah cukup bagus nilai korelasi 79,38% dengan
penelitian secara keseluruhan tenaga kefarmasian interpretasi puas. Sejalan dengan penelitian yang
merasa puas terhadap faktor-faktor yang dilakukan oleh As’ad dkk (2013) yang menyatakan
mempengaruhi kepuasan kerja dalam pekerjaan bahwa dari dari 77 responden yang menyatakan
yang mereka lakukan. puas terhadap pekerjaan sebesar 92,2% (71
responden) dan yang menyatakan tidak puas 7,8%
Dilihat dari nilai korelasi capaian responden (6 responden). Kepuasan terhadap kondisi kerja,
pada masing-masing faktor kepuasan kerja, yaitu yang menyatakan puas terhadap kondisi 4 kerja
kesempatan untuk maju 58,89% dengan interpretasi sebesar 66,2% (51 responden). Kepuasan terhadap
cukup puas, keamanan kerja 83,70% dengan gaji, yang menyatakan puas terhadap gaji sebesar
interpretasi puas, gaji 79,85% dengan interpretasi 67,5% (52 responden). Kepuasan terhadap peluang
puas, perusahaan dan manajemen 83,33% dengan pengembangan, yang menyatakan puas terhadap
interpretasi puas, pengawasan 82,96% dengan peluang pengembangan sebesar 66,2% (51
interpretasi puas, faktor intrinsik dari pekerjaan responden). Kepuasan terhadap supervisi, yang
85,33% dengan interpretasi puas, kondisi kerja menyatakan puas terhadap supervisi sebesar 87,0%
84,89% dengan interpretasi puas, aspek sosial (67 responden). Kepuasan terhadap kepemimpinan,
dalam pekerjaan 85,33% dengan interpretasi puas, yang menyatakan puas terhadap kepemimpinan
komunikasi 86,22% dengan interpretasi puas, dan sebesar 76,6% (59 responden). Tingginya kepuasan
fasilitas 62,07% dengan interpretasi cukup puas. kerja tenga kefarmasian yang bekerja di apotek
diharapkan dapat menciptakan kinerja yang lebih
Dari ke sepuluh faktor-faktor terdapat 8 faktor baik dalam melakukan pelayanan kefarmasian dan
yang dirasakan puas dan 2 faktor yang dirasakan penyimpanan obat di apotek.
cukup puas oleh tenaga kefarmasian. Hal ini
disebabkan oleh 8 faktor yang diwakili oleh 3. Hasil Analisis Kinerja Tenaga Kefarmasian
beberapa pernyataan sudah sesuai aturan, sudah a. Hasil Analisis Penyimpanan Obat di Apotek
merupakan faktor yang umum diterapkan pada Secara Keseluruhan
suatu instansi/organisasi, dan mampu
menggambarkan persepsi kepuasan kerja tenaga
kefarmasian dengan baik, sedangkan 2 faktor yang
dirasakan cukup puas oleh tenaga kefarmasian
merupakan faktor kesempatan untuk maju dan
fasilitas, mengapa hasil dua faktor ini bisa berbeda
karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa tidak semua apotek yang
menerapkan dua faktor tersebut atau bisa diterapkan
tetapi pada versi yang berbeda sehingga
mempengaruhi hasil penelitian.

Pada faktor kesempatan untuk maju dipenguruhi Gambar 6. Hasil Penyimpanan Obat di Apotek
oleh jumlah tenaga kefarmasian yang mayoritas
memiliki tingkat pendidikan terakhir D3 farmasi, Pada analisis kinerja dalam penyimpanan obat
artinya bekerja di apotek sebagai TTK (Tenaga secara keseluruhan didapatkan hasil yang sudah
Teknik Kefarmasian), kita ketahui biasanya yang tepat sebesar 90% dan tidak tepat sebesar 10%. Ini
lebih berkesempatan untuk mengikuti pelatihan menunjukkan bahwa hampir semua tenaga
atau seminar adalah apoteker dibanding TTK dan kefarmasian mengetahui tentang penyimpanan obat
ATK. Kemudian untuk faktor fasilitas disebabkan yang benar menurut Permenkes No 35 tahun 2014.
oleh pernyataan yang disajikan dalam kuesioner Namun, untuk parameter ke tiga obat yang
tidak semua apotek yang menerapkannya, meskipun disimpan sesuai kriteria hanya 62% yang tepat. Hal
ada PSA yang menerapkan tetapi tidak sesuai ini disebabkan karena faktor kebiasaan, sehingga
dengan semua pernyataan hanya satu atau dua tenaga kefarmasian merasa berat untuk merubahnya
pernyataan saja. Sehingga hal tersebut dan kurangnya pengetahuan karena kesempatan
mempengaruhi jawaban yang diberikan oleh tenaga ATK dan TTK untuk mengikuti seminar atau pun
kefarmasian yang bekerja di apotek. Berdasarkan pelatihan kurang, ditambah kurangnya minat untuk
penjelasan ini bisa kita tegaskan mengapa hasil mencari informasi terbaru untuk meningkatkan
faktor kesempatan untuk maju dan fasilitas kineranya.
memiliki nilai cukup puas pada hasil penelitian
yang didapat.
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

Pada parameter pertama terdapat 98% B. Hasil Analisis Bivariat


penyimpanan obat sudah dikatakan tepat, tetapi
masih terdapat 2% penyimpanan obat masih belum Tabel 7. Hasil Analisa Korelasi Kepuasan Kerja
tepat dalam penyimpanannya. Hal ini mungkin Responden Terhadap Kinerja
Kepuasan Kinerja Total Uji Korelasi
disebabkan karena tenaga kefarmasian yang bekerja
kurang teliti dan kurangnya permintaan
pasien/konsumen akan penggunaan obat tersebut Baik Tidak R Hasil P Hasil
baik
sehingga obat dibeli dlm jumlah sedikit tanpa Puas 14 12 19
wadah asli sehingga obat tersebut harus disimpan
Cukup 16 3 26 0,641 Kuat 0,019 Signifikan
pada wadah yang baru. Puas
Total 30 15 45

Selain itu juga bisa disebabkan oleh


pengawasan yang kurang dari Dinas Kesehatan kota Pada analisis bivariat ini yang dihubungkan data
Pekanbaru. Sehinggga masih ada terdapat apotek di kepuasan kerja masing-masing tenaga
kecamatan Marpoyan Damai dan Payung Sekaki kefarmasian/responden yang bekerja diapotek
kota Pekanbaru belum mengikuti penyimpanan obat terhadap kinerja masing-masing responden dalam
sesuai dengan kriteria parameter satu dan tiga ini. penyimpanan obat di apotek. Kepuasan kerja
Terdapatnya penyimpanan obat yang masih belum masing-masing responden diukur menggunakan
memenuhi standar akan menjadi ancaman bagi kuesioner yang disusun oleh peneliti berdasarkan
pasien yang membeli obat ke apotek, dan kinerja faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
tenaga kefarmasian juga menjadi kurang baik serta Menurut Gilmer (dalam hasibuan, 2011), analisa
akan mempengaruhi kelangsungan pengoperasian data menggunakan skala Likert meliputi lima
apotek tersebut, sehingga hal ini menjadi suatu katagori sangat puas, puas, cukup puas, kurang
masukan bagi PSA agar lebih memperhatikan puas, dan tidak puas untuk menilai jawaban
kepuasan kerja tenaga kefarmasian agar kinerja di responden terhadap kepuasan kerja yang dirasakan
apotek dapat lebih baik lagi. selama bekerja di apotek.

b. Hasil Analisa Kinerja Tenaga Kefarmasian Sedangkan kinerja masing-masing tenaga


Dalam Penyimpanan Obat kefarmasian/responden dalam penyimpanan obat di
apotek dinilai berdasarkan parameter penyimpanan
obat yang baik Menurut Permenkes No. 35 Tahun
2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di
apotek. Data penyimpanan obat yang dikumpulkan
dari lembar Check List kemudian diukur
menggunakan sistem penyebaran data
menggunakan nilai median yaitu 18 dikarenakan
data yang didapatkan tidak terdistribusi normal.
Jika nilai kinerja lebih besar/sama dengan median
maka kinerja dikatakan baik, sebaliknya jika nilai
kinerja lebih kecil dari median maka kinerja
dikatakan tidak baik. Dari hasil uji didapat jumlah
Gambar 7. Hasil Kinerja Responden 30 tenaga kefarmasian yang memiliki kinerja yang
baik dan 15 tenaga kefarmasian yang memiliki
Berdasarkan hasil analisa secara deskriptif kinerja yang tidak baik.
persentase, didapatkan kinerja tenaga kefarmasian
dalam penyimpanan obat dikategorikan baik Setelah didapat semua data variabel antara
sebesar 66,77% dan tidak baik sebesar 33,33%. Ini kepuasan kerja dengan kinerja dalam penyimpanan
menunjukkan bahwa masih ada kinerja tenaga obat di apotek kemudian di korelasikan
kefarmasian dalam penyimpanan obat yang masih menggunakan uji statistik Gamma dengan bantuan
kategori tidak baik 33,33% hal ini disebabkan oleh software SPSS versi 17.00 for windows untuk
kurangnya kesempatan untuk maju dan kurangnya melihat korelasi kepuasan kerja tenaga kefarmasian
pengetahuan karena hasil penelitian ini lebih terhadap kinerja responden agar pelayanan
banyak tenaga kefarmasian yang memiliki tingkat kefarmasian di apotek dapat ditingkatkan.
pendidikan terakhir SMK dan D3 farmasi sehingga Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan
ATK dan TTK yang ada di apotek hanya bekerja didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar
sesuai dengan tingkat pengetahuannya saja. 0,641 dan nilai p = 0,019 (p<0,05). Hasil ini
menunjukkan bahwa terdapat korelasi/hubungan
yang kuat dan signifikan dengan arah positif
dimana ketika kepuasan kerja meningkat maka
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

kinerja penyimpanan obat di apotek akan beberapa apotek dengan tenaga kefarmasian
meningkat. memiliki kepuasan kerja cukup puas menunjukkan
kinerja tidak baik. Hal ini disebabkan oleh faktor
Hal ini sejalan dengan penelitian yang lain seperti pendapat Nurhayati dkk (2013) selain
dilakukan oleh As’ad dkk (2013) menunjukkan mempengaruhi kepuasan kerja beberapa faktor
bahwa ada hubungan kepuasan kerja aspek kepuasan kerja juga bisa mempengaruhi kinerja
pekerjaan, gaji, peluang pengembangan, rekan kerja yaitu terdapat hubungan antara kondisi lingkungan
dan supervise dengan kinerja perawat. Didukung kerja dengan kinerja perawat, terdapat pula
oleh penelitian Auliana (2012) dengan judul faktor- hubungan antara kesempatan pengembangan diri
faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas dengan kinerja perawat, hubungan supervisi dengan
pelaksana farmasi RSUD Budi Asih Jakarta tahun kinerja perawat, hubungan rekan kerja dengan
2012 bahwa hasil dari uji statistik dengan metode kinerja perawat.
Chi Square diperoleh nilai probabilitas atau p-
value= 0,024 < 0,05 sehingga disimpulkan bahwa Selain hal diatas peneliti juga menemukan
variabel kepuasan kerja mempunyai hubungan bahwa tenaga kefarmasian memiliki kepuasan kerja
signifikan dengan kinerja. Hasil korelasi/hubungan yang puas namun kinerjanya tidak baik begitupun
kepuasan kerja terhadap kinerja dari penelitian ini sebaliknya. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor lain
bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan seperti sosiodemografi responden jenis kelamin
oleh Gumilar (2010) bahwa tidak ada pengaruh dimana biasanya tenaga kefarmasian wanita lebih
yang signifikan antara faktor-faktor kepuasan kerja rapi, lebih bersih dan telaten dalam penyimpanan
terhadap kinerja karyawan PT. X. obat, tingkat pendidikan semakin tinggi pendidikan
seseorang semakin banyak ilmu serta pengalaman
Kepuasan kerja yang baik dari tenaga sehingga penyimpanan obat di apotek otomatis
kefarmasian diharapkan dapat menciptakan kinerja baik. Seperti hal yang ditunjukkan oleh penelitian
yang baik dalam hal pelayanan kefarmasian kepada Rasekh dkk, (2014) apoteker laki laki lebih puas
pasien. Pelayanan kefarmasian di apotek erat dari pada rekan-rekan perempuan dan didapat
kaitannya dengan penyimpanan obat-obatan di hubungan positif antara usia dan pengalaman kerja
apotek. Penyimpanan obat atau bahan obat yang dengan kepuasan kerja.
baik diharapkan dapat menjamin kualitas, stabilitas,
mutu dan terhindar dari kerusakan selama Menurut penelitian Ahmad dkk (2016), usia dan
penyimpanan. Seperti hasil yang ditunjukkan oleh pendidikan secara signifikan berpengaruh terhadap
penelitian Indrawati, (2013) membuktikan bahwa pekerjaan kefarmasian dilihat dari perbedaan rata-
kepuasan kerja karyawan ber pengar uh rata skor kepuasan (p <0,05). Setelah dilakukan
siginifikan positif terhadap kinerja karyawan, penelitian dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja
dengan nilai koefisien jalurnya 0,562. Ini berarti tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek
bahwa jika karyawan mampu menunjukkan kinerja berhubungan kuat dan signifikan dengan kinerja
yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada tenaga kefarmasian dalam penyimpanan obat di
pengguna jasa rumah sakit, maka para apotek. Hal ini terlihat dari beberapa apotek dengan
pelanggan akan merasakan kenyamanan dan tidak tenaga kefarmasian yang memiliki jawaban cukup
mengeluh. puas sampai puas pada kuesioner, maka akan
menunjukkan kinerja yang baik dapat dilihat dari
Dari 20 Apotek sampel yang dikunjungi terlihat penyimpanan obat yang baik diapotek tersebut.
beberapa apotek dengan tenaga kefarmasian yang
memiliki kepuasan kerja sangat puas munjukkan
kinerja sangat baik. Kemudian juga peneliti lihat

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Berdasarkan hasil analisis kepuasan kerja tenaga
kefarmasian terhadap kinerja dalam penyimpanan Ahmad., A., Khan, M.U., Elkalmi, R.M., Jamshed,
obat di apotek kecamatan Marpoyan Damai dan A.N.N., Nagappa, A.N., Patel, I., dan
Payung Sekaki kota Pekanbaru di dapat nilai Balkrishnan, 2016, Job Satisfaction Among
koefisien korelasi sebesar 0,641 dan nilai p value = Indian Pharmacists: An Exploration of
0,019 (p>0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa Affecting Variables and Suggestions for
terdapat korelasi/hubungan yang kuat dan Improvement in Pharmacist Role, Indian
signifikan dengan arah positif dimana ketika Journal of Pharmaceutical Education and
kepuasan kerja meningkat maka kinerja Research, Vol 50 No 1
penyimpanan obat di apotek akan meningkat. Anonima, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014
*Corresponding Author: Husnawati
Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460
Artikel Ilmiah STIFAR Riau, 2017

Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Manajemen Universitas Widyatama,


Apotek Pasal 1,Departemen Kesehatan Skripsi, Bandung.
Republik Indonesia, Jakarta. Kwando, R.R., 2014, Pemetaan Peranan Apoteker
Anonimb, 2014., Teleminasi Asisten Apoteker dari dalam Pelayanan Kefarmasian Terkait
Tenaga Teknik Kefarmasian, Departemen Frekuensi Kehadiran Apoteker di apotek di
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Surabaya Timur, calyptras: Jurnal Ilmiah
As’ad, A., Sidin, A.I., dan Kapalawi, I., 2013, Mahasiswa Universitas Surabaya, Vol.3
Hubungan Kepuasan Kerja Dengan No.1.
Kinerja Perawat di Unit Rawat Inap RS Mulyati, Y., dan Lukito, H., 2008, Analisa
Universitas Hasanudin 2013, Jurnal Kepuasan Kerja Tenaga Perawat dan
Manajemen Fakultas Kesehatan Tenaga Non Medis dalam Peningkatan
Masyarakat UNHAS, Makasar. Kepuasan Pelanggan, Jurnal Bisnis dan
Atmini, K.D., Gandjar, G.I., dan Purnomo, A., Manajemen, Vol 4 No 3.
2011, Analisa Aplikasi Standar Pelayanan Notoatmodjo, S., 2012, Metodologi Penelitian
Kefarmasian di Apotek Kota Yogyakarta, Kesehatan edisi revisi, Rineka Cipta,
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Jakarta.
Farmasi, Vol 1 No 1. Nurhayati, Sidin, I., dan Maidin, A., 2013.,
Aulia B, D.D., Syahrul, L., dan Djamaan, A., 2014, Gambaran Faktor Kepuasan Kerja
Analisa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karyawan Di Rumah Sakit Universitas
Kepuasan Kerja Apoteker yang Bekerja di Hasanuddin, Jurnal Departemen
Apotek kota Padang, Jurnal Sains dan Manajemen Rumah Sakit Fakultas
Teknologi Farmasi, Vol 18 No 1. Kesehatan Masyarakat, Universitas
Auliana, S.J., 2012, Faktor-faktor yang Hasanuddin, Makassar.
Berhubungan Dengan Kinerja Petugas Puspitawati, N.M.D., dan Riana, I.G., 2014,
Pelaksanan Farmasi RSUD Budi Asih Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap
Jakarta 2012, Skripsi, Fakultas Kesehatan Komitmen Organisasi Kualitas Layanan,
Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta. Jurnal Manajemen Strategi Bisnis dan
Boschmans, S.A., Fogarty, T.L., Schafermeyer, Kewirausahaan, Vol.8 No.1.
K.W., dan Mallison, R.K., 2015. Practice Rasekh, H.R., Moghadam, M.J.F., Peiravian F.,
Analysis For Mid Level Pharmacy Worker Naderi, A., dan Rajabzadeh, A., 2014, An
in South Africa. An International Journal Analysis of Job Satisfaction among Iranian
of Pharmaceutical Education. Vol.15. Pharmacists through Various Job
Afrika Characteristics, Iran J Pharm Res, Vol 13
Dominica, D., Putra, D.P., dan Yulihasri, 2016, No 3.
Pengaruh Kehadiran Apoteker Terhadap Siboro, E.D.S., 2012, Pengaruh motivasi terhadap
Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kota kinerja perawat pelaksana di
Padang, Jurnal Sain Farmasi dan Klinis, RSUDPerdagangan Kabupaten
Vol 3 No. 1. Simalungun, Tesis, Universitas Sumatra
Gumilar, E.A., 2010, Pengaruh Faktor-faktor Utara, Medan.
Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Supardi, S., Handayani, R.S., Raharni., Herman,
Karyawan PT.X, Skripsi, Fakultas M., dan Susyanty, A.L., 2011, Pelaksanaan
Psikologi, Universitas Islam Negri Syarif Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
Hidayatullah, Jakarta. dan Kebutuhan Pelatihan Bagi
Hasibuan, M.S.P., 2013, Manajemen Sumber Daya Apotekernya, Jurnal Bul Penelit Kesehat,
Manusia, Bumi Aksara, Jakarta. Vol 39 No 3.
Hasibuan, M.S.P., 2011, Manajemen Sumber Daya Santoso, A., Kusnanto, H., dan Lazuardi, M, L.,
Manusia, Edisi Revisi Jakarta, Bumi 2013, Analisi Kualitatif Layanan Sistem
Aksara. Informasi Manajemen Farmasi Rumah
Indrawati., A.D., 2013, Pengaruh Kepuasan Kerja Sakit Akademik Universitas Gajdah Mada,
Karyawan dan Kepuasan Pelanggan pada Jurnal Manajemen dan Pelayanan
Rumah Sakit Swasta di kota Denpasar, Farmasi, Vol 7 No.1
Jurnal Manajemen, Strategi Bisnis, dan
Kewirausahaan, Vol. 7, No. 2.
Irawan, H., 2003, 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan,
PT. Elexmedia Komputindo, Jakarta.
Kurniadi, F., 2012, Pengaruh Kompensasi dan
Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan di
Appotek Berkah, Fakultas Bisnis dan

*Corresponding Author: Husnawati


Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau,
Email: hoe5nawati@gmail.com
Telp. +6281365521460