You are on page 1of 6

LATAR BELAKANG

Korupsi di Indonesia sudah menjadi permasalahan mendasar bahkan telah mengakar


sedemikian dalam sehingga sulit untuk diberantas. Hal ini terlihat semakin lama tindak
pidana korupsi di Indonesia semakin meluas. Maraknya korupsi di Indonesia disinyalir terjadi
di semua bidang dan sektor pembangunan. Korupsi tidak saja terjadi pada lingkungan
pemerintahan dan pengusaha bahkan telah merambah sampai lembaga perwakilan rakyat dan
lembaga peradilan.
Penegakan hukum di suatu negara selain tergantung dari hukum itu sendiri,
profesionalisme aparat, sarana prasarana, juga tergantung pada kesadaran hukum masyarakat.
Kesejahteraan yang memadai dalam artian bahwa kejahatan tidak lagi timbul karena faktor
kesulitan ekonomi. Salah satu cara yang paling jitu supaya rakyat dapat hidup sejahtera
adalah melalui penanggulangan dan pencegahan tindak pidana korupsi. Rakyat harus
mengubah cara berpikir dan merumuskan kembali siapa sebenarnya musuh rakyat.
Koruptorlah musuh rakyat yang sesungguhnya. Jika koruptor ditangkap dan hartanya disita
untuk negara maka kemungkinan besar masalah kemiskinan dapat teratasi. Kemudian
masalah-masalah lain bisa dipecahkan satu per satu. Pemberantasan korupsi bisa menjadi
awal penyelesaian krisis di Indonesia. Kita (rakyat) perlu belajar mengenali korupsi. Salah
satu sebab mengapa korupsi sukar diberantas karena baik pemerintah maupun anggota
masyarakat kurang memahami dan mengenali secara baik, jenis-jenis korupsi yang sering
terjadi dalam masyarakat dan pemerintahan. Jangan sampai kita berteriak “berantas korupsi”
tapi tidak sadar bahwa kita sendiri sebetulnya sering melakukan korupsi, ibarat maling teriak
maling. Hak dan kewajiban kita di dalam hukum terutama yang berhubungan dengan
pemberantasan korupsi perlu diketahui dan dipahami. Kalau kita tahu aturan mainnya (proses
hukum), kita tidak mudah dibohongi oleh oknum-oknum yang terlibat korupsi, sebaliknya
kita bisa melakukan pengawasan (kontrol sosial) dan berperan serta secara
aktifmenanggulangi maupun mencegah korupsi.Berkaitan dengan gratifikasi dan suap, dalam
praktek sehari-hari tidak jarang kita jumpai pegawai negeri/ pejabat/ penyelenggara negara/
pelayan bangsa yang berharap menerima hadiah dari pelayanan yang mereka berikan.
Terkadang pelayanan baru diberikan bila ada uang pelicin atau uang jasa. Jangan harap
pelayanan publik akan lancar bila tidak menyerahkan uang pelicin (Vincentia Hanny S,
Kompas, 1 September 2005).

v Masalah
Dari latar belakang di atas dapat disimpulkan yang menjadi permasalahannya adalah:
1. Bagaimana upaya atau cara yang tepat untuk menanggulangi daripada bahaya korupsi ?
2. Apa saja peran masyarakat dalam upaya penanggulangan korupsi pada diri sendiri, orang
banyak, maupun generasi penerus bangsa ?
Manfaat
1. Mengetahui bagaimana upaya atau cara yang tepat untuk menanggulangi daripada bahaya
korupsi
2. Mengetahui apa saja yang menjadi peran masyarakat dalam upaya penanggulangan korupsi
pada diri sendiri, orang banyak, dan generasi penerus bangsa
v Alasan
Kondisi negara kita saat ini sungguh sangat memprihatinkan tidak hanya kualitas SDA yang
tidak bisa dikelola dengan baik dan kualitas SDM yang kurang juga terkait tentang kasus
korupsi yang makin marak terjadi di negra kita. Pemerintah telah berupaya semaksimal
mungkin untuk mengatasi hal tersebut namun sampai sekarang belum juga membuahkan
hasil yang optimal walaupun dari tahun ke tahun telah dibentuk badan yan bertugas untuk
memberantas tindak pidana korupsi tapi yatanya yang terjadi pada saat ini masih banyak para
kuruptor yang berkeliaran seprti para tikus-tikus berdasi. Untuk mengatasi tindakan korupsi
yang terjadi di Indonesia dibutuhkan hukum yang lebih tegas bagi para koruptor, agar orang
yang akan melakukan tindakan korupsi mendapatkan imbalan dan jera untuk melakukannya
kembali. Selin itu juga perlu ditanamkan akhlak dan kepribadian yang baik mengenai
perilaku mengabil sesuatu yang bukan menjadi hak kita kepada anak-anak calon penerus
generasi bangsa sejak dini, agar kelaknya tercipta pemerintahan yang adil, tentram, dan
bersih dari tindakan korupsi.
Hukuman mati saya rasa perlu ditegakkan di Indonesia bagi para koruptor yang ada di
negara kita ini, agar negara kita tercinta ini bersih dari tindak pidana korupsi. Bila diterapkan
hukuman mati di negara kita ini, orang yang ingin melakukan tindakan korupsi akan mikir
dua kali untuk melakukan tindakannya yang merugikan bangsa Indonesia. Untuk itulah saya
rasa perlu di tegasan hukuman mati bagi para koruptor yang ada di negara kita ini dalam
upaya memberantasan korupsi yang ada di Indonesia.

PEMBAHASAN

Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio kata kerja corrumpere yang
bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, mengoyok. Di indonesia korupsi itu
sendiri sudah ada sejak zaman dulu, sejak zaman penjajah hindia belanda. Adapun Faktor
penyebab korupsi secara umum, yaitu;Faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri
dari Sifat tamak atau rakus individu, Moral yang kurang kuat, dan Gaya hidup yang
konsumtif. Dan juga tindak korupsi terjadi karena tidak takut pada Tuhan dan tidak
menganggap adanya Tuhan, penegak hukum yang kuarang baik, dan penyalahgunaan
kewenangan, kesempatan yang di berikan kepadanya.
Adapun bentuk tindakan korupsi menurut UU No.31 Tahun 1999 yaitu:
1) Kerugian keuangan Negara.
2) Suap menyuap.
3) Penggelapan dalam jabatan.
4) Pemerasan.
5) Perbuatan curang.
6) Bantuan kepentingan dalam pengadaan.
7) Gratifikasi.
Adapun upaya untuk mengatasi tindak pidana korupsi itu sendiri antara lai sebagai berikut:
1. Pembentukan Lembaga Anti Korupsi
Di Indonesia sendiri sudah dibenuk lembaga yang khusus menangani tindakan korupsi seperti
KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). KPK sendiri pertama kali dibentuk pada masa
pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yuduyono. Peran dan fungsi KPK dalam hal
pemberantasan tindak pidana korupsi yangatlah dibutuhkan oleh Negara, mengingat besanya
kerugian yang bebankan oleh Negara.

2. Pencegahan Korupsi di Sektor Publik


Salah satu cara mencegah korupsi adalah dengan mewajibkan pejabat publik melaporkan dan
mengumumkan jumlah kekayaan yang dimiliki baik sebelum dan sesudah menjabat.
Masyarakat ikut memantau tingkat kewajaran peningkatan jumlah kekayaan setelah selesai
menjabat. Kesulitan timbul ketika kekayaan yang didapatkan dengan melakukan korupsi
dialihkan kepemilikannya ke orang lain. Selain itu Pengadaan barang atau kontrak pekerjaan
di pemerintahan pusat dan daerah maupun militer sebaiknya melalui lelang atau penawaran
secara terbuka. Masyarakat diberi akses untuk dapat memantau dan memonitor hasil
pelelangan tersebut. Korupsi juga banyak terjadi dalam perekrutan pegawai negeri dan
anggota TNI-Polri baru. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sering terjadi dalam proses
rekrutmen tersebut. Sebuat sistem yang transparan dan akuntabel dalam hal perekrutan perlu
dikembangkan.

3. Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat


Salah satu upaya memberantas korupsi adalah dengan memberi hak kepada masyarakat untuk
mendapatkan akses terhadap informasi. Perlu dibangun sistem dimana masyarakat (termasuk
media) diberikan hak meminta segala informasi sehubungan dengan kebijakan pemerintah
yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Isu mengenai public awareness atau
kesadaran dan kepedulian publik terhadap bahaya korupsi dan isu pemberdayaan masyarakat
merupakan salah satu bagian penting upaya pemberantasan korupsi. Salah satu cara
meningkatkan public awareness adalah dengan melakukan kampanye tentang bahaya korupsi.

4. Pengembangan dan Pembuatan Berbagai Instrumen Hukum yang Mendukung


Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
Dukungan terhadap pencegahan dan pemberantasan korupsi tidak cukup hanya
mengandalkan satu instrumen hukum yaitu Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Berbagai peraturan perundang-undangan atau instrumen hukum lain perlu
dikembangkan. Perlu peraturan perundang-undangan yang mendukung pemberantasan
korupsi yaitu Undang-Undang Tindak Pidana Money Laundering atau pencucian uang. Untuk
melindungi saksi dan korban tindak pidana korupsi, perlu instrumen hukum berupa Undang-
Undang Perlindungan Saksi dan Korban. Untuk memberdayakan pers, perlu UU yang
mengatur pers yang bebas. Perlu mekanisme untuk mengatur masyarakat yang akan
melaporkan tindak pidana korupsi dan penggunaan elektronic surveillance agar tidak
melanggar privacy seseorang. Hak warganegara untuk secara bebas menyatakan pendapatnya
juga perlu diatur. Selain itu, untuk mendukung pemerintahan yang bersih, perlu instrumen
kode etik yang ditujukan kepada semua pejabat publik, baik pejabat eksekutif, legislatif,
maupun code of conduct bagi aparat lembaga peradilan (kepolisian, kejaksaan, dan
peradilan).
5. Pemantauan dan Evaluasi
Perlu pemantauan dan evaluasi terhadap seluruh pekerjaan atau kegiatan pemberantasan
korupsi agar diketahui capaian yang telah dilakukan. Melalui pemantauan dan evaluasi dapat
dilihat strategi atau program yang sukses dan gagal. Program yang sukses sebaiknya
silanjutkan, sementara yang gagal dicari penyebabnya.
Pengalaman di negara lain yang sukses maupun gagal dapat dijadikan bahan
pertimbangan ketika memilih cara, strategi, upaya, maupun program permberantasan korupsi
di negara tertentu.
6. Kerjasama Internasional
Upaya lain yang dapat dilakukan dalam memberantas korupsi adalah melakukan kerjasama
internasional baik dengan negara lain maupun dengan International NGOs. Sebagai contoh di
tingkat internasional, Transparency International (TI) membuat program National Integrity
Sistem. OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) yang didukung
oleh PBB untuk mengambil langkah baru dalam memerangi korupsi di tingkat internasional
membuat program the Ethics Infrastructure dan World Bank membuat program A Framework
for Integrity.

v Solusi
Upaya pencegahan korupsi
Pada dasarnya korupsi terjadi karena adanya faktor internal (niat) dan faktor eksternal
(kesempatan). Niat lebih terkait dengan faktor individu yang meliputi prilaku dan nilai-nilai
yang dianut, sedangkan kesempatan terkait dengan sistem yang berlaku. Upaya pencegahan
korupsi dapat dimulai dengan menanamkan nilai-nilai anti korupsi pada semua
individu.” Ada 9 (Sembilan) nilai-nilai anti korupsi yang penting untuk ditanamkan pada
semua orang termasuk generasi penerus
bangsa yaitu: Kejujuran , Kepedulian, Kemandirian, Kedisiplinan,Tanggung jawab, Kerja
Keras, Sederhana, Keberanian, dan, Keadilan.
Adapun cara untuk mencegah korupsi yang harus di mulai dari diri sendiri Caranya:
1) Perbaiki moral dan mental diri.
2) Tumbuhkan semangat anti korupsi dalam diri.
3) Praktikkan anti korupsi dalam setiap perbuatan.y
4) Pengaruhi orang lain agar semangat anti korupsi tumbuh dalam kepribadiannya.
5) Buat atau ikuti komunitas anti korupsi untuk mengumpulkan maupun berkumpul dengan
orang-orang yang memiliki ideologi serupa.
6) Bersama, adakan kegiatan seperti penyuluhan, workshop, pembelajaran, atau lainnya sebagai
upaya mengurangi korupsi di Indonesia.
7) Teruslah aktif dalam mengurangi korupsi.

PENUTUP
Kritik
Kasus korupsi yang terjadi dindonesia yang sampai sekarang masih belum bisa di atasi oleh
pemerintah, walaupun terlah berrbagai macam cara daun upaya yang telah dikeluarkan oleh
pemerintah namun belum juga bisa memberantas habis para koruptor yang berkeliaran seperti
para tikus-tikus berdasi yang berkeliaran ditengah perputaran politik yang tengah berjalan di
negara kita ini.

Saran
Untuk kepemimpinan selanjutnya pemerintah perlu mengupayakan cara atau setrategi yang
tepat untuk menindak lanjuti tindak pidana korupsi yang tengah marak di negara tercinta ini.
Bilaperlu diadakannya hukuman mati bagi para pelaku koruptor yang tertangkap supaya para
pelaku korupsi akan mikir dua kali untuk melakukan tindakan yang merugikan negara
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
ü Igm, Nurjannah dkk. 2008. Korupsi dan illegal logging dalam sistem
desentralisasi. Yogyakarta: Pustaka Paelajar
ü Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Uandang nomor 31 tahun
1999 tentang pemberanasan tindak pidana korupsi
ü http://jeyysiska .blogspot.com/2013/07/pencegahan-upaya-pemberantasan korupsi.html