You are on page 1of 20

IMAM DIOSESAN

Saya memilih menjadi imam Diosesan


untuk Keuskupan Agung Kupang, pada
tahun 1981. Pada waktu itu saya sendiri
belum pernah ke Kupang. Juga saya tidak
kenal imam-imam Keuskuapan Kupang dan
lebih dari itu saya juga tidak mengerti
seluk-beluk Imam Diosesan. Cuma mau
menjadi imam di Kupang. Motivasi untuk
menjadi imam masih kabur-kabur air.
Dalam perjalanan waktu sedikit demi sedikit
saya belajar untuk mengenal imam
Diosesan dan mengenal gaya hidup mereka
dan saya pun mulai belajar membangun
gaya hidupku sebagai seorang imam
Diosesan di Kesukupan Agung Kupang.

SIAPAKAH IMAM DIOSESAN

Imam Diosesan adalah seorang laki-


laki yang dengan tabhisannya mengikatkan
diri atau diikardinasikan pada suatu dioses
(dioikesis:wilayak administrasi, bhs. Yunani)
atau keuskupan tertentu. Karena itu, imam

1
diosesan berkarya khusus untuk keuskupan
masing-masing, meskipun tidak tertutup
keumungkinan diutus berkarya ke
Keuskupan lain dan bahkan ke negera lain.

Dalam hal ini, imam diosesan


berbeda dari imam-imam tarekat atau
biarwan, yang tergabung dalam satu
lembaga hidup bakti
(ordo/Terekat/Kongregasi) dan hidup taat
kepada pembesar mereka masing-masing,
setrut karisma dan ketentuan dari
ordo/tarekat/Kongregasi mereka. Karya
dan kehadiran suatu ordo/tarekat di suatu
Keuskupan diatur dan ditentukan lewat
semacam kontak. Hal ini tidak terjadi pada
imam Diosesan sebab mereka adalah milik
Keuskupan sendiri.

Nama lain untuk imam diosesan


adalah imam projo. Nama tanda pengenal
bagi imam diosesen di region Jawa adalah
penambahan “Pr di belakang namanya.
Imam Diosesan di Keuskupan Agung Kupang

2
pung masih menggunakan inisial “Pr.”
Hinggat tahu 1998. Setelah uskup Agung
Kupang menjadi Uskup Agung Definitip
maka Imam diosesesan Keuskupan Agung
Kupang menggunakan inisial “RD” di depan
naman imam.

Baru pada pertemuan Imam


Diosesan Regio Jawa di Jakarta pada 3-7
September 2012, para imam diosesan Regio
Jawa membiasakan (kembali) menulis inisial
RD di depang nama pribadinya. Aslinya, RD
memang singkatan dari Reverendus
Dominus (=Bapa atau Tuan yang terhormat,
bhs. Latin). Inilah sebutan resmi untuk
imam diosesan di dalam Gereja Katolik dari
dulu sampai sekarang.

Pada saat Kardinal Bergoglio, Uskup


Agung Buenos Aries (Argentina) terpilih
menjadi paus Fransiskus, pengumuman
resminya berbunyi: “Habemun Papam:
Reverendissimum Dominum, Georgium
Marium Cardinalem.” (Kita punya Paus

3
baru: Tuan/Bapak yang terhormat, Kardinal
Georg Maria Bergoglio”). Ketika
ditabhiskan menjadi Uskup Keuskupan
Buenor Aires, Kardinal Bergoglio yang
semula imam Serikat Yesus, memang
menjadi “miliki diosesan” dengan segala
konsekwensi kanoniknya, meskipun ia tidak
dikeluarkan dari Serikat Yesuit (Kaul
ketaatan dan hasil perolehan dari karyanya
tidak diserahkan kepada pimpinan Tarekat.
Hanya kewajiban selibat yang timbul dari
kaul kemurnian, tinggal tetap lantaran
ketentuan ini berlaku untuk semua klerus
Katolik. Maka pada beberapa Keuskupan,
seorag Uskup diosesan yang berasalah dari
suatu Tarekat bisa menghialngkan inisial
terakt asal pada namanya.

Mengapa RD sebaiknya dipakai?


Alasan pertam (1) Melampaui sifat resminya
melulu, inisia RD mempunyai hubungan
historis denga para pemula dan perintis
Gereja Katolik di Bumi Nusantara mulai dari
RD Simon Vaz (martis di Morotai, 1535) dan

4
kemudia para RD dari negeri Belanda (2) RD
dirasakan lebih cocok dipakai untuk semua
imam Diosesan, apapun sukunya. Kalau kata
(Romo) kata jawa ini sudah merata dipakai
sebagai sapaan inklusif untuk semua imam,
apapun kelompok atau tarekatnya. (3)
Berbeda dengan inisial “Pr”) (projo) yang
ditulis di belakang nama imam dan jelas
berlatar belakang dunia pemerintahan
feudal dala paham bahasa Jawa, penulisan
RD di depan nama pribadi menghapuskan
“tarekatisasi” (meniru-niru tarekat), selain
ketidakjelasan sumber historisnya.

Inisial RD bagaimanapun juga dipakai


hanya sebagai sebutan formal atau gaya
tulis pada dokumen dan berita resmi.
Sedangkan sapaan kolokuial dau gaya tutur
ada banyak sebuata khas untuk imam
diosesa di daerah Indonesia, seperti juga di
banyak daerah di bagian duania lain,
misalnya Herr (Jerman), “amang pastor”
(Batak) Don (Italia), “Romo Projo” (Jawa).
Sedangkan di NTT Romo memang hanya

5
dipakai untuk imam Dioesesan saja., tidak
pernah untuk Tarekat.

Maka mungkin boleh dikatakan,


bahwa sebutan ‘praja” untuk imam
diosesan (formal tertulis: Reverendus
Dominus) itu mirip dengan sebutan
“Fransiskan” untuk para anggota Ordo
Saudara Dina (formal tertulis: OFM, Ordo
Fratrum Minorum).

2. Spiritualitas: Khas “Diosesan”.

Apa itu spiritulitas? Spiritualitas pada


hakikatnya adalah kenyataan bahwa orang
beriman memiliki hubungan rohani (spiritus
=’roh’, bhs. Latin) yang intim dan pribadi
dengan Tuhan. Basis semua spiritualitas
adalah ikhtiar menghayati kehendak Tuhan:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
akal budimu… Dan kasihilah sesamamu
manusia sperti dirimu sendiri.” (Mat. 23: 37-
39). Dan adalah Roh Kudus yang
menggerakkan mereka menjalankan

6
“semua yang telah Kukatakan kepadamu”.
(Yoh. 14: 27).

Semua orang Kristen, baik awam


maupun kaum klerus atau para pengamban
(dari kata Yunani kleros =”bebas”)
tanggungjawab pelayanan rohani, misalnya
imam, Diakon, Uskup, wajib beriktiar
menghayati dan member bentuk konkret
dari perintah yang satu dan sama ini lewat
caranya masing-masing menurut
pengalaman rohani mereka.Spiritualitas
berisnpirasi secara dasarih pada alkitab ini
bisa disebut spiritulitas alkitabiah. Semua
SPiritualitas lain bersumber dari spiritualitas
yang satu dan sama ni.

Spiritualitas imam Diosesan adalah


pola penghyatan hidup imamat yang
bersumber dari, dan berdasarkan pada
spiritualitas alkitabias ini juga di dalam
konteks Keuskupan atau diosesnya.

Adapun “dioses” (Keuskupan) bagi


seorang imam Diosesan mempunyai dua

7
arti. Pertama, sebagai wilayah gerejawi:
Dengan bentuk institusional dan daya
hidupnya, keprihatinan dan pengharapan,
problematic dan tanggapannya, Keuskupan
merupakan ruang konkret, tempat hidup
imamat seorang imam Diosesan dihayati,
digeluti dan diaktualisasikan berdasarkan
semangat alkitabiah itu. Kedua, Sebagai
peristiwa iman: Keuskupan merupakan
kesempatan untuk mengelami kehadiran
Tuhan lewat pengalaman hidup dan karya
mereka hari demi hari. Dengan demikian
seorang Imam Diosesan adalah Peziarah
spiritual yang rindu mencari dan mengalami
Tuhan lagi dan lagi dalam hidup dan
karyanya. Maka ada dua sumber inspirasi
penghayatan imam Diosesan: Alkitabiah
dan hidup Gereja Setempat yang konkret,
yakni Keuskupannya.

3. Imam Diosesan: Pemimpin yang


Melayani Dengan Hati

8
Daniel Goleman dalam bukunya
Working with Emosional Intellingence
(1998) menulis bahwa auran main dalam
bekerja sedang berubah. Kita tidak lagi
hanya diukur dengan seberapa pandai, atau
seberapa ahli di bidang yang kita tekuni;
tetapi kita juga diukur dengan seberapa
baik kita menangani diri sendiri dan orang
lain. Kemampuan untuk mentata diri sendiri
dan menangani orang lain menjadi kunci
keberhasilan seseroang bila sikap dan
perilakunya tidak diterima oleh lingkungan
karirnya akan terhambat.

Pemimpin mencapai tujuan melalui


orang lain. Seorang pemimpin harus
mampu mempengaruhi orang lain untuk
mencapai tujuannya kalau kita pelajari teori
kepemimpinan yang ada, cara
mempengaruhi orang lain yang dianjurkan
kebanyakan terkait dengan memperbaiki
sikap dan perilaku pemimpin. Pemimpin-
pemimpin besar menggerakkan orang
melalui sikap dan teladannya. Mereka

9
menggerakkan bukan terutama visi, misi,
dan strategi yang dirumuskan secara
brilyan. Kesuksesan mereka terutama
karena kemampuannya menggerakkan
emosi orang, menyemanati, memotivasi
dan member teladan.

Seorang imam adalah pemimpin


umat sejak di ditabhiskan. Keberhasilannya
bukan semata-mata ditentukan oleh
tahbisan imamatnya, tetapi juga diukur dari
sosok pribadi dan hasil karyanya sebagai
manusia.

Apakah seorang imam mampu


menggerakkan umatnya untuk menuju
Yesus? Apakah dia mampu menyemangati
dan memotivasi umat untuk menjalani
kehidupannya seturut ajaran Jesus? Apakah
dia sendiri bisa menjadi contoh teladan dan
cerminan dari orang yang menyerahkan
hidupnya untuk Yesus? Bila jawaban
terhadap pertanyaan-pertanyaan itu adalah
“ya”, maka dia memiliki kualitas

10
kepemimpinan yang unggul. Apakah ada
tokoh seperti ini yang patut dicontohi? Kita
bisa belajar dari tokoh seperti Santo Paus
Yohanes Paulus II, Ibu Theresa dari Kalkuta
dll.

3.1 Menjadi Imam – Menetapkan Tujuan

Pilihan hidup menjadi seorang imam


adalah pilihan yang mulia. Pilihan yang
mengandung konsekwensi yang tidak ringan
karena ada pengorbanan di sana.
Pernyataan ini hendaknya tidak dihadapkan
dengan pertanyaan apakah pilihan lain tidak
mulia? Tentu saja pilihan apapun adalah
mulia bila dikaitkan dengan kesadaran
untuk tujuan apa pilihan itu dibuat.
Pernyataan di atas ingin menegaskan
bahwa pilihan hidup menjadi imam lebih
sulit dijalani dan dihayati bila tetap ingin
berpegang pada tujuan saat pilihan itu
dibuat. Memuliakan jiwa untuk bersatu
dengan Bapa melalui jalan terjal,

11
menghayati ketiga nasehat Injil, hidup suci,
taat dan miskin.

Dalam dunia manajemen,


menetapkan tujuan menjadi mutlak perlu
ada dan harus dirumuskan secara jelas. Dari
sana sasaran dan strategi pelaksanaan
disusun dan dieksekusi tahab demi tahab
sesuai urutan waktunya. Sebuah peta
perjalanan (roadmap) ditetapkan agar
menjadi panduan. Keberhasilannya
dievaluasi dari waktu ke waktu sesuai tolok
ukur yang ditetapkan

Menjadi seorang imam tujuannya


jelas. Dia tidak hidup terutama bagi dirinya
sendiri tetapi hidup untuk melayani umat
(orang lain). Inilah antara lain letak
kemuliaan pilihan hidup sebagi imam.
Bagaimana pernyataan tujuan hidup yang
jelas itu bisa dibuat peta perjalanan dengan
sasaran antara dan strategi pelaksanaan
yang jelas pula. Membuat perencanaan
hidup sesuai dengan panggilan yang

12
didasarkan pada keunikan pribadi masing-
masing.

Usaha untuk mencapai sasaran


dengan melaksanakan strategi yang dibuat
membutuhkan kepemimpinan diri sendiri
yang kuat dan berdisiplin. Kepemimpinan
itu didasarkan bukan hanya paga logika dan
intelektualitas tetapi juga pada hati (emosi).
Mampukan para imam memimpin diri
sendiri sebelum orang lain?

3.2 Memimpin Diri Sendiri:


Mengembangkan Ketrampilan Personal

Menjalani kehidupan sesuai janji


imamat membutuhkan bukan hanya
perjuangan tetapi juga kita-kita untuk tetap
teguh. Ukuran pertama keberhasilan
seorang imam adalah kesetiaannya pada
imamatnya. Ukuran selanjutnya antara lain
adalah sosok pribadi dan karyanya. Supaya
imam tampil sebagai sosok pribadi yang
dicintai umat ia perlu memimpin dirinya

13
untuk mengembangkan ketrampilan
personalnya.

Mengembangkan ketrampilan
personal pada dasarnya adalah
mengembangkan kemampuan untuk
mengelola diri sendiri. Sasarannya, imam
sebagai manusia diharapkan mampu tampil
sebagai sosok pribadi yang memiliki
itegritas, kematangan emosional dan
kepekaan sosial. Dari pertemya-pertemuan
yang diselenggarakn Badan Kerjasama Bina
Lanjut Imam Indonesia disadari bahwa para
imam masih banyak yang menampilak sikap
dan perilaku yang kurang produktif. Tentu
saja ini merupakan otokritik bagi imam
sendiri. Menyerahkan diri seutuhnya untuk
Tuhan namun dalam keseharian masih
memiliki kelekatan-kelekatan yang
menyebabkan kepemimpinannya kurang
efektif.

Hal-hal yang perlu dikembangkan


sebagai keterampilan personal menurut

14
Daniel Goleman dalam bukunya The New
Leaders antara lain: pengendalian emosi
(mengatasi emosi dan impuls negatif),
keterbukaan (menunjukkan sikap jujur dan
dapat dipercaya), adaptabilitas (fleksibilitas
untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan), mencapai prestasi (dorongan
untuk bekerja semakin baik untuk
memenuhi tuntutan pribadi atas prestasi
kerja), inisiatif (kesiapan untuk bertindak
dan memanfaatkan kesempatan), serta
bersikap optimis (melihat sisi positif dari
setiap kejadian).

Ketrampilan personal itu akan bisa


diperoleh kalau kita juga terampil
mengelola kesadaran diri. Dari waktu ke
waktu membuat refleksi tenntang emosi-
emosi yang menggangu. Kita mengevaluasi
kekuatan dan kelemahan kita (analis
swot).Di lain pihak juga perlu
mengembangkan kepercayaan diri bahwa
kita akan bisa mengatasi keleman-
kelemahan kita.

15
Kepemimpinan seorang Imam
Diosesan yang mendasarkan diri pada
pengelolaan ketrampilan personal akan
member warna tersendiri bagi Gereja.
Imam Diosesan akan memimpin umatnya
dengan hatinya bukan hanya dengan
kemampuan intelektualnya saja. Seperti
John C. Maxwell mengatakan kepemiminan
kemudian berkembang dengan hubungan-
hubungan yang bermakna bukan dengan
aturan-aturan.

3.3 Memimpin Orang Lain:


Mengembangkan Ketrampilan Sosial

Kepimpinan seorang Imam Diosesan


tidak bisa lepas dari kepemimpinan
Uskupnya. Dia ikut ambil bagian dalam
kepemiminan Usku menggembalakan umat.
Ibaratnya umat diajak menonton koser
music klasij, mereka akan melihat apakah
Uskup sebagai dirigen diikuti oleh para
imam sebagai pemain-pemain alat music

16
dengan penuh ketaatan sesuati partitur
music yang dipilih. TEntunya tidak ada
Imam Diosesan yang memainkan musknya
sendiri karena salah ambil partitur atau
membuat partitur sendiri.

Kalau Gereja adalah ranting dan


Yesus adalah pokok anggur, Uskup harus
menjaga agar ranting-ranting tetap sehat
dan subur, tercukupi segala kebutuhannya.
Imam sebagai ranting harus menghasilkan
buah yang berlimpah. Apakah imam boleh
mencari kesuburannya sendiri dengan
menempel pada pokok lain, sehingga
menghasilkan buahnya sendiri? Dengan
semangat itu, Imam Diosesan taat pada
pemimpinnya dan memimpin umatnya
mengambil bagian dalam pergulatan
mencapai tujuan Gereja local atau
Keuskupan.

Agar para imam mampu mengambil


bagian dalam kepemimpinan Uskupnya dan
menghasilkan buah yang berlimpah maka ia

17
harus mengembangkan kemampuan
dirinya. Kemampuan diri untuk memimpin
orang lain pada dasarnya adalah
mengembangkan ketrampilan sosial.
Bagaimana para imam bisa mengelola
hubungan-hubungan dengan anggota
Dewan Paroki, dengan para Ketua Wilayah
atau Ketua-ketua KUB dan gerakan-kerakan
kerohanian, dan dengan umat pada
umumnya.

Modal dasar yang diperlukan untuk


ketrampilan sosial adalah apakah para
imam memili rasa empati, yaitu tanggap
terhadap persaraan orang lain, memahami
sudut pandang mereka dan mengambil
bagian dalam persoalan-persoalan mereka.
Disampalin bermmpati juga memiliki sikap
pelayanan yaitu mengenali dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan umat.

Bila modal dasar tersebut dimiliki


seseorang Imam Diosesan, maka dalam
kepemimpinannya ia akan menggunakan

18
gaya kepemiminan situasional. Dia bukan
seorang yang otoritera atau juga bukan
orang yang membiarkan saja segala sesuatu
berjalan sendiri1). Kepemimpinannya akan
fleksibel tergantung dari kesiapan yang
dilayani. Bisa tegas dan meberi arah, atau
bisa juga membuju, atau bisa
mendelegasikan wewenannya kepada
mereka yang siap melaksanakan tugas.
Gaya kepemimpinan situasional iman juga
akan memeprtimbangkan kondisi sosiologis,
ekonomis, dan geografis umatnya.

Seorang ima Diosesan


mengembangkan ketrampilan sosialnya
dengan mengambil sika sebagai pemimpin
yang inspiratif (memberika arah dan
memotivasi dengan visi yang kuat),
mempengaruhi (mengembangkan taktik
dan strategi untuk pelaksanaan tugas),
mengembangkan orang lain (selalu
menciptakan kader di manapun ia berada,
menjadi katalis perubahan (banyak gagasan
baru dan menciptakan perubahan di

19
lingkungannya), mengembangkan
kemampuan untuk mengatasi konflik dan
membangun kerjasama antar tim penggiat
gereja.

20