Вы находитесь на странице: 1из 5

SEPERTI TRUMP, PRABOWO DAN

SANDIAGA ITU TAK SEBODOH


YANG KAMU KIRA
A RI EF BA LLA 7 J ANUAR I 2 01 9

ESAI 1 4


 853
Shares

MOJOK.CO – Beberapa teman muslim saya di Amerika atau imigran dulunya cuek saja
dengan politik, baru ketika Donald Trump betulan menang mereka menyesal. Ealah, telat,
gobl~

Sebelum memasuki perkuliahan tahun 2017 lalu, saya mengikuti pre-academic training di
San Diego, California. Tibalah salah satu materi tentang politik dan sistem Pemerintah
Amerika Serikat oleh salah satu profesor yang—kebetulan—sepertinya begitu benci ke
Trump.

“Stupid,” katanya.

Semua orang tertawa. Saya hanya senyum masam.

“Iya goblok tapi sekarang dia jadi presidenmu,” kata saya. Dalam hati pastinya.

“Not my president,” kata salah seorang teman Amerika saya pada waktu yang lain.

“Iya kamu bisa bilang gitu. Tapi suka tak suka kamu tetap terkena imbas kebijakannya,” kata
saya.

Saya mengenal beberapa teman Amerika atau imigran yang sudah lama menetap di sini yang
dulunya cuek saja dengan politik, salah satunya karena haqqul yaqqin Hillary Clinton bakal
menang. Ketika kondisinya berbalik seperti sekarang, teman-teman saya jadi semakin intens
mengikuti perkembangan politik karena merasa nggak mau kecolongan dua kali.
Trevoar Noah, seorang komedian, hampir tiap hari menjadikan Trump jadi bagian dari
lelucon di programnya Daily Show. Meski bisa saja sewaktu-waktu Trump menendangnya
pulang ke Afrika Selatan atau setidaknya terkena dampak yang merugikannya sendiri.

Paling tidak, Noah mengumbar kekhawatirannya pada sebuah wawancara. Teman-teman


saya, termasuk para profesor itu, sekarang hanya bisa bilang presidennya stupid, idiot,
termasuk menambahkan kata fucking di depannya.

Namun mau semenyesal apa pun, mereka tidak bisa menampik, bahwa Trump kali ini
memimpin mereka semua. Mau sekesal apa pun, mereka harus terbiasa dengan maraknya isu
rasial yang menimbulkan keresahan dan kegelisahan. Bukan cuma bagi minoritas tetapi juga
mayoritas yang mencoba tetap waras.

Trump—seperti yang kita juga tahu—sering menggunakan politik ketakutan dan kebencian
dalam kampanyenya. Hal yang cukup sukses menakut-nakuti masyarakat bahwa problem
Amerika semuanya dari luar—atau orang-orang yang disebut “bukan penduduk asli
Amerika”.

Taglinenya Make America Great Again sukses mengacak-acak tatanan orang-orang Amerika
yang sering terlalu kepedean dengan luasnya pergaulan internasional mereka, tapi tetap kalah
ketika dibenturkan soal sentimen agama dan ras.

Trump menyebarkan ketakutan dan kebencian di saat bersamaan. Narasi seperti Islam itu
teroris lalu imigran adalah ancaman, digalakkan sejak Trump mulai berkampanye.

Trump juga menggunakan sentimen agama Kristen untuk memusuhi mereka yang Islam dan
Yahudi beserta kelompok minoritas lainnya. Bahkan pendukung Trump juga tak sungkan
menyebarkan hoax melalui sosial media terutama Facebook dengan robot.

Baca juga: Semoga Kamu Nggak Kaget dengan Fakta Pemboikotan Starbucks Ini

Tak banyak yang menyangka, Trump akan berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45
dengan cara-cara seperti itu. Banyak yang terkejut, terutama beberapa orang yang saya kenal
di Indonesia, kecuali—tentu saja—Fadli Zon dan Setya Novanto.

Ketika kemudian Trump betulan jadi presiden dan masih banyak rakyatnya sendiri yang sedih
dipimpin orang serasis dan seekstem itu. Rakyatnya sekarang ya harus menerima. Pada
kenyataanya, Trump sukses menggunakan kepintarannya untuk membalikkan keadaan. Dan
cuma orang jenius yang sanggup melakukan itu.

Padahal kan yah orang-orang Amrik kan selama ini dikenal sangat maju cara berpikirnya dan
dianggap sudah melek literasi media. Tetapi masih kebobolan juga dan sekarang mereka
cuma bisa misuh-misuh aja. Ealah, telat guoblok.

Maka ketika ada yang bilang Prabowo itu bodoh karena sering ketahuan pake data ngawur,
saya kurang setuju. Sama tidak setujunya saya ketika Sandiaga disebut cuma asal cari sensasi
karena sering bertingkah aneh seperti menjadikan pete wig—misalnya.

Catat, Bung.

Mau bagaimana pun juga, Prabowo merupakan mantan jenderal yang pernah sekolah di luar
negeri. Sedangkan Sandiaga Uno merupakan alumni kampus di Amrik dari sarjana sampai
master. Statusnya pun cumlaude. Udah gitu, keduanya memiliki sumber daya finansial yang
oke punya lagi. Secara basic, keduanya tentu tidak bisa diremehkan sebagai ahli strategi
politik.

Dan dari dua ratus sekian juta jiwa penduduk Indonesia, hanya mereka berdua yang cukup
bernyali dan berani melawan petahana. Nah, kamu yang bilang mereka bodoh itu mau daftar
jadi Ketua RT saja belum tentu punya suara lebih dari 10. Lha kok Ketua RT, daftar jadi
Ketua Karang Taruna saja belum tentu jadi calon.

Selain itu, hal yang bikin saya tambah kagum, terutama kepada Bang Sandi, adalah
kemampuannya menyatukan pecinta segala hal berbau Arab yang kebetulan juga benci
setengah mati kepada segala hal yang terkait Amrik. Saya pikir hanya Bang Sandi saja yang
bisa bikin dua kutub kontradiktif itu bisa menyatu.

Padahal di sisi yang lain, Bang Sandi ini alumni Amrik, negeri yang menyebutnya saja
langsung berhamburan segala label negatif: anti-Islam, kafir, sekuler, sekunder, dan liberal.
Tapi sekarang, mari diakui bahwa Prabowo-Sandi mampu menyatukan benci dan cinta dalam
satu gerakan bernama #2019GantiPresiden. Canggih bukan?

Baca juga: Apabila Setan Bertobat


Bahkan bukan hanya menyatukan tetapi juga jadi kekuatan pendukung yang luar
biasa beringas.

Mereka yang meledek Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres tak berkualitas itu bisa jadi
nanti hanya akan gigit jari ketika mereka betulan terpilih. Lho jangan salah, buktinya Trump
aja bisa menang tuh di Pilpres Amrik. Salah satu timses mereka pun, Fadli Zon, bahkan dulu
sudah pernah ketemu dengan Trump untuk menyerap aura kampanye.

Jangan lupa strategi kampanye Trump mirip dengan Prabowo. Slogannya


saja njiplak mirip; Make Indonesia Great Again.

Narasi-narasi yang dibangun pun senada. Seperti pribumi harus menjadi tuan di negeri
sendiri, Prabowo biasa menghardik wartawan atau menggunakan analogi olok-olokan tertentu
(muka Boyolali—misal).

Dan sama seperti Trump yang saat kampanye sering salah membaca data lalu klarifikasi
sendiri atau menggunakan sosial media seperti Facebook untuk—tidak sengaja—sebar hoaks.

Masyarakat Indonesia juga sedikit banyaknya sama dengan gaya orang-orang Amrik pada
Pilpres lalu. Mereka sering meremehkan Trump sembari meyakinkan diri dengan percaya
diri, “Ah, masyarakat udah cerdas memilih.” Tapi ketika hari pilihan tiba, mereka malah
nggak berangkat ke TPS karena sudah yakin bakalan menang atau memang tidak begitu
peduli dengan politik sebelumnya.

Kepercayaan diri yang berlebihan itu pun semakin muncul saat Trump mulai
mengampanyekan ide-ide yang kontradiktif. Hal yang bikin orang-orang pro-Hillary ini
berpikir, “Idih, goblok amat sih ide kampanyenya? Nggak bakal menang lah kalau begitu
caranya.”

Seperti ketika Trump menyebut para imigran adalah ancaman. Lah bukannya Trump dan
istrinya sendiri adalah keturunan imigran? Lalu soal Trump yang anti-Islam tapi
bergandengan tangan mesra dengan Arab Saudi saat menghancurkan Yaman?

Sikap seperti ini—sayangnya—juga dialami oleh sebagian saudara-saudara muslim kita


tersayang yang sangat marah ketika Trump terpilih dan menyusahkan umat Islam, tetapi di
satu sisi ingin memilih Presiden yang malah agak-agak mirip seperti Trump.
Melihat bagaimana berhasilnya Trump sukses memobilisasi segala rasa curiga dan kebencian
tersebut sampai akhirnya mengantarkannya ke singgasana, saya kok jadi curiga kalau
kampanye ugal-ugalan Prabowo-Sandi itu memang dimaksudkan dengan cara yang sama.

Kalau betulan jadi, maka meski berat harus diakui tim kampanye mereka betulan brilian
karena bisa bekerja sesuai dengan yang ditargetkan klien mereka. Eh.