Вы находитесь на странице: 1из 12

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PANCASILA
E-LIBRARY

PENGARUH PROFITABILITAS DAN STRUKTUR AKTIVA TERHADAP


STRUKTUR MODAL PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR
FOOD AND BEVERAGES YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2013-
2017

Andi Yulvira Reini Annisa S.


Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila
Alamat: Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Telp/Hp: 085288967085 Email: andi_yulvira@yahoo.com

ABSTRACT

This study aims to examine and explain that return on assets, return on equity and asset structure
have a partial or simultaneous effect on capital structure (DER) in food and beverages sub-sector
manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The sample used in this study is
a food and beverages sub-sector manufacturing company listed on the Indonesia Stock Exchange
there are 6 companies. The data analysis technique used is descriptive analysis and multiple linear
regression analysis. The results of the study prove that partially the return on asset variable has a
significant effect on capital structure (DER). This shows that if the operating profit increases, it
will increase the amount of capital owned by the company. But the return on equity variable
partially does not have a significant effect on capital structure (DER). This can happen because,
return on equity (ROE) as one of the profitability ratios used to measure a company's ability to
earn profits and will affect the company's capital structure in the form of high internal funding
sources. Partially the asset structure variable (TAN) does not have a significant effect on capital
structure (DER). This happens seen from the selection of types of assets by the company. While
simultaneous testing proves that return on assets, return on equity and asset structure
simultaneously have a significant effect on capital structure (DER).

Keywords : Return on Assets, Return on Equity, Asset Structure,


Capital Structure

I. PENDAHULUAN
Di era ekonomi global saat ini, menimbulkan persaingan usaha yang sangat
ketat. Hal ini akan mendorong manajer perusahaan untuk meningkatkan produktivitas
dalam bidang produksi, pemasaran dan strategi perusahaan. Kegiatan tersebut
dilakukan sebagai usaha perusahaan dalam memaksimalkan laba ditengah
perkembangan perekonomian global yang semakin pesat. Selain itu, manajemen
perusahaan juga harus memaksimalkan kesejahteraan para pemegang saham. Untuk
mencapai tujuan tersebut, diperlukan pengambilan keputusan yang tepat baik dari
keputusan investasi, keputusan pendanaan dan keputusan dividen.
Salah satu keputusan penting yang dihadapi adalah dalam kegiatan operasi
perusahaan yaitu keputusan pendanaan. Keputusan pendanaan perusahaan yang
paling baik dilihat dari struktur modal. Yaitu keputusan keuangan yang berkaitan
dengan komposisi hutang jangka panjang maupun jangka pendek, saham preferen dan
saham biasa yang akan digunakan oleh perusahaan. Dalam hal ini perusahaan
diharapkan dapat mengambil keputusan pendanaan yang tepat.
Keadaan struktur modal akan berakibat langsung pada posisi keuangan
perusahaan, sehingga akan memperngaruhi kinerja perusahaan. Manajer keuangan
perlu menentukan struktur pendanaan dalam upaya menetapkan apakah kebutuhan
dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri atau modal asing. Faktor tersebut
harus terpenuhi agar perusahaan terhindar dari risiko struktur modal yang akan
berakibat pada kelangsungan hidup perusahaan (Wild, et.,all. 2005:221).
Menurut Sartono (2010: 248-249), menyatakan bahwa faktor yang perlu
dipertimbangkan manajer keuangan terkait dengan struktur modal adalah tingkat
penjualan, struktur aset, tingkat pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, variabel laba,
perlindungan pajak, skala perusahaan, serta ekonomi makro. Variabel yang
mempengaruhi utang salah satunya yaitu rasio keuangan yang merupakan faktor
penting untuk dipertimbangkan sebelum perusahaan akan mengambil keputusan
dalam menetapkan besarnya utang yang akan diambil.
Struktur modal dapat didanai dengan utang, terutama utang jangka panjang
guna mendukung kegiatan riil perusahaan secara jangka panjang dan meningkatkan
leverage perusahaan. Keputusan pendanaan, digunakan untuk memenuhi kebutuhan
konsumen ketika dibutuhkannya aktiva tetap seperti teknologi mesin untuk produksi.
Kebijakan pendanaan perusahaan dipengaruhi oleh preferensi manajemen tentang
sejauh mana penguasaan manajemen dalam menentukan struktur modal optimal
(Harmono, 2011:11-12).
Profitabilitas salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal
perusahaan. Profitabilitas sebagai ukuran penghasil laba, akan membagikan labanya
terlebih dahulu kepada pemegang saham yang sisanya akan diwujudkan sebagai laba
ditahan. Perusahaan yang memiliki laba ditahan yang besar akan menggunakannya
sebagai permodalan sehingga dengan adanya laba ditahan yang besar akan
meningkatkan struktur modal perusahaan, serta dapat mengurangi permodalan dari
dana eksternal. (Brigham dan Houston, 2011:43).
Menurut Irawati (2006:193) menyatakan bahwa “penggunaan dari masing-
masing jenis modal mempunyai pengaruh berbeda terhadap laba yang diperoleh
perusahaan”. sedangkan menurut Aditya (2006:22) menyatakan bahwa “Perusahaan
dengan Profitabilitas yang tinggi dan penggunaan internal financing yang lebih besar
dapat menurunkan penggunaan hutang” pendapat ini sama halnya dengan pendapat
Weston dan Bringham (1994:150) yang menyatakan bahwa “perusahaan yang
memilki tingkat pengembalian investasi (profitabilitas) tinggi cenderung memiliki
hutang dalam jumlah kecil karena penggunaan ekuitas (Modal sendiri) lebih besar.
II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan
yang ditujukan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan
atau kelebihan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-
hutangnya. Menurut Fahmi (2014:179) “struktur modal merupakan gambaran
dari bentuk proporsi finansial perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang
bersumber dari hutang jangka panjang dan modal sendiri yang menjadi sumber
pembiayaan suatu perusahaan”.
Menurut Fahmi (2014:179) “struktur modal merupakan gambaran dari bentuk
proporsi finansial perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang bersumber
dari hutang jangka panjang dan modal sendiri yang menjadi sumber pembiayaan
suatu perusahaan”.
Teori struktur modal berkaitan dengan bagaimana modal akan dialokasikan
dalam aktivitas investasi dan aktiva riil perusahaan, dengan cara menentukan
struktur modal antara modal utang dan modal sendiri. Keputusan pendanaan oleh
manajemen perusahaan akan berpengaruh pada penilaian perusahaan yang
terlihat dari harga saham.
Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menggunakan hutang dan modal
untuk mengukur besarnya rasio. Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang
dipergunakan untuk mengukur tingkat penggunaan utang terhadap
total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal :
a. Struktur Aset
Perusahaan skala besar yang memiliki aset tetap dalam jumlah banyak dapat
menggunakan utang dalam jumlah besar, karena pada umumnya perusahaan
akan mendapatkan akses yang mudah kesumber dana dibandingkan
perusahaan kecil.
b. Tingkat Penjualan
Tingkat penjualan yang relatif stabil dari suatu perusahaan menggambarkan
bahwa perusahaan tersebut mempunyai aliran kas yang relatif stabil, sehingga
dapat menggunakan utang yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan
yang memiliki aliran kas yang tidak stabil.
c. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Semakin cepat pertumbuhan perusahaan, maka semakin besar kebutuhan
dana untuk pembiayaan ekspansi dan keinginan perusahaan untuk menahan
laba. Perusahaan yang sedang tumbuh sebaiknya tidak membagikan laba
sebagai deviden, namun digunakan untuk investasi.
d. Profitabilitas
Profitabilitas pada periode sebelumnya merupakan faktor penting dalam
penentuan struktur modal perusahaan. Memiliki laba ditahan yang besar,
maka akan digunakan perusahaan sebelum menggunakan utang. Sesuai
dengan pecking order theory bahwa manajer lebih senang menggunakan
pembiayaan dari laba ditahan, kemudian utang dan terakhir penjualan saham
baru.
e. Skala Perusahaan
Perusahaan besar yang well-established akan lebih mudah memperoleh
modal di pasar modal dibandingkan dengan perusahaan kecil. Kemudahan
akses tersebut membuat perusahaan besar memiliki fleksibilitas yang besar.
Bukti empiris menyatakan bahwa skala perusahaan berhubungan positif
dengan rasio antar utang dan nilai buku atau Debt to Book Value of Equity.
f. Kondisi interen dan kondisi ekonomi makro
Secara umum kondisi yang tepat untuk menjual obligasi atau saham adalah
ketika tingkat bunga pasar sedang rendah dan pasar sedang publish.
Perusahaan harus memberikan sinyal-sinyal dalam rangka memperkecil
informasi yang tidak simetris agar pasar dapat menghargai perusahaan secara
wajar.
Debt to Equity Ratio menunjukan persentase penyediaan dana oleh pemegang
saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah
pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif
kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan
semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
panjangnya. Semakin tinggi DER menunjukkan komposisi total hutang (jangka
pendek dan jangka panjang) semakin besar dibanding dengan total modal sendiri,
sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar
(kreditur). Meningkatnya beban terhadap kreditur menunjukkan sumber modal
perusahaan sangat tergantung dengan pihak luar. Selain itu besarnnya beban
hutang yang ditanggung perusahaan dapat mengurangi jumlah laba yang diterima
perusahaan.
Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada
dalam laporan keuangan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan (Kasmir, 2014:104).
Rasio profitabilitas dalam penelitian ini menggunakan ROA (Return on
Asset). ROA adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total
aktiva yang ada dan setelah biaya-biaya modal (biaya yang digunakan mendanai
aktiva) dikeluarkan dan dianalisis.
ROE adalah rasio yang menggunakan hubungan antara keuntungan setelah
pajak dengan modal sendiri yang digunakan perusahaan, yang dianggap sebagai
modal sendiri adalah saham biasa, agio saham, laba ditahan, sahan preferen, dan
cadangan-cadangan lain.
Struktur aktiva adalah struktur asset yang menggambarkan proporsi
antara total aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan dengan total aktiva
perusahaan.Manfaat struktur aktiva cukup besar terhadap suatu perusahaan.
Sebab semakin besar aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin
tinggi jumlah pendanaan yang didapat dari luar perusahaan.
ROA (X1)

ROE (X2) DER (Y)

TAN (X3)

III. METODE DAN HASIL PENELITIAN


Populasi
Populasi adalah wilayah yang terdiri atas obyek atau subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016).Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah terhadap perusahaan manufaktur sub sektor
food and beverages yang telah listing (terdaftar) di Bursa Efek Indonesia dalam
periode tahun 2013 sampai 2017.

Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi (Sugiyono, 2016). Dalam penelitian ini kriteria pengambilan sampel dipilih
6 perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages. Kriteria yang digunakan
dalam pengambilan sampel untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang terdaftar di


BEI pada tahun 2013-2017.
2. Perusahaan manufaktur sub sektor food and beverages yang terdaftar di
BEI yang memiliki kapitalisasi pasar diatas Rp. 13 T.
3. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan tahun 2013-2017 yang
lengkap dan sudah diaudit.
4. Perusahaan yang tidak termasuk dalam kategori BUMN.

Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics

Minimu Maximu
N m m Mean Std. Deviation

roa 30 .00 29.99 3.5680 6.89051

roe 30 .00 53.92 7.2927 14.72323

tan 30 .00 16.15 3.4587 4.42991


der 11.175
30 .00 111.12 23.03628
0

Valid N
30
(listwise)

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, nilai Struktur Modal (DER) tertinggi pada
perusahaan sektor food and beverages sebesar 47.94 sedangkan DER terendah
perusahaan food and beverages sebesar -25.95. Rata-rata (mean) dari DER
perusahaan sektor food and beverages sebesar 2.7760 Dan standar deviasi dari
DER perusahaan sektor food and beverages sebesar 18.31314.

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, nilai Return on Asset (ROA) tertinggi pada
perusahaan sektor food and beverages sebesar 4.56 sedangkan ROA terendah
perusahaan food and beverages sebesar 0.00. Rata-rata (mean) dari ROA
perusahaan sektor food and beverages sebesar 1.1460. Dan standar deviasi dari
ROA perusahaan sektor food and beverages sebesar 1.28475.
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, nilai Return on Equity (ROE) tertinggi pada
perusahaan sektor food and beverages sebesar 1.69 sedangkan ROE terendah
perusahaan food and beverages sebesar -3.92. Rata-rata (mean) dari ROE
perusahaan sektor food and beverages sebesar -0.6460 Dan standar deviasi dari
ROE perusahaan sektor food and beverages sebesar 1.65038.
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, nilai Struktur Aktiva (TAN) tertinggi pada
perusahaan sektor food and beverages sebesar 6.00 sedangkan TAN terendah
perusahaan food and beverages sebesar 11.36. Rata-rata (mean) dari TAN
perusahaan sektor food and beverages sebesar -1.6260 Dan standar deviasi dari
TAN perusahaan sektor food and beverages sebesar 5.45416.

Uji Asumsi Klasik


1. Uji Normalitas
Berdasarkan grafik diatas, diperoleh hasil bahwa titik-titik mendekati
garis diagonal yang artinya regresi berdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas

Collinearity Statistics

Tolerance VIF

.860 1.163
.897 1.115
.906 1.103
Dari hasil tabel diatas dapat diketahui bahwa untuk variabel ROA,ROE
dan TAN tidak terdapat nilai TOL yang kurang dari 0.10 dan tidak terdapat
nilai VIF variabel lebih dari 10. Maka dapat disimpulkan bahwa model
regresi dikatakan terbebas dari multikolinearitas.

3. Uji Heterokedastisitas

Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa titik-titik tersebar secara acak


sehingga bersifat homogen. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi yang digunakan.
4. Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of Durbin-


Model R R Square Square the Estimate Watson

1 .977a .954 .949 1.55557 2.214


Hasil uji DW pada tabel 4.7 menunjukkan nilai DW sebesar 2.214.
Apabila dibandingkan dengan tabel klasifikasi DW untuk ketentuan
autokorelasi, maka hasil perhitungan sebesar 2.214 berada pada range du <
dw < 4-du, du (k=3n=30) adalah 1.650. Dan nilai 4-du adalah 4-1.650 =
2.350 . Maka nilai DW (Durbin-Watson) ialah berada di du < dw < 4-
du.Maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian ini tidak terdapat
autokorelasi.

Analisis Regresi Linear Berganda

Persamaan regresi linear berganda adalah sebagai berikut:

Y(DER) = 0,174 + 0.456.ROA + 0.043.ROE + (-0.007).TAN

Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Nilai 0,174 merupakan nilai konstanta (a) yang menunjukkan


bahwa apabila tidak terdapat perubahan pada ROA,ROE dan TAN maka
nilai struktur modal adalah 0.174.
Nilai 0,456 merupakan koefisien regresi dari variabel ROA yang
menunjukkan apabila ROA meningkat satu satuan, maka nilai DER akan
mengalami kenaikan sebesar 0,456 dengan asumsi bahwa nilai variabel
independen lainnya tetap.
Nilai 0.043 merupakan koefisien regresi dari variabel ROE yang
menunjukkan apabila ROE meningkat satu satuan, maka nilai DER akan
mengalami penurunan sebesar 0,043 dengan asumsi bahwa nilai variabel
independen lainnya tetap.
Nilai -0.007 merupakan koefisien regresi dari variabel TAN yang
menunjukkan apabila TAN meningkat satu satuan, maka nilai DER akan
mengalami penurunan sebesar 0.007 dengan asumsi bahwa nilai variabel
independen lainnya tetap.

Uji Simultan F

Dari hasil perhitungan Ftabel tersebut maka dapat dibandigkan bahwa


Fhitung (181.003 > Ftabel (3.33) dan nilai signifikansi 0.000 < 0.05. Maka dapat
disimpulkan bahwa H1 diterima, artinya Return on Asset (ROA), Return on
Equity (ROE) dan struktur aktiva (TAN) secara serempak berpengaruh
signifikan terhdap struktur modal perusahaan (DER).

Uji T

Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan SPSS mmeperoleh hasil


nilai probabilitas variabel Return on Asset sebesar 0,000. Nilai probabilitas
variabel Return On Equity sebesar 0,534 dan nilai probabilitas variabel TAN
sebesar 0,580. Dilihat dari nilai probabilitasnya dapat disimpulkan bahwa
ROE dan TAN tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap struktur
modal perusahaan (DER). Sedangkan ROA memiliki pengaruh secara parsial
terhadap struktur modal perusahaan (DER).

Uji Koefisien Determinasi

Hasil pengujian koefisien regresi menunjukkan bahwa koefisien


determinasi (R2) sebesar 0.949 atau 94.9%. Jadi dapat dikatakan bahwa
94.9% Struktur modal dipengaruhi oleh ROA,ROE dan TAN. Sedangkan
sisanya 5.1% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini.

IV. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

Dari analisis dan pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi struktur


modal di atas, maka pembahasan yang dapat dijelaskan oleh penulis adalah
sebagai berikut: Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa
secara parsial ROA memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal. Hal
ini menunjukkan bahwa apabila laba usaha meningkat maka akan dapat
meningkatkan jumlah modal yang dimiliki oleh perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh


Primantara dan Dewi (2016) yang menyatakan bahwa ROA memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap struktur modal (DER).

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa secara parsial ROE


tidak memiliki pengaruh terhadap struktur modal. Hal ini dapat terjadi karena,
return on equity (ROE) sebagai salah satu rasio profitabilitas yang digunakan
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan akan
mempengaruhi struktur modal perusahaan berupa sumber dana internal yang
tinggi. Dimana perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari
dalam atau pendanaan internal dari pada pendanaan eksternal(utang). Sehingga,
dapat dikatakan bahwa ROE tidak mempengaruhi struktur modal(DER) suatu
perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra
dan Kesuma (2012) yang mengatakan bahwa Return on Equity (ROE) tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa secara parsial TAN


tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini
terjadi dilihat dari pemilihan jenis aktiva oleh perusahaan. Aktiva tetap
merupakan modal sendiri bagi perusahaan, dengan adanya aktiva tetap yang
banyak maka perusahaan akan memiiki sumber pendanaan internal yang tinggi.
Sehingga, akan mengurangi pendanaan dari utang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Septianne dan Handayani (2011) yang menyatakan bahwa struktur aktiva (TAN)
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal (DER).

Berdasarkan hasil penelitian di atas, terlihat bahwa ROA,ROE dan TAN


secara simultan berpegaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini
dapat dilihat dari hasil pengujian F yang menyatakan bahwa nilai Fhitung untuk
variabel ROA,ROE dan TAN secara simultan sebesar 5.879 dan nilai signifikansi
sebesar 0.032. Dengan demikian penelitian ini dapat membuktikan bahwa Return
on Asset (ROA), Return on Equity (ROE) dan struktur aktiva (TAN) secara
simultan berpengaruh terhadap struktur modal (DER) perusahaan manufaktur sub
sektor food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-
2017.

Hasil uji adjusted R2 pada penelitian ini sebesar 0.949. Hal ini
menunjukkan bahwa struktur modal (DER) perusahaan manufaktur sub sektor
food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017
dipengaruhi oleh Return on Asset, Return on Equity dan struktur aktiva (TAN)
sebesar 94.9 % dan sisanya 5.1 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
diteliti didalam penelitian ini.

Referensi

Aditya, J. (2006). Studi Empiris Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pda
Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta Periode Tahun 2000-2003. Yogyakarta:
Skripsi Universitas Islam Indonesia.

Brigham dan Houston. (1998). Fundamental of Financial Management, Terjemahan


Dodo Soeharto dan Herman Wibowo, Edisi VIII, Buku I, PT. Golra Aksara
Pratama. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Brigham dan Houston. (2011). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba


Empat.

Dermawan dan Sjahrial. (2008). Manajemen Keuangan. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Fahmi, I. (2014). Pengantar Manajemen Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Fraser dan Ormiston. (2004). Memahami Laporan Keuangan. Jakarta: PT.Indeks.

Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program IBM SPSS23 (Edisi 8),
Cetakan ke VIII. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program IBM SPSS23 (Edisi 8),
Cetakan ke VIII. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gitman dan Zutter. (2012). Principal of Managerial Finance, 13th Edition Global
Edition: Pearson Education Limited.

Harmono. (2011). Manajemen Keuangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Horne dan Wachowitz. (2005). Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan (Fundamental of


Financial Management), Edisi 12, Diterjemahkan oleh: Dewi Fitriasari. Jakarta:
Salemba Empat.

Horne, James C. Van dan John M. Wachowitz. (2012). Prinsip-Prinsip Manajemen


Keuangan, Edisi 13. Jakarta: Salemba Empat.

https://www.sahamok.com/emiten/sektor-industri-barang-konsumsi/sub-sektor-makanan-
minuman/

https://www.sahamok.com/bei/lq-45/saham-lq-45).

Husnan dan Pudjiastuti. (2012). Manajemen Keuangan, Edisi Keenam. Jakarta: UPP
STIM YKPN.

Indriantoro dan Supomo. (2010). Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan
Manajemen, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Irawati, S. (2006). Manajemen Keuangan. Bandung: Pustaka.

Kasmir. (2014). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Primantara dan Dewi. (2016). Menentukan Struktur Modal Perusahaan Manufaktur di


Bursa Efek Indonesia. Struktur Modal.

R.Sartono, A. (2010 ). Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi, Edisi keempat. Hal
248-249. Yogyakarta: BPFE.

Rahardjo, B. (2009). Laporan Keuangan Perusahaan, Edisi Kedua. Yogyakarta:


GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS.

Riyanto, B. (1997). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.

Riyanto, B. (2010). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.

Setiawan, B. (2013). Menganalisis Statistik Bisnis dan Ekonomi dengan SPSS 21.
Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Subramanyam dan John J. Wild. (2014). Analisis Laporan Keuangan, Penerjemah : Dewi
Y. Jakarta: Salemba Empat.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT.
Alfabet.
Tjiptono dan Fakhrudin. (2012). Pasar Modal di Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta:
Salemba Empat.

Wild, J. (2005). Analisis Laporan Keuangan, Edisi 8, oleh : Yanivi S.Bachtiar. Jakarta:
Salemba Empat.

https://www.sahamok.com/bei/lq-45/saham-lq-45).