You are on page 1of 18

Pendahuluan

Kulit adalah organ tubuh terbesar, terhitung sekitar 15% dari total berat badan
orang dewasa. Kulit memiliki banyak fungsi penting, termasuk perlindungan terhadap
gangguan fisik, kimia, dan biologis eksternal, serta pencegahan kelebihan kehilangan
air dari tubuh dan peran dalam termoregulasi.
Sistem integumentary dibentuk oleh kulit dan struktur turunannya. Kulit terdiri
dari tiga lapisan:
1. Epidermis
2. Dermis
3. Jaringan subkutan
Tingkat paling luar, epidermis, terdiri dari konstelasi sel khusus yang dikenal
sebagai keratinosit, yang berfungsi untuk mensintesis keratin, protein panjang seperti
benang dengan yang berfungsi sebagai pelindung.
Lapisan tengah, dermis, pada dasarnya terdiri dari protein struktural fibrilar
yang dikenal sebagai kolagen. Dermis terletak pada jaringan subkutan, atau panniculus,
yang mengandung lobus kecil sel lemak yang dikenal sebagai liposit. Ketebalan
lapisan-lapisan ini sangat bervariasi, tergantung pada lokasi geografis pada anatomi
tubuh. Kelopak mata, misalnya, memiliki lapisan epidermis paling tipis, berukuran
kurang dari 0,1 mm, sedangkan telapak tangan dan kaki memiliki lapisan epidermis
paling tebal, berukuran sekitar 1,5 mm. Dermis paling tebal di punggung, di mana itu
30-40 kali lebih tebal dari epidermis atasnya

1
Epidermis adalah lapisan epitel skuamosa berlapis yang terutama terdiri dari
dua jenis sel: keratinosit dan sel dendritik. Keratinosit berbeda dari sel dendritik
"jernih" dengan memiliki jembatan interselular dan sitoplasma stainable yang banyak.
Epidermis menampung sejumlah populasi sel lain, seperti melanosit, sel Langerhans,
dan sel Merkel, tetapi jenis sel keratinosit terdiri dari sebagian besar sel sejauh ini.
Epidermis biasanya dibagi menjadi empat lapisan sesuai dengan morfologi
keratinosit dan posisi ketika mereka berdiferensiasi menjadi sel-sel terangsang,
termasuk lapisan sel basal (stratum germinativum), lapisan sel skuamosa (stratum
spinosum), lapisan sel granular (stratum granulosum), dan lapisan sel cornified atau
horny (stratum corneum). Tiga lapisan bawah yang membentuk sel-sel epidermis yang
hidup dan berinti kadang-kadang disebut sebagai stratum malpighii dan rete malpighii.
Epidermis adalah lapisan yang terus diperbarui dan memunculkan struktur
turunan, seperti pilosebaceous, kuku, dan kelenjar keringat. Sel-sel basal epidermis
menjalani siklus proliferasi yang menyediakan pembaruan epidermis luar. Epidermis
adalah jaringan dinamis di mana sel-sel secara konstan dalam gerakan yang tidak
sinkron, karena perbedaan populasi sel melewati tidak hanya satu sama lain tetapi juga
melanosit dan sel Langerhans ketika mereka bergerak menuju permukaan kulit.
Setidaknya 80% sel dalam epidermis adalah keratinosit yang diturunkan secara
ektodermal. Proses diferensiasi yang terjadi ketika sel bermigrasi dari lapisan basal ke
permukaan kulit menghasilkan keratinisasi, suatu proses di mana keratinosit pertama
kali melewati sintetis dan kemudian fase degradatif. Dalam fase sintetis, sel
membangun suplai sitoplasma keratin, filamen antara berserat yang diatur dalam pola
koil alfa-heliks yang berfungsi sebagai bagian dari sitoskeleton sel.
Bundel filamen keratin ini bertemu dan berakhir pada membran plasma yang
membentuk pelat perlekatan antar sel yang dikenal sebagai desmosom. Selama fase
degradasi keratinisasi, organel seluler hilang, isi sel dikonsolidasikan ke dalam
campuran filamen dan amplop sel amorf, dan sel akhirnya dikenal sebagai sel horny
atau corneocyte. Proses pematangan yang mengakibatkan kematian sel dikenal sebagai
diferensiasi terminal
Lapisan basal, juga dikenal sebagai stratum germinativum, mengandung
keratinosit berbentuk kolom yang menempel pada zona membran basement dengan
sumbu panjang tegak lurus terhadap dermis. Sel-sel basal ini membentuk satu lapisan
dan melekat satu sama lain serta sel skuamosa yang lebih dangkal melalui
persimpangan desmosomal. Ciri-ciri pembeda lain dari sel-sel basal adalah oval atau
nuklei memanjangnya yang berwarna gelap dan adanya pigmen melanin yang
ditransfer dari melanosit yang berdampingan.

2
Lapisan basal adalah lokasi utama sel-sel aktif mitosis dalam epidermis yang
menimbulkan sel-sel lapisan epidermis luar. Namun, tidak semua sel basal memiliki
potensi untuk membelah. Sel punca epidermis pada lapisan basal adalah sel klonogenik
dengan umur panjang yang berkembang melalui siklus sel dengan sangat lambat dalam
kondisi normal. Kondisi hiperplasiogenik, seperti luka, dapat meningkatkan jumlah
siklus sel dalam epidermis dengan merangsang pembelahan sel induk. Kerusakan DNA
yang disebabkan oleh agen karsinogenik dapat mengubah mesin proliferasi sel dan juga
dapat mempengaruhi tingkat pembelahan sel. Migrasi sel basal dari lapisan basal ke
lapisan cornified pada manusia membutuhkan setidaknya 14 hari, dan transit melalui
lapisan cornified ke epidermis terluar membutuhkan 14 hari lagi.
Kanker sel basal adalah neoplasma ganas yang jarang bermetastasis, berasal
berasal dari lapisan basal epidermis dan apendiksnya.1 Secara histopatologis karsinoma
sel basal ditandai oleh sel yang mirip dengan benih embrio rambut.1 Jumlah karsinoma
sel basal sekitar 75 % dari semua kanker kulit. Angka kematiannya sangat rendah,
tetapi karsinoma sel basal kadang tumbuh secara agresif menyebabkan destruksi
jaringan yang luas.2 Karsinoma sel basal dapat terjadi pada orang tua namun semakin
sering terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun.3
Saat ini kanker kulit cenderung mengalami peningkatan di seluruh dunia. Salah
satu kanker kulit yang mengalami peningkatan tersebut adalah kanker sel basal.
Karsinoma sel basal dihubungkan dengan predisposisi genetik, lingkungan, dan
paparan sinar matahari, khususnya ultraviolet B (UVB).4
Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), karsinoma sel basal
bagi dokter umum adalah kompetensi 2. Dengan demikian dokter umum harus mampu
mendiagnosis dan merujuk pasien dengan karsinoma sel basal. Karsinoma sel basal
jarang menimbulkan metastasis tetapi karsinoma sel basal bersifat destruktif, merusak
jaringan kulit, tulang rawan hingga tulang di sekitarnya, maka deteksi dini diperlukan
untuk mencegah terjadinya karsinoma sel basal. Pada referat ini akan dibahas mengenai
definisi, epidemiologi, etiopatogenesis, manifestasi klinis, histopatologi, diagnosis,
penatalaksanaan, pencegahan, edukasi dan prognosis karsinoma sel basal. Diharapkan
melalui referat ini akan meningkatkan pemahaman mengenai karsinoma sel basal,
sehingga cepat dilakukan deteksi dan pencegahan perkembangan keganasan kanker
kulit terkhususnya karsinoma sel basal.

3
Definisi
Karsinoma sel basal merupakan keganasan kulit yang berasal dari sel non
keratin lapisan basal epidermis. Nama lain Karsinoma Sel Basal (KSB) disebut juga
basalioma, epitelioma sel basal, ulkus rodent, ulkus Jacob, atau tumor Komprecher.2

Epidemiologi
Karsinoma sel basal umum dijumpai di masyarakat. Jumlah karsinoma sel basal
sekitar 75 % dari semua kanker kulit. Berdasarkan data epidemiologi menunjukkan
bahwa keseluruhan insiden meningkat secara signifikan di seluruh dunia sebesar 3%-
10% per tahun. Karsinoma sel basal biasa terjadi pada orang tua namun semakin sering
terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun.2 Karsinoma sel basal terutama
terdapat pada ras Kaukasoid, menyerang terutama pada lanjut usia (lansia), dengan
jumlah rasio laki-laki lebih banyak dari pada perempuan 2:1, sedangkan di Malaysia
dan Singapura, rasio laki-laki dibandingkan dengan perempuan hampir sama.
Penelitian retrospektif di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (IKKK) – RSUP
M. Hoesin Palembang, didapatkan adanya peningkatan insiden karsinoma sel basal
primer. Penelitian Toruan TL dkk. (2000), mendapatkan 20 kasus (0,042%) karsinoma
sel basal primer, sedangkan Yahya YF dkk. pada tahun (2008) mendapatkan 47 pasien
(0,11%) karsinoma sel basal primer .5 Faktor risiko terjadinya karsinoma sel basal yaitu
paparan sinar ultraviolet, rambut dan mata yang berwarna terang, keturunan Eropa
Utara dan ketidakmampuan untuk berjemur.2

Etiopatogenesis
Etiopatogenesis karsinoma sel basal adalah predisposisi genetik, lingkungan,
dan paparan sinar matahari, khususnya ultraviolet B (UVB) yang merangsang
terjadinya mutasi suppressor genes. Radiasi UVB merusak DNA dan memengaruhi
sistem imun sehingga menghasilkan perubahan progresif genetik dan keganasan. Sinar
ultraviolet menginduksi mutasi pada gen penghambat tumor p53 telah ditemukan pada
sekitar 50% kasus karsinoma sel basal.2,3,6
Faktor genetik yang berperan terdapat pada kromosom 1 dan satu varian dari
setiap kromosom 5, 7, 9, dan 12. Varian kromosom tersebut diketahui berhubungan
dengan ketidakmampuan dalam proteksi terhadap paparan sinar matahari, yang
mungkin berhubungan dengan faktor risiko tambahan terhadap paparan sinar matahari
yang bersifat heterozigot. Kelainan genetik yang bersifat homozigot terutama
berhubungan dengan pengaturan sonic hedgehog pathway signaling, paling sering
terjadi pada sindrom nevoid karsinoma sel basal atau sindrom Gorlin. Hedgehog
pathway (HP) aktif pada perkembangan fetus dan akan berhenti bila jaringan sudah
dewasa. Pada kasus-kasus karsinoma terjadi pengaktifan HP kembali dan ditemukan di
PTCH1 dan Smoothened (SMO). Mutasi yang paling sering diidentifikasi pada PTCH1
dan SMO merupakan dari jenis yang konsisten dengan kerusakan akibat sinar

4
ultraviolet.2,3,6 Faktor lingkungan yang diketahui dapat memicu terjadinya karsinoma
sel basal adalah hidrokarbon, arsenik, batubara, aspal, obat topikal methoxipsoralen,
dan sinar UV. Rangsangan onkogen, kondisi imunosupresif, luka kronis, dan trauma
akut juga terbukti sebagai faktor pencetus timbulnya kanker kulit, memicu
pertumbuhan keratinosit menjadi lesi seperti karsinoma sel basal.10 Efek radiasi sinar
ultraviolet terhadap kulit dapat bersifat akut dan kronik. Secara klinis, efek akut dari
radiasi UV adalah sunburn inflammation, eritema, nyeri, panas, tanning sintesis
melanin, imunosupresif lokal dan efek sistemik. 3,6
Kerusakan DNA yang terjadi akibat pembentukan 6,4-photoproducts seperti
cyclobutane pyrimidine dimmers, diperbaiki dengan nucleotide excision repair (NER).
Jika perbaikan DNA gagal dan sel yang bersangkutan tetap hidup, akan terjadi
kerusakan DNA menetap, berarti telah terjadi mutasi gen yang bersangkutan. Radiasi
UV-B meningkatkan apoptosis keratinosit untuk membunuh sel yang kerusakan DNA-
nya gagal diperbaiki terutama pada daerah yang aktif mengalami proliferasi pada
lapisan basal epidermis, sehingga kejadian mutasi oleh radiasi UV-B tidaklah mudah
terjadi. Jika mutasi ini mengenai gen yang menyandi sintesis faktor pertumbuhan
(protoonkogen) atau yang menyandi sintesis faktor penghambat pertumbuhan (tumor
supressor gene), maka karsinogenesis sudah berlangsung.2
Sinar UV yang secara kronik mengenai sel induk kulit menyebabkan
photoaging, imunosupresi, dan fotokarsinogen. Fotokarsinogen melibatkan
pembentukan foto produk yang merusak DNA. Jika perbaikan DNA gagal, maka akan
terjadi mutasi protoonkogen menjadi onkogen atau inaktivasi gen penghambat kanker.
Akumulasi mutasi akibat fotokarsinogen termasuk penghapusan genetik menyebabkan
tidak aktifnya gen penghambat kanker yang menyandi pembentukan protein
penghambat proliferasi sel. Akumulasi mutasi gen inilah yang berperan dalam memicu
terjadinya karsinoma sel basal. 3,6

Gambaran Klinis
Berdasarkan patologi klinis, karsinoma sel basal memiliki sifat pertumbuhan
yang berbeda, yaitu sebagai berikut:7
1. Nodul: Kista, berpigmen, keratosis; jenis karsinoma sel basal yang paling
sering dijumpai; biasanya muncul sebagai papul, berbentuk seperti mutiara,
berwarna serupa kulit dengan telangiektasis.
2. Infiltratif: tumor yang menginfiltrasi dermis di untaian tipis antara serat
kolagen, membuat tepi kanker kurang terlihat.
3. Mikronodular: tidak mudah terjadi ulserasi; ketika diregangkan muncul warna
putih-kuning, memiliki tepi yang berbatas tegas.
4. Morpheaform: Terlihat seperti putih atau kuning, lunak, plak sklerotik yang
jarang terjadi ulserasi; datar atau sedikit menurun, fibrotik dan berbatas tegas

5
5. Superfisial: Dapat dijumpai pada tubuh bagian atas atau bahu; secara klinis
terlihat eritem, patch atau plak, sering dengan skala keputihan.

 Karsinoma sel basal nodular (solid)


Karsinoma sel basal nodular terdiri dari 50%-80% dari semua karsinoma sel
basal. Biasanya terjadi pada area yang terpapar sinar matahari seperti kepala dan leher.
Lesi biasanya ditemukan di hidung (25%-30%), dahi, telinga, area periocular, dan pipi.
Karsinoma sel basal nodular terdiri atas satu atau beberapa kecil, waxy, nodul semi
transparan, terbentuk di sekitar depresi sentral yang dapat atau tidak dapat terjadi
ulserasi, krusta, dan berdarah. Tepi dari lesi memiliki karakteristik rolled border.
Telangiektasis melewati lesi tersebut. Perdarahan pada luka ringan merupakan tanda
umum. 1,3,6
Sebagai kemajuan pertumbuhan, krusta muncul di atas erosi atau ulkus sentral, dan
ketika krusta lepas, perdarahan terjadi dan ulkus menjadi terlihat jelas. Ulkus ini
ditandai dengan pembesaran kronik dan bertahap dari waktu ke waktu. Lesi tersebut
asimptomatik dan perdarahan satu-satunya kesulitan yang dihadapi. Karsinoma sel
basal tipe nodular seperti terlihat pada gambar 1. 3,6

Gambar 1. Karsinoma sel basal, tipe nodular6

 Karsinoma sel basal infiltratif


Karsinoma sel basal infiltratif merupakan subtipe agresif yang ditandai oleh
infiltrasi dalam dari spiky islands epitel basaloid di stroma kaya fibroblas. Karsinoma
sel basal infiltratif terdiri atas untai kecil sel kanker basaloid, yang mungkin hanya satu
sampai dua lapisan sel tebal, seperti terlihat pada gambar 2. 3,6

6
Gambar 2. Lesi infiltrat dengan tepi dan ukuran ireguler di daerah dahi laki-laki usia
76 tahun8

 Karsinoma sel basal mikronodular


Karsinoma sel basal mikronodular menunjukkan nodul sel kanker yang lebih
kecil dibandingkan dengan karsinoma sel basal nodular. Karsinoma sel basal
mikronodular seperti terlihat pada gambar 3. Kanker ini tidak khas secara klinis, namun
pola pertumbuhan mikronodular membuat karsinoma sel basal mikronodular tidak
dapat dikuretase.3,6

Gambar 3. Karsinoma sel basal mikronodular8

 Karsinoma sel basal morpheaform


Karsinoma sel basal morpheaform adalah variasi pertumbuhan agresif
karsinoma sel basal dengan perbedaan klinis dan penampilan histologi. Lesi karsinoma
sel basal morpheaform berwarna putih gading dan menyerupai jaringan parut atau lesi
kecil morphea. Karsinoma sel basal morpheaform 95% terjadi di kepala dan leher.
Tidak terdapat ulserasi, pearly rolled border, krusta, namun terdapat telangiektasi,
seperti terlihat pada gambar 4.3,6

7
Gambar 4. Karsinoma sel basal morpheaform9

 Karsinoma sel basal superfisial


Karsinoma sel basal superfisial paling sering terjadi di badan (45%),
ekstremitas distal (14%), dan 40% terjadi di kepala dan leher. Karsinoma sel basal
superfisial paling sering terlihat kering, berbentuk seperti psoriasis, dan lesinya
bersisik. Biasanya pertumbuhan karsinoma sel basal superfisial datar dan dangkal, pada
beberapa kasus menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menginvasi atau menjadi
ulkus. Lesinya membesar sangat perlahan dan dapat salah didiagnosis sebagai patch
eksim atau psoriasis. Karsinoma sel basal superfisial dapat membesar dengan diameter
hingga 10-15 cm. Pemeriksaan pada tepi lesi akan terlihat thread-like raise border.
Plak eritem dengan telangiektasis kadang dapat memperlihatkan atrofi atau skar.
Beberapa lesi dapat masuk ke dermis yang lebih dalam. Ketika hal ini terjadi, hal
tersebut akan menyebabkan fibrosis dermis dan ulserasi multi fokal, membentuk “field
of fire” tipe karsinoma sel basal yang besar. Adakalanya lesi tersebut akan sembuh di
satu tempat, dengan skar atrofi putih dan kemudian menyebar secara aktif ke kulit lain.
Hal tersebut jarang terjadi pada pasien yang memiliki beberapa lesi secara bersamaan.
Bentuk karsinoma sel basal tersebut paling sering terjadi pada pasien HIV. 3

A B
Gambar 5. A. Titik- titik pada KSB superficial multisentris. B. Karsinoma sel
basal superfisial3,10

8
Histopatologi
Secara histopatologi karsinoma sel basal dibagi menjadi dua bagian besar,
yaitu: karsinoma sel basal yang tidak berdiferensiasi dan karsinoma sel basal yang
berdiferensiasi. Karsinoma sel basal yang tidak berdiferensiasi terdiri atas berbagai
variasi pertumbuhan, ada yang pertumbuhannya lambat seperti superficial BCC,
nodular BCC, dan micronodular BCC, ada pula yang tumbuh agresif seperti infiltrative
BCC, metatypical BCC (basosquamous carcinoma), morpheiform BCC (sclerosing
BCC). Karsinoma sel basal yang berdiferensiasi seperti keratotic BCC,
infundibulocystic BCC, follicular BCC, pleomorphic BCC, BCC with sweat duct
differentiation, BCC with sebaceous diff erentiation, fibroepithelioma of Pinkus, dan
recurrent BCC.4

 Karsinoma sel basal nodular


Secara klinis, karsinoma sel basal nodular paling sering ditandai dengan papul
berbentuk mutiara transparan atau nodul dengan rolled border dan telangiektasis.
Bentuk nodular karsinoma sel basal ditandai dengan discrete nests dari sel basaloid di
dermis papiler atau retikuler. 3,6

Gambar 6. Karsinoma sel basal nodular ditandai oleh nodul dari sel basofilik dan
penarikan stromal3

 Karsinoma sel basal berpigmen


Karsinoma sel basal berpigmen menunjukkan gambaran histologi yang mirip
dengan karsinoma sel basal nodular namun dengan penambahan melanin. Sekitar 75%
karsinoma sel basal mengandung melanosit, tetapi hanya 25% yang mengandung
melanin. Melanosit berpotongan antara sel tumor dan mengandung banyak sekali
butiran melanin di sitoplasma dan dendrit. Walaupun sel tumor mengandung sedikit
melanin, banyak sekali populasi melanofag mengelilingi stroma tumor.3,6

9
Gambar 7. Karsinoma sel basal berpigmen9

 Karsinoma sel basal superfisial


Karsinoma sel basal superfisial ditandai oleh tunas sel ganas membentang ke
dalam dermis dari lapisan dasar epidermis. Lapisan perifer menunjukkan sel palisade.

Gambar 8. Karsinoma sel basal superfisial. Beberapa sel basaloid terletak


subepidermal
dengan batas yang jelas dengan lapisan epidermis8

Mungkin ada atrofi epidermis, dan invasi kulit biasanya minimal. Terdapat infiltrat
inflamasi kronik pada dermis.3,6

 Karsinoma sel basal morpheaform


Karsinoma sel basal morpheaform, juga disebut infiltrative atau sclerosing
BCC, terdiri dari untaian sel tumor tertanam di dalam stroma berserat lebat. Sel tumor
berikatan dengan erat, pada beberapa kasus, hanya satu atau dua sel tebal terjerat dalam
stroma berserat padat kolagen. Untai tumor membentang ke dalam dermis. Kankernya
biasanya lebih besar daripada tampilan klinis.3,6

10
Gambar 9. Karsinoma sel basal morpheam terdiri atas untaian sel kanker tertanam
dalam stroma berserat padat3

 Fibroepithelioma of Pinkus
Untaian panjang sel basiloma terjalin pada stroma berserat dengan kolagen
yang melimpah. Secara histologi, fibroepithelioma of pinkus menunjukkan keratosis
seboroik retikulasi dan karsinoma sel basal superfisial. 3,6

Gambar 10. Fibroepithelioma of Pinkus. Trabekula memanjang dan bercabang dari


sel basaloid menyebar ke dermis8

 Karsinoma Basoskuamosa
Karsinoma Basoskuamosa menunjukkan infiltrasi jagged tongues sel tumor
bercampur dengan area lain menunjukkan formasi jembatan antar sel skuamosa dan
keratinisasi sitoplasma.6

Gambar 11. Karsinoma basoskuamosa9

11
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan
pemeriksaan histopatologi dari salah satu lesi untuk menentukan subtipe KSB.
Biasanya penderita KSB datang dengan keluhan bercak hitam di wajah mudah berdarah
dan tidak sembuh-sembuh, atau berupa tahi lalat yang bertambah besar dengan
permukaan tidak rata, dan biasanya terdapat riwayat trauma, serta dapat disertai dengan
rasa gatal atau nyeri. Idealnya dilakukan pemeriksaan histopatologi lesi. Pemeriksaan
penunjang seperti CT scan atau MRI diperlukan jika ada kecurigaan mengenai tulang
atau jaringan lainnya.4
Diagnosis karsinoma sel basal dapat dicapai dengan interpretasi akurat dari
hasil biopsi kulit. Metode biopsy yang dianjurkan adalah shave biopsy, biasanya sudah
cukup, dan punch biopsy. Penggunaan silet yang disterilkan, yang dapat dimanipulasi
dengan baik oleh operator untuk mengatur kedalaman saat akan mengambil spesimen,
lebih sering dilakukan dibandingkan penggunaan skalpel no.15. Punch biopsy
dilakukan pada pemeriksaan lesi datar dari varian klinis KSB morfoik atau KSB
berulang yang terjadi di dalam jaringan parut.3

Diagnosis Banding
A. Karsinoma Sel Skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah suatu proliferasi ganas dari keratinosit
epidermis yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah
satu dari kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Faktor predisposisi
karsinoma sel skuamosa antara lain radiasi sinar ultraviolet bahan karsinogen, arsenic
dan lain-lain. Umur yang paling sering ialah 40 – 50 tahun (dekade V-VI) dengan
lokalisasi yang tesering di tungkai bawah dan secraa umum ditemukan lebih banyak
pada laki – laki daripada wanita. Tumor ini tumbuh lambat, merusak jaringan setempat
dengan kecil kemungkinan bermetastasis. Sebaliknya tumor ini dapat pula tumbuh
cepat, merusak jaringan di sekitarnya dan bermetasis jauh, umumnya melalui saluran
getah bening.12

A B

12
Gambar 12. A. Predileksi Karsinoma Sel Skuamosa B. Karsinoma Sel Skuamosa In
Situ
(Bowen Disease)
B. Melanocytic naevi (Nevus Pigmentosus)
Nevus Pigmentosus merupakan tumor jinak pada kulit yang berasal dari
proliferasi dari sel krista neural. Tumor jinak ini memiliki predileksi pada kulit wajah
dan badann lainnya. Gambaran klinik Melanocytic naevi: papul berbatas tegas dan
berkilat, umumnya berambut. Atas dasar histopatologik ditemukan bentuk:
1. intradermal
2. nevus verukosus
3. blue nevus
4. compound nevus
5. junctional nevus12

Gambar 13. Junctional Melanocytic Naevi

C. Melanoma Maligna
Melanoma maligna adalah tumor kulit yang ganas yang paling berbahaya.
Melanoma, yang berbeda dengan melanoma maligna lentigo, terjadi pada usia muda
daripada kanker kulit yang lain. Insiden tumor meningkat dengan cepat, bahkan di
daerah yang beriklim sedang, mungkin akibat dari peningkatan paparan sinar matahai
secara intermitan, yang saat ini sedang menjadi mode. Etiologinya belum diketahui
pasti. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan , selain faktor keganasan ada umumnya
ialah iritasi yang berulang pada tahi lalat. Faktor herediter mungkin memegang peranan
dan perlu diperhatikan lebih teliti.
Bentuk dini sangat sulit dibedakan denngan tumor lainnya. Karena melanoma
malignan merupakan penyakit yang fatal bila telah metastasis jauh, maka kemampuan
untuk mengenali keganasan perlu diperdalam. Lokalisasi dilaporkan terbanyak di
ekstremitas bawah, kemudian di daerah badan, kepala/leher ekstremitas atas, kuku.
Berdasakan perjalanan penyakit, gambaran klinis dan histogenesis oleh Clark dan
Mihm melanoma maligna dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Bentuk superficial
2. Bentuk Nodular

13
3. Lentigo maligna melanoma12

Gambar 14. Melanoma Maligna bentuk nodular

D. Trichoepitelioma
Merupakan tumor jinak kulit yang berasal dari folikel rambut. Predileksinya
biasanya pada kulit wajah dan badan. Manifestasi klinisnya berupa papul – papul
cokelat dengan telangektasis, berukuran miliar higga lentikuler. Anjuran terapi
biasanya dengan bedah listrik.12

Gambar 15. Trichoepitelioma

Tatalaksana
Pemilihan tatalaksana KSB dipertimbangkan berdasarkan lokasi anatomis dan
gambaran histopatologi. Secara garis besar, terapi KSB dikelompokkan menjadi teknik
bedah dan non-bedah. Tujuan dari penatalaksanaan KSB adalah menghilangkan total
lesi KSB, menjaga jaringan normal, fungsi jaringan, serta mendapatkan hasil optimal
secara kosmetik.
Pendekatan meliputi eksisi bedah standar, bedah mikrografik Mohs (MMS),
dan kemoterapi topikal. Kesempatan terbaik untuk mencapai pengobatan adalah
melalui penatalaksanaan yang adekuat pada karsinoma sel basal primer, karena tumor
yang kembali lagi cenderung berulang dan menyebabkan kerusakan lokal lebih lanjut.3
Pengobatan topikal muncul menjadi yang paling efektif pada pengobatan
karsinoma sel basal superfisial. Penggunaan 5-Fluorouracil (5-FU) untuk terapi

14
karsinoma sel basal seharusnya dipertimbangkan dengan seksama dan harus disertakan
evaluasi risiko rekurensi dan kegagalan terapi. Sedangkan pada penggunaan
imiquimod secara umum efek samping terhadap reaksi kulit lokal terbatas. Keamanan
dan efektivitas imiquimod untuk jenis karsinoma sel basal lain belum ditetapkan.
Imiquimod dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal hanya untuk karsinoma sel
basal superfisial terbatas untuk tumor kecil pada lokasi yang memiliki resiko kecil pada
pasien yang tidak mau atau tidak dapat menjalani terapi dengan terapi yang lebih
disarankan. Terapi fotodinamik juga muncul sebagai salah satu pilihan terapi untuk
karsinoma sel basal. Pada terapi fotodinamik pasien harus dimonitor ketat selama 2-3
tahun pertama setelah terapi fotodinamik, yaitu saat sebagian besar lesi kambuh
terlihat. Hasil kosmetik pada terapi fotodinamik secara signifikan lebih baik daripada
pembedahan, namun pada terapi fotodinamik memerlukan jumlah kunjungan di rumah
sakit dan hal tersebut mungkin tidak sesuai dengan semua orang dengan karsinoma sel
basal.3,4,6

Tabel 2. Algoritma untuk tatalaksana karsinoma sel basal6

Primary Rekuren

Pertumbuhan Pertumbuhan Lokasi tumor di Ukuran


tumor tidak tumor agresif canthus, lipatan berapapun
agresif di badan pada badan atau nasolabial, atau dilokasi
atau ekstremitas ekstremitas periorbital atau manapun
area postauricular

Eksisi Eksisi atau Bedah Mohs


atau operasi mikrografik
ED&C operasi mohs
mikrografik

15
Pencegahan dan Edukasi
Edukasi pasien yang memadai penting untuk mencegah kekambuhan dan
penyebaran karsinoma sel basal. Pasien harus menghindari faktor risiko, contohnya
paparan sinar matahari, radiasi ion, konsumsi arsenik, dan berjemur. Penggunaan
pakaian yang melindungi dari sinar matahari seperti topi yang lebar, baju panjang,
kacamata dengan proteksi sinar ultraviolet sangat direkomendasikan ketika beraktivitas
di luar rumah. Pasien tidak boleh terpapar sinar matahari khususnya selama tengah hari
(pukul 11.00 sd 15.00). 4
Penggunaan tabir surya dan aplikasi ulang tabir surya direkomendasikan
sebelum terkena sinar matahari. Tabir surya harus diaplikasikan secara menyeluruh,
20-30 menit sebelum beraktivitas keluar rumah, dan diaplikasikan kembali setiap 2
jam, lebih sering ketika berenang atau berkeringat.2,4
American Cancer Society menganjurkan agar memeriksakan kulit ke dokter
setiap tiga tahun bagi usia 20-39 tahun dan setiap tahun bagi usia di atas 40 tahun.
Selain itu, dapat juga dilakukan Periksa Kulit Sendiri (SAKURI), yaitu metode
pemeriksaan kulit mandiri yang rutin dilakukan sebulan sekali dalam rangka
mendeteksi dini kanker kulit. Dengan pencahayaan yang cukup.2,4

Gambar 12 . Pemeriksaan Kulit Sendiri11

Prognosis
Prognosis penderita karsinoma sel basal umumnya baik. Angka kekambuhan
karsinoma sel basal hanya 1% jika diterapi dengan tepat. Pasien harus tetap di-follow
up untuk kekambuhan atau lesi karsinoma sel basal baru. Edukasi penderita penting
agar melakukan pemeriksaan kulit periodik dan menghindari segala faktor risiko.
Perlindungan terhadap paparan sinar matahari dianjurkan untuk setiap pasien dengan
riwayat karsinoma sel basal.4

16
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis pada karsinoma sel
basal. Pada karsinoma sel basal apabila ukuran tumor >20 mm, tumor berada di wajah
bagian tengah, periocular, nasal, telinga, dan bibir, tepi lesi tidak dapat ditentukan
secara klinis, penyakit berulang, gambaran histologi berupa morpheic/infiltratif,
mikronodular, basoskuamosa dan terjadi invasi ke pembuluh darah atau perineural
akan meningkatkan resiko pada karsinoma sel basal.1

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Kinghorn GR, Brings , Gupta NK. Bacal cell carcinoma. In: Griffiths C, Barker
J, Bleiker T, Chalmers R, Creamer D, eds. Rook’s Textbook of Dermatology.
Vol. 4. 8th ed. Oxford:Wiley Blackwell 2016. p.52.18-52.23
2. Pramuningtyas R, Muwardi P. Gejala Klinis sebagai Prediktor pada Karsinoma
Sel Basal. Vol. 4 No. 1 2012;p.33-36
3. Duncan KO, Geisse JK, Leffell DJ. Basal Cell Carcinoma. In: Wolff K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, eds. Fitzpatrick's
Dermatology In General Medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill 2012;.1295-
1303
4. Sukmawati TT, Reginata G. Diagnosis dan Tatalaksana Karsinoma Sel Basal.
2015. 42 (12): hal. 897-900
5. Yahya YF, Toruan. Profil Karsinoma Sel Basal Primer Palembang. Jakarta:
Media Sermato-Venerologica Indonesiana. 2011. 38 (2): hal. 61-111
6. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews’ Diseases of the Skin: Clinical
Dermatology, 12th ed. Chicago:Saunder-Elseviers 2015;p.633-637
7. Alter M, Hillen U, Leiter U, et.al. Current Diagnosis and Treatment Basal Cell
Carcinoma. Journal of German Sociaty of Dermatology. 2015;p.863-875
8. Dormishev AL, Rusinova D, Botev I. Clinical variants, stages, and Management
Basal Cell Carcinoma. Indian Dermatology Online Journal. Vol. 4 2013;p 12-18
9. Wysocka MM, Dmochowska MB, Weklar DS. Basal Cell Carcinoma-Diagnosis.
Contemp Oncol 17 (4):337-342
10. Wolff K, Johnson AR, Saavedra A. Fitzpatrick’s Color atlas dan sypnosis of
clinical dermatology. 7th Ed McGraw Hill;2013
11. Sukmawati TT, Ghaznawie M, Reginata G. Deteksi Dini Karsinoma Sel Basal.
Indonesia Journal of Cancer. 2015. 10 (2): hal.61-66
12. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Ed ke-6. Jakarta: Fakultas
kedokteran universitas Indonesia: 2011.p.229-41.

18