You are on page 1of 3

Kanker

A. Faktor yang mempegaruhi kepatuhan pasien pederita kanker


Kanker dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur, dan
jenis kelamin. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa tak luput dari serangan kanker. Begitu pula
dengan pria dan wanita dapat teserang penyakit yang paling banyak ditakuti ini. Namun, dari
data yang ada kaum wanita paling banyak terkena kanker. Penyakit ini sebenamya timbul akibat
kondisi fisik yang tidak normal Berta pola makan dan pola hidup yang tidak sehat, meskipun
kanker diketahui bisa diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Kaum wanita cukup rentan
terhadap serangan kanker, terutama organ reproduksi seperti rahim, indung telur dan vagina.
Bagi wanita, penyakit, ini menjadi momok yang menakutkan. Factor yang mempengaruhi
kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi adalah factor psikologis. Ada tiga fase reaksi
emosional penderita kanker ketika mengetahui bahwa penyakit yang dideritanya sudah stadium
lanjut.
1. Fase pertama, penderita kankerakan merasakan shock mental ketika dirinya diberitahu
tentang penyakitnya, yaitu kanker
2. Fase kedua, penderita kanker akan diliputi rasa takut dan depresi
3. Fase ketiga, akan muncul reaksi penolakan dan kemurungan, tidak yakin bahwa dirinya
menderita kanker
Terkadang penderita kanker menjadi panik dan melakukan hal-hal yang tidak berarti
dan sia-sia. Setelah fase ini berlalu, pada akhirnya penderita kanker akan sadar dan
menerima kenyataan bahwa jalan hidupnya telah berubah (Rahma,2011).

B. Penanganan masalah psikologi pada penderita kanker


1. Dukungan Keluarga Berdasarkan Emosional
Penderita kanker yang menjalani kemoterapi akan mengalami kendala terhadap
dirinya sendiri yang setiap Saat akan merasa putus asa dan takut karena penyakit tidak
dapat disembuhkan, sehingga dalam hal ini diperlukan peran keluarga yang
memberikan dukungan emosional sebagai tempat pasien mengatakan isi hatinya, apa
yang dia rasakan dan keluarga memberikan dukungan bahwa pasien harus percaya
akan dapat sembuh. Menurut penelitian, dukungan emosional terhadap pasien yang
sedang menjalani pengobatan kemoterapi sangatlah diperlukan, karena dengan adanya
keberadaan dari dukungan emosional dari partisipasi keluarga ini maka pasien tidak
akan marasa sendiri dan akan merasa berkurang bebannya karena dapat mencurahkan
segala yang dirasakannya (saragih,2010).

2. Dukungan Keluarga Berdasarkan Finansial


Stress finansial biasanya mempengaruhi sistem keluarga dan mengakibatkan
hancumya keluarga. Tagihan-tagihan medis mengharuskan ibu untuk bekerja dan ayah
melakukan pekerjaan sambilan sehingga liburan dan aktivitas-aktivitas waktu luang
hilang, ketegangan perkawinan memuncak sehingga mengancam hubungan keluarga.
Dukungan finansial dari dukungan keluarga sangatlah penting bagi para penderita
yang sedang menjalani pengobatan kemoterapi karena pendapatan keluarga yang
kurang menyebabkan pemberian pengobatan kemoterapi yang tidak optimal,
pemberian pengobatan terlambat ditangani karena minimnya dukungan finansial. Bila
dukungan fiansial memadai dapat mencegah stress finansial (saragih,2010).

3. Dukungan Keluarga Berdasarkan Spiritual


Keluarga mempunyai semangat dan yakin terhadap Tuhan mereka sehingga pasien
mampu mengontrol rasa nyeri, status mental dan persepsi terhadap yang terjadi pada
dirinya adalah yang terbaik untuknya dengan mendekatkan diri dengan Tuhan Yang
Maha Esa. Menurut penelitian, Dukungan spiritual yang diberikan keluarga membuat
klien mempunyai semangat dan yakin bahwa tidak ada yang mustahil bila klien
percaya dapat sembuh maka itulah yang terjadi. Dengan strategi spiritual dan religius
merupakan salah satu aktivitas dalam managemant stress emosional atau
ketidaknyamanan fisik dapat diatasi tergantung dari kekuatan religius (keyakinan)
(saragih,2010).

4. Koping Pasien Berdasarkan Supresi

Sebanyak 52% responden penelitian merasa terpaksa menjalani kemoterapi. Hal


ini dilihat dari hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner. Hal ini dikarenakan
klien merasa terpaksa menjalani kemoterapi dan merasa kemoterapi tidak ada gunanya
hanya membuat klien tambah merasa sakit. Klien selalu merasa bahwa kemoterapi
yang dijalaninya secara terpaksa sehingga apapun yang dirasakan klien selalu tidak
sesuai dengan perasaannya (mengingkari), sehingga klien lebih memilih
mempertahankan ego dengan reaksi supresi dan represi yang tetap menekan
perasaannya atau pengalaman yang menyakitkan dari kesadarannya yang cendrung
memperkuat mekanisme ego lainnya (saragih,2010).

5. Koping Pasien Berdasarkan Cara Mengalihkan Rasa Sakit

Klien kurang dapat mengalihkan rasa sakit dimana klien hanya mengingkari apa
yang dia rasakan (supresi) juga klien tidak mendapatkan perasaan nyaman setelah
menjalani kemoterapi seperti merasa mual, demam juga tidak mendapatkan rekreasi
keluarga untuk mendapatkan suasana atau udara yang sejuk, segar dan nyaman. Klien
selalu merasakan dampak yang sangat membuat klien semakin merasakan sakit
setelah kemoterapi yang membuat klien merasakan mual, muntah, lemas, rambut
rontok, sariawan dan lain-lain sebagainya. Hal tersebut membuat klien tidak dapat
lagi menghindari kemoterapi yang wajib dijalaninya dengan kata lain klien juga
nrer.galami gangguan pisikologis sehingga untuk menahan rasa sakit kadang pasien
hanya bisa diam oleh karena merasa ada perasaan tertekan dalam menjalani
kemoterapi (saragih,2010).

Sumber :
Saragih,Rosita.2010. Peranan Dukungan Keluarga dan Koping Pasien dengan Penyakit Kanker
Terhadap Pengobatan Kemoterapi di Rb 1 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
Tahun 2010,( http://uda.ac.id/jurnal/files/Rosita%20Saragih2.pdf), diakses pada 19 januari 2016
Rahmah, A.F, Widuri, E.S.2011. Post Traumatic Growth pada Penderita kanker Payudara.
2(8):115-128,( journal.unair.ac.id/filerPDF/110810226_3v.pdf), diakses pada 19 januari 2016