You are on page 1of 73

Etika Perbankan Syariah

OUT NEXT
Referensi
• Badroen, Faisal dkk. 2006. Etika Bisnis Dalam Islam: Kencana. Jakarta
• Djakfar, Muhammad. 2012. Etika Bisnis (Menangkap Spirit Ajaran Langit dan Pesan Moral Ajaran Bumi): Penebar Plus. Jakarta
• Mochlasin. 2010. Etika Bisnis dan Perbankan: Perspektif Islam. Salatiga: STAIN Salatiga Press.
• Al-Assal, Ahmad Muham mad dan Karim, Fathi Ahmad Abdul. 1999. Sistem, Prinsip-prinsip dan Tujuan Ekonomi Islam (an-
Nizam fi al-Islam:
Mabadiuh wa ahdafuh). Bandung: Pustaka Setia.
• Beekun, Rafik Issa. 1997. Islamic Bussines Ethics. Virginia: The Internasional Institut of Islamic Thought.
• Fauroni, Luqman. 2007. Etika Bisnis dalam al-Qur’an. Yogyakarta; Pustaka Pelajar
• Keraf, A. Sonny. 1991. Etika Bisnis; Membangun Citra Bisnis sebagai Profesi Luhur. Yogyakarta: Kanisius.
• Muhammad. 2004. Etika Bisnis Islam. Yogyakarta: UPP AMP YKPN
• Muslich. 1998. Etika Bisnis Pendekatan Substantif dan Fungsional. Yogyakarta: Ekonosia Kampus Fak. Ekonomi UII.
• Naqvi, Syed Nawab Haidir. 2003. Menggagas Ilmu Ekonomi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
• Rahardjo, M. Dawam. 1990. Etika Ekonomi dan Manajemen. Yogyakarta; Tiara Wacana.
• Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius
• Salam, Burhanuddin. 1997. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

OUT NEXT
Pokok Bahasan
1. Pengertian etika, moral, norma
2. Agama, Moral dan Etika (Implikasinya dalam Ekonomi)
3. Sistem Etika Barat
4. Etika dalam ajaran Islam, meliputi aksioma dasar dan tujuan etika Islam
5. Pengertian kerja dan etos kerja dan menentukan ciri-ciri etos kerja islami
6. Kepemilikan dalam Islam
7. Pengembangan Modal dalam Islam
8. Etika terhadap Konsumen
9. Etika perusahaan terhadap karyawan
10. Perusahaan Sebagai Entitas
11. Pengertian bisnis perbankan dalam pandangan ajaran Islam
12. Etika Profesi Perbankan dan Kode Etik Bankir
Etika, Moral dan Norma
• Definisi Etika
– Ethos: kebiasan (costum), karakter (character)
the distinguishing character, sentiment, moral nature, or guiding
beliefs of a person, group, or institution.
• Definisi Moral
– Mos (Mores): a doctrine or system of moral conduct/particular
moral principles or rules of conduct
• Definisi Norma
– Princilple of right action bidding upon the members of a group
and serving to guide, control, or regulate proper and acceptable
behavior
OUT MENU BACK NEXT
Agama, Moral dan Etika (Implikasinya dalam Ekonomi)
• Agama, Moral dan Etika (Sebuah dialektika)
1. Kritis
2. Kebebasan Etika
3. Bertanggung Jawab
Surat Al-Qalam ayat 4

Wisdom,
justice, evil

Kant, Nielsen, Tillich,


Rasio Teologis
Nietche, Niebhur,
Mu’tazilah Al-Ghozali

OUT MENU BACK NEXT


Sistem Etika Barat
• Teleologi
• Deontologi
• Hybrid Theories

OUT MENU BACK NEXT


Etika dalam ajaran Islam
• Falsafah Etika dalam Islam
• Falsafah  Anggapan, gagasan, dan sikap
batin paling dasar (Kamus KKBI)
• Falsafah etika dalam Islam  gagasan, sikap
batin yang paling mendasari dalam
berperilaku dalam bingkai Islam  Akhlak
OUT MENU BACK NEXT
Akhlak, Etika dan Moral (Persamaan – Perbedaan)
• Persamaan
1. Mengajarkan tentang perilaku baik & buruk
2. Mempunyai sanksi moral bagi yang melanggarnya
3. Sanksi atau pujian tidak tertulis secara eksplisit dalam UU / Peraturan
4. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
• Perbedaan
1. Sumber, Akhlak (Wahyu). Etika (Rasio). Moral (Costum)
2. Akhlak (Universal). Moral (Mores-Costum). Etika (Universal)
3. Sanksi Akhlak dhohiron wa bathinan fiddunya wal akhirah
4. Teologis  nilai-nilai ketuhanan
5. ”Al-Islamu/al-Quranu Shalihun li kulli zaman wa al-makan”

OUT MENU BACK NEXT


Aksioma Etika dalam Islam
1. Kesatuan (Tauhid)
Al-An’am 162

2. Keseimbangan (al-Adl wal al Ihsan)


Al-An-Nahl 90

OUT MENU BACK NEXT


Aksioma Etika dalam Islam
3. Kehendak Bebas (Ikhtiar)
Al Jumuah 10

4. Tanggung Jawab (Fardh)


Al-Isra’ 36

OUT MENU BACK NEXT


Kerja dan etos kerja
Pengertian Etos Kerja
Bisnis Ala Rasulullah
Ciri Etos Kerja Islami

OUT MENU BACK NEXT


ETOS KERJA DALAM ISLAM

1. keutamaan kerja
2. karakter Rasul dalam bekerja
3.syarat-syarat mendapatkan syurga dalam
bekerja
4.norma-norma etika dalam bekerja
5.nilai-nilai profesionalisme dalam bekerja
• Pengertian Etos dan Kerja dalam Islam
• Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang
memberikan arti sikap, kepribadian, watak,
karakter, serta keyakinan atas sesuatu
• Maka secara lengkapnya “etos” ialah karakteristik
dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan, dan
seterusnya, yang bersifat khusus tantang seorang
individu atau kelompok manusia.
Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha
yang dilakukan manusia baik dalam hal materi atau non-
materi, intelektual atau fisik, maupun hal-hal yang
berkaitan dengan masalah keduniaan atau keakhiratan
Makna “kerja” bagi seorang muslim adalah suatu upaya
yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh
aset, pikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau
menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang
harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya
sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khoiru
ummah)
KEUTAMAAN BEKERJA
1. Peningkatan Derajat
• Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah
mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan)
pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. QS. Al-
Ahqaaf : 19
2. Mendapatkan Pahala dari Allah Swt
dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan
kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu
kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.
Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu
kerjakan. Qs. Al-Baqarah 110
Upaya Meraih Maisyah yang
Mardatillah
3. Mendapatkan keberuntungan
apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung.
Qs. Al-Jumuah : 10
4. Seperti Seorang Mujahid (berjuang di jalan Allah)
“ Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bekerja dan
barangsiapa bekerja keras untuk keluarganya, maka ia seperti seorang
mujahid di jalan Allah Swt.” (HR. Ahmad)
5. Bekerja adalah Kewajiban
“ Mencari rizki yang halal adalah wajib sesudah
menunaikan yang fardlu (seperti Shalat, puasa, dll).” (HR.
Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
6. Menjaga Kehormatan Diri
Tiada seorang pun yang makan makanan yang lebih
baik dari pada makan yang diperoleh dari hasil dari
keringatnya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud AS itu
pun makan dari hasil karyanya sendiri”.(H.R. Bukhori)
7. Menghapus Dosa
“Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan
karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka
diwaktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya”.(Riwayat
Tabrani dan Baihaqi).
Karakter Rasul dalam Bekerja
1. Rasululllah selalu bekerja dengan cara terbaik,
profesional, dan tidak asal-asalan
2. Rasululllah melakukannya dengan manajemen yang
baik, perencanaan yang jelas, pentahapan aksi dan
adanya penetapan skala prioritas
3. Rasululllah tidak pernah menyia-nyiakan
kesempatan sekecil apapun
4. Rasululllah selalu memperhitungkan masa depan.
Beliau adalah sosok yang visioner, sehingga segala
aktivitasnya benar-benar terarah dan terfokus
1. Rasululllah tidak pernah menangguhkan pekerjaan. Beliau
bekerja secara tuntas dan berkualitas.
2. Rasululllah bekerja secara berjamaah dengan mempersiapkan
(membentuk) tim yang solid yang percaya pada cita-cita
bersama.
3. Rasululllah adalah pribadi yang sangat menghargai waktu. Tidak
berlalu sedetik pun waktu, kecuali menjadi nilai tambah bagi
diri dan umatnya
4. Rasulullah menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan
ketakwaan. Rasululllah bekerja bukan untuk menumpuk
kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridhaan Allah
SWT.
karakter-karakter baik yang harus dikembangkan
bagi seorang muslim dalam bekerja
1. Jujur
2. Berpandangan jauh ke depan
3. Bisa memberi inspirasi (inspiring)
4. Kompeten (competent)
5. Adil
6. Mendukung (suporting)
7. Berpandangan luas
8. Cerdas
9. Terus terang
10 Berani
11 Bisa diandalkan
12 Bisa bekerja sama
13 Kreatif
14 Perduli kepada orang lain
15 Tegas
16 Matang
17 Berambisi
18 Loyal
19 Mampu mengendalikan diri
20 Independen
Syarat mendapatkan syurga
dalam bekerja
1.Melandasi aktivitas kerjanya dengan keimanan
dan ketakwaan.
2.Memiliki komitmen yang tinggi untuk
melaksanakan zikir dan bersyukur.
3.Berjiwa bersih dan mau bertobat.
4.Antusiasme dalam amar ma`ruf nahi mungkar.
Norma-Norma Etika dalam Bekerja
Rasulullah Saw sudah mengajarkan kepada beberapa
etika dalam berbisnis diantaranya :
1. Jujur
2. Tanggungjawab (amanah)
3. Tidak menipu takaran/tambangan
4. Menepati janji
5. Murah hati
6. Tidak menjelek-jelekkan bisnis orang lain
7. Bersih dari Riba
Pengembangan Modal dalam Islam
Real Sector
DSU/mustahik

SSU/muzakki

Barang & jasa


Real Sector
Monetary Sector
DSU/mustahik

bunga

SSU/muzakki

Barang & jasa


Real Sector Monetary Sector

DSU/mustahik

spekulasi
bunga

SSU/muzakki

Barang & jasa


Real Sector Monetary Sector

DSU/mustahik

judi
spekulasi
bunga

SSU/muzakki

Barang & jasa


Real Sector Monetary Sector

DSU/mustahik
korupsi
judi
spekulasi
bunga

SSU/muzakki

Barang & jasa


Perputaran Barang & Jasa
(Produktif)

Aktifitas Keuangan
Aktifitas ekonomi non-produktif membuat (Non-Produktif)
perputaran barang dan jasa semakin hari
semakin kerdil
Etika Kepada Konsumen
• Pengertian Konsumen
• Hak dan Kewajiban Konsumen
• Prinsip Konsumsi dalam Islam
• Instrumen Perlindungan Konsumen
• Aspek-aspek yang perlu dilindungi (Perspektif Maqashid)

OUT MENU BACK NEXT


Etika Kepada Karyawan
• Pengertian Karyawan
UU No. 13 Tahun 2003, “tenaga kerja adalah setiap orang
yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri maupun untuk masyarakat”

OUT MENU BACK NEXT


Kewajiban Karyawan (UU No. 13 Tahun 2013
Bab Pasal (Ayat) Bunyi

Dalam melaksanakan hubungan industrial, pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat


buruhnya mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya,
102 (2) menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara
demokratis, mengembangkan keterampilan, dan keahliannya serta ikut memajukan
perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya.
(1) Pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh dan pekerja/buruh wajib melaksanakan
XI 126 ketentuan yang ada dalam perjanjian kerja bersama.
Hubungan (2) Pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan isi perjanjian
Industrial kerja bersama atau perubahannya kepada seluruh pekerja/ buruh.

Penyelesaian perselisihan hubungan industrial wajib dilaksanakan oleh pengusaha dan


136 (1)
pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh secara musyawarah untuk mufakat.

Sekurang-kurangnya dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sebelum mogok kerja


dilaksanakan, pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan
140 (1)
secara tertulis kepada pengusaha dan instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan setempat.
35
Hak karyawan
Bab Pasal (Ayat) Bunyi
III 5 Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan.
Kesempatan dan
Perlakuan yang 6 Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.
Sama
Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat,
11
dan kemampuannya melalui pelatihan kerja.
12 (3) Setiap pekerja/buruh memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan kerja sesuai dengan bidang tugasnya.
V
Pelatihan Kerja Tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja
18 (1)
pemerintah, lembaga pelatihan kerja swasta, atau pelatihan di tempat kerja.
Tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berhak atas pengakuan kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga
23
sertifikasi.
VI
Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh
Penempatan 31
penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri.
Tenaga Kerja
67 (1) Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ayat (1) wajib membayar upah kerja
78 (2)
lembur.
79 (1) Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.
80 Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/ buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya.
(1) Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu
setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
82
(2) Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan
X surat keterangan dokter kandungan atau bidan.
Perlindungan,
Setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b, c, dan d, Pasal 80, dan Pasal
Pengupahan, 84
82 berhak mendapat upah penuh.
dan Kesejahteraan
85 (1) Pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi.
Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas :
•keselamatan dan kesehatan kerja;
86 (1)
•moral dan kesusilaan; dan
•perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.
88 (1) Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
90 (1) Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89.
99 (1) Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja.
XI 36
Hubungan 104 (1) Setiap pekerja/buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.
Perhitungan Menurut Pasal 156 ayat (2) UU Ketenagakerjaan

Masa Kerja Uang Pesangon yang Didapat


kurang dari 1 tahun 1 bulan upah
1 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 2 tahun 2 bulan upah
2 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 3 tahun 3 bulan upah
3 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 4 tahun 4 bulan upah
4 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 5 tahun 5 bulan upah
5 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 6 tahun 6 bulan upah
6 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 7 tahun 7 bulan upah
7 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 8 tahun 8 bulan upah
8 tahun atau lebih 9 bulan upah
Perhitungan Uang Penghargaan Masa Kerja Pasal 156 ayat (3) UU Ketenagakerjaan

Masa Kerja Uang Penghargaan Masa Kerja yang Didapat


3 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 6 tahun 2 bulan upah
6 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 9 tahun 3 bulan upah
9 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 12 tahun 4 bulan upah
12 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 15 tahun 5 bulan upah
15 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 18 tahun 6 bulan upah
18 tahun atau lebih, tetapi kurang dari 21tahun 7 bulan upah
21 tahun atau lebih tetapi kurang dari 24 tahun 8 bulan upah
Lebih dari 24 tahun 10 bulan upah

38
Contoh Kasus
• Hendra di PHK Perusahaan dengan masa kerja 3 Tahun 6 Bulan dengan Gaji Pokok + Tunjangan
sebesar Rp7.500.000 maka untuk perhitungan Pesangon yang berhak diterima Hendra adalah:
• a. Uang Pesangon 4 x 2 = 8 x 7.500.000 = 60.000.000
• b. Uang Masa Kerja 2 kali Upah = 2 x 7.500.000 = 15.000.000
• c. Uang Pesangon + Uang Masa Kerja = 75.000.000
• Uang Pengobatan dan Perumahan sebesar 15% dari total Uang Pesangon dan Uang Masa Kerja.
• Uang Pengobatan & Perumahan = (60.000.000 + 15.000.000) x 15% = 75.000.000 x 15% =
11.250.000
• Total Uang yang Diterima= Pesangon + Masa kerja + Pengobatan dan Perumahan
• = 60.000.000 + 15.000.000 + 11.250.000
• = 86.250.000

39
IMPLEMENTASI ETIKA BISNIS ISLAM DALAM
PERBANKAN SYARIAH

40
Landasan

41
42
43
Aksioma Etika dalam Islam
1. Kesatuan (Tauhid)
Al-An’am 162

2. Keseimbangan (al-Adl wal al Ihsan)


Al-An-Nahl 90
Aksioma Etika dalam Islam
3. Kehendak Bebas (Ikhtiar)
Al Jumuah 10

4. Tanggung Jawab (Fardh)


Al-Isra’ 36
• Sebagai Lembaga Intermediasi dan lembaga kepercayaan,
dalam melaksanakan kegiatan usahanya, bank harus
menganut lima prinsip dalam Good Corporate Governance
(GCG) yang diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan
Corporate Governance (KNKCG)
• http://www.knkg-indonesia.org/

46
47
48
49
Selain diatur oleh KNKG, GCG juga di atur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan
POJK. No. 10/SEOJK.03/2014 tentang
PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

50
Pelaksanaan GCG
1. Penetapan Visi, Misi dan Corporate values
2. Penyusunan corporate governance structure
3. Pembentukan corporate culture
4. Penetapan sarana public disclosures
5. Penyempurnaan berbagai kebijakan bank sehingga
memenuhi prinsip GCG

51
KODE ETIK (Code of Conduct)
• Setiap bank hendaknya menyusun Kode Etik yang berisi
1. Pedoman tentang benturan kepentingan (Conflict of Interest)
2. Kerahasiaan yang harus dijaga
3. Hal-hal yang termasuk penyalahgunaan Jabatan
4. Integritas dan akurasi data
5. Pernyataan tahunan (Annual disclosure)
6. Sanksi pelanggaran dan ketidakpatuhan

52
ETIKA PROFESI
• Profesi
Kegiatan yang semula dihubungkan dengan sumpah dan janji yang bersifat religius
• Profesi
Keterampilan khusus seseorang sebagai suatu pekerjaan yang dilaksanakan secara
terus menerus sebagai sumber utama nafkah.
• Profesional
Kemampuan teknis yang diterapkan secara optimum dalam batas-batas etika
profesi
• Profesionalisme
Suatu pandangan bahwa pekerjaan atau jabatan yang diemban, bukan untuk
bersenang-senang melainkan merupakan suatu mata pencaharian.
53
Jenis Profesi
• Profesi Khusus
Para profesional yang melaksanakan profesinya secara
khusus untuk mendapatkan nafkah / penghasilan
• Profesi Luhur
Para profesional yang melaksanakan profesinya bukan lagi
untuk mendapatkan nafkah, tetapi sudah merupakan
pengabdian, karena kebutuhan nafakhnya sudah terpenuhi.
( Orang-orang yang terjun dibidang Kemanusiaan : PMI,
54
Kelestarian lingkungan, keagamaan )
Ciri Profesi
• Memiliki Pengetahuan Khusus
• Memiliki Standar Moral yang tinggi
• Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan
masyarakat
• Memiliki ijin khusus
• Menjadi anggota organisasi profesi

55
Prinsip Etika Profesi
• Memiliki kebebasan
• Memiliki tanggungjawab
- Terhadap pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya
- Terhadap kehidupan orang lain
• Memiliki Kejujuran
• Memiliki keadilan

56
CIRI – CIRI BANKIR PROFESIONAL
• Memiliki Rasa Percaya Diri
Percaya diri pada kemampuannya dan optimis dapat melaksanakan
pekerjaan
• Memiliki pandangan jauh kedepan
Dapat memprediksi keadaan pada masa datang,hambatan,tantangan dan
peluang yang ada. (Analisis Swot )
• Memiliki wawasan yang luas
• Berorientasi pada tujuan
• Berani mengambil resiko
57
58
59
Fungsi Kode Etik Perbankan
• Keselarasan dan konsistensi
Antara gaya manajemen, strategi dan kebijaksanaan dalam mengembangkan usaha bank
secara individuil disatu pihak dengan pengembangan sosial ekonomi dipihak lain
• Iklim Usaha
Menciptakan iklim usaha yang bergairah dan suasana persaingan yang sehat antar
sesama insan Perbankan
• Integritas Bank
Integritas dengan lingkungan,masyarakat dan pemerintah
• Ketengan Batin
Bagi pemilik dana,karyawan,pemilik saham
• Harkat Bank nasional
60
SYARAT-SYARAT SEORANG BANKIR IDEAL
• Sensitivity
Memiliki kepekaan terhadap berbagai situasi ekonomi,politik,sosial dan budaya serta
sosiologi.
• Prudence
Senantiasa penuh kehati-hatian dalam mengelola usahanya.
• Expertise
Ahli dibidangnya dan memiliki latarbelakang pendidikan yang cukup mendukung
profesinya
• Capability
Memiliki kemampuan teknis Perbankan dan kemampuan analisis bisnisnya sendiri
• Integrity
Memiliki integritas pribadi yang tinggi 61
• Experience
Harus berpengalaman diberbagai bidang dan memegang berbagai posisi tertentu.
• Communicative
Dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak.
• Responsibility
Memiliki wawasan dan tanggungjawab sosial
Seperti komitmen untuk mengangkjat kelompok kurang mampu melalui penyaluran kredit
yang sehat
• Entrepreneur
Memiliki jiwa entrepreneur dalam mengembangkan perusahaannya.

62
• Double Size
Menurut George P.Allan, Bankir adalah manusia “Dwi-muka”,yaitu manusia yang
memiliki :
• 1/5 sebagai akuntan
• 2/5 sebagai ahli hukum
• 3/5 sebagai ahli politik ekonomi
• 4/5 sebagai gentlemen
• total 10/5 merupakan dwi-muka
• Intellegence
Memiliki kecerdasan
• Tolerance
Memiliki sikap sabar dan daya tahan terhadap berbagai situasi. 63
Kode Etik Bankir Indonesia (Code of Ethics Indonesian Bankers)
http://ikatanbankir.or.id
• 1. Seorang bankir patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan
yang berlaku. (A banker should obey and comply to the respective laws and existing
regulations). Prinsip ini maknanya tidak membenarkan seorang bankir untuk melakukan
suatu tindakan yang diketahui atau sepatutnya diketahui, melanggar peraturan, undang-
undang atau hukum yang berlaku. Dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1992 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 49 angka 2b menyatakan
bahwa “anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak
melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank
terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-
undangan lainnya yang berlaku bagi bank diancam dengan pidana sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.
5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,- (seratus
miliar rupiah).”
64
• 2. Seorang bankir melakukan pencatatan yang benar mengenai segala transaksi yang
bertalian dengan kegiatan banknya. (A banker should correctly record all related
transactions and activities of the bank). Wujud nyata pelaksanaan prinsip ini adalah
seorang bankir harus menghindari pencatatan transaksi yang tidak benar, melapor kepada
atasan apabila mengetahui terjadinya pencatatan yang tidak benar, serta membantu
pemeriksa internal maupun eksternal untuk meneliti apabila diketahui terjadi pencatatan
yang tidak benar. Dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 49 angka 1a menyatakan bahwa
“Anggota dewan komisaris, direksi, pengurus atau pegawai bank yang dengan sengaj
membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam
laporan maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi rekening
atau rekening suatu bank diancam dengan pidana sekurang-kurangnya 5 (lima tahun) dan
paling lama 15 (limabelas) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 10.000.000.000,-
(sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp.200.000.000.000,- (dua ratus miliar rupiah). 65
• 3. Seorang bankir menghindarkan diri dari persaingan
yang tidak sehat (A banker should avoid unhealthy
competition). Bankir tidak dibenarkan melakukan kerjasama
berupa kesepakatan atau perjanjian yang tidak sehat,
dengan tujuan untuk memenangkan persaingan atau
menjatuhkan bank lainnya secara tidak jujur dan sehat.
Termasuk didalamnya adalah menggunakan cara-cara yang
tidak sehat / menipu dalam mempromosikan usahanya.
66
• 4. Seorang bankir tidak menyalahgunakan wewenangnya
untuk kepentingan pribadi (A banker should not abuse the
given authority for personal purposes). Bankir tidak
dibenarkan mengambil manfaat, kesempatan atau
menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi /
orang lain yang akan merugikan kepentingan bank dan
msyarakat.

67
• 5. Seorang bankir menghindarkan diri dari keterlibatan
pengambilan keputusan dalam hal terdapat pertentangan
kepentingan. (A banker should avoid conflict of personal
interests in decision making). Idealnya bankir tidak
dibenarkan mengambil suatu keputusan atas nama
bankterhdaap suatu urusan yang didalamnya terdapat
kepentingan pribadi.

68
• 6. Seorang bankir menjaga kerahasiaan nasabah dan
banknya (A banker should safe guard the confidentiality of
the customers and the bank). Bankir harus menjaga dan
melindungi segala informasi maupun data nasabah/bank
yang tercatat pada dokumen bank yangwajib dirahasiakan
menurut perbankan.

69
• 7. Seorang bankir memperhitungkan dampak yang
merugikan dari setiap kebijakan yang ditetapkan banknya
terhadap keadaan ekonomi, sosial, dan lingkungan. (A
banker should take into considerations the disadvantages to
the economy, social, and environment when establishing
the policy of the bank). Dalam pengambilan keputusan,
bankir harus mempertimbangkan dampak yang mungkin
terjadi secara ekonomi, sosial dan politis bagi
perekonomian nasional. 70
• 8. Seorang bankir tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun
keluarganya. (A banker should not accept undeclared gift nor compensation to enrich one self or the
family). Bankir tidak dibenarkan untuk menggunakan kedudukannya untuk mencari keuntungan
pribadi dari pihak-pihak yang akan atau telah mengadakan hubungan dengan bank.Dalam Undang-
Undang No.7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998
Pasal 49 angka 2b dinyatakan bahwa “anggota dewan komisaris, direksi atau pegawai bank yang
dengan sengaja meminta atau menerima, mengisinkan atau menyetujui untuk menerima suatu
imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan, uang atau barang berharga, untuk kepentingan
pribadinya dan atau keuntungan keluarganya, dalam rangka mendapatkan atau berusaha
mendapatkan bagi orang lain atau dalam rangka pembelian atau pendiskontoan oleh bank atas
surat-surat wesel, surat promes, cek dan kertas dagang atau bukti kewajiban lainnya ataupun
dalam rangka memberikan persetujuan bagi orang lain untuk melaksanakan penarikan dana yang
melebihi batas kreditnya pada bank diancam dengan pidana sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan
paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar
rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,- (seratus miliar rupiah)”.
71
• 9. Seorang bankir tidak melakukan perbuatan tercela yang
dapat merugikan citra profesinya. (A banker should not
misconduct which may effect disadvantageously to the
image of the profession). Bankir harus menjaga citra diri
dan banknya sehingga tidak dibenarkan di dalam dan di luar
bank melakukan perbuatan dan sikap tercela yang dapat
merugikan profesinya secara langsung maupun tidak
langsung akan menurunkan citra banknya.
72
73