You are on page 1of 14

INSTRUMEN DAKWAH : MANAJEMEN DAN METODE DAKWAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Pada Mata Kuliah Ilmu Dakwah

Dosen: Drs. Ikhwanuddin, M.Kom.I

Di Susun Oleh :

1. Ma’rifatun Najah 171290008


2. Tina Dwi Lestari 171290017

Program Studi: S.I Bimbingan Konseling Pendidikan Islam

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU
METRO LAMPUNG
1440 H/ 2018 M

i
ABSTRAK

Agama islam adalah konsepsi yang sempurna dan komperhenship, karenan


meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat duniawi maupun
ukhrawi. Dakwah adalah ajakan yang dilakukan untuk pembebasan individu atau
masyarakat dari pengaruh eksternal nilai-nilai syaitaniah dan kejahilan menuju
internalisasi nilai-nilai ketuhanan.
Manajemen dakwah islam merupakan sebuah sarana yang bisa memberikan
berbagai kemudahan. Dengan adanya sarana sehingga membuat aktivitas dakwah
menjadi lebih dinamis, cepat dalam bertindak (responsif) namun terencana,
terukur, dan terorganisasi. Dan juga dilakukan oleh SDM yang tepat, dan
memberikan dampak yang besar terhadap organisasi dan lingkungan. Bukan justru
sebaliknya, menjadi rumit dan menghambat dinamisasi aktivitas dakwah, atau
bahkan menimbulkan masalah baru. Semua tahapan dakwah yang sudah kita
lakukan haruslah diukur keberhasilannya dengan mengevaluasi.

Kata Kunci: Manajemen, Metode, Dakwah

I. PENDAHULAN
Agama islam adalah konsepsi yang sempurna dan komperhenship,
karenan meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat duniawi
maupun ukhrawi. Dakwah adalah ajakan yang dilakukan untuk pembebasan
individu atau masyarakat dari pengaruh eksternal nilai-nilai syaitaniah dan
kejahilan menuju internalisasi nilai-nilai ketuhanan.
Disamping itu, dakwah bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
agama dalam berbagai aspek ajaran agar diaktualisasikan dalam sikap,
berfikir dan bertindak. Untuk mencapai tujuan ini secara maksimal, maka
disinilah letak signifikannya manajemen dakwah untuk mengatur, dan
mengantarkan dakwah tepat sasaran dan mencapai tujuan yang diharapkan.

II. PEMBAHASAN
A. Manajemen Dakwah
1. Pengertian Manajemen Dakwah
Manajemen dakwah adalah terminologi yang terdiri dari dua
kata, yakni manajemen dan dakwah. Kedua kata ini berangkat dari
dua disiplin ilmu yang sangat berbeda sama sekali. Istilah yang
pertama, berangkat dari disiplin ilmu yang sekuler, yakni Ilmu

1
Ekonomi. Ilmu ini diletakan di atas paradigma materialistis.
Prinsipnya adalah dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara itu istilah
yang kedua berasal dari lingkungan agama, yakni Ilmu Dakwah. Ilmu
ini diletakan di atas prinsip, ajakan menuju keselamatan dunia dan
akhirat, tanpa paksaan dan intimidasi serta tanpa bujukan dan iming-
iming material. Ia datang dengan tema menjadi rahmat semesta alam.
Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses
pemamfaatan sumber daya manusia secara efektif, dengan didukung
oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai
tujuan.1
Dakwah adalah sebuah aktivitas baik secara ‘ilmiah maupun
‘amaliah untuk mengajak manusia atau mengajarkan islam yang benar
yang dilakukan oleh para da’i yang memiliki pengetahuan yang luas
dan sifat yang terpuji dengan menggunakn metode dan media yang
terus berubah dan berkembang.
Pengertian manajemen dan dakwah itu sendiri yaitu sebuah
pengaturan secara sistematis dan koordinatif dalam kegiatan atau
aktivitas dakwah yang dimulai dari sebelum pelaksanaan sampai akhir
dari kegiatan dakwah.2

2. Tujuan Manajemen Dakwah


Tujuan Manajemen adalah sesuatu hasil (generalis) yang ingin
dicapai melalui proses manajemen. Tujuan yang ingin dicapai selalu
ditetapkan dalam suatu rencana, karena itu hendaknya tujuan
ditetapkan ”jelas, realistis, dan cukup cukup menantang berdasarkan
analisis data, informasi, dan pemilihan dari alternatif-alternatif yang
ada.3

1
Dr.H.M.Anton Athoillah,M.M, Dasar-Dasar Manajemen, (Bandung: CV Pustaka Setia,
cet.1, 2010), hlm.14
2
M.Munir,S,Ag,M.A, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta , 2009), hlm.36
3
Drs.H.Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah,
(Jakarta:Bumi Aksara,Cet.8, 2009),hlm.17-19

2
Tujuan utama dakwah adalah nilai atau hasil akhir yang ingin
dicapai dan diperoleh oleh keseluruhan tindakan dakwah yaitu
Kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang
diridhai oleh Allah Swt.4 Tujuan dakwah secara umum adalah
mengubah perilaku sasaran agar mau menerima ajaran Islam dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari - hari, baik itu yang
bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga maupun sosial
kemasyarakatnya, agar mendapatkan keberkahan dari Allah Swt.
Sedangkan tujuan dakwah secara khusus dakwah merupakan
perumusan tujuan umum sebagai perincian dari pada tujuan dakwah.5
Akhirnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara umum
tujuan dan kegunaan manajemen dakwah adalah untuk menuntun dan
memberikan arah agar pelaksanaan dakwah dapat diwujudkan secara
professional dan proporsional. Dan pada hakikatnya tujuan
manajemen dakwah disamping memberikan arah juga dimaksudkan
agar pelaksanaan dakwah tidak lagi berjalan secara konvensional
seperti tabligh dalam bentuk pengajian dengan tatap muka tanpa
pendalaman materi, tidak ada kurikulum, jauh dari interaksi yang
dialogis dan sulit untuk dievaluasi keberhasilannya.6

3. Fungsi–Fungsi Manajemen Dakwah


a. Takhthith (Perencanaan Dakwah)
Dalam aktivitas dakwah, perencanaan dakwah bertugas
menentukan langkah dan program dalam menentukan setiap
sasaran, menentukan sarana-prasarana atau media dakwah, serta
personel da'i yang akan diterjunkan. Menentukan materi yang
cocok untuk sempurnanya pelaksanaan, membuat asumsi berbagai
kemungkinan yang dapat terjadi yang kadang-kadang dapat
memengaruhi cara pelaksanaan program dan cara menghadapinya

4
Drs.ABD. Rosyad Shaleh, Manajemen Dakwah Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 2007),
hlm.21
5
M.Munir,S.Ag,M.A, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2009), hlm. 87-90
6
Drs.RB.Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah dari Dakwah Konvensional
Menuju Dakwah Profesional, (Jakarta: Amzah, Cet.1, 2007), hlm.30-31

3
serta menentukan alternatif-alternatif, yang semua itu merupakan
tugas utama dari sebuah perencanaan.7
Sementara itu Rosyad Saleh, dalam bukunya Manajemen
Dakwah Islam menyatakan, bahwa perencanaan dakwah adalah
proses pemikiran dan pengambilan keputusan yang matang dan
sistematis, mengenai tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada
masa yang akan datang dalam rangka menyelenggarakan dakwah.
b. Tanzhim (Pengorganisasian Dakwah)
Pengorganisasian dakwah dalam pandangan Islam bukan
semata-semata merupakan wadah, akan tetapi lebih menekankan
bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara rapi, teratur, dan
sistematis. Pengorganisasian dimaksudkan untuk mengelompokan
kegiatan dakwah yang sudah direncanakan, sehingga
mempermudah pelaksanaanya. Pengorganisasian dakwah adalah
seluruh proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas,
tanggung jawab, dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta
suatu kesatuan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah
ditentukan. Pengorganisasian sebagai fungsi manajemen harus
mencerminkan adanya pembagian tugas yang merata antara orang-
orang yang ada dalam organisasi.8
Sementara itu, Rosyid Saleh mengemukakan bahwa rumusan
pengorganisasian dakwah itu adalah “rangkaian aktivitas
menyusun suatu kerangka yang menjadi wadah bagi setiap
kegiatan usaha dakwah dengan jalan membagi dan
mengelompokkan pekerjaan yang harus dilaksanakan serta
menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja diantara satuan-
satuan organisasi atau petugasnya.

7
Ishak Asep,Hendri Tanjung, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta : Trisakti,
2002), hlm.19
8
Drs.RB.Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah dari Dakwah Konvensional
menuju Dakwah Profesional, (Jakarta: Amzah, Cet.1, 2007), hlm.32-36

4
c. Tawjih (Penggerakan Dakwah)
Penggerakan dakwah merupakan inti dari manajemen dakwah,
karena proses ini semua aktivitas dalam dakwah dilaksanakan,
aktivitas-aktivitas dakwah yang direncanakan terealisasikan, fungsi
manajemen akan bersentuhan langsung dengan pelaku dakwah.
Adapun pengertian penggerakan adalah seluruh pemberian
motivasi kerja kepada para bawahan sedemikian rupa, sehingga
mereka mampu bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan
organisasi dengan efisien dan ekonomis. Ada beberapa poin dari
proses penggerakan dakwah yang menjadi kunci dalam kegiatan
dakwah , yaitu:
1) Pemberian motivasi
2) Bimbingan
3) Penyengaraan komunikasi
4) Pengembangan dan peningkatan pelaksana.9
d. Riqaabah (Pengendalian Dakwah)
Pengendalian Manajemen Dakwah dikonsentrasikan pada
pelaksanaan aktifitas tugas-tugas dakwah yang sedang berlangsung
maupun yang telah selesai dilakukan. Hal ini dimaksudkan sebagai
upaya preventif terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya
penyimpangan serta upaya peningkatan dan penyempurnaan
terhadap proses dakwah kedepan. Pada sisi lain pengendalian ini
juga dimaksudkan untuk membantu para manajer dakwah dalam
memonitor perubahan mad’u, perubahan lingkungan, dan
pengaruhnya terhadap kemajuan organisasi. Secara spesifik
pengendalian dakwah ini dibutuhkan untuk:
1) Menciptakan suatu mutu dakwah yang lebih baik.
2) Dapat menciptakan siklus yang lebih tepat.
3) Untuk mempermudah pendelegasian da’i dan kerja tim.10

9
M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, cet.1, 2006), hlm. 140-149
10
M. Munir, Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2006),
hlm.178

5
e. Evaluasi Dakwah
Untuk mengetahui apakah dakwah itu berhasil atau tidak, perlu
ada proses evaluasi yang cermat, teliti, dan objektif dengan
menetapkan parameter-parameter keberhasilan atau
ketidakberhasilan suatu aktifitas dakwah. Dari hasil evaluasi secara
objektif dapat dijadikan sebagai konsideran untuk menyusun
langkah-langkah strategi dakwah yang lebih efektif pada masa
berikutnya. Isyarat untuk melakukan evaluasi terdapat dalam
Firman Allah swt, Q.S.Al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
Meskipun proses dakwah tidak mustahil dapat dilakukan oleh
seorang secara sendiri-sendiri, tetapi mengingat kompleksnya
persoalan-persoalan dakwah, maka pelaksanaan dakwah oleh
seorang sendiri-sendiri kuranglah efektif.11 Dengan demikian
kegunaan fungsi-fungsi manajemen tersebut sangat relevan sekali
dengan kegiatan dakwah, karena dakwah tanpa perencanaan tidak
akan efektif bahkan akan kehilangan arah, sedangkan dakwah
tanpa pengorganisasian kegiatan dakwah akan melelahkan
disamping pemborosan. Begitu juga tanpa penggerakan,
pengendalian dan evaluasi kegiatan dakwah akan menjadi sumber
fitnah karena kehilangan ruh jihad yang ihklas dan secara
akumulatif dapat merusak citra Agama Islam sendiri.

4. Asas Manajemen Dakwah


Asas-asas (prinsip) dasar yang perlu ada pada setiap manajemen
dakwah, antara lain:

11
Abd. Rosyad Shaleh, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Bulan Bintang, 2006), hlm. 11

6
a. Asas konsolidasi
Asas ini mengandung makna bahwa setiap organisasi
dakwah harus selalu dalam keadaan mantap dan stabil, jauh dari
konflik, dan terhindar dari perpecahan, baik lahiriah maupun
bathiniah. Firman Allah SWT :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan
nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.” (Q.S. Ali-Imran : 103)
b. Asas koordinasi
Asas ini berarti organisasi dakwah harus mampu
memperlihatkan kesatuan gerak dan satu komando. Firman Allah
SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong
(agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada
pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi
penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?"
Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-
penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman
dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada
orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu
mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Q.S. Ash-Shaff : 14)
c. Asas tajdid
Asas ini memberi pesan bahwa organisasi dakwah harus
selalu tampil prima dan energik, penuh vitalitas dan inovatif.
Firman Allah SWT :

7
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-
orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujaadilah
: 11)
d. Asas ijtihad
Ijtihad merupakan aktivitas akademik dan intelektual yang
hanya bisa dilakukan oleh para ulama dan cendikiawan muslim.
Firman Allah SWT :
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa
(mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki
kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut : 60)
e. Asas pendanaan dan kaderisasi
Asas ini mengingatkan bahwa setiap organisasi dakwah
harus berusaha mendapatkan dukungan dana yang realistic dan
diusahakan secara mandiri dari sumber-sumber yang halal dan
tidak mengingat. Firman Allah SWT :
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian
tertentu,” (Q.S. Al-Ma’aarij :24 )
f. Asas komunikasi
Asas ini memberikan arah bahwa setiap organisasi dakwah,
pengelolaannya harus komunikatif dan persuasif, karena dakwah
sifatnya mengajak bukan mengejek, dakwah itu harus sejuk dan
memikat. Firman Allah SWT :
“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang
paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah
diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang
mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar : 18)

8
g. Asas tabsyir dan taisir
Kegiatan dakwah harus dilaksanakan dengan prinsif
mengembirakan dan mudah. Mengembirakan berarti ada nilai
yang membawa hati menjadi senang dan tenang, membuka
cakrawala dan wawasan yang mencarikan jalan keluar dari
kesulitan. Dakwah tidak terasa sebagai sesuatu yang
memberatkan, tapi justru menarik untuk di ikuti dan perlu di
bantu. Mudah berarti tidak saja dari surut pemahaman pesan atau
materi dakwah tapi juga dari sudut pelaksanaan dan pengamalan
pesan-pesan dakwah yang disampaikan. Firman Allah SWT :
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.”(QS. Saba’ : 28).
h. Asas intergral dan komprehensif
Asas ini mengingatkan kepada kita bahwa pelaksanaan
kegiatan dakwah tidak hanya terpusat di masjid atau di lembaga-
lembaga keagamaan semata, akan tetapi harus terintegrasi dalam
kehidupan umat dan menyentuh kebutuhan yang menyeluruhn dari
segenap strata sosial masyarakat, baik birokrat atau penguasa
maupun lapisan elite ekonomi dan masyarakat marginal. Firman
Allah SWT :
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya : 107)
i. Asas penelitian dan pengembangan
Kompleksitas permasalahan umat harus menjadi kajian
dakwah yang mendalam, karena dakwah akan gagal bila saja sudut
pandang hanya terpusat pada satu sisi saja, sementara komunitas
masyarakat lainnya terabaikan. Firman Allah SWT :
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan
benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang

9
beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk
mereka petunjuk.” (Q.S. Al-Kahfi : 13).
j. Asas sabar dan istiqomah
Bersaing dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi, sering membuat dakwah menemui jalan buntu bahkan
melelahkan. Kelelahan tanpa disadari dapat menghilangkan
kesabaran dan merusak nilai-nilai istiqomah. Di saat-saat seperti
itulah prinsip sabar dan istiqomah perlu disegarkan untuk
diaktualisasikan melalui berbagai kegiatan dakwah.12 Firman
Allah SWT :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan
kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih;
dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan
Allah kepadamu".(Q.S Fushshilat : 30)

5. Ruang Lingkup Manajemen Dakwah

Ruang lingkup kegiatan dakwah dalam tataran manajemen


merupakan sarana atau alat pembantu pada aktivitas dakwah itu
sendiri. Karena dalam sebuah aktivitas dakwah itu akan timbul
masalah atau problem yang sangat kompleks, yang dalam menangani
serta mengantisipasinya diperlukan sebuah strategi yang sistematis.
Dalam konteks ini, maka ilmu manajemen sangat berpengaruh dalam
pengelolaan sebuah lembaga atau organisasi dakwah sampai pada
tujuan yang diinginkan. Sedangkan ruang lingkup dakwah akan
berputar pada kegiatan dakwah, di mana dalam aktivitas tersebut
diperlukan seperangkat pendukung dalam mencapai kesuksesan.
Adapun hal-hal yang mempengaruhi aktivitas dakwah antara lain
meliputi:

12
Drs.RB.Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah dari Dakwah Konvensional
menuju Dakwah profesional, (Jakarta: Amzah, Cet.1, 2007), hlm.42-46

10
1. Keberadaan seorang da’i, baik yang terjun secara langsung
maupun tidak langsung, dalam pengertian eksistensi da’i yang
bergerak di bidang tersebut.
2. yang akan disampaikan kepada mad’u, pada tataran ini materi
harus bisa memenuhi atau yang dibutuhkan oleh mad’u, sehingga
akan mancapai sasaran dakwah itu sendiri, dan
3. Mad’u kegiatan dakwah harus jelas sasarannya, dalam artian ada
objek yang akan didakwahi.13

B. Metode Dakwah
Metode dakwah Rasulullah SAW pada awalnya dilakukan melalui
pendekatan individual (personal approach) dengan mengumpulkan kaum
kerabatnya di bukit Shafa. Kemudian berkembang melalui pendekatan
kolektif seperti yang dilakukan saat berdakwah ke Thaif dan pada musim
haji. Metode dakwah adalah cara mencapai tujuan dakwah, untuk
mendapatkan gambaran tentang prinsip-prinsip metode dakwah harus
mencermati firman Allah Swt, dan Hadits Nabi Muhammad Saw :
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl : 125)
Dari ayat tersebut dapat difahami prinsip umum tentang metode
dakwah Islam yang menekankan ada tiga prinsip umum metode dakwah
yaitu ; Metode hikmah, metode mau’izah khasanah, dan meode mujadalah
billati hia ahsan, banyak penafsiran para Ulama terhadap tiga prinsip
metode tersebut antara lain :
1. Metode hikmah menurut Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya
mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas
disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat
menghilangkan keragu-raguan.

13
M.Munir,S.Ag,M.A, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2009), hlm.79-80

11
2. Metode mau‟izah khasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah
memberi ingat kepada orang lain dengan fahala dan siksa yang dapat
menaklukkan hati.
3. Metode mujadalah dengan sebaik-baiknya menurut Imam Ghazali
dalam kitabnya Ikhya Ulumuddin menegaskan agar orang-orang yang
melakukan tukar fikiran itu tidak beranggapan bahwa yang satu
sebagai lawan bagi yang lainnya, tetapi mereka harus menganggap
bahwa para peserta mujadalah atau diskusi itu sebagai kawan yang
saling tolong-menolong dalam mencapai kebenaran.
Demikianlah antara lain pendapat sebagian Mufassirin tentang tiga
prinsip metode tersebut.
Selain metode tersebut Nabi Muhammad Saw bersabda: “Siapa di
antara kamu melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak
mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan
hatinya, dan yang terakhir inilah selemah-lemah iman.” [ H.R. Muslim ].
Dari hadis tersebut terdapat tiga tahapan metode yaitu ;
a. Metode dengan tangan [bilyadi], tangan di sini bisa difahami secara
tektual ini terkait dengan bentuk kemunkaran yang dihadapi, tetapi
juga tangan bisa difahami dengan kekuasaan atau power, dan metode
dengan kekuasaan sangat efektif bila dilakukan oleh penguasa yang
berjiwa dakwah.
b. Metode dakwah dengan lisan [billisan], maksudnya dengan kata
kata yang lemah lembut, yang dapat difahami oleh mad'u, bukan
dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan hati.
c. Metode dakwah dengan hati [bilqolb], yang dimaksud dengan
metode dakwah dengan hati adalah dalam berdakwah hati tetap ikhlas,
dan tetap mencintai mad'u dengan tulus, apabila suatu saat mad'u atau
objek dakwah menolak pesan dakwah yang disampaikan,
mencemooh, mengejek bahkan mungkin memusuhi dan membenci
da'i atau muballigh, maka hati da'i tetap sabar, tidak boleh membalas
dengan kebencian, tetapi sebaliknya tetap mencintai objek, dan

12
dengan ikhlas hati da’i hendaknya mendo’akan objek supaya
mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
Selain dari metode tersebut, metode yang lebih utama lagi adalah bil
uswatun hasanah, yaitu dengan memberi contoh prilaku yang baik dalam
segala hal. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW banya
ditentukan oleh akhlaq belia yang sangat mulia yang dibuktikan dalam
realitas kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Seorang muballigh harus
menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehar-hari.

III. KESIMPULAN
Dari uraian makalah di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen
dakwah islam merupakan sebuah sarana yang bisa memberikan berbagai
kemudahan. Dengan adanya sarana sehingga membuat aktivitas dakwah
menjadi lebih dinamis, cepat dalam bertindak (responsif) namun terencana,
terukur, dan terorganisasi. Dan juga dilakukan oleh SDM yang tepat, dan
memberikan dampak yang besar terhadap organisasi dan lingkungan. Bukan
justru sebaliknya, menjadi rumit dan menghambat dinamisasi aktivitas
dakwah, atau bahkan menimbulkan masalah baru. Semua tahapan dakwah
yang sudah kita lakukan haruslah diukur keberhasilannya dengan
mengevaluasi.

IV. DAFTAR PUSTAKA


Athoillah, M. Anton Athoillah. 2010, Dasar-dasar Manajemen. Bandung:
CV Pustaka Setia.
Hasibuan, Malayu S.P. 2009. Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah.
Bandung: Bumi Aksara.
Kayo, RB. Khatib Pahlawan. 2007. Manajemen Dakwah dari Dakwah
Konvensional menuju Dakwah professional. Jakarta:Amzah.
Munir dan Wahyu Illaihi. 2009. Manajemen Dakwah. Jakarta: Kencana.
Shaleh, ABD. Rosyad. 1977. Manajemen Dakwah Islam. Jakarta: Bulan
Bintang.

13