You are on page 1of 8

Eksistensi Media dalam Dua Periode PemerintahanSusilo Bambang

Yudhoyono (SBY)

UTS Komunikasi Pembangunan

Disusun Oleh :

Isma Ardayani (1601111130)

Dosen Pengampu:

Geovani Meiwanda, S.Sos, M.PA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

UNIVERSITAS RIAU

2019
Eksistensi Media dalam Dua Periode Pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY)
Abstrak

Media Massa merupakan salah satu sumber informasi utama yang memiliki pengaruh yang besar
terhadap masyarakat sehingga dapat membentuk opini yang berkembang di masyarakat. Karena
itu Keberhasilan komunikasi pembangunan tidak terlepas dari peran media. Dalam
melaksanakan tugasnya media didukung oleh UU no. 40 tahun 1999 yang menjamin kebebasan
media dalam mencari, memperoleh, dan meyebarluaskan gagasan dan informasi. Kebebasan ini
menjadikan media sebagai kontrol bagi pemerintah dalam melaksanakan tugas pembangunan dan
juga dapat memberikan informasi yang mencerdaskan rakyat. Diawali pada masa orde baru
dimana Media Indonesia menganut sistem otoritarian, dimana media hanya menjadi corong
pemerintah. Runtuhnya orde baru menjadi angin segar bagi Media di Indonesia, terjadi banyak
reformasi di bidang media. Era Habibie, Gusdur, dan Megawati merupakan awal dari
perkembangan kebebasan media di Indonesia. Media yang ideal dicapai pada dua periode
pemerintahan SBY, dimana pemerintah tidak mencampuri media dalam melakukan kegiatannya,
dilain pihak media juga menjalankan pers yang bertanggung jawab, dimana tetap memegang
prinsip kebebasan, tetapi tetap berpedoman pada norma-norma yang berlaku. Iklim media era
SBY yang kritis dan konstruktif, diharapkan dapat terus berlangsung dan dapat menjadikan
media sebagai support system pemerintah.

Kata kunci : Media, Pembangunan, Pemerintah, Support system.

Abstract
Mass media is one of the main sources of information that has a large influence on society so
that it can form a growing opinion in the community. Therefore the success of development
communication is inseparable from the role of the media. In carrying out its duties the media is
supported by Law no. 40 of 1999 which guarantees media freedom in finding, obtaining, and
disseminating ideas and information. This freedom makes the media a control for the
government in carrying out development tasks and can also provide information that educates
the people. Beginning in the new order where Media Indonesia adopted an authoritarian system,
where the media only became the mouthpiece of the government. The collapse of the new order
was a breath of fresh air for the media in Indonesia, there were many reforms in the media
sector. Era Habibie, Gusdur, and Megawati are the beginning of the development of media
freedom in Indonesia. The ideal media is achieved in two periods of SBY's administration, where
the government does not interfere in the media in carrying out its activities, on the other hand
the media also runs a responsible press, which still holds the principle of freedom, but still
adheres to the prevailing norms. The critical and constructive SBY era's media climate is
expected to continue and can make the media a support for thesystem government.
Keywords: Media, Development, Government, Support system.
Pendahuluan

Berbicara tentang media tidak terlepas dari pers, dimana media merupakan komponen
utama dari pers. Marshall Mc. Luhan dalam Nurudin (2003) menyebut media massa sebagai the
exetension of man (media adalah eksistensi manusia), dengan kata lain, media adalah
perpanjangan dan perluasan dari kemampuan jasmani dan rohani manusia. Berbagai keinginan,
aspirasi, pendapat, sikap perasaan manusia bisa disebarkan melalui media. Media dapat pula
menjadi penyalur aspirasi masyarakat kepada pemerintah atau penguasa demikian pula
sebaliknya media dapat menjadi corong untuk menyebarluaskan kebijakan-kebijakan pemerintah
yang akan disampaikan kepada masyarakat. UU Nomor 40 tahun 1999 merupakan regulasi yang
menjamin kebebasan media dalam menjalankan fungsinya.

Berita tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan oleh Presiden
Joko Widodo, dapat dengan mudah diketahui oleh masyarakat Indonesia melalui media, baik
cetak maupun elektronik. Demikian pula sebaliknya, tanggapan, aspirasi, keinginanan, pendapat
masyarakat tentang kebijakan tersebut dapat diketahui oleh pemerintah melalui media, misalnya
saja terjadi aksi demonstrasi oleh mahasiswa dalam rangka menolak kenaikan harga BBM
tersebut, kemudian diliput oleh wartawan dan ditayangkan di media ataupun melalui polling
atau jajak pendapat yang sering diakukan oleh media, untuk mengetahui tanggapan masyarakat
terhadap suatu isu yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Pada dua periode masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono media bisa disebut
ideal berbeda dengan masa pemerintahan sebelumnya. Pada masa pemerintahan SBY media
bebas melaksanakan tugasnya tanpa adanya intervensi dari Negara, namun tetap berpegang pada
prinsip bertanggung jawab. Berbeda dengan pemerintahan orde baru diamana media pada masa
itu harus tunduk pada pemerintah, pemerintahan era SBY malah tidak pernah ikut campur
mengenai urusan kebebasan media. SBY menerapkan Media yang bertanggung jawab tetapi
tidak mengurangi kebebasan media pada saat itu.
Landasan Teori

1. Konsep Media

Media massa merupakan saluran atau alat komunikasi yang menghubungkan


komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh,
sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia media
massa merupakan sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita
dan pesan kepada masyarakat luas. Sedangkan menurut Gerbner “mass Comunication is the
thecnologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared
continuous flow of messages in industrial societies”, menggambarkan bahwa komunikasi massa
menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi yang disebarkan dan didistribusikan
kepada khayalak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap.

Media massa merupakan bagian dari fungsi komunikasi dalam masyarakat, menurut
Harold Lasswell “sebagai pemeliharaan lingkungan yang mendukung pengaitan berbagai
komponen masyarakat agar dapat menyesuikan diri dengan perubahan lingkungan dan
pengalihan warisan sosial”.

Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber
kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat
kabar, film, radio, TV (Cangara, 2002). Media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah
perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, pelaziman operan atau proses imitasi (belajar
sosial). Dua fungsi dari media massa adalah media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan
informasi (Rakhmat, 2001).

Media menampilkan diri sendiri dengan peranan yang diharapkan, dinamika masyarakat
akan terbentuk, dimana media adalah pesan. Jenis media massa yaitu media yang berorentasi
pada aspek (1) penglihatan (verbal visual) misalnya media cetak, (2) pendengaran (audio)
semata-mata (radio, tape recorder), verbal vokal dan (3) pada pendengaran dan penglihatan
(televisi, film, video) yang bersifat ferbal visual vokal (Liliweri, 2001).
2. Konsep Pemerintahan

Menurut C. F. Strong, pemerintahan dalam arti luas merupakan setiap aktivitas badan-
badan publik yang terdiri dari aktivitas-aktivitas atau pun kegiatan eksekutif, legislatif, dan
yuridis dalam upaya mencapai tujuan sebuah negara. Dalam arti yang sempit, C. F. Strong
mengungkapkan jika pemerintahan merupakan setiap bentuk aktivitas kegiatan badan publik dan
hanya terdiri dari badan eksekutif.

Sedangkan Menurut W. S. Sayre, pemerintahan merupakan sebuah organisasi negara


yang menjalankan kekuasaannya terhadap rakyat di negara tersebut.

Menurut M. Kusnardi, pemerintahan dapat diartikan sebagai urusan-urusan yang


dilakukan oleh sebuah negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan rakyat atau pun warga
yang dimilikinya dengan jalan memenuhi kepentingan rakyatnya serta menjalankan dan
melaksanakan fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif secara baik dan benar.

Menurut U. Rosenal, pemerintahan merupakan sebuah ilmu yang mempelajari cara


petunjuk kerja ekstern dan intern struktur dan juga proses pemerintahan secara global.

Singkatnya pemerintahan adalah sebuah organisasi Negara yang terdiri dari Eksekutif,
Legislatif, dan Yuridis yang menjalankan kekuasaannya untuk memenuhi kepentingan rakyat
yang dipimpinnya. Untuk melaksanakan tugas-tugasnya Pemerintah memerlukan media untuk
menyampaikan kepada rakyat kebijakan-kebijakan yang dibuatnya serta media dibutuhkan
sebagai kontrol dari kebijakan-kebijakan tersebut yang disampaikan kepada rakyat banyak.

Pembahasan

Perkembangan Pers Indonesia

Apabila kita membahas mengenai media, maka isu yang utama yang terkait adalah
kebebasan pers, atau otonomi pers dalam mengolah pemberitaannya serta posisinya sebagai salah
satu lembaga dalam masyarakat. Nurudin (2008) mengatakan dalam suatu masyarakat terdapat
suatu hubungan trikotomi, yaitu hubungan yang bertolak belakang antara tiga pihak, dalam hal
ini pemerintah, pers, dan masyarakat. Ketiga pihak ini memiliki kepentingan yang saling
bertolak belakang, oleh karena itulah disebut dengan hubungan trikotomi. Hal tersebut wajar saja
terjadi karena masing-masing pihak memiliki tujuan dan tuntutan yang berbeda, dinamika
hubungan diantara ketiga unsur tersebut yang menjadikan media akan berbeda menurut masanya
yang selalu dipengaruhi oleh pemerintah yang tengah berkuasa.

Media di era pemerintahan SBY menerapkan media yang bertanggung jawab terhadap
masyarakat. Sebuah perpaduan ideal antara kebebasan pers dan kesadaran pengelola media
massa (insan pers), khususnya untuk tidak berbuat semena-mena dengan kemampuan, kekuatan
serta kekuasaan media massa (the power of the press).
(http://www.suaramerdeka.com/harian/0409/29/opi3.htm). Meskipun pers di era SBY
menerapkan media yang bertanggung jawab, tetapi tidak mengurangi kebebasan media pada saat
itu, pemerintah tidak pernah ikut campur mengenai urusan kebebasan pers. Dibawah
kepemimpinan SBY selama satu dasawarsa media Indonesia benar-benar telah menikmati
kebebasannya. Hal serupa juga disampaikan oleh Jacob Oetama dalam kompasiana.com, bahwa
kemerdekaan pers di era SBY lebih baik dibandingkan dengan pemeritahan sebelumnya. Pers
yang kritis dan konstruktif pada masa SBY harus tetap dipertahankan di era Presiden Jokowi.

Hubungan pers dan presiden di era SBY dapat diibaratkan sebagai hubungan benci tapi
rindu, dimana hubungannya dengan pers turun naik tetapi tetap hangat, presiden SBY pada awal
pemerintahannya mendapatkan dukungan yang luar biasa dari berbagai media, tetapi di saat yang
lain media juga mengkritik presiden SBY dengan sangat kritisnya. Siapapun yang menjadi
presiden di negara demokratis tentu akan merasakan suasana tersebut. Walaupun media sering
mengkritik dengan kerasnya, presiden SBY ternyata tidak pernah membenci atau mengambil
jarak dengan media.

Presiden SBY tetap proporsional tenang dan setiap pernyataan, namun tetap
menampilkan kehangatan. Kritikan tersebut menurut SBY dapat menghindarkan dirinya dari
penyalahgunaan kekuasaan dan penyalur berbagai ketidakpuasan masyarakat. Hubungan hangat
dengan media turut membangun sebuah kebebasan pers tanpa takut untuk menyampaikan
pendapat (Susilo Bambang Yudoyono dalam www. kompasiana.com). Pada masa akhir masa
pemerintahan SBY perkembangan media berita online sangat pesat, sehingga informasi yang
diberikan kepada masyarakat sangat faktual, dan transparan, sehingga masyarakat mengetahui
perkembangan jalannya pemerintahan dan dapat memberikan feedback yang lebih cepat terhadap
situasi yang tengah berlangsung.

Penutup

Peran media sangat penting bagi kemajuan negara, media dapat mengantarkan negara
menjadi maju dengan banyak perannya, akan tetapi kadangkala media tidak dapat menjalankan
fungsinya dengan baik karena terbentur oleh kebijakan pemerintah. Media yang baik akan
mengantarkan kepada masyarakat yang baik, media yang buruk akan mengantarkan masyarakat
ke era yang buruk. Media di era pemerintahan SBY menerapkan media yang bertanggung jawab
terhadap masyarakat. Dibawah kepemimpinan SBY selama satu dasawarsa media Indonesia
benar-benar telah menikmati kebebasannya. Walaupun media sering mengkritik dengan
kerasnya, presiden SBY tidak pernah membenci atau mengambil jarak dengan media. Sedangkan
Media di era Habibie, Gusdur, dan Megawati walaupun telah mengalami masa kemerdekaan
pers yang lebih baik dari pemerintahan sebelumnya, tetapi media pada masa tersebut masih
dalam kendali samar pemerintah, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa era Habibie, Gusdur dan
Megawati merupakan era kemajuan kebebasan media di Indonesia, walaupun media era ketiga
presiden itu terkesan cenderung kebablasan.
Daftar Pustaka

http://www.umm.ac.id/en/opini/kebebasan-pers-di-era-presiden-sby.html

https://pakarkomunikasi.com/fungsi-media-massa

Solihat, Manap.2015.Diversifikasi media massa dan demokrasi di Indonesia, penguatan peran


media massa serta masyarakat dalam mewujudkan demokrasi. Jurnal Ilmu Politik dan
Komunikasi.Volume No. 02 / Desember 2015

News.okezone.com

http://eprints.ums.ac.id/55909/4/04.%20BAB%20I%20.pdf

https://www.kompasiana.com/nur.amalina22/550069dfa333115c73510b26/pengertian-media-
massa

Arnus Hadijah, Sri.2015.Jejak Perkembangan Sistem Pers Indonesia.Al-MunzirVol. 8, No. 1,


Mei 2015