You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat
bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir. (Hidayat, Aziz
Alimul.2005)
Di Amerika Serikat pada tahun 1979 sampai 1990 terdapat 155 kematian ibu
akibat penyulit pada anestesi atau 3,8% dari 4097 kematian terkait kehamilan
(Curningham, 2006).
Di negara berkembang, sectio caesarea merupakan pilihan terakhir untuk
menyelamatkan ibu dan janin pada saat kehamilan dan atau persalinan kritis.
Angka kematian ibu karena sectio caesarea yang terjadi sebesar 15,6% dari 1.000
ibu dan kejadian asfiksia sedang dan berat pada sectio caesarea sebesar 8,7% dari
1.000 kelahiran hidup sedangkan kematian neonatal dini sebesar 26,8% per 1.000
kelahiran hidup.(Sibuea, 2007).
Angka kematian bayi secara keseluruhan di Indonesia mencapai 334 per
100.000 kelahiran hidup dan penyebab kematian terbesar adalah asfiksia (Mieke,
2006). Angka kematian bayi di Indonesia menurut survei demografi dan kesehatan
Indonesia mengalami penurunan dari 46 per 1000 kelahiran hidup (SKDI 1997)
menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup (SKDI 2003). Sedangkan angka kematian
ibu mengalami penurunan dari 421 per 100.000 kelahiran hidup (SKDI 1992)
menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (SKDI 2003).Kematian pada masa
perinatal yang disebabkan karena asfiksia sebesar 28%.
Insiden asfiksia neonatorum di negara berkembang lebih tinggi daripada di
negara maju.Di negara berkembang, lebih kurang 4 juta bayi baru lahir menderita
asfiksia sedang atau berat, dari jumlah tersebut 20% diantaranya meninggal.Di
Indonesia angka kejadian asfiksia kurang lebih 40 per 1000 kelahiran hidup,
secara keseluruhan 110.000 neonatus meninggal setiap tahun karena asfiksia
(Dewi dkk, 2005).
Dalm kasus asfiksia ini, peran perawat adalah bagaimana untuk memacu
napas klien untuk kembali normal.Memberikan terapi oksigen yang baik,

4
memberikan semangat kepada keluarga klien untuk berfikir positif dan
mengurangi rasa cemas.
Pengawasan ini bertujuan menemukan sedini mungkin adanya kelainan
yang dapat mempengaruhi proses persalinan sehingga penanganannya dapat
dilakukan dengan baik. Pemilihan cara persalinan dilakukan dengan
pertimbangan-pertimbangan demi keselamatan ibu dan bayi, untuk ibu hamil
preeklamsia cara persalinan yang sering dilakukan adalah Sectio Caesarea. Sectio
Caesarea dilakukan bila terjadi gawat janin atau fetal distress pada kala I, terjadi
ketuban pecah dini, kala II yang lama dan ibu yang mengalami kejang
(Wiknjosastro, 1999).
Oleh karena itu dalam makalah ini dijelaskan mengenai penyakit asfiksia
neonatorum.Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh
berbagai faktor seperti faktor ibu, faktor placenta, faktor featus dan faktor
neonatus, sehingga menyebabkan bayi sulit untuk bernafas secara spontan.Setiap
penyakit mempunyai gambaran klinik tersendiri terutama pada tanda dan gejala,
pengobatan serta perawatannya.

B. TUJUAN
Setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat memahami apa yang
dimaksud dengan Asfiksia dan hal-hal yang menyangkut asuhan keperawatannya.
C. . Rumusan Masalah
1. Apa defenisi dari asfiksia?
2. Apa etiologi dari asfiksia?
3. Apa patofisiologi dari asfiksia?
4. Apa saja asuhan keperawatan dengan masalah asfiksia?

5
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian

Asfiksia neonatorium ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas
secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin
dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan factor-faktor yang timbul
dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir(hanifa
winknjosastro,2005)

Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak


dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang
mungkin timbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan , beberapa factor
perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia. Faktor – factor
tersebut ialah : 1. Etiologi dan factor –faktor predisposisi 2.gangguan homeostatis
3. Diagnosis asfiksia bayi , dan 4. Resusitasi.

B. Etiologi dan factor predisposisi

Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena


gangguan pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat
gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghasilkan CO2 .Gangguan ini
dapat berlangsung serta menahun akibat kondisi atau kelainan ibu selama
kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam
persalinan (hanifa winknjosastro,2005).

Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk,
penyakit menahun seperti anemia,hipertensi, penyakit jantung, dan lain-lain. Pada
keadaan terakhir ini pengaruh terhadap janin disebabkan oleh gangguan
oksigenasi serta kekurangan pemberian zat-zat makanan berhubungan dengan
gangguan fungsi plasenta. Hal ini dapat dicegah atau dikurangi dengan melakukan

6
pemeriksaan antenatal yang sempurna , sehingga perbaikan sedini-dinya dapat
diusahakan.

Factor –faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan
hamper selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan
asfiksia bayi. Keadaan ini perlu dikenal,agar dapat dilakukan persiapan yang
sempurna pada sat bayi lahir. Factor –faktor yang mendadak ini terdiri atas :

a. Factor –faktor dari pihak janin, seperti :


1. Gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat,
2. Depresi pernapasan karena obat – obatan anesthesia/analgetika yang
diberikan kepada ibu, perdarahan intracranial,dan kelainan bawaan
(hernia diafragmatika, atresia saluran pernapasan, hypoplasia paru-
paru,dan lain-lain).
b. Factor –faktor dari pihak ibu, seperti :
1. Gangguan his,misalnya hipertoni dan tetani;
2. Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan misalnya pada
plasenta previa;
3. Hipertensi pada eklamsi;
4. Gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta.

C. Patofiologi

Kondisi patologis yang menyebabkan asfiksia meliputi kurangnya oksigenasi


sel , retensi karbon dioksida berlebihan, dan asidosis metabolic. Kombinasi ketiga
peristiwa itu menyebabkan kerusakan sel dan lingkungan biokimia yang tidak
cocok dengan kehidupan.

Awitan hipoksia menyebabkan serangkaian reaksi. Frekuensi jantung dan


tekanan darah pada awalnya meningkat dan bayi melakukan upaya megap-megap
(gasping). Bayi kemudian masuk ke periode apnea primer. Bayi yang menerima
stimulasi adekuat selama apnea primer akan mulai melakukan usaha napas lagi.

7
Stimulasi dapat terdiri stimulasi taktil(mengeringkan bayi) dan stimulasi termal
(oleh suhu ruang persalinan dingin).(Helen varney,2008)

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada bayi setelah lahir menurut Nelson (1997) adalah
sebagai berikut :
1. Bayi pucat dan kebiru-biruan
2. Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3. Hipoksia
4. Asidosis metabolik atau respiratori
5. Perubahan fungsi jantung
6. Kegagalan sistem multiorgan
7. Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala
neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak
menangis.

E. KLASIFIKASI BERDASARKAN APGAR SKORE

Keadaan umum bayi baru lahir dinilai satu menit setelah lahir dengan
penggunaan nilai apgar.Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi
menderita asfiksia atau tidak. Yang dinilai ialah frekuensi jantung(heart
rate),usaha napas(respiratory effort),tonus otot (mucle tone),warna kulit(colour)
dan reaksi terhadap rangsangan (response to stimuli) yaitu dengan memasukkan
kateter ke lubang hidung setelah jalan napas dibersihkan. Setiap penilaian diberi
anngka 0,1,2. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahuibahwa :

1. bayi normal( vigorous baby= apgar 7-10)


2. asfiksia sedang ringan(nilai apgar 4-6)
3. asfiksia berat (nilai apgar 0-3).

Lihat table 1. Bila nilai apgar tidak mencapai nilai 7 dalam 2 menit maka
harus dilakukan tindakan resusitasi lebih lanjut oleh karena bayi menderita
asfiksia lebih dari 5 menit, kemungkinan terjadinya gejala-gejala neurologic-
lanjutan dikemudian hari lebih besar. Berhubungan dengan itu,penilaian menurut

8
apgar dilakukan selain pada umur 1 menit juga pada umur 5 menit (hanifa
winknjosastro,2005).

0 1 2 NA
Appearance ( warna Pucat Badan merah, Seluruh tubuh
kulit) ekstremitas biru kemerah-
merahan
Pulse rate(frekuensi Tidak Kurang dari 100 Lebih dari 100
nadi) ada
Grimace(reaksi Tidak Sedikit gerakan Batuk/bersin
rangsangan) ada mimic(grimace)
Activity (tonus otot) Tidak Ekstremitas Gerakan aktif
ada dalam sedikit
fleksi
Respiration(pernapasan) Tidak Lemah/tidak Baik/menangis
ada beraturan
Jumlah

F. Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos dada
- USG kepala
- Laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisa gas darah
2. Elektrolit darah
3. Gula darah
4. Baby gram
5. USG ( Kepala )
6. Penilaian APGAR score
7. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan
8. Pengkajian spesifik

H. Diagnosis

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari


anoksia/hipoksia janin.Diagnosis anoksia/hipoksia janin dapat dibuat dalam

9
persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal perlu
mendapat perhatian .(hanifa winknjosastro,2005).

a. Denyut jantung janin


Frekuensi normal ialah antara 120 dan 160 denyutan semenit; selama his
frekuensi ini bisa turun , tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan
semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak
artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai di bawah 100 semenit
diluar his, dan lebih lebih jika tidak teratur. Hal itu merupakan tanda
bahaya. Di beberapa klinik elektrokardiograf janin digunakan untuk terus-
menerus mengawasi keadaan denyut jantung dalam persalinan.
b. Meconium dalam air ketuban
Meconium pada presentasi-sunsang tidak ada artinya, akan tetapi pada
presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan
harus menimbulkan kewaspadaan. Adanya meconium dalam air ketuban
pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri
persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
c. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat
sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah
janin.Darah ini diperiksa pH nya.Adanya asidosis menyebabkan turunnya
pH. Apabila Ph itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai
tanda bahaya oleh beberapa penulis.
I. Resuitasi bayi

Untuk mendapatkan hasil yang sempurna dalam resuitasi , prinsip dasar yang
perlu diingat ialah :

1. Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap


bebasnya jalan napas;
2. Memberikan bantuan pernapasan secara aktif kepada bayi dengan usaha
pernapasan buatan;
3. Memperbaiki asidosis yang terjadi;
4. Menjaga agar peredaran darah tetap baik..(hanifa winknjosastro,2005).

10
J. Tindakan

Tindakan tindakan yang dilakukan pada bayi dapat dibagi dalam 2 golongan
;.(hanifa winknjosastro,2005).

a. Tindakan umum
Tindakan ini dikerjakan pada setiap bayi tanpa memandang nilai
apgar.Segera setelah bayi lahir, diusahakan agar bayi mendapat pemanasan
yang baik.Harus dicegah atau dikurangi kehilangan panas dari
tubuhnya.Penggunaan sinar lampu untuk pemanasan luar dan untuk
mengeringkan tubuh bayi mengurangi evaporasi.
b. Tindakan khusus
Tindakan ini dikerjakan setelah tindakan umum diselenggarakan tanpa
hasil.Prosedur yang dilakukan disesuaikan dengan berat asfiksia yang
timbul pada bayi, yang dinyatakan oleh tinggi-rendahnya nilai apgar.
1) Asfiksia berat ( nilai apgar 0-3)
Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera
dilakukan.Langkah utama ialah memperbaiki ventilasi paru-paru
dengan memberikan O2 secara tekanan lansung dan berulang-
ulang.Cara yang terbaik ialah melakukan intubasi endotrakeal
dan setelah kateter dimasukkan kedalam trakea, O2 diberikan
dengan tekanan tidak lebih dari 30 ml air
2) Asfiksia ringan-sedang ( nilai apgar 4-6 )
Disini dapat dicoba melakukan rangsangan untuk menimbulkan
refleks pernapasan.Hal ini dapat dikerjakan selama 30-60 detik
setelah penilaian menurut apgar 1 menit.Bila dalam waktu
tersebut pernapasan tidak timbul, pernapasan buatan harus segera
dimulai.Pernapasan aktif yang sederhana dapat dilakukan secara
pernapasan kodok.Cara ini dikerjakan dengan memasukkan pipa
ke dalam hidung, dan O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter
dalam satu menit.Agar saluran napas bebas.Bayi diletakkan
dengan kepala dalam dorsofleksi.Secara teratur dilakukan

11
gerakan membuka dan menutup lubang hidung dan mulut
disertai menggerakkan dagu ke atas dan ke bawah dalam
frekuensi 20 kali permenit.
c. Tindakan lain-lain dalam resusitasi
Pengisapan cairan lambung hanya dilakukan pada bayi-bayi
tertentu untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya regurgitasi dan
aspirasi, terutama pada bayi yang sebelumnya menderita gawat-janin, yang
dilahirkan dari ibu yang mendapatkan obat-obatan analgesia/anesthesia
dalam persalinannya, pada bayi premature dan sebagainya. Tentang
penggunaan obat-obatan analeptic seperti lobelin, koramin,vandid, dan
lain-lain dewasa ini tidak diberikan lagi dan asfiksia berat bahkan
merupakan kontraindikasi untuk penggunaannya.

12
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Ada beberapa pengkajian yang harus dilakukan yaitu :
1. Sirkulasi
a. Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt.
b. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45
mmHg (diastolik).
c. Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas
maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/
IV.
d. Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
e. Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
2. Eliminasi
a. Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
a. Berat badan : 2500-4000 gram
b. Panjang badan : 44-45 cm
c. Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
4. Neurosensori
a. Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
b. Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30
menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas).
Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
c. Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi
menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik
yang memanjang)
5. Pernafasan
a. Skor APGAR : 1 menit s/d 5 menit dengan skor optimal harus
antara 7-10.

13
b. Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
c. Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya
silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
a. Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan
distribusi tergantung pada usia gestasi).
b. Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat,
warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang
menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps)

B. Analisa Data
1. Data Subyektif
Data subyektif adalah persepsi dan sensasi klien tentang masalah
kesehatan..

2. Riwayat kesehatan
3. Pola nutrisi
Yang perlu dikaji pada bayi dengan post asfiksia berat gangguan absorbsi
gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan
cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi
kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis
metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena.

4. Pola eliminasi
Yang perlu dikaji pada neonatus adalah :

BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi.

BAK : frekwensi, jumlah

5. Latar belakang sosial budaya


Kebudayaan yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia, kebiasaan ibu
merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika

14
6. Hubungan psikologis
Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan
ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan
mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan
psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan asfiksia karena memerlukan
perawatan yang intensif

7. Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan
pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku (Effendi
Nasrul, 1995)

a. Keadaan umum
b. Tanda-tanda Vital
Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia
benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila
suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh < 37 C.
Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5C – 37,5C, nadi normal antara 120-
140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi
post asfiksia berat pernafasan belum teratur..

8. Data Penunjang
Data penunjang pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam
menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan
obat yang tepat pula.

Pemeriksaan yang diperlukan adalah :

1) Darah
a. Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :
 Hb (normal 15-19 gr%) biasanya pada bayi dengan asfiksia
Hb cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit.
 Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x
10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah
sehingga resiko tinggi.

15
 Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)
b. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :
 pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi
asidosis metabolik.
 PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post
asfiksia cenderung naik sering terjadi hiperapnea.
 PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post
asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.
 HCO3 (normal 24-28 mEq/L)
2) Urine
Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :

 Natrium (normal 134-150 mEq/L)


 Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L)
 Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L)
3) Photo thorax
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien asfiksia antara lain:
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post
asfiksia berat.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan
reflek menghisap lemah.
3. hipotermia
4. Resiko infeksi

16
D. Intervensi

NO DIAGNOSA INTERVENSI
1. Gangguan pemenuhan kebutuhan 1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang
O2 sehubungan dengan post data, kepala lurus, dan leher sedikit
asfiksia berat tengadah/ekstensi dengan meletakkan
bantal atau selimut diatas bahu bayi
sehingga bahu terangkat 2-3 cm
2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila
perlu
3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda
cyanosis tiap 4 jam
2. Resiko terjadinya hipotermi 1. Letakkan bayi terlentang diatas pemancar
sehubungan dengan adanya roses panas (infant warmer)
persalinan yang lama dengan 2. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk
ditandai akral mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas
dingin suhu tubuh dibawah 36° C handuk / kain yang kering dan hangat.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan 1. Deteksi adanya kelainan pada eliminasi
nutrisi sehubungan dengan reflek bayi dan segera mendapat tindakan /
menghisap lemah. perawatan yang tepat.
2. Menentukan derajat dehidrasi dari turgor
dan mukosa mulut.
3. Monitor intake dan out put.
4. Beri ASI sesuai kebutuhan.
5. Lakukan kontrol berat badan setiap hari.
4. Resiko terjadinya infeksi 1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik
dalam memberikan asuhan keperawatan
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah
melakukan tindakan.
3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk
ruang isolasi (kamar bayi)
4. Lakukan perawatan tali pusat dengan
triple dye 2 kali sehari.
5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan
lingkungan bayi.
6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala
kardinal

17
E. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan asuhan keperawatan yang
merupakan realisasi rencana tindakan yang telah ditentukan dalam tahap
perencanaan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal

F. Tahap Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari proses keperawatan yaitu
proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana perawatan, tercapai atau tidak
serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan. Evaluasi dilakukan secara
terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan petugas kesehatan yang
lain. Dalam menentukan tercapainya suatu tujuan asuhan keperawatan pada bayi
dengan post Asfiksia sedang, disesuaikan dengan kriteria evaluasi yang telah
ditentukan. Tujuan asuhan keperawatan dikatakan berhasil bila diagnosa
keperawatan didapatkan hasil yang sesuai dengan kriteria evaluasi.

18
TINJAUAN KASUS

A. Kasus Pemicu Asfiksia


By C, usia 2 jam, jenis kelamin laki-laki, agama islam, suku bangsa melayu,
alamat kota baru jambi, masuk RS pada tanggal 03/10/2012. By C merupakan
anak pertama dari Ny.M dan Tn.N. By C masuk RSUD Raden Mattaher Jambi di
ruang PRT. Bayi diantar oleh Bidan T dengan alasan setelah di lahirkan bayi tidak
bisa bernafas secara spontan dan tidak menangis, bidan T mengatakan
pernafasannya tidak teratur nilai Apgar score lima menit pertama adalah 5. Bidan
T mengatakan bahwa sebelumnya By. C terdapat penumpukan sekret pada mulut
bayi. Menurut keterangan dari bidan hal ini terjadi dikarenakan ibu bayi partus
selama 12 jam, warna air ketuban hijau kental, usia kehamilan saat melahirkan
adalah 42 minggu, selama kelahiran ibu mengalami preeclampsia dengan TD
140/100 mmHg. Saat dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan bayi terlihat
sianosis, bibir terlihat pucat dan hidung teraba dingin, tonus otot lemah, akral
teraba dingin, denyut nadi bayi 90 x/I, RR 15x/i, bayi terpasang O2 2 liter, IVFD
Dx 5% 4 tetes/i. Saat ini bayi masih dalam perawatan menurut diagnose dokter
bayi mengalami afiksia sedang dan harus di lakukan tindakan resusitasi. Keluarga
klien mengatakan bahwa dirinya cemas terhadap anaknya.

B. Asuhan Keperawatan
Ruang : PRT Tgl masuk RS : 3 Oktober 2012
Kelas : II Tgl Pengkajian : 3 Oktober 2012

1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Nama : By. C
Jenis Kelamin : laki-laki
TTL / Usia : 2 Jam
Agama : islam
Nama orang tua
a. Ibu

19
Nama : Ny. M
Umur : 23 Tahun
b. Ayah
Nama : Tn. N
Umur : 25 Tahun
Data Medik
Diagnosa medik
1. Saat masuk : asfiksia
2. Saat pengkajian: asfiksia sedang

d. Alasan Masuk Rumah Sakit


Klien masuk rumah sakit Raden Mattaher Jambi pada tanggal 03 Agustus
2011 dengan alasan bidan T mengatakan bayi tidak bisa bernafas secara spontan
setelah dilahirkan.

e. Riwayat Kesehatan Saat Ini


Bidan T mengatakan bayi tidak bisa bernafas secara spontan dan tidak
menangis setelah dilahirkan dengan usaha bernapas lemah,

f. Riwayat Kehamilan Ibu


- Umur kehamilan : 42minggu
- Periksa ANC : pada bidan
- Frekuensi ANC : 4x selama kehamilan
- Penyakit ibu selama hamil: hipertensi

g. Riwayat Persalinan Ibu


1. Jenis persalinan:
Pervaginam.
2. partus ditolong oleh bidan.
3. lama partus selama 12 jam.
4. Warna air ketuban hijau dan kental

20
5. Selama kehamilan ibu mengalami preeklamsia dengan TD :140/100
mmHg

h. Pemeriksaan fisik
1. Tanda-tanda vital klien/bayi
- Denyut Nadi : 90 x/i
- RR : 15x/i
- Suhu :37⁰C
- BB/PB : 3000gr/43cm

2. Head to Toe
- Kepala Bentuk : Normal
Chepal : Hematom: Tidak Ada
- Mata : Bentuk : Simetris
Sekret : Tidak ada
Conjungtiva : Ananemis
Sklera : Anikterik
- Mulut : Bibir : Normal
Gigi : Belum Tumbuh
- Hidung : Simetris, Teraba dingin
Telinga : Bentuk : Simetris
Thorax & Abdomen : Bentuk : Normal
Nafas :Megap-mega
Denyut Jantung :Bradi Cardia
Tali Pt :Tidak ada Perdarahan
- Ekstremitas : Tonus Otot Lemah
- Teraba dingin

3. Nilai APGAR skor bayi lima menit pertama adalah 4.


- Detak jantung =1
- RR =1
- Refleks saat jalan nafas =1

21
- Tonus otot =1
- Warna kulit =0
i. Terapi
IVFD dx 5% 4 tts/i menggunakan infus set mikro.
O2 2 Liter/menit

ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS : bidan T mengatakan bahwa Espansi yang kurang Gangguan
sebelumnya By. C terdapat adekuat pertukaran gas.
penumpukan sekret pada mulut
bayi
DO :
Tonus otot bayi C fleksi
ektremitasnya tampak lemah
RR: 15x/i
N: 90x/i
Dalam mulut bayi

2. Bersihan jalan
DS : Penumpukan cairan nafas tida efektip
Bidan T mengatakan By. C ketuban
setelah dilahirkan tidak segera
menangis
Bidan T mengatakan
pernafasannya tidak teratur

DO :
Bayi tampak sulit bernapas
RR : 15x/i
N : 90x/i
Klien tampak terpasang O2 2
liter.

3. DS : Ansietas
Ayah klien mengatakan cemas Ancaman kematian
dengan keadaan anaknya.

DO :
Keluarga klien tampak cemas
Keluarga klien tampak gelisah
melihat anaknya masih belum

22
menangis.
Keluarga klien tampak cemas
melihat anaknya terpasang alat
pembantu pernapasan (oksigen 2
liter), dan terpasang infus.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1) Gangguan pertukaran gasb/d ekspansi yang kurang adekuat d.d Bidan T


mengatakan By. C setelah dilahirkan tidak segera menangis, bidan T
mengatakan pernafasannya tidak teratur, bayi tampak sulit bernapas, RR :
15x/I, N : 90x/I, klien tampak terpasang O2 2 liter.

2) Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d penumpukan cairan ketuban d.d
bidan T mengatakan bahwa sebelumnya By. C terdapat penumpukan
sekret pada mulut bayi, tonus otot bayi C fleksi ektremitasnya tampak
lemah, RR: 15x/I, N: 90x/i

3) Asietas b/d ancaman kematian d.d ayah klien mengatakan cemas dengan
keadaan anaknya, keluarga klien tampak cemas, keluarga klien tampak
gelisah melihat anaknya masih belum menangis, keluarga klien tampak
cemas melihat anaknya terpasang alat pembantu pernapasan (oksigen 2
liter), dan terpasang infus

23
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

NO DIAGNOSA TUJUAN & INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
1 Gangguan pemenuhan TJ: pernafasan Mandiri Mandiri
kebutuhan O2 b/d ekspansi kembali normal 1. Kaji frekuensi,1. Kecepatan napas
yang kurang adekuat d.d kedalaman pernapasan biasanya meningkat
Bidan T mengatakan By. Kriteria Hasil: dan ekspansi dada
C setelah dilahirkan tidak
1. Klien tidak
2. Auskultasi bunyi 2. Bunyi napas menurun
segera menangis, bidan T mengalami sesak napas atau tidak ada bila jalan
mengatakan pernafasannya napas napas obstruksi
tidak teratur, bayi tampak
2. RR klien normal
sulit bernapas, RR : 15x/I, (30-40x/menit) 3. Posisikan bayi pada
3. Posisi ini dapat
N : 90x/I, klien tampak 3. Kulit klien tidak abdomen atau posisi memudahkan pernapasan
terpasang O2 2 liter, pucat telentang dengan dan menurunkan episode
gulungan popok asfiksia
dibawah bahu untuk
menghasilkan sedikit
hiperektensi
4. Berikan rangsang 4. Merangsang SSP untuk
taktil yang segera ( meningkatkan gerakan
mis, gosokkan tubuh dan kembalinya
punggung bayi ) bila pernapasan yang spontan
terjadi apnea.

Kolaborasi 5. Memaksimalkan
5. Berikan oksigen bernapas dan
tambahan menurunkan kerja napas

2 Bersihan jalan nafas tidak Tujuan Mandiri Mandiri


efektif b/d penumpukan Pola napas kembali 1. Auskultasi suara 1. Pernapasan ronki dan
cairan ketuban d.d bidan efektif nafas sebelum dan mengi menunjukkan
T mengatakan bahwa sesudah suction. obstruksi jalan napas.
sebelumnya By. C terdapat KH : 2.Megurangi rasa
penumpukan sekret pada Bayi tidak sesak 2. Beritahu keluarga kecemasan
mulut bayi, tonus otot bayi napas tentang suction 3.distres pernapasan sering
C fleksi ektremitasnya TTV normal ( RR 3. Observasi adanya terjadi pada bayi
tampak lemah, RR: 15x/I, 30-0x/menit N tanda-tanda distres4. agar makanan yang sudah
N: 90x/i 45x/menit S 36- pernafasan masuk tidak keluar
37ºC) kembali
4. Posisikan bayi
miring kekanan
setelah 5.untuk mengeluarkan
memberikan cairan yng di mulut
makan

Kolaborasi

24
5. Hisap mulut dan
nasopharing
dengan spuit
sesuai kebutuhan

3 Asietas b/d ancaman Mendemostrasikan 1. Evaluasi tingkat1. Orang terdekat


kematian d.d ayah klien hilangnya ansietas pemahaman keluarga mendengar dan
mengatakan cemas dengan dan memberikan klien tentang mengasimilasi informasi
keadaan anaknya, keluarga informasi tentang diagnose. baru yang meliputi
klien tampak cemas, proses penyakit. perubahan ada gambaran
keluarga klien tampak KH: diri.
gelisah melihat anaknya 2. Berikan kesempatan2. membuat kepercayaan
masih belum menangis,
1. Menunjukan untuk bertanya dan dan menurunkan
keluarga klien tampak rentang perawatan jawab dengan jujur kesalahan persepsi
cemas melihat anaknya yang tepat dan antara keluarga dan terhadap informasi.
terpasang alat pembantu penampilan wajah perawat. 3. dapat membantu dalam
pernapasan (oksigen 2 tampak rileks atau memperbaiki beberapa
liter), dan terpasang infus. istirahat. 3. Libatkan orang perasaan cemas.
2. Mengakui dan terdekat dalam
mendiskusikan takut perencanaan 4. sulit menerima dengan
atau masalah. keperawatan. isu emosi bila tidak
4. Berikan kenyamanan kenyamanan fisik
fisik menetap.

25
CATATAN PERKEMBANGAN
Nama : By. C
Usia : 2 Jam
Tanggal : 3 Oktober 2012
Hari : Pertama

No TGL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI


KEPERAWATAN
1 4-10- Gangguan pemenuhan Jam 10.00 Jam 12.00
2012 kebutuhan O2 b/d 1. Mengkaji frekuensi
ekspansi yang kurang kedalaman dan kemudahan
S S: Klien masih tampak
adekuat d.d Bidan T bernapas. kesulitan bernafas
mengatakan By. C H : Frekuensi napas dapat
setelah dilahirkan tidak terpantau O:
segera menangis, bidan2.T Mengauskultasi bunyi napas - Ekstremitas klien masih
mengatakan 3. Memposisikan bayi pada posisi tampak sianosis
pernafasannya tidak telentang dengan gulungan - Klien tampak pucat
teratur, bayi tampak sulit popok dibawah bahu untuk RR : 27x/i
bernapas, RR : 15x/I, N : menghasilkan sedikit- Napas ronchi
90x/I, klien tampak hiperektensi
terpasang O2 2 liter, 4. Mengobservasi warna kulit. A : Masalah teratasi
H : Warna kulit klien pucat sebagian

Kolaborasi : P : Intervensi dilanjutkan


5. Memberikan terapi oksigen. (1, 2, 3, 5 )
H : Klien terpasang O2 2liter
2 4-10- Bersihan jalan nafas Jam 10.00 Jam 12.00
2012 tidak efektif b/d
1. Mengauskultasi suara nafas
penumpukan cairan sebelum dan sesudah suction. S : Orangtua klien
ketuban d.d Bidan H:T Sebelum : Kreckles mengatakan anaknya
mengatakan Ny.M partus
Setelah : Vesikuler masih sesak napas
lama selama 12 jam,
2. Memberitahu keluarga

26
bidan T mengatakan tentang suction O : RR 20x/i
warna ketuban hijau dan
H: supaya keluarga mengetahui N 102x/i
kental, tonus otot bayi C bahwa anaknya akan dilakukan
fleksi ektremitasnya suction A : Masalah bersihan jalan
tampak lemah, RR: 3. Mengobservasi adanya napas teratasi sebagian
15x/I, N: 90x/ tanda-tanda distres pernafasan
H: Pernapasan klien dapat P : Intervensi dilanjutkan
terpantau (3, 4, 5 )
4. Memposisikan bayi
miring kekanan setelah
memberikan makan
H: Bayi mau diposisikan
Kolaborasi
5. Melakukan hisap mulut
dan nasopharing dengan spuit
sesuai kebutuhan
H: Jalan napas kembali
normalJam 10.00
6. Mengkaji frekuensi
kedalaman dan kemudahan
bernapas.
H : Frekuensi napas dapat terpantau

3 4-10- Asietas b/d ancaman Jam 11.00wib Jam 12.00 wib


2012 kematian d.d ayah klien 3. mengevaluasi tingkat
mengatakan cemas pemahaman keluarga klien S :
dengan keadaan anaknya, tentang diagnose. - Keluarga klien
keluarga klien tampak 4. Memberikan kesempatan mengatakan mengerti
cemas, keluarga klien untuk bertanya dan jawab dengan apa yang
tampak gelisah melihat dengan jujur antara keluarga dan dijelaskan
anaknya masih belum perawat. - Keluarga klien
menangis, keluarga klien
5. Melibatkan orang terdekat mengatakan cemas sedikit

27
tampak cemas melihat dalam perencanaan keperawatan. berkurang
anaknya terpasang alat
6. Memberikan kenyamanan fisik O : Keluarga klien tampak
pembantu pernapasan mengerti dan paham
(oksigen 2 liter), dan dengan penjelasan yang
terpasang infus. diberikan
- Keluarga klien masih
sering bertanya tentang
keadaan anaknya
A : masalah teratasi
sebagian
P : intervensi dilanjutkan (
2)

28
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada dasarnya penyebab asfiksia dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai
berikut yaitu perdarahan, infeksi, kelahiran preterm/bayi berat lahir rendah,
asfiksia, hipotermi, perlukaan kelahiran dan lain-lain. Bahwa 50% kematian bayi
terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan, kurang
baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-
kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian.
Umur ibu pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu sehingga
kualitas sumber daya manusia makin meningkat dan kesiapan untuk menyehatkan
generasi penerus dapat terjamin. Kehamilan di usia muda/remaja (dibawah usia 20
tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, hal ini
dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum siap untuk mempunyai anak
dan alat-alat reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga kehamilan di
usia tua (diatas 35 tahun) akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan
persalinannya serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil.

B. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini kita semua dapat lebih memahami
masalah asfiksia pada bayi baru lahir, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita
semua

29
DAFTAR PUSTAKA

Atika Dhiah Anggraeni,2013.Diktat Perkuliahan Keperawatan Keluarga,Maos.

Brunner & Suddart.2002.Buku Ajar.Keperawatan Medikal Bedah Volume


2.Jakarta,EGC,Buku Kedokteran

Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran, EGC, 2000

Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta,


Penerbit Kanisius, 2001

Kodim Nasrin.2003.Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @


tempointeraktif.com,

30
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGANMASALAH ASFIKSIA

Disusun oleh :
Kelompok 4

1. Ari Azhari
2. Mara Anggi
3. Santy Komariah
4. Lisda Siregar
5. Juliani

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AUFA ROYHAN
PADANGSIDIMPUAN
2018

31
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT.yang telah memberikan


rahmad dan hidayahnya serta kesempatan kepada kelompok kami sehingga kami
dapat menyelesesaikan Makalah dan Asuhan keperawatan “ ASFIKSIA“ ini tepat
pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini kami banyak menerima bantuan dari
Saudara/i teman-teman untuk ini kami taklupa menguncapkan terima kasih
Makalah ini tentu masih banyak kekurangannya, kami mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Kami mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya
terutama mahasiswa dan penyusun dalam membantu proses pembelajaran.

Padangsidimpuan, Maret 2019

Penulis

32 i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Tujuan ............................................................................................ 1
C. Rumusan masalah ............................................................................ 2

. BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. .. Definisi .......................................................................................... 3
B. Etiologi .......................................................................................... 3
C. Tanda & Gejala ............................................................................. 4
D. Patofisiologi .................................................................................. 4
E. Manifistasi Klinis .......................................................................... 5
F. Pemeriksaan Penunjang................................................................. 5
G. .. Komplikasi .................................................................................... 6
H. Penatalaksanaan ............................................................................ 7
I. Pengkajian Keluarga ...................................................................... 7
J. Diagnosa dan perencanaan
K. Keperawatan .................................................................................. 8

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN


KELUARGA HIPERTENSI PRIMER ........................................ 11

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan .................................................................................... 29
B. Saran .............................................................................................. 29

DAFTAR PUSTAKA

ii
33
34