You are on page 1of 7

NASKAH DRAMA

Untuk memenuhi tugas berbicara dalam mata kuliah Bahasa Indonesia

yang dibimbing oleh ………………

dengan tema hubungan antara perawat dengan pasien

Oleh:

Kelompok 4

1. Afira Cahyaning Ati


2. Rindha Raceiana H.
3. Nadya Eka Fauziyah
4. Andri Agustin
5. Siti Dyah Wahyu D. R.
6. Catrina Dyan Ekayanti
7. Nova Rima
8. Purwinanti Putri
Peran :

1. Afira Cahyaning Ati sebagai Narator


2. Rindha Raceiana H. sebagai Rindha
3. Nadya Eka Fauziyah sebagai Nadya
4. Andri Agustin sebagai Dokter
5. Siti Dyah Wahyu D. R. sebagai Perawat 1
6. Catrina Dyan Ekayanti sebagai Perawat 2
7. Nova Rima sebagai Perawat 3
8. Purwinanti Putri sebagai Perawat 4

Siapa yang tahu tentang hidup ini? Kehidupan ini tak selamanya seindah yang dilalui
sekarang, bisa jadi beberapa menit kemudian akan berubah. Kita tak tahu apa yng akan kita lalui
di masa yang akan datang, tapi sungguh kehendak Tuhan sangat luar biasa. Kita tidak tahu,
hikmah apa yang di berikan Tuhan untuk kita.

Bumi selalu berputar, begitu juga dengan hidup seorang gadis yang bernama Rindha.
Baginya hidup ini begitu indah dengan segala rencana Tuhan, tetapi seketika itu hidupnya gelap
dan tak terlihat jalan olehnya. Ayahnya meninggal akibat kecelakaan, setelah itu ibunya menikah
lagi dengan pria yang tak bertanggung jawab.

(Rindha kecelakaan, orang-orang membawanya ke rumah sakit)

Perawat 4 : “Dokter, ada pasien kecelakaan dan mengalami fraktur”

(Perawat dan dokter berlari menuju ruang UGD)

(Dokter dan perawat selesai melakukan penanganan, keluar ruangan)

Dokter : (menjelaskan kepada perawat) “Ada kemungkinan kaki dan tangannya


akan sangat sulit di gerakkan, karena dia mengalami patah tulang. Lakukan
terapi secara rutin untuk penyembuhan! Juga jangan lupa untuk
membersihkan luka dan mengganti perbannya, kontrol terus kondisi nya dan
tunggu hingga sadar!”
Perawat 1 : “Siap, dok!”

(Rindha sadar, perawat 1 datang)

Perawat 1 : “Anda sudah sadar?”

Pasien : (melihat sekitar) “Saya di rumah sakit?”

Perawat 1 : “Iya, anda baru saja dilarikan ke rumah sakit ini. Jangan banyak bergerak
agar lukamu tidak semakin parah. Istirahatlah yang cukup dan tenangkan
pikiranmu agar kondisimu semakin membaik!”

Pasien : (berusaha duduk) “Apa yang terjadi dengan saya?”

Perawat 1 : (menghentikan pergerakan Rindha) “Jangan banyak bergerak agar lukamu


tidak semakin parah. Istirahatlah yang cukup dan tenangkan pikiranmu agar
kondisimu semakin membaik!”

Pasien : (panik) “Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?”

Perawat 1 : “Tenanglah, kamu baik-baik saja”

Pasien : “Lengkap sudah penderitaanku. Semua menghilang dari hidupku. Aku


sudah muak dengan hidup ini, terlalu banyak penderitaan yang aku
tanggung”

Perawat 1 : (sambil memegang kaki Rindha) “Semua penyakit pasti ada obatnya,
termasuk untuk menyembuhkan luka yang kamu derita saat ini”

(Perawat 2 datang)

Perawat 2 : (sambil menghampiri) “Kenapa gaduh sekali di sini?”

(melihat kaki Rindha yang masih dipegang oleh perawat 1) “Oh, pasti
tentang kaki mbak, ya? Kata dokter nggak papa kok, kita akan melakukan
terapi agar kaki kamu bisa di gerakkan, tapi kamu harus percaya dan
melakukan saran-saran dari dokter dan perawat di sini agar kaki mbak bisa
digerakkan kembali”
(Dokter datang)

Dokter : “Selamat malam”

Semua : “Selamat malam, dokter”

Dokter : “Gimana keadaan Rindha, sudah enakan? Syukurlah kamu cepat sadar”

Rindha : (sambil memegang kaki) “Kaki saya tidak bisa di gerakkan, dokter. Ada
apa ini?

Perawat 1 : (memegang pundak Rindha) “Sabar dulu ya, kami sedang berusaha
melakukan yang terbaik untuk kesembuhanmu. Percayalah pada kami!”

Dokter : “Setelah kondisimu benar-benar membaik, kita akan melakukan terapi dan
pemulihan. Dan ingat, kamu juga harus semangat untuk sembuh!”

(Dokter keluar ruangan)

Rindha : “Jadi semuanya baik-baik saja kan, sus? Apa yang terjadi pada saya?”

Perawat 2 : (menyiapkan catatan laporan) “Sebelumnya, di mana keluarga dan


alamatmu? Ceritakan semuanya kepada kami agar kami dapat menjelaskan
kepada keluargamu terlebih dahulu. Kau anak yang sangat cantik dan
menggemaskan”

Rindha : (bingung) “Kenapa kau tidak ceritakan kepadaku saja?”

(membentak) “Cari saja keluargaku di neraka!”

Perawat 1 : (terkejut) “Rindha, nggak boleh bilang seperti itu. Mereka keluargamu. Di
mana orang tuamu? Kamu tinggal di mana?”

Rindha : (mengamuk) “Kenapa suster terus menerus bertanya, bertanya, dan


bertanya?! Apa kau tidak mengerti maksudku? Aku sudah tidak memiliki
keluarga. Aku sudah tidak memiliki apapun, ditambah keadaan cacat seperti
ini. Apa aku tidak berhak mengetahui keadaanku sendiri?! Tinggalkan aku
sendiri! Tolong, tinggalkan aku sendiri!”
(Perawat 1 dan perawat 2 meninggalkan ruangan)

Di malam hari, Rindha memainkan telepon selulernya. Karena ia sudah tidak memiliki
keinginan untuk melanjutkan hidupnya yang berantakan dan penuh dengan cobaan, terbesit di
benaknya untuk mengakhiri hidupnya.

Rindha : (sambil melihat ponsel) “Euthanasia?”

Perawat 3 : (kaget saat lewat dan mendengar Rindha) “Hah?”

(Perawat 3 menghampiri Rindha)

Rindha : (menggumam) “Eutahanasia…”

Perawat 3 : “Ada apa, Rindha? Kenapa kau menyebut euthanasia?”

Rindha : “Hm? Aku membacanya di internet”

Perawat 3 : (menyelimuti Rindha) “Oh, begitu. Tidurlah, ini sudah malam. Matikan
ponselmu!”

Keesokan harinya, perawat 3 mengganti perban yang membalut kaki Rindha.

Perawat 3 : “Selamat pagi, saya Nova peawat rumah sakit ini, di sini saya akan
mengganti perban di kaki mbak”

Rindha : “Euthanasia…” (melamun dan menggumam)

Perawat 3 : (sambil memakai APD) “Sudah, jangan kau ingat-ingat lagi istilah itu!”

Rindha : (tidak menghiraukan perawat)

Perawat 3 : “Jangan bilang, kamu memikirkan ini sepanjang malam?”

Rindha : “Benar, aku memikirkannya”

Perawat 3 : (sambil mengganti perban) “Untuk apa memikirkan itu? Setelah ini kau
akan menjalani terapi, jadi persiapkan dirimu untuk sembuh”

Rindha : “Sebenarnya euthanasia itu boleh, kan?”


Perawat 3 : “Masa depanmu masih panjang, kamu tidak sepantasnya memikirkan hal
itu”

Rindha : (sinis) “Masa depan? Yang benar saja”

Perawat 3 : (selesai mengganti perban) “Sudah selesai. Sekarang persiapkan dirimu


untuk melakukan terapi. Semangat!!!”

Di ruang terapi dengan perawat 1.

Rindha : “Suster, apa itu euthanasia?”

Perawat 1 : (kaget, ragu menjelaskan) “Emm.. Euthanasia itu suatu pembunuhan yang
diperbolehkan dalam dunia medis yang disengaja karena pasien tersebut
sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi. Mengapa kau
menanyakan hal itu?”

Rindha : “Bagaimana jika aku meminta dokter untuk melakukan hal tersebut
kepadaku?”

Perawat 1 : (kaget) “Kamu ini berbicara apa? Kok ngawur. Dengan melakukan
perawatan yang rutin kamu akan segera pulih”

Rindha : “Untuk apa aku hidup jika tidak ada seorang pun yang peduli terhadapku.
Hidupku sudah hancur”

Perawat 1 : “Yang berhak menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Tuhan.
Lebih baik kau pikirkan kembali hal itu!”

Rindha : (berontak) “Aku sudah tak ingin sembuh. Apakah ada cara lain sehingga
aku dapat mati dengan perlahan? Bisakah kalian melakukan euthanasia itu
padaku?”

Perawat 1 : (geleng-geleng tak habis pikir)

Perawat 1 sampai tak habis pikir, bisa-bisanya anak itu meminta tindakan euthanasia.
(Dokter, perawat 1, perawat 2, perawat 3 memasuki ruangan Rindha)

Dokter : “Ku dengar kau meminta tindakan euthanasia. Benarkah itu?”

Rindha : “Iya, benar”

Dokter : (bernapas dalam-dalam) “Atas dasar apa kau meminta tindakan ini?”

Rindha : “Tak ada lagi yang ku punya, orang tua, keluarga, teman, dan kedua
kakiku juga. Kalau aku tidak mati, pasti aku akan mati secara perlahan-
lahan dengan kondisiku yang sekarang, menderita”

Perawat 1 : (meyakinkan Rindha) “Kenapa kamu berkata seperti itu? Tenangkan


dirimu, cobalah tuk berfikir dengan tenang!”