You are on page 1of 12

MAKALAH HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

TENTANG ASAS-ASAS HUKUM PERDATA INTERNASIONAL DALAM

HUKUM KONTRAK

BY

ELSA APRINA,S.H.,M.H

KELOMPOK 1

1. ALDY JUNIANTO P : 16301-4130


2. YOAN MEGAWATI : 16301-4175
3. RISMA INDRIANI : 16301-4197
4. ANDI ZUMANSYAH MAPPI SABBI : 16301-4214

FAKULTAS HUKUM JURUSAN ILMU HUKUM

UNIVERSITAS BALIKPAPAN
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan
karunia-Nya lah makalah kami yang berjudul “Asas-asas hukum perdata internasional dalam
hukum kontrak” terselesaikan dalam rangka memenuhi tugas kami dalam mata kuliah Hukum
Perdata Internasional.

Makalah yang kami buat ini menjelaskan tujuan untuk mengetahui Asas-Asas Hukum Perdata
Internasional Dalam Kontrak/Perjanjian merupakan persetujuan di antara dua orang atau lebih
yang memuat satu atau beberapa janji yang bersifat timbal balik dan menimbulkan akibat hukum
bagi para pihak. Dalam kontrak yang bersifat internasional, tentu proses ini melibatkan unsur-
unsur personalia, obyek kontrak ataupun area/wilayah secara lintas negara.
Dalam menyusun perjanjian antara pihak yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda ataupun
perjanjian yang mengandung unsur HPI haruslah berdasarkan kesepakan para pihak,

Kami sadar makalah yang di buat ini jauh dari sempurna, maka kami mohon saran dan kritik yang
dapat menyempurnakan makalah kami ini kepada semua pihak yang mau berpartisipasi. Atas
segala saran dan kritiknya kami ucapkan terima kasih.

Balikpapan, 14 Oktober 2018

Penyusun,

Kelompok 1
BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Kontrak adalah suatu kesepakatan tertulis mengenai tindakan hukum yang dilakukan oleh masing-
masing pihak, dua pihak atau lebih di mana dituntut untuk melakukan atau tidak melakukan satu
atau lebih prestasi. Hukum perdata internasional diaplikasikan pada peristiwa hukum keperdataan
yang cross border, ada unsur asing (foreign element) dan atau terlibat lebih dari satu sistem hukum.
Perjanjian/kontrak merupakan persetujuan di antara dua orang atau lebih yang memuat satu atau
beberapa janji yang bersifat timbal balik dan menimbulkan akibat hukum bagi para pihak. Dalam
kontrak yang bersifat internasional, tentu proses ini melibatkan unsur-unsur personalia, obyek
kontrak ataupun area/wilayah secara lintas negara. Hukum Perjanjian terbagi menjadi 2 bagian
yaitu: Pilihan hukum, yaitu hukum yang oleh para pihak dipilih dan karena itu dianggap berlaku
bagi perbuatan yang dilaksanakan & Non pilihan hukum timbul apabila tidak adanya maksud dari
para pihak (pilihan hukum) Dalam suatu kontrak internasional sering timbul perselisihan-
perselisihan hukum di antara para pihak.

I.2 Rumusan Masalah


a. Hukum manakah yang berlaku atas kontrak tersebut?

b. Forum atau pengadilan manakah yang berwenang mengadili jika terjadi sengketa hukum?

I.3 Tujuan
a. Mengetahui Hukum mana yang berlaku berdasarkan kontrak tersebut

b. Mengetahui Forum/Pengadilan mana yang berwenang jika terjadi sengketa hukum

Dalam menjawab persoalan demikian, kita dapat menganalisis hukum yang berlaku berdasarkan
titik-titik pertalian sekunder seperti pilihan hukum, tempat ditandatanganinya kontrak atau
tempat pelaksanaan kontrak.
Namun, dalam hal tidak ada pilihan hukum yang ditentukan dalam perjanjian, ada beberapa teori
pilihan hukum dalam Hukum Perdata Internasional yang bisa dipakai.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Asas-Asas Hukum Perdata Internasional Dalam Kontrak/Perjanjian

Perjanjian/kontrak merupakan persetujuan di antara dua orang atau lebih yang memuat satu atau
beberapa janji yang bersifat timbal balik dan menimbulkan akibat hukum bagi para pihak. Dalam
kontrak yang bersifat internasional, tentu proses ini melibatkan unsur-unsur personalia, obyek
kontrak ataupun area/wilayah secara lintas negara.

Dalam menyusun perjanjian antara pihak yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda ataupun
perjanjian yang mengandung unsur HPI haruslah berdasarkan kesepakan para pihak.

a. Asas Pacta Sunservanda


Perjanjian merupakan undang undang bagi yang membuatnya. Asas kekuatan mengikat atau asas
facta sun servanda ini dapat diketahui di dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan
bahwa : “Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya.” Adapun maksud dari asas ini tidak lain untuk mendapatkan kepastian hukum
bagi para pihak, maka sejak dipenuhinya syarat.
b. Lex Loci Contractus
Menurut teori Lex Loci Contractus ini hukum yang berlaku adalah hukum dari tempat dimana
kontrak itu dibuat . Jadi tempat dibuatnya sesuatu kontrak adalah faktor yang penting untuk
menentukan hukum yang berlaku. Dimana suatu kontrak dibuat, hukum dari negara itulah yang
dikapai. Akan tetapi dalam praktek dagang internasional pada waktu sekarang ini prinsip tersebut
sukar sekali dipergunakan. Jelas sekali hal ini apa yang dinamakan kontrak-kotrak antara orang-
orang yang tidak bertemu, tidak berada ditempat, “Contract between absent person”. Jika para
pihak melangsungkan suatu kontrak tetapi tidak sampai bertemu maka tidak ada tempat
berlangsungnya kontrak.
c. Lex Loci Solutions
Menurut teori ini hukum dari tempat dimana perjanjian dilaksanakan, jadi bukan tempat dimana
kontraknya ditandatangani akan tetapi dimana kontrak itu dilaksanakan.
d. The proper law of the contract
Digunakan untuk mengedepankan apa yang dinamakan “intention of the parties” hokum yang
ingin diberlakukan untuk perjanjian tersebut karena dikehendaki oleh para pihak ybs. Hukum yang
dikehendaki itu bisa dinyatakan secara tegas yaitu dicantumkan dalam perjanjian, bisa pula tidak
dinyatakan secara tegas apabila ditegaskan keinginan para pihak,maka hukum yang diberlakukan
adalah yang ditegaskan. Apabila tidak ditegaskan,maka harus disimpulkan oleh pengadilan dengan
melihat pada isi perjanjian, bentuknya unsure-unsur perjanjian maupun kejadian-
kejadian/peristiwa-peristiwa disekelilingnya yang relevan dengan perjanjian tersebut.

e. Teori The Most characteristic Connection


Pada tiap-tiap kontrak dapat dilihat pihak mana yang melalukan prestasi yang paling karaktetristik
dan hukum dari pihak yang melakukan prestasi yang paling karakteristik ini adalah hukum yang
dianggap harus dipergunakan karena hukum inilah yang terberat dan yang sewajarnya digunakan.
Dalam hukum perdata dikenal beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan dalam penyusunan
kontrak sehingga akan terhindar dari unsur-unsur yang dapat merugikan para pihak pembuat suatu
kontrak yang mereka sepakati dan hal tersebut juga tetap berlaku dalam hukum perdata
internasional. Prinsip dan klausul dalam kontrak dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Asas Kebebasan Berkontrak. Berdasarkan prinsip ini, para pihak berhak menentukan apa saja
yang ingin mereka sepakati, sekaligus untuk menentukan apa yang tidak ingin dicantumkan di
dalam isi perjanjian, tetapi bukan berarti tanpa batas. Dalam KUHPerdata, asas kebebasan
berkontrak ini diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata yang dirumuskan sebagai: (a) Semua
persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya; (b) Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah
pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu; (c)
Persetujuan-persetujuan harus dilaksanakan dengan iktikad baik.
2. Asas Konsensualitas. Suatu perjanjian timbul apabila telah ada konsensus atau persesuaian
kehendak antara para pihak. Dengan kata lain, sebelum tercapainya kata sepakat, perjanjian tidak
mengikat. Konsensus tersebut tidak perlu ditaati apabila salah satu pihak menggunakan paksaan,
penipuan ataupun terdapat kekeliruan akan objek kontrak.
3. Asas Kebiasaan. Suatu perjanjian tidak mengikat hanya untuk hal-hal yang diatur secara tegas
saja dalam peraturan perundang-undangan, yurisprudensi dan sebagainya, tetapi juga hal-hal yang
menjadi kebiasaan yang diikuti masyarakat umum. Jadi, sesuatu yang menurut sifat persetujuan
diharuskan oleh kepatutan. Dengan kata lain, hal-hal yang menurut kebiasaan selamanya
diperjanjikan dianggap secara diam-diam dimasukan dalam persetujuan meskipun tidak dengan
tegas dinyatakan. (Pasal 1339 BW).
4. Asas Peralihan Resiko. Dalam sistem hukum Indonesia, beralihnya suatu resiko atas kerugian
yang timbul merupakan suatu prinsip yang berlaku untuk jenis-jenis perjanjian tertentu seperti
pada persetujuan jual beli, tukar menukar, pinjam pakai, sewa menyewa, pemborongan pekerjaan,
dan lain sebagainya, walaupun tidak perlu dicantumkan dalam perjanjian yang bersangkutan.
Meskipun demikian, para pihak boleh mengaturnya sendiri mengenai peralihan resiko itu,
sepanjang tidak bertentangan dengan undang undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

5. Asas Ganti kerugian. Penentuan ganti kerugian merupakan tugas para pembuat perjanjian untuk
memberikan maknanya serta batasan ganti kerugian tersebut karena prinsip ganti rugi dalam sistem
hukum Indonesia mungkin berbeda dengan prinsip ganti kerugian menurut sistem hukum asing.
Dalam KUHPerdata Indonesia, prinsip ganti kerugian ini diatur dalam pasal 1365, yang
menentukan; “Setiap perbuatan melanggar hukum yang menmbawa kerugian kepada seorang lain
mewajibkan orang yang karena salahnya menimbulkan kerugian tersebut.” Dengan demikian,
untuk setiap perbuatan yang melawan hukum karena kesalahan mengakibatkan orang lain
dirugikan, maka ia harus mengganti kerugian yang diderita orang lain, tetapi harus dibuktikan
adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian dimaksud sebab
tidak akan ada kerugian jika tidak terdapat hubungan antara perbuatan melawan hukum yang
dilakukan oleh si pelaku dengan timbulnya kerugian tersebut.

6. Asas Kepatutan (Equity Principle). Prinsip kepatutan ini menghendaki bahwa apa saja yang
akan dituangkan di dalam naskah suatu perjanjian harus memperhatikan prinsip kepatutan
(kelayakan/ seimbang), sebab melalui tolak ukur kelayakan ini hubungan hukum yang ditimbulkan
oleh suatu persetujuan itu ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam masyarakat (KUH-Perdata:
pasal 1339). Dengan begitu, setiap persetujuan tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang secara
tegas dimuat dalam naskah perjanjian, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat
persetujuan diharuskan oleh “kepatutan”, kebiasaan atau undang undang.

7. Asas Ketepatan Waktu. Setiap kontrak, apapun bentuknya harus memiliki batas waktu
berakhirnya, yang sekaligus merupakan unsur kepastian pelaksanaan suatu prestasi (obyek
kontrak). Prinsip ini sangatlah penting dalam kontrak-kontrak tertentu, misalnya kontrak-kontrak
yang berhubungan dengan proyek konstruksi dan proyek keuangan, di mana setiap kegiatan yang
telah disepakati harus diselesaikan tepat waktu. Prinsip ini penting untuk menetapkan batas waktu
berakhirnya suatu kontrak. Dalam setiap naskah kontrak harus dimuat secara tegas batas waktu
pelaksanaan kontrak. Jika prestasi tidak dilaksanakan sesuai dengan batas waktu yang telah
disepakati, salah satu pihak telah wanprestasi atau telah melakukan cidera janji yang menjadikan
pihak lainnya berhak untuk menuntut pemenuhan prestasi ataupun ganti kerugian.

8. Asas Keadaan darurat (Force Majeure). Force majeure principle ini merupakan salah satu prinsip
yang sangat penting dicantumkan dalam setiap naskah kontrak, baik yang berskala nasional,
regional, maupun kontrak internasional. Hal ini penting untuk mengantisipasi situasi dan kondisi
yang melingkupi objek kontrak. Jika tidak dimuat dalam naskah suatu kontrak, maka bila terjadi
hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia, misalnya gempa bumi, banjir, angin topan,
gunung meletus, dan lain sebagainya, siapa yang bertanggung jawab atas semua kerugian yang
ditimbulkan oleh bencana alam tersebut.
2.2 Beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menyusun kontrak internasional
1. Konsep Perjanjiannya
Konsep perjanjian perlu dipahami dengan benar, karena kesalahan memahami model kontrak
tertentu, akan membuat keliru, misalnya dalamdistribution agreement dan agency agreement.
Kedua model perjanjian itu memiliki konsep masing-masing yang harus diketahui. Selain itu tak
jarang para pihak mengacu pengertian suatu istilah tertentu pada standar kontrak yang telah dibuat
oleh suatu kelompok atau asosiasi dagang tertentu, misalnya International Chamber of Commerce
atau International Trade Centre. Tiap-tiap bentuk/model perjanjian memiliki klausul tersendiri
berdasarkan best practices of law yang berlaku di dunia atau bagi negara tertentu. Maka haruslah
semestinya didudukkan terlebihdahulu bagi pembuat kontrak ataupun para pihak untuk
menentukan konsep perjanjia yang dibuat sebelum membuat kontrak, terutama kontrak yang
mengandung unsur HPI didalamnya.
2. Prinsip-Prinsip Hukum Kontrak Internasional
Perlu diketahui bahwa dalam kontrak internasional berlaku prinsip-prinsip umum yang selama ini
diakui. Prinsip freedom of contract, dimana para pihak berhak menentukan isi perjanjian, di
Indonesia terdapat dalam Pasal 1338 KUH Perdata. Prinsip good faith, dimana para pihak harus
beritikad baik dalam menangani kontrak. Apabila kita melakukan perjanjian dengan negara yang
menganut sistem common law, maka perlu dipahami bahwa itikad baik dalam pengertian mereka
ditempatkan setelah perjanjian ditandatangani, sehingga isi kontrak harus dipikirkan dengan baik
sebelum ditandatangani. Selain itu prinsip pacta sunt servanda, dimana perjanjian harus ditepati
dan dipatuhi oleh para pihak. Ketiga prinsip ini harus diketahui selain prinsip-prinsip lainnya yang
berlaku. Prinsip-prinsip yang ada dalam kontrak perdata internasional terap harus diperhatikan
dalam penyusunan kontrak. Seperti lex loci contractus, Lex loci solution, The proper law of the
contract , dan Teori The Most characteristic Connection.
3. Governing law/Choice of law
Teori choice of law atau pilihan hukum secara umum diterima di semua negara-negara di dunia2
sehingga berlakunya teori ini secara universal. Menurut teori ini, para pihak tidak mempunyai
kewenangan untuk menciptakan hukum bagi mereka dan para pihak hanya dapat memilih hukum
mana yang mereka kehendaki untuk diperlakukan terhadap kontrak yang mereka buat. Akan tetapi
teori choice of law atau pilihan hukum hanya dipakai dalam kontrak yang ada unsur asingnya atau
foreign element. Suatu perjanjian yang mengandung unsur asing atau foreign element jika salah
satu pihak dalam perjanjian tersebut tunduk pada hukum yang berbeda dengan pihak lainnya, dan
atau adanya unsur asing karena substansi perjanjian itu tunduk pada hukum negara lain. Misalnya
jual beli apartemen yang terletak di Singapura antara seorang Warganegara Indonesia dengan
Warganegara Indonesia lainnya. Apabila para pihak dalam membuat kontrak bisnis- internasional
telah melakukan choice of law pada suatu sistim hukum tertentu, lalu timbul sengketa dikemudian
hari mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kontrak tersebut, maka hukum yang
dipilih irulah yang berlaku. Misalnya mengenai wanprestasi, maka hukum yang dipilih itulah yang
menentukan syarat-syarat dan kapan terjadi serta akibat hukum apa atas wanprestasi tersebut.

(A). Pentingnya Klausula Choice of Law


Ada pendapat yang mengatakan bahwa klausula choice of law dalam pembuatan kontrak bisnis
internasional tidak penting karena para pihak menganggap bahwa transaksi bisnis merupakan suatu
masalah yang rutin dan tanpa choice of law pun, setiap sistim hukum negara tertentu sudah
memiliki pengaturan dalam hukum perdata internasional yang menetapkan hukum apa yang akan
diterapkan dalam menyelesaikan sengketa bisnis internasional. Penulis tidak sependapat dengan
alasan seperti tersebut di atas, sebab masing-masing negara yang merdeka dan berdaulat
mempunyai sistim hukum perdata internasional yang berbeda satu dengan yang lainnya, bahkan
dapat terjadi perbedaan tajam dalam menyelesaikan sengketa atas kasus yang sama. Lebih menarik
lagi ada pendapat yang mengibaratkan hukum mengenai "international sale of goods" dengan
aturan pertandingan badminton, yaitu apabila setiap negara memiliki aturan permainan sendiri-
sendiri maka bukan saja harus disediakan raket, bola, dan lapangan yang berbeda, tetapi juga
aturan yang berbeda pula. Akibatnya bukan saja mahal tetapi bahkan pertandingan itu sendiri tidak
bisa diselenggarakan. Oleh sebab itu dalam banyak kontrak bisnis internasional dicantumkan
klausula choice of law demi adanya kepastian hukum. Kecenderungan untuk memakai choice of
law dalam kontrak-kontrak bisnis internasional yang dilakukan oleh Pertamina dengan pihak
asing, menurut Sudargo Gautama hampir semua kontrak-kontrak tersebut terdapat choice of law.
Pada hal kedudukan Pertamina dalam melakukan negosiasi dengan mitra asingnya lebih tinggi
(unter geordnet), disini Pertamina (Pemerintah) mempunyai bargaining power lebih kuat dari
mitranya, karena Pemerintah harus melindungi kepentingan umum. Oleh sebab itu Pemerintah
dapat memaksakan syarat-syarat yang lebih ketat bagi mitranya, walaupun demikian Pemerintah
memberikan tempat bagi choice of law karena pada sisi lain Pemerintah sangat mengharapkan
partisipasi asing dalam membangun perekonomian di Indonesia.
Tradisi di beberapa negara berkembang lainnya seperti di Amerika Latin, di mana transaksi bisnis
internasional yang dilakukan antara pemerintah disatu pihak dan swasta asing di pihak lainnya,
pihak pemerintah selalu mensyaratkan pemakaian hukum nasional pemerintah. Dalam
menghadapi kondisi yang demikian, maka pihak asing hanya dapat memilih "take it or leave it"
karena tidak ada negoisasi dan tidak ada bargaining position, dengan demikian tidak ada tempat
bagi choice of law. Berbicara tentang klausula choice of law, berarti ada suatu proses negosiasi
yang alot antara para pihak agar tercapai kesepakatan tentang klausula choice of law tersebut, serta
adanya bargaining position yang seimbang. Oleh sebab itu tidak semua kontrak-kontrak bisnis
internasional adalah penting untuk membicarakan choice of law, seperti dalam transaksi-transaksi
antar bank, di mana para pihak menganggap cukup memakai Interna¬tional Uniformity yang
disediakan oleh bank. Dengan demikian tidak dibutuhkan negosiasi mengenai hukum nasional
yang mana akan dipakai jika timbul sengketa. Demikian juga dalam kontrak-kontrak yang
melibatkan banyak pihak serta kontrak tersebut mempunyai syarat-syarat yang panjang, sehingga
sulit untuk melakukan negosiasi tentang choice of law, misalnya kerjasama mengenai eksploitasi
sumber perikanan. Namun seberapa pentingnya klausula choice of law adalah berpulang kepada
para pihak itu sendiri yang membuat kontrak tersebut, sebab jika dalam bernegosiasi tidak terdapat
kesepakatan, maka dapat menjadi pemicu perselisihan yang tidak penting dan merusak kesempatan
berbisnis. Padahal tujuan utama yang ingin dicapai para pihak dalam melakukan transaksi adalah
prestasi.

(B). Pembatasan Choice of Law


Choice of law atau pilihan hukum harus dilakukan secara bonafide dan legal, artinya memilih suatu
sistim hukum tertentu tidak dimaksudkan untuk menyelundupi peraturan-peraturan tertentu dan
sebaiknya hukum yang dipilih adalah hukum yang mempunyai hubungan tertentu dengan kontrak
bersangkutan. Demikian pula, bila pilihan hukum yang telah dinegosiasikan secara seksama oleh
para pihak akan tetapi jika hukum yang dipilih itu melanggar ketertiban umum (public policy) dari
hukum nasional hakim, maka kontrak tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh hakim karena tidak
sah. Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan
Arbitrase Asing mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ketertiban umum ialah sendi-sendi
azasi dari seluruh sistim hukum dan masyarakat Indonesia. Konsep tentang ketertiban umum
(public policy) berbeda dalam negara yang satu dengan negara lainnya dan konsep tersebut dapat
berubah sesuai dengan keadaan sosial sebagaimana ide suatu negara tentang agama, moral, dan
etika yang mengalami modifikasi. Sekelompok peraturan yang dinamakan mandatory rule atau
dwingendrecht yaitu peraturan-peraturan yang sifatnya memaksa, misalnya peraturan tentang
persaingan, peraturan tentang moneter, peraturan tentang kontrak kerja, peraturan tentang ekspor
impor dan Iain-lain. Pada kelompok peraturan-peraturan seperti tersebut di atas tidak dapat
disimpangi oleh para pihak dalam membuat kontrak bisnis internasional dan pelanggaran terhadap
peraturan-peraturan tersebut berakibat kontrak itu dapat dibatalkan oleh hakim. Dengan demikian
suatu kontrak dapat dikatakan melanggar hukum (ilegal) atau bertentangan dengan pub¬lic policy
suatu negara sehingga tidak dapat diberlakukan, adalah tergantung pada kasus demi kasus.
4. Choice of Forum
Ada waktu mengadakan transaksi bisnis internasional para pihak dapat memilih forum tertentu
sebagai tempat penyelesaian sengketa yang mungkin timbul dikemudian hari sehubungan dengan
transaksi yang mereka buat. Forum tersebut dapat berupa, forum pengadilan dan yang lainnya
forum arbitrase. Masalah tempat penyelesaian sengketa menjadi penting karena dalam suatu
kontrak bisnis internasional dapat terbuka kemungkinan timbulnya banyak yurisdiksi yang dapat
menyatakan sebagai forum yang berwcnang untuk menyelesaikan suatu sengketa. Karena paia
piliak yang terlibat dalam kontrak bisnis internasional berasal dari negara yang berbeda, dan jika
timbul sengketa maka terbuka kemungkinan bahwa sengketa tersebut dapat diajukan pada
pengadilan dari masing-masing pihak. Selain itu pengadilan dari negara ke tiga dapat juga
mempunyai kewenangan untuk memeriksa suatu sengketa, jika tempat terjadinya kerugian berada
dalam yurisdiksi pengadilan dari negara tersebut. Pengadilan dari negara ke tiga dapat juga
mempunyai yurisdiksi atas suatu sengketa jika aset debitor terletak dalam negara itu. Adanya
kegiatan bisnis terus menerus di wilayah negara lain juga bisa berakibat ditunduknya kita pada
yurisdiksi negara itu. Dengan demikian maka suatu kegiatan bisnis internasional dapat melibatkan
banyak yurisdiksi, dan masing-masing yurisdiksi ang terkait dalam kontrak bisnis internasional
tersebut dapat mengklaim yurisdiksinya sebagai yurisdiksi yang berwenang atas sengketa itu, atau
bahkan atas suatu sengketa dapat digugat pada lebih dari satu pengadilan.
Maka untuk menghindari timbulnya banyak yurisdiksi dalam menangani suatu sengketa bisnis
internasional maka para pihak dalam merancangkan suatu kontrak bisnis internasional dapat
mencantumkan klausula pilihan forum atau choice of forum clause. Dengan demikian jika timbul
sengketa di kemudian hari mengenai kontrak tersebut maka forum yang dipilih itulah yang
berwenang untuk mengadili sengketa tersebut. Namun demikian dalam praktek tidak selalu
klausula choice of forum atau choice of forum clause dapat diterima sebagai supremacy dari partij
automomie. Karena pilihan forum harus dilakukan pada forum yang ada kaitannya dengan kontrak
tersebut. Di samping itu klausula choice of forum juga dapat diuji oleh doktrin forum non
convenience yang diterapkan di pengadilan Amerika.

2.3. Contoh Kasus Perjanjian HPI


A. Contoh Kasus Perdagangan Ekspor-Impor
Semakin majunya ekonomi suatu Negara, maka semakin banyak kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan untuk kepuasan hidup masyarakat. Barang kebutuhan itu belum tentu dapat dihasilkan
oleh Negara itu sendiri dan harus dibeli dari Negara lain. Negara-negara berkembang
menghasilkan bahan baku, sehingga masing-masing pihak saling membutuhkan. Akhirnya mereka
saling terikat dalam suatu perdagangan barang karena faktor kebutuhan dan terjalinlah hubungan-
hubungan antara pengusaha yang satu dengan pengusaha dari Negara yang berbeda.
Akan tetapi kegiatan ekspor-impor jangan merugikan masyarakat luas.
1.) Kasus Inkud yang mengimpor 60.000 ton beras, namun hanya membayar bea masuk 700 ton,
pada tahun 2003 dengan jelas memperlihatkan penyimpangan impor beras. Impor beras selalu
menjadi isu sensitif . Perubahan rezim dan juga perubahan bentuk usaha menjadi perusahaan
umum tidak dengan sendirnya mengubah citra Perum Bulog.
2.)Kasus kapal beras yang terakhir bermula dari data yang dikeluarkan otoritas Pelabuhan Saigon,
Vietnam, pada pertengahan November. Dari daftar yang dikeluarkan diketahui ada tiga kapal yang
disebutkan bertujuan Filipina dengan mengangkut beras berkualitas patahan 25 persen. Akan
tetapi, hal ini dibantah Perum Bulog, ketiga kapal ini bertujuan Ciwandan, Indonesia, bukan
Filipina. Kualitas beras patahan 15 persen, bukan 25 persen.
Demikian juga mengenai tidak adanya ekspor Urea dalam kebutuhan tahun 2006 diatas
kemampuan produksi, total kebutuhan pupuk Urea untuk pertanian, perkebunan, dan industri
didalam negeri pada tahun 2006 mencapai 5,49 juta ton, sedangkan produksi hanya mencapai 5,47
juta ton. Dengan demikian, tidak ada lagi jatah untuk ekspor pupuk Urea pada tahun 2006 .
Penyelenggaraan kegiatan ekspor-impor itu adalah sebagai akibat kontrak-kontrak internasional
dalam bidang perdagangan, kontrak-kontrak itu terjadi antara dua subjek ekonomi yang bertempat
tinggal dalam Negara-negara berlainan .
B. Analisis
Perdagangan Internasional terjadi karena bertemunya subyek-subyek hukum yang bertempat
tinggal di Negara-negara yang berlainan dan telah mengadakan hubungan perdagangan, misalnya
dalam jual beli . Dalam perdagangan internasional pihak penjual lazimnya disebut ekportir dan
pihak pembeli disebut importer. Hubungan perdagangan itu telah terjadi, jika baik penjual maupun
pembeli telah mencapai kesepakatan dalam transaksi jual beli. Lazimnya kalau kesepakatan telah
tercapai oleh kedua belah pihak, maka perdagangan luar negeri itu telah dapat dilaksanakan.
Secara prinsip karena adanya kebebasan dalam mengadakan perjanjian (freedom of making
contract), maka para pihak bebas untuk menentukan syarat-syarat yang mereka kehendaki,
misalnya : tentang penentuan harga, bagaimana syarat pembayaran harus dilakukan, siapa yang
akan melaksanakan pembayaran, syarat apa yang digunakan dalam penyerahan barang dan dimana
barang tersebut diserahkan. Karena dalam perdagangan internasional tersebut baik penjual maupun
pembeli bertempat tinggal dinegara yang berlainan dan masing-masing mempunyai sistem hukum
yang berbeda, maka kemungkinan timbul kesulitan untuk menafsirkan suatu ketentuan tentang
suatu hal/syarat yang dicantumkan dalam perjanjian itu .
Pengertian perjanjian jual beli internasional lebih luas dibandingkan dengan perjanjian jual beli
domestik. Unsur pembedanya terletak pada kata “Internasional”, dimana S. Gautama menyatakan
bahwa “Apabila terdapat suatu unsur asing dalam suatu perjanjian yang bersifat internasional,
maka unsur asing atau foreign element inilah yang menyebabkan suatu perjanjian menjadi suatu
perjanjian internasional” . Adapun defenisi daripada perjanjian jual beli diberikan oleh E.W.
Chance dalam “Principal of Marcantile Law “: “A contract of sale is a contract whereby the seller
transfer of agrees to transfer the property in goods to the buyer for a money consideration called
the price, so that a contract of sale may be either an agreement to sell or an actual sale. Where
under the contract of sale the property in the goods in transferred from the seller to the buyer, the
contract is called a sale; but where the transferred of the property in the the goods is to take place
at the future time, or subject to some condition there after to fulfilled, the contract is called an
agreement to sell. An agreement to sell becomes a sale, when the time elapses or the conditions
are fulfilled subject to which the property in the goods is to transferred”.

(“Kontrak jual beli adalah kontrak dimana penjual mengalihkan atau menyetujui untuk
mengalihkan hak milik berupa barang kepada pembeli untuk sejumlah uang yang disebut harga,
karenanya, kontrak jual beli juga merupakan perjanjian penjualan atau penjualan sebenarnya,
berdasarkan kontrak jual beli dimana hak milik atas benda dialihkan dari penjual ke pembeli,
kontrak dinamakan penjualan, tetapi dimana pengalihan hak milik atas benda terjadi pada masa
yang akan datang, atau subyek yang memenuhi beberapa syarat, kontrak disebut perjanjian
penjualan. Suatu perjanjian untuk menjual menjadi penjualan, bila waktunya berlaku atau syarat-
syarat telah terpenuhi oleh subyek yang mana hak milik atas benda dialihkan.”). R. Subekti
menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata):
“Suatu perjanjian timbal balik dalam mana pihak yang satu (penjual) berjanji untuk menyerahkan
hak milik atas suatu barang, sedang pihak yang lainnya (pembeli) berjanji untuk membayar harga
yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik” .
BAB III
PENUTUP

Hukum kontrak internasional telah mengalami perkembangan signifikan dalam sejarahnya.


Beberapa prinsip kontrak internasional berasal dari kumpulan prinsip-prinsip yang berlaku di
seluruh dunia, yang paling umum beberapa di antaranya prinsip freedom of contract, prinsip good
faith dan prinsip pacta sunt servanda. Kapan hukum kontrak internasional berlaku? Hukum kontrak
internasional berlaku pada saat ditunjuk oleh para pihak, atau apabila para pihak tidak menentukan
hukum mana yang akan berlaku, maka apabila kemudian terjadi sengketa, pada saat itu harus
dimintakan persetujuan antara pihak bersengketa untuk menunjuk choice of law dan choice of
forum-nya.

Daftar Pustaka

1. Lex loci Contractus, Wikipedia.com, 2011-07-05


2. Bayu Seto Hardjo wahono. 2006. Dasar dasar Hukum Perdata Internasional. Bandung: Citra
Aditya Bakti. hal. 263 304.
3. Sudargo Gautama. 1977. Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia. Jakarta: Bina
Cipta.
4. Huala Adolf, Dasar-Dasar Hukum Kontrak Internasional, Bandung: Refika Aditama, 2007, Hal.
2
5. Black’s Law Dictionary. PDF
6. Leonora Bakarbessy, Sh, Mh, Klausula Pilihan Hukum (Choice Of Law) Dan Pilihan Forum
(Choice Of Forum) Dalam Transaksi Bisnis Internasional, jurnal Hukum Unpad, 2011
7. www.fh.unair.ac.id/opini.hukum.php?id=5&respon=0
8. Wikipedia.com
9.Dahana,peranan-hukum-kontrak-internasional-dalam-penanganan-kontrak-perusahaan,
.blogdetik.com/2011/05/10/