You are on page 1of 4

Menurut Kishinouye (1902)

Kamakichi Kishinouye dalam Sudirman (2000) membagi teknik


penangkapan ikan ke dalam 10 (sepuluh) jenis. Jenis-jenis tersebut
adalah sebagai berikut:

1. Jermal
Jermal adalah perangkap pasang surut (tidal trap) yang merupakan ciri khas
alat penangkapan yang terdapat di perairan Sumatera bagian Utara. Pada
prinsipnya, jermal ini terdiri dari jajaran tiang-tiang pancang yang merupakan
sayap, jaring jermal dan rumah jermal. Jajaran tiang pancang terbuat dari
pohon nibung (Oncosperma spp), kayu pohon bakau (Rizhopora spp), kayu
tengar (Ceriop spp) berukuran panjang antara 12–15cm, garis tengah 10-
20cm. Jaring jermal terdiri dari tiga bagian : mulut, badan, dan kantong. Jarak
pemasangan jermal biasanya sekitar antara 3-6mil dari pantai.

2. Jaring insang hanyut


Drift gill net merupakan jaring yang dibiarkan hanyut terbawa arus. Jaring ini
digunakan untuk mengejar gerombolan ikan. Karena posisinya tidak
ditentukan oleh jangkar, maka pengaruh dari kecepatan arus terhadap
kekuatan tubuh jaring dapat diabaikan
3. Penaju pada sero
Fungsi penajo sangat penting dibanding kedua sayap/ kaki lainnya, sebab ia
merupakan suatu penghalang (penghalau) perjalanan ikan. Sifat ikan
umumnya berenang menelusuri pantai dan bila berpapasan dengan penajo ia
cenderung akan membelok dan berenang menelusuri penajo ke arah tempat
yang lebih dalam dan akhirnya terperangkap masuk ke kamar-kamar sero
dan terakhir sampai ke bagian bunuhan (crib) dan terperangkaplah. Untuk
sero yang dipergunakan di pulau-pulau, pemasangan penajo tidak diletakkan
secara tegak lurus dengan pantai tetapi justru sejajar dengan pantai.

4. Bubu
Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang
berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “
traps “ dan penghadang “guiding barriers”. Alat ini berbentuk kurungan seperti
ruangan tertutup sehingga ikan tidak dapat keluar. Bubu merupakan alat
tangkap pasif, tradisional yang berupa perangkap ikan tersebut dari bubu,
rotan, kawat, besi, jaring, kayu dan plastik yang dijalin sedemikian rupa
sehingga ikan yang masuk tidak dapat keluar. Prinsip dasar dari bubu adalah
menjebak penglihatan ikan sehingga ikan tersebut terperangkap di dalamnya,
alat ini sering diberi nama ftshing pots atau fishing basket.

5. Menggarit kerang-kerang (kapal keruk)


Akhir-akhir ini juga dilakukan penangkapan Ensis untuk kepentingan komersil,
biasanya dalam skala besar menggunakan kapal pengeruk (dredging) atau
penangkapan ilegal yang tidak ramah lingkungan menggunakan listrik.
Dampak yang ditimbulkan dari penangkapan Ensis menggunakan listrik
terhadap lingkungan telah diteliti dan dilaporkan.
6. Gill net
Gill net sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, dan lain
sebagainya. Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang
tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring.
Tertangkapnya ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara terjerat (gilled)
pada mata jaring dalam artian ikan tersebut terperangkap di dalam jaring
ataupun terbelit (entangled) pada tubuh dalam artian ikan tersebut terlilit atau
tersangkut di dalam jaring.Sedangkan “gill net dasar” atau “bottom gill net”
adalah jaring insang, jaring rahang yang cara operasinya ataupun kedudukan
jaring pada fishing ground direntangkan pada dasar laut, yang demikian
berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan
dasar (bottom fish), dengan bahan jaring terbuat dari multi fibre.
7. Menjepit lalu menangkap (ladung)
Ladung kima bertujuan untuk menjepit atau melukai target tangkapan, terdiri
dari 3 bagian utama, yaitu pemberat, penjepit (gigi) dan tali penarik. Pada
umumnya, ladung kima memiliki pemberat yang terbuat dari kayu, cor-coran
semen atau besi berbentuk empat persegi yang pada keempat sudutnya
terdapat jari-jari/kaki/sepit (dari besi) yang ujungnya melengkung dan lancip,
berfungsi untuk membuat ladung kima tenggelam. Selain itu, pemberat juga
berfungsi untuk membuka dan memperkecil cakupan pencengkeraman.