You are on page 1of 12

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT penyusun dapat menyelesaikan

makalah ini sebagai bentuk tugas pada Mata kuliah Aspek Hukum Dalam

Ekonomi tentang “Perizinan Dalam Bisnis”.

Makalah ini telah di susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu

saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Demikian, makalah ini saya hadirkan dengan segala kelebihan dan

kekurangan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun demi perbaikan

makalah ini, sangat diharapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat

dan pengetahuan bagi pembaca.

Bengkulu, Januari 2019

Penulis

9
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………….....i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………...ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang ……..…………………….………………………………….1

2.1. Rumusan masalah…………………………...………………………………..1

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengaturan Perizinan Dalam Bisnis……….............…......…………………. 2

2.2. Macam-macam Perizinan Dalam Bisnis …………....……......…………….. 4

2.2.1. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)....................................………. 4

2.2.2. Perizinan Lembaga Pembiayaan……….......……………….......…… 6

2.2.3. Perizinan di Bidang Industry………………….....……………........…7

2.2.4. Perizinan menurut Undang-Undang Gangguan(UUG)…....... ….........8

BAB III PENUTUP

Kesimpulan………………………………………………………………………..9

DAFTAR PUSTAKA

9
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam dunia bisnis atau dunia usaha, perizinan memegang peranan yang

sangat penting. Dunia usaha tidak akan berkembang tanpa adanya izin yang jelas

menurut hukum, dan izin berfungsi karena dunia usaha membutuhkannya. Dengan

kata lain, dunia usaha akan berkembang bila izin yang diberikan mempunyai satu

kekuatan yang pasti, sehingga perizinan dan dunia bisnis dapat bekerja dalam

kondisi yang nyaman.

Dengan adanya izin, seseorang atau badan hukum dapat mempunyai

serangkaian hak dan kewajiban yang membuatnya dapat menikmati dan

mengambil manfaat untuk keuntungan usahanya. Namun demikian pemerintah

dapat pula mengambil langkah pertimbangan keterbatasan dan kestabilan untuk

memelihara persaingan usaha yang sehat dengan membatasi pemberian izin usaha.

Dengan adanya keterbatasan peluang yang diberikan berikut pertimbangan

kestabilan ekonomi untuk menjaga terselenggaranya persaingan yang sehat, maka

penerbitan izin usaha dibatasi, walaupun permintaan izin terus meningkat. Oleh

karena itu. dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai perizinan dalam

bisnis.

2.1. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dari makalah ini yaitu antara lain :

1. Bagaimana pengaturan perizinan dalam dunia bisnis?

2. Apa saja jenis perizinan dunia bisnis?

9
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengaturan Perizinan Dalam Bisnis

Izin usaha merupakan suatu bentuk persetujuan atau pemberian izin dari

pihak yang berwenang atas penyelenggaraan kegiatan usaha yang dilakukan oleh

perorangan maupun suatu badan. Izin usaha bertujuan agar pemerintah dapat

memberikan pembinaan, pengarahan dan pengawasan dalam kegiatan usaha.

Selain itu juga bertujuan agar pemerintah dapat menjaga ketertiban dalam usaha

serta menciptakan pemerataan kesempatan berusaha.

Begitu peliknya masalah perizinan, pemerintah telah mengeluarkan

peraturan yaitu Inpres No. 5 Tahun 1984 tanggal 11 April 1984 tentang Pedoman

Penyelenggaraan dan Pengendalian Perizinan di bidang usaha. Ketentuan ini

dimaksudkan untuk menyederhanakan sistem perizinan yang begitu banyak

berikut pelaksanaannya.[1] Lampiran Inpres No. 5 Tahun 1984 terdapat tujuh hal

penting yang menjadi tolok ukur setiap perizinan yang akan dikeluarkan, yaitu:

1. Perlunya dikurangi jumlah perizinan yang harus dimiliki pengusaha,

sehingga benar-benar diperlukan saja diberikan izin.

2. Perlunya disederhanakan persyaratan administratif dengan mengurangi

jumlah dan menghindari pengurangan persyaratan yang sealur dalam

rangkaian perizinan yang bersangkutan.

3. Perlunya diberikan jangka waktu yang cukup panjang, sehingga dapat

memberi jaminan bagi kepastian dan kelangsungan usaha.

4. Perlunya dikurangi bila perlu meringankan dan menghilangkan sama sekali

biaya pengurusan perizinan.

9
5. Perlunya disederhanakan tata cara pelaporan, sehingga satu laporan dapat

dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan berbagai departemen /instansi

pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.

6. Perlunya dilakukan pengawasan terhadap pelaksanaan periizinan di bidang

usaha, dan ditelkankan agar penerima izin dapat diwajibkan untuk

memberikan laporan paling banyak satu kali setiap satu semester.

7. Perlunya dilakukan penerbitan terhadap pelaksanaan perizinan yang

menyangkut personel sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

kepegawaian, termasuk tuntutan ganti rugi, disiplin pegawai negeri dan

tuntutan pidana.[2]

Menurut Keppres No. 53 Tahun 1998, disebutkan adanya beberapa

kegiatan usaha yang tidak dikenakan ketentuan wajib daftar perusahaan, yaitu

sebagai berikut:

1. Usaha atau kegiatan yang bergerak diluar bidang perekonomian dan sifat

serta tujuannya tidak semata-mata mencari keuntungan/laba.

2. Bidang-bidang usaha seperti:

a. Pendidikan formal dalam segala jenis dan jenjang yang diselenggarakan oleh

siapapun;

b. Pendidikan nonformal yang dibina oleh pemerintah dan diselenggarakan

bersama oleh masyarakat serta dalam bentuk badan usaha;

c. Notaris;

d. Penasihat hukum;

e. Praktik perorangan dokter dan praktik berkelompok dokter;

f. Rumah sakit;

g. Klinik pengobatan.[4]

9
2.2. Macam-macam Perizinan Dalam Bisnis

Adapun macam-macam Perizinan Dalam Bisnis terdiri dari :

2.2.1. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan )

Surat Izin Usaha Perdagangan atau disingkat SIUP adalah surat izin

untuk dapat melaksanakan kegiatan perdagangan. Dasar hukum untuk

mendapatkan SIUP adalah UU No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar

Perusahaan, yang menyebutkan bahwa suatu perusahaan wajib didaftarkan

dalam waktu tiga bulan setelah perusahaan mulai menjalankan usahanya.

Untuk melaksanakan ketentuan diatas, khususnya ketentuan mengenai

izin, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor:

1458/Kp/XII/84 tanggal 19 Desember 1984 tentang Surat Izin Usaha

Perdagangan (SIUP). Dalam Keputusan Menteri tersebut disebutkan bahwa

setiap perusahaan yang melakukan kegiatan perdagangan diwajibkan

memiliki SIUP. Untuk memperoleh SIUP ini, perusahaan terlebih dahulu

wajib mengajukan Surat Permohonan Izin (SPI) yang dapat diperoleh secara

cuma-cuma pada kantor Wilayah Departemen Perdagangan atau Kantor

Perdagangan setempat.[5]

Ketentuan perusahaan yang harus memiliki SIUP dibedakan menjadi

atas tiga kelompok, yakni:

1. Perusahaan kecil, yaitu perusahaan yang mempunyai modal dan

kekayaan bersih (netto) di bawah Rp. 25.000.000;

2. Perusahaan menengah, yaitu perusahaan yang mempunyai modal dan

kekayaan bersih Rp. 25.000.000 sampai dengan Rp. 100.000.000.

3. Perusahaan besar, yaitu perusahaan yang mempunyai modal dan

kekayaan bersih diatas Rp. 100.000.000.[6]

9
Perusahaan yang memiliki SIUP mempunyai tiga kewajiban yang harus

dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:

1. Wajib lapor apabila tidak melakukan lagi kegiatan perdagangan atau menutup

perusahan disertai dengan pengembalian SIUP, mengenai pembukuan

cabang/perwakilan perusahaan, atau mengenai penghentian kegiatan atau

penutupan cabang/perwakilan perusahaan.

2. Wajib memberikan data/informasi mengenai kegiatan usahanya apabila

diperlukan oleh menteri atau pejabat yang berwenang.

3. Wajib membayar uang jaminan dan biaya administrasi perusahaan sesuai

ketentuan yang berlaku.[7]

Untuk memperoleh surat izin usaha perdagangan , terlebih dahulu harus

meminta izin dengan suatu permohonan kepada pejabat yang berwenag di bidang

perizinan atau pejabat yang ditunjuk oleh departemen yang bersangkutan dengan

melampirkan hal-hal sebagai berikut:

1. Salinan/fotokopi akta pendirian badan usaha, dan fotokopi pengesahan dari

Departemen Kehakiman bagi badan usaha yang berbadan hukum.

2. Salinan/fotokopi akta pendirian badan usaha yang dibuat didepan notaries

yang telah didaftarkan di Pengadilan Negeri bagi badan usaha yang berbentuk

persekutuan.

3. Salinan/fotokopi Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah

tempat badan usaha tersebut didirikan.

4. Salinan/fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemilik/ penanggung jawab

badan usaha yang mengajukan izin.

5. Pasfoto pemilik/ penanggung jawan badan usaha yang mengajukan izin.

9
2.2.2. Perizinan Lembaga Pembiayaan

Pengertian lembaga pembiayaan menurut Pasal 1 angka (2) Keppres No. 61

Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, adalah badan usaha yang melakukan

kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan

tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat.

Ketentuan yang mengatur mengenai tata cara pendirian dan perizinan

mengenai lembaga pembiayaan ini telah diatur dalam Keputusan Menteri

Keuangan No. 1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata cara Pelaksanaan

Lembaga Pembiayaan. Untuk memperoleh izin usaha dan lembaga pembiayaan

diatas, terlebih dahulu harus meminta izin dengan suatu permohonan kepada

Menteri Keuangan dengan melampirkan hal-hal sebagai berikut:

a. Akta pendirian perusahaan pembiayaan yang telah disahkan menurut ketentuan

perundang-undangan yang berlaku.

b. Bukti pelunasan modal disetor untuk perseroan terbatas atau simpanan pokok

dan simpanan wajib untuk koperasi, pada salah satu bank di Indonesia.

c. Contoh perjanjian pembiayaan yang akan digunakan.

d. Daftar susunan pengurus perusahaan pembiayaan.

e. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan.

f. Neraca pembukuan perusahaan pembiayaan.

g. Perjanjian usaha patungan antara pihak asing dan pihak Indonesia bagi

perusahaan pembiayaan patungan yang di dalamnya tercermin arah

Indonesianisasi dalam pemilikan saham.[9]

Pemberian izin usaha ini diberikan selambat-lambatnya tiga puluh hari kerja

sejak permohonan diterima secara lengkap dan izin usaha yang berlaku selama

perusahaan masih menjalankan usahanya.

9
2.2.3. Perizinan di Bidang Industri

Perizinan di bidang industri telah diatur secara khusus dengan Peraturan

Pemerintah No. 13 Tahun 1987 tentang Izin Usaha Industri, di mana pada

penjelasannya disebutkan bahwa dalam rangka pencapaian pertumbuhan industri,

aspek perizinan akan ikut memainkan peranan yang amat penting. Dengan

menyadari akan peranannya, aspek perizinan harus mampu memberikan motivasi

yang dapat mendorong dan menarik minat para investor untuk menanamkan

modalnya di sektor industri.

Industri yang dimaksud menurut UU No. 5 tahun 1984 tentang

Perindustrian adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan

baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang

lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan

perekayasaan industri.[10]

Ada dua macam izin usaha industri, yaitu sebagai berikut:

1. Izin Tetap, yaitu izin usaha industri yang diberikan secara definitif kepada

perusahaan industri yang telah berproduksi secara komersial. Izin tetap ini

berlaku untuk seterusnya selama perusahaan industri yang bersangkutan

berproduksi.

2. Izin Perluasan, yaitu izin usaha industri yang diberikan kepada perusahaan

industri yang melakukan penambahan kapasitas dari/atau jenis produk atau

komoditi yang telah diizinkan.

Perusahaan yang telah memperoleh izin usaha industri, dibebani tiga kewajiban,

yaitu sebagai berikut:

9
1. Melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam serta

pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup

akibat kegiatan industri yang dilakukan.

2. Melaksanakan upaya yang menyangkut keamanan dan keselamatan alat,

proses serta hasil produksinya termasuk pengangkutannya, dan keselamatan

kerja.

3. Melaksanakan upaya hubungan dan kerjasama antar para pengusaha nasional

untuk mewujudkan keterkaitan yang saling mengutungkan.[11]

2.2.4. Perizinan Menurut Undang-Undang Gangguan (UUG)

Izin Undang-Undang Gangguan sebetulnya bertujuan untuk memberikan

perlindungan kepada warga/penghuni di sekitar lokasi suatu usaha. Sebab tidak

jarang terjadi suatu tempat usaha ditutup oleh pemerintah (pemerintah daerah)

hanya karena usaha tersebut diprotes oleh warga masyarakat sekitarnya. Hal

tersebut dipengaruhi oleh keadaan masyarakat yang tidak pernah memberikan

persetujuan kepada pengelola tempat usaha tersebut.[12]

Untuk mendapatkan izin UGG, pemohon berkewajiban mengisi formulir

yang telah disediakan dengan dilampiri beberapa jenis dokumen, seperti: gambar

situasi; gambar ruangan; surat bukti pemilikan tanah dan bangunan atau

persetujuan pemilik; Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Penggunaan

Banguanan (IPB); akta badan hukum (bila diperlukan); tanda bukti WNI dan ganti

nama (bila diperlukan); rekomendasi analisis dampak lingkungan (Amdal) bila

perlu; surat persetujuan tetangga; akta jual beli perusahaan/ penyerahan/ hibah/

warisan (bila diperlukan); NPWP; Pengantar dari lurah setempat yang diketahui

oleh camat.[13]

9
BAB III

PENUTUP

Simpulan

1. Dalam peraturan perizinan dunia bisnis, pemerintah telah mengeluarkan

peraturan yaitu Inpres No. 5 Tahun 1984 tanggal 11 April 1984 tentang

Pedoman Penyelenggaraan dan Pengendalian Perizinan di bidang usaha.

2. Macam-macam perizinan dunia bisnis yaitu:

1. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)

SIUP merupakan surat izin untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha

perdaganggan. Perusahaan yang wajib memiliki SIUP adalah perusahaan

menengah (kekayaan bersih 25 juta- 100 juta) dan perusahaan besar

(kekayaan bersih lebih dari 100 juta).

2. Perizinan Lembaga Pembiayaan

Perizinan Lembaga Pembiayaan merupakan izin badan usaha yang

melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang

modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat.

3. Perizinan di Bidang Industri

Perizinan di Bidang Industri merupakan izin dalam kegiatan ekonomi yang

mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang

jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya.

4. Perizinan Menurut Undang-Undang Gangguan (UUG)

Perizinan menurut Undang-Undang Gangguan (UUG) merupakan izin tempat

usaha kepada orang pribadi atau badan di lokasi tertentu yang dapat

menimbulkan gangguan (kerugian atau bahaya).

9
DAFTAR PUSTAKA

Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta,

2007.

Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis : Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, Raja

Grafindo Persada, Jakarta, 2012.

[1] Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta, 2007,

hlm. 157.

[2] Ibid., hlm. 157-158.

[3] Ibid., hlm. 158.

[4] Ibid., hlm. 159.

[5] Ibid., hlm. 159-160.

[6]Ibid., hlm. 160.

[7] Ibid., hlm. 161.

[8] Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis : Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, Raja Grafindo

Persada, Jakarta, 2012, hlm. 85.

[9] Richard Burton Simatupang, Loc. Cit., hlm. 161.

[10] Ibid., hlm. 162.

[11] Ibid., hlm. 163.

[12] Ibid., hlm. 164.

[13] Ibid., hlm. 165