You are on page 1of 14

ENERGI ALTERNATIF PANAS BUMI SEBAGAI

ENERGI YANG AMAN, MURAH, DAN RAMAH


LINGKUNGAN

Oleh : Christophorus Ivander Menori


Kelompok 3 / Kelas B / 1623063
Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Maranatha
Bandung

1. Pendahuluan
Dewasa ini, teknologi kian berkembang pesat seiring berjalannya waktu.
Banyak pula inovasi-inovasi baru yang telah digunakan oleh masyarakat banyak
yang memudahkan masyarakat dalam melakukan segala sesuatunya.
Penggunaan mesin pun menjadi tidak asing pada teknologi yang digunakan
pada jaman sekarang.
Untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang jumlahnya semakin meningkat
setiap tahunnya, tentunya kebutuhan akan alat yang dapat mempermudah
aktivitas masyarakat akan semakin meningkat. Dengan begitu, pelaku industri
pun dituntut untuk mengembangkan industrinya sehingga dapat memproduksi
barang ataupun jasanya dengan frekuensi yang semakin membesar. Namun,
perkembangan pada industri ini pun diimbangi dengan meningkatnya
kebutuhan energi sebagai bahan untuk menjalankan mesin. Energi yang
digunakan sebagian besar industri pada jaman sekarang masih bersifat non-
renewable. Artinya, energi yang digunakan sekarang memiliki sumber yang
dapat habis ataupun baru dapat terbarukan dalam jangka waktu yang sangat
lama.
Penggunaan energi yang besar inilah yang membuar cadangan energi
semakin menipis, tanpa ditemukannya cara untuk mengatasi penipisan kapasitas
tersebut. Apabila kemudian persediaan energi terus dipakai tanpa ditemukannya
solusi untuk memperbaharui energi, maka suatu saat energi tersebut akan habis
dan semua proses yang berkaitan dengannya akan berhenti total. Untuk itu,
masyarakat mulai mencari berbagai sumber dari energi alternatif yang dapat
menggantikan sumber energi yang sekarang digunakan ataupun sekedar
mengurangi pemakaian sumber energi utama yang non-renewable, salah
satunya adalah dengan memanfaatkan panas bumi.

2. Berbagai Jenis Alternatif untuk Mengatasi Krisis Energi


Seperti yang kita ketahui, sumber energi alternatif dapat berasal dari
berbagai sumber. Tentunya dengan metode-metode tertentu untuk mengolah
sumber tersebut, akan kemudian menghasilkan energi alternatif yang
diharapkan dapat menggantikan sumber energi sekarang. Adapula beberapa
jenis alternatif energi yang sedang dikembangkan, yakni :
 Biofuel
Biofuel atau bahan bakar hayati adalah sumber energi terbarukan
berupa bahan bakar (baik padat, cair, dan gas) yang dihasilkan dari bahan-
bahan organik. Sumber biofuel adalah tanaman yang memiliki kandungan
gula tinggi (seperti sorgum dan tebu) dan tanaman yang memiliki
kandungan minyak nabati tinggi (seperti jarak, ganggang, dan kelapa sawit).

 Biomassa
Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan
biologis yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati.
Sumber biomassa antara lain bahan bakar kayu, limbah dan alkohol.

 Panas Bumi
Energi panas bumi atau geothermal adalah sumber energi terbarukan
berupa energi thermal (panas) yang dihasilkan dan disimpan di dalam bumi.
Energi panas bumi diyakini cukup ekonomis, berlimpah, berkelanjutan, dan
ramah lingkungan. Namun pemanfaatannya masih terkendala pada
teknologi eksploitasi yang hanya dapat menjangkau di sekitar lempeng
tektonik.

 Air
Energi air adalah salah satu alternatif bahan bakar fosil yang paling
umum. Sumber energi ini didapatkan dengan memanfaatkan energi
potensial dan energi kinetik yang dimiliki air. Sat ini, sekitar 20% konsumsi
listrik dunia dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

 Angin
Energi angin atau bayu adalah sumber energi terbarukan yang
dihasilkan oleh angin. Kincir angin digunakan untuk menangkap energi
angin dan diubah menjadi energi kinetik atau listrik.

 Matahari ( Surya )
Energi matahari atau surya adalah energi terbarukan yang bersumber
dari radiasi sinar dan panas yang dipancarkan matahari.

 Gelombang Laut
Energi gelombang laut atau ombak adalah energi terbarukan yang
bersumber dari dari tekanan naik turunnya gelombang airlaut. Indonesia
sebagai negara maritim yang terletak diantara dua samudera berpotensi
tinggi memanfaatkan sumber energi dari gelombang laut. Sayangnya
sumber energi alternatif ini masih dalam taraf pengembangan di Indonesia.

 Pasang Surut Air Laut


Energi pasang surut air laut adalah energi terbarukan yang
bersumber dari proses pasang surut air laut. Terdapat dua jenis sumber
energi pasang surut air laut, pertama adalah perbedaan tinggi rendah air laut
saat pasang dan surut. Yang kedua adalah arus pasang surut terutama pada
selat-selat yang kecil. Layaknya energi gelombang laut, Indonesia memiliki
potensi yang tinggi dalam pemanfaatan energi pasang surut air laut.
Sayangnya, sumber energi ini belum termanfaatkan.

3. Potensi Indonesia untuk Mengembangkan Energi Panas Bumi


Energi panas bumi berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi
sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang
diserap oleh permukaan bumi. Dengan begitu, Indonesia memiliki potensi yang
besar untuk mengembangkan energi panas bumi. Pasalnya, di bagian sebelah
barat hingga ke selatan dari Indonesia dibatasi oleh lempeng tektonik, pada
sebelah utara dibatasi dengan lempeng yang berbeda, dan dibagian timur
dibatasi dengan lempeng yang berbeda pula. Jadi Indonesia dibatasi oleh 3
lempeng mayor dunia yang berbeda. Hal tersebut membuat indonesia menjadi
tempat dengan aktivitas tektonik yang sering. Indonesia juga terletak pada busur
vulkanik, yang membuatnya memiliki potensi yang semakin besar dalam energi
panas bumi.
Perimbangan antara energi panas bumi dengan minyak bumi digambarkan
oleh Kepala Badan Geologi, R. Sukhyar. Beliau mengatakan bahwa potensi
panas bumi Indonesia yang mencapai 28,1 GW, jika keseluruhan resources-nya
dipakai akan dapat menggantikkan BBM sekitar 12 milyar barel, untuk kita
ketahui bahwa cadangan minyak bumi Indonesia saat ini sebesar 6 milyar barel
( November 2016 ). Menurut data PT Pertamina Geothermal Energy (PGE),
Indonesia memiliki 40% dari seluruh potensi panas bumi di dunia. Sumber-
sumber tersebut tersebar di 251 lokasi Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku,
hingga ujung barat Papua. Dari 40% potensi energi panas bumi yang ada di
Indonesia, pemanfaatan energi tersebut saat ini baru mencapai 4,2% (1.189
MW), masih berkaitan dengan peningkatan pemanfaatan panas bumi
pemerintah telah menyusun roadmap pemanfaatan energi panas bumi. Roadmap
tersebut dituangkan dalam Kebijakan Energi Nasional dan mentargetkan
pemanfaatan panas bumi menjadi 5% pada tahun 2025 atau setara dengan
kapasitas PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) sebesar 9.500 MW.
4. Keunggulan Energi Panas Bumi dibandingkan dengan Energi Non-
Renewable
Pemanfaatan energi geothermal atau panas bumi sebagai salah satu sumber
energi alternatif diyakini mempunyai berbagai keuntungan dan kelebihan. Di
antara kelebihan dan keuntungan pemanfaatan energi geothermal tersebut
adalah :
 Panas bumi (geothermal energy) merupakan salah satu sumber energi
paling bersih. Jauh lebih bersih dari sumber energi fosil yang
menimpulkan polusi atau emisi gas rumah kaca.

 Geothermal merupakan jenis energi terbarukan yang relatif tidak akan


habis. Sumber energi ini terus-menerus aktif akibat peluruhan radioaktif
mineral.

 Energi Geothermal ramah lingkungan yang tidak menyebabkan


pencemaran (baik pencemaran udara, pencemaran suara, serta tidak
menghasilkan emisi karbon dan tidak menghasilkan gas, cairan, maupun
meterial beracun lainnya).

 Panas bumi (geothermal energy), dibandingkan dengan energi alternatif


lainnya seperti tenaga surya dan angin, bersifat konstan sepanjang musim.
Di samping itu energi listrik yang dihasilkan dari geothermal tidak
memerlukan solusi penyimpanan energi (energy storage) karena dapat
dihasilkan sepanjang waktu.

 Untuk memproduksi energi geothermal membutuhkan lahan dan air yang


minimal, tidak seperti misalnya pada energi surya yang membutuhkan area
yang luas dan banyak air untuk pendinginan. Pembangkit panas bumi
hanya memerlukan lahan seluas 3,5 kilometer persegi per gigawatt
produksi listrik. Air yang dibutuhkan hanya sebesar 20 liter air tawar per
MW / jam.
5. Kendala Indonesia dalam Mengembangkan Energi Panas Bumi
Kendala-kendala utama yang menghalangi pengembangan pemanfaatan
sumber daya energi yang melimpah ini yang paling jelas adalah karena
pertimbangan stabilitas ekonomi, rumitnya birokrasi yang sudah ada di
Indonesia, korupsi yang menjamur dan kurangnya infrastruktur yang layak.
Adanya kendala-kendala tersebut menjadikan pihak swasta ragu untuk
berinvestasi dalam pembangunan dan pemanfaatan sumber daya tersebut. Hal
yang selalu menjadi faktor paling utama untuk menghalangi investasi
pengembangan geothermal di Indonesia adalah birokrasi dan hukum yang
berlaku di Indonesia sendiri. Selain itu, pemerintah juga kesulitan dalam
mengambil langkah, sekitar 42,9% cadangan geothermal di Indonesia terletak
di daerah hutan lindung dan area konservasi, membuat hal ini menjadi mustahil
untuk melakukan aktivitas penambangan.
Dulunya, aktivitas geothermal yang sudah diatur di dalam UU No. 27 /
2003, di definisikan sebagai aktivitas pertambangan. Berdasarkan UU No.
41/1999, yang mengimplikasikan bahwa aktivitas pertambangan seperti itu
dilarang untuk dilaksanakan di wilayah hutan lindung dan area konservasi. Pada
agustus 2014, di periode kedua administrasi Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono hampir selesai, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik
Indonesia mengesahkan UU Geothermal No. 21/2014 (menggantikan UU No.
27/2003).Namun, kebijakan baru menurut UU Geothermal No. 21/2014 ini
memisahkan geothermal dari aktivitas-aktivitas pertambangan yang lain
sehingga membuka jalan untuk eksplorasi geothermal di wilayah hutan lindung
dan area konservasi.
Pengesahan UU baru terkait geothermal ini merupakan gebrakan yang
penting. Namun UU baru ini masih perlu diatur pelaksanaannya dengan
peraturan-peraturan kementerian yang lain. Pemerintah Indonesia juga telah
melaksanakan berbagai upaya lain untuk membuat investasi energi panas bumi
lebih menarik. Seperti negara jerman yang mulai meriset energi alternatif yang
ramah lingkungan, cukup tertarik melakukan pengembangan geothermal di
Indonesia karena begitu besarnya potensi. Menurut berita dari kompas.com,
Eddy Pratomo sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jerman mengatakan, riset
panas bumi atau geotermal Jerman sangat maju. Namun, negara tersebut
terbatas potensinya. Oleh karena itu, berlimpahnya potensi panas bumi
Indonesia mempunyai daya tarik tersendiri bagi Jerman. ”Sejak tahun 2010
sudah ada rencana-rencana untuk bekerja sama dan berinvestasi dalam bidang
tersebut. Lokasi yang dilirik antara lain Papua dan Aceh,” kata Eddy seperti
dilaporkan wartawan Kompas, Indira Permanasari, dari Berlin, Jerman.
Harapannya di era bapak Jokowi ini, semua usaha perbaikan-perbaikan yang
pernah dilakukan pemerintah sebelumnya bisa dilanjutkan.
Jika pemerintah mau serius mengembangkan potensi ini, tentunya kendala
soal area untuk pembangunan sumber energi panas bumi tidak melulu dijadikan
alasan. Masih banyak lokasi-lokasi yang potensial di Indonesia yang bisa
dikelola dengan baik. Perlu kita ketahui, fakta bahwa aktivitas-aktivitas
tambang geothermal hanya memberikan dampak kecil terhadap lingkungan,
tingkat polusi dan pencemarannya sangat jauh lebih aman dibandingkan dengan
pertambangan bahan bakar fosil yang berlaku saat ini.
Kendala-kendala lain yang kemungkinan terjadi selain hal yang sudah
disebutkan, pasti akan berpengaruh kepada persepsi masyarakat terhadap
dampak lingkungan mereka dari pengolahan energi panas bumi. Adanya pihak
asing dalam pengelolaan sumber saya alam di Indonesia, juga bisa
menyebabkan penolakan dari masyarakat sekitar yang belum teredukasi tentang
hal ini. Pemerintah perlu merencanakan lebih detail jika dilakukan
pengembangan dan pemanfaat sumber daya dari energi panas bumi, seperti
RUKN (Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional) agar energi yang
dihasilkan benar-benar bisa terdistribusi merata dan mesejahterakan rakyat.

6. Teknologi Energi Panas Bumi


Teknologi panas bumi banyak dipakai untuk pembangkit tenaga listrik
seperti PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi). Banyak Negara-negara
didunia ini yang sudah menggunakan energi panas bumi ini. Karena teknologi
panas bumi dinilai lebih aman dan ramah lingkungan, bahkan teknologi panas
bumi adalah yang terbersih daripada energi nukilr, minyak bumi dan batubara.
Teknologi panas bumi atau disebut teknologi pemindahan panas (heat transfer
technology) berdasarkan panas cairan yang dipatenkan yang memiliki tingkat
penguapan atau “lflash point” yang lebih rendah dari air. Awalnya dilakukan
pemboran dengan membuat lubang untuk keluarnya gas panas yang akan
dimanfaatkan untuk memanaskan ketel uap (boiler) sehingga uapnya bisa
menggerakkan turbin untuk generator listrik. Biasanya setiap daratan dibumi
pada 100 meter kedalam suhunya akan bertambah 30C, misalnya udara kamar
yang biasa kita hirup adalah 270C maka 200 meter kedalam tanah akan
bertambah menjadi 330C. Namun pada lapisan yang mengandung magma lebih
banyak maka akan mempunyai gradient geotermis jauh lebih tinggi.
Terdapat beberapa macam tipe teknologi pembangkit listrik tenaga panas
bumi ( PLTP ), yaitu :
 Tenaga Uap Kering ( Dry Steam )
Teknologi seperti ini adalah teknologi yang pertama kali digunakan
didunia (1904) yaitu di Lardarello, Italy dan sampai sekarang ini masih
layak digunakan. Negara yang juga menggunakan teknologi ini adalah
Amerika Serikat tepatnya di Geyser California Utara. Uap (tanpa air)
memancar dari sumur dan dialirkan melalui lempeng bebatuan dan
langsung menuju turbin.

 Flash Steam
Pembangkit ini memanfaatkan sumber air panas alam diatas suhu
1750C. Fluida panas tersebut dialirkan ke dalam tangki flash yang
tekanannya lebih rendah sehingga terjadi uap panas secara cepat. Uap
panas yang disebut flash inilah yang mengerakkan turbin untuk generator
listrik. Limbah fluida hasil operasi produksi dialirkan kembali kedalam
reservoir melalui sumur injeksi.

 Binary Steam
Binary berarti dua jenis cairan yang berbeda. Panas dari cairan panas
bumi digunakan untuk memanaskan dan menguapkan cairan kedua atau
“cairan yang bekerja” atau working fluid pada pipa berdekatan yang
terpisah melalui suatu proses pemindahan panas. Air yang berasal dari
sumur tetap berada dalam lingkaran tertutup dan tidak pernah berhubungan
langsung dengan permukaan, udara ataupun turbin. Air itu kembali ke
sumur dalam keadaan bersih dan tidak tercemar. Karena itu, pembangkit
binary beroperasi dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa menghasilkan
gas emisi rumah kaca. Binary disebut juga sebagai metode yang paling
ramah lingkungan.
Sistem teknologi binary memungkinkan working fluid dengan
tingkat flash atau penguapan yang lebih rendah untuk menghasilkan tenaga
dari tempat-tempat dengan suhu yang lebih rendah dan yang lebih dangkal.

Secara umum, cara kerja dari pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah :

Gambar 6.1
Skema Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ( Sumber :
http://www.cnzahid.com/2016/12/sistem-kerja-pembangkit-listrik-tenaga.html )

1. Uap di-supply dari sumur produksi melalui sistem transmisi uap yang
kemudian masuk ke dalam Steam Receiving Header sebagai media
pengumpul uap. Steam Receiving Header dilengkapi dengan Rupture
Disc yang berfungsi sebagai pengaman terakhir unit .Bila terjadi
tekanan berlebih (over pressure) di dalam Steam Receiving maka uap
akan dibuang melalui Vent Structure.Vent Structure berfungsi untuk
warming-up di pipe line ketika akan start unit dan sebagai katup
pengaman yang akan membuang tekanan bila sudden trip terjadi.
2. Dari Steam Receiving Header uap kemudian dialirkan ke Separator
(Cyclone Type) yang berfungsi untuk memisahkan uap (pure steam)
dari benda-benda asing seperti partikel berat (Sodium, Potasium,
Calsium, Silika, Boron, Amonia, Fluor dll).
3. Kemudian uap masuk ke Demister yang berfungsi untuk memisahkan
moisture yang terkandung dalam uap, sehingga diharapkan uap bersih
yang akan masuk ke dalam Turbin.
4. Uap masuk ke dalam Turbin sehingga terjadi konversi energi dari
Energi Kalor yang terkandung dalam uap menjadi Energi Kinetik yang
diterima oleh sudu-sudu Turbin. Turbin yang dikopel dengan generator
akan menyebabkan generatkut berputar saat turbin berputar sehingga
terjadi konversi dari Energi Kinetik menjadi Energi Mekanik.
5. Generator berputar menghasilkan Energi Listrik (Electricity)
6. Exhaust Steam (uap bekas) dari Turbin dikondensasikan di dalam
Condensor dengan sistem Jet Spray (Direct Contact Condensor).
7. NCG (Non Condensable Gas) yang masuk kedalam Condensor dihisap
oleh First Ejector kemudian masuk ke Intercondensor sebagai media
pendingin dan penangkap NCG. Setelah dari Intercondensor, NCG
dihisap lagi oleh Second Ejector masuk ke dalam Aftercondensor
sebagai media pendingin dan kemudian dibuang ke atmosfir melalui
Cooling Tower.
8. Dari Condensor air hasil condensasi dialirkan oleh Main Cooling Water
Pump masuk ke Cooling Tower. Selanjutnya air hasil pendinginan dari
Cooling Tower uap kering disirkulasikan kembali ke dalam Condensor
sebagai media pendingin.
9. Primary Cooling System disamping sebagai pendingin Secondary
Cooling System juga mengisi air pendingin ke Intercondensor dan
Aftercondensor.
10. Overflow dari Cold Basin Cooling Tower akan ditampung untuk
kepentingan Reinjection Pump.
11. River Make-Up Pump beroperasi hanya saat akan mengisi Basin
Cooling Tower.

7. Perawatan Teknologi Energi Panas Bumi agar Pasokan Energi Lancar


dan Kontinu
Usaha Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ( PLTP ) bukanlah sesuatu
yang mudah dikerjakan, pengeboran pada batu-batu merupakan aktivitas yang
berbahaya. Suhu yang dibutuhkan untuk setiap proses pengumpulan energi
panas bumi paling tidak sebesar 350 derajat Fahrenheit. Temperatur dibawah
itu, maka tidak akan menghasilkan panas bumi. Dengan begitu, perlu adanya
penanganan akan temperatur pada PLTP agar tetap dapat menghasilkan
energi panas bumi dengan baik.
Selain itu, meskipun energi panas bumi adalah energi alternatif yang juga
dapat digunakan pada skala kecil karena murah untuk digunakan pada pemanas
dan pendingin rumah, pompa panas bumi membutuhkan listrik agar dapat
beroperasi. Jika kita memasang pompa panas bumi secara tidak efisien,
mungkin kita sebagai customer akan mendapatkan tagihan listrik yang mahal
juga nantinya.
Dan juga, dalam beberapa kondisi tertentu lokasi PLTP terletak jauh dari
populasi manusia. Oleh karena itu, hal ini membutuhkan sistem jaringan
distribusi yang sangat luas dan menyeluruh. Hal tersebut akan menambah biaya
operasional hanya sekedar untuk menyiapkan instalasi sistem eksplorasi panas
bumi.
Terakhir, teknologi energi panas bumi ini memiliki kecenderungan untuk
merusak lingkungan dan berbahaya bagi manusia. Di bawah permukaan bumi,
ada banyak sekali gas rumah kaca (greenhouse gasses). Dengan memanfaatkan
panas bumi ini, nantinya ditakutkan dapat memicu terjadinya migrasi gas-gas
rumah kaca ke permukaan bumi dan akhirnya mencemari udara sekitar kita.
Emisi jenis ini sangat berbahaya karena PLTP akan terkait dengan emisi silika
dan sulfur dioksida. Selain itu, pada penampung (reservoir) panas bumi juga
mungkin akan mengandung logam berat beracun seperti arsenic, boron dan
merkuri. Kedua, konstruksi dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas ini memiliki
potensi menjadi pemicu permukaan bumi menjadi tidak stabil dan gempa bumi.
Karena konstruksi PLTPB kovensional melibatkan pengeboran batu yang
mengandung air dan uap yang terperangkap didalam pori-pori bumi dan
pematahan secara alami. Patahan yang diakibatkan oleh pengeboran ini
mengakibatkan uap keluar dari hasil pengeboran. Sebetulnya proses
pengeboran ini tidak akan memicu gempa, tetapi pecahnya uap dan kembalinya
air yang digunakan untuk pengeboran ke dalam reservoir air panas bumi, hal
tersebut dapat menyebabkan gempa bumi. Maka siklus seperti ini dapat
mengakibatkan ketidakstabilan sepanjang garis patahan akibat gempa bumi
tersebut. Hal ini tentu akan membahayakan orang sekitar dan pekerja di
pembangkit listrik tersebut. Untuk itu, perlu perancangan teknologi ataupun
sebuah sistem yang dapat menangani masalah tersebut.

8. Kesimpulan
Berdasarkan dari penjabaran informasi yang tertera diatas tentang energi
panas bumi, dapat kemudian diambil beberapa kesimpulan, yakni :
 Penggunaan energi jaman sekarang tidak sebanding dengan jumlah
energi non-renewable yang dimiliki.

 Penggunaan energi non-reneawble menjadi kekhawatiran karena


memiliki batas jumlah penggunaan dan tidak dapat digunakan kembali.

 Terdapat banyak sumber energi alternatif yang dapat digunakan untuk


mengurangi penggunaan energi non-renewable.
 Energi Panas Bumi merupakan salah satu energi alternatif yang dapat
menggantikan peran energi yang berasal dari minyak bumi, gas alam,
dan batubara.

 Indonesia berpotensi untuk menghasilkan energi panas bumi yang besar


karena berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik, serta berada
dalam jalur Ring Of Fire.

 Pengembangan penggunaan energi panas bumi di Indonesia masih


tergolong rendah ( 4,2% atau sekitar 1.189 MW ).

 Banyak kendala pemberdayaan energi panas bumi di Indonesia yang


disebabkan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri dan tidak banyak
kendala yang disebabkan karena prosedur pemberdayaan energi panas
bumi

 Teknologi yang digunakan untuk memberdayakan energi panas bumi


sudah dapat dikatakan efektif, namun masih terdapat beberapa hal yang
perlu dikembangkan dan dikaji ulang.

9. Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Energi_panas_bumi
http://www.alpensteel.com/article/114-101-energi-terbarukan-renewable-
energy/5791-8-sumber-energi-terbarukan-di-indonesia
https://gushaironfadli.com/energi-panas-bumi/
http://geoenviron.blogspot.co.id/2012/09/lempeng-tektonik-indonesia.html
https://noviaputripuspitasari.wordpress.com/teknologi/teknologi-panas-bumi/
http://www.cnzahid.com/2016/12/sistem-kerja-pembangkit-listrik-
tenaga.html
https://www.kompasiana.com/cakmat/599abb3db7c38931475cf452/7-fakta-
dampak-negatif-pembangkit-listrik-tenaga-panas-bumi-di-indonesia