Вы находитесь на странице: 1из 20

FILSAFAT PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Pada Mata Kuliah Pengantar Filsafat

FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI S.I PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dosen: Ari Rohmawati, M.Phil

Di Susun Oleh :

1. Silvia Maya Rusniati 171210067


2. Umi Haniah 171210072

INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU


METRO LAMPUNG
1439 H/ 2018 M

i
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur yang kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan hidayah untuk berpikir sehingga dapat menyelesaikan makalah pada mata
kuliah Pengantar Filsafat.
Dalam penulisan ini kami tulis dalam bentuk sederhana, sekali mengingat
keterbatasan yang ada pada diri penulis sehingga semua yang ditulis masih sangat jauh
dari sempurna.
Atas jasanya semoga Allah SWT memberikan imbalan dan tertulisnya Makalah
ini dapat bermanfaat dan kami minta ma’af sebelumnya kepada Dosen, apabila ini
masih belum mencapai sempurna kami sangat berharap atas kritik dan saran-saran nya
yang sifatnya membangun tentunya.

Metro, Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 2

A. Pengertian Filsafat Pendidikan ....................................................... 2

B. Tujuan dan Manfaat Mempelajari Filsafat Pendidikan .................. 2

C. Subjek atau Objek Filsafat Pendidikan ........................................... 4

D. Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan ........................................ 4

E. Filsafat Pendidikan Relevansinya dengan Perkembangan Pendidikan

di Indonesia .................................................................................... 13

BAB III KESIMPULAN .................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 17

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Filsafat tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena sejarah


filsafat erat kaitannya dengan sejarah manusia pada masa lampau. Filsafat yang
dijadikan sebagai pandangan hidup, erat kaitannya dnegan nilai-nilai tentang manusia
yang dianggap benar sebagai pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa untuk
mewujudkannya yang terkandung dalam filsafat tersebut. Oleh karena itu suatu filsafat
yang diyakini oleh suatu masyarakat atau bangsa akan berkaitan erat dengan sistem
pendidikan yang diraaskan oleh masyarakat dan bangsa tersebut.
Filsafat pendidikan ini sebagai usaha untuk mengenalkan filsafat pendidikan dan
hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. Adapun filsafat pendidikan adalah disiplin
ilmu yang mempelajari dan berusaha mengungkap masalah-masalah pendidikan yang
bersifat filosofis. Agar pendidikan mempunyai arti jelas, karena pendidikan sangat pesar
peranannya dalam membna kemajuan suatu bangsa sesuai dengan filsafat yang diyakini.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat Pendidikan


Secara terminologi filsafat berasal dari kata dalam bahasa Inggris philo dan
sophos. Philo berarti cinta, dan shopos berarti ilmu atau hikmah. Pendapat ini
kebanyakan dinyatakan oleh penulis berbahasa Inggris, seperti Louis O. Kattsoff.
Pendapat lain menyatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani yang masuk
dan digunakan sebagai bahasa Arab, yaitu berasal dari kata philosophia. Philo
berarti cinta, sedangkan sophia berarti hikmah. Pendapat kedua ini dikemukakan
oleh tokoh filsafat Islam, Al-Farabi (w. 950 M). Namun demikian, meskipun kata
filsafat berasal dari Yunani, bukan berarti orang Yunani Kuno adalah perintis
pertama pemikiran filsafat di dunia. Sebelum Yunani Kuno ada negara lain seperti
Mesir, Cina, dan India yang sudah lama mempunyai tradisi filsafat, meskipun
mereka tidak menggunakan kata philosophia untuk maksud yang sama.1 sedangkan
filsafat pendidikan sendiri menurut Dr. Muhammad an-Najihi bermakna penerapan
perspektif dan metode filsafat dalam pendidikan.2
Menurut Al-Syaibany, filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang
teratur yang menjadikan filsafat menjadi sebagai jalan untuk mengatur,
menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya Filsafat pendidikan
dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk
mencapainya.3

B. Tujuan dan Manfaat Mempelajari Filsafat Pendidikan


1. Tujuan Filsafat Pendidikan
Tujuan filsafat pendidikan yang lainnya, yaitu :
a. Dengan berfikir filsafat seseorang bisa menjadi manusia, lebih mendidik,
dan membangun diri sendiri.
b. Seseorang dapat menjadi orang yang dapat berfikir sendiri.

1
Endang Saifuddin Anshari, dalam Tuto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media, 2006), hlm. 22
2
Muhammad an -Najihi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta : al-Kailani, t.t), hlm. 36
3
Jalaluddin Idi Abdullah, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media. 2012), hlm. 46

2
c. Memberikan dasar-dasar pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis
pula sehingga seluruh pengetahuan merupakan satu kesatuan.
d. Hidup seseorang dipimpin oleh pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang
tersebut, sebab itu mengetahui pengetahuan-pengetahuan terdasar berarti
mengetahui dasar-dasar hidup diri sendiri.
e. Bagi seorang pendidik, filsafat mempunyai kepentingan istimewa karena
filsafatlah yang memberikan dasar-dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya
yang mengenai manusia, seperti misalnya ilmu mendidik.
Tujuan filsafat pendidikan juga dapat dilihat dari beberapa aliran filsafat
pendidikan yang dapat mengembangkan pendidikan itu sendiri, yaitu :
a. Idealisme
b. Realisme
c. Pragmatisme
d. Humanisme
e. Behaviorisme
f. Konstruktivisme
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah
mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir),
etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian).4

2. Manfaat Mempelajari Filsafat Pendidikan


Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan tenaga
keguruan dituntut untuk memikirkan masalah-masalah hakiki terkait pendidikan.
Dengan begitu, pemikiran mahasiswa menjadi lebih terasah terhadap persoalan-
persoalan pendidikan baik dalam lingkup mikro maupun makro. Hal ini
menjadikan mahasiswa lebih kritis dalam memandang persoalan pendidikan.
Di samping itu, mahasiswa yang mempelajari dan merenungkan masalah-
masalah hakiki pendidikan akan memperluas cakrawala berpikir mereka,
sehingga dapat lebih arif dalam memahami problem pendidikan. Sebagai
intelektual muda yang kelak menjadi pendidik atau tenaga kependidikan, sudah
sewajarnya bila mereka dituntut untuk berpikir reflektif dan bukan sekedar

4
http://nralviah.blogspot.co.id/2015/10/tujuan-dan-manfaat-mempelajari-filsafat_10.html,
diakses pada 13 Mei 2018

3
berpikir teknis di dalam memecahkan problem-problem dasar kependidikan,
yaitu dengan menggunakan kebebasan intelektual dan tanggung jawab sosial
yang melekat padanya.5

C. Subjek atau Objek Filsafat Pendidikan


Berfikir merupakan subjek dari filsafat pendidkan akan tetapi tidak semua
berfikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat pendidikan adalah seseorang yang berfikir/
memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam tentang bagaimanan
memperbaiki pendidikan.
Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek
itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah
subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :
1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada
yang tidak harus ada
2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena
mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak
kebenaran.6

D. Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan


1. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Eksistensi berarti keberadaan, akan tetapi di dalam filsafat eksistensialisme
istilah eksistensi memiliki arti tersendiri. Tampaknya di dalam filsafat
eksistensialisme istilah eksistensi memiliki arti cara manusia berada di dalam
dunia, dan hal ini berada dengan cara berada benda-benda, sebab benda-benda
tidak sadar akan keberadaannya sebagai sesuatu yang memiliki hubungan
dengan yang lain, dan berada di samping yang lain. Secara lengkap eksistensi
memiliki hubungan dengan yag lain, dan berada di samping yang lain. Secara
lengkap eksistensi memiliki arti bahwa manusia berdiri sebagai dirinya dengan
keluar dari diri sendiri. Maksudnya ialah manusia sadar bahwa dirinya ada.
Power, menjelaskan penerapan filsafat pendidikan eksistensialisme dalam
praktik pelaksanaan pndidikan seperti berikut ini :

5
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr-rukiyati-mhum/bpk-mengenal-filsafat-
pendidikan.pdf, hal. 21. dikutip pada 13 Mei 2018
6
https://van88.wordpress.com/filsafat-pendidikan/, diakses pada 13 Mei 2018

4
a. Tujuan pendidikan
Pendidikan memberikan bekal pengalaman yang luas dan komperhensif
dalam semua bentuk kehidupan.
b. Status peserta didik
Peserta didik adalah manusia yang rasional, bebas memilih dan bertanggung
jawab atas pilihannya. Membutuhkan komitmen akan pemenuhan tujuan
pribadi.
c. Kurikulum
Kurikulum bersifat liberal, yakni memiliki kebebasan menmilih dan
menentukan aturan-aturan serta pegalaman belajar sesuai dengan minat dan
kebutuhan peserta didik dari kehidupan mereka. Di sekolah dibina agar
terbentukpada diri peserta didik rasa hormat (respek), respek terhadap
kebebasan bagi yang lain seperti dalam dirinya, karena itu diajarkan
pendidikan sosial.
d. Peranan guru
Guru berperan melindungi dan memelihara kebebasan akademik, tidak
jarang terjadi bahwa mungkin suatu hari ini adalah guru, besok lusa mungkin
mejadi peserta didik.
e. Metode
Yang diutamakan dalam praktik pembelajaran adalah pencapaian tujuan
yakni mencapai kebahagiaan dan kepribadian yang baik, sedangkan metode
merupakan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu,
penggunaan metode tidak terlalu dipikirkan secara mendalam.
Contoh pendidikan eksistensialisme yaitu adanya penerapan program
ekstrakurikuler di sekolah. Dalam program ini peserta didik bebas memilih apa
yang menjadi kesenangan dan bakat mereka tanpa adanya paksaan. Dari
program ekstrakurikuler ini peserta didik dapat menunjukkan prestasi dan
eksistensinya.7
2. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Filsafat pendidikan progresiv lahir di Amerika Serikat. Filsafat ini sejalan
dengan jiwa bangsa Amerika pada waktu itu, sebagai bangsa yang dinamis

7
Tim Pengajar. Diktat Filsafat Pendidikan. (Medan: UNIMED, 2009), hlm. 92

5
berjuang mencari hidup baru di negeri seberang. Bagi mereka tidak da hidup
yang tetap, apalagi nilai-nilai yang abadi. Yang ada adalah perubahan. Mereka
sangat menekankan kehidupan sehari-hari, maka segala tindakan mereka diukur
dari kegunaan praktisnya.
Penerapan filsafat pendidikan progresivisme dalam praktik pelaksanaan
pendidikan seperti berikut ini :
a. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut aliran ini adalah harus memberikan
keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berintraksi dengan
lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus menerus.
Siswa diharapkan memiliki keterampilan pemecahan masalah yang dapat
digunakkan untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah.
b. Kurikulum Pendidikan
Kalangan progresif menempatkan subjek didik pada titik sumbu sekolah
(child-centered). Mereka lalu berupaya mengembangkan kurikulum dan
metode pengajaran yang berpangkal pada kebutuhan, kepentingan, dan
inisiatif subjek didik. Jadi, ketertarikan anak adalah titik tolak bagi
pengalaman belajar. Imam Barnadib menyatakan bahwa kurikulum
progresivisme adalah kurikulum yang tidak beku dan dapat direvisi,
sehingga yang cocok adalah kurikulum yang berpusat pada pengalaman.
c. Metode Pendidikan
1) Metode Pendidikan Aktif
Pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas
yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada
setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
2) Metode Memonitor Kegiatan Belajar
Mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan
bantuan-bantuan apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar
berlangsung kegiatan belajar tersebut.
3) Metode Penelitian Ilmiah
Pendidikan progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah
yang tertuju pada penyusunan konsep.

6
4) Pemerintahan Pelajar
Pendidikan progresif memperkenalkan pemerintahan pelejar dalam
kehidupan sekolah dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan
sekolah.
5) Kerjasama Sekolah Dengan Keluarga
Pendidikan Progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah
dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-
luasnya bagi anak untuk mengekspresikan secara alamiah semua minat
dan kegiatan yang diperlukan anak.
6) Sekolah Sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan
Sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperanan pula sebagai
laboratoriun dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
d. Belajar
Proses belajar terpusat pada anak dengan memberikan perhatian anak.
Namun guru tidak membiarkan anak mengikuti apa yang ia inginkan, karena
anak belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai. Anak
membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan
aktifitasnya. Anak didik adalah subjek aktif, bukan pasif, sekolah adalah
dunia kecil (miniatur) dari masyarakat besar, aktifitas ruang kelas
difokuskan pada praktik pemecahan masalah, serta atmosfer sekolah
diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis. Mereka menganut
prinsip pendidikan perpusat pada anak (child-centered).
e. Peranan Guru
Guru menurut pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai penasihat,
pembimbing, pengarah dan bukan sebagai orang pemegang otoritas penuh
yang dapat berbuat apa saja (otoriter) terhadap muridnya. Sebagai
pembimbing karena guru mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang
banyak di bidang anak didik maka secara otomatis semestinya ia akan
menjadi penasihat ketika anak didik mengalami jalan buntu dalam
memecahkan persoalan yang dihadapi. Oleh karena itu peran utama pendidik
adalah membantu peserta didik atau murid bagaimana mereka harus belajar

7
dengan diri mereka sendiri, sehingga pesrta didik akan berkembang menjadi
orang dewasa yang mandiri dalam suatu lingkungannya yang berubah.
f. Peserta Didik
Teori progresivisme menempatkan pesrta didik pada posisi sentral dalam
melakukan pembelajaran. karena murid mempunyai kecenderungan alamiah
untuk belajar dan menemukan sesuatu tentang dunia di sekitarnya dan juga
memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus terpenuhi dalam
kehidupannya. Kecenderungan dan kebutuhan tersebut akan memberikan
kepada murid suatu minat yang jelas dalam mempelajari berbagai persoalan.
Secara institusional sekolah harus memelihara dan manjamin kebebasan
berpikir dan berkreasi kepada para murid, sehingga mereka memilki
kemandirian dan aktualisasi diri, namun pendidik tetap berkewajiban
mengawasi dan mengontrol mereka guna meluruskan kesalahan yang
dihadapi murid khusunya dalam segi metodologi berpikir.
Contoh penerapan aliran filsafat progresivisme dapat terlihat dari perubahan
sistem mengajar di sekolah. Dulu sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan
pembelajaran Teacher Learning Centre (TLC), dimana guru menjadi pusat
pembelajaran. Namun karena perkembangan zaman dan kesadaran akan
perlunya mempersiapkan peserta didik yang mampu mengatasi masalah-masalah
baru yang muncu di kehidupan yang akan datang maka diterapkanlah Student
Learning Centre (SLC), diman peserta didik memiliki kesempatan luas untuk
bereksplorasi, menemukan hal-hal baru, serta mengembangkan pendapat dan
pikiran mereka. Pada pembelajaran SLC, guru hanya berperan sebagai
pembimbing dan fasilitator untuk peserta didik.8
3. Filsafat Pendidikan Perenialisme
Filsafat ini muncul pada abad pertengahan pada zaman keemasan agama
Katolik-Kristen. Pada zaman itu tokoh-tokoh agam menguasai hamper semua
bidang kemasyarakatan. Sehingga sangat logis kalau sekolah-sekolah yang
berintikan ajaran agama muncul di sana-sini. Ajaran agam itulah merupakan
suatu kebenaran yang patut dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan Thomas Aquino.

8
Tim Pengajar. Diktat Filsafat Pendidikan, hlm. 93-94

8
Penerapan filsafat pendidikan perenialisme terhadap praktik pelaksanaan
pendidikan, sebagai berikut ini:
a. Pendidikan
Perenialisme memandang education as cultural regresion: pendidikan
sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang
seperti dalam kebudayaan masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan
yang ideal. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilai-
nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam
kebudayaan masa lampau yang dipandang kebudayaan ideal tersebut.
b. Tujuan pendidikan
Bagi perenialist bahwa nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi,
inilah yang harus menjadi tujuan pendidikan yang sejati. Sebab itu, tujuan
pendidikannya adalah membantu peserta didik menyingkapkan dan
menginternalisasikan nila-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai
kebijakan dan kebaikan dalam hidup.
c. Sekolah
Sekolah merupakan lembaga tempat latihan elite intelektual yang
mengetahui kebenaran dan suatu waktu akan meneruskannya kepada
generasi pelajar yang baru. Sekolah adalah lembaga yang berperan
mempersiapkan peserta didik atau orang muda untuk terjun kedalam
kehidupan. Sekolah bagi perenialist merupakan peraturan-peraturan yang
artificial dimana peserta didik berkenalan dengan hasil yang paling baik dari
warisan sosial budaya.
d. Kurikulum
Kurikulum pendidikan bersifat subject centered berpusat pada materi
pelajaran. Materi pelajaran harus bersifat uniform, universal dan abadi,
selain itu materi pelajaran terutama harus terarah kepada pembentukan
rasionalitas manusia, sebab demikianlah hakikat manusia. Mata pelajaran
yang mempunyai status tertinggi adalah mata pelajaran yang mempunyai
“rational content” yang lebih besar.

9
e. Metode
Metode pendidikan atau metode belajar utama yang digunakan oleh
perenialist adalah membaca dan diskusi, yaitu membaca dan mendikusikan
karya-karya besar yang tertuang dalam the great books dalam rangka
mendisiplinkan pikiran.
f. Peranan guru dan peserta didik
Peran guru bukan hanya sebagai perantara antara dunia dengan jiwa anak,
melainkan guru juga sebagai “murid” yang mengalami proses belajar serta
mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self-discovery, dan ia
melakukan moral authority (otoritas moral) atas murid-muridnya karena ia
seorang profesional yang qualifiet dan superior dibandingkan muridnya.
Guru harus mempunyai aktualitas yang lebih, dan perfect knowladge.
Contoh aliran perenialisme pada pendidikan di Indonesia yaitu berdirinya
sekolah-sekolah yang berbasis agama seperti Muhammdiyah, Nahdatul Ulama,
sekolah-sekolah Kristen, dan Pondok Pesantren. Sekolah-sekolah seperti ini
biasanya memiliki kurikulum yang sedikit berbeda dan lebih mengedepankan
ilmu agama karena agama dianggap sebagai sesuatu yang memiliki nilai-nilai
atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup.9
4. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri, yang
mendirikan suatu bangunan filsafat tersendiri, melainkan sutu gerakan dalam
pendidikan yang memprotes pendidikan progresivisme. Penganut faham ini
berpendapat bahwa betul-betul ada yang esensial dari pengalaman peserta didik
yang memiliki nilai esensial dan perlu dipertahankan. Esensi (essence) ialah
hakikat barang sesuatu yang khusus sebagai sifat terdalam dari sesuatu sebagai
satuan yang konseptual dan akali. Esensi adalah apa yang membuat sesuatu
menjadi apa adanya. Esensi mengacu pada aspek-aspek yang lebih permanen
dan mantap dari sesuatu yang berlawanan dengan yang berubah-ubah, parsial,
atau fenomenal.10
Penerapan filsafat pendidikan perenialisme terhadap praktik pelaksanaan
pendidikan, sebagai berikut ini:
9
Tim Pengajar. Diktat Filsafat Pendidikan., hlm. 95-96
10
Edward Purba & Yusnadi. Filsafat Pendidikan. (Medan: UNIMED PRESS. 2015), hlm. 30-31

10
a. Pendidikan
Bagi penganut Esensialisme pendidikan merupakan upaya untuk memelihara
kebudayaan, “Edukation as Cultural Conservation”. Mereka percaya bahwa
pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada
sejak awal peradaban umat manusia. Sebab kebudayaan tersebut telah teruji
dalam segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan adalah esensial yang
mempu mengemban hari kini dan masa depan umat manusia.
b. Tujuan pendidikan
Pendidikan bertujuan mentransmisikan kebudayaan untuk menjamin
solidaritas sosial dan kesejahteraan umum.
c. Sekolah
Fungsi utama sekolah adalah memelihara nilai-nilai yang telah turun-
temurun, dan menjadi penuntun penyesuaian orang (individu) kepada
masyarakat. Sekolah yang baik adalah sekolah yang berpusat pada
masyarakat, “society centered school”, yaitu sekolah yang mengutamakan
kebutuhan dan minat masyarakat.
d. Kurikulum
Kurikulum (isi pendidikan) direncanakan dan diorganisasi oleh seorang
dewasa atau guru sebagai wakil masyarakat, society centered. Hal ini sesuai
dengan dasar filsafat idealisme dan realisme yang menyatakan bahwa
masyarakat dan alam (relisme) atau masyarakat dan yang absolut (idealisme)
mempunyai peranan menentukan bagaimana seharusnya individu (peserta
didik) hidup.
e. Metode
Dalam hal metode pendidikan Esensialisme menyarankan agar sekolah-
sekolah mempertahankan metode-metode tradisional yang berhubungan
dengan disiplin mental. Metode problem solving memang ada manfaatnya,
tetapi bukan prosedur yang dapat diterapkan dalam seluruh kegiatan belajar.
f. Peranan guru dan peserta didik
Guru atau pendidik berperan sebagai mediator atau “jembatan” antara dunia
masyarakat atau orang dewasa dengan dunia anak. Guru harus disiapkan
sedemikian rupa agar secara teknis mampu melaksanakan perannya sebagai

11
pengarah proses belajar. Adapun secara moral guru haruslah orang terdidik
yang dapat dipercaya. Dengan denikian inisiatif dalam pendidikan
ditekankan pada guru, bukan pada peserta didik.11
5. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Filsafat pendidikan Rekonstruksionisme merupakan variasi dari
progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umunya harus
diperbaiki. Mereka bercita-cita mengkonstruksi kembali kehidupan manusia
secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru aliran yang
ekstrim ini berupaya merombak tata susunan masyarakat lama dan membangun
tata susunan hidup yang baru sama sekali, melalui lembaga dan protes
pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu bertalian dengan pendidikan tidak
banyak berbeda dengan aliran progresivisme.12
Berikut ini Power mengemukakan implikasi pendidikan aliran
rekonstruksionisme, seperti berikut ini :
a. Tema
Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial dan pendidikan
merupakan suatu usaha sosial.
b. Tujuan Pendidikan
Pendidikan bertujuan untuk menciptkan aturan sosial yang ideal. Transmisi
budaya dalam kegiatan pendidikan merupakan hal yang esensial terutama
dalam masyarakat yang majemuk, oleh sebab itu dalam kegiatan tersebut
fakta budaya yang majemuk itu harus dipahami.
c. Kurikulum
Kurikulum sekolah harus diwarnai oleh semua budaya dan nilai-nilai yang
berhubungan dengan sekolah, tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas
atau budaya yang ditentukan atau disukai.
d. Kedudukan Siswa
Nilai-nilai budaya peserta didik yang dibawa ke sekolah sangat dihargai, dan
keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan.
e. Metode

11
Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: Universitas Terbuka. 2010), hlm. 20-22
12
Made Pidarta, Landasan Kependidikan. (Jakarta: Rineka Cipta. 2007), hlm. 93

12
Belajar sambil bekerja (learning by doing) adalah salah satu metode yang
diakui dapat digunakan disamping metode-metode yang digunakan dalam
pendidikan progresif.
f. Peranan Guru
Guru menghargai dengan tulus dan ikhlas semua budaya dalam setiap
interaksinya, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.13
Contoh penerapan aliran rekonstruksionisme yaitu pemberian tugas
mandiri kepada peserta didik secara berkelompok maupun individu. Seperti
pembuatan karya ilmiah yang dapat memberikan kesempatan untuk membangun
pengetahuan dan pengalaman masing-masing peserta didik. Dari tugas ini
peserta didik dapat bersosialisasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat
di luar lingkungan sekolahnya, dapat mengetahui masalah-masalah dan
perkembagan apa saja yang terjadi di masyarakat saat ini, serta dapat
memberikan ide, pendapat, atau solusi-solusi atas permasalahan sosial yang ada.

E. Filsafat Pendidikan Relevansinya dengan Perkembangan Pendidikan di


Indonesia
1. Terminology Filsafat Pendidikan dalam Pemikiran dan Praktik Pendidikan
di Indonesia
Keadaan formal filsafat pendidikan din Indonesia kenyataanya belum
pernah ada meskipun dalam penetapan kebijakan-kebijakan pendidikan hal
tersebut sudah terkandung secara inklusif. Dalam sistem pendidikan di Indonesia
sudah tampak adanya dasar pemikiran filosofis, yaitu dalam bentuk pilihan-
pilihan yang paling baik yang dipakai sebagai dasar pertimbangan penetapan
tujuan, materi metode, alat, manajemen, dan sebagainya yang merupakan
kompenen-kompenen sistem pendidikan. Namun, didalam memilih konsep-
konsep terbaik tersebut tidak secara jelas menggunakan terminology filsafat
ataupn filsafat pendidikan secara baku dan yang dipakai oleh banyak Negara di
dunia.
Pendidikan di Indonesia tiadak secara eksplisit memilih cabang filsafat
mana dan alairan fisafat mana yang dipakai dalan menetapkan kebijakan atau

13
Tim Pengajar, Diktat Filsafat Pendidikan, hlm. 98-99

13
membuat aturan pelaksanaan. Memang hal ini tampaknya tidak menimbulkan
masalah dalam praktik, akan tetapi dengan tidak digunakannya dasar filosofis ini
kebijakan dan keputusan yang diambil para pemangku kewenangan sangat
mungkin berubah-ubah tanpa dapat dipertanggungjawabkan.
2. Pancasila sebagai Landasan Kebijakan Pendidikan di Indonesia
Satu-satunya pegangan yang dapat dikategorikan sebagai dasar filosofis
Pendidikan di Indonesia adalah Pancasila. Pancasila diakui sebagai filsafat
bangsa Indonesia yang berkembang mulai zaman purba sampai sekarang dan
diharapka sampai masa-masa selanjutnya.Bahwa Pancasila dapat dipandang
sebagai landasan filosofis bagi pemikiran dan praktik pendidikan di Indonesia
dapat dipahami atas dasar hakikat Pancasila. Hakikat Pancasila yang mendukung
dipakainya sebagai dasar filsafat pendidikn adalah:
a. Pancasila diakui sebagai filsafat bangsa dan dasar negar.
b. Pancasila telah ditetapkan sebagai paradigma pembangunan bangsa.
c. Hakikat Pancasila baik dalam keseluruhannya maupun sila demi sila telah
diberikan rumusan yang jelas.
d. Hakikat Pancasila di posisikan sebagai hal yang universal.
e. Hakikat Pancasila dapat mencakup ide-ide pokok berbagai filsafat yang ada.
3. Pancasila sebagai Dasar Filsafat Pendidikan Indonesia
Meskipun tidak secara eksplisit Pancasila ditetapkan sebagai filsafat
pendidikan di Indonesia, namun dalam kenyataanya Pancasila telah ditetapkan
sebagai landasan berfikir pendidikan baik dalam bentuk UU maupun dalm
praktik penyelenggaraannya. Pancasila sudah ditetapkan sebagai paradigma
pembangunan di Indonesia.Model dan kerangka berpikir perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan di Indonesia mengacu pada hakikat Pancasila, baik
sebagai filsafat bangsa maupun sebagai dasar Negara. Salah satu bidang
pembangunan yang menggunakan paradigm pembangunan adalah pembangunan
bangsa dan pembentukan karakter bangsa. Dari sinilah dapat dipahami bahwa
Pancasila menjadi acuan dasar pemikiran dan pelaksanaan pendidikan. Hal ini
telah diterapkan dalam penetapan hokum yang mengeenai pendidikan.

14
4. Beberapa Kebijakan Pendidikan Terkait Pandangan Filosofisnya
Sudah banyak kebijakan pemerintah Indonesia dalam bidang pendidikan
yang didasarkan pada sudut pandang filosofis secara universal. Kebijakan
pemerintah tersebut diantaranya yaitu:
a. Indonesia telah memilih pola pendidikan seumur hidup karena pada
prinsipnya manusia dipandang sebagai makluk hidup yang tumbuh dan
berkembang mulai lahir sampai mati. Ajaran Pancasila memandang manusia
tidak hanya un tuk kehidupan di dunia, tetapi juga kehidupan di akhirat.
Begitu pula pendidikan tidak hanya untuk anak, namun untuk orang dewasa
juga.
b. Indonesia juga telah melaksanakan “pendidikan untuk semua”. Hal ini
didasarkan pandangan bahwa, pendidikan merupaka hak setiap manusia dan
ini sesuai dengan Pancasila.14

14
http://windasari1995.blogspot.co.id/2017/05/filsafat-pendidikan-indonesia.html, diakses pada
13 Mei 2018

15
BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan


bahwa, filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat
menjadi sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses
pendidikan. Artinya Filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-
maklumat yang diupayakan untuk mencapainya.

Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu
sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu
sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :

1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada
yang tidak harus ada
2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsi dan oleh karena
mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak
kebenaran.

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme


2. Filsafat Pendidikan Progresivisme
3. Filsafat Pendidikan Perenialisme
4. Filsafat Pendidikan Esensialisme
5. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

16
DAFTAR PUSTAKA

Edward Purba & Yusnadi. Filsafat Pendidikan. (Medan: UNIMED PRESS. 2015)

Endang Saifuddin Anshari, dalam Tuto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam,


(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006)

Jalaluddin Idi Abdullah, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat, dan Pendidikan.


(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2012)

Made Pidarta, Landasan Kependidikan. (Jakarta: Rineka Cipta. 2007)

Muhammad an -Najihi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta : al-Kailani, t.t)

Tim Pengajar. Diktat Filsafat Pendidikan. (Medan: UNIMED, 2009)

Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: Universitas Terbuka. 2010)

http://nralviah.blogspot.co.id/2015/10/tujuan-dan-manfaat-mempelajari-
filsafat_10.html, diakses pada 13 Mei 2018

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr-rukiyati-mhum/bpk-mengenal-
filsafat-pendidikan.pdf, hal. 21. dikutip pada 13 Mei 2018

http://windasari1995.blogspot.co.id/2017/05/filsafat-pendidikan-indonesia.html, diakses
pada 13 Mei 2018

https://van88.wordpress.com/filsafat-pendidikan/, diakses pada 13 Mei 2018

17