You are on page 1of 7

IMPLEMENTASI KEWIRAUSAHAAN DALAM KOPERASI

Oleh : Sukmayadi, S.E.,M.M.

Abstrak

Bangsa Indonesia dalam membangun sistem perekonomian berdasarkan Pasal 33 ayat (1) UUD
1945 disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan yang diwujudkan dengan
koperasi. Dalam islam koperasi disebut dengan Syirkah ta’awunah ( persekutuan tolong
menolong), yang produkya terdiri dari Syirkah abdan, Syirkah mufawadhah, Syirkah Wujuh, dan
Syirkah ‘inan. Adapun prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam koperasi islam adalah : (1)
meyakini bahwa kekayaan adalah amanah Allah yang tidak dapat dimiliki oleh siapapun secara
mutlak , (2) kebebasan muamalah diberikan kepada manusia sepanjang masih bersesuaian
dengan syariah islam , (3) manusia merupakan Khalifah Allah dan pemakur Bumi, (4)
Menjungjung tinggi keadilan dan menolak semua bentuk ribawi dan pemusatan sumber daya
ekonomi pada segelintir orang.

Ketentuan tentang hukun koperasi daam Islam, sebagian ulama menganggapnya sebagai akad
mudharabah. Data pada Kementrian Koperasi menunjukkan bahwa koperasi syariah berjumlah
2.700-an namun sampai saat ini ketentuan khusus mengenai kedudukan koperasi syariah dalam
ada dibentuk. Sehingga masih mengacu kepada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang
koperasi, yang mengakuin jasa koperasi dengan sistem kenvensional dan sistem bagi hasil. Jadi
inilah dasr yang mengakomodir koperasi dengan menjalankan prinsip syariah.

Pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui koperasi harus mengimplementasikan semangat


kewirausahaan. Artinya, reformasi koperasi lebih terfokus pada upaya optimalisasi etos
kemandirian dan profesionalisme gerakan koperasi, sehingga dapat memberikan konstribusi yang
optimal, yaitu dalam bentuk cooperative growth, cooperative share dan cooperative effect.

Pendahuluan

Tanggal 22 Juli adalah Hari Koperasi yang setiap tahun diperingati oleh insan koperasi di seluruh
tanah air termasuk di kabupaten kita Kabupaten Sumedang. Berbagai acara dilaksanakan mulai
dari gerak jalan santai, koperasi berprestasi dan koperasi teladan, termasuk mengadakan seminar
yang membahas perkembangan koperasi pada era setelah reformasi dengan tema dan topik
seputas masalah yang berkaitan dengan pengembangan koperasi baik konvensional maupun
koperasi syariah, terutama yang berhubungan dengan tantangan, peluang, kendala dan pilar-pilar
pendukung pengembangan koperasi. Seperti sumber daya manusia atau sumber daya insani,
kewirausahaan, orientasi bisnis, permodalan, maupun penciptaan iklim kondusif dan
keberpihakan pemerintah.
Suatu fenomena yang dramatis di era reformasi adalah pertumbuhan kuantitatif koperasi yang
cukup tinggi. Pertumbuhan ini disatu sisi memberikan kegembiraan tersendiri bagi dunia
koperasi, dimana masyarakat yang sadar koperasi meningkat drastis seiring dengan peningkatan
jumlah koperasi yang secara kuantitas terus meningkat dan bertambah.

Namun tentu saja pertumbuhan kuantitas tersebut seharusnya diimbangi dengan pengembangan
kualitas, seperti aspek permodalan, teknologi, manajemen dan sumber daya manusia (SDM).
Dalam pilar SDM tersebut, etos kewirausahaan harus ditumbuhkan dan dimiliki oleh pengurus
dan pengelola koperasi.

Kewirausahaan adalah aspek penting yang menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan
koperasi. Kurangnya perhatian terhadap kewirausahaan koperasi, jelas merupakan penyebab
utama kegagalan pengembangan SDM koperasi dan pada gilirannya menjadi salah satu penyebab
kegagalan ekonomi kerakyatan.

Konsep Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan (Entrepreneurship) pada dasarnya memiliki definisi yang cukup beragam.
Hal ini terutama berkaitan erat dengan perspektif pihak-pihak yang mendefinisikannya.
Meskipun terjadi keragaman definisi, namun hal ini tampaknya tidak mengarah pada perdebatan
yang destruktif karena masing-masing pihak mampu memberikan argumennya secara logis
menurut perspektifnya masing-masing, misalnya perbedaan perspektif antara disiplin ekonomi
dan manajemen.

Dalam hubungan ini, para pakar telah mengemukakan definisi tentang kewirausahaan dalam
rentang yang cukup luas, dan manakala dioperasionalkan, menghasilkan sejumlah langkah atau
tindakan yang berbeda (Herbert dan Link, 1989). Kedua pakar tersebut telah mengidentifikasi
dua tradisi intelektual yang berbeda dalam pengembangan literatur tentang kewirausahaan.
Kedua tradisi ini dapat dicirikan sebagai tradisi Jerman (German Tradition), yang berlandaskan
pada Von Thuenen dan Schumpeter dan tradisi Austria (Austrian Tradition) yang berlandaskan
pada Von Mises, Kirzner, dan Shackle (Audtretsch, 2004). Tradisi Shumpeterian telah memiliki
dampak yang paling besar terhadap literatur kewirausahaan kontemporer. Ciri khas dari tradisi
Schumpeterian, yaitu bahwa kewirausahaan dipandang sebagai suatu fenomena
ketidakseimbangan kekuatan (dis-equilibrating force).

Dalam risalah klasiknya tahun 1911, Theorie der wirtschaftlichen Entwicklungen (Teori
Pembangunan Ekonomi), Schumpeter mengusulkan sebuah teori tentang “creative destruction”.
Teori ini menyatakan bahwa perusahaan baru dengan spirit kewirausahaan muncul dan
menggantikan perusahaan lama yang kurang inovatif. Fenomena ini selanjutnya mengarah ke
tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam risalah klasiknya tahun 1942, Capitalism and Democracy, Schumpeter masih
memperdebatkan bahwa kubu perusahaan berskala besar cenderung resistan terhadap perubahan,
dan terus memaksa para wirausahawan untuk memulai mendirikan perusahaan baru dalam
mewujudkan kegiatan inovatif. Dengan demikian fungsi para usahawan adalah melakukan
pembaruan atau merombak pola produksi dengan menggali suatu invensi (benar-benar baru),
atau secara lebih umum, menerapkan suatu teknologi yang belum pernah digunakan untuk
menghasilkan produk baru atau produk lama melalui suatu cara yang baru. Pada umumnya
untuk mengimplementasikan hal-hal baru ini relatif sulit dan merupakan suatu fungsi ekonomi
yang berbeda namun nyata. Pertama karena hal tersebut berada di luar tugas-tugas rutin, dan
kedua melalui berbagai macam cara lingkungan bersifat resistan.

Meskipun paham Schumpeterian menekankan proses pendirian sebuah perusahaan sebagai awal
untuk menetapkan aktivitas yang berkenaan dengan kewirausahaan, ternyata tidak terdapat suatu
definisi tentang kewirausahaan yang secara umum dapat diterima di negara-negara maju (OECD,
1998). Kegagalan tidak tersepakatinya definisi tunggal tentang kewirausahaan, mencerminkan
kenyataan bahwa kewirausahaan adalah sebuah konsep yang multidimensional.

Definisi yang sebenarnya digunakan untuk meneliti atau mengklasifikasikan kegiatan


kewirausahaan terefleksi dalam sebuah perspektif dengan penekanan khusus. Misalnya, terdapat
keberagaman definisi tentang kewirausahaan dilihat dari sudut pandang ilmu ekonomi dan
manajemen walaupun kedua displin tersebut memiliki sasaran pengalaman yang sama.
Dari sudut pandang ekonomi, Herbert dan Link (1989) membedakan antara pasokan modal
finansial (financial capital), inovasi, alokasi dan/atau relokasi sumberdaya diantara alternatif
penggunaan dan pengambilan keputusan. Dengan demikian seorang wirausahawan adalah
seseorang yang mencakup keseluruhan spektrum fungsi-fungsi kewirausahaan. Wirausahawan
adalah seseorang yang berspesialisasi dalam pengambilan tanggung jawab dan membuat
pertimbangan yang mempengaruhi lokasi, bentuk, dan penggunaan barang-barang, sumberdaya
fisik atau non fisik lainnya (Herbert dan Link, 1989).

Dengan melakukan perbandingan, dari sudut pandang manajemen, Sahlman dan Stevenson
(1991), membuat perbedaan arti antara wirausahawan dan menejer, yaitu: "Kewirausahaan
merupakan suatu cara mengelola yang mencakup mengejar peluang tanpa memperhatikan
sumberdaya yang saat ini dimiliki. Para wirausahawan mengidentifikasi peluang-peluang,
mengumpulkan sumberdaya yang diperlukan, menerapkan sebuah rencana tindakan yang dapat
dilaksanakan dan memungut imbalan dalam waktu dan cara yang fleksibel."

Gambaran yang paling lazim mengenai kewirausahawan memfokuskan pada persepsi tentang
peluang-peluang sosial-ekonomi dan pengenalan gagasan baru di pasar. Seperti dikemukakan
Audretsch (1995), kewirausahawan adalah berkenaan dengan perubahan, sebagaimana diketahui
bahwa para usahawan adalah agen perubahan (agent of change). Ringkasnya, kewirausahawan
adalah dicirikan dengan proses perubahan. Hal ini sesuai dengan definisi yang dikemukakan
OECD, yaitu: “Wirausahawan adalah agen perubahan dan pertumbuhan di dalam sebuah pasar
suatu sistem perekonomian dan dapat bertindak untuk mempercepat penciptaan, penyebaran dan
penerapan gagasan-gagasan inovatif….Entreprenurs not only seek out and identify potentially
profitable economics opportunities but also willing to take risks too see if their hunches are
right” (OECD, 1998).

Meskipun kesederhanaan dalam mendefinisikan kewirausahawan sebagai akti-vitas pendorong


perkembangan perubahan inovatif yang memiliki daya tarik, namun dibalik kesederhanaan
seperti demikian terkandung pula muatan kompleksitasnya. Terselimutinya kompleksitas
kewirausahawan paling sedikit disebabkan oleh dua alasan. Alasan pertama muncul karena
kewirausahawan merupakan suatu aktivitas lintas organisasi yang multi bentuk. Apakah
kewirausahawan menunjukkan perubahan yang menyebabkan kegiatan perorangan, kelompok
perorangan seperti jaringan, proyek, perusahaan, dan bahkan keseluruhan industri, atau bahkan
pula seluruh obyek observasi, seperti kluster dan wilayah.

Bagian dari kerumitan yang tercakup dalam kewirausahawan, yaitu bahwa kewirausahawan ini
mencakup keseluruhan bentuk organisasional. Tidak ada satu bentuk organisasi yang dapat
mengklaim atau memonopoli kewirausahaan.

Sumber kompleksitas kedua, yaitu bahwa konsep perubahan adalah bersifat relatif untuk
beberapa benchmark (Audretsch, 2002). Apa yang dipersepsikan sebagai perubahan bagi
seseorang atau organisasi belum tentu mencakup sebuah praktik baru bagi industri. Atau hal itu
merepresentasikan perubahan untuk industri domestik, tetapi bukan untuk industri global. Oleh
karena itu, konsep kewirausahaan melekat dalam cakupan lokal (local context). Pada waktu yang
bersamaan, nilai kewirausahaan dibentuk pula oleh benchmark lainnya yang relevan. Aktivitas
kewirausahaan yang dianggap ‘baru’ menurut seseorang, tetapi bisa saja ‘tidak baru’ bagi
perusahaan atau industri , yang mana kesemua hal ini bisa membatasi nilai inovasinya.

Secara etimologis, wirausaha juga berarti keberanian melakukan kegiatan bisnis. Sedangkan
secara terminologis, kewirausahaan adalah keberanian, semangat, prilaku dan kemampuan untuk
memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan.

Dengan selalu berusaha mencari dan melayani pelanggan/anggota lebih banyak dan lebih baik
secara memuaskan, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan
menerapkan kerja yang efisien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas, inovasi serta
kemampuan manajemen.

Dengan menggunakan konsep dan defenisi wirausaha di atas, maka tak bisa dibantah bahwa
koperasi termasuk koperasi yang operasionalnya menggunakan pola syariah atau yang biasa kita
sebut KJKS atau BMT, tentu sangat memerlukan kewirausahaan untuk menggerakkan dan
memajukan koperasinya. Karena itu, pengelola koperasi harus berani melakukan terobosan,
menguak dan memanfaatkan pasar untuk memperoleh keuntungan.

Dalam GBHN 1988, kewirausahaan mendapat perhatian utama dalam pemberdayaan ekonomi
kerakyatan. Di dalam GBHN itu disebutkan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan harus
mengutamakan pengembangan kewirausahaan dan kewiraswastaan, penyediaan sarana-sarana,
fasilitas pendidikan dan pelatihan-pelatihan, bimbingan dan penyuluhan serta permodalan.

Mc. Calland, salah seorang intelektual Amerika Serikat, wirausahawan mempunyai 10 ciri
utama, yaitu : 1. Selalu mencari peluang, 2. Ulet, gigih, kerja keras, pantang menyerah, 3.
Berorientasi pada kualitas dan efisiensi, 4. Berani mengambil resiko, 5. Mampu menentukan
tujuan, 6. Memegang janji, 7. Mampu membuat perencanaan dan pengawasan yang efektif, 8.
Mampu mencari informasi, 9. Mampu mengatur pekerjaan, 10. Percaya diri.
Selain rumusan Mc. Calland di atas, profil seorang wirausaha ialah : 1. Mempunyai motivasi
prestasi, yakni dorongan untuk selalu maju, berkembang dan sukses, 2. Berorientasi ke masa
depan dan memiliki visi masa depan yang jelas, 3. Bertindak dengan penuh perhitungan, yakni
selalu memperhitungkan keuntungan ddan kerugian, positif dan negatif, manfaat dan mudharat,
4. Inovatif, kreatif, terus menerus berfikir sehingga senantiasa melahirkan gagasan-gagasan baru,
5. Agresif dan kompetitif, 6. Suka pada tantangan dan selalu optimis menjalankan usaha, 7.
Berjiwa kepemimpinan, bersifat fleksibel, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi saran
dan kritik, 8. Mandiri, tidak menggantungkan diri pada orang lain, 9. Disiplin dan menghargai
waktu, 10. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya (amanah dan siddiq), 11. Selalu belajar dari
pengalaman, 12. Suka membaca, gemar menuntut ilmu, 13. Produktif.

Semua sifat dan karekteristik di atas harus dimiliki oleh pengelola koperasi agar koperasi dapat
menjadi usaha yang tangguh menghadapi era globalisasi yang penuh persaingan. Kalau etos
kewirausahaan itu lemah, maka jangan harap koperasi akan maju sebagaimana perusahaan-
perusahaan lainnya.

Pertumbuhan dan pengembangan kewirausahaan dapat dipelajari dan dikembangkan, karena itu
pengelola koperasi harus berupaya menumbuhkan dan mengembangkannya. Karekteristik lain
yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan koperasi adalah sikapnya yang lebih menghargai
kebersamaan daripada keberhasilan keuntungan individual.

Seorang wirausahawan dalam koperasi akan lebih termotivasi dan lebih kreatif bekerja dalam
kebersamaan, bukan untuk kepentingan pengelola atau pengurus saja. Munculnya pelesatan
makna KUD menjadi “Ketua Untung Duluan”, merupakan cerminan dari sikap egoistik para
pengurus koperasi yang mementingkan diri sendiri.

Ukuran keberhasilan kewirausahaan dalam koperasi, antara lain : Pertama, wirakoperasi mampu
menjaga kelangsungan hidup usaha koperasi dan mendatangkan keuntungan bagi anggotanya.
Kedua, mampu menyerap dan penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat.

Ketiga, dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan. Keempat, mampu meningkatkan kualitas


hidup bagi pemakai produknya. Kelima, dapat melakukan perbaikan mutu lingkungan lokasi
usahanya.

Harus pula dicatat bahwa wirausaha didalam koperasi bukanlah hanya mengejar keuntungan
semata, sebab uang bagi seorang wirausaha bukanlah tujuan utama, tetapi merupakan pelengkap
bagi kegiatan usaha yang dikelolanya.

Koperasi memiliki dua sisi yang harus menyatu secara integral. Di satu sisi ia adalah sebuah
kumpulan orang yang mementingkan kebersamaan dan nuansanya lebih bersifat sosial. Tapi di
sisi lain, ia adalah lembaga bisnis yang mementingkan nilai ekonomis, karena itu, aspek
kewirausahaan menjadi keniscayaan yang tak terbantahkan di dalamnya.

Karena itu, paradigma lama perkoperasian harus diubah, yakni dari paradigma yang lebih
bernuansa sosial kepada paradigma yang lebih menekankan aspek bisnis. Selama ini, selalu
terjadi bahwa urusan koperasi ditangani langsung oleh pengurus yang juga anggota koperasi.
Padahal koperasi membutuhkan keahlian lain yang tak dikuasai oleh pengurus. Misalnya,
koperasi para petani padi sebagai produsen. Mereka hanya ahli dalam memproduksi padi, tetapi
tidak ahli dalam menajemen pemasaran. Jadi, yang dibutuhkan adalah tenaga yang ahli
memasarkan padi. Karena itu, pengelolaan koperasi yang berasal dari luar pengurus yang
memiliki profesionalisme yang handal dalam pemasaran.

Selama ini, kalaupun ada tenaga pengelola dari luar, kualitasnya belum memadai. Alasanya
sudah klasik, yakni keterbatasan kemampuan koperasi memberikan gaji yang layak. Kalaupun
gajinya kecil, maka kualitas orang yang dipakai itu juga rendah. Bagaimana mungkin koperasi
bisa berjalan dengan baik kalau dikelola oleh SDM yang rendah.

Prof. Dr. Roepke, salah seorang guru besar tamu Institut Manajemen Koperasi Indonesia
menjelaskan bahwa kewirausahaan dalam koperasi bisa berasal dari dalam anggota, pengurus
atau manajer atau dari kalangan luar koperasi, yaitu aparat pembina atau pihak lain. Pihak lain
ini disebut catalist entrepreneur.

Pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui koperasi harus mengimplementasikan semangat


kewirausahaan. Artinya, reformasi koperasi lebih terfokus pada upaya optimalisasi etos
kemandirian dan profesionalisme gerakan koperasi, sehingga dapat memberikan konstribusi yang
optimal, yaitu dalam bentuk cooperative growth, cooperative share dan cooperative effect.

Kesimpulan

Sumber kompleksitas sebuah perusahaan termasuk koperasi yaitu bahwa konsep perubahan
adalah bersifat relatif untuk beberapa benchmark (Audretsch, 2002). Apa yang dipersepsikan
sebagai perubahan bagi seseorang atau organisasi belum tentu mencakup sebuah praktik baru
bagi industri. Atau hal itu merepresentasikan perubahan untuk industri domestik, tetapi bukan
untuk industri global. Oleh karena itu, konsep kewirausahaan melekat dalam cakupan lokal (local
context). Pada waktu yang bersamaan, nilai kewirausahaan dibentuk pula oleh benchmark
lainnya yang relevan. Aktivitas kewirausahaan yang dianggap ‘baru’ menurut seseorang, tetapi
bisa saja ‘tidak baru’ bagi perusahaan atau industri , yang mana kesemua hal ini bisa membatasi
nilai inovasinya.

Dengan demikian, salah satu ciri yang menonjol dari konsep kewirausahaan yaitu lintas analisis
terhadap sejumlah unit yang penting. Pada satu tahap, kewirausahaan mencakup berbagai
keputusan dan tindakan perorangan dari top management sampai lower management. Individu
secara perorangan ini bisa bertindak sendiri atau di dalam konteks sebuah kelompok. Pada tahap
yang lain, kewirausahaan mencakup unit analisis pada tingkat indutri, juga dapat pada tingkatan
yang lebih lebar, seperti kota, kabupaten, propinsi dan negara.

Sementara itu ukuran keberhasilan kewirausahaan dalam koperasi, bukan hanya mengejar
keuntungan financial semata, tetapi merupakan pelengkap bagi kegiatan usaha yang dikelolanya.
Karena koperasi memiliki dua sisi yang harus menyatu secara integral. Yakni sebagai sebuah
kumpulan orang yang mementingkan kebersamaan dan nuansanya lebih bersifat sosial. Tapi di
sisi lain, ia adalah lembaga bisnis yang mementingkan nilai ekonomis, karena itu, aspek
kewirausahaan menjadi keniscayaan yang tak terbantahkan di dalamnya.

Karena itu, paradigma lama perkoperasian harus diubah, yakni dari paradigma yang lebih
bernuansa sosial kepada paradigma yang lebih menekankan aspek bisnis. Karena Bagaimana
mungkin koperasi bisa berjalan dengan baik kalau dikelola oleh SDM yang rendah, dan
reformasi koperasi lebih terfokus pada upaya optimalisasi etos kemandirian dan profesionalisme
gerakan koperasi, sehingga dapat memberikan konstribusi yang optimal, yaitu dalam bentuk
cooperative growth, cooperative share dan cooperative effect.

Daftar Pustaka

Arifin Chaniago. (1982). Perkoperasian Indonesia. Bandung: Angkasa

Boediono. (3-Desember-2012). Wirausaha-wan Indonesia cuma 1,56 persen. Tabengan hal. 9


kol. 1.

Buchori Alma. (2005). Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.

Hendrojogi. (1999). Koperasi, asas-asas teori dan praktek. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Heru Kristanto. (2009). Kewirausahaan: Enterpreneurship pendekatan mana-jemen dan praktis.


Jogyakarta: Graha Ilmu.

Longenecker, J.G. (2001). Kewirausahaan manajemen usaha kecil. Jakarta: Salemba Empat.

Maskur Wiratmo. (1996). Pengantar kewira-usahaan, kerangka dasar memasuki dunia bisnis.
Yogyakarta: BPFE.

Suryana. (2003). Kewirausahaan: Pedoman praktis, kiat dan proses menuju sukses. Jakarta:
Salemba Empat.

Undang-undang. (1992). UU Nomor. 25 Tahun 1992. Tentang perkoperasian.

http:www.fe.unfad.ac.id