You are on page 1of 12

MACAM-MACAM IMUNISASI BAGI ANAK

Listia Cahya Amini

Abstrak

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa terjadi penurunan angka


kematian balita (AKB) pada tahun 1990- 2013. Pada tahun 1990 kematian balita
sebesar 12,6 juta anak, sedangkan pada tahun 2013 kematian balita sebesar 6,3 juta
anak (WHO, 2014). Menurut Kemenkes RI (2014) angka kematian balita pada
tahun 2015 masih jauh dari target AKB yaitu sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup.
AKB secara global di dunia masih tinggi yaitu sebesar 46 per 1000 kelahiran hidup
(WHO, 2014). Salah satu cara untuk mengurangi angka kematian pada bayi ataupun
anak yaitu melalui pemberian imunisasi. WHO menyebutkan bahwa terdapat 1,5
juta anakmeninggal akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
di tahun 2013. Namun pada tahun 2015 lebih dari 1,4 juta anak di dunia meninggal
karena PD3I (Kemenkes RI, 2015). Imunisasi merupakan salah satu upaya yang
efektif serta efisien untuk meningkatkan derajat kesehatan bangsa Indonesia. Selain
itu, imunisasi juga merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
terutama pada masa bayi. Tujuan dari adanya imunisasi adalah untuk mengurangi
angka kematian, kesakitan, dan kecacatan pada anak. Imunisasi memiliki banyak
manfaat terutama pada Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberi informasi kepada para orangtua
dan tenaga kesehatan akan manfaat imunisasi bagi anak-anak sehingga mampu
tercapainya tujuan dari imunisasi itu sendiri.

Kata kunci: informasi kesehatan, mat, jenis-jenis

Pendahuluan

Imunisasi merupakan salah satu strategi yang efektif dan efisien dalam
meningkatkan derajat kesehatan nasional dengan mencegah enam penyakit
mematikan, yaitu : tuberculosis, dipteri, pertusis, campak, tetanus dan polio. WHO
mencanangkan program Expanded Program on Immunization(EPI) dengan tujuan
untuk meningkatkan cakupan imunisasi pada anak-anak di seluruh dunia sejak
tahun 1974 (Ayubi, 2009). Selain itu, imunisasi merupakan upaya pemerintah untuk
mencapai Millennium Development Goals (MDGs) yang salah satu tujuannya yaitu

1
menurunkan angka kematian anak (Kepmenkes,2010). Angka kematian bayi
merupakan indicator utama yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan
masyarakat baik di tingkat provinsi maupun nasional. Berdasarkan kondisi tersebut,
program-program kesehatan di Indonesia menitikberatkan pada upaya penurunan
angka kematian bayi melalui imunisasi sebab anak merupakan investasi kesehatan
masa depan (Depkes, 2009). Menurut DINKES Jawa Timur tahun 2012
menyebutkan bahwa masih tingginya angka kejadian penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Angka kejadian luar biasa ini meliputi campak sebesar 1,69%,
difteri sebesar 85,65%, hepatitis sebesar 0,19%, dan pertusis sebesar 0,38%.
Sedangkan cakupan imunisasi desa/ kelurahan UCI di Jawa Timur tahun 2012
sebesar 73,02%, angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun
2011 (DINKES Jatim, 2013). Cakupan desa UCI di Kabupaten Magetan tahun 2013
sebesar 88,51% dan masih berada di bawah target tahun 2013 yaitu sebesar 95%
(DINKES Kab.Magetan, 2013).

Pada masa awal kehidupan, bayi sangat rentan terkena penyakit tersebut dan
apabila bayi terkena penyakit tersebut maka akan menyebabkan derita fisik, mental,
kecacatan, dan menimbulkan kematian. Imunisasi dilakukan agar bayi dapat tetap
tumbuh dan berkembang secara optimal dalam keadaan sehat (Hidayat, 2005).
Setiap tahun lebih 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang
sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Beberapa penyakit menular yang
termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara
lain: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru, pertusis,
dan polio. Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dan terhindar dari
kesakitan, kecacatan atau kematian. Agar PD3I dapat tercapai, maka cakupan
imunisasi dasar harus dipertahankan tinggi dan dilakukan secara merata (Depkes,
2005).

Imunisasi dasar yaitu imunisasi rutin yang diberikan pada bayi sebelum
berusia satu tahun. Kegiatan imunisasi dasar dilaksanakan secara terus-menerus
sesuai jadwal (Kemenkes RI, 2013). Permenkes RI No 42 tahun 2013 menyatakan
bahwa jenis imunisasi dasar terdiri dari Bacillus Calmette Guerin (BCG),

2
Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) atau Diphtheria Pertusis
Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza type B (DPT-HB-Hib), Hepatitis B,
Polio, dan Campak.

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa terjadi penurunan


angka kematian balita (AKB) pada tahun 1990- 2013. Pada tahun 1990 kematian
balita sebesar 12,6 juta anak, sedangkan pada tahun 2013 kematian balita sebesar
6,3 juta anak (WHO, 2014). Menurut Kemenkes RI (2014) angka kematian balita
pada tahun 2015 masih jauh dari target AKB yaitu sebesar 23 per 1000 kelahiran
hidup. AKB secara global di dunia masih tinggi yaitu sebesar 46 per 1000 kelahiran
hidup (WHO, 2014). Salah satu cara untuk mengurangi angka kematian pada bayi
ataupun anak yaitu memalui pemberian imunisasi. WHO menyebutkan bahwa
terdapat 1,5 juta anakmeninggal akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi (PD3I) di tahun 2013. Namun pada tahun 2015 lebih dari 1,4 juta anak
di dunia meninggal karena PD3I (Kemenkes RI, 2015). Diperkirakan1,7 juta
kematian atau 5% terjadi pada balita di Indonesia adalah akibat PD3I. WHO
memperkirakan kasus TBC di Indonesia merupakan nomor 3 terbesar di dunia
setelah Cina dan India dengan asumsi prevalensi BTA (+) 130 per 100.000
penduduk. Sejak tahun 1991, kasus pertusis muncul sebagai kasus yang sering
dilaporkan diIndonesia, sekitar 40% kasus pertusis menyerang balita. Kemudian
insiden tetanus di Indonesia untuk daerah perkotaan sekitar 6-7 per-1000 kelahiran
hidup, sedangkan di pedesaan angkanya lebih tinggi sekitar 2-3 kalinya yaitu 11-23
per1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian kira-kira 60.000 bayi setiap
tahunnya. Selanjutnya, Hepatitis B diperkirakan menyebabkan sedikitnya satu juta
kematian pertahun. Sedangkan untuk kasus polio, data terakhir dilaporkan secara
total terdapat 295 kasus polio yang tersebar di 10 Provinsi dan 22 kabupaten/kota
di Indonesia. Demikian juga dengan Kasus campak, angka kejadiannya tercatat
30.000 kasus pertahun yang dilaporkan. Kasus PD3I yang sangat menjadi perhatian
yang besar akhir-akhir ini adalah dilaporkan beberapa daerah di Indonesia
dinyatakan telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Angka kematian akibat
difteri di Indonesia sekitar 15% dan terus mengalami peningkatan.

3
Kementerian Kesehatan Indonesia telah menyusun program sebagai usaha
yang dilakukan untuk menekan penyakit PD3I pada anak, Seperti Program
Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak sejak tahun 1956. Keberhasilan bayi
dalam mendapatkan lima jenis imunisasi dasar (HB0, BCG, DPT-HB, Polio, dan
Campak) diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap. Data RISKESDAS
mencatat, tahun 2007 cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia rata-rata 41,6
%. Kemudian meningkat pada tahun 2010 dengan rata-rata cakupan 53,8 %. Tahun
2013 rata-rata cakupan imunisasi dasar lengkap kembali meningkat yaitu 59,2%,
sedangkan target Renstra (88%). Sedangkan untuk propinsi Sumatera Barat pada
tahun 2013 cakupan imunisasi dasar lengkap masih dibawah target yaitu baru
mencapai 84,51%.

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk


terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasi yang
dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita
usia subur, dan ibu hamil. Setiap bayi wajib mendapatkan lima imunisasi dasar
lengkap (LIL) yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 3 dosis
hepatitis B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi dasar lengkap yang
diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih
yang dibuktikan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan SEARO
untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Hal ini terkait
dengan realita bahwa campak adalah salah satu penyebab utama kematian pada
balita. Pencegahan campak memiliki peran signifikan dalam penurunan angka
kematian balita.1

Macam-Macam Imunisasi Bagi Anak


Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti
diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten
terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.

1
Triana, Vivi. 2016. “Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Imunisasi Dasar
Lengkap pada Bayi Tahun 2015”. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, Vol. 10, No. 2,
Hal. 123-135

4
Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular khususnya
PD3I yang diberikan kepada tidak hanya anak sejak masih bayi hingga remaja tetapi
juga kepada dewasa. Cara kerja imunisasi yaitu dengan memberikan antigen bakteri
atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan
merangsang sistem imun tubuh untuk membentuk antibodi. Antibodi yang
terbentuk setelah imunisasi berguna untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif sehingga dapat mencegah atau mmengurangi akibat
penularan PD3I tersebut. Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang
sudah mati, masih hidup tetapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah
diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein
rekombinan yang apabila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan
kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu. Tujuan
pemberian imunisasi dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan umumdan tujuan
khusus.Tujuan umumnya yaitu menurunkan angka kesakitan, kematian dan
kecacatan akibat Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).
sedangkan tujuan khususnya yaitu tercapainya target Universal Child Immunization
(UCI) yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di
seluruh desa/ kelurahan pada tahun 2014, tervalidasinya Eliminasi Tetanus
Maternal dan Neonatal (insiden di bawah 1 per 1.000 kelahiran hidup dalam satu
tahun) pada tahun 2013, eradikasi polio pada tahun 2015, tercapainya eliminasi
campak pada tahun 2015, dan terselenggaranya pemberian imunisasi yang aman
serta pengelolaan limbah medis (safety injection practise and waste disposal
management) (Kemenkes RI, 2013).

1. Imunisasi Wajib
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah
untuk seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi
yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit menular
tertentu. Imunisasi wajib terdiri atas imunisasi rutin, tambahan dan khusus
(Kemenkes RI, 2013).
a. Imunisasi Rutin
Imunisasi rutin merupakan kegiatan imunisasi yang secara rutin dan
terus menerus harus dilaksanakan pada periode tertentu yang telah
ditetapkan. Berdasarkan tempat pelayanan imunisasi rutin dibagi
menjadi: a). Pelayanan imunisasi di dalam gedung (komponen statis)
dilaksanakan di puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit atau
rumah bersalin, b). Pelayanan imunisasi di luar gedung dilaksanakan di
posyandu, di sekolah, atau melalui kunjungan rumah, c). Pelayanan
imunisasi rutin dapat juga diselenggarakan oleh swasta (seperti rumah
sakit swasta, dokter praktek dan bidan praktek) (Lisnawati, 2011).

5
Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan.
Imunisasi dasar diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun. Jenis
imunisasi dasar terdiri atas Hepatitis B pada bayi baru lahir, BCG,
Difhteria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) atau Difhteria
Pertusis Tetanus-Hepatitis B-Haemophilus Influenza type B (DPT-HB-
Hib), Polio dan Campak (Kemenkes RI, 2013).
Vaksin BCG mengandung jenis kuman TBC yang masih hidup
tetapisudah dilemahkan. Pemberian imunisasi ini bertujuan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhdap penyakit Tuberkulosis (TBC).
Imunisasi BCG dapat diberikan pada bayi baru lahir sampai berumur 12
bulan.Tetapi, sebaiknya pada umutu 0-2 bulan. Imunisasi ini cukup
diberikan satu kali saja. Pada anak berumur lebih dari 2-3 bulan,
dianjurkan untuk melakukan uji mantoux/PPD sebelum imunisasi BCG.
Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC.
Seandainya uji mantoux positif, maka anak tersebut tidak mendapat
imunisasi BCG lagi. Bila pemberian imunisasi itu berhasil, setelah 1-2
bulan di tempat suntikan akan terdapatsuatu benjolan kecil. Setelah
suntikan BCG, biasanya bayi tidak akan menderita demam. Bila ia
demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh hal lain. Pada
imunisasi BCG, umumnya jarang dijumpai efek samping. Imunisasi
BCG tidak dapat menjamin 100% anak akan terhindar penyakit TBC.
Tetapi, seandainya bayi yang telah diimunisasi BCG terjangkit TBC,
maka ia hanya akan menderita penyakit TBD ringan.
Vaksin Hepatitis B dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif
terhadap penyakit Hepatitis B. vaksin tersebut bagian dari virus
Hepatitis B yang dinamakan HBs Ag., yang dapat menimbulkan
kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit. Hbs Ag ini dapat
diperoleh dari serum manusia atau dengan rekayasa genetik dengan
bantuan sel ragi. Imunisasi dilakukan dengan pemberian suntikan dasar
sebanyak tiga kali dengan jangka waktu satu bulan antara suntikan satu
dan dua, lima bulan antara suntika dua dan tiga. Imunisasi ulang
diberikan setelah lima tahun pasca imunisasi dasar. Cara pemberian
imunisasi dasar tersebut dapat berbeda, tergantng dari rekomendasi
pabrik pembuat vaksin hepatitis B mana yang akan dipergunakan.
Misalnya imunisasi dasar vaksin hepatitis B buatan Pasteur, Perancis
berbeda dengan jadwal vaksinasi vaksinbuatan MSD, Amerika Serikat.
Khusus bayi yang lahir dari seorang ibu pengidap virus hepatitis B,
harus diberikan imunisasi pasif dengan imunoglobulin anti hepatitis B
dalam waktu sebelum berusia 24 jam. Berikutnya bayi tersebut harus
pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan

6
vaksin hepatitis B dengan pemberian yang sama seperti biasa.
Umumnya tidak didapatkan reaksi dan adanya efek samping yang
berarti. Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar
antara 94-96%.
Vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) akan menimbulkan
kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit
Difteria, Pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari), dan Tetanus. Di
Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan dalam
tiga kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal bagi tetanus, dalam
bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT
(difteria, perpusis, dan tetanus). Vaksin difteria dibuat dari toksin/ racun
kuman difteria yang telah dilemahkan dinamakan toksoid. Biasanya
diolah dan dikemas bersama-sama denganvaksin tetanus dalam bentuk
vaksin DPT. Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah
toksoid tetanus atau toksoid/racun kuman tetanus yang sudah
dilemahkan kemudian dimurnikan. Vaksin terhadap penyakit rejan atau
batuk seratus hari terbuat dari kuman Bordetella Pertussis yang telah
dimatikan. Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali, sejak bayi berumur
dua bulan dengan selang waktu antara dua penyuntikan minimal empat
minggu. Imunisasi ulangan/ booster yang pertama dilakukan pada usia
1,5-2 tahun atau satu tahun setelah suntikan imunisasi dasar ketiga.
Imunisasi ulang berikutnyaa dilakukan pada usia enam tahun atau di saat
kelas 1 SD. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan
vaksin DT. Vaksin pertusis tidak dianjurkan pada anak yang berusia
lebih dari tujuh tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat.
Selain itu juga, perjalanan penyakit pertusis pada anak berumur lebih
dari lima tahun tidak parah. Daya proteksi vaksin difteria cukup baik,
yaitu sebesar 80-95% dan daya proteksi vaksin tetanus sangat baik,
yaitusebesar 90-95%. Sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih
rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu, anak yang telah mendapat
imunisasi pertusis masih dapat terjangkit penyakit batuk rejan tetapi
dalam bentuk yang lebih ringan. Reaksi yang mungkin terjadi biasanya
demam, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama satu-
dua hari. Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak yang sakit
parah dan pada anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks.
Vaksin polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit poliomyelitisyang dapat menyebabkan kelumpuhan
pada anak. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.
Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah empat kali. Waktu
pemberian imunisasi polio pada umur 0-11 bulan dengan interval

7
pemberian 4 minggu, dan cara pemberian imunisasi polio melalui oral
(mulut). Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi
ulang DPT. Pemberian imunisasi ulang perlu tetap diberikan seandainya
seorang anak pernah terjangkit polio. Karena mungkin saja yang
menderita polio itu terjangkit virus polio tipe I, artinya apabila
penyakitnya telah sembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap
virus polio tipe I, tetapi tidak mempunyai kekebalan terhadap jenis virus
polio tipe II dan tipe III. Karen itu untuk mendapat kekebalan terhadap
ketiga virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio. Daya
proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100%. Biadanya
tidak ada reaksi, mungkin pada bayi akan mengalami berak-berak
ringan.
Vaksin campak (morbili) diberikan untuk mendapat kekebalan
terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung
virus campak yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di
Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau
dalam kemasan kering kombinasi dengan vaksin gondong/ bengok
(mumps) dan rubella (campak jerman). Di Amerika Serikat kemasan
terakhir ini dikenal dengan nama vaksin MMR (Mesles-Mumps-Rubella
Vacine). Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif
terhadap penyakit campak dalam kandungan dari ibunya. Makin lanjut
umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Dengan adanya
kekebalan pasif ini sangat jarang seorang bayi menderita campak pada
umur kurang dari enam bulan. Menurt WHO (1973) imunisasi campak
cukup satu kali suntikan setelah bayi berumur Sembilan bulan. Lebih
baik lagi setelah ia berumur lebih dari satu tahun. Karena kekebalan
yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan
imunisasi ulang. Di Indonesia keadaannya berlainan, kejadian campak
masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak
ketika masih berumur antara 6-9 bulan. Denga demikian di Indonesia
dianjurkan pemberian
Imunisasi lanjutan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
melengkapi imunisasi dasar pada bayi yang diberikan kepada anak usia
bawah tiga tahun (batita), anak usia sekolah, dan Wanita Usia Subur
(WUS) termasuk ibu hamil sehingga dapat mempertahankan tingkat
kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi
lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu melakukan
pelayanan antenatal. Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak
usia bawah tiga tahun (batita) terdiri atas Difhteria Pertusis
TetanusHepatitis B (DPT-HB) atau Difhteria Pertusis Tetanus-Hepatitis

8
BHaemophilus Influenza type B (DPT-HB-Hib) pada usia 18 bulan dan
campak pada usia 24 bulan. Imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah
dasar diberikan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dengan
jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar
terdiri atas campak, Difhteria Tetanus (DT), dan Tetanus Difhteria (Td).
Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada wanita usia subur berupa
Tetanus Toxoid (Kemenkes RI, 2013).

b. Imunisasi Tambahan
Imunisasi tambahan diberikan kepada kelompok umur tertentu yang
paling berisiko terkena penyakit sesuai kajian epidemiologis pada
periode waktu tertentu. Yang termasuk dalam kegiatan imunisasi
tambahan adalah Backlog fighting, Crash program, PIN (Pekan
Imunisasi Nasional), Sub-PIN, Catch up Campaign campak dan
Imunisasi dalam Penanganan KLB (Outbreak Response
Immunization/ORI).

c. Imunisasi Khusus
Imunisasi khusus merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan
untuk melindungi masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi
tertentu. Situasi tertentu yang dimaksud tersebut antara lain persiapan
keberangkatan calon jemaah haji/umroh, persiapan perjalanan menuju
negara endemis penyakit tertentu dan kondisi kejadian luar biasa (KLB).
Jenis imunisasi khusus antara lain terdiri atas imunisasi Meningitis
Meningokokus, imunisasi Yellow Fever (demam kuning), dan imunisasi
Anti Rabies (VAR) (Kemenkes RI, 2013).

2. Imunisasi Pilihan
Imunisasi pilihan merupakan imunisasi yang dapat diberikan kepada
seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang
bersangkutan dari penyakit menular tertentu. Imunisasi pilihan adalah
imunisasi lain yang tidak termasuk dalam imunisasi wajib, namun penting
diberikan pada bayi, anak, dan dewasa di Indonesia mengingat beban
penyakit dari masingmasing penyakit. Jenis imunisasi pilihan dapat berupa
imunisasi Haemophilus Influenza tipe b (Hib), Pneumokokus, Rotavirus,

9
Influenza, Varisela, Measles Mump Rubella (MMR), Demam Tifoid,
Hepatitis A, Human Papiloma Virus (HPV), dan Japanese Encephalitis
(Kemenkes RI, 2013).
Manfaat imunisasi menurut Proverawati dan Andhini (2010) manfaat
imunisasi tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dengan menurunnya angka
kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi, tetapi juga dirasakan oleh anak, keluarga, dan negara. Untuk anak
mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan
cacat atau kematian.Untuk keluarga menghilangkan kecemasan dan
psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga
apabila orang tua yakin akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
Hal ini mendorong penyiapan keluarga yang terencana, agar sehat dan
berkualitas. Untuk negara memperbaiki tingkat kesehatan menciptakan
bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

10
Kesimpulan

Imunisasi adalah upaya yang sangat ampuh untuk menjaga kesehatan anak
dari berbagai penyakit terutama penyakit yang bisa dicageah dengan imunisasi. Ini
terbukti dengan menurunnya angka kematian bayi dalam skala global. Sasaran
utama imunisasi ialah bayi dan anak-anak balita. Terdapat macam-macam
imunisasi bagi anak yang dibagi dalam dua kelompok besar yaitu imunisasi wajib
dan imuniasi pilihan. Di dalam imunisasi wajib dibagi lagi menjadi imunisasi rutin,
tambahan dan khusus. Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi
lanjutan. Jenis imunisasi dasar terdiri atas Hepatitis B pada bayi baru lahir, BCG,
Difhteria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) atau Difhteria Pertusis Tetanus-
Hepatitis B-Haemophilus Influenza type B (DPT-HB-Hib), Polio dan Campak.
Jenis imunisasi lanjutan diberikan pada anak usia bawah tiga tahun (batita) yang
terdiri atas Difhteria Pertusis TetanusHepatitis B (DPT-HB) atau Difhteria Pertusis
Tetanus-Hepatitis BHaemophilus Influenza type B (DPT-HB-Hib) pada usia 18
bulan dan campak pada usia 24 bulan. Kemudian, munisasi lanjutan pada anak usia
sekolah dasar diberikan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dengan jenis
imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar terdiri atas campak,
Difhteria Tetanus (DT), dan Tetanus Difhteria (Td). Jenis imunisasi lanjutan juga
diberikan pada wanita usia subur berupa Tetanus Toxoid.

11
Daftar Pustaka

Ayubi, D., 2009. Kontribusi Pengetahuan Ibu terhadap Status Imunisasi Anak di
Tujuh Provinsi di Indonesia.Jurnal Pembangunan Manusia, vol.7 No.1.
Cahyono, S. B. 2010. Vaksinasi Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi.
Yogyakarta: Kanisisus.
Depkes. 2005. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Departemen
Kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur., 2013. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Timur Tahun 2012. Surabaya: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan., 2013. Profil Kesehatan Kabupaten
Magetan. Magetan: Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan.
Hidayat, A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak: Buku 1. Jakarta: Salemba
Medika.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan No. 42 Tahun
2013 tentang Imunisasi. Jakarta; Kementerian Kesehatan RI 2013.
Kemenenterian kesehatan RI. 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014.
Jakarta : Kementrian Kesehatan RI 2015.

12