You are on page 1of 8

KELOMPOK 1

Zulfa amalia astuti

Alvina Indriani

Sri Adeningsih rdin

Moh. Supriyano

Rahmat Alamri

1. Faktor yang mempengaruhi siklus enterohepatik menyebabkan masa kerja


obat lama? (Kelompok 2)
Jawab :
Siklus enterohepatik erat kaitannya dengan perubahan flora usus.
Hidrolisis glukuronid yang diekskresi melalui empedu menjadi bentuk
obat awal (parent compound) yang mudah direabsorpsi sehingga
meningkatkan sirkulasi enterohepatik yang memperpanjang kerja obat
(misalnya kontrasepsi oral). Sel –sel hati memiliki sistem transpor yang
serupa dengan tubulus ginjal. Sistem transpor hati berfungsi untuk
memindahkan berbagai substansi dari plasma ke dalam empedu. Berbagai
konjugat yang hidrofilik (terutama glukuronida) dipekatkan dalam empedu
dan dikeluarkan ke dalam usus. Senyawa glukuronida tersebut akan
mengalami hidrolisa melepaskan kembali obat yang aktif. Obat yang
dilepas tersebut akan diabsorpsi kembali oleh usus, siklus ini dapat terjadi
berulang – ulang dan disebut siklus enterohepatik. Efek dari siklus
enterohepatik ini dapat memperpanjang lama kerja obat karena siklus
membentuk semacam reservoir obat yang bisa mencapai 20% dari seluruh
obat dalam tubuh.

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran


Universitas Sriwijaya. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2.
Jakarta. EGC. 2008. hal. 38
2. Obat terkonjugasi dengan asam glukuronat dan jelaskan faktor-faktor nya
(Kelompok 3)
Jawab :
Konjugasi dengan asam glukuronat (glukuronidasi) merupakan cara
konjugasi umum dalam proses metabolisme. Hampir semua obat
mengalami proses konjugasi ini, oleh karena itu :
a. Sejumlah besar gugus fungsional obat dapat berkombinasi secara
enzimatik dengan asam glukuronat
b. Tersedia D-asam glukiuronat dalam jumlah yang cukup pada tubuh
Pembentukan β-glukoronida tersebut melalui dua tahap, yaitu :
- Sintesis asam uridin-5’-digosfo-α-D-gllukoronat (UDPGA), suatu
koenzim aktif
- Pemindahan gugus glukoronil dari UDPGA ke substrat. Pemindahan
ini dikatalisis oleh enzim mikrosom UDP-glukoronil transferase, yang
terdapat pada hati dan jaringan lain seperti ginjal, usus, kulit, paru dan
otak.

Doerge RF, Ed., Wilson and Gisvols Textbook of Medicinal Organic


and Pharmaceutical Chemistry, 8 th ed., Philadelphia, Toronto:
J.B Lippincott Company, 1982, hal.99

3. Pembentukan kompleks obat (Kelompok 4)


Jawab :
Reseptor mempunyai dua bagian yang spesifik yaitu :
a. Bagian yang bertanggung jawab terjadinya afinitas sehingga tebentuk
kompleks obat-reseptor. Kombinasi molekul obat dengan reseptor
spesifik memerlukan afinitas
b. Bagian yang bertanggung jawab terjadinya efikasi sehingga timbul
respons biologis. Kombinasi obat-reseptor ini memerlukan efikasi
yaitu kemampuan obat untuk mengubah bentuk konformasi
makromolekul protein sehingga menimbulkan respon biologis.

Siswandono dan Bambang soekarjdo. 2000. Kimia Medisinal.


Surabaya: Airlangga University press

4. Jelaskan maksud fasilitas pada difusi fasilitasi ! (Kelompok 6)


Jawaban:
Difusi fasilitas merupakan perpindahan molekul besar yang tidak larut
lemak (tidak dapat bedifusi) karena terhalang oleh membran yang sulit di
tembus, seperti glukosa. Substansi yang akan di transpor akan terikat pada
suatu protein pembawa yang spesifik untuk substansi tersebut. Tingginya
konsentrasi substansi tersebut dapat menyebabkan terbukanya saluran
pada protein integral, sehingga substansi tersebut dapat berdifusi tapa
melibatkan energi (Joyce James, 2008).
Jadi maksud fasilitasi adalah protein pembawa yang berfungsi
untuk membantu pemindahkan molekul yang tidak larut lemak. Selain itu
pembawa juga dapat berupa enzim atau ion yang muatannya berlawanan
dengan muatan molekul obat. Penembusan obat ke dalam membtan
biologis dapat berjalan dengan cepat bila ada katalisator dan ukuran
bnetuk kompleks cukup kecil. Contoh difusi pasif dengan fasilitas adalah
penetrasi gula misal glukosa, asam amino, gliserin, urea, dan ion Cl ke
membran sel darah merah (Siswandono, 2010).

Joyce james Colin Baker H,S. 2008. Prinsip-prinsip Sains Untuk


Keperawatan. Erlangga

Siswandono dan Bambang soekarjdo. 2000. Kimia Medisinal.


Surabaya: Airlangga University press
5. Mengapa obat yang masuk dan diabsorbsi di paru ukuran partikelnya
harus lebih kecil dari 10µm ? (Kelompok 5)
Jawaban:
Sistem penghantaran melalui paru-paru membutuhkan bentuk sediaan
dengan ukuran yang mikrometer . meurut Glyn Taylor dan Ian Kellway
(2001), untuk penghantaran obat melalui paru-paru ukuran partikel yang
diharapkan adalah < 10µm, hal ini dikarenakan agar obat dapat terdeposit
di dalam daerah trakheabronkial sampai daerah alveolus. Sedangkan obat
yang ukurannya lebih besar lebih dari 10µm akan bertubrukan pada
saluran pernapasan bagian atas dan akan di keluarkan melalui batuk,
menelan, dan proses bersihan oleh mukosiliari.
Glyn Taylor and Ian Kellaway. 2001. Drug Delevery and Targeting for
Pharmacist and Pharmaceutical Scientists : Pulmonary Drug
Delivery. Taylor & Francis e-Liberaly

6. Apakah obat dapat berinteraksi dengan komponen obat dalam tubuh ?


(Kelompok 6)
Jawaban:
Interaksi obat dengan komponen obat dalam tubuh disebut interaksi obat
tidak spesifik. Interaksi ini tidak menyebabkan perubahan struktur molekul
obay maupun biopolimer. Contoh interaksinya antara lain obat dengan
protein, jaringan, asam nuklet, mukopolisakarida dan lemak.
a) Interaksi obat dengan protein
Didalam tubuh terdapat protein, baik pada plasma darah maupun
jaringan, yang dapat berinteraksi dengan hampir semua molekul obat.
Interaksi obat-protein bersifat terpulihkan dan ikatan kimia yang
terlibat dalam interaksi ini adalah ikatan-ikatan ion, hidrogen,
hidrofob, dan ikatan van der waals. Pengikat obat-biopolimer sebagian
besar terjadi dalam cairan darah dan kadar obat bebas dalam darah
selalu berkaitan dengan kadar obat yang terikat oleh protein plasma
b) Interaksi obat dengan jaringan’
Selain dengan protein plasma, obat dapat pula berinteraksi dengan
jaringan membentuk depo obat di luar plasma.
c) Interaksi obat dengan asam nukleat
Beberapa obat tertentu dapat berinteraksi dengan asam nukleat dan
terikat secara terpulihkan pada asam ribosa nukleat (ribose nucleic
acid = RNA), asam deoksiribosa nukleat (deoxyribose nucleic acid=
DNA) atau nukleotida inti sel.
d) Interaksi obat dengan mukopolisakarida
Mukopolisakarida merupakan makromolekul yang mempunyai
gugus-gugus polar dan sebagian besar bermuatan negatif. Daya hidrasi
sangat kuat, dan makromolekul ini dapat mengikat secara tidak
spesifik obat yang bermuatan positif.
e) Interaksi obat dengan jaringan lemak
Tubuh mengandung lemak netral cukup besar ± 20-50% berat
badan, yang berfungsi sebagai depo oba-obat yang mudah larut dalam
lemak. Dalam depo lemak, obat terikat pada gliserida netral asam
lemak, fosfolipid yang bersifat polar, seperti lesitin, dan safaelin, terol,
seperti kolestrol, dan glikolipid, seperti serebrosida. Ikatan obat-
jaringan lemak bersifat terpulihkan dan tidak begitu kuat. Sifat
kelarutan dalam lemak dapat berpengaruh terhadap aktivitas biologis
obat.
Siswandono dan Bambang soekarjdo. 2000. Kimia Medisinal.
Surabaya: Airlangga University press

7. Mengapa pada pengangkutan aktif kadar tidak mempengaruhi membrane


sedangkan dikatakan perpindahan pada membrane terjadi pada kadar
rendah ke kadar tinggi (Kelompok 7)
Jawaban:
Pengangkutan obat dapat berjalan dari daerah yang berkadar rendah ke
daerah yang berkadar tinggi sehingga tidak bergantung pada perbedaan
kadar membrane berbeda dengan difusi pasif berlangsung dari daerah
dengan kadar tinggi ke daerah dengan kadar rendah dan berhenti setelah
mencapai kesetimbangan. Pada difusi pasif disebabkan adanya perbedaan
kadar membrane karena ada tekanan osmosa, sedangkan pada difusi aktif
sistem pengangkutan obat senyawa obat bergerak sendiri dengan bantuan
energy yang berasal dari adenosine trifosfat (ATP).

Siswandono dan Bambang soekarjdo. 2000. Kimia Medisinal.


Surabaya: Airlangga University press

8. Berikan contoh obat yang dapat berinteraksi dengan biopolymer


Jawaban:
a. Interaksi tidak spesifik
- Interaksi obat dengan protein
Contoh: Suramin, obat antitripasonoma bila diberikan dalam dosis
tunggal secara intravena dapat mencegah serangan penyakit tidur
selama beberapa bulan. Hal ini disebabkan ikatan kompleks suramin-
protein plasma yang cukup kuat dan kompleks mempunyai ukuran
molekul yang besar sehingga tidak dapat melewati penyaringan
glomerulus
- Interaksi obat dengan jaringan
Contoh: Klorpromazin HCl suatu obat tranquilizer pada keadaan
kesetimbanagan ternyata perbandingan total obat dalam jaringan otak
dan plasma darah = 501:11 yang berarti klorpromazin lebih terikat
pada jaringan otak disbanding protein plasma.
- Interaksi obat dengan Asam Nukleat
Contoh: Kuinakrin obat antimalarial akan terikat pada asam nukleat
dengan kuat sehingga mencapai secara cepat kadar kemoterapetik
harus diberikan dosis awal yang besar.
- Interaksi obat dengan jaringan lemak
Contoh: Tiopental suatu obat anestesi sistemik mempunyai awal kerja
dan masa kerja yang sangat singkat sehingga dimasukkan dalam
golongan barbiturate dengan kerja singkat.
- Pengaruh lain-lain dari interaksi tidak spesifik
Contoh: Tetrasiklin dapat menyababkan warna gigi menjadi kuning
yang tetap bila diberikan pada anak usia dibawah 8 tahun karena
membentuk kompleks yang tak terpulihkan dengan ion Ca struktur
gigi.
b. Interaksi spesifik
- Interaksi obat dengan enzim biotransformasi
Contoh: Alopurinol dapat menghambat kerja enzim xantin ooksidase
suaru enzim yang mengoksidasi turunan xantin menjadi asam urat.
Hambatan tersebut menyebabkan produksi asam urat menurun
sehingga allopurinol dapat digunakan untuk penyakit pirai/gput.
- Interaksi obat dengan reseptor
Contoh: mekloretamin dengan reseptor DNA, Streptomisin dengan
reseptor ribososm 30 S, Kloramfenikol dengan reseptor ribosom 50 S,
dan penisilin dengan reseptor transpeptidase.

Siswandono dan Bambang soekarjdo. 2000. Kimia Medisinal.


Surabaya: Airlangga University press

9. Hubungan struktur, sifat fisika kimia obat yang bersifat asam yang dapat
berinteraksi dengan protein, dan asam nukleat.
Jawaban:
Obat dapat mengikat berbagai molekuler dalam darah, meliputi albumin,
lipoprotein, immunoglobulin. Albumin adalah komponen terbesar dari
palsam protein yang berperan dalam pengikatan obat yang bolak balik.
Albumin mempunyai 2 tempat pengikatan yang dipakai bersama
pengikatan obat. Tempat pengikatan pertama diguanakn obat-obat yang
bersifat asam. Banyak obat yang bersifat asam lemah berikatan dengan
albumin dengan ikatan elektrostatik dan hidrofobik (Apolo, 2010).
Obat yang berikatan secara elektrostatik dibutuhkan obat-obat dengan
ikatan yang tidak terlalu kuat tetap cukup stabil sehingga tidak mudah di
lepaskan dari tempat aksi contohnya obat-obat susunan syaraf pusat dan
depresa. Beberap obat dari pH fisiologis. Beberapa obat dari pH fisioogis
akan mudah terionosasi begitu juga dengan reseptor yang terutama terdiri
dari protein sedangkan protein ini terdiri dari asam-asam amino yang juga
mempunyai gugus-gugus yang mudah terionisasi (Sumarlin, 2016).
Ikatan hidrofobik. Kebanyakan molekul obat mempunyai bagian non polar
berupa gugus alkil atau aril. Gugus ini membentuk suatu interfase dengan
cairan tubuh yang bersifat polar sehingga terbentuk sistem energi tinggi.
Bagian sisi reseptor yang non polar juga membentuk suatu interfase
dengan cairan tubuh yang polar. tingkat energi sistem obat dan reseptor
sebanding dengan daerah non polar yang terkena cairan tubuh. Bila obat
dan reseptor bergabung sistem yang terbentuk dapat kehilangan energi
karena daerah yang non polar yang terkena cairan tubuh berkurang
sehingga obat terikat pada reseptor karena energi tersebut (Sumarlin,
2016).

Apolo, Fajar. 2010. Interaksi Farmakokinetik Pada Distribusi Obat.


Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
Sumarlin, La Ode. 2016. Ikatan Obat dan Reseptor. Kimia obat dan
Kosmetika