You are on page 1of 21

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1.Definisi

Veruka adalah proliferasi jinak dari kulit dan mukosa yang merupakan infeksi virus

papiloma. Virus ini tidak memperlihatkan tanda dan gejala yang akut, namun menginduksi

lesi yang tumbuh perlahan yang memberikan gambaran subklinis dalam periode waktu yang

lama. Veruka vulgaris atau kutil merupakan infeksi human papilloma humanus yang

bermanifestasi di kulit dan bersifat jinak, disebut juga kutil atau common wart. Penyakit ini

biasanya terjadi pada anak-anak, dewasa muda, dan pasien imunosupresi. Virus dapat

ditularkan melalui kontak langsung dan tidak langsung, namun kemungkinan penularan

meningkat jika virus berkontak dengan kulit yang mengalami luka.1,2

2. Epidemiologi

Veruka vulgaris dapat timbul pada segala usia, kelainan meningkat selama umur

sekolah dan menurun setelah umur 20 tahun. Veruka Vulgaris diperkirakan mempengaruhi

sekitar 7-12% dari populasi meskipun frekuensinya tidak diketahui. Frekuensi meningkat

juga terlihat di antara pasien imunosupresi. Meskipun kutil dapat mempengaruhi ras apapun,

kutil umumnya muncul sekitar dua kali lebih sering pada orang kulit putih daripada orang

kulit hitam atau Asia. Pria dan wanita pendekatan rasio 1:1.2,3

Umumnya prevalensi sangat bervariasi antara kelompok umur, populasi dan periode

waktu. Dua studi besar mengenai populasi menemukan tingkat prevalensi masing-masing 0-

4% dan 12-9%. Tingkat prevalensi tertinggi adalah pada anak-anak dan dewasa muda. Studi

pada populasi sekolah telah menunjukkan tingkat prevalensi 12% pada anak usia 4-6 tahun

dan 24% pada 16-18 tahun. Insiden usia spesifik kutil non-genital berbeda dari kutil genital

yang jarang terjadi pada anak.3

1
2.1. Etiologi

Virus HPV tergolong dalam virus papiloma (grup papova), virus DNA, dengan

karakteristik replikasi terjadi intranuklear. Ada 120 jenis tipe papilomavirus yang dapat

menginfeksi manusia. Virus HPV dibagi berdasarkan tiga kategori, antara lain tipe kutanes

(nongenital) seperti HPV-1, -2, -3, and -4; tipe mukosa genital seperti HPV-6, -11, -16, and -

18; dan tipe-tipe yang terisolasi dari verruciformis epidermodisplasia seperti HPV-5 and -8

(Table 223-1). Hipotesis mengenai hubungan antara genotip HPV menunjukkan subtype

virus yang berhubungan erat secara sekuens DNA cenderung untuk menunjukkan lesi yang

mirip, misalnya HPV-3 dan HPV-10 yang menginduksi veruka plana; HPV-6 dan HPV-11

yang menginduksi kutil genitomukosal (kondiloma akuminata); dan HPV-5 dan HPV-8 yang

menginduksi lesi bersisik pada verruciformis epidermodisplasia.1,2

Masa inkubasi bervariasi mulai dari berminggu-minggu sampai satu tahun. Jenis-jenis

kutil dapat bervariasi tergantung daripada kulit dan mukosa serta lokasi predileksinya.

Pertahanan tubuh terhadap resiko HPV bergantung pada imunitas seluler, karena jika

imunitas seluler menurun, kejadian kutil lebih besar, penyebaran lebih luas dan ada risiko

yang lebih tinggi menjadi ganas.4

Risiko penularan dari ibu ke anak dengan perkembangan penyakit selanjutnya pada

anak telah diperkirakan antara 1 dalam 80 sampai 1 dalam 1500. Cara transmisi kutil

menyebar dengan kontak langsung atau tidak langsung langsung (melalui objek yang

terkontaminasi). Penurunan fungsi penghalang epitel, oleh trauma ( termasuk lecet ringan),

maserasi atau keduanya, sebagai faktor predisposisi untuk inokulasi virus, dan umumnya di

asumsikan sebagai cara masuknya infeksi paling tidak pada lapisan keratin kulit. Bergantung

pada jenis kutil yang ditemukan ada yang terdapat terutama pada usia anak atau pada usia

dewasa.1

2
1. Common wart di tangan mungkin menyebar luas bulat di kuku pada mereka yang

menggigit kuku atau kulit periungual, lebih pada anak yang sering mengisap jari dan

dapat ke bibir dan kulit di sekitarnya dalam satu kasus.

2. Tukang daging, tukang ikan dan unggas memiliki insiden tinggi kutil pada tangan,

dikaitkan dengan cedera kulit dan kontak lama dengan daging basah dan air.

Faktor-faktor yang diduga dapat menyebabkan terjadinya veruka adalah antara lain:1

a. Perilaku seks bebas

b. Kondisi imunokompromais pada pasien HIV

c. Post imunosupresi iatrgonik pada transplantasi organ solid

d. Pekerjaan yang menggunakan tangan untuk mengolah dan mengemas daging dan

ikan

2.2. Patogenesis

Infeksi HPV melalui inokulasi virus pada epidermis yang viabel masuk melalui defek

pada epitel. Setelah terjadi inokulasi HPV, veruka biasanya muncul dalam 2 sampai 9 bulan.

Observasi ini mengimplikasikan bahwa periode infeksi subklinis yang relatif panjang dan

dapat merupakan sumber yang tidak terlihat dari virus infeksius. Permukaan kasar dari kutil

dapat merusak kulit yang berdekatan dan memungkinkan inokulasi virus ke lokasi yang

berdekatan, dengan perkembangan kutil yang baru dalam periode minggu sampai bulan. Tiap

lesi yang baru diakibatkan paparan atau penyebaran dari kutil yang lain. Tidak ada bukti yang

menyakinkan untuk diseminasi melalui darah. Autoinokulasi virus pada kulit yang

berlawanan sering kali terlihat pada jari- jari yang berdekatan dan di region anogenital.1

HPV tidak bertunas dari nukleus atau membran plasma, seperti halnya banyak virus

seperti virus herpes simpleks. Oleh karena itu, virus tidak memiliki selubung lipoprotein yang

menyebabkan kerentanan terhadap inaktivasi yang cepat oleh kondisi lingkungan seperti

3
pembekuan, pemanasan, atau dehidrasi dengan alkohol. HVP memiliki kebutuhan yang tinggi

akan sel-sel epidermis manusia pada tingkat diferensiasi tertentu. Hal ini menyebabkan

proliferasi keratinosit yang sebagian mengalami keratinisasi dan akhirnya melindungi virus

ini dari eliminasi oleh sistem imun. Lesi ini bisa sporadik, rekuren, atau persisten.1

2.3. Manifestasi klinis

Veruka vulgaris terutama terdapat pada anak, tetapi juga dapat terjadi pada dewasa dan

orang tua. Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor, walaupun

demikian penyebarannya dapat ke bagian tubuh lain termasuk mukosa mulut dan hidung.

Kutil ini bentuknya bulat berwarna abu-abu, besarnya lentikular atau kalau berkonfluensi

berbentuk plakat, permukaan kasar (verukosa), berwarna coklat, kuning, abu-abu muda, atau

abu-abu tua, dan biasanya berukuran kurang dari 1 cm. Dengan goresan dapat timbul

autoinokulasi sepanjang goresan (fenomena kobner).5

Dikenal pula induk kutil yang pada suatu saat akan menimbulkan anak-anak kutil

dalam jumlah yang banyak. Ada pendapat yang menggolongkan sebagai penyakit yang

sembuh sendiri tanpa pengobatan. Varian veruka vulgaris yang terdapat di daerah muka dan

kulit kepala berbentuk sebagai penonjolan yang tegak lurus pada permukaan kulit dan

permukaannya verukosa disebut sebagai verukosa filiformis. Kutil tersebut tumbuh keras dan

biasanya memiliki permukaan yang kasar.1,5

4
2.4.Diagnosis

2.4.1. Anamnesis

Veruka vulgaris biasanya tidak disertai gejala prodromal. Pasien biasanya mengeluhkan

adanya kutil pada kulit dan mukosa. Papul yang lama kelamaan membesar biasanya

mengarahkan pada diagnosis kutil virus. Perlu diperhatikan usia pasien, biasanya kutil terjadi

pada anak-ana dan orang dewasa sehat. Pekerjaan yang berhubungan dengan daging mentah

serta imunodefisiensi perlu digali.6,7

2.4.2. Pemeriksaan Fisik

Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien dengan veruka vulgaris

biasanya didapatkan papul padat abu-abu, verukosa, keratotik, ukuran beberapa mm sampai 1

cm, bila berkonfluensi dapat menjadi lebih besar. Lokasi dapat di mana saja, tapi yang paling

sering di punggung tangan dan jari tangan. Biasanya asimtomatik, tetapi dapat nyeri bila

tumbuh di palmar atau plantar dan merusak kuku bila tumbuh pada lipatan atau bawah kuku.

Pada anak-anak dapat di wajah dan leher. Apabila dilakukan goresan, akan timbul inokulasi

di sepanjang goresan atau disebut juga dengan fenomena koebner.1

Dikenal pula induk kutil yang pada suatu saat akan menimbulkan anak kutil dalam

jumlah banyak. Ada pendapat yang menggolongkan sebagai penyakit yang dapat sembuh

sendiri tanpa pengobatan. Varian veruka vulgaris yang terdapat di daerah wajah dan kulit

kepala berbentuk seperti penonjolan yang tegak lurus pada permukaan kulit, dan

permukaannya verukosa, disebut juga sebagai verukosa filiformis.1

Menurut sifat progresinya, wujud kelainan kulit pada veruka vulgaris adalah mula-mula

papul kecil seukuran kepala jarum, warna kulit seperti biasa, jernih, kemudian tumbuh

menonjol, permukaan papilar berwarna lebih gelap dan hiperkeratotik.1

Berdasarkan morfologinya, veruka diklasifikasikan menjadi:1,8

5
a. Veruka vulgaris: bentuk papul verukosa yang keratotik, kasar, dan bersisik. Lesi

dapat berdiameter kurang dari 1 mm hingga lebih dari 1 cm dan dapat berkonfluens

menjadi lesi yang lebih lebar.

b. Veruka filiformis: bentuk seperti tanduk

c. Veruka plana: papul yang sedikit meninggi dengan bagian atas yang datar,

biasanya memiliki skuama yang sedikit.

Berdasarkan lokasi anatominya, veruka diklasifikasikan menjadi:1,8

a. Veruka palmar dan plantar: lesi berupa papul hiperkeratotik, tebal dan endofitik

yang terkadang disertai rasa nyeri dengan penekanan.

b. Veruka mosaik: veruka palmar atau plantar yang meluas membentuk plak.

c. Butcher’s wart: papul verukosa yang biasanya multipel pada palmar, periungual,

dorsal palmar dan jari tukang potong daging.

Pada veruka mukosa lesi umumnya kecil, berupa papul lunak, berwarna merah muda

atau putih. Biasanya ditemukan di gusi, mukosa, labial, lidah, dan palatum durum. Terkadang

dapat pula muncul di uretra dan dapat menyebar ke kandung kemih.1

2.4.3. Pemeriksaan Penunjang

Biopsi kulit bila perlu umtuk pemeriksaan histopatologis yang akan menunjukkan

hiperkeratosisi dan akantosis, tanpa papilomatosis, dan rate ridges memanjang ke arah

medial.2

Rete ridges yang memanjang seringkali tertuju langsung pada pusat kutil. Pembuluh

darah kapiler dermis ialah prominen dan mungkin mengalami trombosis. Sel yang terinfeksi

HPV mungkin memiliki granul-granul eosinofilik kecil dan kelompok padat granul-granul

keratohialin basofilik. Granul-granul tersebut dapat terdiri dari protein HPVE4 (E1-E4) dan

tidak menunjukkan banyaknya partikel-partikel virus. Kutil yang datar kurang memiliki

6
akantosis dan hiperkeratosis dan tidak memiliki parakeratosis atau papillomatosis. Sel

koilositotik biasanya sangat banyak, menunjukkan sumber lesi virus.3

Gambar :

1) Veruka Vulgaris pada lengan, papul berbatas tegasdan hiperkeratotik.

2) Epidermal hiperplasia berbentuk seperti jaridengan gambaran lapisan granular

yang jelas dan koilocytes.

3) Epidermal hiperplasia berbentuk verrucous dan akantosis dengan proliferasi

basaloid dan keratinosit.

4) Kista horn dengan keratinosit yang mild atypia dan gambaran inflamasi.

2.5.Diagnosis Banding

Kutil dapat diidentifikasi dari adanya perubahan pembuluh darah kapiler yang biasa

menjadi memiliki sumber vaskuler sendiri. Ketika kutil sembuh, lapisan kulit yang normal

akan kembali. Dilatasi kapiler di kutil akan berdarah setelah dilakukan pencukuran pada

7
permukaan yang hiperkeratotik. Adanya kapiler ini membantu untuk membedakan kutil dari

corns atau kalus. HPV dapat dianggap sebagai keratosis seboroik, kalus, corn, lichen planus,

nevus epidermal, moluskum kontangiosum atau karsinoma.9

2.6.Tatalaksana

Tatalaksana pada veruka vulgaris dilakukan secara non-mendikamentosa dan

medikamentosa. Secara non-medikamentosa pasien diarahkan untuk menjaga higiene, serta

hiegene perorangan dari kelompok yang tinggal bersama pasien. Serta menghindari kontak

langsung kulit dengan kulit. Pasien juga sebaiknya menghindari pemakaian barang pribadi

secara bersama-sama, serta menggunakan alas kaki saat menggunakan toilet umum. Hal ini

bertujuan untuk mengurangi risiko transmisi.2,9

Untuk mengurangi risiko auto-inoklasi, pasien tidak boleh menggaruk lesi, menggigit

kuku, dan tidak mencukur daerah yang terdapat kutil.9

Dengan medikamentosa, dapat dilakukan dekstruksi dengan bedah listrik, atau bedah

beku N2 cair (cryoteraphy), destruksi dengan bahan keratolitik, pemberian bahan kaustik, atau

lainnya secara topikal, misalnya asidium salisilikum 25-50%, trikloroasetat 25%, fenol

liquefaktum. Bahan topikal lain yang dapat digunakan adalah kantaridin, imiquimod, 5

fluorourasil. Terapi intralesi dapat menggunakan bleomisin dan interferon.2

2.7.Prognosis

Bila destruksi baik, tidak terjadi rekurensi. Akan tetapi penyakit ini sering residif

walaupun diberikan pengobatan yang adekuat. Sekitar 23% dari kutil regresi spontan dalam

waktu 2 bulan, 30% dalam waktu 3 bulan dan 65%-78% dalam 2 tahun. Pasien yang

sebelumnya telah terinfeksi memiliki risiko lebih tinggi untuk pengembangan kutil baru

8
daripada mereka tidak pernah terinfeksi. Tingkat kesembuhan dipengaruhi oleh faktor-faktor

seperti jenis virus, status kekebalan tubuh, tingkat dan durasi kutil.2,10

9
BAB II

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. MA

Umur/ tanggal lahir : 21 tahun/ 6 September 1997

Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Mahasiswi jurusan PGSD

Tgl Pemeriksaan : 19 Februari 2019

Alamat : Jln. Filano Blok EE7 Kampung Baru

Status Perkawinan : Belum menikah

Negeri Asal : Indonesia

Agama : Islam

Suku : Minang

ANAMNESIS

Seorang perempuan berusia 21 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. M.

Djamil Padang pada tanggal 19 Februari 2019 dengan :

Keluhan utama

Kutil yang bertambah besar dan terasa nyeri pada pangkal ibu jari kaki kanan sejak 2 bulan

yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang:

 Awalnya terdapat penebalan kulit pada telapak kaki kiri kurang lebih 4 bulan yang lalu,

kemudian bertambah menjadi dua buah 2 bulan yang lalu. Kemudian muncul kutil pada

kaki kanan sejak 2 bulan yang lalu.

 Kutil awalnya kecil dan tidak nyeri, namun kemudian bertambah besar dan terasa nyeri.

 Riwayat mencongkel-congkel kutil ada, menggunakan jarum pentul sampai berdarah,

10
setelah itu tidak mencuci tangan.

 Riwayat kontak dengan penderita kutil ada, yaitu kedua adik pasien yang juga memiliki

kutil dan mata ikan, tapi sembuh setelah diberi obat yang dibeli di apotek.

 Riwayat kebiasaan sering memakai sepatu basah ada.

 Riwayat kebiasaan menggunakan sepatu sempit berujung runcing ada.

 Riwayat kutil ditempat lain tidak ada.

 Riwayat muncul kutil sebelumnya tidak ada.

 Pasien mengeluhkan bengkak pada sisi kuku jempol kaki kiri sejak 1 tahun yang lalu.

Awalnya bengkak dirasakan setelah pasien menggunting kuku. Pus tidak ada. Nyeri

hilang timbul, disertai kemerahan.

Riwayat Pengobatan

Pasien pernah menggunakan obat salap sebelumnya, obat berbahasa china sehingga pasien

tidak tahu nama obat yang digunakan, namun tidak ada perbaikan.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien tidak pernah menderita menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga/ Riwayat Atopi/ Alergi :

• Adik laki-laki pasien pernah menderita mata ikan sebelumnya, sembuh dengan obat

berbahasa china yang dibeli di apotek.

• Adik perempuan pasien pernah menderita kutil sebelumnya, sembuh dengan obat

berbahasa china yang dibeli di apotek.

• Riwayat bersin-bersin pagi hari tidak ada

• Riwayat alergi makanan tidak ada

• Riwayat alergi obat tidak ada

• Riwayat asma tidak ada

• Riwayat eksim tidak ada

11
• Riwayat mata merah dan terasa gatal tidak ada

• Riwayat alergi serbuk bunga tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK

a. Status Generalis

Keadaan umum : tidak tampak sakit

Kesadaran : komposmentis kooperatif

TD : 120/80 mmHg

Suhu : 36,5oc

Frekuensi Nafas : 18 x/menit

Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera Ikterik -/-

Hidung : Tidak ada kelainan

KGB : Tidak ada pembesaran KGB

Kelainan rambut : Tidak ditemukan kelainan

Kelainan kuku : Tidakditemukankelainan

Pemeriksaan Thorak : Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Abdomen : Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Ekstremitas : Tidak ada kelainan

b. Status Dermatologikus

1. Lokasi : Pangkal ibu jari kaki kanan

Distribusi : Terlokalisir

Bentuk : Bulat

Susunan : Tidak khas

Batas : Tegas

12
Ukuran : Lentikular

Efloresensi : Papul kekuningan dengan permukaan verukosa dan skuama halus di

atasnya.

2. Lokasi : Telapak kaki kiri

Distribusi : Terlokalisir

Bentuk : Bulat

Susunan : Tidak khas

Batas : Tidak tegas

Ukuran : Lentikular

Efloresensi : Plak kekuningan dengan bagian yang cekung dan makula hitam di

tengahnya.

3. Lokasi : Ujung kuku jempol kaki kiri

Distribusi : Terlokalisir

Bentuk : Tidak khas

Susunan : Tidak khas

Batas : Tidak tegas

Ukuran : Lentikular

Efloresensi : Udem sewarna kulit dengan krusta coklat di pinggirnya, pus tidak

ada.

13
14
RESUME

Seorang perempuan berusia 21 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr.

M. Djamil Padang pada tanggal 19 Februari 2019 dengan keluhan kutil yang bertambah

besar dan terasa nyeri pada pangkal ibu jari kaki kanan. Awalnya terdapat penebalan kulit di

telapak kaki. Lalu muncul kutil pada pangkal ibu jari kaki kanan sejak 2 bulan yang lalu.

Adik laki-laki pasien pernah menderita mata ikan dan adik perempuan pasien pernah

menderita kutil. Pasien memiliki riwayat mencongkel-congkel kutil, memakai sepatu sempit

dan ujungnya runcing, serta memakai sepatu basah. Terdapat pula bengkak pada ujung kuku

jari jempol kiri yang dirasakan pasien sejak menggunting kuku sejak 1 tahun yang lalu, yang

dirasakan nyeri hilang timbul. Status dermatologikus didapatkan pada pangkal ibu jari kaki

kanan, terlokalisir, bulat, susunan tidak khas, batas tegas, ukuran lentikular, efloresensi papul

kekuningan dengan permukaan verukosa dan skuama halus di atasnya. Pada telapak kaki kiri,

terlokalisir, bulat, susunan tidak khas, batas tidak tegas, lentikular, efloresensi plak

kekuningan dengan bagian yang cekung dan makula hitam di tengahnya. Pada ujung kuku

jempol kaki kiri, terlokalisir, bentuk tidak khas, susunan tidak khas, batas tidak tegas,

lentikular, efloresensi udem sewarna kulit dengan krusta coklat di pinggirnya, pus tidak ada,

kemerahan tidak ada.

DIAGNOSIS KERJA

1. Veruka Vulgaris

2. Clavus Pedis

3. Paronikia

DIAGNOSIS BANDING

1. Tidak ada

15
2. Kalus

3. Tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG

- Pemeriksaan rutin

Tidak ada pemeriksaan rutin yang diperlukan untuk veruka vulgaris, klavus, dan

paronikia.

- Pemeriksaan anjuran

Pemeriksaan histopatologis untuk veruka vulgaris dan klavus. Tidak terdapat

pemeriksaan anjuran untuk paronikia.

DIAGNOSIS

1. Veruka Vulgaris

2. Clavus Pedis

3. Paronikia

TATALAKSANA

Umum

- Edukasi kepada pasien untuk menghindari kebiasaan menyentuh atau berkontak

dengan kutil agar kutil tidak menyebar ke daerah kulit yang sehat

- Edukasi pasien untuk tidak menyikat, menjepit, mencukur, menggaruk, atau

menggunting kutil

- Bisa terjadi rekurensi meskipun sudah sembuh

- Gunakan alas kaki yang lunak untuk mengurangi gesekan dan tekanan

- Tidak menggunakan sepatu yang terlalu sempit

- Rajin membersihkan daerah yang terdapat clavus.

16
- Jaga kaki agar tetap kering

Khusus

- Elektokauter dengan anestesi lokal

- Gentamisin ointment

PROGNOSIS

Quo ad vitam : bonam

Quo ad sanam : dubia ad bonam

Quo ad functionam : bonam

Quo ad kosmetikum : bonam

17
BAB III

DISKUSI

Seorang perempuan berusia 21 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr.

M. Djamil Padang pada tanggal 19 Februari 2019 dengan keluhan kutil yang semakin besar

dan nyeri pada telapak kaki kanan sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya terdapat penebalan kulit

pada telapak kaki kiri sejak 4 bulan yang lalu. Kemudian muncul kutil di kaki kanan sejak 2

bulan yang lalu. Kutil terasanya nyeri dan semakin besar. Pasien mengatakan bahwa

sebelumnya sering memakai sepatu yang sempit. Adik perempuan pasien juga pernah

menderita kutil sebelumnya, tapi sudah sembuh. Status dermatologikus didapatkan pada

pangkal ibu jari kaki kanan, terlokalisir, bulat, susunan tidak khas, batas tegas, ukuran

lentikular, efloresensi papul kekuningan dengan permukaan verukosa dan skuama halus di

atasnya. Pasien di diagnosis veruka vulgaris berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Veruka vulgaris adalah papul verukosa yang disebabkan oleh infeksi virus human papiloma

virus dan dapat menyebar karena autoinokulasi.

Pada telapak kaki kiri, terlokalisir, bulat, susunan tidak khas, batas tidak tegas,

lentikular, efloresensi plak kekuningan dengan bagian yang cekung dan makula hitam di

tengahnya.

Pasien di diagnosis clavus berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik Klavus adalah

penebalan kulit berbatas tajam yang timbul pada tonjolan tulang, sering pada tangan dan kaki,

disertai rasa nyeri. Penyebabnya adalah gaya gesek atau tekanan berlebihan yang

menyebabkan terjadinya hiperkeratosis, manifestasi klinis dan perubahan histologis.

Penebalan luas kulit dalam klavus bisa menyebabkan nyeri yang kronis, khususnya di kaki

depan, dalam situasi tertentu.

18
Pada ujung kuku jempol kaki kiri, terlokalisir, bentuk tidak khas, susunan tidak khas,

batas tidak tegas, lentikular, efloresensi udem sewarna kulit dengan krusta coklat di

pinggirnya, pus tidak ada, kemerahan tidak ada.

Kuku merupakan salah satu dermal appendages yang mengandung lapisan tanduk

yang terdapat pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, gunanya selain membantu jari-jari untuk

memegang juga digunakan sebagai cermin kecantikan. Lempeng kuku terbentuk dari sel-sel

keratin yang mempunyai dua sisi, satu sisi berhubungan dengan udara luar dan sisi lainnya

tidak.

Paronikia biasanya bersifat akut, tetapi kasus kronis bisa terjadi. Pada paronikia akut,

bakteri (biasanya S. aureus) masuk melalui robekan pada kulit diakibatkan dari bintil kuku,

trauma pada lapisan kuku, hilangnya kutikula, atau iritasi kronis. Pada paronikia kronik

pasien melaporkan gejala berlangsung 6 minggu atau lebih. Peradangan, nyeri, dan bengkak

dapat terjadi secara episodik, seringkali setelah terkena air atau lingkungan yang lembab.

Pasien ditatalaksana dengan diberikan terapi umum dan khusus. Terapi umum pada

pasien berupa Edukasi kepada pasien untuk menghindari kebiasaan menyentuh atau

berkontak dengan kutil agar kutil tidak menyebar ke daerah kulit yang sehat edukasi pasien

untuk tidak menyikat, menjepit, mencukur, menggaruk, atau menggunting kutil, bisa terjadi

rekurensi meskipun sudah sembuh, menggunakan alas kaki yang lunak untuk mengurangi

gesekan dan tekanan, tidak menggunakan sepatu yang terlalu sempit, rajin membersihkan

daerah yang terdapat clavus. Terapi khusus yaitu dengan terapi elektrokauter dengan anestesi

lokal.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Androphy Aj, Kirnbauner R. Human papilloma virus infections. Dalam: Goldsmith

LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K, editor. Fitzpatrick’s

dermatology in general medicine. Edisi ke-8. New York: McGraw-Hill;

2011;84(3):288-93.

2. Adni D, Mochtar H, Siti A. Veruka Vulgaris dan Veruka Plana. Dalam: Herman C,

editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke- 7. Jakarta: Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia: 2013. p.131-132.

3. Steven KL, William YT. Non-Genital Wart. Diakses dari

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4054795/ pada 14 Februaru 2019.

4. G. Fabbrocini, S. Cacciapuoti, G. Monfrecola,.Human Papillomavirus Infection in

Child in The Open Dermatology Journal Vol. 3. Bentham Open: 2009. p.111-116.

5. Adni D, Mochtar H, Siti A. Veruka Vulgaris dan Veruka Plana. Dalam: Handoko,

R.P, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke- 6. Jakarta: Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia: 2011. p.112-113.

6. A.Alba, M.Cararach, C. Rodriguez.The Human Papilloma Virus (HPV) in Human

Pathology: Description, Pathogenesis, Oncogenic Role, Epidemiology and Detection

Techniques in The Open Dermatology Journal, Vol. 3. Bentham Open: 2017. p. 90-

102.

7. IDI. Panduan Praktik Klinis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakart: 2014.

p.426-427.

8. Sterling J.C, Gibbs S, Haque S.S, Mustafa M.F, Handifield-Jons S.E. british

Association of Dermatologist guidelines for the management of cutaneous warts. Br J

Dermatol: 2014:171(4):696-712.

9. Plantar Warts. British Association of Dermatologists patient information: 2015.

20
10. Gayle S. Westhoven.Papillomatosis, Atrophy and Alterations of the Granular Layer in

Dermatopathology edited by Ramon L. Sanchez, Sharon S. Raimer. Landes

Bioscience: Georgetown, Texas:2001. p. 20-28.

21