You are on page 1of 13

MAKALAH

SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN PT. PERTAMINA


GAS WESTERN JAVA AREA

Disusun oleh :
M Syahid Amrullah 21080114130063 (Direktur Utama)
Dhian Gladys F. 21080114130068 (MR)
Carolina Raras 21080114140078 (HSE)
Angelica Oktaviana M 21080114130100 (HSE)
Yanuar Ari N 21080114140104 (Process Engineer)
Novi Diah W. 21080114130070 (Process Engineer)
Syauqina Nashihi A. 21080114140083 (Process Engineer)
Derryl Fabio Raisa 21080114130085 (Finance)
Dinda Putri W. 21080113140080 (Legal)
Ferba Ramadhan K. 21080113140075 (HRD)
Kebijakan lingkungan dikenal sebagai kebijakan sistem manajemen terintegrasi –
Quality, Health, Safety & Environment (QHSE) menunjukkan keseluruhan maksud dan
arahan perusahaan terkait kinerja lingkungannya sebagaimana telah dinyatakan secara resmi
oleh manajemen puncak. Kebijakan lingkungan memberikan kerangka tujuan dan sasaran
lingkungan di PT Pertamina Gas Western Java Area.

PT. Pertamina Western Java Area yang bergerak dalam bidang bisnis transportasi gas
dan processing gas senantiasa menjaga kehandalan dan integritas operasinya melalui
penerapan Sistem Manajemen Terintegrasi – Quality, Health, Safety & Environment (QHSE)
dan berorientasi pada COPPER serta mengusung tata nilai unggulan 6C + EGG pada semua
aktivitasnya dengan komitmen :

1. Melakukan secara operasional pada setiap lini kegiatan operasi dengan


mengedepankan kepuasan pelanggan baik secara proses maupun hasil kerja
melalui penerapan best engineering practices dan aspek 5R (ringkas, rapi, resik,
rawat, rajin}
2. Taat terhadap peraturuan perundangan dan persyaratan lainnya yang berlaku
3. Selalu berupaya melakukan perbaikan secara berkelanjutan melalui berlaku
penerapan sistem manajemen terintegrasi dengaan melibatkaan partisipasi seluruh
pekerja, mitra kerja, dan tamu.
4. Melakukan upaya pencegahan terjadinya kecelakaan dan penyakit akbiat kerja
dari tindakan/kondisi tidak aman (unsafe condition/action) melalui pengembangan
kultur yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja dengan penerapan
program Pengamatan Keselamaatan Kerja (PEKA), contractor safety manajemen
system, dan isnpeksi peralatan secara terencana.
5. Berupaya dalam mewujudkan lingkungan hidup yang hijau dan lestari dengan :
a. memanfaatkan sumberdaya alam secara bijaksana melalui penerapan program
efisensi daan konservasi air
b. meminimalkan jummlah dan memanfaatkan buangan limbah B3 dan Limbah
Non B3
c. menurunkan emisi udara gas rumah kaca dan menghindarai pemakaian Bahan
Perusak Ozon
d. mempertahankan dan meningkatkan kualitas keanekaragaman hayati
6. Meningkatkan kompetensi, kualitas dan budaya kerja sumber daya manusia yang
berdaya saing tinggi dan bertanggung jawab secara efektif untuk meningkatkan
kualitas hidup masyarakat sekitar melalui penerapan program program corporate
social responsibility
Kebijakan lingkungan yang sudah ditetapkan oleh direktur utama harus dilaksanakan
oleh semua bagian yang ada di perusahaan, tak terkecuali untuk bagian proses produksi.
Proses produksi PT. Pertamina Gas Wastern Java Area dapat digambarkan dalam diagram
dibawah ini :
Gambar 1. Alur produksi pertamina gas

Beberapa alur produksi di pertamina gas meliputi


1. Inlet Scrubber
Scrubber adalah untuk menghilangkan air yang masih terdapat dalam gas. Air
ini apabila msuk kedalam kompressor akan merusak sudukompressor yang berputar
dalam kecepatan tinggi. Metode penghilangan air ada banyak namun yang biasa
digunakan adalah penyerapan air oleh Tri Etilen Glikol(TEG). Gas yang masuk dari
sebelah kiri bawah akan naik melewati cairan TEGdengan membentuk gelembung-
gelembung. TEG pada scrubber ini dialirkan dariatas berupa lean glycol yaitu glicol
yang mengandung air.Kemudian TEG turunmelewati tingkat-tingkat pada scrubber
dan berakhir pada scrubber dengankondisi kaya akan air (rich glycol). Glikol ini
dimurnikan kembali dengandimasukkan ke dalam reboiler. Air akan menguap
sedangkan glikol yang mempunyaititik didih lebih tinggi masih berada dalam kondisi
cair Glikol yang telah bersihkemudian diumpan lagi ke dalam scrubber.
2. Booster Compressor
Booster Compressor merupakan compressor untuk menaikkan tekanan secara
kontinyu. Dalam Booster Compressor terdapat total partikulat berupa SO2 dan NO2
3. Kondensat
Gas kondensat adalah campuran berdensitas rendah dari suatu cairan
hidrokarbon yang berupa komponen gas dalam gas alam mentah yang dihasilkan dari
berbagai lapangan gas alam. Gas kondensat terbentuk apabila suhu mengalami
penurunan hingga dibawah dew point gas alam tersebut.
4. Separator
Separator adalah suatu alat yang berfungsi sebagai pemisah zat-zat padat,
silica, bntik-binti air, dan zat lain yang bercampur dengan uap yang masuk ke dalam
separator.
5. Proses Pigging
Dalam konteks pipeline, pigging merupakan istilah yang digunakan ketika
seseorang menggunakan PIG ( pipeline inspection gauges ) untuk melakukan berbagai
proses perawatan pada pipa. Tujuan utama dari pipeline pigging itu sendiri adalah
untuk cleaning dan inspection.

Untuk tahap commissioning, pigging diperlukan untuk:


a. Membuktikan bahwa pipeline tersebut berlubang sesuai dengan spesifikasi
design dan tujuan pembangunan pipeline tersebut
b. Membersihkan pipeline dari material2 yang tidak diinginkan yg
merupakan sisa fase konstruksi

Untuk tahap operasi, pigging diperlukan untuk:


a. Mereduksi/menghilangkan endapan/akumulasi yg mungkin mempengaruhi
proses produksi (press drop, roughness, liquid slug, dsb)
b. Mengecek korosi pada pipa
c. Sebagai salah satu metoda inspeksi untuk mengetahui kualitas pipa
tersebut.

Proses pigging sendiri dilakukan dengan cara menutup pipa dengan PIG lalu
memberikan tekanan biasanya menggunakan air, PIG yang ditekan akan bergerak dari
launcher ( posisi awal pipa ) hingga mencapai daerah receiver ( ujung pipa ).
Kecepatan tekanan harus diatur hingga sedemikian rupa agar tidak terjadi kerusakan
pada PIG. Setelah PIG dialirkan dari laucher ke receiver, maka fungsi-fungsinya akan
langsung terlihat, mulai dari pembersihan hingga inspeksi pipa. Hasil dari kegiatan
pigging dan dari scrubber berupa kondensat ditampung di instalasi kondensat trap
yang berkapasitas 200 m3. Volume kondensat sisa pigging mencapai 124m3/ minggu.
Kondensat yang telah dipisahkan dari gas dialirkan ke unit kondensat trap untuk
selanjutnya dipompakan ke Tangki Booster Pertamina EP.

Berdasarkan proses produksi tersebut kemudian dianalisa limbah yang dihasilkan


pada proses produksi. Limbah yang dihasilkan pada saat proses produksi :
1. Gas H2S yang dihasilkan dari sumur alami atau pada sumber gas. Gas ini dapat
menyebabkan pitting corrosion dan batas maksimum gas adalah 25 ppm,
sangat berbahaya untuk alat proses selanjutnya
2. Air Formasi/ Air Bebas pada separator air yang ikut terproduksi bersama-sama
dengan minyak dan gas. Air ini biasanya mengandung bermacam-macam
garam dan asam terutama NaCl sehingga merupakan air yang asam bahkan
asam sekali, dapat menyebabkan korosi internal pipa dan naiknya pressure
drop
3. Limbah Cair, pada proses produksi dihasilkan limbah cair yang berasal dari air
hujan yang masuk ke wilayah SKG ( Stasiun Kompressor Gas) dan tercampur
dengan oil atau pelumas yang digunakan untuk perawatan peralatan. Air hujan
yang terkontaminasi akan masuk ke oil cathcer untuk dilakukan pemisahan.
Selain itu limbah cair yang dihasilkan berasal dari stasium kompressor berupa
ceceran minyak dari area genset dan compressor
4. Pada proses pigging menghasilkan lumpur dan debu, penyebabnya yaitu
packer disumur bocor atau jepitan valve dikepala sumur dibuka terlalu besar.
Dampak akibat hal tersebut pipa tersumbat, naiknya pressure drop dan
terjadinya abrasif.

Gambar 2. Visualisasi Proses Pigging Gambar 3. Limbah Lumpur

Dengan kegiatan produksi yang ada didalam proses produksi, dapat dianalisis dampak
lingkungan oleh HSE. Kemudian HSE dapat membuat matriks terhadap sudut pandang
lingkungan dan Manajer Representatif (MR) membuat matriks terhadap sudut pandang
perusahaan.

HSE merupakan bagian yang bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan para
tenaga kerja di perusahaan. HSE harus mengawasi dan memastikan tenaga kerja bekerja
sesuai dengan SOP dan kesesuaian dari kebijakan Direktur Utama agar kesehatan dan
keselamatan tenaga kerja dapat terjamin, didalam perusahaan. Maka didapatkan matriks
kegiatan, bahaya dan aspek lingkungan, dampak lingkungan, kondisi lingkungan dan tingkat
perhatian lingkungan.
MR merupakan bagian yang bertanggung jawab atas internal perusahaan yang
dihubungkan dengan kegiatan produksi, HSE, dengan kondisi perusahaan. Maka didapatkan
matriks tingkat perhatian perusahaan.
Tabel 1.
Contoh 2 Kegiatan dari Proses Produksi yang Ditinjau Resiko dan Dampaknya

Kegiatan Resiko Dampak

Cecera n Pencema ra n ta na h
mi nya k da n
Lumpur da ri Pencema ra n Ai r
Mengkompres i Bi s i ng da ri
kebi s i nga n
ga s di SKG kompres or
ga s
berteka na n terja di l eda ka n
tinggi

kebocora n
pencema ra n a i r
kondens a t
Kebocora n
Inl et Scrubber pencema ra n uda ra
Ga s
Kebocora n
Pencema ra n Ta na h
TEG

Tabel 2.
Matriks HSE (Lingkungan) dan Management Representative (Perusahaan)
Tingkat Perhatian
Kondisi Lingkungan

Tingkat Perhatian Perusahaan Tingkat


Lingkungan
saat ini (N,A,E)

Penting
Bahaya dan Dampak Aspek dan
Berkepenting

Kepentingan
Kegiatan
Lingkungan

Perundang

Perusahaan

Perusahaan
Peraturan
konsekuens

Perhatian
i/dampak

Perhatian
Aspek Lingkungan Lingkungan Dampak
Kejadian
Peluang

Tingkat

Tingkat
Pihak

an

Lingkungan
(5Cx6D)

1 2 3 5 5A 5B 5C 6A 6B 6C 6D 7

Ceceran
Pencemaran
minyak dan
tanah
N,A 2 2 2 2 2 2 6 8
Lumpur dari
area genset
Mengkompresi dan kompresor
Pencemaran
gas di SKG
Air
N,A 1 2 2 2 2 2 6 8
bising dari
kompresor
kebisingan N 2 2 1 2 1 2 5 6
gas
terjadi
bertekanan
ledakan
N 1 2 2 2 1 2 5 7
tinggi
kebocoran pencemaran
kondensat air
N 1 2 2 2 2 2 6 8
pencemaran
Inlet Scrubber Kebocoran Gas
udara
N 1 2 2 2 2 2 6 8
pencemaran
Kebocoran TEG tanah N 1 2 2 2 2 2 6 8

Dari adanya dampak lingkungan yang tertera pada matriks yang disusun oleh HSE
dan MR, maka perlu diperhatikan peundang-undangan yang berlaku, PT. Pertamina Gas
Western Java Area membuat dan memelihara prosedur untuk mengidentifikasi dan
mengakses ke peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainnya. Dokumen yang
berkaitan yaitu TKO Identifikasi dan Evaluasi Peraturan Perundangan dan Persyaratan
Lainnya (B-002/PG.1314/2013-S0). Peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainnya
yang diidentifikasi mencakup :
• Peraturan Perundangan dan Persyaratan Nasional
• Peraturan Perundangan dan Persyaratan Internasional
• Perijinan terkait lainnya
• Peraturan kegiatan/spesifikasi lainnya
• Standar Nasional dan Internasional

Untuk mengendalikan pencemaran udara yang timbul akibat proses produksi, perlu
dilakukan adanya pemantauan kualitas udara. Pemantuan kualitas udara sudah diatur secara
hukum. Pemantauan yang dilakukan oleh PT. Pertamina Gas Western Java Area meliputi :
1. Kualitas Udara Ambien
Titik Pemantauan : Up wind dan down wind (berdasarkan arah angin)
Frekuensi Analisis : 3 bulan sekali
Frekuensi Pelaporan : 6 bulan sekali
Peraturan Terkait :
 PPRI No. 41 Tahun 1999 Baku Mutu Udara Ambien Nasional
2. Kualitas Udara Emisi
Titik Pemantauan : 1 titik pada Flare Stake dan 4 titik pada Stack
Emisi Kompresor
Frekuensi Analisis : 3 bulan sekali
Frekuensi Pelaporan : 6 bulan sekali
Peraturan Terkait :
 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Nomor Kep - 205/Bapedal/07/1996 tentang Pedoman Teknis
Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak
 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 21 Tahun 2008
(Lampiran IV A) tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
Bagi PLTD yang Menggunakan Bahan Bakar Gas
 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.13 Tahun
2009(Lampiran I B) tentang Baku Mutu Emisi Kegiatan Industri
Minyak dan Gas Bumi, dan Baku Mutu Emisi Proses Pembakaran
dari Turbin Gas
Selain adanya pencemaran udara, dampak yang timbul dari proses produksi yaitu
adanya kebisingan. Untuk mengendalikan kebisingan yang ditimbulkan, perlu dilakukan
pemantauan dan pengendalian sesuai peraturan yang berlaku.
Titik Pemantauan : Area depan kompressor, 100 m dari kompressor, 200
m dari kompressor, 300 m dari kompressor, 400 m dari
kompressor
Frekuensi Analisis : 3 bulan sekali
Frekuensi Pelaporan : 6 bulan sekali
Peraturan Terkait :
 KEP. 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan
Dari proses produksi yang ada di PT. Pertamina Gas Western Java Area dapat
menimbulkan dampak pencemaran air. Untuk mengendalikan pencemaran air perlu dilakukan
pemantauan dan pengendalian pencemaran air yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Titik Pemantauan : Kualitas Air Limbah Domestik dan Drainase :
Inlet dan Outlet Water Disposal SKG
Tegalgede
Kualitas Air Permukaan : Sungai sebelah barat SKG Tegalgede
Kualitas Air Tanah : Sumur Penduduk
Frekuensi Analisis : Setiap bulan untuk air limbah domestik dan
drainase dan 3 bulan sekali untuk kualitas air
tanah dan air permukaan
Frekuensi Pelaporan : 3 bulan sekali
Peraturan Terkait :
 Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Persyaratan
kualitas Air Bersih
 Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Persyaratan
Kualitas Air Permukaan
 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2007
tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Minyak dan Gas
serta Panas Bumi
 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 19 Tahun 2010
tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Minyak dan Gas
serta Panas Bumi

Dalam penerapan sistem manajemen lingkungan yang baik diperlukan sumber daya
dengan kejelasan tanggung jawab serta wewenangnya sehingga sistem tersebut dapat berjalan
dengan baik. Sumber daya, peran, tanggung jawab, dan kewenangan yang telah disusun oleh
HRD PT. Pertamina Gas Western Java Area dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4. Sumber Daya, Peran, Tanggung Jawab, dan Kewenangan


Sumber Daya Tanggung
Peran Kewenangan
Manusia Jawab
Ahli Bidang Penganggung Unit HSE • Menilai besar beban
Udara Jawab pencemaran udara yang
Pengurangan timbul dari kegiatan
Pencemaran operasional
Udara • Menyusun strategi
pengendalian dan pemantauan
pengurangan pencemaran
udara
• Melaporkan hasil kegiatan
program manajemen
Sumber Daya Tanggung
Peran Kewenangan
Manusia Jawab
lingkungan pengurangan
pencemaran udara
Ahli Bidang Air Penganggung Unit QC • Menilai besar potensi
Jawab penurunan sumber daya air
Konservasi Air yang disebabkan oleh
pencemaran air dan konsumsi
air pada kegiatan operasional
• Menyusun strategi
pengendalian dan pemantauan
konservasi air yang
dibutuhkan (program, SDM,
prosedur, dan dana)
• Melaporkan hasil kegiatan
program manajemen
lingkungan konservasi air
kepada QC & HSE

Ahli Bidang Manajer Kepala Unit HSE • Mengusulkan program


Lingkungan lingkungan dan Kepala Unit kebijakan lingkungan kepada
QC manajer area JBB sesuai
kondisi PT. Pertamina Gas
Area JBB
• Menyusun sasaran lingkungan
PT. Pertamina Gas Area JBB
sesuai perundang undangan
dan harapan stakeholder
• Mengesahkan program
manajemen lingkungan

Ahli Bidang Penganggung Pengawasan Unit • Menilai besar potensi


Hayati Jawab QC penurunan nilai
Keanekaragaman keanekaragaman hayati yang
Hayati ditimbulkan dari kegiatan
operasional perusahaan
• Menyusun strategi
pengendalian dan pemantauan
keanekaragaman hayati yang
dibutuhkan (program, SDM,
prosedur, dan dana)
• Melaporkan hasil kegiatan
program manajemen
lingkungan keanekaragaman
hayati kepada QC & HSE
Sumber Daya Tanggung
Peran Kewenangan
Manusia Jawab
Bersertifikat Ahli Penanggung Pengewasan Unit • Bertanggung jawab terhadap
B3 jawab dan HSE perencanaan, penerapan, dan
pemanfaatan evaluasi dari program
limbah B3 manajemen lingkungan
pengurangan dan pemanfaatan
limbah B3 sesuai peraturan
perundangan dan sasaran
lingkungan manajer area

Memiliki Sertifikat Koordinator Pengawasan Unit • Bertangung jawab terhadap


Pelatihan CSR Program CSR HRD perencanaan, penerapan, dan
evaluasi dari program CSR
PT. Pertamina Gas Area JBB
• Mengkoordinir penerapan
rencana strategi dan rencana
kerja kepada fungsi lainnya
dan masyarakat yang terlibat
serta melakukan monitoring
dan evaluasi program kerja
CSR

Dari adanya aspek Resiko Dampak Lingkungan yang dapat dilihat dari matriks dari
HSE pada Tabel 1 dan Tabel 2. Maka dapat diketahui pencemaran lingkungan yang terjadi
dan direncanakan anggaran biaya untuk menanggulangi pencemaran yang terjadi dari proses
produksi. Selain itu, bagian finansial juga merencanakan anggaran yang akan dikeluarkan
dari program kerja yang disusun oleh bagian HRD. Berikut ini adalah pencemaran yang
terjadi dan analisis biaya yang untuk menanggulangi pencemaran tersebut.
1. Pencemaran lingkungan yang terjadi di Pt Pertamina Gas Western Java Area:
a. Pencemaran Air
b. Pencemaran Udara
c. Pencemaran Tanah
d. Kebisingan
e. Ledakan
2. Analisis biaya lingkungan yang perlu dikeluarkan:
a. Biaya Pencegahan
b. Biaya Penilaian
c. Biaya Internal
d. Biaya Eksternal

Dari rincian analisis biaya lingkungan yang perlu dikeluarkan di atas, berikut
disusun penjelasan analisis biaya yang dikeluarkan :
a. Biaya Pencegahan

Biaya pencegahan adalah pengeluaran-pengeluaran yang dikeluarkan untuk mencegah


terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.

Aktivitas Biaya

Pelatihan Proper Rp 250.000.000,00

Pelatihan Pengelolaan Limbah B3 Rp 350.000.000,00

Pelatihan Pengelolaan Lingkungan Rp 250.000.000,00

Pelatihan Inspeksi CSMS Bagi Pekerja Rp 200.000.000,00

Pembinaan CSMS Rp 95.000.000,00

Pelatihan Pemadaman Api Rp 100.000.000,00

Pelatihan Tanggap Darurat Rp 100.000.000,00

Pelatihan Kesehatan, Keselamatan, Kerja Rp 300.000.000,00

Total Biaya Pencegahan Rp 1.645.000.000,00

b. Biaya Penilaian

Biaya penilaian (deteksi) dikeluarkan dalam rangka pengukuran dan analisis


data untuk menentukan apakah produk atau jasa sesuai dengan spesifikasinya.
Aktivitas Biaya

Mengkompresi Gas Di SKG Rp 750.000.000,00

Inlet Scrubber Rp 450.000.000,00

Total Biaya Penilaian Rp 1.200.000.000,00

c. Biaya Internal

Biaya internal adalah biaya yang dikeluarkan karena rendahnya kualitas yang
ditemukan sejak penilaian awal sampai dengan pengiriman kepada pelanggan.

Aktivitas Biaya

Biaya Pengoperasian Unit Pengendalian Rp 1.000.000.000,00


Pencemaran

Biaya Memanfaatkan Sisa Gas Rp 500.000.000,00

Lisensi Fasilitas Pengolah Gas Rp 100.000.000,00

Total Biaya Internal Rp 1.600.000.000,00

d. Biaya Eksternal

Biaya eksternal merupakan biaya yang terjadi dalam rangka meralat cacat
kualitas setelah produk sampai pada pelanggan, dan laba yang gagal diperoleh karena
hilangnya peluang sebagai akibat adanya produk atau jasa yang tidak dapat diterima
oleh pelanggan serta pencegahan eksternal.

Aktivitas Biaya

Pertanggungjawaban Pencemaran Rp 350.000.000,00


Lingkungan

Jamsostek Rp 2.000.000.000,00
Kesehatan, Keselamatan, Kerja Rp 1.500.000.000,00

Peralatan Kesehatan, Keselamatan, Kerja Rp 500.000.000,00

Pemeliharaan Mesin Rp 1.000.000.000,00

Total Biaya Eksternal Rp 5.350.000.000,00

KESIMPULAN
Dengan penjabaran sebagaimana demikian dapat disimpulkan bahwa PT. Pertamina
Western Java Area menerapkan Sistem Manajemen Terintegrasi – Quality, Health, Safety &
Environment (QHSE) dan berorientasi pada COPPER serta mengusung tata nilai unggulan
6C + EGG pada semua aktivitasnya. Seluruh kegiatan harus memenuhi kebijatak terkecuali
untuk bagian proses produksi. Proses produksi meliputi: Inlet Scrubber, Booster Compressor,
Kondensat, Separator, dan Proses Pigging. Pada proses produksi limbah yang dihasilkan
ialah: Gas H2S, Air Formasi, Limbah Cair, dan lumpur serta debu. Setelah menganalisis
limbah yang dihasilkan HSE dapat membuat matriks terhadap sudut pandang lingkungan dan
Manajer Representatif (MR) membuat matriks terhadap sudut pandang perusahaan.
Sebagaimana peran bagian legal, dibuat dan dipelihara dokumen TKO Identifikasi dan
Evaluasi Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lainnya (B-002/PG.1314/2013-S0 untuk
mengidentifikasi dan menghubungkan ke peraturan perundang-undangan dan persyaratan
lainnya untuk mengendalikan pencemaran udara, air, dan tanah serta kebisingan Setelah
mengetahui analisis pencemaran yang terjadi pada PT. Pertamina Western Java Area maka
bagian finansial menyusun anggaran biaya untuk menanggulangi pencemaran yang terjadi
dari proses produksi serta menyusun anggaran untuk program kerja yang disusun oleh bagian
HRD.