You are on page 1of 10

Konsep Dasar Classroom Assessment, Penilaian Hasil Belajar, Jenis-Jenis Tes

Oleh :

Nur Laila Arif (201710060311068)

Trias Sherly Minarnik (201710060311102)

A. Konsep Dasar Classroom Assesment


1. Pengertian Classroom Assesment
Classroom Assesment berasal dari bahasa Inggris yaitu classroom (kelas) dan
assessment (penilian) yang berarti penilaian kelas.Sistem penilaian (assessment system)
yang digunakan lembaga pendidikan menurut Mardapi (2005) harus mampu memenuhi
syarat yaitu : (1)memberikan informasi yang akurat, (2)meningkatkan motivasi belajar
peserta didik, (3)meningkatkan motivasi mengajar guru, (4)meningakatkan kinerja
lembaga dan (5) meningkatkan kulitas pendidikan. Menurut Stiggnis (1994) istilah
assesment diartikan sebagai penilaian proses, kemajuan, kelemahan, dan hasil belajar
peserta didik. Sedangkan menurut Nana Sudjana (1990: 3) assessment adalah proses
pemberian atau penentuan nilai kepada peserta didik berdasarkan kriteria tertentu.
Classroom assessment merupakan proses pengumpulan, mensintesis, dan menafsirkan
informasi yang menunjang guru dalam membuat dan menetapkan keputusan kelas
tentang manajemen kelas, pengajaran, pembelajaran peserta didik dan perencanaan
pembelajaran dikelas (Michael Russel, 2011).
Kesimpulan pengertian classroom assessment berdasarkan beberapa pendapat diatas
yaitu proses pengumpulan informasi dan menafsirkan informasi tersebut yang menunjukan
pencapaian hasil belajar peserta didik. Informasi tersebut bisa didapatkan melalui
penilaian berupa penilaian proses belajar, kelebihan, kekurangan, kemajuan peserta didik,
dan hasil belajar peserta didik dengan kriteria tertentu. Hasil dari penilaian merupakan
informasi yang akan digunakan guru sebagai bahan acuan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran. Hasil penilaian yang baik yaitu hasil penilaian yang memberikan gambaran
atau deskripsi tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang objektif.

2. Pentingnya Classroom Assesment dalam Pembelajaran Matematika


Classroom Assesment merupakan hal penting yang tidak bisa dipisahkan
dalam pembelajaran, karena Classroom Assesment merupakan bagian integral dari
pembelajaan matematika dan memberikan kontribusi yang signifikan pada
pembelajaran matematika. Oleh sebab itu, guru juga harus merencanakan penilaian
yang akan digunakan sebagai bagian dari pembelajaran. Dalam dunia pendidikan,
Gronlund dan Linn mendefinisikan tentang sebuah penilaian sebagai suatu proses
yang sistematis dan mencakup kegiatan mengumpulkan, menganalisis, serta
menginterpretasikan informasi untuk menentukan seberapa jauh seorang siswa atau
sekelompok siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, baik aspek
pengetahuan, sikap maupun keterampilan.
Dapat disimpulkan bahwa Classroom Assesment sangan penting dilakukan
demi kemajuan siswa dalam pembelajaran Matematika. Dengan adanya Classroom
Assesment guru dapat mengetahui tingkat kemampuan pemahaman masing-masing
siswa pada materi yang diajarkan di kelas, sehingga guru mampu merencakanan
strategi pembelajaran yang lebih efektif bagi siswa kedepannya agar para siswa
menjadi lebih nyaman dalam belajar dan lebih kreatif dalam mengembangkan
kemampuan Matematikanya.

3. Tujuan Classroom Assesment


Penilaian yang dilaksanakan tersebut mempunyai beberapa tujuan. Sebagaimana
yang diungkapkan Nana Sudjana (1990: 3) bahwa tujuan dari classroom assessment
yaitu :
a. Memberikan gambaran atau deskripsi kemampuan belajar peserta didik.
Yang dimaksudkan memberikan gambaran atau deskripsi kemampuan belajar
peserta didik yaitu dengan melakukan penilaian guru dapat mengetahui kelemahan
dan kelebihan masing-masing peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini
tentunya akan memudahkan guru untuk mengetahui seberapa kemampuan peserta
didiknya dan cara untuk mengatasinya.
b. Mengetahui pencapaian keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Dengan informasi hasil penilaian guru mengetahui seberapa jauh keefektifan
dalam proses pembelajaran dan memperoleh gambaran mengenai pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan
c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian.
Dalam tujuan sebelumnya guru memperoleh deskripsi tentang kelemahan dan
kelebihan masing-masing peserta didik yang bisa dijadikan acuan guru untuk
memperbaiki strategi pembelajaran yang mungkin kurang tepat.Hal ini bertujuan
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
d. Memberikan kesimpulan hasil belajar peserta didik.
Dalam hal ini penilaian dilakukan untuk menyimpulkan apakah peserta didik
sudah menguasai atau belum menguasai kompetensi-kompetensi pembelajaran
yang ditetapkan dalam kurikulum.Kesimpulan ini juga dijadikan laporan sebagai
pertanggungjawaban terhadap sekolah, masyarakat, pemerintah dan orangtua
siswa.

4. Perbedaan Assesment, Test, Measurement dan Evaluation


a. Assesment(Penilaian)
Menurut Asamawi Zainal dan Agus Mulyana (2007: 7) mengemukakan bahwa
assessment merupakan pemberian nilai terhadap kualitas yang lebih diarahkan
atau ditujukan pada seberapa jauh suatu proses atau hasil yang diperoleh peserta
didik. Berkaitan dengan hal ini Resnick (1985) menyatakan bahwa pada
hakikatnya assessment menitikberatkan penilaian pada proses belajar peserta
didik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa assessment lebih
mengutamakan penilaian proses pembelajaran peserta didik.Contoh assessment
yaitu penilaian peserta didik saat berdiskusi, presentasi, praktek, wawancara dan
lainnya.

b. Test(Tes)
Test merupakan seperangkat pertanyaan terencana yang digunakan oleh guru
untuk memperoleh informasi tentang prestasi peserta didik yang berkaitan dengan
tujuan yang telah ditentukan (Calongesi, 1995). Setiap pertanyaan dari tes
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.Tes diberikan
kepadapeserta didik dalam kurun waktu tertentu untuk menguji seberapa baik
peserta didik dalam menjawab pertanyaan.Dengan demikian, dapat disimpulkan
tes lebih mengutamakan penialaian kemampuan peserta didik dalam menjawab
pertanyaan.Contoh tes antara lain tes berupa kuis yang diberikan setelah 1 materi
dipelajari.

c. Measurement(Pengukuran)
Pengertian pengukuran menurut Haryati (2007: 14) menyatakan bahwa
pengukuran merupakan prose pemberian angka atau tata usaha memperoleh
deskripsi atau gambaran numeric dari tingkatan dimana seseorang peserta didik
telahmencapai karakteristik tertentu.Pengukuran adalah membandingkan sesuatu
yang diukur dengan alat ukurnya dan kemudian menerakan angka menurut aturan
tertentu (Kerlinger dalam Purwanto, 2010: 2).Berdasarkan pendapat ini dapat
disimpulkan pengertian pengukuran adalah membandingkan sesuatu yang diukur
dengan alat ukur yang sesuai dan kemudian hasil pengukuran tersebut dituliskan
dalam suatu angka atau bilanga.

d. Evaluation(Evaluasi)
Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu proram yang
direncanakan telh tercapai atau belum, berharga atau tidak dan dapat pula melihat
tingkat efisien pelaksanaannya (Haryati, 2007: 15). Sedangkan menurut Nitko dan
Brookhart dalam Harun dan Mansur (2007: 2) menyatakan bahawa evaluasi
adalah proses penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil karya
peserta didik. Berdasarkan pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah
proses penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja, keberhasilan, suatu program
yang telah direncanakan dan hasil karya peserta didik.

B. Penilaian Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar


Pengertian hasil belajar menurut Purwanto (2010: 46) adalah perubahan
tingkah laku peserta didik akibat proses kegiatan belajar mengajar yang berupa
perubahan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman
belajarnya (Sudjana, 2010: 22). Dalam proses belajar mengajar guru melakukan
tugasnya tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa, tetapi ia juga dituntut
untuk membantu keberhasilan dalam menyampaikan materi pelajaran yaitu dengan
cara mengevaluasi hasil belajar mengajar.
Menurut beberapa pengertian maka hasil belajar matematika dapat
disimpulkan yaitu hasil akhir yang dimiliki atau diperoleh siswa setelah ia mengalami
proses belajar matematika yang di tandai dengan skala nilai berupa huruf atau simbol
atau angka, dan hal ini biasa dijadikan tolak ukur berhasil atau tidaknya siswa
tersebut dalam pembelajaran

2. Taksonomi Hasil Belajar


Ranah sikap merupakan urutan pertama dalam perumusan kompetensi lulusan
pada Kurikulum 2013, selanjutnya diikuti dengan rumusan ranah pengetahuan dan
keterampilan. Ranah sikap menggunakan olahan Krathwohl, dimana pembentukan
sikap peserta didik ditata secara hirarkhis mulai dari menerima (accepting), merespon/
menanggapi (responding), menghargai (valuing), menghayati (organizing/
internalizing), dan mengamalkan (characterizing/actualizing). Sebagai contoh adalah
saat guru menjelaskan mengenai materi Matematika, siswa mencoba menerima materi
dengan baik, lalu merespon guru dengan menjawab beberapa perntanyaan yang
disampaikan guru, yang juga merupakan bentuk dari menghargai dan menghayati
materi-materi yang sudah dijelaskan guru di depan kelas, nantinya siswa diharapkan
mampu mengamalkan ilmunya di kehidupan sehari-hari.
Ranah pengetahuan menggunakan taksonomi Bloom olahan Anderson, dimana
perkembangan kemampuan mental intelektual peserta didik dimulai dari C1 yakni: (1)
mengingat (remember), peserta didik mengingat kembali pengetahuan dari
memorinya; (2) C2 yakni memahami (understand), merupakan kemampuan
mengonstruksi makna dari pesan pembelajaran baik secara lisan, tulisan maupun
grafik; (3) C3 yakni menerapkan (apply); merupakan penggunaan prosedur dalam
situasi yang diberikan atau situasi baru; (4) C4 yakni menganalisis (analyse);
merupakan penguraian materi ke dalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian
tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur; (5) C5
yakni mengevaluasi (evaluate); merupakan kemampuan membuat keputusan
berdasarkan kriteria dan standar; dan (6) C6 yakni mengkreasi (create); merupakan
kemampuan menempatkan elemen-elemen secara bersamaan ke dalam bentuk
modifikasi atau mengorganisasikan elemen-elemen ke dalam pola baru (struktur
baru).
Contoh soal C1: Sebutkan rumus luas dan keliling lingkaran yang sudah Anda
pelajari pada bab sebelumnya!
Contoh soal C2: Jelaskan apa perbedaan dari luas permukaan bola dan volume
bola!
Contoh soal C3: Sebuah aula berbentuk balok dengan ukuran panjang 9 meter,
lebar 7 meter, dan tinggi 4 meter. Dinding bagian dalamnya dicat dengan biaya
Rp.50.000,- per meter persegi. Seluruh biaya pengecatan aula adalah ...
Contoh soal C4: Diberikan sebuah persegi ABCD, busur lingkaran berpusat di A
dan C digambarkan dari titik B ke D. Garis diagonal AC memotong kedua busur di
titik X dan Y. Jika XY = 12 - 6√2 cm. Maka luas persegi ABCD adalah….
Contoh soal C5: Sebuah bola besi dimasukkan ke dalam kotak berbentuk kubus
dengan panjang rusuk 10 cm. Jika volume air 900 cm3 , Serta panjang jari-jari bola 3
cm, apakah air dalam bak itu akan tumpuh?
Contoh soal C6: Perhatikan gambar berikut ini

Jika t1 = 3t2, dan r1= 4a. Rumuskan volume kerucut terpancung seperti
gambar diatas!

Ranah keterampilan yang mengarah pada pembentukan keterampilan abstrak


menggunakan gradasi dari Dyers yang ditata sebagai berikut: (1) mengamati
(observing); (2) menanya (questioning); (3) mencoba (experimenting); (4) menalar
(associating); (5) menyaji (communicating); dan (6) mencipta (creating). Contohnya
adalah saat siswa ditugaskan untuk membuat suatu bangun ruang berdasarkan jaring-
jaring yang sudah disediakan guru. Langkah pertama tentunya siswa harus mengamati
bangun ruang apa yang dapat dibentuk dengan jaring-jaring yang sudah disediakan,
lalu jika kurang memahami bisa bertanya ke guru, setelah itu mulai mencoba merakit,
kemudian menyajikan dan menciptakan bangun ruang yang sesuai.

C. Jenis-jenis Tes
1. Pengertian Tes
Menurut Asmawi Zainul dan Mulyana (2007: 3) tes merupakan suatu pertanyaan atau
tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang
atribut pendidikan atau psikologik tertentu dan setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar, dan apabila tidak memenuhi
ketentuan yang dianggap benar, dan apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka
jawabana dianggap salah. Sedangkan menurut Sudijono (2011: 67) tes adalah cara yang
digunakan atau prosedur yang ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian
dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik
berupa pertanyaa-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus
dikerjakan oleh peserta didik sehingga data yang diperoleh dari hasil pengukuran atau
penilaian tersebut mengahasilkan nilai yang melambangkan prestasi peserta didik. Tes
merupakan salah satu upaya pengukuran terencana yang digunakan oleh guru untuk
mencoba menciptakan kesempatan bagi siswa dalam memperlihatkan prestasi mereka
berkaitan dengan tujuan yang ditentukan (Calongesi, 1995).
Dari pendapat sebelumnya tes dapat diartikan sebagai lembar soal yang berisi tentang
pertanyaan yang harus dijawab dengan baik oleh peserta didik dengan baik dan benar
sesuai dengan materi pembelajaran dan tujuan yang ingin dicapai.Tes terdiri dari atas
sejumah soal yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik. Jawaban dari tes
dapat berupa tulisan, lisan maupun perbuatan (Sudjana dan Ibrahim, 2001)
Menurut Arikunto(2009: 57) tes dikatakan baik sebagai alat ukur apabila memenuhi
persyaratan tes yaitu memiliki : (1) validitas, yakni sebuah tes bisa dikatakan valid jika
tes tersebut tepat mengukur apa yang harusnya diukur, (2) reliabilities, (3) objektifitas,
(4) praktisbilitas, dan (5) ekonomis.

2. Jenis-jenis tes
a. Tes Objektif
Tes objektif yaitu bentuk tes atau soal yang telah mengandung kemungkinan
jawaban yang harus dipilih atau yang dikerjakan oleh peserta didik.Karena sifatnya
demikian, tes objektif disebut dengan isilah tes pilihan jawaban (Popham, 1981:
235).Jadi tes objektif adalah tes yang menyiapkan informasi yang diperlukan untuk
menjawab pertanyaan yang telah disediakan.Soal atau pertanyaan pada tes objektif
tidak memberikan peluang kepada peserta didik untuk mendapatkan nilai yang
bergradasi sebab jawaban dati tes lebih mengenal salah dan benar.Sehingga Arikunto
(1995: 165) menyatakan bahwa dalam penilaian tes objektif hanya bisa dilakukan
secara objektif. Adapun jenis-jenis tes objektif yaitu :

 Pilihan ganda
Tes pilihan ganda yaitu Tes yang mempunyai satu jawaban yang paling tepat
atau benar yang berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis,
sintesis dan evaluasi. Adapun struktur tes pilihan ganda yaitu: (1) Stem, berisi
pertanyaan atau pernyataan yang besisi permasalahan yang akan ditanyakan, (2)
Option, berisi pilihan atau alternatif jawaban, (3) kunci, yaitu jawaban yang paling
tepat atau benar, dan 4) distractor, berisi opsi atau alternatif pengecoh (Purwanto, N.
2010: 48).
Tes pilihan ganda juga tentunya memiliki kelemahan dan kelebihannya
masing-masing. Adapun kelebihan tes pilihan ganda yaitu (1)mengukur berbagai
jenjang kognitif, (2)mudah dalam penskoran, objektif dan cepat, (3)dapat dilakukan
analisis butir soal dengan baik, (4)tingkat kesukaran butir soal dapat dikedalikan,
(5)jumlah opsi lebih dari dua, dan (6)memberikan informasi keadaan peserta tes lebih
banyak. Sedangkan kelemahan tes pilihan ganda antara lain : (1)memerlukan waktu
yang relatis lama untuk menulis soal, (2)sulit membuat pengecoh yang homogen dan
berfungsi, (3)tedapat peluang untuk menebak kunci jawaban, (4)peserta didik mudah
menyontek, dan (5)hasil tes di pengaruhi kemampuan membaca atau mengingat yang
tinggi.
Contoh :

Diketahui panjang sebuah persegi panjang adalah 29 dan lebar 12. Berapakah luas
persegi panjang tersebut ?
a. 843 b. 438 c. 348 d. 384

Jawaban benar : (c)

 Menjodohkan atau mencocokan


Tes yang memiliki 2 kelompok pertanyaan yang berada dalam satu kesatuan.
Dalam bentuk yang paling sederhana, jumlah soal sama dengan jumlah jawaban
tetapi sebaiknya julmah soal lebih banyak dari jumlah jawaban untuk mengurangi
kemungkinan peserta didik menjawab betul hanya dengan menebak (Sudjana, N.
2010: 32).
Kelebihan yang didapatkan dalam menerapkan tes menjodohkan atau
mencocokan yaitu (1)relatif mudah dalam perumusan soal, (2)ringkas dan
ekonomis, (3)penskoran mudah, objektif dan cepat, dan (4)baik digunakan untuk
menguhi kognitif (istilah, dfenisi, peristiwa dan lainnya). selain kelebihan
penerapan tes menjodohkan atau mencocokan juga memiliki kelemahan seperti :
(1)cenderung mengukur kemampuan mengingat sehingga kurang tepat mengukur
kognitif yang lebih tinggi. (2)kemampuan menebak benar relative tinggi.
Contoh : Cocokanlah hasil perkalian di bawah ini dengan jawaban yang benar

Soal Jawaban

12 x 3 273

17 x 4 36

13 x 21 383

68

 Salah-benar
Tes salah-benar adalah tes yang terdiri dari susunan pernyataan benar atau
salah dan jawabannya boleh mengikuti pola tertentu.Kelebihan dari tes-salah benar
adalah (1)mudah di konstruksi, (2)perangkat soal bisa mewakili semua indikator
atau kompetensi, (3)mudah diskor dan (4)baik untuk mengukur fakta dan ingatan.
Sedangkan kelemahan dari tes salah-benar adalah (1)bentuk soal tidak digunakan
untuk menanyakan sesuatu konsep secara utuh dan (2)hanya dapat mengungkap
daya ingat dan pengenalan kembali.

Contoh :

1)Rumus luas segitiga yaitu 𝐿 = 𝑃 × 𝐿 (S)


1
2) rumus luas segitia yaitu 𝐿 = 2 × 𝑎 × 𝑡 (B)

Keterangan: Benar (B)

Salah (S)

b. Tes Subjektif

Tes subjektif yaitu tes yang mengandung pertanyaan atau tugas dimana
jawaban soal tersebut dilakukan dengan cara mengekspresikan peserta didik. Jawaban
dari tes subjektif tidak disediakan oleh guru. Adapun jenis-jenis tes subjektif yaitu:

 Isian
Isian adalah tes yang menghendaki jawaban dalam bentuk nama tokoh, prase,
kata, symbol, nama tempat, bilangan, kalimat dan lain- lain secara singkat dan
tepat serta jawabannya hanya bernilai benar dan salah. Kelebihan yang diperoleh
dalam penerapan tes idian antara lain : 1)banyak digunakn dalam tes matematika
dan pendidikan dasar lainnya, 2) mudah di konstruksi dan 3)dapat menguji
kompetensi yang dikuasi dalam waktu singkat. Dibanding dengan tes lainnya
kelemahan dalam penerapan tes isian lebih sedikit yaitu cenderung hanya
mengukur kemampuan mengingat.

Contoh :
Hasil dari 39+89=…
Jawaban : 127

 Uraian
Tes untuk menguji kemampuan belajar peserta didik yang memerlukan
jawaban bersifat pembahasan atau urain kata-kata.Ciri-ciri pertanyaannya
didahului dengan kata-kata seperti uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana,
bandingkan, simpulkan dan sebagainya (Arikunto, S. 2010: 162).
Dalam penerapan tes uraian tentunya ada kelebihan dan kelemahan yang
ditemui. Kelebihan dari tes uraian ini yaitu (1)dapat melihat proses berpikir
peserta didik (2)dapat mengukur cara menyampaikan gagasan peserta didik,
3)dapat mengemukakan pendapat dengan bebas, (4)mengukur kedalaman materi
dan (5)mudah mengkonstruksi soal atau membuat soal. Sedangkan kelemahan tes
uraian yaitu (1)materi terbatas, (2)sulit memberikan skor, (3)membutuhkan waktu
yang relative lama dalam menilai dan (4)tingkat relabilitasnnya rendah.

Contoh :

Sebuah bak menampung air berbentuk balok dengan ukuran panjang 150 cm,
lenbar 80 cm, dan tinggi 75 cm. mampu menampung air berapa literkah
penampung tersebut ?

Jawaban:
Diketahui : Panjang (p) = 150 cm

Lebar (l) = 80 cm

Tinggi (t) = 75 cm

Ditanya ; berapa liter bak tersebut menampung air ?

Penyelsaian :

Voulme balok = 𝑝 × 𝑙 × 𝑡

= 150 𝑐𝑚 × 80 𝑐𝑚 × 75 𝑐𝑚

= 900.000 𝑐𝑚3

Karena yang ditanyakan adalah banyak air atau volume air dalam bentuk liter maka
volune bak tersebut di rubah menjadi liter ( 1 liter= 1000 𝑐𝑚3 ) sehingga,
900000
Volume air (liter) = liter
1000

= 900 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟

Jadi, ukuran volume air dibak tersebut dalam satuan liter yaitu 900 liter.
DAFTAR PUSTAKA

Arukunto, S.(2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, s &Jabar.(2004). Evaluasi Program Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara

Calongesi.J.S. (1995).Merancang Tes Untuk Menilai Pendidikan .Bandung: ITB

Haryati, M.(2007). Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada

Laelasari.(2017). Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Matematika.Vol.3 No. 2, Agustus


2017.

Mardapi, D. (2005). Rekayasa Sistem Penilaian dalam Rangka Meningkatkan Kualitas


Pendidikan.Yogyakarta. HEPI

Michael Russel, P.A. (2011). Classroom Assesment Concepts and Applications. New York:
McGraw Hill

Nasution, N &Suryanto, A. (2008).Evaluasi Pengajaran. Jakarta: Universitas Terbuka

Popham, W.J. (1995). Classroom Assesment, What Teachers Need it Know. Oxford:
Pergamon Press

Putrianggoro Kasi & Yoppiwahyu Purnomo.2016. Peningkatan Hasil Belajar Matematuika


Siswa Sekolah Dasar melalui Pembelajaran Bertbasis Penilaian. Vol.1, No.1. 68-78 Januari
2016

Purwanto N.(2002).Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja


Karya

Sudjana N .(2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung: Remaja Rosdakarya

Sudjana, N. & Ibrahim. (2001). PenelitiandanPenilaianPendidikan/. Bandung: Sinar Baru


Algensindo

Sudjino , A.(2001). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Zainul&Nasution.(2001). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Bekti