You are on page 1of 24

Role Play Komunikasi Terapeutik Pada Kasus Khusus Pasien ICU

Kelompok 4 :

1. Ariska Mira P (201702056)


2. Berliana C (201702057)
3. Dimas S (201702060)
4. Dwi Wahyuningrum (201702062)
5. Irre Risa (201702072)
6. Lulut Oktavia (201702079)
7. Nadia Noveriska (201702083)
8. Wahyu Pratita (201702099)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN

2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa penulis telah
menyelesaikan tugas mandiri mata kuliah Komunikasi Dalam Keperawatan dengan judul
“Role Play Komunikasi Terapeutik Pada Kasus Khusus Pasien ICU”. Dalam penyusunan
tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari
bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan
bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dosen pembimbing Dian Anisia W S.Kep., Ners, M.Kep yang telah memberikan
tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas
ini.
2. Orang tua yang telah memberi dukungan dalam bentuk moril maupun materil.
3. Teman-teman yang telah membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Madiun, 8 Januari 2019

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................ .... 2
1.3. Tujuan....................................................................................... 2
BAB II : LANDASAN TEORI
2.1. Definisi Komunikasi................................................................. 3
2.2. Komunikasi Terapeutik............................................................. 4
2.3. Komunikasi Dengan
Pasien Tidak Sadar.................................................................... 7
2.4. Fungsi Komunikasi
Dengan Pasien Tidak Sadar...................................................... 8
2.5. Cara Berkomunikasi
Dengan Pasien Tak Sadar......................................................... 11
2.6. Prinsip-Prinsip Berkomunikasi
Dengan Pasien Yang Tidak Sadar............................................ 13
2.7. Tahap Komunikasi
Dengan pasien tidak sadar........................................................ 14
BAB III : PEMBAHASAN.......................................................................... 17
BAB IV : PENUTUP
4.1. Kesimpulan ............................................................................... 19
4.2. Saran.......................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 21
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari kegiatan komunikasi.Sehingga
sekarang ilmu komunikasi berkembang pesat. Salah satu kajian ilmu komunikasi ialah
komunikasi kesehatan yang merupakan hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia
masa lalu dan masa sekarang dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan
perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut atau partisipasi profesional
dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melaui pemahaman
yang lebih besar tentang hubungan timbal balik melalui perubahan tingkah laku sehat ke arah
yang diyakini akan meningkatkan kesehatan yang lebih baik. Kenyataaanya memang
komunikasi secara mutlak merupakan bagian integral dari kehidupan kita, tidak terkecuali
perawat, yang tugas sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain baik itu pasien,
keluarga pasien, maupun tim kesehatan lain.
Komunikasi perawat dengan pasien khususnya sangatlah penting. Perawat harus bisa
menerapkan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien
(Indrawati, 2003 .48). Komunikasi terapeutik diterapkan tidak hanya pada pasien sadar saja,
namun pada pasien tidak sadar juga harus diterapkan komunikasi terapeutik tersebut. Pasien
tak sadar atau yang sering disebut “koma” merupakan pasien yang fungsi sensorik dan
motorik pasien mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat
diterima klien dan klien tidak dapat merespons kembali stimulus tersebut. Namun meskipun
pasien tersebut tak sadar, organ pendengaran pasien merupakan organ terakhir yang
mengalami penurunan penerimaan rangsangan. Maka dari itu penulis mengambil
judul Komunikasi Terapeutik pada Pasien ICU agar dapat mengetahui teknik dan prinsip
berkomunikasi dengan pasien koma.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini mengangkat masalah mengenai “Bagaimana komunikasi terapeutik
dengan pasien yang tidak sadar?”
1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah yang berhubungan dengan metode berkomunikasi dengan
pasien tidak sadar yaitu sebagai berikut:
1.3.1. Menyadari betapa pentingnya komunikasi dengan pasien yang tidak sadar.
1.3.2. Mengetahui teknik-teknik dalam berkomunikasi dengan pasien yang tidak sadar.
1.3.3. Mengetahui prinsip-prinsip dalam berkomunikasi dengan pasien yang tidak sadar.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Definisi Komunikasi
Kata atau istilah “komunikasi” (Bahasa Inggris “comunication”) berasal dari Bahasa
Latin “communicatus” atau “communicatio atau communicare yang berarti ”berbagi” atau
“menjedi milik bersama”. Jadi kominukasi dapat diartikan suatu proses pertukaran informasi
di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
(Riswandi, 2009).
Proses komunikasi merupakan aktivitas yang mendasar bagi manusia sebagai bentuk
sosial. Setiap proses komunikasi diawali dengan adanya stimulus yang masuk pada diri
individu yang ditangkap melalui panca indera. Stimulus diolah di otak dengan pengetahuan,
pengalaman, selera, dan iman yang dimiliki individu. (Wiryanto, 2004)
Sosiologi menjelaskan komunikasi sebagai sebuah proses memaknai yang dilakukan
oleh seseorang terhadap informasi, sikap, dan perilaku orang lain yang berbentuk
pengetahuan, pembicaraan, gerak-gerik, atau sikap, perilaku dan perasaan-perasaan, sehingga
seseorang membuat reaksi-reaksi terhadap informasi, sikap dan perilaku tersebut berdasarkan
pada pengalaman yang pernah dia alami. (Mungin, B, 2008)
Menurut Pendi (2009), Komunikasi merupakan suatu proses karena melalui komunikasi
seseorang menyampaikan dan mendapatkan respon. Komunikasi dalam hal ini mempunyai
dua tujuan, yaitu: mempengaruhi orang lain dan untuk mendapatkan informasi. Akan tetapi,
komunikasi dapat digambarkan sebagai komunikasi yang memiliki kegunaan atau berguna
(berbagi informasi, pemikiran, perasaan) dan komunikasi yang tidak memiliki kegunaan atau
tidak berguna (menghambat/blok penyampaian informasi atau perasaan). Keterampilan
berkomunikasi merupakan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang untuk membangun
suatu hubungan, baik itu hubungan yang kompleks maupun hubungan yang sederhana
melalui sapaan atau hanya sekedar senyuman. Pesan verbal dan non verbal yang dimiliki oleh
seseorang menggambarkan secara utuh dirinya, perasaannya dan apa yang ia sukai dan tidak
sukai. Melalui komunikasi seorang individu dapat bertahan hidup, membangun hubungan dan
merasakan kebahagiaan.

2.2. Komunikasi Terapeutik


Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, dalam hal ini
komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi
keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi proses penyembuhan pasien.
Oleh karenanya seorang perawat harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aplikatif
komunikasi terapeutik agar kebutuhan dan kepuasan pasien dapat dipenuhi. (Pendi, 2009)
Effendy O.U (2002) dalam Suryani (2005) menyatakan lima komponen dalam
komunikasi yaitu; komunikator, komunikan, pesan, media dan efek. Komunikator (pengirim
pesan) menyampaikan pesan baik secara langsung atau melalui media kepada komunikan
(penerima pesan) sehingga timbul efek atau akibat terhadap pesan yang telah diterima. Selain
itu, komunikan juga dapat memberikan umpan balik kepada komunikator sehingga
terciptalah suatu komunikasi yang lebih lanjut.
Pendi(2009) juga mengatakan, keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill
yang harus dimiliki oleh perawat, karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang
digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan atau informasi
kesehatan mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup, menunjukan caring,
memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai nilai-nilai klien.
Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam keperawatan, komunikasi merupakan bagian
integral dari asuhan keperawatan. Seorang perawat yang berkomunikasi secara efektif akan
lebih mampu dalam mengumpulkan data, melakukan tindakan keperawatan (intervensi),
mengevaluasi pelaksanaan dari intervensi yang telah dilakukan, melakukan perubahan untuk
meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya masalah- masalah legal yang berkaitan
dengan proses keperawatan. Menurut Potter dan Perry (2005), ada tiga jenis komunikasi yaitu
verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.

2.2.1. Komunikasi Verbal


Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah
sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka.
Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol
yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional,
atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang
tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka
yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.
2.2.2. Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan
dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan di
surat kabar dan lain- lain.
2.2.3. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata.
Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.
Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dan saat
pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non verbal menambah arti
terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan
asuhan keperawatan.

2.3. Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar


Komunikasi dengan pasien tidak sadar merupakan suatu komunikasi dengan
menggunakan teknik komunikasi khusus/teurapetik dikarenakan fungsi sensorik dan motorik
pasien mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima klien
dan klien tidak dapat merespons kembali stimulus tersebut.
Pasien yang tidak sadar atau yang sering kita sebut dengan koma, dengan gangguan
kesadaran merupakan suatu proses kerusakan fungsi otak yang berat dan dapat
membahayakan kehidupan. Pada proses ini susunan saraf pusat terganggu fungsi utamanya
mempertahankan kesadaran. Gangguan kesadaran ini dapat disebabkan oleh beragam
penyebab, yaitu baik primer intrakranial ataupun ekstrakranial, yang mengakibatkan
kerusakan struktural atau metabolik di tingkat korteks serebri, batang otak keduanya.
Ada karakteristik komunikasi yang berbeda pada klien tidak sadar ini, kita tidak
menemukan feed back (umpan balik), salah satu elemen komunikasi. Ini dikarenakan klien
tidak dapat merespon kembali apa yang telah kita komunikasikan sebab pasien sendiri tidak
sadar.
2.4. Fungsi Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar
Menurut Pastakyu (2010), Komunikasi dengan klien dalam proses keperawatan memiliki
beberapa fungsi, yaitu:
2.4.1. Mengendalikan Perilaku
Pada klien yang tidak sadar, karakteristik pasien ini adalah tidak memiliki respon dan
klien tidak ada prilaku, jadi komunikasi dengan pasien ini tidak berfungsi sebagai pengendali
prilaku. Secara tepatnya pasien hanya memiliki satu prilaku yaitu pasien hanya berbaring,
imobilitas dan tidak melakukan suatu gerakan yang berarti. Walaupun dengan berbaring ini
pasien tetap memiliki prilaku negatif yaitu tidak bisa mandiri.
2.4.2. Perkembangan Motivasi
Pasien tidak sadar terganggu pada fungsi utama mempertahankan kesadaran, tetapi
klien masih dapat merasakan rangsangan pada pendengarannya. Perawat dapat menggunakan
kesempatan ini untuk berkomunikasi yang berfungsi untuk pengembangan motivasi pada
klien. Motivasi adalah pendorong pada setiap klien, kekuatan dari diri klien untuk menjadi
lebih maju dari keadaan yang sedang ia alami. Fungsi ini akan terlihat pada akhir, karena
kemajuan pasien tidak lepas dari motivasi kita sebagai perawat, perawat yang selalu ada di
dekatnya selama 24 jam. Mengkomunikasikan motivasi tidak lain halnya dengan pasien yang
sadar, karena klien masih dapat mendengar apa yang dikatakan oleh perawat.
2.4.3. Pengungkapan Emosional
Pada pasien tidak sadar, pengungkapan emosional klien tidak ada, sebaliknya perawat
dapat melakukannya terhadap klien. Perawat dapat berinteraksi dengan klien. Perawat dapat
mengungkapan kegembiraan, kepuasan terhadap peningkatan yang terjadi dan semua hal
positif yang dapat perawat katakan pada klien. Pada setiap fase kita dituntut untuk tidak
bersikap negatif terhadap klien, karena itu akan berpengaruh secara tidak langsung/langsung
terhadap klien. Sebaliknya perawat tidak akan mendapatkan pengungkapan positif maupun
negatif dari klien. Perawat juga tidak boleh mengungkapkan kekecewaan atau kesan negatif
terhadap klien. Pasien ini berkarakteristik tidak sadar, perawat tidak dapat menyimpulkan
situasi yang sedang terjadi, apa yang dirasakan pada klien pada saat itu. Kita dapat
menyimpulkan apa yang dirasakan klien terhadap apa yang selama ini kita komunikasikan
pada klien bila klien telah sadar kembali dan mengingat memori tentang apa yang telah kita
lakukan terhadapnya.

2.4.4. Informasi
Fungsi ini sangat lekat dengan asuhan keperawatan pada proses keperawatan yang akan
kita lakukan. Setiap prosedur tindakan keperawatan harus dikomunikasikan untuk
menginformasikan pada klien karena itu merupakan hak klien. Klien memiliki hak penuh
untuk menerima dan menolak terhadap tindakan yang akan kita berikan. Pada pasien tidak
sadar ini, kita dapat meminta persetujuan terhadap keluarga, dan selanjutnya pada klien
sendiri. Pasien berhak mengetahui apa saja yang akan perawat lakukan pada klien. Perawat
dapat memberitahu maksud tujuan dari tindakan tersebut, dan apa yang akan terjadi jika kita
tidak melakukan tindakan tersebut kepadanya.
Hampir dari semua interaksi komunikasi dalam proses keperawatan menjalankan satu
atau lebih dari ke empat fungsi di atas. Dengan kata lain, tujuan perawat berkomunikasi
dengan klien yaitu untuk menjalankan fungsi tersebut. Dengan pasien tidak sadar sekalipun,
komunikasi penting adanya. Walau, fungsi yang dijalankan hanya salah satu dari fungsi di
atas. Dibawah ini akan diuraikan fungsi-fungsi berkomunikasi dengan klien, terhadap klien
tidak sadar. Untuk dipertegas, walau seorang pasien tidak sadar sekali pun, ia merupakan
seorang pasien yang memiliki hak-hak sebagai pasien yang harus tetap kita penuhi.
Perawat itu adalah manusia pilihan Tuhan, yang telah terpilih untuk membantu sesama,
memiliki rasa bahwa kita sesama saudara yang harus saling membantu. Perawat akan
membantu siapapun walaupun ia seorang yang tidak sadar sekalipun. Dengan tetap
memperhatikan hak-haknya sebagai klien.
Komunikasi yang dilakukan perawat bertujuan untuk membentuk hubungan saling
percaya, empati, perhatian, autonomi dan mutualitas. Pada komunikasi dengan pasien tidak
sadar kita tetap melakukan komunikasi untuk meningkatkan dimensi ini sebagai hubungan
membantu dalam komunikasi terapeutik.

2.5. Cara Berkomunikasi Dengan Pasien Tak Sadar


Menurut Pastakyu (2010), Cara berkomunikasi dengan klien dalam proses
keperawatan adalah berkomunikasi terapeutik. Pada klien tidak sadar perawat juga
menggunakan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien.
Dalam berkomunikasi kita dapat menggunakan teknik-teknik terapeutik, walaupun pada
pasien tidak sadar ini kita tidak menggunakan keseluruhan teknik. Teknik terapeutik, perawat
tetap dapat terapkan. Adapun teknik yang dapat terapkan, meliputi:

2.5.1. Menjelaskan
Dalam berkomunikasi perawat dapat menjelaskan apa yang akan perawat lakukan
terhadap klien. Penjelasan itu dapat berupa intervensi yang akan dilakukan kepada klien.
Dengan menjelaskan pesan secara spesifik, kemungkinan untuk dipahami menjadi lebih besar
oleh klien.
2.5.2. Memfokuskan
Memfokuskan berarti memusatkan informasi pada elemen atau konsep kunci dari pesan
yang dikirimkan. Perawat memfokuskan informasi yang akan diberikan pada klien untuk
menghilangkan ketidakjelasan dalam komunikasi.
2.5.3. Memberikan Informasi
Fungsi berkomunikasi dengan klien salah satunya adalah memberikan informasi.
Dalam interaksi berkomunikasi dengan klien, perawat dapat memberi informasi kepada klien.
Informasi itu dapat berupa intervensi yang akan dilakukan maupun kemajuan dari status
kesehatannya, karena dengan keterbukaan yang dilakukan oleh perawat dapat menumbuhkan
kepercayaan klien dan pendorongnya untuk menjadi lebih baik.
2.5.4. Mempertahankan ketenangan
Mempertahankan ketengan pada pasien tidak sadar, perawat dapat menujukkan dengan
kesabaran dalam merawat klien. Ketenagan yang perawat berikan dapat membantu atau
mendorong klien menjadi lebih baik. Ketenagan perawat dapat ditunjukan kepada klien yang
tidak sadar dengan komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal dapat berupa sentuhan
yang hangat. Sentuhan adalah transmisi pesan tanpa kata-kata, merupakan salah satu cara
yang terkuat bagi seseorang untuk mengirimkan pasan kepada orang lain. Sentuhan adalah
bagian yang penting dari hubungan antara perawat dan klien.
Pada dasarnya komunikasi yang akan dilakukan pada pasien tidak sadar adalah
komunikasi satu arah. Komunikasi yang hanya dilakukan oleh salah seorang sebagai
pengirim dan diterima oleh penerima dengan adanya saluran untuk komunikasi serta tanpa
feed back pada penerima yang dikarenakan karakteristik dari penerima sendiri, yaitu pada
point ini pasien tidak sadar. Untuk komunikasi yang efektif dengan kasus seperti ini,
keefektifan komunikasi lebih diutamakan kepada perawat sendiri, karena perawat lah yang
melakukan komunikasi satu arah tersebut.
2.6. Prinsip-Prinsip Berkomunikasi Dengan Pasien Yang Tidak Sadar
Menurut Pastakyu (2010), Pada saat berkomunikasi dengan klien yang tidak sadar,
hal-hal berikut perlu diperhatikan, yaitu:
2.6.1. Berhati-hati melakukan pembicaraan verbal di dekat klien, karena ada keyakinan bahwa
organ pendengaran merupakan organ terkhir yang mengalami penurunan penerimaan,
rangsangan pada klien yang tidak sadar. Klien yang tidak sadar seringkali dapat mendengar
suara dari lingkungan walaupun klien tidak mampu meresponnya sama sekali.
2.6.2. Ambil asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan perawat. Usahakan
mengucapkan kata dan menggunakan nada normal dan memperhatikan materi ucapan yang
perawat sampaikan dekat klien.
2.6.3. Ucapkan kata-kata sebelum menyentuh klien. Sentuhan diyakini dapat menjadi salah satu
bentuk komunikasi yang sangat efektif pada klien dengan penurunan kesadaran.
2.6.4. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu klien fokus
terhadap komunikasi yang perawat lakukan.
2.7. Tahap komunikasi dengan pasien tidak sadar
Komunikasi terapeutik terdiri atas 4 fase, yaitu fase pra interaksi, fase orientasi, fase
kerja dan fase terminasi. Setiap fase atau tahapan komunikasi terapeutik mencerminkan
uraian tugas dari petugas, yaitu
2.7.1. Fase Prainteraksi
Pada fase prainteraksi ini, petugas harus mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan
sendiri. Petugas juga perlu menganalisa kekuatan kelemahan profesional diri. Selanjutnya
mencari data tentang klien jika mungkin, dan merencanakan pertemuan pertama dengan
pasien.
2.7.2. Fase Orientasi
Fase ini meliputi pengenalan dengan pasien, persetujuan komunikasi atau kontrak
komunikasi dengan pasien, serta penentuan program orientasi. Program orientasi tersebut
meliputi penentuan batas hubungan, pengidentifikasian masalah, mengakaji tingkat
kecemasan diri sendiri dan pasien, serta mengkaji apa yang diharapkan dari komunikasi yang
akan dilakukan bersama antara petugas dan klien.Tugas petugas pada fase ini adalah
menentukan alasan klien minta pertolongan, kemudian membina rasa percaya, penerimaan
dan komunikasi terbuka. Merumuskan kontrak bersama klien, mengeksplorasi pikiran,
perasaan dan perbuatan klien sangat penting dilakukan petugas pada tahap orientasi ini.
Dengan demikian petugas dapat mengidentifikasi masalah klien, dan selanjutnya
merumuskan tujuan dengan klien.
2.7.3. Fase kerja / lanjutan
Pada fase kerja ini petugas perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor
fungsional dari komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan
cara meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan
menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam
mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor
fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang
ada, meningkatkan komunikasi pasien dan mengurangi ketergantungan pasien pada petugas,
dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan
masalah yang ada.Tugas petugas pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang
terjadi pada klien dengan tepat. Petugas juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri
klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi
penolakan perilaku adaptif.
2.7.4. Fase terminasi
Fase terminasi ini merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang
kesimpulan pengobatan yang telah didapatkan dan mempertahankan batas hubungan yang
telah ditentukan. Petugas harus mengantisipasi masalah yang akan timbul pada fase ini
karena pasien mungkin menjadi tergantung pada petugas. Pada fase ini memungkinkan
ingatan pasien pada pengalaman perpisahan sebelumnya, sehingga pasien merasa sunyi,
menolak dan depresi. Diskusikan perasaan-perasaan tentang terminasi.
Pada fase terminasi tugas petugas adalah menciptakan realitas perpisahan. Petugas juga
dapat membicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan. Saling mengeksplorasi perasaan
bersama klien tentang penolakan dan kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain, yang
mungkin terjadi pada fase ini.
2.8 KONSEP INTENSIVE CARE UNIT (ICU)
2.8.1 DEFINISI ICU
ICU atau intensive care unit dimulai pertama kali pada tahun 1950-an. Kegawat
daruratan dalam keperawatan berkembang sejak tahun 1970-an. Sebagai contoh, kegawatan
di unit operasi kardiovaskuler, pediatric, dan unit neonates. Keperawatan gawat darurat
secara khusus berkonsentrasi pada respon manusia pada masalah yang mengancam hidup
seperti trauma atau operasi mayor. Pencegahan terhadap masalah kesehatan merupakan hal
penting dalam praktik keperawatan gawat darurat. (Hartshorn et all, 1997).
Adapun beberapa kriteria pasien yang memerlukan perawatan di ICU adalah:

1. Pasien berat, kritis, pasien tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti
bantuan ventilator, pemberian obat vasoaktif melalui infus secara terus menerus,
contoh gagal nafas berat, syok septik.
2. Pasien yang memerlukan pemantauan intensif invasive atau non invasive sehingga
komplikasi berat dapat dihindari atau dikurangi, contoh paska bedah besar dan luas,
pasien dengan penyakit jantung, paru, ginjal, atau lainnya.
3. Pasien yang memerlukan terapi intensif untuk mengatasi komplikasi akut, sekalipun
manfaat ICU sedikit, contoh pasien dengan tumor ganas metastasis dengan
komplikasi, tamponade jantung, sumbangan jalan nafas.
Sedangkan pasien yang tidak perlu masuk ICU adalah:

1. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium).


2. Pasien yang menolak terapi bantuan hidup.
3. Pasien secara medis tidak ada harapan dapat disembuhkan lagi, contoh karsinoma
stadium akhir, kerusakan susunan saraf pusat dengan keadaan vegatatif.
2.8.2. FUNGSI DAN TUJUAN ICU
 Fungsi ICU
Dari segi fungsinya, ICU dapat dibagi menjadi :

1. ICU Medik
2. ICU trauma/bedah
3. ICU umum
4. ICU pediatrik
5. ICU neonatus
6. ICU respiratorik
Semua jenis ICU tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengelola pasien yang sakit
kritis sampai yang terancam jiwanya. ICU di Indonesia umumnya berbentuk ICU umum,
dengan pemisahan untuk CCU (Jantung), Unit dialisis dan neonatal ICU. Alasan utama untuk
hal ini adalah segi ekonomis dan operasional dengan menghindari duplikasi peralatan dan
pelayanan dibandingkan pemisahan antara ICU Medik dan Bedah.

 Tujuan ICU
Berikut adalah tujuan ICU :

1. Menyelamatkan kehidupan
2. Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan
monitaring evaluasi yang ketat disertai kemampuan menginterpretasikan setiap data
yang didapat dan melakukan tindak lanjut.
3. Meningkatkan kualitas pasien dan mempertahankan kehidupan.
4. Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien.
5. Mengurangi angka kematian pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan
pasien
2.8.3. INDIKASI MASUK DAN KELUAR ICU
Apabila sarana dan prasarana ICU di suatu rumah sakit terbatas sedangkan kebutuhan
pelayanan ICU yang lebih tinggi banyak, maka diperlukan mekanisme untuk membuat
prioritas. Kepala ICU bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi perawatan pasien di ICU.
 Kriteria Masuk
1. Golongan pasien prioritas 1
Kelompok ini merupakan pasien kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan
tertitrasi seperti: dukungan ventilasi, alat penunjang fungsi organ, infus, obat
vasoaktif/inotropic, obat anti aritmia. Sebagai contoh pasien pasca bedah kardiotoraksis,
sepsis berat, gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit yang mengancam nyawa.

2. Golongan pasien prioritas 2


Golongan pasien memerlukan pelayanan pemantauan canggih di ICU, sebab sangat beresiko
bila tidak mendapatkan terapi intensif segera, misalnya pemantauan intensif menggunakan
pulmonary arterial catheter. Sebagai contoh pasien yang mengalami penyakit dasar jantung-
paru, gagal ginjal akut dan berat atau pasien yang telah mengalami pembedahan mayor.
Terapi pada golongan pasien prioritas 2 tidak mempunyai batas karena kondisi mediknya
senantiasa berubah.

3. Golongan pasien priorotas 3


Pasien golongan ini adalah pasien kritis, yang tidak stabil status kesehatan sebelumnya, yang
disebabkan penyakit yang mendasarinya atau penyakit akutnya, secara sendirian atau
kombinasi. Kemungkinan sembuh dan atau manfaat terapi di ICU pada golongan ini sangat
kecil. Sebagai contoh ntara lain pasien dengan keganasan metastatic disertai penyulit infeksi,
pericardial tamponande, sumbatan jalan nafas, atau pesien penyakit jantung, penyakit paru
terminal disertai kmplikasi penyakit akut berat. Pengelolaan pada pasien golongan ini hanya
untuk mengatasi kegawatan akutnya saja, dan usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan
intubasi atau resusitasi jantung paru.

4. Pengecualian
Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan kepala ICU, indikasi masuk pada
beberapa golongan pasien bisa dikecualikan dengan catatan bahwa pasien golongan demikian
sewaktu-waktu harus bisa dikeluarkan dari ICU agar fasilitas terbatas dapat digunakan untuk
pasien prioritas 1,2,3. Sebagai contoh: pasien yang memebuhi kriteria masuk tetapi menolak
terapi tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi perawataan yang aman saja, pasien
dengan perintah “Do Not Resuscitate”, pasien dalam keadaan vegetative permanen, pasien
yang ddipastikan mati batang otak namun hanya karena kepentingan donor organ, maka
pasien dapat dirawat di ICU demi menunjang fungsi organ sebelum dilakukan pengambilan
orga untuk donasi.

 Kriteria Keluar
1. Penyakit pasien telah membaik dan cukup stabil, sehingga tidak memerluka terapi
atau pemantauan yang intensif lebih lanjut.
2. Secara perkiraan dan perhitungan terapi atau pemantauan intensif tidak bermanfaat
atau tidak memberi hasil yang berarti bagi pasien. Apalagi pada waktu itu pasien tidak
menggunakan alat bantu mekanis khusus (Kemenkes RI, 2011).
2.8.4. KLASIFIKASI PELAYANAN ICU

Dalam menyelenggarakan pelayanan, pelayanan ICU di rumah sakit dibagi dalam 3 (tiga)
klasifikasi pelayanan, yaitu:

1. Pelayanan ICU Primer (Standar Minimal) Rumah sakit tipe C


Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolaan resusitatif segera untuk
pasien sakit gawat, tunjangan kardio-respirasi jangka pendek, dan mempunyai peran
penting dalam pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang
berisiko. Dalam ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler
sederhana selama beberapa jam.
2. Pelayanan ICU Sekunder (menengah) Rumah sakit tipe B
Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi, yang
mendukung peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan, misalnya kedokteran
umum, bedah, pengelolaan trauma, bedah saraf, bedah vaskular dan
lain-lainnya. ICU hendaknya mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis
lebih lama dan melakukan dukungan/bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu
kompleks.

3. Pelayanan ICU tersier (tertinggi) Rumah sakit tipe A


Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU, memberikan
pelayanan yang tertinggi termasuk dukungan/ bantuan hidup multi-sistem yang kompleks
dalam jangka waktu yang tak terbatas. ICU ini melakukan ventilasi mekanis, pelayanan
dukungan/ bantuan renal ekstrakorporal dan pemantauan kardiovaskular invasif dalam
jangka waktu yang terbatas dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik. 1,2
2.8.5. RUANG LINGKUP PELAYANAN ICU

Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU adalah sebagai berikut:

1. Diagnosis dan penantalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam


nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari
2. Memberikan bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan
penatalaksanaaan spesifik problema dasar
3. Pemantauan fungsi vital tubuh terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit atau
iatrogenik
4. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang kehidupannya sangat bergantung pada
alat/ mesin dan orang lain. 1,2
BAB III
PEMBAHASAN

Role play aplikasi komunikasi terapeutik pada pasien ICU


Nama-nama pemeran
Lulut Oktavia : Dokter
Wahyu Pratita : Perawat senior
Nadia N : Keluarga pasien (Ibu)
Dimas : Keluarga pasien (Adek)
Irre Rissa : Pasien
Ariska Mira : Perawat junior
Berliana : Keluarga pasien (Tante I)
Dwi Wahyuningrum : Keluarga pasien (Tante II)

Setting 1
Di ruang keperawatan terdapat sebuah meja dan dua buah kursi dengan tumpukan buku di
atas meja. Diruang tersebut terdapat seorang perawat senior berusia 23 tahun sedang menulis
dibuku catatan keperawatan, kemudian seorang perawat praktek dengan name take yang
berwarna merah datang dengan wajah lugunya sesaat keduanya bercakap-cakap.
Perawat junior : Assalamu’alaikum.... (Tersenyum kearah perawat senior)
Perawat senior : Wa’alaikumsalam. (Dengan suara ketus) Dek, kamu lagi ada tugas?
Perawat junior : Kebetulan tidak ada mbak.
Perawat senior : Kalau begitu sekarang kamu masuk ke ruang ICU, disana ada pasien yang
harus diberi obat karena jadwalnya dia di injeksi obat.
Perawat junior : Iya mbak. (Sambil ngangguk)
Perawat senior : Bisa dek? (Ketus) Sekalian belajar (Mengangkat alis)
Perawat junior : Iya mbak. (Mengangguk)
Perawat senior : Kamu tahu, dimana mengambil peralatan?
Perawat junior : Iya mbak saya tahu.
Perawat senior : Kamu lihat dulu status pasien di ruang keperawatan.(Jari telunjuk
menunjukkan disebuah lemari) Dan ingat jangan sampai keliru, paham kamu!
Perawat junior : Paham mbak.
Perawat senior : Berani dek.
Perawat junior : Iya mbak.
Perawat senior : Ya, sudah cepat sekarang!
Perawat junior : Ya, mbak permisi.
Perawat senior : Iya.
Dengan wajah mengkerut perawat junior pergi meninggalkan perawat seniornya dan mulai
mempersiapkan peralatan, kemudian menuju ruang ICU.

Setting 2.
Diruangan ICU terdapat sederet tempat tidur dengan salah satunya berbaring pasien yang
bernama amin dengan diagnosa medis gagar otak stadium IV. Terlihat Ibu Dila sesekali
mengusap dadanya seperti berdo’a untuk kesembuhan anaknya dari luar ruangan sedangkan
adek Indah terus memandangi kakak yang terbaring ditempat tidur.
Perawat junior : Selamat pagi bu, dek! (Tersenyum kearah ibu pasien)
Ibu + Adek : Selamat pagi, mbak! (Tersenyum kearah perawat)
Perawat junior : Begini saya disini ingin memberi obat kepada dek amin, tapi melalui injeksi
sekalian mau dilakukan pemeriksaan.
Adek : Injeksi apa itu mbak? Terus obatnya rasa apa?
Ibu : Sudah-sudah jangan tanyak lagi, mbaknya mau memeriksa mas mu!
Perawat junior : Injeksi itu disuntik, dek. (Sambil tersenyum). Saya permisi bu, dek!
Ibu +Adek : Iya mbak, silahkan.
Kemudian masuklah perawat junior ke ruang ICU dengan peralatan yang dia bawa dengan
bersikap ramah terhadap pasien. Sesekali pasien hanya mengeluarkan suara Heegg-Heeg
berulang- ulang seperti mendengkur ketika dilakukan injeksi obat dan pemeriksaan tanda-
tanda vital.

FASE ORIENTASI
Perawat junior : Selamat pagi, dek!
Perawat junior : Saya perawat Ariska. Saya akan meberikan obat melalui injeksi, insaallah
obat ini dapat membuat adek lebih baik.
Perawat junior : Permisi ya dek.!

FASE KERJA
Perawat junior : Alhamdulillah, sudah selesai.! Sekarang suster mau memeriksa adek.
Setelah dilakukannya pemeriksaan, perawat junior menjadi panik, karena alhasil kondisi
pasien lambat laun semakin lemah. Secepat mungkin perawat junior menghubungi perawat
senior di ruang keperawatan, berharap ada bantuan untuk pasien ini.
Perawat junior : Mbaaak...mbaak (Tergesa-gesa menuju ruang keperawatan)
Perawat senior : Ada apa?
Perawat junior : Mbak, pasien atas nama amin kondisinya semakin memburuk. Gimana ini
mbak.?
Perawat senior : Yang bener kamu. Sudah saya hubungi dokter Lulut.
Berselang tiga menit dari laporan perawat junior ke perawat senior dan dari perawat senior ke
dokter ilham, ketiganya pun sudah berada di ruang ICU melakukan pertolongan, sekiranya
pasien atas nama amien dapat diselamatkan.
Dokter : Tolong alat pemacu jantung dan peralatan lainnya disiapkan.
Perawat senior : Iya dok, sudah siap.
Dokter : Bismillahirrahmannirrahim. Kita coba sekali lagi.
Setelah dilakukan tindakan kepada pasien. Dokter hanya bisa menggelengkan kepala dan
menyatakan pasien tidak dapat tertolong.
Dokter : (Menggelengkan kepala).
Perawat junior : Bagaimana dok?
Dokter : Innalillahi wa innalillahi rojhi’un. Pasien ini tidak dapat diselamatkan nyawanya.
Perawat junior : Terus bagaimana selanjutnya, dok?
Dokter : Segera kabari keluarga pasien, dan semoga keluarga yang ditinggalkan dapat tegar.
Perawat junior : Baik dok.
Perawat junior pergi keluar bersama perawat senior menemui keluarga pasien yang pada saat
itu ibu pasien menangis khawatir putranya tidak dapat tertolong, dengan ditemani anaknya
yang bernama indah.
Perawat j + s : (Keluar dari ruangan)

FASE TERMINASI
Ibu : Bagaimana sus keadaan anak saya? (Tersengah-sengah seraya sambil menangis)
Perawat senior : Maaf ibu, kami dan semua tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin
untuk menyelamatkan anak ibu, tetapi tidak berhasil.
Anak dari keluarga pasien terkejut kemudian pingsan pada saat itu juga sang perawat junior
merangkulnya. Pada saat bersamaan tante pasien yang bernama tante rensi dan tante sofi
datang menjenguk. Keluarga mereka yang baru datang ikut bersedih akan kejadian ini, sesaat
mereka berbagi duka dan dukungan.
Tante berliana : Astagfirullah dah.! (Terkejut)
Tante dwi: Kamu kenapa nak? (Sambil meneteskan air mata)
Perawat junior : Biar saya bawa, ke tempat duduk sebelah sana, bu?
Tante berliana : Mbak yu, apa yang terjadi?
Ibu : (Hanya mengerang mengeluh sakit ditinggal anak pertamanya)
Perawat senior : Begini ibu, kami dan tim medis sudah upayakan semaksimal mungkin.
Akan tetapi yang maha kuasa sudah berkehendak lain. Sabar ya ibu.
Tante berliana: Ya allah, mbak yu yang besar.!
Tante dwi : Sabar mbak, yu!
Keluarga pasien menangis histeris, sesaat jenazah pasien diantarkan ke ruang mayat oleh
perawat junior dan perawat senior.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Adapun yang dapat disimpulkan dari pembahasan yang dipaparkan adalah:
Pasien dengan gangguan kesadaran merupakan suatu proses kerusakan fungsi otak
yang berat dan dapat membahayakan kehidupan.
2. Pada pasien yang tidak sadar bersifat tidak responsif, tetapi masih dapat merasakan
rangsangan. Pendengaran sebagai sensasi terakhir yang hilang dengan
ketidaksadaran dan yang menjadi pertama berfungsi.
3. Karakteristik komunikasi dengan pasien yang tidak sadar adalah tidak adanya umpan
balik (feed back).
4. Fungsi dari komunikasi dengan pasien yang tidak sadar adalah sebagai
perkembangan motivasi, pengungkapan emosional dan sebagai informasi.
5. Dimensi yang membantu dalam berkomunikasi diantaranya rasa percaya, empati,
perhatian, autonomi dan mutualitas.
6. Teknik berkomunikasi dengan pasien yang tidak sadar meliputi menjelaskan,
memfokuskan, memberi informasi dan mempertahankan ketenangan.
7. Komunikasi dengan pasien yang tidak sadar merupakan komunikasi satu arah dan
memiliki prinsip-prinsip yang harus diterapkan.
4.2. Saran
Bidang komunikasi interpersonal telah mendapat perhatian dari para pendidik perawat,
namun usaha untuk lebih meningkatkan pembelajaran mengenai komunikasi pada tingkat
verbal-terbuka serta pesan-pesan non verbal harus lebih ditingkatkan lagi. Dalam tindakan-
tindakan komunikasi interpersonal, terdapat kebutuhan untuk mempertimbangkan konteks
sosial yang lebih luas, karakteristik sosial dari pengirim dan penerima komunikasi dan
struktur kekuasaan diantara orang-orang yang terlibat.
DAFTAR PUSTAKA

Riswandi (2009), Ilmu Komunikasi, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Universitas Mercu Buana,
Yogyakarta, Bab I Hal. 1

Wiryanto (2004), Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Bab II. Hal 28

Mungin, B (2008), Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi


Komunikasi di Masyarakat, PT. Kencana, Jakarta, Bab III Hal. 57

Suryani.(2005). Komunikasi Terapeutik; Teori dan Praktik. Jakarta: EGC

Potter, Patricia A. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4.
Jakarta: EGC

Pastakyu (2010), Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar,

http://hasiholandevil.blogspot.com/2011/11/berkomunikasi-dengan-pasien-tidak-sadar.html