Вы находитесь на странице: 1из 20

MANUSKRIP

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR FEMUR


DENGAN MASALAH HAMBATAN MOBILITAS FISIK
DI RUANG BEDAH RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA

Oleh :
FENNY LARASATI
NIM. P27820113020

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO
2016
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR FEMUR
DENGAN MASALAH HAMBATAN MOBILITAS FISIK
DI RUANG BEDAH RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA

NURSING CARE FOR FEMUR FRACTURE CLIENTS WITH PHYSICAL


MOBILITY HINDRANCE IN SURGERY ROOM OF DR. SOETOMO HOSPITAL
SURABAYA

Fenny Larasati
Program Studi Diii Keperawatan Kampus Soetomo Poltekkes Kemenkes
Surabaya
e-mail: fenylarasati01@gmail.com

ABSTRACT

Knowledge and technology industry development has affected the increase


of society’s mobility. This condition causes the increase of traffic accidents.
Traffic accidents frequently make someone get bone injury or fracture. Fracture is
an disconnected bone continuity, and the acuteness of the fracture is based on
injury type and area. Fracture can occur to all of body parts as femur facture can.
The objectives of this research are to deeply study and comprehend nursing care
for femur fracture clients with physical mobility hindrance in surgery room of dr.
soetomo hospital surabaya.
This research uses descriptive method in which the author uses case study
to do nursing care for femur fracture clients with physical mobility hindrance
surgery room of Dr. Soetomo Hospital Surabaya. Two diagnosed clients who
suffer from femur fracture and get medical treatment in the surgery room were
taken as research samples. The data collection methods are by having interview,
physical check, and supporting check. The data collection instrument used in this
research is the nursing care based on terms used in Diploma III Nursing major, at
Soetomo campus Surabaya and Operational Implementation Standard of the
surgery room.
According to data analysis, client 1 and client 2 underwent hindrance in
doing some movements. Theraphy diagnosis that emerges is the hindrance of
physical mobility related to the fracture in bone structure and restrictive theraphy
or immobility. Theraphy arrangement is adjusted to the client’s condition. The
implementation is done based on the client’s response towards given theraphy.
Besides, clients’ strong motivation and family support are impactful for the
success of given theraphy. Evaluation is done formatively and sumatively
according to each client’s response.
It is suggested that health practicioners improve the knowledge of nursing
care implementation for physical hindrance mobility in clients with femur fracture
to avoid the impacts of physical hindrance mobility either in surgery room of
Soetomo Hospital or society.
Keywords: Nursing Care, Femur Fracture, Physical Hindrance Mobility
ABSTRAK

Oleh : Fenny Larasati

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri


berdampak pada peningkatan mobilitas masyarakat. Kondisi ini menyebabkan
peningkatan kejadian kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas sering kali
menyebabkan cidera tulang atau disebut fraktur. Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat terjadi
pada semua bagian tubuh salah satunya adalah fraktur femur. Fraktur femur
adalah terputusnya kontinuitas tulang pada bagian paha. Penelitian ini bertujuan
untuk mempelajari dan memahami secara mendalam mengenai asuhan
keperawatan pada klien fraktur femur dengan masalah hambatan mobilitas fisik di
ruang Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk
studi kasus yang bertujuan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien fraktur
femur dengan masalah hambatan mobilitas fisik di ruang Bedah RSUD Dr.
Soetomo Surabaya. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah dua orang yang
didiagnosis fraktur femur dan dirawat di ruang Bedah. Metode pengambilan data
yang dilakukan adalah dengan wawancara, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah format asuhan
keperawatan sesuai ketentuan yang berlaku di Prodi DIII Keperawatan Kampus
Soetomo Surabaya dan SOP ruang Bedah.
Berdasarkan hasil analisa data dari hasil pengkajian klien 1 dan klien 2
mengalami keterbatasan dalam melakukan pergerakan. Diagnosis keperawatan
yang muncul adalah hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
struktur tulang dan terapi restriktif atau imobilisasi. Perencanaan dalam
pelaksanaan terapi menyesuaikan dengan kondisi klien. Pelaksanaan dilakukan
berdasarkan respon klien terhadap terapi yang diberikan. Selain itu motivasi yang
kuat dari klien dan dukungan dari keluarga untuk keberhasilan program terapi
yang diberikan. Evaluasi dilakukan secara formatif dan sumatif sesuai dengan
respon masing-masing klien.
Diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan pengetahuan
terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan hambatan mobilitas fisik pada klien
dengan fraktur femur untuk mencegah terjadinya dampak dari hambatan
mobilitas fisik di ruang Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya maupun di
masyarakat.

Kata kunci : Asuhan Keperawatan, Fraktur Femur, Hambatan Mobilitas Fisik


PENDAHULUAN 167.635 kejadian, dengan kematian
Seiring dengan perkembangan mencapai 25.157 orang, 29.347
ilmu pengetahuan dan teknologi orang mengalami luka berat, dan
industri berdampak pada peningkatan 113.131 orang mengalami luka
mobilitas masyarakat. Kondisi ini ringan. Sedangkan pada tahun 2013
menyebabkan peningkatan kejadian jumlah kecelakaan di jalan mencapai
kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan 101.037 kejadian, dengan demikian
lalu lintas merupakan pembunuh pada tahun 2013 rata-rata 3 orang
nomor tiga di Indonesia setelah meninggal setiap jam akibat
penyakit jantung dan stroke. kecelakaan lalu lintas.
Kecelakaan lalu lintas menyebabkan Hasil Riset Kesehatan Dasar
kematian ±1,25 juta orang setiap (RISKESDAS) oleh Badan
tahunnya, salah satu dari penyebab Penelitian dan Pengembangan
kematian adalah fraktur, dimana Depkes RI tahun 2007 di Indonesia
sebagian besar korbannya adalah terjadi kasus fraktur yang disebabkan
remaja atau dewasa muda. Fraktur oleh cedera antara lain karena jatuh,
adalah terputusnya kontinuitas tulang kecelakaan lalu lintas dan trauma
yang ditentukan sesuai jenis dan benda tajam/tumpul. Jumlah total
luasnya (Smeltzer & Bare, 2001). peristiwa terjatuh adalah 45.987 yang
Fraktur dapat terjadi pada semua mengalami fraktur sebanyak 1.775
bagian tubuh salah satunya adalah orang (3,8%), dari 20.829 kasus
fraktur femur. Fraktur femur adalah kecelakaan lalu lintas yang
terputusnya kontinuitas tulang pada mengalami fraktur sebanyak 1.770
bagian paha (femur) akibat dari orang (8,5%), dari 14.127 trauma
rudapaksa, trauma, dan kecelakaan benda tajam/tumpul yang mengalami
(Long, 2000). fraktur sebanyak 236 orang (1,7%).
Menurut World Health Menurut laporan penelitian
Organization (WHO, 2010), kasus Moesbar (2007), kejadian fraktur
fraktur terjadi di dunia kurang lebih periode tahun 2005 sampai dengan
13 juta orang pada tahun 2008 2007 terdapat 864 kasus fraktur
dengan angka prevalensi sebesar akibat kecelakaan lalu lintas yang
2,7%. Sementara pada tahun 2009 datang berobat ke rumah sakit. Dari
terdapat kurang lebih 18 juta orang jumlah tersebut yang mengalami
mengalami fraktur dengan angka patah tulang pada anggota gerak
prevalensi 4,2%. Tahun 2010 bawah dari sendi panggul sampai ke
meningkat menjadi 21 juta orang jari kaki yaitu 549 kasus (63,5%),
dengan angka prevalensi 3,5%. kemudian anggota gerak atas dari
Terjadinya fraktur tersebut termasuk sendi bahu sampai ke jari tangan
didalamnya insiden kecelakaan, sejumlah 250 kasus (28,9%) diikuti
cedera olahraga, bencana kebakaran, daerah tulang panggul sejumlah 39
bencana alam dan lain sebagainya kasus (4,5%) dan tulang belakang
(Mardiono, 2010 dalam Novita, sejumlah 26 kasus (3,1%).
2012). Berdasarkan angka tersebut dapat
Dari data Kepolisian Republik disimpulkan bahwa bagian tubuh
Indonesia (2013), pada tahun 2012 yang paling rentan mendapat patah
jumlah kecelakaan di jalan mencapai tulang terutama akibat kecelakaan
lalu lintas adalah anggota gerak gangguan pada aktivitas individu
bawah. dimana rata-rata individu tidak
Data rekam medik Rumah Sakit bekerja atau tidak sekolah selama 30
Daerah Dr. Soetomo Surabaya Jawa hari, dan mengalami keterbatasan
Timur, fraktur menempati morbiditas fisik atau aktivitas selama 107 hari.
10 penyakit terbanyak rawat inap Dalam tatanan pelayanan
bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya kesehatan di Rumah Sakit ada dua
Jawa Timur dari tahun 2010-2015. cara penanganan fraktur, yaitu
Dimana dari 10 besar fraktur, fraktur dengan pemBedahan (operatif) atau
femur menempati urutan teratas tanpa pemBedahan (koservatif).
dengan rata-rata 13 kasus per bulan Metode operatif dilakukan dengan
pada tahun 2015 di ruang Bedah F. reduksi. Reduksi merupakan
Sedangkan pada bulan April 2016 prosedur yang sering dilakukan
terdapat 15 kasus fraktur femur dari untuk mengoreksi fraktur, salah
jumlah 30 kasus fraktur yang dirawat satunya adalah dengan pemasangan
di ruang Bedah F RSUD Dr. fiksasi internal dan fiksasi eksternal
Soetomo Surabaya. Dimana 15 orang melalui proses operasi, sedangkan
atau seluruhnya mengalami masalah metode konservatif dengan bidai
hambatan mobilitas fisik. eksterna (gips), dan reduksi tertutup
Terdapat banyak masalah (traksi) (Smeltzer & Bare, 2001).
kebutuhan dasar yang ditimbulkan Penanganan pada klien patah
dari fraktur. World Health tulang paha (fraktur femur) bertujuan
Organization (WHO, 2007), untuk mengembalikan aktifitas
menyebutkan bahwa fraktur fungsional semaksimal mungkin
menyebabkan klien mengalami untuk menghindari atropi atau
ketidakmampuan (disability), kontraktur (Mansjoer, 2007).
ketidakmandirian dan mengalami Keperawatan merupakan bagian
hambatan mobilitas fisik. Fraktur integral dari pelayanan kesehatan
femur terjadi jika tulang femur yang memegang peranan penting
dikenai stress yang lebih besar dari dalam memenuhi kebutuhan klien
yang dapat diabsorpsinya. Saat dan keluarga secara
tulang patah, jaringan sekitarnya biopsikososiospiritual dan kultural.
akan terpengaruh, sehingga akan Perawat berperan dalam pemberian
mengakibatkan edema jaringan asuhan keperawatan pada fraktur
lunak, perdarahan ke otot dan sendi, femur diantaranya dengan beberapa
dislokasi sendi, ruptur tendon, usaha yakni promotif, preventif,
kerusakan saraf dan kerusakan kuratif, dan rehabilitatif. Usaha
pembuluh darah. Kerusakan fragmen promotif yaitu dengan memberikan
tulang femur ini dapat menyebabkan pendidikan kesehatan tentang
hambatan mobilitas fisik dan diikuti pentingnya menjaga keamanan dan
dengan spasme otot paha yang keselamatan diri. Usaha preventif
menimbulkan deformitas khas pada yakni perawat menjelaskan cara
paha yaitu, pemendekan tungkai mencegah dampak yang timbul dari
bawah (Muttaqin, 2011). Menurut imobilisasi serta cara pencegahan
Aukerman (2008), dampak dari infeksi lanjut yang ditimbulkan oleh
fraktur femur menyebabkan adanya tindakan pemBedahan. Usaha kuratif
yakni perawat berkolaborasi dengan skeletal, klien tidak mengalami
dokter dalam pemberian terapi obat, komplikasi penyakit lain, bersedia
pemBedahan dan dengan fisioterapis menjadi responden.
dalam menyusun program aktivitas Pengolahan data yang akan
fisik. Sedangkan usaha rehabilitatif dilakukan meliputi:
yakni perawat menganjurkan kepada 1. Penelitian ini diawali dengan
klien untuk sesegera mungkin pemilihan kasus atau masalah
melakukan mobilisasi secara yang akan dijadikan topik
bertahap. penelitian. Peneliti memilih
Mengingat kompleksnya masalah kasus Fraktur Femur sehingga
mulai dari awal terjadinya fraktur topik penelitian ini berjudul
femur sampai tahap rehabilitasi, serta “Asuhan Keperawatan pada
adanya dampak keterbatasan Klien Fraktur Femur dengan
pergerakan fisik atau aktivitas yang Masalah Hambatan Mobilitas
ditimbulkan dari fraktur femur, maka Fisik di ruang Bedah B
penulis tertarik untuk melakukan (Bougenvil) RSUD Dr. Soetomo
perawatan klien dengan “Asuhan Surabaya”. Kasus Fraktur Femur
Keperawatan pada Klien Fraktur dipilih sesuai dengan kriteria
Femur dengan Masalah Hambatan penentuan masalah yang
Mobilitas Fisik di Ruang Bedah diuraikan pada bab Pendahuluan
RSUD Dr. Soetomo Surabaya”. sub-bab latar belakang masalah.
Selanjutnya menyusun proposal
BAHAN DAN CARA penelitian yang menguraikan
PENELITIAN tentang tinjauan pustaka dan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang
metode penelitian deskriptif dalam digunakan.
bentuk laporan studi kasus dengan Kemudian peneliti mengajukan
pendekatan proses keperawatan. proposal penelitian kepada
Proses keperawatan merupakan pembimbing. Setelah mendapat
metode pemberian asuhan persetujuan dari pembimbing,
keperawatan yang bersifat ilmiah, diadakan ujian proposal untuk
sistematis, dinamis, dan terus- menentukan apakah usulan
menerus serta berkesinambungan penelitian dapat dilanjutkan
yang terdiri dari 5 tahap, meliputi dengan kegiatan pengumpulan
pengkajian, diagnosa keperawatan, data penelitian. Setelah proposal
perencanaan, pelaksanaan dan penelitian disetujui tahap
evaluasi. selanjutnya adalah peneliti
Pada penelitian studi kasus ini yang mengajukan proposal dan surat
menjadi subyek penelitian adalah dua ijin penelitian ke Bidang Diklat
klien fraktur femur dengan masalah Penelitian dan Pengembangan
hambatan mobilitas fisik yang RSUD Dr. Soetomo Surabaya
dirawat di ruang Bedah RSUD. Dr. untuk memperoleh ijin
Soetomo Surabaya dengan kriteria melakukan praktek keperawatan
klien Perempuan, usia 11- ≤ 45 dalam rangka penelitian.
tahun, klien mengalami hambatan Kemudian surat balasan dari
mobilitas fisik, klien terpasang traksi Bidang Diklat Penelitian dan
Pengembangan diberikan kepada meninta persetujuan dengan
SMF Orthopedi RSUD Dr. memberikan surat persetujuan
Soetomo Surabaya. Setelah atau informed consent.
mendapatkan surat balasan dari 3. Data penelitian dikumpulkan
SMF Orthopedi dan dengan menggunakan metode
mendapatkan dokter wawancara dengan klien dan
pembimbing, selanjutnya adalah keluarga, menggunakan catatan
melakukan konsultasi dengan rekam medis, pengukuran tanda-
dokter pembimbing yang tanda vital, observasi umum
kemudian menghasilkan keadaan klien, penkajian fisik
perubahan pada judul proposal meliputi inspeksi, palpasi, perkusi
menjadi “Asuhan Keperawatan maupun auskultasi.
pada Klien Fraktur Femur 4. Instrumen pengumpulan data studi
dengan Masalah Hambatan kasus ini menggunakan Lembar
Mobilitas Fisik di ruang Bedah observasi atau format pengkajian
RSUD Dr. Soetomo Surabaya”. asuhan keperawatan, alat tulis,
Setelah melakukan revisi alat pelindung diri, meliputi:
proposal, tahap selanjutnya sarung tangan, masker, dan jas
adalah mengajukan surat balasan laboratorium, alat pengukuran
dari SMF Orthopedi dan surat tanda-tanda vital, meliputi: jam
ijin penelitian ke IRNA Bedah. tangan, termometer, dan
Setelah mendapatkan surat ijin sphignomanometer, alat
dari IRNA Bedah untuk pemeriksaan fisik, meliputi: martil
melakukan pengambilan data di reflek, penlight, stetoskop.
ruangan, maka penelitian 5. Analisis data diawali dengan
dilaksanakan pada tanggal 04 kegiatan membaca dan memahami
April 2016 sampai dengan 27 keseluruhan informasi yang sudah
April 2016 di ruang Bedah F didapatkan dari data primer
RSUD Dr. Soetomo Surabaya maupun sekunder. Setelah data
dan dilanjutkan penulisan dikumpulkan dari hasil
laporan penelitian sesuai dengan wawancara, pengamatan
ketentuan yang berlaku. (observasi), pemeriksaan fisik dan
2. Langkah awal pengumpulan data pengukuran fisiologis, maka data
adalah mengetahui calon subyek akan dikelompokkan ke dalam
penelitian dengan data subyektif dan data obyektif
mengedepankan pada kriteria dalam bentuk tabel analisa data.
inklusi unit analisis. Setelah Data yang dikumpulkan
mendapatkan subyek penelitian selanjutnya dianalisis untuk
yang dikehendaki yaitu klien menentukan masalah
fraktur femur dengan masalah keperawatan yang dihadapi
hambatan mobilitas fisik didapat subyek penelitian. Data subyektif
dari melihat diagnosa medis menunjukkan persepsi dan sensasi
pada status rekam medis klien, klien terkait dengan masalah
selanjutnya menjelaskan kesehatannya. Data subyektif
maksud dan tujuan penelitian merupakan informasi yang
kepada klien atau keluarga dan disampaikan klien kepada perawat
selama wawancara yang disebut Tabel 4.1 Anamnesis klien fraktur
juga sebagai gejala (symptom). femur dengan hambatan mobilitas
Data obyektif didasarkan pada fisik pada bulan April 2016 di
fenomena yang dapat diamati ruang Bedah F RSUD Dr. Soetomo
secara faktual. Dengan kata lain Surabaya (Terlampir)
data tersebut dapat diamati dan Data pada tabel 4.1 Dari data
diukur melalui alat indera perawat diatas didapatkan keluhan utama
disebut juga sebagai tanda (sign). kedua klien yakni keterbatasan dalam
6. Setelah membuat tabel analisa melakukan pergerakan atau
data, kemudian merumuskan pergerakannya terbatas.
diagnosa keperawatan dan Tabel 4.2 Pemeriksaan fisik klien
membuat rencana tindakan fraktur femur dengan hambatan
keperawatan. Pada tahap mobilitas fisik pada bulan April 2016
perencanaan, terdiri dari tujuan, di ruang Bedah F RSUD Dr.
kriteria hasil dan intervensi Soetomo Surabaya (Terlampir)
tindakan. Setelah menentukan Pada pemeriksaan sistem
intervensi, selanjutnya melakukan persarafan, pada kedua klien
implementasi keperawatan sesuai didapatkan bisep ka/ki baik, trisep
dengan intervensi yang sudah ka/ki baik, sedangkan reflek patella
direncanakan. Kemudian peneliti didapatkan klien 1 reflek patella
menuliskan evaluasi dari tindakan kanan baik, kiri imobilisasi terpasang
keperawatan terhadap klien dalam traksi skeletal, pada klien 2 reflek
bentuk SOAP yang terdiri dari patella kiri baik, kanan imobilisasi
data subyektif, data obyektif, terpasang traksi skeletal. Kedua klien
assesment (penilaian) dan tidak merasakan nyeri pada paha
planning (rencana tindak lanjut), kirinya yang mengalami patah
guna mengetahui keberhasilan tulang.
asuhan keperawatan yang telah Pada sistem muskuloskeletal,
diberikan, juga membandingkan kedua klien mengalami close fraktur
antara kasus dengan kasus, dan femur 1/3 medial. Namun lokasinya
kasus dengan teori dari berbeda klien 1 mengalami close
pengkajian, diagnosa keperawatan fraktur femur sinistra 1/3 medial,
yang muncul, perencanaan, klien 2 mengalami close fraktur
pelaksanaan dan evaluasi terhadap femur dextra 1/3 medial. Kedua
hasil asuhan keperawatan yang klien terpasang traksi skeletal. Klien
telah dilakukan pada klien fraktur 1 terpasang traksi dengan beban 7
femur dengan masalah hambatan kg, sedangkan klien 2 terpasang
mobilitas fisik. Selanjutnya, data traksi dengan beban 6 kg. Kedua
asuhan keperawatan yang klien memiliki fragmen fraktur
dilakukan pada dua klien tranversal, dan memiliki kekuatan
disajikan dalam bentuk tabel atau otot 1 pada bagian ekstermitas bawah
narasi pada setiap tahap asuhan yang mengalami fraktur. Tidak ada
keperawatan. tanda-tanda komplikasi awal seperti
AVN dan sindroma kompartemen
HASIL pada keduanya.
A. Pengkajian
Tabel 4.3 Pemeriksaan penunjang akibat Kegagalan tulang menahan
klien fraktur femur dengan hambatan tekanan terutama, membengkok,
mobilitas fisik pada bulan April 2016 memutar dan menarik sehingga
di ruang Bedah F RSUD Dr. terjadi kerusakan fragmen tulang
Soetomo Surabaya (Terlampir) femur yang menyebabkan cidera
Dari data pemeriksaan penunjang, jaringan lunak, kerusakan
klien 1 dilakukan pemeriksaan darah neuromuskuler. Kerusakan fragmen
lengkap, kimia klinik, elektrolit, CT- tulang femur inilah yang
Scan dan ront-gen. Sedangkan klien menyebabkan kedua klien
2 dilakukan pemeriksaan darah mengalami hambatan mobilitas
lengkap, kimia klinik, elektrolit, fisik.
pemeriksaan gas darah, CT-Scan dan B. Perencanaan
ront-gen. Pemeriksaan gas darah Tabel 4.5 Perencanaan keperawatan
pada klien 2 dilakukan karena klien klien fraktur femur dengan hambatan
datang di IRD dengan kondisi sesak. mobilitas fisik pada bulan April
A. Diagnosis Keperawatan 2016 di ruang Bedah F RSUD Dr.
Tabel 4.4 Analisa data klien fraktur Soetomo Surabaya (Terlampir)
femur dengan hambatam mobilitas Pada intervensi keperawatan
fisik pada bulan April 2016 di ruang didapatkan kedua klien mendapatkan
Bedah F RSUD Dr. Soetomo program terapi ROM aktif pasif,
Surabaya (Terlampir) latihan nafas sesuai program
Dari tabel analisa data diatas fisioterapis dan perubahan posisi
data subyektif kedua klien adalah secara periodik setiap 2 jam.
keterbatasan dalam melakukan
pergerakan, dengan data obyektif PEMBAHASAN
klien bedrest, kedua klien dengan 4.2 Pembahasan
close fraktur femur sinistra 1/3 4.2.1 Pengkajian
medial pada klien 1 dan close 1. Identitas
fraktur femur sinistra 1/3 medial Pada pengkajian, kasus 1 klien
pada klien 2, terpasang skeletal fraktur femur dialami oleh Nn.V usia
traksi dengan beban 7 kg pada klien 16 tahun, dan kasus 2 dialami oleh
1 dan 6 kg pada klien 2. Fragmen Nn.D usia 17 tahun. Fraktur lebih
fraktur berbentuk transversal, tidak sering terjadi pada laki-laki daripada
ditemukan adanya avaskular perempuan dengan perbandingan 3:1
nekrosis atau AVN pada bagian (Charlene, 2001). Selain itu usia juga
femur yang patah, tidak ada tanda- mempengaruhi terjadinya fraktur,
tanda sindroma kompartemen Kejadian fraktur banyak ditemukan
seperti nyeri, pucat, CRT >2 detik, pada dewasa muda terutama pada
serta tidak adanya sensasi pada laki-laki umur 45 tahun kebawah,
distal kaki dan kelumpuhan tungkai, sedangkan fraktur patologis terjadi
kekuatan otot klien 1 pada pada daerah tulang yang lemah oleh
ekstermitas yang sakit. Kebutuhan karena tumor, osteoporosis,
atau ADL klien dibantu oleh osteomielitis, osteomalasia dan
keluarga dan perawat. rakhitis banyak ditemukan pada
Berdasarkan data diketahui orang tua terutama perempuan umur
bahwa terjadi trauma pada femur 60 tahun keatas (Rasjad, C, 2007).
Berdasarkan data yang diperoleh pola dan kebutuhan tidur klien
kedua klien mengalami fraktur femur (Muttaqin, 2011). Kurangnya
akibat kecelakaan kendaraan aktivitas, kurangnya rangsang sensori
bermotor. Hal ini menunjukkan dan kesendirian menyebabkan klien
bahwa masih ada faktor risiko lain tidak produktif disiang hari dan
yang dapat menyebabkan terjadinya sering tertidur pada saat itu sehingga
fraktur femur selain jenis kelamin dampaknya klien tidak bisa tidur
dan usia yakni olah raga, pekerjaan pada malam hari (Asmadi, 2008).
atau luka yang disebabkan oleh Kedua klien mengalami
kecelakaan kendaraan bermotor keterbatasan pergerakan karena
(Charlene, 2001). adanya fraktur, oleh sebab itu klien
Kedua klien berada pada usia selalu berada dalam posisi berbaring
remaja awal yakni 16 tahun dan 17 ketika tidur. Posisi berbaring dalam
tahun. Usia mempengaruhi jangka waktu yang lama
penyembuhan fraktur dimana waktu menimbulkan ketidaknyamanan
penyembuhan tulang pada anak-anak dalam istirahat dan tidur. Sehingga
lebih cepat daripada orang dewasa. pola tidur klien terganggu.
Hal ini terutama disebabkan karena Pada pola persepsi dan konsep
aktivitas proses osteogenesis pada diri, klien 1 tidak malu dengan
periosteum dan endosteum, serta kondisinya sekarang, sedangkan
proses remodeling tulang (Helmi, klien 2 merasa cemas, malu dengan
2014). kondisinya yang tidak mampu
Berdasarkan pengamatan, jika beraktivitas seperti dulu karena klien
dilihat dari faktor usia kedua klien akan bertemu dengan teman-teman
berpotensi mengalami penyembuhan barunya di Perguruan Tinggi Negeri.
patah tulang lebih cepat daripada Dampak yang timbul pada klien
patah tulang yang terjadi pada fraktur adalah ketakutan akan
dewasa atau pada lansia. Namun, kecacatan akibat fraktur yang
faktor usia saja tidak cukup dialaminya, rasa cemas, rasa
menjanjikan untuk mendapatkan ketidakmampuan melakukan
penyembuhan fraktur yang cepat. aktivitas secara optimal, dan
Kedua klien juga harus memiliki pandangan terhadap dirinya yang
asupan nutrisi yang optimal. Asupan salah (gangguan citra diri) (Muttaqin,
nutrisi dapat memberikan suplai 2011). Rasa cemas, malu dan rasa
kebutuhan protein untuk proses tidak mampu dalam melakukan
perbaikan. Pertumbuhan tulang aktivitas dapat dialami oleh klien
menjadi lebih dinamis bila ditunjang yang mengalami fraktur femur
dengan asupan nutrisi yang optimal. karena klien merasa bahwa ada yang
2. Pola-Pola Fungsi Kesehatan berbeda pada dirinya setelah
Pada pola tidur keduanya merasa mengalami patah tulang. Terutama
tidak nyenyak pada saat tidur dan pada kemampuan tulang yang
sering terbangun dimalam hari, mengalami cidera. Sehingga klien
sedangkan pada siang hari klien cenderung memiliki rasa takut
sering tidur. Semua klien fraktur dipandang sebelah mata oleh orang
merasakan nyeri, keterbatasan gerak, lain karena kondisi fisiknya.
sehingga hal ini dapat mengganggu
Pada kasus 1 klien menjalani Pada sistem pencernaan, klien 1
bedrest, segala kebutuhan dan memiliki suara bising usus 10
aktivitas klien dibantu oleh keluarga x/menit, klien mengalami konstipasi.
dan perawat. Pada kasus 2 klien Sejak klien MRS tanggal 29 Maret
menjalani bedrest, segala kebutuhan 2016 sampai 04 April 2016 klien
dan aktivitas klien dibantu oleh belum BAB. Pada tanggal 04 April
keluarga dan perawat. Klien dengan 2016 klien BAB 4x sehari,
hambatan mobilitas fisik akan konsistensi lembek, dengan bantuan
merasa kesulitan untuk melakukan obat pencahar yakni dulcolax. Klien
aktivitas karena kelemahan dan 2 memiliki suara bising usus
keterbatasan yang dialami, 8x/menit, saat dilakukan pengkajian
kehilangan sensasi atau paralisis, klien belum BAB selama 6 hari.
mudah lelah dan susah untuk Konstipasi dapat terjadi pada klien
beristirahat (Doenges, 2014). yang mengalami imobilisasi, dimana
Kelemahan dan keterbatasan yang jumlah adrenergik yang banyak pada
dialami oleh klien mengakibatkan imobilisasi menghambat peristaltik
ketidakmampuan untuk beraktivitas dan sphincter menjadi kontriksi.
dan memenuhi kebutuhan personal Kondisi ini menyebabkan
hygiene, sehingga untuk activity day menurunnya motilitas
living dan personal hygiene klien gastrointestinal. Faktor lain yang
harus dibantu oleh keluarga dan mendukung terjadinya konstipasi
perawat. adalah kurang gerak, perubahan
3. Pemeriksaan Fisik makanan dan minuman,
Pada pemeriksaan sistem meningkatnya absorbsi air, serta
persarafan, kedua klien didapatkan rendahnya intake cairan dan serat
bisep ka/ki baik, trisep ka/ki baik, (Asmadi, 2008).
sedangkan reflek patella didapatkan Berdasarkan pengamatan pada
klien 1 reflek patella kanan baik, kiri kedua klien, ditemukan bahwa klien
imobilisasi terpasang traksi skeletal, 1 dan klien 2 mengalami konstipasi.
pada klien 2 reflek patella kiri baik, Konstipasi yang dialami oleh klien
kanan imobilisasi terpasang traksi dapat disebabkan karena terbatasnya
skeletal. Klien tidak merasakan nyeri aktivitas klien ditempat tidur dan
pada paha kirinya yang mengalami konsumsi serat serta cairan yang
patah tulang. Pada klien dengan kurang. Klien 1 konsumsi serat
fraktur femur tidak didapatkan sangat kurang, sehingga obat
refleks-refleks patologis (Muttaqin, pencahar diberikan karena adanya
2011). keluhan sakit pada perut klien. Klien
Berdasarkan hasil pengamatan 2 konsumsi serat terpenuhi, rasa sakit
pada sistem persarafan klien tidak pada perut seperti hendak buang air
mengalami gangguan. Tidak besar tidak dirasakan dan obat
terganggunya sistem persarafan ini pencahar tidak diberikan selama 6
dipengaruhi oleh derajat dan sifat hari klien mengalami konstipasi.
fraktur. Sehingga tidak sampai Walaupun konsumsi serat klien 2
menyebabkan adanya ganggguan terpenuhi, namun klien 2 memiliki
pada persarafan klien. asupan cairan yang sedikit. Asupan
cairan juga dapat mempengaruhi
terjadinya konstipasi sehingga pada Tidak ditemukannya komplikasi
hari ke 7 klien diberikan obat awal seperti avaskular nekrosis atau
pencahar karena mengeluh sakit pada AVN dan sindrom kompartemen
perut seperti ingin BAB. pada kedua klien fraktur femur ini.
Pada sistem muskuloskeletal, Selain karena komplikasi tersebut
kedua klien mengalami close fraktur yang hanya terjadi pada bagian
femur 1/3 medial. Namun lokasinya tulang yang dekat dengan
berbeda, klien 1 mengalami close persendian, penanganan yang cepat
fraktur femur sinistra 1/3 medial, dan tepat pada golden periode juga
klien 2 mengalami close fraktur sangat berpengaruh pada terjadi atau
femur dextra 1/3 medial. Tidak ada tidaknya komplikasi awal pada klien
kerusakan kulit atau ulkus, atropi dan fraktur femur.
kontraktur. Kedua klien terpasang Berdasarkan pengamatan kedua
traksi skeletal klien 1 terpasang klien terpasang traksi skeletal dengan
traksi dengan beban 7 kg, sedangkan beban lebih dari 5 kg. Beban pada
klien 2 terpasang traksi dengan traksi skeletal ditentukan dari rumus
beban 6 kg. Selain itu, kedua klien 1/7 x BB. Pada klien 1 memiliki
juga memiliki keadaan yang sama berat badan 48 kg sehingga beban
yakni fragmen fraktur berbentuk traksi yang diberikan adalah 1/7 x 48
transversal, tidak ditemukan adanya kg = 6,8 kg atau 7 kg. Pada klien 2
avaskular nekrosis pada bagian memiliki berat badan 45 kg sehingga
femur yang patah dan tidak ada beban traksi yang didapatkan adalah
tanda-tanda sindroma kompartemen 1/7 x 45 kg = 6,4 kg atau 6 kg.
seperti nyeri, pucat, CRT >2 detik, Salah satu metode pengobatan
serta tidak adanya sensasi pada distal yang digunakan pada fraktur adalah
kaki dan kelumpuhan tungkai. reduksi tertutup dengan traksi
Dari hasil pengamatan kontinue dan counter traksi, tindakan
didapatkan, kedua klien memiliki ini memiliki dua tujuan, yaitu
fragmen fraktur berbentuk tranversal beberapa reduksi yang bertahap dan
akibat trauma kecelakaan kendaraan imobilisasi. Traksi adalah
bermotor. Fraktur transversal adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian
fraktur yang garis patahnya tegak tubuh. Traksi digunakan untuk
lurus (melintang) terhadap sumbu meminimalkan spasme otot, untuk
panjang tulang yang disebabkan mereduksi, menyejajarkan, dan
karena trauma angulasi atau langsung mengimobilisasi fraktur untuk
(Helmi, 2014). mengurangi deformitas dan untuk
Selain itu keduanya tidak ada menambah ruangan di antara kedua
komplikasi awal seperti AVN dan permukaan tulang (Muttaqin, 2011).
sindroma kompartemen. Kedua klien Traksi skeletal gunakan pada klien
mengalami fraktur femur pada dengan fraktur femur apabila
bagian medial. Kondisi sindrom diperlukan traksi yang lebih berat
kompartemen akibat komplikasi dari 5 kg (Muttaqin, 2011).
fraktur hanya terjadi pada fraktur Pemasangan traksi pada klien
yang dekat dengan persendian dan fraktur femur efektif dilakukan untuk
jarang pada bagian tengah tulang mereduksi, mengurangi nyeri,
(Smeltzer & Bare, 2001). mengurangi kelainan bentuk atau
deformitas. Selain itu, pemasangan ditemukan adanya avaskular nekrosis
traksi juga efektif dalam mencapai atau AVN pada bagian femur yang
kesejajaran tulang pada femur. patah, tidak ada tanda-tanda
Terutama untuk menambah ruang sindroma kompartemen seperti nyeri,
diantara kedua permukaan patahan pucat, CRT >2 detik, serta tidak
tulang sehingga siap dilakukan adanya sensasi pada distal kaki dan
operasi pemasangan pen. Berat kelumpuhan tungkai, kekuatan otot
beban pada traksi juga harus 5551, kebutuhan atau ADL klien
disesuaikan dengan umur, kebutuhan dibantu oleh keluarga dan perawat,
beban serta indikasi dari pemasangan klien aktif mengikuti kegiatan latihan
traksi yang dilakukan untuk yang dijadwalkan oleh fisioterapis.
mendapatkan hasil yang optimal. Pada kasus 2 didapatkan data
4.2.2 Diagnosis Keperawatan subyektif klien mengatakan susah
Hambatan mobilitas fisik bergerak dan pergerakannya terbatas.
adalah keterbatasan pada pergerakan Data obyektif yang didapatkan
fisik tubuh atau satu atau lebih adalah klien bedrest, klien dengan
ekstermitas secara mandiri dan close fraktur femur dextra 1/3
terarah (NANDA, 2012). Batasan medial, terpasang skeletal traksi
karakteristik hambatan mobilitas dengan beban 6 kg, fragmen fraktur
fisik adalah waktu reaksi menurun, berbentuk transversal, tidak
sulit membolak-balik posisi, dispneu ditemukan adanya avaskular nekrosis
setelah aktivitas, gerakan bergetar, atau AVN pada bagian femur yang
tremor akibat pergerakan, tidak patah, tidak ada tanda-tanda
mampu melakukan motorik halus sindroma kompartemen seperti nyeri,
dan kasar, perubahan cara berjalan, pucat, CRT >2 detik, serta tidak ada
pergerakan lambat (NANDA, 2012). sensasi pada distal kaki dan
Batasan karakteristik mayor yaitu kelumpuhan tungkai, kekuatan otot
terganggunya kemampuan untuk 5515, kebutuhan atau ADL klien
bergerak di dalam lingkungan dan dibantu oleh keluarga dan perawat,
keterbatasan rentang gerak. Batasan klien tidak aktif mengikuti kegiatan
karakteristik minor yaitu latihan yang dijadwalkan oleh
keterbatasan gerak dan keengganan fisioterapis.
untuk bergerak (Carpenito, 2009). Pada kedua kasus didapatkan
Diagnosis keperawatan: bahwa kedua klien mengalami close
Hambatan mobilitas fisik fraktur femur yang mengakibatkan
berhubungan dengan kerusakan kerusakan fragmen tulang femur
struktur tulang dan terapi restriktif sehingga menyebabkan cidera
atau imobilisasi jaringan lunak, dan kerusakan
Pada kasus 1 didapatkan data neuromuskuler.
subyektif klien mengatakan 4.2.3 Perencanaan
pergerakannya terbatas. Dan data Pada tahap ini dibahas
obyektif klien bedrest, klien dengan perencanaan yang dilakukan kepada
close fraktur femur sinistra 1/3 klien. Perencanaan keperawatan pada
medial, terpasang skeletal traksi klien 1 dan klien 2 hampir sama.
dengan beban 7 kg, fragmen fraktur Berdasarkan diagnosis keperawatan
berbentuk transversal, tidak yang telah dirumuskan, maka
intervensi utama berfokus pada program pembatasan gerak. Apabila
hambatan mobilitas fisik yakni ROM latihan ROM tidak diberikan dan
aktif pasif serta perubahan posisi dilakukan maka akan timbul berbagai
secara periodik setiap 2 jam. masalah lain pada klien sebagai
Pada intervensi keperawatan dampak dari hambatan mobilitas
didapatkan kedua klien mendapatkan fisik atau imobilisasi yang dialami.
program terapi ROM aktif pasif dan Sehingga motivasi dan dukungan
latihan nafas sesuai program keluarga diperlukan agar klien mau
fisioterapis. Latihan rentang gerak dan dapat melakukan latihan ROM
atau ROM dilakukan pada sesuai jadwal dan juga mau
ekstermitas yang sehat dan sakit. melakukan diluar jadwal untuk
Pada ekstermitas yang sakit hanya menghindari dampak dari hambatan
dilakukan pada bagian tungkai dan mobilitas fisik atau imobilisasi.
jari-jari kaki. Latihan ROM klien Selain berfokus pada latihan
dilakukan 2 kali sehari dan diulang- ROM, dalam intervensi hambatan
ulang sebanyak 8 kali. mobilitas fisik juga dilakukan upaya
Rentang gerak (Range of untuk mengatasi atau mencegah
Motion) adalah jumlah pergerakan dampak dari hambatan mobilitas
maksimum yang dapat dilakukan fisik. Walaupun fokus intervensi
pada sendi. Adapun tujuan dari keperawatan pada masalah hambatan
mobilisasi ROM menurut Smeltzer mobilitas fisik adalah latihan ROM,
dan Bare (2001) adalah namun memperhatikan masalah lain
mempertahankan fungsi tubuh dan sebagai dampak dari hambatan
mencegah kemunduran, mobilitas fisik juga perlu dilakukan.
memperlancar peredaran darah, Terutama ketika dilakukan
membantu pernapasan menjadi lebih pengkajian ditemukan salah satu
kuat, mempertahankan tonus otot, dampak hambatan mobilitas seperti
memelihara, dan meningkatkan konstipasi. Sehingga perencanaan
pergerakan dari persendian, serta hambatan mobilitas fisik juga
memperlancar eliminasi alvi dan dilakukan untuk menangani atau
urine. Melakukan latihan ROM dapat mencegah dampak dari hambatan
membantu mempertahankan mobilitas fisik seperti konstipasi
kekuatan otot dan meningkatkan yang terjadi pada klien.
sirkulasi (Kozier, 2010). 4.2.4 Implementasi
Hambatan mobilitas fisik atau Pelaksanaan yang diberikan
imobilisasi dapat menimbulkan kepada kedua klien sesuai dengan
dampak pada semua sistem tubuh perencanaan yang telah dibuat
seperti pada sistem integumen, sebelumnya. Selama pelaksanaan
sistem kardiovaskuler, sistem terdapat perbedaan respon diantara
respirasi, sistem pencernaan, sistem klien 1 dan klien 2. Pada klien 1
perkemihan dan sistem selama 3x24 jam diberikan
muskuloskeletal (Asmadi, 2008). implementasi klien dan keluarga
Perencanaan keperawatan kooperatif dalam program latihan,
latihan ROM sangat dibutuhkan bagi klien melakukan latihan rentang
klien yang mengalami hambatan gerak aktif dan pasif sendiri,
mobilitas fisik akibat fraktur dan keluarga juga sering membantu
dalam melakukan latihan ROM dan dan yang lain. Sehingga latihan
mengubah posisi klien secara ROM dan perubahan posisi secara
periodik setiap 2 jam. Sedangkan periodik setiap 2 jam tidak dilakukan
pada klien 2 selama 3x24 jam dengan baik sesuai jadwal yang
diberikan implementasi, klien hanya ditentukan.
mau latihan ROM dan mengubah Berdasarkan hasil pengamatan
posisi secara periodik setiap 2 jam pada kedua klien dalam pelaksanaan
saat ada perawat atau terapis yang keperawatan klien, klien 1 selalu
membantunya saja. Keluarga klien dijaga oleh ibunya. Sehingga
juga tidak memberikan motivasi dan komunikasi antara petugas kesehatan
dukungan kepada klien dikarenakan terjalin dengan baik dan
kurangnya pemahaman tentang berkesinambungan antara klien dan
program latihan yang diberikan dan ibu klien. Sedangkan pada klien 2
seringnya keluarga klien 2 berganti- dijaga oleh beberapa anggota
ganti menjaga klien, namun setelah keluarga secara bergantian setiap
diberikan 2 kali penjelasan klien dan hari. Informasi yang diberikan oleh
keluarga mau melaksanakan program perawat kepada penjaga pertama
latihan dengan dukungan dan tidak disampaikan ke penjaga
bantuan keluarga. berikutnya sehingga komunikasi
Latihan adalah aktivitas fisik antara petugas kesehatan dengan
untuk mengondisikan tubuh, keluarga tidak terjalin dengan baik
meningkatkan kesehatan dan dan berkesinambungan. Hal ini
mempertahankan kesegaran. Latihan menyebabkan program yang telah
digunakan sebagai terapi untuk direncanakan petugas kesehatan
mengoreksi deformitas dan untuk kesembuhan klien menjadi
mengembalikan tubuh ke kondisi terhambat. Dalam mencapai tujuan
kesehatan yang maksimal (Potter & yang telah direncanakan diperlukan
Perry, 2010). Pengaturan posisi yaitu peran dan dukungan keluarga yang
mengatur posisi klien atau bagian besar. Oleh karena itu, komunikasi
tubuh klien secara hati-hati untuk antara petugas kesehatan dengan
meningkatkan kesejahteraan klien serta keluarga dan komunikasi
fisiologis dan psikologis (Wilkinson antara penjaga klien harus terjalin
& Ahern, 2012). dengan baik.
Menurut data implementasi, Komunikasi terapeutik adalah
pada kasus klien 2 dan keluarga komunikasi yang direncanakan
kurang memahami pentingnya secara sadar, bertujuan dan
latihan gerak aktif maupun pasif atau kegiatannya dipusatkan untuk
latihan ROM, sehingga diperlukan kesembuhan pasien (Fatmawati,
adanya kesamaan pemahaman antara 2010). Komunikasi terapeutik
perawat, klien dan keluarga tentang dengan berbagi perasaan, membantu
program latihan untuk mendukung klien untuk mengekspresikan
kesembuhan klien. Hal ini kecemasannya, memberikan
kemungkinan disebabkan karena dukungan moril dan
klien 2 dijaga oleh beberapa anggota mempertahankan citra diri dapat
keluarga secara bergantian dan tidak dilakukan untuk mengingkatkan
adanya komunikasi antara penjaga 1 kesehatan mental dan mengurangi
emosi (Asmadi, 2008). Melalui yang dijadwalkan oleh fisioterapis,
komunikasi terapeutik, klien belajar tingkat aktivitas atau mobilitas klien
bagaimana menerima dan diterima berada pada tingkat 2 yakni
orang lain. Dengan komunikasi yang memerlukan bantuan atau
terbuka, jujur, menerima klien apa pengawasan orang lain., tidak
adanya, perawat akan meningkatkan terdapat ulkus, kontraktur atau atropi.
kemampuan klien dalam membina Asessment: masalah teratasi
hubungan saling percaya. (Hibdon, sebagian. Planning: intervensi
S., 2000 dalam Suryani, 2005). dilanjutkan sambil menunggu acara
Adanya ketidaksinambungan operasi klien pada tanggal 08 April
komunikasi oleh perawat, klien dan 2016.
keluarga dapat disebabkan karena Pada kasus 2, klien dirawat
kurangnya perawat dalam melakukan selama 8 hari mulai tanggal 20 April
komunikasi terapeutik. Melalui 2016 sampai dengan 27 April 2015.
komunikasi terapeutik akan tercipta Pengkajian dimulai tanggal 25 April
suatu hubungan saling percaya dan 2016. Evaluasi akhir pada tanggal 27
saling terbuka antara perawat, klien April 2016 klien Nn.D 17 tahun
dan keluarga. Hal ini memudahkan dengan diagnosa medis close fraktur
perawat dalam melakukan asuhan femur dextra 1/3 tengah, mengalami
keperawatan yang bertujuan untuk masalah keperawatan hambatan
mencapai derajat kesehatan klien. mobilitas fisik didapatkan data
Sehingga komunikasi terapeutik Subyektif: klien mengatakan masih
perlu dibangun sebelum perawat susah bergerak dan pergerakannya
menggali data tentang klien, apabila terbatas, keluarga mengatakan klien
telah tercapai komunikasi terapeutik mulai melakukan mau melakukan
maka semua hal yang direncanakan latihan sendiri dibantu dengan
untuk kesembuhan klien atau keluarga. Obyektif: klien bedrest,
program terapi klien tidak terhambat. terpasang skeletal traksi dengan
4.2.5 Evaluasi beban 6 kg, ADL klien dibantu,
Pada kasus 1, klien dirawat mobilitas paling tinggi klien:
selama 11 hari mulai tanggal 29 mobilisasi duduk, klien melakukan
Maret 2016 sampai dengan tanggal program latihan yang dijadwalkan
07 April 2016. Pengkajian dimulai tanpa bergantung pada perawat dan
pada tanggal 05 April 2016. Evaluasi melakukannya diluar jadwal, tingkat
akhir pada tanggal 07 April 2016 aktivitas atau mobilitas klien berada
klien Nn.V 16 tahun dengan pada tingkat 2 yakni memerlukan
diagnosa medis close fraktur femur bantuan atau pengawasan orang lain,
sinistra 1/3 tengah, masalah tidak terdapat ulkus, kontraktur atau
keperawatan hambatan mobilitas atropi. Asessment: masalah teratasi
fisik didapatkan data Subyektif: klien sebagian. Planning: intervensi
mengatakan pergerakannya terbatas. dilanjutkan sambil menunggu acara
Obyektif : klien bedrest, terpasang operasi klien.
skeletal traksi dengan beban 7 kg, Untuk mengevaluasi hasil yang
ADL klien dibantu, mobilitas paling diharapkan dan respon terhadap
tinggi klien: mobilisasi duduk, klien asuhan keperawatan, bandingkan
selalu melakukan program latihan hasil yang didapatkan pada klien saat
ini dengan hasil yang diharapkan saat konstipasi dengan
perencanaan, seperti kemampuan mempertahankan asupan makan
klien untuk mempertahankan atau TKTP dan asupan cairan cairan
memperbaiki kesejajaran tubuh, ±2000-3000 ml per hari.
meningkatkan mobilisasi, dan
melindungi klien dari bahaya 4. Pada tahap implementasi
mobilisasi (Potter & Perry, 2010). didapatkan persamaan
Dari uraian diatas didapatkan pemberian program latihan fisik.
bahwa kedua klien dirawat sesuai Tahap implementasi
dengan SOP ruang Bedah F RSUD membutuhkan adanya kedekatan
Dr. Soetomo Surabaya, klien dengan dan kesamaan pemahaman
close fraktur femur minimal antara petugas, keluarga dan
perawatan adalah 14 hari jika klien klien. Adanya rasa empati dan
sudah menjalani operasi maka saling menghargai diperlukan
hambatan mobilitas fisik teratasi. agar tindakan terapeutik dapat
Apabila keadaan klien stabil serta berjalan dengan baik dan
tidak ada keadaan yang mengancam didapatkan hasil yang optimal.
jiwa klien diperbolehkan pulang dan
5. Pada tahap evaluasi, masalah
diberikan discharge planning untuk
hambatan mobilitas fisik kedua
berlatih ROM dan melakukan
klien teratasi sebagian, keduanya
mobilisasi dini dengan tongkat atau
masih terus dilakukan tindakan
kruk.
sesuai dengan intervensi yang
telah dibuat. Sesuai SOP RSUD
KESIMPULAN DAN SARAN
Dr. Soetomo Surabaya klien
Kesimpulan
dengan fraktur femur dilakukan
1. Pada tahap pengkajian didapat
perawatan minimal 14 hari.
bahwa keluhan utama kedua
Klien pulang setelah menjalani
klien adalah keterbatasan dalam
operasi dengan discharge
melakukan pergerakan.
planning untuk melakukan rawat
2. Diagnosis keperawatan utama jalan, dengan kontrol ke poli dan
berdasarkan keluhan utama yang latihan ROM serta melakukan
dirasakan klien serta data mobilisasi sedini mungkin.
obyektif ada pada klien,
Saran
diagnosis keperawatan yang
1. Bagi klien dan keluarga
muncul adalah hambatan
Keluarga klien fraktur femur
mobilitas fisik.
hendaknya selalu
3. Pada klien dengan hambatan mengkomunikasikan program-
mobilitas fisik, perencanaan program terapi klien seperti ROM
lebih ditekankan pada latihan dan perubahan posisi secara periodik
rentang gerak aktif dan pasif setiap 2 jam, kepada keluarga yang
atau latihan ROM dan mengubah lain apabila penjaga klien di rumah
posisi tubuh tiap 2 jam selain itu sakit berganti-ganti. Keluarga klien
perencanaan juga dilakukan fraktur femur diharapkan dapat
untuk mencegah dampak dari memotivasi dan mendukung program
hambatan mobilitas fisik seperti terapi klien sehingga dapat
membantu mempercepat Asmadi, 2008. Teknik Prosedural
kesembuhan klien karena tercapainya Keperawatan Konsep dan
derajat kesehatan klien tidak lepas Aplikasi Kebutuhan Dasar
dari peran dan dukungan keluarga. Klien. Jakarta: EGC.
Selain itu, diharapkan klien
dengan fraktur femur dapat menjaga Aukerman, 2008. Dampak Fraktur
pola hidup sehat, melaksanakan Femur. Diunduh dari
program latihan untuk perbaikan http://emedicine.medscape.co
tulang dan kekuatan otot, berhati-hati m pada tanggal 1 oktober
terhadap risiko jatuh untuk 2015 pukul 17.00 WIB.
menurunkan risiko terjadinya patah Barbara C. Long, 2000. Perawatan
tulang berulang. Medikal Bedah (Suatu
2. Bagi institusi kesehatan Pendekatan Proses
Diharapkan dapat Keperawatan). Bandung:
mempertahankan serta meningkatkan Yayasan IAPK.
perawatan klien dengan fraktur
femur khususnya dalam pengawasan Carpenito, L. J., 2009. Diagnosis
program latihan rentang gerak aktif Keperawatan Aplikasi pada
maupun pasif. Yakni dengan Praktik Klinis. Edisi 9.
memberikan jadwal untuk latihan Jakarta: EGC.
rentang gerak dan mengubah posisi
klien setiap 2 jam, memberikan Corwin, Elizabeth J., 2000. Buku
penyuluhan tentang latihan rentang Saku Patofisiologi. Jakarta:
gerak, serta melakukan pengawasan EGC.
untuk mencegah terjadinya dampak Depkes RI, 2007. Insidens Fraktur.
dari hambatan mobilitas fisik. Diakses dari
Bekerjasama dengan keluarga dalam http:/www.depkes.go.id pada
memberikan motivasi kepada klien tanggal 1 Oktober 2015 pukul
tentang program latihan rentang 16.06 WIB.
gerak. Selalu berikan pujian pada
klien dan keluarga apabila klien dan Doenges, M. E., 2014. Rencana
keluarga kooperatif dan aktif dalam Asuhan Keperawatan
mendukung pelaksanakan program Pedoman untuk Perencanaan
latihan yang telah dijadwalkan. dan Pendokumentasian
3. Bagi peneliti selanjutnya Perawatan Pasien. 3 ed.
Diharapkan hasil studi kasus Jakarta: EGC.
ini dapat digunakan sebagai media
Fatmawati, Siti, 2010. Komunikasi
informasi tentang kesehatan dan
Keperawatan Plus materi
sebagai bahan masukan untuk
Komunikasi Terapeutik.
penelitian selanjutnya, terutama
Yogjakarta: Medical Book.
untuk perawatan klien fraktur femur
dengan masalah hambatan mobilitas Helmi, Zairin Noor, 2014. Buku Ajar
fisik. Gangguan Muskuloskeletal.
Jakarta: Salemba Medika.
DAFTAR PUSTAKA
, 2012. Buku Saku Moleong, L.J., 2007.Metodologi
Kedaruratan di Bidang Penelitian Kualitatif.Edisi
Bedah Orthopedi. Jakarta: Revisi.Bandung: PT
Salemba Medika. Rosdakarya.
Hidayat, A. A., 2014. Pengantar Moesbar, Nazar, 2007. Pengendara
Kebutuhan Dasar Manusia, dan Penumpang Sepeda Motor
Aplikasi Konsep dan Proses Terbanyak Mendapat Patah
Keperawatan. Edisi 2. Tulang Pada Kecelakaan Lalu
Jakarta: Salema Medika.. Lintas. Diunduh dari
http://www.digilibusu.ac.id
Herdman, T. Healther, 2012. NANDA pada tanggal 1 oktober 2015
Diagnosis Keperawatan: pukul 16.05 WIB.
Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC. Novita, Dian, 2012. Pengaruh Terapi
Musik terhadap nyeri post
Kepolisian RI., 2013. Kecelakaan operasi open reduction and
Lalu Lintas. Diunduh dari internal fixation (ORIF) di
http://ejournal.unsrat.ac.id RSUD DR. H. Abdul Moeloek
pada tanggal 2 Oktober 2015 Provinsi Lambung. Depok:
pukul 19.20 WIB. Tesis FIK UI
Lukman & Ningsih, Nurna, 2012.
Asuhan Keperawatan Pada Potter, P. A. & Perry, A. G., 2010.
Klien Dengan Gangguan Fundamental Keperawatan.
Sistem Muskuloskeletal. Edisi 7. Jakarta: Salemba
Jakarta: Salemba Medika. Medika.

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk., 2015. Rasjad, Chairuddin, 2007. Pengantar


Buku Ajar Ilmu Keperawatan Ilmu Bedah Orthopedi. Edisi
Dasar. Buku 1. Jakarta: 3. Jakarta: PT. Yarsif
Salemba Medika. Watampone (Anggota IKAPI)
Muttaqin, Arif, 2011. Asuhan Reeves J. Charlene, dkk., 2001.
Keperawatan Klien dengan Keperawatan Medikal Bedah.
Gangguan Sistem Jakarta: Salemba Medika.
Muskuloseletal. Jakarta:
Rizal, Ahmad, dkk., 2014.
Salemba Medika.
Penatalaksanaan Orthopedi
. Buku Saku Gangguan Terkini Untuk Dokter
Muskuloskeletal: Aplikasi Layanan Primer. Jakarta:
Pada Praktik Klinik Mitra Wacana Media.
Keperawatan. Jakarta: EGC. Riskesdas, 2007. Laporan Hasil
Mansjoer, Arif, 2007. Kapita Selekta Riset Kesehatan Dasar
Kedokteran. Edisi Ketiga (RISKESDAS) Depkes RI
Jilid Kedua. Jakarta: Media tahun 2007. Diunduh dari
Aesculapius. www.depkes.go.id pada
tanggal 2 Oktober 2015 pukul
19.00 WIB.
Smeltzer, Suzzane C. & Bare,
Brenda G., 2001. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8 Vol 3. Jakarta: EGC.
Struebert, H.J., & Carpenter, D.J.,
2003. Qualitative research in
nursing advancing the
humanistic imperative. (3th I
Ed.). Philadelphia: Lippincott
William & Wilkins.
Sugiyono, 2006. Statistika Untuk
Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suryani, 2005. Komunikasi
Terapeutik Teori & Praktek.
Jakarta: EGC.
Tarwoto & Wartonah, 2010.
Kebutuhan Dasar Manusia
dan Proses Keperawatan.
Edisi 4. Jakarta: Salemba
Medika.
Thomas, Mark A., 2011. Treatment
& Rehabilitation of Fractures.
Jakarta: EGC.
Wahid, Abd., 2013. Asuhan
Keperawatan dengan
Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta:
Sagung Seto.
WHO, 2007. Traumatology and
orthopedic. Diakses dari
http://steinergraphics.com
pada tanggal 1 Oktober 2015
pukul 21.00 WIB.
Wilkinson, J. M. & Ahern, N. R.,
2012. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan. Edisi 9. Jakarta:
EGC.
Zaidin Ali, Haji, 2009. Dasar-Dasar
Dokumentasi Keperawatan. Jakarta:
EGC.

Похожие интересы