You are on page 1of 17

ARTIKEL ILMIAH NONPENELITIAN DAN ESAI

Dalam Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia

DOSEN PENGAMPU : SITI LATIFAH MUBASIROH

DISUSUN OLEH :

Ula Ulhusna

17423102

Bahasa Indonesia (Kelas C)

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM

FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2018
PERBANKAN SYARIAH SEBAGAI PENOLONG EKONOMI DUNIA

Ula Ulhusna

Universitas Islam Indonesia, Jalan Kaliurang Km 14,5 Yogyakarta 55584

Email : ulaulhusna02@gmail.com

ABSTRAK

Perbankan Syariah adalah suatu sistem perbankan yang dalam pelaksanaan kegiatannya
berdasar hukum Islam. Dasar pembentukan sistem ini berdasarkan dari larangan yang
diterapkan Islam untuk melakukan riba atau pemungutan keuntungan dari pinjaman. Fungsi
Bank Syariah secara garis besar tidak berbeda dengan bank konvensional, namun terdapat
perbedaan pokok yang terletak pada jenis keuntungan yang diambil bank dari transaksi yang
dilakukan. Bila bank konvensional mendasarkankeuntungan dari pengambilan bunga, maka
pada bank syariah terdapat imbalan berupa jasa (fee-base income) maupun mark-up atau
profit margin, serta bagi hasil (loss and profit sharing).

Lembaga keuangan syariah bisa menjadi alternatif bagi negeri ini dalam mengembangakan
ekonomi syariah. Namun hal tersebut tidak mudah untuk dijalankan.Salah satu tantangan
besar dalam mengembangkan ekonomi syariah ialah keberadaan bank kovensional dan
mengubah bank tersebut menjadi bank yang berbasis syariah. Bank konven ini seperti
perampok sadis yang sesuka hatinya merampas kekayaan dengan konsep bunga ribawinya.

Kata kunci : sistem, perbankan syariah, bank konvensional

PENDAHULUAN

Perbankan Syariah merupakan suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan


syariah atau hukum islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam
agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan
riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram.
Dinamika kesadaran umat Islam untuk mengamalkan ajaran dan menerapkan sistem Islam
secara menyeluruh (kaffah) tampaknya sudah mulai menunjukkan adanya peningkatan,
khususnya dalam bidang ekonomi. Ekonomi dan keuangan Islam sudah mulai
memperlihatkan sosoknya sebagai suatu alternatif baru yang diambil dari ajaran Islam.

Pada dasawarsa 1970 dan 1980-an di Timur Tengah serta negara-negara muslim lainnya telah
dimulai kajian-kajian ilmiah tentang ekonomi dan keuangan Islam yang berbuah
terbentuknya sebuah lembaga keuangan Islam internasional yakni Islamic Development Bank
(IDB) – sejenis bank pembangunan seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia - pada
tahun 1975 yang berkedudukan di Jeddah, yang kemudian diikuti oleh pendirian bank-bank
Islam lainnya di Timur Tengah.

Di Indonesia sendiri, Bank syariah yang pertama baru didirikan sekitar tahun 1991 dan baru
beroperasi pada pertengahan tahun 1992 yang tidak lepas dari dukungan rezim yang berkuasa
saat itu.

Dengan melihat perkembangan bank syariah di atas, agaknya keinginan umat untuk
menjalankan kehidupan bisnis dan transaksinya dalam skala yang lebih luas yang sesuai
dengan prinsip-prinsip ajaran Islam agaknya sudah memiliki sarana yang tepat. Namun,
diakui atau pun tidak, pengetahuan umat tentang bank syariah masih terbatas dan tidak
merata. Masih banyak yang tidak mengenal apa itu bank syariah atau bahkan masih adanya
anggapan yang keliru bahwa bank syariah adalah bank konvensional yang berbaju syariah.

A. SEJARAH BERDIRINYA BANK DI DUNIA

Pada zaman Babylonia, Yunani, dan Romawi diduga usaha perbankan telah
memegang peranan dalam lalu lintas perdagangan. Tugas bank waktu itu lebih bersifat tukar
menukar uang, sehingga orang yang melakukannya disebut pedagang uang. Pada umumnya
pekerjaan pedagang uang hanyalah perantara menukarkan mata uang asing dengan mata uang
negeri sendiri atau sebaliknya. Kemudian usaha ini berkembang dengan menerima tabungan,
menitipkan, ataupun meminjamkan uang dengan memungut bunga pinjaman.

Awal mula berdirinya bank di Dunia secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut.
kira-kira tahun 2000 SM di Babylonia telah dikenal semacam bank. Bank ini meminjamkan
emas dan perak dengan tingkat bunga 20% setiap bulan dan dikenal sebagai Temples of
Babylon. Sesudah zaman Babylon, tahun 500 SM menyusul di Yunani didirikan semacam
bank, dikenal sebagai Greek Temple, yang menerima simpanan dengan memungut biaya
penyimpanannya serta meminjamkan kembali kepada masyarakat. Pada saat itulah muncul
bankir-bankir swasta pertama. Operasinya meliputi penukaran uang dan segala macam
kegiatan bank. Lembaga perbankan yang pertama di Yunani timbul pada tahun 560 SM.

Setelah zaman Yunani, muncul usaha bank di Romawi yang operasinya sudah lebih
luas lagi, yakni tukar menukar mata uang, menerima deposito, memberikan kredit,
mentransfer modal dan bersamaan dengan jatuhnya kota Romawi pada tahun 509 SM,
perbankan juga ikut jatuh. tetapi pada tahun 527-565 M Yustinianus menkodefikasikan
hukum Romawi di Konstatinopel sehingga perbankan berkembang kembali. perkembangan
ini diawali dengan adanya perdagangan dengan Cina, India, dan Ethiopia. Bahkan mata uang
Konstatinopel ditetapkan sebagai mata uang internasional. Hubungan perdagangan kemudian
berkembang ke Asia Barat (sekarang Timur Tengah) dan Eropa sehingga kota-kota seperti
Alexandria, Venesia dan beberapa pelabuhan di Italia Selatan terkenal sebagai pusat
perdagangan yang pentng. Bank Venesia didirikan oleh pemerintah pada tahun 1171 dan
merupakan bank negara pertama yang dipakai untuk membiayai perang. Kemudian berturut-
turut berdirilah Bank of Genoa dan Bank of Barcelona pada tahun 1320.

Sekitar awal abad ke-16 di London (Inggris), Amsterdam (Belanda) serta Antwerpen
dan Leuven (Belgia) tukang-tukang emas bersedia menerima uang logam (emas, Perak) untuk
disimpan. Sebagai tanda bukti penyimpanan, tukang emas memberikan kepada penyimpana
suatu tanda deposito yang disebut Goldsmith's note. Goldsmith's note tersebut merupakan
bukti bahwa tukang emas mempunyai hutang. Lambat laun tanda deposito itu diterima
sebagai alat pembayaran atau menjadi uang kertas. Sejarah mencatat, Goldsmith's note oleh
pemiliknya jarang ditukar kembali dengan uang logam. Berdasarkan hal tersebut, tukang
emas mulai memberanikan diri mempergunakan kesempatan mengeluarkan Goldsmith's note,
sekalipun jaminan emas tidak ada. Namun Goldsmith's note yang dikeluarkan itu tetap
merupakan bukti hutangnya. Dengan perkembangan ini, maka peralihan tugas tukang emas
menjadi tugas perbankan.

B. ASAL MULA KEGIATAN BANK

Pada awalnya diketahui sistem moneter saat uang dibuat dari kepingan logam mulia.
Contoh : emas dan perak. Dengan jaminan emas dan perak tersebut. Demikian pula dengan
nilai uang yang terdapat dari beratnya logam mulia tersebut. Sistem moneter dalam dunia
perdagangan adalah cikal bakal dari lembaga keuangan.
Dalam sejarah perbankan, tercatat asal mula kegiatan perbankan terjadi di zaman
kerajaan daratan eropa. Kemudian berkembang ke Asia, Amerika, Afrika melalui
perdagangan saat bangsa eropa melakukan penjajahan.

Penukaran uang adalah kegiatan perbankan yang pertama. Maka dari itu, bank dikenal
sebagai tempat penukaran uang. Penukaran dilakukan antar pedagang dengan kerajaan yang
satu dan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran uang sampai sekarang dikenal dengan istilah
perdagangan Valuta Asing.

Kegiatan perbankan kemudian berkembang menjadi tempat penitipan uang,


peminjaman uang (kredit), jasa pengiriman uang, penagihan surat berharga, letter of credit,
jasa bank garansi, jasa kartu kredit, dll. (Sudarsono, H. (2004). Bank dan Lembaga Keuangan
Syariah Deskripsi dan Ilustrasi, Ekonisia. Yogyakarta: Kampus Fakultas Ekonomi UII.)

Lembaga keuangan syariah bisa menjadi alternatif bagi negeri ini


dalammengembangakan ekonomi syariah. Namun hal tersebut tidak mudah untuk
dijalankan.Salah satu tantangan besar dalam mengembangkan ekonomi syariah ialah
keberadaan bank kovensional dan mengubah bank tersebut menjadi bank yang berbasis
syariah.. Bank konven ini seperti perampok sadis yang sesuka hatinya merampas
kekayaandengan konsep bunga ribawinya. Teori keuangan konvensional mendasarkan
argument bunganya dengan konseptime value of money, dalam kasus ini ekonomi Islam
hadirdengan membantah validitas konseptime value of money dengan mengajukan konsep
yang lebih tepat“economic value of time” yang akan memberikan argumentasi ekonomiatas
pelarangan riba dalam Islam (Adiwarman A. Karim, 2011: 503).

Penyebab krisis moneter yang terjadi bisa karena lembaga keuangan yangmenjadi
kekuatan perekonomian bergerak dengan rakus, tak memikirkan keadilan danrasa tanggung
jawab yang ada didalam benaknya ialah mendapat keuntungan yang besardari dana segar
masyarakat. Paradigma inilah yang salah, karena hal demikian tidak lahmenjadikan negeri ini
sejahtera malah akan menambah masalah. Mengutamakan keadilan dan rasa tanggung jawab
ialah hal utama dalam pergerakan lembaga keuangan,dan bank syariah mempunyai prinsip
itu. Pendirian lembaga-lembaga keuangan syariahdisetiap penjuru negeri akan memberikan
peluang kuatnya eksistensi ekonomi Islam. Bank syariah bisa menjadi salah satu lembaga
keuangan syariah yang dapat mengembangkan ekonomi syariah, dengan lebih giat
mensosialisasikan produk-produk yang dimiliki.
C. PERBANKAN SYARIAH SEBAGAI SOLUSI

Dalam ekonomi Islam, jumlah uang yang beredar bukanlah variabel yang dapat
ditentukan begitu saja oleh pemerintah sebagai variabel eksogen. Dalam ekonomi Islam,
jumlah uang yang beredar ditentukan di dalam perekonomian sebagai variabel endogen, yaitu
ditentukan oleh banyaknya permintaan uang di sektor riil atau dengan kata lain, jumlah uang
yang beredar sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian.

Dalam ekonomi Islam, sektor finansial mengikuti pertumbuhan sektor riil, inilah
perbedaan konsep ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional, yaitu ekonomi
konvensional, jelas memisahkan antara sektor finansial dan sektor riil. Akibat pemisahan itu,
ekonomi dunia rawan krisis, khususnya negara–negara berkembang (terparah Indonesia).
Sebab, pelaku ekonomi tidak lagi menggunakan uang untuk kepentingan sektor riil, tetapi
untuk kepentingan spekulasi mata uang. Spekulasi inilah yang dapat menggoncang ekonomi
berbagai negara, khususnya negara yang kondisi politiknya tidak stabil. Akibat spekulasi itu,
jumlah uang yang beredar sangat tidak seimbang dengan jumlah barang di sektor riil.
Spekulasi mata uang yang mengganggu ekonomi dunia, umumnya dilakukan di pasar-
pasar uang. Pasar uang di dunia ini saat ini, dikuasai oleh enam pusat keuangan dunia
(London, New York, Chicago, Tokyo,Hongkong dan Singapura). Nilai mata uang negara
lain, bisa saja tiba-tiba menguat atau sebaliknya. Lihat saja nasib rupiah semakin hari
semakin merosot dan nilainya tidak menentu.
Di pasar uang tersebut, peran spekulan cukup signifikan untuk menggoncang ekonomi
suatu negara. Lihatlah Inggris, sebagai negara yang kuat ekonominya, ternyata pernah
sempoyongan gara-gara ulah spekulan di pasar uang, apalagi kondisinya seperti Indonesia,
jelas menjadi bulan-bulanan para spekulan. Demikian pula ulah George Soros di Asia
Tenggara. Bagi spekulan, tidak penting apakah nilai menguat atau melemah. Bagi mereka
yang penting adalah mata uang selalu berfluktuasi. Tidak jarang mereka melakukan rekayasa
untuk menciptakan fluktuasi bila ada momen yang tepat, biasanya satu peristiwa politik yang
menimbulkan ketidak pastian.
Menjelang momentum tersebut, secara perlahan-lahan mereka membeli rupiah,
sehingga permintaan akan rupiah meningkat. Ini akan mendorong nilai rupiah secara semu
ini, akan menjadi makanan empuk para spekulan. Bila momentumnya muncul dan ketidak
pastian mulai merebak, mereka akan melepas secara sekaligus dalam jumlah besar. Pasar
akan kebanjiran rupiah dan tentunya nilai rupiah akan anjlok.
Robin Hahnel dalam artikelnya Capitalist Globalism In Crisis: Understanding the
Global Economic Crisis (2000), mengatakan bahwa globalisasi - khususnya dalam financial
market, hanya membuat pemegang asset semakin memperbesar jumlah kekayaannya tanpa
melakukan apa-apa. Dalam kacamata ekonomi Islam, mereka meraup keuntungan tanpa
'iwadh (aktivitas bisnis riil,seperti perdagangan barang dan jasariil) Mereka hanya
memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam pasar uang dengan kegiatan spekulasi
untuk menumpuk kekayaan mereka tanpa kegiatan produksi yang riil. Dapat dikatakan uang
tertarik pada segelintir pelaku ekonomi meninggalkan lubang yang menganga pada sebagian
besar spot ekonomi.
Dalam dunia perbankan di Indonesia sendiri, krisis moneter yang terjadi pada tahun
1997-1998 membuktikan kekuatan imunitas lembaga perbankan syariah dibandingkan
dengan Bank Konvensional yang pada saat itu rata-rata mengalami kebangkrutan. Sebanyak
650 Trilyun dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) sepenuhnya mengalir pada
Bank Konvensional, bukan pada Bank Syariah yang pada saat itu adalah Bank Muamalat,
Bank Syariah pertama dan satu-satunya di Indonesia pada masa itu. Imunitas Bank Muamalat
pada saat itu membuat isu mengenai perbankan syariah melejit sebagai salah satu alternatif
baru di dunia perbankan. Pengalaman pada masa krisis ekonomi 1997-1998 menciptakan
banyak kajian mengenai alasan-alasan mengapa Bank Syariah lebih mampu bertahan dalam
krisis ekonomi dibanding dengan Bank Konvensional seiring dengan tumbuhnya Bank-Bank
Syariah baru di Indonesia.
Pertahanan sistem perbankan Indonesia kembali diuji ketika krisis ekonomi kembali
terjadi pada pertengahan tahun 2008. Diawali dengan kolapsnya lembaga-lembaga keuangan
Amerika seperti beberapa bank-bank komersial, lembaga investasi dan lembaga keuangan
non bank yang besar di negeri Adidaya ini. Dan tentunya krisis, mengimbas kepada lembaga-
lembaga keuangan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Perekonomian maupun perbankan Indonesia menghadapi permasalahan krusial akibat
dampak krisis ekonomi global, sejak September 2008 hingga 2010 meskipun tidak separah di
tahun 1997. Salah satu elemen yang menjadi senjata yang ampuh untuk menghadapi krisis
ekonomi global adalah dengan mulai tumbuhnya perbankan syariah di negeri kita. Selain
BMI, bank-Bank Konvensional mulai menerapkan dual banking System, Seperti Bank
Mandiri, mempunyai Bank Syariah Mandiri, begitu pula Bank Rakyat Indonesia, Bank
Negara Indonesia, mempunyai divisi syariah ataupun Bank Syariah. Bank-bank swasta pun
telah memperlakukan dual banking System,seperti Bank Niaga, Bank IFI, Bank Permata,
BCA maupun bank-bank pemerintah, BUMN, maupun bank swasta lainnya. Bukti nyata
eksistensi perbankan syariah di tengah krisis ekonomi global adalah pada periode tersebut
Bank Muamalat justru berhasil membukukan laba lebih dari 300 Milyard.
Krisis moneter dan penurunan nilai tukar rupiah terjadi karena adanya krisis kualitas
lembaga-lembaga keuangan yang berbasis pada penerapan suku bunga. Tingginya nilai suku
bunga sebagai penyebab dari krisis moneter mengakibatkan ambruknya dunia
perbankan konvensional dan sektor riil yang berpengaruh pada ketidakstabilan pertumbuhan
ekonomi.
Ada beberapa hal yang terjadi pada Bank Konvensional dan perekonomian Indonesia
ketika krisis moneter melanda:
Pertama, Perbankan konvensional tidak memiliki ketersediaan dana liquid yang
cukup untuk operasionalnya. Nasabah peminjam mengalami ketidakmampuan untuk
mengembalikan dana pinjaman karena tingginya nilai suku bunga. Kemacetan pengembalian
dana pinjaman dari pihak nasabah ke perbankan berimplikasi pada ketidakmampuan pihak
perbankan untuk mengembalikan dana pinjaman kepada Bank Indonesia. Sehingga pada saat
nilai suku bunga melonjak tinggi, kondisi ini mengakibatkan goncangan pada sistem
manajemen moneter perbankan konvensional.
Hal yang sama tak berlaku di Bank Syariah. Dana masyarakat yang disimpan di bank
disalurkan kepada para peminjam untuk mendapatkan keuntungan Hasil keuntungan akan
dibagi antara pihak penabung dan pihak bank sesuai perjanjian yang disepakati. Namun bagi
hasil yang dimaksud adalah bukan membagi keuntungan atau kerugian atas pemanfaatan
dana tersebut. Keuntungan dan kerugian dana nasabah yang dioperasikan sepenuhnya
menjadi hak dan tanggung jawab dari bank. Penabung tak memperoleh imbalan dan tak
bertanggung jawab jika terjadi kerugian. Bukan berarti penabung gigit jari tapi mereka
mendapat bonus sesuai kesepakatan.
Dari perbandingan itu terlihat bahwa dengan sistem riba pada Bank Konvensional
penabung akan menerima bunga sebesar ketentuan bank. Namun pembagian bunga tak terkait
dengan pendapatan bank itu sendiri. Sehingga berapapun pendapatan bank, nasabah hanya
mendapatkan keuntungan sebesar bunga yang dijanjikan saja. Sekilas perbedaan itu
memperlihatkan di Bank Syariah nasabah mendapatkan keuntungan bagi hasil yang
jumlahnya tergantung pendapatan bank. Jika pendapatan Bank Syariah naik maka makin
besar pula jumlah bagi hasil yang didapat nasabah. Ketentuan ini juga berlaku jika bank
mendapatkan keuntungan sedikit.
Namun bukan berarti dengan tidak digunakannya sistem bunga di Bank Syariah maka
perbankan syariah tidak akan terpengaruh sama sekali dengan krisis ekonomi. Pengaruh ini
sedikit banyak akan tetap dirasakan oleh Bank Syariah Ketika suku bunga Bank naik, maka
kredit menjadi ‘mahal’ dan kegiatan investasi menjadi surut. Hal ini mengakibatkan kegiatan
perekonomian di masyarakat menurun. Penurunan aktivitas ekonomi ini berakibat pada
penurunan profit usaha yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan bagi hasil yang bisa
diberikan oleh Bank Syariah. Jika aktivitas ekonomi menurun tajam, maka nilai bagi hasil
bisa menjadi sangat kecil. Kecilnya nilai bagi hasil ini bisa mempengaruhi jumlah nasabah
yang menggunakan jasa Bank Syariah, sehingga Bank Syariah harus benar-benar
mempertimbangkan langkah untuk menjaga nilai bagi hasil ini untuk mempertahankan
nasabahnya, termasuk, salah satu jalannya, dengan memangkas margin keuntungannya.
Kedua, Bank Konvensional berbasis sistem ekonomi kapitalis. Dalam sistem ekonomi
yang berbasis kapitalis, prinsip dasarnya adalah interest base yang menempatkan uang
sebagai komoditi yang diperdagangkan. Hal ini ternyata memberikan implikasi yang serius
terhadap kerusakan hubungan ekonomi yang adil dan produktif. Perdagangan valas yang
cenderung mengarah kepada spekulasi yang memanfaatkan rumor-rumor politik untuk
mengeruk keuntungan sempit sesaat yang dapat merugikan sendi-sendi perekonomian secara
mekro menggambarkan sebuah distorsi terhadap paradigma tentang uang dan fungsi
substansialnya.
Menurut ekonomi Islam, uang tidak boleh dijadikan sebagai komoditas sebagaimana
yang banyak dipraktikkan dewasa ini dalam kegiatan transaksi bisnis valuta asing. Menurut
ekonomi syariah, transaksi valas hanya dibenarkan apabila digunakan untuk kebutuhan sektor
riil, seperti membeli barang untuk kebutuhan impor, berbelanja atau membayar jasa di luar
negeri, dan sebagainya. Jual beli valas untuk kepentingan spekulasi, amat dilarang dalam
perspektif syariah. Jual beli valas untuk kepentingan spekulatif menimbulkan dampak negatif
bagi perekonomian, antara lain menimbulkan ketidakstabilan mata uang, sehingga
menggusarkan para pengusaha dan masyarakat umum, malah kegiatan jual beli
valas cenderung mendorong jatuhnya nilai mata uang rupiah dan selanjutnya berakibat bagi
terjadinya inflasi adalah realitas ekonomi yang tidak diinginkan ekonomi syariah.
Meskipun Bank Syariah menghindari jual beli valas bukan berarti gejolak valas yang
terjadi di luar perbankan syariah tidak berpengaruh pada sistem yang dimilikinya. Ketika
nilai tukar rupiah bergejolak, maka bahan baku dan barang modal yang dibeli dari luar negeri
akan meningkat harganya, hal ini menyebabkan biaya produksi meningkat dan mengurangi
profit pengusaha. Berkurangnya profit inilah yang akan berdampak pada Bank Syariah, yaitu
berkurangnya jumlah bagi hasil. Dalam segi pembiayaan, ketika rupiah melemah maka nilai
utang perusahaan yang dinilai dengan rupiah akan membengkak dan berpengaruh juga jika
pembiayaan perusahaan tersebut didanai oleh Bank Syariah.
Ketiga, perbankan konvensional juga cenderung kurang dalam pengembangan sektor
riil dan lebih bermain pada transaksi yang spekulatif berdasarkan nilai suku bunga. Ini yang
dikabarkan menjadi biang terjadi krisis moneter.
Dalam ekonomi syariah, segala bentuk transaksi maya dilarang. Bila transaksi ini
dibolehkan, maka pasar uang akan tumbuh jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pasar
barang dan jasa. Pertumbuhan yang tidak seimbang akan menjadi sumber krisis. Transaksi
mudharabah (Trust financing / trust invesment) dan musyarakah (joint financing) yang
diterapkan Bank Syariah, jelas mengaitkan sektor moneter dan sektor riil. Demikian pula
transaksi jual beli murabahah (deferred payment sale), salam (in–frontpaymentsale ),istisna
(purchase by order or manufacture), dan ijarah ( leasing ),semakin tampak keterkaitan antara
sektor moneter dan sektor riil.
Oleh kerena itu pula, salah satu rukun jual beli ialah ada uang ada barang (ma’kud
‘alaih). Dengan demikian, future tradingdan margin trading yang tidak diikuti dengan
pengiriman barang adalah tidak sah, sebagaimana yang banyak terjadi dalam bisnis spot
komoditi saat ini. Jelaslah bahwa konsep ekonomi syariah menjaga keseimbangan sektor riil
dan sektor moneter. Begitu pula dengan perbankan syariah yang pertumbuhan pembiayaan
tidak dapat terlepas dari pertumbuhan sektor riil yang dibiayainya.
Kemudian sistem manajemen syariah disebut-sebut dan diyakini dapat menjadi solusi
dalam membangun kembali sistem perekonomian di Indonesia. Sistem ini menggarisbawahi
bahwa uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan bukan merupakan komoditi yang dapat
diperdagangkan, apalagi mengandung unsur spekulasi yang diyakini dapat mendatangkan
kerugian bagi masyarakat. Selain itu, sistem syariah juga menekankan bahwa peredaran uang
tidak boleh terjadi hanya dibeberapa kelompok saja, karena akan terjadi konsentrasi modal
yang mengakibatkan lumpuhnya perekonomian pada masyarakat ditingkat bawah. Hal-hal
tersebut yang menjadi pembeda antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah. (Rachmadi
Usman. 2012. Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia. Sinar Grafika.)

Banyaknya wacana yang menyebutkan bahwa perbankan syariah merupakan jalan


keluar dari segala jenis krisis ekonomi global yang mampu menyerang perekonomian dunia
karena dinilai kebal terhadap krisis memang tidak sepenuhnya benar. Krisis ekonomi global
mengguncang semua aspek perekonomian, termasuk akan berdampak pula pada perolehan
profit perusahaan yang kemudian berdampak pada menurunnya jumlah bagi hasil antara
Bank Syariah dan Perusahaan atau bahkan akan terjadi pembagian tanggungan kerugian.
Terlepas dari resiko kerugian yang kemungkinan terjadi, sesungguhnya perbankan
syariah dengan skema musyarakah/mudharabah akan memberikan manfaat positif bagi
perekonomian Indonesia (Beik, 2006). : Pertama, akan menggairahkan sektor riil. Investasi
akan meningkat yang disertai dengan pembukaan lapangan kerja baru. Dampaknya, tingkat
pengangguran akan dapat dikurangi dan pendapatan masyarakat akan bertambah. Yang
kedua, ditinjau dari sisi nasabah. Nasabah akan memiliki 2 pilihan, apakah akan
mendepositokan dananya pada Bank Syariah atau Bank Konvensional. Nasabah akan
membandingkan secara cermat antara expected rate of return yang ditawarkan Bank Syariah
dengan tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh Bank Konvensional, dimana selama ini
fakta telah membuktikan, ternyata rate of return Bank Syariah lebih tinggi bila dibandingkan
dengan interest rateyang berlaku pada Bank Konvensional. Sehingga ini akan menjadi faktor
pendorong meningkatnya jumlah nasabah. Dampak yang ketiga adalah akan mendorong
tumbuhnya pengusaha / investor yang berani mengambil keputusan bisnis yang beresiko. Hal
ini akan menyebabkan berkembangnya berbagai inovasi, yang pada akhirnya dapat
meningkatkan daya saing bangsa ini. Inovasi adalah kata kunci di dalam memenangkan
persaingan global. Dampak selanjutnya adalah dapat mengurangi peluang terjadinya resesi
ekonomi dan krisis keuangan. Hal ini dikarenakan Bank Syariah adalah institusi keuangan
yang berbasis aset (asset-based). Artinya, Bank Syariah adalah institusi yang berbasis
produksi (production-based). Bank Syariah bertransaksi berdasarkan aset riil dan bukan
mengandalkan pada kertas kerja semata. (Beik, I. S. (2006). Mutiara Dakwah: Mengupas
Konsep Islam tentang Ilmu, Harta, Zakat dan Ekonomi Syariah. Jakarta: Albi Publishing.)

Sementara di sisi lain, Bank Konvensional hanya bertransaksi berdasarkan paper


work dan dokumen semata, kemudian membebankan bunga dengan prosentase tertentu
kepada calon investor. Pola pembiayaan musyarakah/mudarabah adalah pola pembiayaan
yang berbasis pada produksi. Krisis keuangan dapat diminamilisir karena balance
sheet perusahaan relatif stabil. Hal ini dikarenakan posisinya sebagai mudharib, dimana
perusahaan tidak menanggung kerugian yang ada, apabila kerugian tersebut disebabkan oleh
kondisi luar biasa yang tidak diprediksikan sebelumnya, misalnya diakibatkan oleh bencana
alam. Maksudnya, keadaan tersebut terjadi secara tidak disengaja dan diluar batas
kemampuan. Dengan demikian, semua beban kerugian akan ditanggung oleh Bank Syariah
sebagai rabbul-mal. Selanjutnya, pola musyarakah/mudarabah dapat menjadi solusi alternatif
atas masalah over likuiditas yang saat ini terjadi. Kondisi over likuiditas ini dapat disiasati
dengan menyalurkannya pada sektor riil.

D. BANK SYARIAH SEBAGAI SOLUSI DAN PILIHAN TEPAT DIMASA KINI DAN
MASA MENDATANG

Kedepan pemerintah perlu memberikan perhatian besar kepada sistem ekonomi islam
(syariah) karena sejarah telah mencatat bahwa ekonomi syariah tetap stabil dalam keadaan
ekonomi yang tidak stabil. Kondisi ini dapat kita lihat pada tahun 1997 saat
keadaan Indonesia mengalami krisis, pada November 1997 telah ada 16 bank bermasalah
yang dicabut izin usahanya dan dilikwidasi dan disusul akhir September 1998 ada 55 bank
bermasalah semuanya bank konvensional terdiri dari 10 bank termasuk katagori bank beku
operasi (BBO), 5 bank termasuk katagori bank yang dikuasai Pemerintah (BTO), dan 40 bank
termasuk katagori bank dibawah pengawasan BPPN. Sedangkan untuk perbankan syariah
dapat kita buktikan,ditengah- tengah krisis ekonomi 1997 tersebut tidak ada satu bank syariah
yang terkena dampaknya, malahan laporan keuangan salah satu bank syariah pada saat itu,
menunjukan kinerja terbaiknya dengan peningkatan laba bersih mencapai 134 %,
peningkatan asset sebesar 14 % dari 515,5 milyar rupiah pada tahun 1996 menjadi 588,5
milyar rupiah pada tahun 1997, dan semakin mantapnya kepercayaan masyarakat yang dapat
dilihat dari peningkatan simpanan dana masyarakat sebesar 11 %.
Selama ini, sistem ekonomi dan keuangan syariah kurang mendapat tempat yang
memungkinkannya untuk berkembang. Ekonomi Islam belum menjadi perhatian pemerintah.
Sistem ini mempunyai banyak keunggulan untuk diterapkan, Ekonomi Islam bagaikan pohon
tumbuhan yang bagus dan potensial, tapi dibiarkan saja, tidak dipupuk dan disiram.
Ada 5 keunggulan Bank Syariah yang belum diketahui oleh banyak orang:

 Fasilitas Selengkap Bank Konvensional

 Manajemen Finansial yang Lebih Aman

 Anda Berkontribusi Langsung Memperkuat Bank Syariah Anda

 Membantu Orang yang Butuh Dizakati

 100% Halal
Secara prinsip bank syariah memiliki keunggulan (advantage), namun dalam realitasnya bank
syariah menghadapi beberapa kendala dan kelemahan yang memang harus diakui perlu
pembenahan dan peningkatan secara kualitas dan kuantitas antara lain:

 Jasa layanan dan inovasi produk. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta mudah
menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga mereka tidak merasa punya
perbedaan dengan layanan dari perbankan konvensional.

 Masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai kegiatan usaha jasa keuangan


syariah [bank, asuransi, dana pensiun, reksa dana dan indeks syariah]. Keterbatasan
pemahaman ini menyebabkan banyak masyarakat memiliki persepsi yang kurang
tepat mengenai operasi jasa keuangan syariah.

 Masih terbatasnya jaringan kantor cabang jasa keuangan syariah. Keterbatasan kantor
cabang ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan pelayanan terhadap masyarakat
yang menginginkan jasa keuangan syariah.

 Masih belum lengkapnya peraturan dan ketentuan pendukung kegiatan usaha jasa
keuangan syariah seperti standar akuntansi, standar prinsip kehati-hatian, standar
fatwa produk investasi syariah serta peraturan dan ketentuan pendukung lainnya.

 Masih terbatasnya sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknis jasa
keuangan syariah.

KESIMPULAN

Krisis keuangan global mempengaruhi kondisi perbankan di Indonesia. Bank syariah


yang mengunakan sistem jual beli dan bagi hasil menunjukkan kondisi yang berbeda dengan
bank konvensional yang mengunakan bunga. Dampak krisis keuangan yang menyebabkan
kenaikan tingkat bunga mempengaruhi likuiditas bank konvensional. Sementara itu, tingkat
margin dan bagi hasil bank syariah tidak terpengaruh langsung dengan adanya kenaikan BI
rate karena tidak akan berubah selama waktu kontrak belum selesai dan untuk mengubahnya
harus melalui kontrak baru yang disepakati kedua belah pihak. Krisis keuangan
mempengaruhi kenaikan tingkat bunga simpanan dan pinjaman di bank konvensional dan
bank syariah. Tingkat rata-rata tingkat bunga bank konvensional lebih tinggi dibanding
dengan tingkat margin di bank syariah. Sementara itu kinerja keuangan kedua bank ini
berbeda. Krisis keuangan 2008 menjadikan tingkat pendapatan yang diperoleh berkurang.
Secara umum kenaikan pendapatan bank syairah lebih tinggi dibandingkan dengan bank
konvensional. Sebaliknya, nilai pendapatan dibandingkan aset menunjukkan bank
konvensional lebih tinggi.

Tingkat kemampuan nasabah membayar kewajiban yang diperlihat dari NPF dalam
kondisi krisis menunjukkan penurunan di bank syariah, artinya tingkat resiko
pinjaman/pembiayaan bermasalah di bank syariah menurun di saat krisis keuangan. Di saat
yang sama jumlah FDR bank syariah meningkat. Hal ini menindikasikan bahwa di saat krisis
pembiayaan bank syariah lebih murah dibandingkan dengan bank konvensional. Secara
umum bisa disimpulkan bahwa sistem perbankan syariah lebih stabil dibandingkan dengan
bank konvensional dalam menghadapi krisis keuangan global. Sistem keuangan syariah yang
tidak mengenal bunga menjadikan bank syariah mampu bertahan dari fluktuasi tingkat bunga
yang disebabkan oleh turunnya nilai rupiah yang disebabkan langkanya dolar di pasar. Selain
itu, kinerja keuangan bank syariah dibandingkan dengan bank konvensional menunjukkan
kondisi keuangan yang konsisten dan efisien.

REFERENSI

Adiwarman A Karim. 2011. Bank Islam Analilsis Fiqih dan Keuangan, edisi 4.
Jakarta : PT. Rajawali Pers.

Rachmadi Usman. 2012. Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia. Sinar


Grafika.

Beik, I. S. (2006). Mutiara Dakwah: Mengupas Konsep Islam tentang Ilmu, Harta,
Zakat dan Ekonomi Syariah. Jakarta: Albi Publishing.

Sudarsono, H. (2004). Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi,
Ekonisia. Yogyakarta: Kampus Fakultas Ekonomi UII.
Nama : Ula Ulhusna

Nim : 17423102

KETIDAKADILAN EKONOMI DI INDONESIA

Dapat kita lihat bahwa perekonomian indonesia semakin dikuasai oleh kaum kapitalis.
Padahal Indonesia telah menetapkan keadilan sosial sebagai suatu falsafah yang tinggi untuk
bangsa ini. Keadilan sosial juga sudah tertuang dalam Pancasila yang menjadi dasar negara,
namun pelaksanannya masih saja terabaikan. Hal ini terjadi karena bangsa Indonesia yang
masih kurang percaya diri dalam mengembangkan sistem ekonominya sendiri, Membiarkan
pengusaha swasta mengontrol kebijakan pemerintah agar sesuai dengan kepentingannya.
Padahal dalam Pancasila seharusnya pengusaha swasta mengambil wilayah “sisa” antara
koperasi dan BUMN. Tetapi karena pemerintah kita terjebak dalam sistem ekonomi kapitalis
dengan semangat pasar bebas maka golongan swasta dibiarkan merajalela dan menindas
golongan bawah. Pancasila yang seharusnya menjadi pedoman bangsa tetapi hanya dijadikan
simbolis saja. Akibatnya kekayaan ekonomi dalam Pancasila kurang dikenal.

Indonesia kaya akan alam, salah satunya lautan yang tentu bisa menghasilkan begitu banyak
garam dari pada negara lain. Garam sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang, setiap rumah
pasti memiliki garam untuk kebutuhan masakannya, tapi permasalahan aneh yang terjadi di
Indonesia adalah bagaimana bisa seorang petani garam yang bekerja puluhan tahun tetapi
kebanyakan dari mereka masih berada di tingkat kemiskinan? Oke, pengangguran akibat
kurangnya lapangan kerja tentu juga termasuk salah satu penyebabnya. Karena berhubung
pendidikan dan keterampilan merupakan hal yang sulit diraih masyarakat, maka masyarakat
sulit untuk berkembang dan mencari pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan.
Tetapi, Menurut saya masalah pendidikan yang rendah dan juga banyaknya pemberlakuan
kapitalisme primitif di indonesia menjadi penyebab tingginya angka kemiskinanan. seperti
contoh kasus buruh bulu mata palsu dan petani garam dimana hak yang didapat tak sesuai
dengan kewajiban yang dilaksanakan.
Musim panen yang seharusnya menjadi kabar gembira bagi para petani garam berharap akan
mendapatkan keuntungan yang besar tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kerugian
diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah akibat harga yang menurun drastis dikarenakan
pemerintah masih saja mengimpor garam dari luar negri membuat para petani garam lokal
menangis.

Dari contoh kasus tersebut dapat kita ketahui ekonomi yang berlangsung saat ini adalah
ekonomi hisapan. masih jauhnya kesejahteraan bagi para buruh dan masyarakat kecil lainnya
di banyak daerah di Indonesia. Alih-alih menerapkan ekonomi kerakyatan yang merupakan
sebuah konsep ekonomi dengan penguasaan ekonomi di tangan masyarakat banyak, para
buruh hingga hari ini bahkan masih banyak yang digaji tidak layak.

Banyak kita dapati kasus-kasus seperti yang terjadi di desa temon kulon progo, ratusan buruh
pembuat bulu mata palsu hanya digaji sebesar Rp 500-800 untuk sepasang bulu mata palsu
yang dihasilkannya. Padahal, harga sepasang bulu mata yang diekspor ke Korea tersebut
dijual seharga Rp. 60.000 sepasang. Dan juga Buruh tas rajut seperti salah satunya bu wanti
membuat tas rajut setiap hari di rumahnya yang bahan benangnya dikirim dari pabrik. Hanya
dihargai 17.000 persatuan, sementara tas tersebut diual dengan harga 200-300 ribu persatuan.

Seharusnya pemerintah lebih cerdas dalam hal ini, mereka mengatakan dikarenakan garam
lokal yang masih kurang kualitasnya mengharuskan mereka untuk impor garam. Apakah
hanya itu solusinya? Kenapa mereka tidak mendukung petani garam lokal saja? dengan
memeberikan mesin yang canggih agar petani garam lokal juga dapat menghasilkan garam
yang berkualitas tinggi sehingga indonesia tidak perlu lagi impor garam, malahan kita
indonesia yang kaya akan kekayaan alam seharusnya bisa mengekspor garam ke luar negeri,
seingga para petani garam indonesia juga berjaya.

Dapat kita lihat juga kejanggalan pada kasus para buruh pembuat bulu mata palsu dan buruh
tas rajut yang terus bekerja keras setiap harinya akan tetapi mereka masih saja berada di
tingkat kemiskinan, dikarenakan pencarian buruh yang berupah murah untuk membuat
produk berharga mahal. Hal merupakan ciri kapitalisme primitif yang sudah lama merambat
di pendesaan. Rakyat kecil semakin terinjak-injak. Untuk mengatasi hal ini maka pemerintah
mesti melakukan perombakan yang besar agar sesuai dengan UUD 1945. Perusahaan-
perusahaan yang memproduksi kebutuhan primer masyarakat mesti menjadi milik pemerintah
dan swasta hanya diperbolehkan memproduksi kebutuhan sekunder dan tersier masyarakat
saja. pemerintah juga mesti membatasi ruang gerak para kapitalis apabila ingin agar
mayoritas rakyat Indonesia menjadi sejahtera. Caranya adalah dengan kembali pada sistem
ekonomi Pancasila yang memiliki jiwa kebersamaan, kekeluargaan dan dengan semangat
gotong royong. Bahkan berbagai kegiatan ekonomi baik dalam skala kecil maupun besar
mestilah didasarkan pada konsep keadilan Pancasila. Sebab walaupun dalam setiap transaksi
ekonomi selalu ada pertimbangan untung-rugi, namun hanya dengan azas keadilan sajalah
suatu hubungan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya jika yang dikejar
hanya pertumbuhan dan keuntungan ekonomi semata-mata maka sifatnya sangat rapuh dan
setiap waktu dapat runtuh.

Sebagian orang bekerja untuk merubah hidup dan sebagiannya lagi mereka bekerja untuk
bertahan hidup. Pengetahuan mereka yang rendah membuat mereka hanya bisa pasrah dan
tetap bertahan pada pekerjaan yang jauh dari kata adil itu. Sekiranya negara dan kaum
intelengasia kedepannya dapat hadir secara massif sebagai agen perubahan di lapangan.

Referensi

https://m.merdekanews.co/read/2808/Impor-Dibuka-Petani-Garam-Makin-Miskin

Sni’uth, Melkisedek. Ketidakadilan Ekonomi di Bumi Pancasila. Hal.70