Вы находитесь на странице: 1из 25

LAPORAN STUDI KASUS FARMAKOTERAPI PENYAKIT INFEKSI

SEXUALLY TRANSMITTED INFECTION

oleh :

Rosidah 260110150001
Shifa Hudzaifah 260110150002
Rena Choerunisa 260110150003
Riska Nelinda 260110150004
Qisti Fauza 260110150005
Rossi Febriany 260110150006
Fairuzati Anisah 260110150007
Wiwit Nurhidayah 260110150008
Wichelia Nisya F. 260110150009
Fariza Fida Millati 260110150010
Lafie Urwatul W. 260110150011
Risda Rahmi I. 260110150012
Luthfi Utami S. 260110150013
Chairunnisa 260110150014

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
SEXUALLY TRANSMITTED INFECTION

1. KASUS :
1.1 Identitas Pasien : Wedari (25 tahun), telah menikah 1.5 tahun
yang lalu.
1.2 Anamnesa : Pasien mengeluhkan di daerah alat genitalnya menjadi
bengkak, memerah, dan terasa sangat gatal, mengeluarkan secret berbau
amis, berwarna putih kekuningan, berbau, dan agak sedikit sakit saat
buang air kecil selama seminggu ini.
Keputihan normal yang dialami menghasilkan secret berwarna
putih, tidak berbau, dan tidak gatal. Jadwal siklus menstruasi 28 hari
teratur selama 6-7 hari, kebiasaan mengganti pembalut 2x sehari, secret
tidak gatal, tidak bau, sifat : encer, segar, bau : anyir, dismenore : ada pada
hari pertama menstruasi, warna darah : merah tua.
Pasien menyangkal pernah melakukan hubungan intim di luar
pernikahan. Ini adalah pernikahan pertama baginya. Pasien melakukan
hubungan intim 2 kali/minggu, dikarenakan kesibukan pekerjaan suaminya
yang bekerja di Club malam.
Pasien menceritakan, alat genital suaminya seperti bengkak,
kemerahan pada area ujung alat genitalnya, seringkali mengeluarkan secret
berwarna putih, nyeri pada saat buang air kecil, namun menyangkal
mengidap diabetes.
Pasien mengatakan belum pernah mengkonsumsi obat apapun.
Dokter menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan swab vagina.
Hasil menunjukkan bahwa:
 Ditemukan bentuk trofozoit yang aktif berputar melalui
pengamatan di bawah mikroskop
 Bentuk trofozoit mempunyai 4 flagel anterior dan 1 flagel posterior
yang melekat pada tepi membrane yang bergelombang
 pH vagina 6
 Ditemukannya leukosit yang bercampur dengan secret vagina.
Pasien datang ke apotik untuk menebus resep dan ingin
berkonsultasi dengan apoteker. Pada resep tersebut, tercantum obat
metronidazole 2 g dosis tunggal per hari, peroral.
2. HASIL DISKUSI
2.1 Definisi Penyakit
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya
terutama melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai
gejala-gejala klinis maupun asimptomatis. Penyebab infeksi menular
seksual ini sangat beragam dan setiap penyebab tersebut akan
menimbulkan gejala klinis atau penyakit spesifik yang beragam pula
(Centers for Disease Control and Prevention, 2009).
2.2 Etiologi
Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis ,yaitu:
• bakteri ( diantaranya N.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum)
• virus (diantaranya HSV, HPV, HIV, Herpes B virus, Molluscum
contagiosum virus)
• protozoa (diantaranya Trichomonas vaginalis)
• jamur (diantaranya Candida albicans)
• ektoparasit (diantaranya Sarcoptes scabiei)
2.3 Patofisiologi

Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya


terutama melalui hubungan seksual dan penyebabnya sangat beragam dan
setiap penyebab akan menimbulkan gejala klinik yang berbeda. Infeksi
menular seksual dapat diklafisikasikan menurut agen penyebabnya, yaitu
golongan bakteri, protozoa,virus, dan golongan ekoparasit. (Arjani, 2015).

Pada kasus kali ini dilihat dari hasil uji laboratorium ditemukan
adanya mikroorganisme pada tubuh pasien. Ditemukan bentuk trofozoit
yang aktif berputar melalui pengamatan di bawah mikroskop, bentuk
trofozoit tersebut memiliki 4 flagel anteriuor dan 1 flagel posteriuor yang
melekat pada tepi membrane yang bergelombang. Ciri tersebut cocok
dengan mikroorganisme golongan protozoa, yaitu Trichomonas vaginalis.
Trichomonas vaginalis merupakan protozoa patogenik yang biasanya
dijumpai di traktus genitourinaria manusia yang terinfeksi. Ditularkan
malalui hubungan seksual, yang dapat menyebabkan vaginitis pada wanita
dan uretritis non-gonococcoal pada pria. Protozoa ini berbentuk oval,
panjang 4-32 μm dan lebar 2,4-14,4 μm, memiliki flagella dan undulating
membran yang panjangnya hanya setengah panjang tubuhnya. Intinya
berbentuk oval dan terletak di bagian atas tubuhnya, di belakang inti
terdapat blepharoblast sebagai tempat keluarnya 4 buah flagella yang
menjuntai bebas dan melengkung di ujungnya sebagai alat geraknya yang
‘maju-mundur’. Flagella kelima melekat ke undulating membrane dan
menjuntai ke belakang sepanjang setengah panjang tubuh protozoa ini.

Keterangan :

a. Flagellata
b. Blepharoplast
c. Axostyle
d. Granula kromatin
e. Parabasal body dan filamen
f. Nukleus
g. Undulating membrane
Selain itu didapat data pH vagina 6 dan ditemukan leukosit yang
bercampur dengan secret vagina.Untuk hidup dan berkembang biak,
Trichomonas vaginalis membutuhkan kondisi lingkungan yang konstan
dengan temperatur sekitar 35-37°C, pH antara 4,9 dan 7,5 dan sangat baik
perumbuhannya pada pH berkisar 5,5 dan 6. Kondisi pasien yang memili
pH vagina 6 ini sangat mendukung pertumbuhan Trichomonas vaginlais
karena pada pH 6 adalah pH optimum pertumbuhannya..Dalam kondisi
normal, pH vagina berada di kisaran 3,8 dan 4,4 yang disebabkan oleh
adanya asam laktat yang dihasilkan oleh lactobacillus Döderlein.
Lactobaciilus ini dalam hidupnya menggunakan suplai glikogen yang
terdapat pada sel-sel vagina. Jadi, dalam pemeriksaaan sitologi vagina
normal tidak terdapat bakteri atau mikroorganisme lain kecuali
lactobacillus Döderlein. Trichomonas vaginalismasuk ke dalam vagina
melalui hubungan seksual, yang kemudian menyerang epitel squamosa
vagina dan mulai bermultiplikasi secara aktif. Hal ini menyebabkan suplai
glikogen untuk lactobacillus menjadi berkurang bahkan menjadi tidak ada
sama sekali. Dan diketahui secara invitro ternyata Trichomonas
vaginalisini memakan dan membunuh lactobacillus dan bakteri lainnya.
Akibatnya jumlah lactobacillus Döderlein menjadi sedikit dan dapat hilang
sama sekali sehingga produksi asam laktat akan semakin menurun. Akibat
kondisi ini, pH vagina akan meningkat antara 5,0 dan 5,5. Pada suasana
basa seperti ini selain Trichomonas vaginalisberkembang semakin cepat,
akan memungkinkan untuk berkembangnya mikroorganisme patogen
lainnya seperti bakteri dan jamur. Sehingga pada infeksi trichomoniasis
sering dijumpai bersamaandengan infeksi mikroorganisme patogen lainnya
pada vagina.Trichomonas vaginalis sangat sensitif terhadap tekanan
osmotik dan kelembaban lingkungan. Protozoa ini akan cepat mati bila
diletakkan di air atau dikeringkan. (Andriyani,2006).
Pada kasus ini, tropozoid ditransmisikansaat terjadi hubungan
kelamin,pria sering berperan sebagai pembawa parasit. Parasit ini berada
pada saluran uretra pada pria, seorang pria yangmembawa parasit akan
menularkan pada pasangannya saat terjadihubungan seksual, selanjutnya
wanita pasangannya tersebut akan terinfeksi oleh parasit dan berkembang
biak didaerah genital. Oleh karena itu, wanita tersebut tertular tropozoid
ini dari suaminya.
2.4 Faktor Resiko
1. Agent (penyebab penyakit)
Penyebab penyakit menular seksual sangat bervariasi dapat berupa
virus, parasit, bakteri dan protozoa.
2. Umur.
Biasanya penyakit menular seksual ini sering terjadi pada kaum
muda terutama wanita karena banyaknya sel-sel jaringan yang belum
berkembang secara sempurna sehingga rentan untuk terjadi infeksi.
3. Jenis kelamin
Tingkat keparahan dalam penyakit menular seks ini lebih banyak pada
penderita wanita, karena dipengaruhi oeh beberapa faktor diantranya:
 Perbedaan susunan anatomi pada organ reproduksi wanita dan pria.
Manifestasi gejala klinis pada pria lebih jelas sehingga
memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk ditangani
dengan fasilitas kesehatan.
 Diagnosa penyakit menular seksual pada pria lebih jelas sehingga
mudah untuk ditinjau.
4. Berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks.
Semakin banyak pasangan seksual, makan semakin besar faktor
resiko terkena penyakit menular seksual.
5. Kebersihan alat kelamin
Kebersihan alat kelamin harus tetap dijaga, terutama kelembapan
pada daerah alat reproduksi harus tetap kering karena penyebab penyakit
menular seksual seperti bakteri, protozoa, virus dan sebagainya mudah
berkembang pada area yang lembab.
6. Penggunaan pembersih vagina
Membersihkan alat kelamin menggunakan sabun biasa atau cairan
pembersih yang tidak jelas komposisi kandungannya atau menaburi bedak
bahkan menyemprotkan parfum didalam vagina menyebabkan bakteri
baik penjaga pH vagina mati serta menyebabkan jamur atau bekteri
lainnya dapat tumbuh dengan subur. Pemakaian pil KB dapat
menyebabkan keseimbangan hormon terganggu sehingga terjadi ketidak
seimbangan pH.
(Arjani, 2015).
2.5 Manisfestasi Klinis
a. Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual
b. Rasa nyeri pada perut bagian bawah
c. Pengeluaran lendir pada vagina/ alat kelamin
d. Keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan
kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya (biasaya disebabkan oleh
jamur Candida albicans)
e. Keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal (biasanya
disebabkan oleh protozoa seperti Trichomonas vaginalis)
f. Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seks
g. Bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada alat kelamin
(Daili, 2007).
2.6 Anatomi Fisiologi
2.6.1 Anatomi dan Fisiologi Organ Genital Wanita

Anatomi Organ Eksterna Wanita (Genetalia Eksternal)

1. Mons Veneris/ pubis


Daerah yang menggunung di atas simfisis, yang akan ditumbuhi
rambut kemaluan (pubis) apabila wanita berangkat dewasa.
2. Labia Mayora
Berada pada kanan dan kiri, berbentuk lonjong, yang pada wanita
menjelang dewasa di tumbuhi rambut lanjutan dari mons veneris.
Betemunya labia mayora membentuk komisura posterior.
3. Labia Minora
Bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu.
Merupakan suatu lipatan kanan dan kiri bertemu diatas preputium
klitoridis dan dibawah klitoris. Bagian belakang kedua lipatan setelah
mengelilingi orifisium vagina bersatu disebut faurchet (hanya nampak
pada wanita yang belum pernah melahirkan).
4. Klitoris
Identik dengan penis pada pria, kira-kira sebesar kacang hijau
sampai cabe rawit dan ditutupi frenulum klitorodis. Glans klitoris berisi
jaringan yang dapat berereksi, sifatnya amat sensitif karena banyak
memiliki serabut saraf.
5. Vestibulum
Merupakan rongga yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua labia
minora, anterior oleh klitoris dan dorsal oleh faurchet. Pada vestibulum
juga bermuara uretra dan 2 buah kelenjar skene dan 2 buah kelenjar
bartholin, yang mana kelenjar ini akan mengeluarkan sekret pada waktu
koitus.
6. Hymen
Merupakan selaput yang menutupi introitus vagina, biasanya
berlubang membentuk semilunaris, anularis, tapisan, septata, atau fimbria.
Bila tidak berlubang disebut atresia himenalis atau hymen imperforata.
Hymen akan robek pada koitus apalagi setelah bersalin (hymen ini disebut
karunkulae mirtiformis). Lubang-lubang pada hymen berfungsi untuk
tempat keluarnya sekret dan darah haid.
7. Perineum
Terletak diantara vulva dan anus, panjang sekitar 4 cm.
8. Vulva
Bagian dari alat kandungan yang berbentuk lonjong, berukuran
panjang mulai dari klitoris, kanan kiri diatas labia minora, sampai ke
belakang di batasi perineum.
Anatomi Organ Reproduksi Interna Wanita (Genetalia Interna)
1. Vagina (liang kemaluan)
Liang atau saluran yang menghubungkan vulva dan rahim, terletak
diantara kandung kencing dan rectum. Dinding depan vagina panjangnya
7-9 cm dan dinding belakang 9-11 cm. dinding vagina berlipat-lipat yang
berjalan sirkuler dan disebut rugae, sedangkan ditengahnya ada bagian
yang lebih keras disebut kolumnarugarum.
Dinding vagina terdiri dari 3 lapisan yaitu : lapisan mukosa yang
merupakan kulit, lapisan otot dan lapisan jaringan ikat. Berbatasan dengan
serviks membentuk ruangan lengkung, antara lain forniks lateral kanan
kiri, forniks anterior dan posterior. Bagian dari serviks yang menonjol ke
dalam vagina disebut portio.
Fungsi penting vagina adalah :
a. Saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dan sekret lain dari
rahim
b. Alat untuk bersenggama
c. Jalan lahir pada waktu bersalin
2. Serviks
Bagian yang menghubungkan antara vagina dan uterus, serviks
memiliki beberapa bagian yaitu
a. Pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan portio.
b. Pars supravaginalisservisis uteri adalah bagian serviks yang terdapat
diatas vagina.
Saluran yang terdapat di serviks dikenal kanalis servikalis berbentuk
saluran dengan panjang 2.5 cm. pintu saluran serviks sebelah dalam
disebut dengan ostium uteri internum dan bagian luar disebut dengan
ostium uterieksternum.
3. Uterus
Uterus berbentuk seperti buah alpukat , sebesar telur ayam yang
berongga, dindingnya terdiri dari otot polos. Uterus berukuran panjang 7 –
7,5 cm, lebar 5,25 cm, tebal 2,5 cm dan tebal dinding 1,25 cm. secara
fisiologis uterus dalam keadaan anteversiofleksi (serviks kedepan dan
memebentuk sudut dengan vagina, demikian juga korpus uteri kedepan
dan membentuk sudut dengan serviks uteri). Uterus terdiri dari:
a. Endometrium, terdiri dari epitel kubik, kelenjar – kelenjar dan
jaringan dengan banyak pembuluh darah. Endomeptrium melapisi
seluruh cavum uteri dan mempunyai arti penting dalam siklus haid
wanita.
b. Miometrium yang terdiri dari otot polos
c. Perimetrium.
Lapisan otot polos sebelah dalam berbentuk sirkuler, bagian tengah
berbentuk obliq dan bagian luar berbentuk longitudinal, seluruh lapisan ini
sangat penting dalam persalinan karena setelah plasenta lahir bagian ini
berkontraksi untuk menjepit pembuluh darah.
4. Tuba Falopii
Pangkal tuba falopii terletak di fundus uteri, terdiri dari:
a. Pars interstisialis yang terletak di pangkal tuba.
b. Pars ismika merupakan baguan yang agak melebar, sebagai tempat
konsepsi.
c. Infudibulum, bagian ujung tuba yang terbuka kea rah abdomen dan
mempunyai fimbria yang berfungsi menangkap telur yang sudah
matang untuk dibawa ke dalam tuba.
Otot dinding tuba bagian luar berbentuk longitudinal dan bagian
dalam berbentuk sirkuler. Dalam saluran tuba terdapat selaput yang
berlipat-lipat dengan sel yangbersekresi dan bersilia yang berfungsi untuk
menyalurkan telur hasil konsepsi kedalam kavum uteri.
5. Ovarium
Setiap wanita memiliki dua ovarium dengan ukuran sebesar ibu jari
tangan dengan panjang kira – kira 4 cm, tebal 1,5 cm. Pinggir atasnya
berhubungan dengan mesovarium tempat banyak pembuluh darah dan
serabut saraf. Ovarium terdiri dari bagian luar (korteks) dan bagian dalam
(medulla).
Pada korteks terdapat folikel-folikel primordial kira-kira 100.000
setiap bulan satu folikel akan matang dan keluar, kadang keluar 2
sekaligus secara bersamaan, folikel primer ini akan menjadi folikel de
graaf. Pada medulla terdapat pembuluh darah, urat saraf, dan pembuluh
lympha. Fungsi ovarium adalah:
1. Mengeluarkan hormon estrogen dan progesterone.
2. Mengeluarkan telur setiap bulan.
6. Persyarafan Saluran Genetalia
Pleksus hipogastrika superior adalah komponen utama dari sistem
syaraf otonom yang mensyarafi organ genetalia interna. Syaraf pudenda
berawal dari pleksus sakral lalu berjalan bersama arteri dan vena pudenda
melalui saluran pudenda untuk menyuplai serabut motorik dan sensorik
serta otot dan kulit perineum.
7. Aliran Limfatik
Vulva dan 1/3 distal vagina disuplai serangkain saluran limfatik
anatomotik yang bersatu untuk mengalir terutama menuju kelenjar getah
beninginguinal superficial. Aliran limfatik dari 2/3 atas v4g1n4 dan uterus
terutama mengarah ke kelenjar getah bening obturatorius, iliaka eksterna
,dan hipogastrik. Aliran limfatik ovarium mengikuti pembuluh ovarium
menuju getah bening para aorta.
2.6.2 Anatomi dan Fisiologi Organ Genital Pria
Alat Reproduksi (Genetalia) Luar
1. Penis (zakar)
Alat kelamin luar pada pria. Penis berfungsi untuk memasukkan
sperma ke dalam alat kelamin wanita melalui pertemuan keduanya
(Kopulasi). Penis merupakan organ yang tersusun atas otot yang dapat
tegang dan dilapisi oleh lapisan kulit tipis. Proses tegangnya penis disebut
Ereksi, hal ini dikarenakan adanya rangsangan yang membuat pembuluh
darah pada penis terisi. Setelah di sunat (khitan) kulit tipis (preputium)
yang melapisi glan penis akan dipotong.
Penis Juga memiliki fungsi untuk ejakulasi, yaitu mengeluarkan
sperma melalui uretra (saluran dalam penis), selama ejakulasi otot-otot
pada kandung kemih akan mengkerut, untuk mencegah sperma masuk ke
kandung kemih, oleh karena itu kita tidak bisa kencing sambil ejakulasi.
Penis terdiri atas beberapa bagian yaitu :

 Glan Penis, bagian kepala yang apabila telah dikhitan tidak dilapisi kulit
 Batang (corpus) Penis
 Pangkal Penis

Alat Reproduksi (Genetalia) Pria Dalam

1. Testis
Testis adalah organ kelamin dalam pria berbentuk oval yang
terletak di dalam skrotum. Testis berjumlah sepasang dan berfungsi untuk
menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan hormon seks
testosteron. Testis terletak di dalam skrotum yang merupakan organ
berugae (memiliki lipatan kulit), berfungsu untuk menjaga suhu testis agar
spermatogenesis dapat tetap berlangsung. Jika Suhu rendah (dingin) maka
skrotum akan berkerut dan mendekat ke arah tubuh, sedangkan jika suhu
tinggi, maka skrotum akan mengendur, menjauh dari tubuh
Tempat pembentukan sperma dalam testis adalah tubulus
seminiferus. Kemudian terdapat pintalan-pintalan tubulus seminiferus
yang terdapat di dalam ruang testis yang disebut lobulus testis, satu testis
umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis.
2. Epididimis
Epididimis adalah organ kelamin dalam pria berbentuk saluran
berkelok – kelok yang terletak di dalam skrotum, diluar testis. Epididimis
berbentuk seperti huruf C. Epididimis berfungsi dalam pengangkutan,
penyimpanan, dan pematangan sperma. Sebelum memasuki epididimis,
sperma tidak memiliki kemampuan untuk bergerak dan belum subur,
namun setelah epididimis menjalankan fungsinya, sperma sudah subur dan
mampu bergerak walaupun belum sempurna. Setelah dari epididimis
sperma akan masuk ke vas (duktus) deferens, lalu disalurkan menuju
vesikula seminalis.
3. Vas (duktus) Deferens
Vas Deferens adalah saluran berbentuk tabung yang berfungsi
untuk menyalurkan sperma ke vesikula seminalis dan sebagai tempat
penampungan sperma. Dalam proses pematangan dan penyimpanan
sperma, duktus deferens ini mendorong sperma dengan gerak peristaltik
lambat menuju vesikula seminalis. Sedangkan saat ejakulasi, gerakan yang
dilakukan cepat dan kuat sehingga sperma yang keluar dapat muncrat.
4. Kelenjar Kelamin
Kelenjar kelamin adalah organ – organ kelamin dalam pria yang
berfungsi untuk menghasilkan cairan tempat berenangnya sperma, dan
cairan ini akan menjaga sperma tetap hidup dengan cara menetralisir asam,
karena cairan itu bersifat basa. Dalam bahasa sehari – hari cairan ini kita
kenal dengan air mani, sedangkan dalam bahasa ilmiah dikenal dengan
nama semen. Dalam 1 ml air mani, terdapat sekitar 60 – 100 juta sel
sperma. Normalnya semen memiliki pH 7,2 dengan volume 3-5 ml, dan
berwarna putih susu sampai kekuning – kuningan serta sedikit kental.
Berikut adalah organ yang termasuk ke dalam kelenjar kelamin :
 Vesikula Seminalis (Kantung air mani), yaitu organ berupa saluran
berbentuk tabung berjumlah sepasang di kanan dan kiri tubuh.
Vesikula Seminalis memiliki panjang sekitar 5 – 10 cm. Vesikula
Seminalis berfungsi untuk mensekresikan cairan bersifat basa y (pH
7,3) mukus, vitamin, fruktosa (sebagai nutrisi bagi sperma), protein,
enzim, dan prostaglandin. Cairan dari vesikula seminalis ini
merupakan 60% dari seluruh volume semen. Vesikula Seminalis akan
menyatu dengan vas deferens dan kelenjar prostat untuk membentuk
saluran ejakulasi.
 Kelenjar Prostat, yaitu organ yang berada di bawah kandung kemih
yang berfungsi untuk mensekresikan cairan berwarna putih keabu-
abuan yang bersifat basa. Cairan ini disekresikan ke dalam saluran
ejakulasi dan menyumbangkan sekitar 30% dari seluruh volume
semen. Cairan kelenjar prostat akan bersatu dengan cairan dari
vesikula seminalis dan akan menjadi tempat hidup dan bergeraknya
sperma. Cairan yang disekresikan organ ini terdiri atas fosfolipid,
asam sitrat (untuk nutrisi) dan juga antikoagulan.
 Kelenjar Bulbouretra (Cowpery), yaitu kelenjar berjumlah sepasang
yang berfungsi untuk menghasilkan cairan lendir bersifat basa ke
dalam saluran ejakulasi. Kelenjar ini terletak di bawah kelenjar
prostat. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar Bulbouretra ini keluar
sebelum ejakulasi, dan dalam agama islam disebut mazi yang
merupakan najis dan cara mensucikannya sama seperti mencuci
kencing.

5. Uretra (Saluran Ejakulasi)


Uretra adalah saluran yang terletak di dalam penis, berfungsi untuk
tempat keluarnya sperma dan juga sebagai tempat keluarnya urin.

(Satria, 2015).
ANATOMI FISIOLOGI KASUS PADA PASIEN :

Pasien mengalami infeksi pada vagina, ditandai dengan terjadinya keluhan


pada alat genital luarnya. Serta uretra, ditandai dengan agak sakit saat kencing.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


1. Pengecekan pH
Menentukan pH vagina dengan mengambil apusan yang berisi sekret
vagina pada kertas pH dengan range 3,5 –5,5.pH vagina normal
adalah 3.8 – 4.5.
2. Wet mount
Apusan basah dapat digunakan untuk identifikasi dari flagel,
pergerakan dan bentuk teardrop dari protozoa dan untuk identifikasi
sel.
3. Pap Smear
Pap Smear adalah suatu pemeriksaan dengan cara mengusap leher
rahim untuk mendapatkan sel-sel leher rahim untuk kemudian
diperiksa untuk menganalisa adanaya perubahan sel pada leher Rahim
atau tidak.
4. Whiff Test
Bau khas “fishy odor” pada preparat basah yang disebut sebagai
“whiff test” yang dilakukan dengan meneteskan potassium hydroxide-
KOH padamicroscopic slide yang sudah ditetesi dengan cairan
keputihan.
5. Kultur
Teknik kultur menggunakan berbagai cairan dan media semi solid
untuk diagnosis, biasanya dengan menggunakan medium Feinberg-
Whittington.
6. Direct Immunofluorescence assay
Imunofluoresensi (IF) atau pencitraan sel merupakanteknik yang
bergantung pada penggunaan antibodi untuk antigen spesifik dengan
fluoresensi.fluorophore memungkinkan visualisasi dari target
distribusi dalam sampel di bawah mikroskop fluoresensi metode
tergantung pada fluorophore apakahfluophoretersebut konjugasi
primer atau antibodi sekunder.
7. Polimerase Chain Reaction
PCR adalah suatu teknik perbanyakan (replikasi) sampel DNA
menggunakan bantuan enzimDNA polymerase yang menggunakan
dua pasang primer untuk mengamplifikasi fragmen. PCR melibatkan
in vitro sintesis enzimatik dari jutaan salinan segmen DNA tertentu.
a. Reaksi didasarkan pada anil dan perpanjangan dua primer
oligonukleotida yang mengapit daerah target DNA dupleks
b. Setelah denaturasi DNA, masing-masing primer hybridizes ke
salah satu dari dua helai dipisahkan bahwa ekstensi tersebut dari
hidroksil akhir setiap 3 'diarahkan ke arah yang lain.
c. Primer yang anil kemudian diperpanjang pada untai cetakan
dengan DNA polimerase.
2.8 Terapi Farmakologi
Penyakit akibat infeksi Trichomonas vaginalis dapat diobati secara
topikal dan sistemik (oral).
a. Topikal
Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hydrogen peroksida 1-2%
dan larutan asam laktat 4%, bahan berupa supositoria yang bersifat
trikomoniasidal misalnya metronidazol sediaan 500 mg dan 1 gram, jel
dan krim yang berisi zat trikomoniasidal (Daili,2009).
b. Sistemik (oral)
Pada penyakit akibat infeksi Trichomonas vaginalis digunakan obat
golongan nitroimidazol terutama yaitu metronidazol. Metronidazol ini
memiliki informasi sebagai berikut:
Mekanisme
a. Metronidazol sebagai antiprotozoa pada infeksiTrichomonas vaginalis
dan amoeba, bekerja dengan mendestruksi protozoa tersebut.
b. Gugus nitro dari metronidazol pada posisi 5 secara kimiawi sangat
berperan untuk aktifitas amubiasis karena mampu mereduksi dan
berfungsi sebagai elektron aseptor terhadap gugus elektron donor
protein amoeba.
c. Akibatnya, terjadi gangguan proses biokimia; terjadinya interaksi
terhadap DNA sehingga menyebabkan perubahan struktur helik DNA
(hilangnya struktur heliks DNA), pemecahan ikatan dan kegagalan
fungsi DNA sehingga amuba mengalami kematian.
d. Metronidazol diabsorbsi baik melalui oral sekitar 80% dan
didistribusikan secara luas di dalam tubuh. Obat ini dimetabolisme di
hepar sehingga dosis harus diturunkan apabila diberikan pada
penderita gangguan hepar. Diekskresikan melalui urin dan feses.
Indikasi
Metronidazol adalah antibiotik. Metronidazol digunakan untuk
mengobati infeksia bakteri vagina, perut, kulit, sendi, dan saluran
pernapasan. Obat ini tidak dapat mengobati infeksi jamur vagina.
Kontraindikasi
a. Pasien yang hipersensitif terhadap obat atau derivat nitroimidazol
lainnya. Akan tetapi, desensitisasi dengan sangat berhati-hati telah
diusahakan pada beberapa pasien yang hipersensitif yang sangat
memerlukan terapi metronidazol.
b. Kehamilan trimester I:
Obat yang dapat digunakan selama kehamilan sebaiknya hanya yang
memang sangat dibutuhkan. Para ahli mengkontraindikasikan
penggunaan metronidazol pada trimester pertama kehamilan.
Interaksi Obat
a. Antikoagulan Kumarin
Metronidazol oral atau infus IV memperkuat efek antikoagulan oral
sehingga memperpanjang waktu protrombin. Karena itu pemakaian
metronidazol bersama antikoagulan sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Jika metronidazol digunakan pada pasien yang menerima antikoagulan
oral, waktu protrombin harus dimonitor dan dosis antikoagulan harus
disesuaikan dengan dosis metronidazol.
b. Alkohol
Metronidazol dapat menghambat alkohol dehidrogenase dan enzim
oksidator alkohol lainnya. Reaksi-reaksi seperti muka kemerahan, sakit
kepala, mual, muntah, kejang abdominal dan berkeringat telah ditemukan
pada sejumlah pasien yang mengkonsumsi alkohol saat menerima
metronidazol oral. Sebaiknya hindari konsumsi alkohol selama pemakaian
metronidazol atau paling tidak 1 hari (atau 3 hari dengan tablet extended
release atau kapsul metronidazol) setelah terapi metronidazol selesai.
c. Disulfiram
Pemakaian disulfiram dengan metronidazol dapat menyebabkan
psikosis akut dan konfusi pada beberapa pasien. Karena itu, kedua obat
jangan digunakan bersamaan sampai 2 minggu setelah pemakaian
disulfiram berakhir.
d. Fenobarbital
Penggunaan metronidazol bersamaan dengan fenobarbital
menurunkan waktu paruh metronidazol dalam serum. Ini dapat disebabkan
oleh peningkatan metabolisme dari antiinfeksi. Konsentrasi serum
metronidazol menurun dan konsentrasi serum 2 hidroksi0metil
metronidazol meningkat pada pasien yang menerima fenobarbital.
e. Lithium
Dimulainya terapi metronidazol jangka pendek pada pasien yang
distabilkan menggunakan lithium dengan dosis relatif tinggi dilaporkan
meningkatkan konsentrasi lithium dalam serum, menyebabkan tanda-tanda
toksisitas pada beberapa pasien. Pada beberapa kasus, gejala kerusakan
renal (sebagai contoh, peningkatan tetap pada konsentrasi kreatinin serum
yang persisten, hipernatremia, urin yang mengalami dilusi secara
abnormal).
f. Terfenadin dan Astemizol
Metronidazol dapat berinteraksi dengan astemizol dan terfenadin
menyebabkan peningkatan efek samping jantung yang serius.
g. Obat-obat lain
Neutropenia sementara dilaporkan pada 12 pasien yang
menggunakan metronidazol oral bersama dengan fluorourasil IV dan
sedikitnya 1 pasien yang menggunakan metronidazol bersama azatioprin.
Walaupun disarankan agar pasien yang menerima metronidazol dengan
fluorourasil atau azatioprin dapat berisiko lebih besar terkena neutropenia
dibanding bila obat-obatan tersebut digunakan secara tunggal, ini tidak
secara jelas dibuktikan dan dibutuhkan studi lebih lanjut.
Efek samping
1. Efek samping ringan:
Gatal-gatal; sulit bernafas; pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau
tenggorokan; sakit perut, diare; pusing, kehilangan keseimbangan; gatal
atau cairan vagina; mulut kering; batuk, bersin, hidung meler atau
tersumbat; atau lidah bengkak atau sakit.
2. Efek samping serius:
Mati rasa atau kesemutan di tangan atau kaki; bercak putih atau
luka di dalam mulut atau bibir; rasa sakit atau terbakar ketika buang air
kecil; diare yang berair atau berdarah; gangguan penglihatan, nyeri di
belakang mata; kesulitan berkonsentrasi, tremor, otot berkedut, kejang
(kejang); demam, menggigil, nyeri otot, kebingungan, sakit kepala, sakit
tenggorokan, leher kaku, peningkatan kepekaan terhadap cahaya,
mengantuk, mual dan muntah; atau reaksi parah kulit(Drugs.com staff,
2000).
- Dosis:
Dosis tunggal 2 gram per hari selama 7 hari. Selain dapat
digunakan metronidazol, dapat juga digunakan obat golongan
nitroimidazol lainnya, yaitu:
- Tinidazol : dosis tunggal 2 gram per hari selama 7 hari,
obat ini memperlihatkan spektrum antimikroba yang sama dengan
metronidazol. Perbedaannya dengan metronidazol adalah masa efek
samping yang ditimbulkan lebih ringan daripada metronidazol.
- Nimorazol : dosis tunggal 2 gram
- Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram
(Syarif,2009).

2.9 Fitoterapi
1. Camomile
Sediaan oral chamomile dapatdigunakansebagai antibiotic
untukkulitdan membrane mukosa seperti di mulut, saluran pernafasan,
mata ataupun kelamin (Supriayatna, 2015).
2. Daun Sirih
Daun sirih memiliki kemampuan sebagai antiseptic, antioksidan
dan fungisida. Cara penggunaannya dengan merebus daun sirih dan
dipakai untuk membersihkan daerah vital pada wanita (Moeljanto,2003).
2.10 Konseling dan Monitoring
Konseling Farmakologi
- Pasien diinformasikan cara menggunakan obat metronidasol. Untuk
dosis yang dapat diberikan berupa dosis tunggal (sehari sekali) sebesar
2 g PO selama 7 hari.
- Jika setelah pengobatan pertama gejala yang dialami pasien tidak
berkurang atau hilang, maka dapat diberikan regimen terapi yang lain
pada pasien. Pasien dapat diberikan obat yang sama (metronidazol)
dengan dosis ganda 1x2 500 mg PO selama 7 hari. Jika pengobatan
masih belum efektif dapat digunakan dosis 1x3 250 mg PO selama 10
hari.
- Selain metronidazol, pasien juga dapat diberikan tinidazol dengan
dosis tunggal 2 g PO selama 7 hari. Namun efektifitas yang dihasilkan
tidak sebesar obat metronidazol. Jika metronidazol dapat memberikan
efektifitas hingga 95%, tinidazol hanya bisa memberikan efektifitas
sampai 86%.
- Pasien diinformasikan efek samping obat yang digunakan.
- Pasien diinformasikan bahwa obat yang digunakan wajib dihabiskan
karena merupakan antibiotik. Kalau antibiotik tidak digunakan dengan
patuh maka akan mempertinggi kemungkinan terjadinya resistensi.
- Pasien diinformasikan tidak boleh menggandakan dosis obat. Jika ada
dosis yang terlewat maka pasien sebaiknya segera mengambil obat jika
waktunya tidak berdekatan dengan waktu pemberian dosis selanjutnya.
- Pasien diinformasikan jika terjadi overdosis yang ditandai dengan :
mual, muntah, pusing, kehilangan keseimbangan, mati rasa dan
kesemutan, maka segera hubungi emergency call.
- Pasien diinformasikan untuk tidak mengonsumsi alkohol selama
pengobatan.
- Pasien diinformasikan untuk melakukan pemeriksaan lagi setelah 3
bulan waktu pengobatan karena dikhawatirkan jamur akan tumbuh
kembali dan menimbulkan gejala yang sama.
(MIMS, 2016).
Konseling Non Farmakologi
- Menjaga kebersihan alat kelamin
- Menggunakan pakaian dalam yang bersih, tidak ketat dan tidak lembab.
- Meningkatkan personal hygiene seperti penggunaan tissue basah untuk
alat kelamin, danbenda yang mengalami kontak langsung dengan alat
kelamin diupayakan selalu dalamkeadaan bersih untuk menghindari
infeksi.
- Tidak melakukan hubungan seksual dengan orang selain pasangan, dan
tidak berhubunganseksual selama masih terinfeksi penyakit
dansebelumdinyatakansembuhagar tidak menimbulkan penularan.
- Bagi pasangan (suami/istri) perlu juga diperhatikan personal hygiene
- Untuk yang wanita, diingatkan agar rajin mengganti pembalut yang
digunakan karena dapat menjadi tempat pertumbuhan mikroba.
- Apabila suami/istri dan menggunakan alat kontrasepsi maka
diperhatikan penggunaan alat kontrasepsi yang baik dan benar
- Setia pada pasangan
(MIMS, 2016).
- Perlu dilakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan
seksual untuk mencegah infeksi yang menular (infeksi ping-pong)
- Hindari pemakaian satu barang secara bersamaan yang rentan terutama
barang yang rentan menularkan infeksi seperti handuk, pakaian,
pakaian dalam, dll
- Diinformasikan kepada pasien bahwa komplikasi dari penyakit
menular seksual yang tidak ditangani dengan benar dapat
menyebabkan komplikasi seperti peradangan pada daerah sekitar rahim,
infertilitas, dan ketuban pecah dini (pada wanita hamil) sehingga
menghasilkan kelahiran bayi yang premature serta memiliki berat
badan yang rendah
- Menjalani pengobatan secara disiplin yaitu dengan teratur, tepat, dan
tuntas sehingga dapat menghasilkan hasil yang baik sesuai harapan
yaitu sembuh dan tidak menyebabkan komplikasi
- Diinformasikan kepada pasien untuk tidak melakukan pengobatan
sendiri tanpa pemeriksaan ke dokter

(Kemenkes RI, 2011).


DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, Yunilda. 2006. Trichomonas Vaginalis. Tersedia online di


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf
(diakses tanggal 03 Desember 2016, 10:00).

Arjani, Ida Ayu M. S. 2015. Identifikasi Agen Penyebab Infeksi Menular Seksual.
Jurnal Skala Husada. Vol.12(01): 15-21.

Centers for Disease Control and Prevention. 2009. Sexually Transmitted Disease
Surveillance 2008. Georgia: U.S. Department of Health and Human
Services, Division of STD Prevention.

Daili, S. F. 2009. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.

Daili, Sjaiful Fahmi. 2007. Infeksi Menular Seksual. Jakarta: FKUI.

Drugs.com staff. 2000. Available athttps://www.drugs.com/metronidazole.html


[Diakses 07 Desember 2016].

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi


Menular Seksual. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan.

MIMS. 2016. Vaginitis: trichomoniasis, candidiasis, bacterial vaginosis. Tersedia


online di http://specialty.mims.com/disease/vaginitis--
%20trichomoniasis,%20candidiasis,%20bacterial%20vaginosis/managemen
t?channel=infectious-diseases&country=indonesia. [Diakses pada
1Desember 2016].

Moeljono, Rini Darmayanti. Mulyono. 2003. Khasiat dan Manfaat Daun Sirih
Obat Mujarab dari Masa ke Masa. Tangerang : PT Agromedia Pustaka.
Satria, Ase. 2015. Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita. Available
online at http://www.materibelajar.id/2015/12/anatomi-fisiologi-organ-
reproduksi.html [Diakses tanggal 1 Desember 2016].

Supriyatna, Febriyanti Maya, Dewanto, Wijaya Indra dan Ferry Ferdiansyah.


2015. Seri Herbal Medik Fitoterapi Sistem Organ. Yogyakarta: Deepublish.

Syarif,Amir E.2009. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI.