You are on page 1of 11

Kimia Unsur : Unsur Transisi Periode 4 (logam Transisi)

15:45 Susilo tri atmojo No comments

A. SIFAT SIFAT UNSUR TRANSISI


Adanya susunan elektron yang khas pada subkulit 3d dan 4s menyebabkan unsur
transisi periode keempat mempunyai sifat yang khas, yang berbeda dengan sifat
keperiodikan pada logam-logam golongan utama (A).

Beberapa sifat umum unsur transisi :

Dari tabel sifat keperiodikan di atas, kita dapat simpulkan beberapa sifat atomik dan
sifat fisis dari logam transisi :

1. Jari-jari atom berkurang dari Sc ke Zn, hal ini berkaitan dengansemakin


bertambahnya elektron pada kulit 3d, maka semakin besar pula gaya tarik
intinya, Sehingga jarak elektron pada kulit terluar ke inti semakin kecil.
2. Energi ionisasi cenderung bertambah dari Sc ke Zn. Walaupun terjadi sedikit
fluktuatif, namun secara umum Ionization Energy (IE) meningkat dari Sc ke Zn.
Kalau kita perhatikan, ada sesuatu hal yang unik terjadi pada pengisian elektron
pada logam transisi. Setelah pengisian elektron pada subkulit 3s dan 3p,
pengisian dilanjutkan ke kulit 4s tidak langsung ke 3d, sehingga kalium dan
kalsium terlebih dahulu dibanding Sc. Hal ini berdampak pada grafik energi
ionisasinya yang fluktuatif dan selisih nilai energi ionisasi antar atom yang
berurutan tidak terlalu besar. Karena ketika logam menjadi ion, maka elektron
pada kulit 4s lah yang terlebih dahulu terionisasi.
1. Konfigurasi elektron

Kecuali unsur Cr dan Cu, semua unsur transisi periode keempat mempunyai
elektron pada kulit terluar 4s2, sedangkan pada Cr dan Cu adalah 4s1.

B. Bilangan oksidasi
Senyawa-senyawa unsur transisi di alam ternyata mempunyai bilangan oksidasi
lebih dari satu. Adanya bilangan oksidasi lebih dari satu ini disebabkan mudahnya
melepaskan elektron valensi. Dengan demikian, energi ionisasi pertama, kedua dan
seterusnya memiliki harga yang relatif lebih kecil dibanding unsur golongan utama.

Walaupun unsur transisi memiliki beberapa bilangan oksidasi, keteraturan dapat


dikenali. Bilangan oksidasi tertinggi atom yang memiliki lima elektron yakni jumlah
orbital d berkaitan dengan keadaan saat semua elektron d (selain elektron s)
dikeluarkan. Jadi, dalam kasus skandium dengan konfigurasi elektron (n-1)d1ns2,
bilangan oksidasinya 3. Mangan dengan konfigurasi (n-1)d5ns2, akan berbilangan
oksidasi maksimum +7.

Bila jumlah elektron d melebihi 5, situasinya berubah. Untuk besi Fe dengan


konfigurasi elektron (n-1)d6ns2, bilangan oksidasi utamanya adalah +2 dan +3.
Sangat jarang ditemui bilangan oksidasi +6. Bilangan oksidasi tertinggi sejumlah
logam transisi penting seperti kobal Co, Nikel Ni, tembaga Cu dan zink Zn lebih
rendah dari bilangan oksidasi atom yang kehilangan semua elektron (n–1)d dan ns-
nya. Di antara unsur-unsur yang ada dalam golongan yang sama, semakin tinggi
bilangan oksidasi semakin penting untuk unsur-unsur pada periode yang lebih besar.

Sifat sifat yang lain seperti kemagnetan, warna ion dan senyawa, dan sifat katalitik
akan dijelaskan secara terperinci pada halaman lain.
Sebagian besar logam terdapat di alam dalam bentuk senyawa. Hanya
sebagian kecil terdapat dalam keadaan bebas seperti emas, perak dan sedikit
tembaga. Pada umumnya terdapat dalam bentuk senyawa sulfida dan oksida,
karena senyawa ini sukar larut dalam air. Contohnya : Fe2O3, Cu2S, NiS, ZnS, MnO2.
Pengolahan logam dari bijih disebutmetalurgi. Bijih adalah mineral atau
benda alam lainnya yang secara ekonomis dapat diambil logamnya. Karena logam
banyak terdapat dalam bentuk senyawa (oksida, sulfida), maka prosesnya selalu
reduksi.
Ada tiga tingkat proses pengolahan, yaitu :
1. Menaikan konsentrasi bijih.
2. proses reduksi
3. Pembersihan, pembuatan aliase dan pemurnian
1. Menaikan Konsentrasi Bijih.
Memisahkan bijih dari campurannya misalnya dengan ditumbuk, lalu
dipisahkan dengan berbagai cara, misalnya :
a. Dicuci dengan air.
b. Diapungkan dengan deterjen atau zat pembuih (flotasi)
c. Dipisahkan dengan magnet
d. Dengan pemanggangan. Bijih dipanaskan di udara terbuka, menghasilkan oksidanya.
2 ZnS + 3 O2 2ZnO + 2 SO2
e. Dilarutkan sehingga terbentuk senyawa kompleks
2. Proses Reduksi
Umumnya menggunakan reduktor yang murah yaitu karbon (kokes). Untuk
logam yang reaktif digunakan reduktor yang lebih kuat seperti hidrogen, logam alkali
tanah dan alumunium. Logam-logam yang sangat reaktif dilakukan reduksi
elektrolisis (reduksi katodik)
a. Reduksi dengan karbon (C) :
ZnO + C Zn + CO
Fe2O3 + 3 CO 2 Fe + 3CO2
b. Reduksi dengan logam yang lebih reaktif :
TiCl4 + 2 Mg Ti + 2MgCl2
Cr2O3 + 2 Al 2 Cr + Al2O3
3. Proses Pemurnian (refining)
Dengan proses-proses peleburan, destilasi atau dengan elektrolisis. Proses
peleburan misalnya untuk memperoleh tembaga 99% untuk membuat baja dan
sebagainya. Untuk memperoleh tembaga yang murni untuk keperluan teknik listrik
dilakukan dengan elektrolisis. Dengan destilasi misalnya pada pembuatan air raksa
dan seng. Berikut ikhtisar mineral dan cara memperoleh logam transisi periode 4.

Tabel 55.1 Mineral dan cara memperoleh logam transisi periode keempat.
Unsur Bijih/mineral Senyawa yang Pereduksi Keterangan
direduksi
Sc Tidak dibuat dalam
skala industri
Ti Rutile, TiO2 TiCl4 Mg atau Na
V Carnolite, V2O5 V2O5 Al
Cr Chromite, FeCr2O4 Na2Cr2O7 C lalu Al
Mn Pyrolucite, MnO2 Mn3O4 Al
Fe Haematite, Fe2O3 Fe2O3 C atau CO Dapur tinggi
Magnetite, Fe3O4
Co Cobaltite, Co As S Co3O4 Al
Ni Millerite, NiS NiO C
Cu Copper glance, CuS Cu2S S*
Zn Zink blende, ZnS ZnO C(CO) Dapur tinggi
* Reduksi sendiri : Cu2S(s) + O2 (g) 2 Cu(s) + SO2(g)
B. BESI DIEKSTRAKSI DARI OKSIDA BESI DENGAN REDUKTOR KARBON
PENGOLAHAN BESI BAJA
Bahan dasar : Bijih besi hematit Fe2O3, magnetit Fe3O4, bahan tambahan batu
gamping, CaCO3 atau pasir (SiO2). Reduktor kokes (C)
Dasar reaksi : Reduksi dengan gas CO, dari pembakaran tak sempurna C
Tempat : Dapur tinggi (tanur tinggi), yang dindingnya terbuat dari batu tahan api.
Gb.55.1. Dapur Tinggi
Reaksi dalam dapur tinggi adalah kompleks. Secara sederhana dapat dilihat
pada penjelasan berikut. Dalam 24 jam rata-rata menghasilkan 1.000 – 2.000 ton
besi kasar dan 500 ton kerak (terutama CaSiO3). Kira-kira 2 ton bijih, 1 ton kokes
dan 0,3 ton gamping dapat menghasilkan 1 ton besi kasar.
Reaksi yang terjadi :
1. Reaksi pembakaran.
Udara yang panas dihembuskan , membakar karbon terjadi gas CO 2 dan panas.
Gas CO2yang naik direduksi oleh C menjadi gas CO.
C + O2 CO2
CO2 + C 2CO
2. Proses reduksi
Gas CO mereduksi bijih.
Fe2O3 + 3CO 2 Fe + 3 CO2
Fe3O4 + 4CO 3 Fe + 4 CO2
Besi yang terjadi bersatu dengan C, kemudian mleleh karena suhu tinggi (1.500 0C)
3. Reaksi pembentukan kerak
CaCO3 CaO + CO2
CaO + SiO2 CaSiO3 kerak
pasir
Karena suhu yang tinggi baik besi maupun kerak mencair. Besi cair berada di
bawah. Kemudian dikeluarkan melalui lubang bawah, diperoleh besi kasar dengan
kadar C hingga 4,5%. Disamping C mengandung sedikit S, P, Si dan Mn. Besi kasar
yang diperoleh keras tetapi sangat rapuh lalu diproses lagi untuk membuat
baja dengan kadar C sebagai berikut :
baja ringan kadar C : 0,05 – 0,2 %
baja medium kadar C : 0,2 – 0,7 %
baja keras kadar C : 0,7 – 1,6 %
Pembuatan baja :
Dibuat dari besi kasar dengan prinsip mengurangi kadar C dan unsur-unsur
campuran yang lain. Ada 3 cara :
1. Proses Bessemer :
Besi kasar dibakar dalam alat convertor Bessemer. Dari lubang-lubang bawah
dihembuskan udara panas sehingga C dan unsur-unsur lain terbakar dan keluar gas.
Setelah beberapa waktu kira-kira ¼ jam dihentikan lalu dituang dan dicetak.
2. Open-hearth process
Besi kasar, besi tua dan bijih dibakar dalam alat open-hearth. Oksida-oksida besi
(besi tua, bijih) bereaksi dengan C dan unsur-unsur lain Si, P, Mn terjadi besi dan
oksida-oksida SiO2, P2O5, MnO2 dan CO2. dengan demikian kadar C berkurang.
3. Dengan dapur listrik.
Untuk memperoleh baja yang baik, maka pemanasan dilakukan dalam dapur listrik.
Hingga pembakaran dapat dikontrol sehingga terjadi besi dengan kadar C yang
tertentu.
C. EKSTRAKSI TEMBAGA DARI BIJIHNYA DILAUKAN MELALUI RANGKAIAN
REAKSI REDOKS.
Pengolahan tembaga
Tembaga terdapat di alam dalam bentuk senyawa Cu2S, Cu2O. Bijih tembaga
dinaikan konsentrasinya dengan proses pengapungan (flotasi) lalu dikenakan proses
pemanggangan. Maka terjadi proses reduksi intramolekuler, diperoleh tembaga.
Reaksinya :
Cu2S + O2 2 Cu + SO2
2 Cu2S + 3 O2 2 Cu2O + 2 SO2
Cu2S + 2 Cu2O 6 Cu + SO2
Tembaga yang diperoleh belum murni tetapi sudah dapat digunakan untuk
berbagai keperluan seperti pipa, bejana, dan lain-lain, tetapi belum baik untuk
penghantar listrik. Untuk memurnikan dilakukan proses elektrolis.
Proses pemurnian tembaga :
Susunan : - Katode : logam Cu dilapis tipis dengan karbon grafit.
- Anode : logam Cu tak murni
- Elektrolit : larutan CuSO4
Reaksi : Katode : Cu+2 + 2 e- Cu menempel katode.
Anode : Cu (An) Cu+2 + 2e-

Cu(An) Cu (katode)
Yang dapat tereduksi pada katode hanya Cu, sedang logam yang
kurang reaktif (Ag, Au) mengendap di dasar bejana, dan logam yang
lebih reaktif (Fe) tetap dalam larutan, sebagai ion Fe2+, Ag dan Au
merupakan hasil tambahan.
Unsur-Unsur Transisi Periode Keempat : Sifat Periodik

11 Januari 2012

UNSUR 21Sc 22Ti 23V 24Cr 25Mn 26Fe 27Co 28Ni 29Cu 30Zn

[Ar] [Ar] [Ar] [Ar] [Ar] [Ar] [Ar] [Ar] [Ar] [Ar]
Konfigurasi
3d1 3d2 3d3 3d5 3d5 3d6 3d7 3d8 3d10 3d10
Elektron
4s2 4s2 4s2 4s1 4s2 4s2 4s2 4s2 4s1 4s2

Massa
jenis Antara 3.4 – 8.92 (makin besar sesuai dengan arah panah)
(g/mL) ——————————————————–>
keelektro- Antara 1.3 – 1.9 (makin besar sesuai dengan arah panah)
negatifan

Bilangan 0;2; 0;2;3; 0;2; 0;2;3;


0;3 0;2;3 0;2;3 0;2;3 0;1;2 0;2
oksidasi 3;4 4;5 3;6 4;6;7

Titik lebur
Di atas 1000oC (berbentuk padat)
(oC)
Energi
ionisasi Antara 1872 – 2705 (sukar melepaskan elektron terluarnya)
(kJ/mol)
Jumlah
elektron Satu Dua Tiga Enam Lima Empat Tiga Dua Satu -
tunggal

Sifat para- Sifat yang disebabkan karena adanya elektron yang tidak
magnetik/ berpasangan diama-
fero- (=elektron tunggal) Makin banyak elektron tunggalnya, gnetik
magnetik makin bersifat feromagnetik

Warna ion Merah Hijau Merah


- - Ungu Biru Hijau Biru -
M2+ muda muda muda

Tak
Warna ion
ber- Ungu Hijau Hijau - Kuning - - - -
M3+
warna

Ion-ion tak
Sc3+ , Ti4+ , Cu+ , Zn2+
berwarna

Catatan :

MnO4- = ungu
Cr2O72- = jingga
BILANGAN UNSUR TRANSISI PERIODE 4

Seperti yang telah kita ketahui pada waktu kita kelas X atau pada kelas XII bab “Penyetaran
Reaksi Redoks”, kita kenal yang namanya bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi adalah
muatan yang diemban oleh unsur itu jika semua electron didistribusikan kepada unsur yang
lebih elektronegatif. Pada sub bab kali kita akan membahas bilangan oksidasi pada unsure
transisi periode ke 4. yang diantaranya adalah unsure : Sc, Ti, V, Cr, Mn, Fe, Ni, Co, Cu, ZN.
berikut konfigurasi electron unsur transisi pada periode 4 :

Skandium 21Sc : (18Ar) 3d1 4s2


Titanium 22Ti : (18Ar) 3d2 4s2
Vanadium 23V : (18Ar)3d34s2
Krom 24Cr : (18Ar) 3d5 4s1
Mangan 25Mn : (18Ar) 3d5 4s2
Besi 26Fe : (18Ar) 3d6 4s2
Nikel 27Ni : (18Ar) 3d7 4s2
Kobal 28Co : (18Ar) 3d8 4s2
Tembaga 29Cu : (18Ar) 3d10 4s1
Seng 30Zn : (18Ar) 3d10 4s2

Unsur-unsur transisi pada periode 4 mempunyai bilangan oksidasi lebih dari 1 tingkat.
Hal ini disebabkan oleh adanya subkulit 3d yang belum penuh.
Tingkat energi dari 5 orbital, 3d relatif sama,
sehingga perubahan konfigurasi yang terjadi pada sub kulit 3d
akan mempunyai tingkat kestabilan yang relatif sama pula.
Umumnya bila sub kulit 3d berisi lebih dari 6 elektron,
maka hanya sebuah electron dari 3d yang dapat dilepaskan
bahkan pada Zn (seng) electron sub kulit 3d tidak dapat dilepaskan sama sekali.
Akibatnya unsure Zn hanya dapat mempunyai bilangan oksidasi +2 sama seperti, Sc
(skandium) yang
hanya memiliki satu bilangan oksidasi, yaitu +3.

Berikut ini beberapa bilangan oksidasi pada unsure transisi periode keempat :
1. Sc (Skandium) Skandium hanya memiliki 1 bilangan oksidasi yakni +3, hal ini disebabkan
karena jika bereaksi dengan unsur lain untuk mencapai kestabilan skandium harus
melepaskan 3 elektron. Contoh : Sc+3 (mempunyai bilangan oksidasi +3)

2.Ti ( Titanium) Tintanium mempunyai 2 bilangan oksidasi yakni +3 dan +4. hal ini
disebabkan karena titanium pada sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d hanya
memiliki 2 elektron sehingga titanium dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 3 atau 4
agar titanium tetap stabil.Contoh : TiCl3 (Ti mempunyai bilok +3) dan TiO2 (Ti mempunyai
bilok +4)

3. V (Vanadium) Vanadium mempunyai 4 bilangan oksidasi yakni +2,+3,+4 dan +5, hal ini
disebabkan karena vanadium pada sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d
memiliki 3 elektron sehingga vanadium dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 2, 3, 4
atau 5. Contoh : V+2 (mempunyai bilangan oksidasi +2) ;V+3 (mempunyai bilangan oksidasi
+3); VO2 (mempunyai bilangan oksidasi +4); V2O5 (mempunyai bilangan oksidasi +5)

4. Cr ( Cromium) Cromium mempunyai 3 bilangan oksidasi yakni +2,+3, dan +6, hal ini
disebabkan karena cromium pada sub kulit 4s memiliki 1 elektron dan pada sub kulit 3d
memiliki 5 elektron sehingga cromium dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 2, 3,
atau 6. Contoh : Cr+2 (mempunyai bilangan oksidasi +2); Cr2O3 (mempunyai bilangan
oksidasi +3); Na2Cr2O7 (mempunyai bilangan oksidasi +4)
5. Mn (Mangan)
Mangan mempunyai 5 bilangan oksidasi yakni +2,+3,+4,+6 dan +7, hal ini disebabkan
karena mangan pada sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d memiliki 5
elektron sehingga mangan dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 2, 3,4,6 atau 7.
Contoh :
•MnO (mempunyai bilangan oksidasi +2)
•Mn2O3 (mempunyai bilangan oksidasi +3)
•MnO2 (mempunyai bilangan oksidasi +4)
•Mn2O7-2 (mempunyai bilangan oksidasi +6)
•Mn2O7 (mempunyai bilangan oksidasi +7)

6. Fe (Besi)Besi mempunyai 2 bilangan oksidasi yakni +2 dan +3, hal ini disebabkan karena
besi pada sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d memiliki 6 elektron sehingga
besi dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 2 atau 3 .
Contoh :
•FeCO3 (mempunyai bilangan oksidasi +2)
•Fe2O3 (mempunyai bilangan oksidasi +3)

7. Co (Cobalt)
Cobalt mempunyai 2 bilangan oksidasi yakni +2 dan +3, hal ini disebabkan karena cobalt
pada sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d memiliki 7 elektron sehingga
cobalt dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 2 atau 3 .
Contoh :
•CoS2O3 (mempunyai bilangan oksidasi +2)
•Co3O4+1 (mempunyai bilangan oksidasi +3)

8.Ni (Nikel)
Nikel mempunyai 2 bilangan oksidasi yakni +2 dan +3, hal ini disebabkan karena nikel pada
sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d memiliki 8 elektron sehingga nikel
dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 2 atau 3 .
Contoh :
•NiS (mempunyai bilangan oksidasi +2)
•Ni2O3 (mempunyai bilangan oksidasi +3)

9. Cu (Tembaga)
Tembaga mempunyai 2 bilangan oksidasi yakni +1 dan +2, hal ini disebabkan karena
tembaga pada sub kulit 4s memiliki 1 elektron dan pada sub kulit 3d memiliki 10 elektron
sehingga tembaga dapat mendistribusikan elektronnya sebanyak 1 atau 2 .
Contoh :
•Cu2S (mempunyai bilangan oksidasi +1)
•CuS (mempunyai bilangan oksidasi +2)

10. Zn (Seng)
Seperti sebelumnya telah kita ketahui, bahwa Zn (seng) hanya memiliki 1 bilangan oksidasi
yakni +2 karena Zn (seng) pada sub kulit 4s memiliki 2 elektron dan pada sub kulit 3d
memiliki 10 elektron tetapi tidak bisa dilepaskan sehingga hanya dapat melepaskan 2 elektron
saja.
Contoh : ZnO (mempunyai bilangan oksidasi +2)

Setelah kita pahami tentang bilok (Bilangan Oksidasi) unsure transisi periode 4,
kita dapat mengetahui berapa sifat unsur transisi tersebut yang akan dibahas pada sub bab
selanjutnya,
contohnya : unsur transisi yang memberikan warna dan tentang pembentukan senyawa
komplek.