You are on page 1of 3

Paradigma Pemerolehan Bahasa Kedua Melalui Pendekatan Teori

Behavioris.
Mar’atus Sholiha
20151110021
Sholiha.atus26@gmail.com
0895327866517
Manusia terkadang pada umumnya tidak merasakan bahwa bahasa yang digunakan
merupakan suatu keterampil yang luar biasa rumitnya. Pemakaian bahasa terasa sudah biasa
karena memang tanpa diajari oleh siapa pun seorang bayi akan tumbuh bersamaan dengan
perumbuhan bahasanya bila perkembangan dan fisiknya normal. Dari umur satu sampai
dengan satu setengah tahun seorang bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa yang
telah dapat kita identifikasikan sebagai kata. Ujaran satu kata ini tumbuh menjadi ujaran dua
kata dan akhirnya menjadi kalimat yang komplek menjelang umur empat atau lima tahun.
Psikolinguistik merupakan bagian dari interdisiplin ilmu yaitu terdapat dua ilmu yang
tergabung antara psikologi dan linguistik.. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada
permulaan abad ke 20 tatkala psikolog jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa
dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis. Pada saat itu telaah bahasa mulai
mengalami perubahan dari sifatnya yang hanya berupa ujaran yang dapat diamati sekedar dari
segi estetik menjadi kulural ke suatu pendekatan yang ‘ilmiah’. Sementara itu, di benua
Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat
dibagi menjadi empat tahap; (a) tahap formatif, (b) tahap linguistik, (c) tahap kognitif, dan (d)
tahap teori psikolinguistik, realita psikologis, dan ilmu kognitif (kess dalam
Dardjowidjojo,2010:2).
Tahapan kanak-kanak terdapat du proses yang terjadi dalam memperoleh bahasa,
yaitu proses kompetensi dan proses performasi. Kedua proses ini merupakan dua bagian
proses yang saling berlawanan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang
berlangsung secara implisit atau tidak disadari. Proses penguasaan ini menjadi sabuah syarat
untuk terjadinya proses performasi yang terbentuk dari dua buah proses, yakni proses
pemahaman dan proses penerbitan atau proses memproduksi kalimat-kalimat. Proses
pemahaman melibatkan kemampuan atau kognitif kanak-kanak dalam mengamati atau
kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan melibatkan
kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat itu sendiri. Kedua jenis proses
kompetensi ini apabila telah dikuasai saat masa kanak-kana akan menjadikan sebuah
kemampuan kanak-kanak itu. Kemampuan linguistik terdiri dari kemampuan memahami dan
kemampuan memunculkan atau meluncurkan kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik
transformasi generatif disebut perlakuan atau pembinaan, atau pelaksanaan bahasa atau
performatif (Chaer, 2003:167)
Pada masa saat ini pun bahasa yang berkaitan dengan Psikologi masih tetap
berkembang. Seperti contoh kasus seorang 2 remaja bersaudara, Kiara dan Dinda. Kiara
adalah remaja dewasa yang berusia 18 tahun sedangkan Dinda adalah remaja tanggung yang
berusia 15 tahun. Saat ini keduanya berdomisili di Surabaya. mereka berdua sama-sama lahir
di Jakarta yang kedua orang tuanya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi
sehari-hari. Otomatis bahasa pertama atau bahasa ibu yang di peroleh Kiara dan Dinda adalah
bahasa Indonesia. Bahasa pertama atau bahasa ibu merupakan bahasa yang dikuasai pertama
oelh seorang anak, seperti yang Kiaran dan Dinda peroleh bahasa pertama atau bahasa ibu
yang mereka kuasai adalah bahasa Indonesia Ketika usia Kiara mencapai 9 tahun dan Dinda
berusia 6 tahun orangtua mereka berpindah tempat tinggal ke Makasar, mereka berdua pun
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan tentunya bahasa baru. Dalam hal ini mereka
secara tidak langsung sesungguhnya dapat memperoleh bahasa kedua yaitu bahasa Makasar.
Namun setelah 1 tahun tinggal di Makasar, Kiara dan Dinda tetap tidak bisa menguasai
bahasa Makasar sebagai bahasa kedua mereka hanya logat bahasa Makasar saja yang mereka
bisa namun untuk berbicara menggunakan bahas Makasar mereka berdua tidak mampu. Hal
ini bila diteliti dalam teori behaviorisme, waktu yang digunakan yaitu 1 tahun mereka tinggal
di Makasar adalah waktu yang kurang cukup bagi mereka, hal ini juga dikarenakan tidak
maunya mereka memaksakan diri menggunakan bahasa Makasar sebagai bahasa sehari-hari
ketika mereka tinggal di Makasar karena hakikatnya bahasa adalah perlu adanya
pembiasaaan.
Begitu pula saat usia mereka sampai pada 10 dan 7 tahun, mereka berdua
meninggalkan Makasar dan pindah ke Surabaya tepatnya di perumahan Taman Dharma
Husada Utara sampai saat ini, itu artinya mereka berdua sudah 8 tahun berada di Surabaya.
Namun sampai saat ini Kiara dan Dinta tidak mampu menggunakan bahasa orang Surabaya
(Jowo Ngoko) dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pun mematahkan teori behavioris yang
meskipun ada pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka mendengarkan orang di
sekitarnya menggunakan bahasa Surabaya mereka tidak mampu menggunakan bahasa
tersebut dan menunjukan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia yang mereka peroleh lebih
mendominasi alam bahawa sadar mereka dalam menggunakan bahasa dimanapun mereka
tinggal. Jadi bila ditelusuri lebih dalam untuk memperoleh bahsa kedua tidak cukup hanya
dengan pembiasaan diri tinggal dalam asal tempat suatu bahasa tanpa adanya usaha untuk
mempraktikkan dan menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti
contoh yang telah dipaparkan sebelumnya berpindah-pindah tempat tinggal belum tentu
menjadikan pemerolehan bahasa kedua seseorang perlu adanya usaha yaitu latihan,
pembiasaan, dan pembelajaran yang terus dilakukan. Seseorang mampu memperoleh bahasa
kedua bila ada usaha yaitu, belajar lembaga formal, sadar dan sengaja mempelajari suatu
bahasa tersebut dan memliki pengetahuan tentang bahasa kedua secara eksplisit.

Reverensi
Chaer, A. (2003). Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Renika Cipta.

Dardjowidjojo, S. (2010). Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan


Obor Indonesia.