You are on page 1of 7

Aspek Etik dan Medikolegal Penggunaan Pain Relief

1 2 3 4
Taufik Suryadi , Aulia Rizki , Siti Rahmah , Khairani Aktarabay
1
Bagian Ilmu Forensik dan Medikolegal Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Indonesia
2,3,4
Dokter Muda Ilmu Forensik dan Medikolegal Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh,
Indonesia
Email: 1abiforensa@yahoo.com, 2 oolrizki@gmail.com, 3 sitirahmah1009@gmail.com ,
4
tara97@mhs.unsyiah.ac.id

Abstrak
Terapi nyeri merupakan suatu keharusan oleh dokter dalam menangani pasien terminal. Tujuan
pengobatan adalah memulihkan dan meminimalkan penderitaan yang dirasakan oleh pasien, untuk
itu pengetahuan tentang nyeri harus dikuasai karena nyeri juga sebagai penanda dari sebuah
diagnosis penyakit. Obat yang dipilih untuk meredakan nyeri adalah golongan opioid dan juga
dikombinasi dengan non opioid. Morfin sebagai analgesik opioid kuat direkomendasikan sebagai
obat lini pertama dan “gold standard” untuk meredakan nyeri sedang hingga berat. Penggunaan
morfin untuk terapi tercantum dalam undang-undang No. 35 tahun 2009, morfin termasuk
narkotika golongan II yang berkhasiat untuk mengobati dan boleh digunakan dalam terapi
meskipun penggunannya dibatasi karena mengakibatkan ketergantungan. Undang-undang No. 35
tahun 2009 tentang narkotika, menentukan pada pasal 7, bahwa narkotika hanya dapat digunakan
untuk kepentingan dan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Berdasarkan QS. Al-Baqarah 173 sesuatu yang hukumnya haram diperbolehkan jika
dalam keadaan darurat, sebagaimana bahwa pemakaian analgetik opioid kuat digunakan sebagai
terapi pada pasien terminal yang dalam kata lain adalah keadaan darurat.
Kata Kunci : Pain relief, analgesik opioid, medikolegal

Abstract
Pain therapy is a must by doctors in handling terminal patients. The goal of treatment is to restore
and minimize the suffering felt by the patient, for that knowledge of pain must be mastered because
pain is also a marker of a disease diagnosis. The drugs chosen for pain relief are opioids and also
combined with non opioids. Morphine as a strong opioid analgesic is recommended as a first line
drug and "gold standard" to relieve moderate to severe pain. The use of morphine for therapy is
stated in law No. 35 of 2009, morphine including class II narcotics which is efficacious for treating
and may be used in therapy even though its use is restricted because it results in dependence. Law
No. 35 of 2009 concerning narcotics, stipulates in article 7, that narcotics can only be used for the
benefit and health services and / or development of science and technology. Based on QS. Al-
Baqarah 173, something which is illegitimate is permissible if in an emergency, as well as the use
of strong opioid analgesics is used as a therapy in terminal patients which in other words is an
emergency.
Keyword: Pain relief, analgesic opioid, medicolegal

PENDAHULUAN
Berbagai macam nyeri dapat dirasakan mengenali pola kerusakan jaringan penting
oleh setiap individu. Faktor psikologis untuk dikaji agar terapi yang diberikan tepat
memengaruhi perbedaan derajat nyeri yang dan dapat mengurangi nyeri yang dirasakan
dirasakan pada tiap individu. Nyeri dapat oleh pasien.(1)
dirasakan di berbagai lokasi yang berbeda Penanganan nyeri adalah upaya
tergantung dari penyebabnya.(1) Pasien yang mengurangi rasa nyeri yang dilakukan pada
menderita nyeri kronis mengalami perubahan pasien bayi, anak, dewasa, dan pasien
yang terkait dengan gangguan fisiologis dan tersedasi dengan pemberian obat ataupun
sosial yang mempengaruhi kualitas hidup tanpa pemberian obat sesuai tingkat nyeri
seperti gangguan tidur, penurunan nafsu yang dirasakan pasien.(4) Golongan nyeri
makan, penurunan libido dan aktivitas berat (menunjukkan skala 7-10 dalam nyeri
seksual. Pasien nyeri sangat memikirkan numerikal) maka obat yang dipilih untuk
durasi dan intensitas rasa nyeri, bukan meredakan nyeri adalah golongan opioid dan
penyebab rasa nyeri sehingga pikiran pasien juga dikombinasi dengan non opioid. Morfin
nyeri fokus pada rasa sakit dan cara mencari sebagai analgesik opioid kuat
bantuan untuk mendapatkan obat penghilang direkomendasikan sebagai obat lini pertama
nyeri.(2) dan “gold standard” untuk meredakan nyeri
Pencegahan dan manajemen nyeri yang sedang hingga berat. Penggunaan morfin
tepat merupakan aspek penting.(1) Terapi untuk terapi tercantum dalam undang-undang
nyeri merupakan suatu keharusan oleh dokter No. 35 tahun 2009, morfin termasuk
dalam menangani pasien terminal.(3) Tujuan narkotika golongan II yang berkhasiat untuk
pengobatan adalah memulihkan dan mengobati dan boleh digunakan dalam terapi
meminimalkan penderitaan yang dirasakan meskipun penggunannya dibatasi karena
oleh pasien, untuk itu pengetahuan tentang mengakibatkan ketergantungan.(5)
nyeri harus dikuasai karena nyeri juga
sebagai penanda dari sebuah diagnosis DEFINISI NYERI
penyakit. Respon nyeri terhadap pengobatan International Association for the
bergantung pada pemberian obat yang tepat Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri
sesuai dengan lokasi, waktu, kualitas, dan sebagai pengalaman sensoris dan emosional
jaringan. Identifikasi, lokalisasi, dan yang tidak menyenangkan terkait kerusakan
jaringan aktual maupun potensial, atau b. Obat Analgesik Opioid, bekerja di
gambaran daripada kerusakan tersebut. sentral, diindikasikan untuk nyeri hebat
Medical dictionary oleh Farlex menyatakan contohnya pada penderita kanker dan
“nyeri sebagai perasaan tidak menyenangkan faktur.
yang disampaikan ke otak oleh neuron Pemberian pain relief berdasarkan
sensorik. Ketidaknyamanan menandakan tingkat keparahan nyeri:
adanya cedera aktual atau potensial pada 1. Nyeri ringan, seperti sakit gigi, sakit
tubuh. Namun rasa sakit lebih daripada kepala, nyeri otot, nyeri saat haid dapat
sensasi atau kesadaran fisik terhadap nyeri itu diberikan analgetik perifer yaitu
sendiri, itu juga termasuk persepsi, parasetamol, asetosal, dan glafenin
interpretasi subjektif dari ketidaknyamanan. 2. Nyeri jangka panjang, seperti reumatik,
Persepsi memberikan informasi tentang arthritis dapat diberikan analgetik anti
lokasi, intesitas, dan sesuatu yang inflamasi contohnya ibuprofen,
menunjukkan sifatnya. Macam-macam indometasin
respon yang ditunjukkan pada keadaan sadar 3. Nyeri hebat contohnya nyeri pada organ
ataupun tidak sadar terhadap sensari dan (lambung, usus, ginjal, empedu) dapat
persepsi, termasuk respons emosional diberikan analgetik sentral yaitu
menambah definisi lebih lanjut untuk konsep atropine, butilskopolamin, camylofen
keseluruhan rasa sakit.” 4. Nyeri hebat kronik akibat kanker,
Kata ‘sakit’ dan ‘penderitaan’ sering neuralgia berat diberikan analgetik
dimaknai sebagai hal yang sama, tetapi opioid seperti fentanyl,
pengalaman membuat persepsi nyeri menjadi dekstromoramida, bezitramida.
berbeda. Nyeri bersifat subjektif karena Skema manajemen nyeri pada penderita
melibatkan faktor kualitas sensorik, kognitif, kanker ada empat tingkat sebagai berikut:
motivasi, afektif, serta pengalaman terkait 1. Non opioid diberi peroral atau rektal,
cedera daripada penderita.(1) misalnya Parasetamol
2. Non opioid dikombinasikan dengan
PAIN RELIEF Kodein atau Tramadol
Analgetik atau obat pereda nyeri 3. Opioid peroral atau per rektal
merupakan zat yang dapat mengurangi rasa 4. Opioid parenteral.(6)
nyeri tanpa menyebabkan kehilangan
kesadaran. Analgetik, anipiretik, dan Obat ASPEK ETIK DAN MEDIKOLEGAL
Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) PENGGUNAAN PAIN RELIEF
merupakan kelompok obat yang memiliki Lebih dari 3,2 miliar orang di seluruh
banyak persamaan dalam efek terapi maupun dunia tidak memiliki akses pereda nyeri yang
efek samping. Sebagian besar efek terapi dan memadai meskipun morfin merupakan
efek samping didasari karena bersifat pengobatan yang paling efektif untuk rasa
menghambat prostaglandin dimana saat sakit yang parah, aman, efektif, banyak,
terjadi kerusakan sel terjadi pelepasan murah, dan mudah digunakan. Akses ke
prostaglandin. Berdasarkan farmakodinamik pengobatan nyeri sangat terbatas di negara
analgesik dibagi menjadi 2 kelompok besar, berpenghasilan rendah dan menengah terlihat
yakni: dari angka kematian akibat kanker 70% dan
a. Obat Analgesik Non Opioid (Perifer) kematian HIV 99% dimana hanya 7%
merupakan obat-obat yang bekerja di konsumsi analgesik opioid. Faktor
sistem saraf tepi dan bukan golongan terbatasnya akses pereda nyeri yang efektif
narkotika. adalah hokum dan peraturan,
kesalahpahaman budaya tentang rasa sakit, b. Menghindari dampak/ risiko nyeri
pelatihan yang tidak memadai bagi penyedia terhadap proses penyembuhan
layanan kesehatan, fungsi pasar yang tidak c. Memberikan kenyamanan pada pasien
baik, sistem kesehatan yang lemah, dan Ketentuan umum Undang-undang No.
kekhawatiran terjadinya pengalihan, 35 tahun 2009 tentang narkotika, narkotika
kecanduan, dan penyalahgunaan menjadi adalah zat atau obat yang berasal dari
penghalang yang mengakibatkan penderita tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
mati karena rasa sakit yang tidak ditangani.(7) maupun semi sintetis, yang dapat
Program penanganan nyeri The menyebabkan penurunan atau perubahan
American Cancer Society dibuat tahun 2010 kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi
untuk mengatasi hambatan-hambatan sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
tersebut guna meningkatkan akses terhadap menimbulkan ketergantungan yang
obat-obatan pereda nyeri. Upaya ini berfokus dibedakan kedalam golongan-golongan.(8)
pada hak asasi manusia, kebijakan, dan Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang
pelatihan dengan menggunakan pendekatan narkotika, menentukan pada pasal 7, bahwa
yang sesuai.(7) narkotika hanya dapat digunakan untuk
Tujuan kebijakan penatalaksanaan kepentingan dan pelayanan kesehatan
nyeri di rumah sakit adalah:(4) dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan
a. Semua pasien yang mengalami nyeri dan teknologi.(9)
mendapat pelayanan sesuai pedoman
dan prosedur manajemen nyeri

HUKUM PENGGUNAAN PAIN RELIEF


DALAM ISLAM Dalam hadits-hadits di atas Rasulullah tidak
membeda-bedakan. Rasulullah juga
bersabda:

“Setiap yang memabukan adalah khomr dan


setiap khomr adalah haram.” (HR. Muslim
no. 2003 dari hadits Ibnu Umar, Bab Bayanu “Dan aku melarang kalian dari segala
anna kulla muskirin khomr wa anna kulla yang memabukkan.” (HR. Abu Dawud no.
khmr harom, Abu Daud, no. 3679) 3677, bab al-‘inab yu’shoru lil khomr)
Ini adalah lafal Muslim, dalam riwayat yang Berdasarkan ketiga hadits diatas dapat
lain terlihat bahwa pemakaian zat memabukkan
tidak diperbolehkan, namun dosis yang
digunakan dalam penggunaan opioid
sebagai analgetik tidaklah mencapai batas
yang memabukkan sehingga dari ketiga
“Setiap yang memabukkan adalah hadits ini dapat disimpulkan penggunaan
haram.” (HR. Al-Bukhari no. 4087, 4088 analgetik opioid hukumnya boleh. Tetapi
bab ba’ts Mu’adz ilal yaman qobla hajjatil lain halnya dengan hadits di bawah ini
wada’, no. 5773, Muslim no. 1733) bahwa banyak atau sedikitnya khamr tidak
berbeda (hukumnya). Dari ‘Abdullah bin
‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Setiap yang memabukkan hukumnya haram,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan apa yang banyaknya memabukkan, maka
bersabda:
sedikitnya pun tetap haram.”
Hadits di atas menegaskan bahwa jika
zat tersebut dapat memabukkan dalam
jumlah yang banyak, maka sedikitpun yang
digunakan hukumnya tetap haram. Lalu
dilihat pula dari QS Al-Baqarah 173 dan Al-
Ahzab 58.

QS. Al-Baqarah [2] ayat 173:

Artinya :
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang
(ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
(memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak
ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

QS. Al- Ahzab: 58

Artinya: kesalahan yang mereka perbuat, maka


“Dan orang-orang yang menyakiti orang- sesungguhnya mereka telah memikul
orang yang mukmin dan mukminat tanpa kebohongan dan dosa yang nyata.”
Berdasarkan QS. Al-Baqarah 173 golongan II yang berkhasiat untuk mengobati
sesuatu yang hukumnya haram dan boleh digunakan dalam terapi meskipun
diperbolehkan jika dalam keadaan darurat, penggunannya dibatasi karena
sebagaimana bahwa pemakaian analgetik mengakibatkan ketergantungan. Berdasarkan
opioid kuat digunakan sebagai terapi pada QS. Al-Baqarah 173 sesuatu yang hukumnya
pasien terminal yang dalam kata lain adalah haram diperbolehkan jika dalam keadaan
keadaan darurat. QS Al-Ahzab 58 juga darurat, sebagaimana bahwa pemakaian
melarang untuk meyakiti diri sendiri atau analgetik opioid kuat digunakan sebagai
orang lain, dalam arti kata pasien dalam terapi pada pasien terminal yang dalam kata
keadaan nyeri hebat tidak boleh dibiarkan lain adalah keadaan darurat.
begitu saja tanpa diberi pereda nyeri, dimana .
analgetik untuk nyeri hebat merupakan
analgetik opioid.

KESIMPULAN
Analgetik atau obat pereda nyeri
merupakan zat yang dapat mengurangi rasa
nyeri tanpa menyebabkan kehilangan
kesadaran. Analgetik dibagi menjadi 2
golongan, obat analgetik non opioid atau
bukan golongan narkotika dan obat analgetik
opioid atau analgetik golongan narkotika.
Opioid diindikasikan untuk nyeri hebat.
Golongan nyeri hebat, maka obata yang
dipilih untuk meredakan nyeri adalah
golongan opioid. Morfin sebagai analgesik
opioid kuat direkomendasikan sebagai obat
lini pertama untuk meredakan nyeri sedang
hingga berat. Penggunaan morfin untuk
terapi tercantum dalam undang-undang No.
35 tahun 2009, morfin termasuk narkotika
Daftar Pustaka

1. Kumar KH, Elavarasi P. Definition of Analgesik Morfin pada Pasien Kanker


pain and classification of pain Payudara. Universitas Airlangga;
disorders. J Adv Clin Res Insights. 2016.
2016;3(June):87–90. 6. Ganiswara SS et all. Analgesik,
2. Świeboda P, Filip R, Prystupa A, Antipiretik, dan NSAID. Manaj Mod
Drozd M. Assessment of Pain: Types, dan Kesehat Masy. 2011;IX:1–3.
Mechanism and Treatment. Ann Agric 7. O’Brien M, Schwartz A, Plattner L.
Env Med. 2013;(1):2–6. Treat the Pain Program. J Pain
3. Felenditi D. Terapi paliatif dalam Symptom Manage. 2018;55(2):135–9.
profesi kedokteran. J Biomedik. 8. Undang-Undang Republik Indonesia
2013;5(1):21–5. Nomor 35. Tentang Narkotika. 2009.
4. Yudiyanta D. Assessment Nyeri. Dep 9. Kiaking CJ. Penyalahgunaan
Neurol Fak Kedokt Univ Gadjah Narkotika Menurut Hukum Pidana
Mada, Yogyakarta, Indones. dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2015;42(3):214–34. 2009 tentang Narkotika. Lex Crim.
5. Wisanti N. Studi Penggunaan 2017;VI(1):106–14.