You are on page 1of 6

1

Perbandingan Antena Yagi 3 Elemen Dan


Antena Yagi 6 Elemen Dengan Frekuensi 9 GHz
Liza Faradilla Sari

Abstract—Di indonesia sendiri, Antena Yagi digunakan pada Gambar 1 merupakan elemen pada Antena Dipole ½ λ
televisi atau pemancar radio telekomunikasi. Hal ini
membuktikan bahwa Antena Yagi memiliki kemampuan lebih
dan dapat dimodifikasi lagi untuk aplikasi yang lebih modern.
Antena Yagi mudah untuk di buat dan dimodifikasi. Dalam
makalah ini, antena yang digunakan sebagai pemancar adalah
Antena Microstrip, sedangkan pada penerima menggunakan
Antena Yagi. Antena Yagi memiliki aturan pembuatan seperti
Antena Dipole yang meliputi struktur cara pemasangan
elemennya. Hasil-hasil yang didapatkan dari praktikum akan
memiliki nilai HPBW, FBR, Gain dan pola radiasi masing-
masing. Antena Yagi memiliki HPBW nilai maksimum 60° dan Gambar 1. Antena Dipole ½ λ [1]
nilai minimun 41°. Sedangkan untuk FBR bernilai maksimum
ketika 23,03 dBm dan bernilai minimum ketika 10,06 dBm. Berdasarkan elemen pada Antena Dipole diatas, terlihat
Selain itu, nilai Gain pada Antena Yagi juga mencapai titik
bahwa Antena Dipole hanya seperti antena kawat biasa yang
maksimum ketika 1,46 dBm dan bernilai minimum saat -12,1
dBm. memiliki elemen balun. Antena tersebut tidak memiliki
elemen sebagai pengatur polarisasi dan pola radiasi suatu
I. PENDAHULUAN antena. Sehinggga sewaktu sinyal dikirimkan pada antena si
penerima(Antena Dipole) maka pola radiasi yang terbentuk
A NTENA adalah suatu alat yang diperlukan oleh stasiun
radio, yang mana antena memancarkan sinyal berupa
gelombang radio. Dalam proses pemancarannya, antena si
adalah pola radiasi bidirectional (pola radiasi 2 arah yaitu
depan dan belakang).[1]
pengirim akan mengirimkan sinyal berupa informasi pada
antena si penerima. Dalam proses pengiriman sinyal, baik
buruknya sinyal yang sampai dipenerima tergantung pada
parameter antena seperti polarisasi, pola radiasi, Gain dan
FBR nya.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai pengukuran
Antena Yagi. Antena Yagi adalah antena yang memiliki pola
radiasi unidirectional. Antena ini pemancarannya hanya
terfokus pada satu aah seperti pada antena TV. Antena Yagi Gambar 2. Pola Radiasi Bidirectional pada Antena
digunakan dalam frekuensi 10 MHz. Selain itu Antena Yagi Dipole[1]
merupakan suatu antena pengembangan dari Antena Dipole.
Perbedaan masing-masing antena terletak pada elemen antena Selain Antena Dipole memiliki pola radiasi bidirectional,
nya. Pada Antena Dipole, tidak memiliki elemen reflektor dan antena tersebut juga memiliki pola radiasi omnidirectional
director, sedangkan pada Antena Yagi memiliki 3 bagian pada polarisasi vertikal dipenerima dan pengirim. Pola radiasi
elemen yaitu driven, reflector dan director. omnidirectional adalah pola radiasi yang pancaran antenaya
sama ke segala arah tetapi daerah cakupannya kecil seperti
II. KAJIAN PUSTAKA Gambar 3. [1]
Antena Yagi ditemukan oleh 2 orang berkebangsaan jepang
yaitu guru dan murid yang dikenal dengan Antena YAGI-
UDA. Antena Yagi merupakan pengembangan dari Antena
Dipole. Perbedaan tersebut terletak pada masing-masing
elemen. [1]

Gambar 3. Pola Radiasi Omnidirectional pada Antena


Dipole[1]
2

Berbeda dengan Antena Dipole, Antena Yagi memiliki III. SETTING PENGUKURAN
elemen pengatur yang memantulkan pola radiasi antena ke Alat yang digunakan dalam praktikum adalah Antena
arah depan. Sehingga pancaran antena terfokus pada satu arah Microstrip untuk pengirim dengan frekuensi 9 GHz dan daya
yang dikenal dengan pola radiasi unidirectional. Elemen- -10 dBm (Gambar 6). Untuk antena penerima yaitu Antena
elemen pengaturnya seperti reflektor, driven dan director yang Yagi 3 elemen (Gambar 7.1) dan 6 elemen (Gambar 7.2) yang
bisa dilihat pada Gambar 4.[2] memiliki frekuensi dan daya yang sama dengan antena
pengirim. Kemudian kabel dan konektor yang digunakan
seperti kabel power (Gambar 8), konektor SMA (Gambar 9),
kabel feeder (Gambar 10), Signal Generator (Gambar 11) dan
Spectrum Analyzer (Gambar 12).

Gambar 4. Elemen-Elemen Antena Yagi[2]

Reflektor merupakan elemen dari Antena Yagi yang


memiliki fungsi untuk memantulkan radiasi antena yang
menuju kebelakang menjadi radiasi arah ke depan antena.
Sedangkan driven adalah elemen terpenting dari Antena Yagi
karena driven menentukan jenis polarisasi dan frekuensi
resonansi pada antena. Sama halnya dengan reflektor, director
juga memiliki fungsi mengarahkan radiasi antena ke arah Gambar 6. Antena Microstrip
depan.[2]

Gambar 5. Pola Radiasi Unidirectional Antena Yagi[2]

Selain itu, pada antena juga terdapat sejenis perhitungan Gambar 7.1 Antena Yagi 3 Elemen
seperti Half Power Beamwith (HPBW) dan Front to Back
Ratio (FBR) dan Gain. HPBW adalah lebar sudut pada
setengah daya maksimum (-3 dB). Sedangkan FBR kuat
pancaran pada arah depan dan belakang pada antena. Dalam
menentukan nilai FBR dari suatu antena, ada beberapa bentuk
pemakaian rumus yang mana jika diketahui level terima dari
antena yang memiliki satuan dalam dBm sebagai berikut : [3]
FBR = Level terima sudut depan – level terima sudut
belakang
Sedangkan jika satuan dalam watt, maka rumus FBR yang
digunakan adalah
Gambar 7.2 Antena Yagi 6 Elemen
𝐋𝐞𝐯𝐞𝐥 𝐭𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐬𝐮𝐝𝐮𝐭 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧
FBR = [3]
𝐋𝐞𝐯𝐞𝐥 𝐭𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐬𝐮𝐝𝐮𝐭 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧𝐠

Untuk menghitung nilai Gain pada antena dapat


menggunakan rumus sebagai berikut:
Gain = P1(dBm) – P2(dBm)
[3]
Keterangan : P1(dBm) = level terima Antena Dipole sudut 0°
P2(dBm) = Level terima Antena Yagi sudut 0°
Gambar 8. Kabel Power
3

IV. HASIL PENGUKURAN DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka ada dua
macam Antena Yagi yang digunakan sebagai penerima yaitu
Antena Yagi 3 elemen dan Antena Yagi 6 elemen. Setelah
dijelaskan diatas, bahwasanya Antena Yagi merupakan antena
pengembangan dari Antena Dipole, maka sebelum melakukan
pengujian dengan Antena Yagi, praktikan melakukan
Gambar 9. Konektor SMA pengujian pada Antena Dipole dengan polarisasi H-H dan
polarisasi V-V. Maksud dari polarisasi H-H adalah antena
pada pengirim mempunyai polarisasi horizontal dan pada
penerima juga mempunyai polarisasi horizontal, begitu juga
dengan polarisasi V-V (Vertikal). Pada praktikum, gambar
pola radisi H-H yang dihasilkan Antena Dipole ½ λ
ditunjukkan pada Gambar 14 berupa pola radiasi
bideirectional. Pola radiasi bidirectional ini bisa terjadi karena
tidak adanya elemen pada Antena Dipole yang mengatur
pancaran radiasi, sehingga pancaran tersebut berada pada 2
Gambar 10. Kabel Coaxial arah bahkan ke segala arah pada polarisasi V-V. Dari pola
radiasi tersebut dapat ditentukan nilai HPBW dan FBR.
0 -46.32
30 30
-56.8925

60 -67.465 60
-78.0375

90 90

120 120

Gambar 11. Signal Generator 150 150


180

Gambar 14. Polarisasi H-H Antena Dipole ½ λ

Untuk nilai HPBW diperoleh level sudut terima maksimum


sebesar -46,32° dBm. Jika level terima tersebut dikurangkan
dengan -3 dB maka hasilnya -49,32° dB. Sehingga setelah
dihitung pada gambar nilai HPBW yang didapatkan adalah
Gambar 12. Spectrum Analyzer 50° kemudian untuk nilai FBR pada Antena Dipole sebagai
berikut:
Alat-alat tersebut akan membantu antena dalam
mengirimkan gelombang radio atau sinyal ke penerima. FBR = Level terima sudutdepan – level terima sudut
Tahapan kerjanya yaitu menghubungkan antena pada Signal belakang
Generator dan Spectrum Analyzer. Sebelum itu pastikan kabel = Level terima sudut 0° – level terima sudut 180°
coaxial telah terhubung pada antena dengan baik. Selanjutnya = -47,89° dBm – (-47,7° dBm)
frekuensi pada Signal Generator diatur 9 GHz dengan daya = -0,19° dBm
-10 dBm. Lalu mengatur pola radiasi satu lingkaran penuh
(360°) dan menghitung nilai HPBW, FBR serta Gain. Setting Praktikum selanjutnya mengukur Antena Dipole ½ λ
pengukurannya seperti Gambar 13. dengan polarisasi V-V sesuai hasil yang didapatkan pada
Gambar 15, dimana pola radiasi yang dihasilkan adalah
omnidirectional .
0 -37.3
30 30
-39.8775

60 -42.455 60
-45.0325

90 90

120 120

150 150
180

Gambar 13. Setting Pengukuran karakteristik Antena Yagi


Gambar 15. Polarisasi V-V Antena Dipole ½ λ
4

Dari paparan diatas, dapat dianalisa bahwa untuk Gain = P1(dBm) – P2(dBm)
menghasilkan pola radiasi yang jaraknya jauh maka = -47,61 – (-48,02)
dibutuhkan elemen pengatur pancaran radiasi. Elemen = 0,41 dBm
pengatur pancaran radiasi tersebut terdapat pada Antena Yagi 0 -48.02
30 30
yaitu elemen reflektor dan elemen director sebagaimana telah -55.6475

dijelaskan pada bab kajian pustaka. 60 -63.275 60

Selanjutnya dilakukan praktikum pengukuran pada Antena -70.9025

Yagi baik itu Antena Yagi 3 elemen dan Antena Yagi 6 90 90

Elemen. Antena Yagi 3 Elemen memiliki 1 reflektor, 1 driven


dan 1 director. Sedangkan Antena Yagi 6 elemen memiliki 1 120 120

reflektor, 1 driven dan 4 director. Kedua jenis antena ini 150 150
diukur secara bergantian. 180

Untuk Antena Yagi 3 elemen polarisasi H-H seperti


Gambar 16. Pada gambar terlihat bahwa pola radiasi yang Gambar 17. Polarisasi V-V Antena Yagi 3 Elemen
dihasilkan membentuk pola radiasi unidirectional (terfokus
Selanjutnya pengukuran pada Antena Yagi 6 elemen. Sama
pada satu arah) yang memiliki cakupan atau jangkauan jauh.
halnya dengan Antena Yagi 3 elemen, antena ini
0 -49.16
30 30 menghasilkan pola radiasi unidirectional yang memiliki
-57.13
jangkauan jauh. Gambar 18 dibawah ini menunjukkan
60 -65.1 60

-73.07
polarisasi H-H pada Antena Yagi 6 elemen, dimana level
sudut terima maksimum -35,26° dBm dan dikurangkan dengan
90 90
-3 dB sehingga diperoleh hasil -38,26° dBm. Setelah diukur
pada gambar, nilai HPBW nya yaitu 60°.
120 120

0 -35.26
150 150 30 30
180 -47.7075

60 -60.155 60
Gambar 16. Polarisasi H-H Antena Yagi 3 Elemen -72.6025

90 90
Sehingga dari gambar tersebut dapat ditentukan nilai
HPBW, FBR dan Gain. Untuk nilai HPBW diperoleh level
120 120
sudut terima maksimum sebesar -49,16° dBm. Jika level
terima tersebut dikurangkan dengan -3 dB maka hasilnya - 150 150
180
52,16° dBm. Sehingga setelah dihitung pada gambar, nilai
HPBw yang didapatkan adalah 50°. Sedangkan untuk nilai Gambar 18. Polarisasi H-H Antena Yagi 6 Elemen
FBR dan Gainnya diperoleh sebagai berikut:
Sedangkan untuk nilai FBR dan Gainnya diperoleh sebagai
FBR = Level terima sudutdepan – level terima sudut berikut :
belakang
= Level terima sudut 0° – level terima sudut 180° FBR = Level terima sudutdepan – level terima sudut
= -49,35° dBm – (-60,19° dBm) Belakang
= 10,84° dBm = Level terima sudut 0° – level terima sudut 180°
= -35,79° dBm – (-58,82° dBm)
Gain = P1(dBm) – P2(dBm) = 23,03° dBm
= -47,89 – (-49,35)
= 1,46 dBm Gain = P1(dBm) – P2(dBm)
= -47,89 - (-35,79)
Untuk polarisasi V-V Antena Yagi 3 elemen juga
= -12,1 dBm
menghasilkan pola radiasi unidirectional seperti Gambar 17.
Untuk nilai HPBW diperoleh level sudut terima maksimum
Pada polarisasi V-V Antena Yagi 6 elemen, ditunjukkan
sebesar -48,2° dBm. Jika level terima tersebut dikurangkan
pada Gambar 19, dimana level sudut terima maksimum -45,5°
dengan -3dB maka hasilnya -51,2° dBm. Sehingga setelah
dBm dan dikurangkan dengan -3 dB sehingga diperoleh hasil -
dihitung pada gambar nilai HPBW yang didapatkan adalah
48,5° dBm. Setelah diukur pada gambar, nilai HPBW nya
41°. Sedangkan untuk nilai FBR dan Gainnya diperoleh
yaitu 51°.
sebagai berikut :
FBR = Level terima sudutdepan – level terima sudut
belakang
= Level terima sudut 0° – level terima sudut 180°
= -48,02° dBm – (-58,08° dBm)
= 10,06° dBm
5

0 -45.5 0 -35.26
30
-53.8925
30 30 30 Keterangan :
-46.2125

-62.285
Polarisasi H-H
60 60 60 -57.165 60
-70.6775
Polarisasi V-V
-68.1175

90 90
90 90

120 120
120 120

150 150
180 150 150
180

Gambar 19. Polarisasi V-V Antena Yagi 6 Elemen


Gambar 22. Pola Radiasi Antena Yagi 6 Elemen
Untuk nilai FBR dan Gainnya dapat diperoleh sebagai berikut:
Sehingga dari ketiga gambar di atas dapat dibuktikan
FBR = Level terima sudutdepan – level terima sudut
Belakang bahwasannya suatu antena akan memiliki pola radiasi tertentu.
= Level terima sudut 0° – level terima sudut 180° Seperti yang telah dijelaskan, Antena Dipole memiliki pola
= -46,31° dBm – (-68,39° dBm) radiasi Biderectional (Gambar 20) dan Antena Yagi memiliki
= 22,08° dBm pola radiasi Unidirectional. Selain itu, dari Gambar 21 dan
gambar 22 di atas juga terdapat pernyataan bahwasannya,
Gain = P1(dBm) – P2(dBm) polarisasi H-H memiliki cakupan wilayah yang luas dari pada
= -47,61- (-46,31) polarisasi V-V. Semua karakteristik Antena Yagi dapat
= -1,3 dBm dirangkum dalam sebuah table sebagai berikut :

Pada Antena Yagi, semakin banyak elemen maka akan Tabel 1. Karakteristik Pengukuran Antena Yagi
semakin tinggi nilai HPBW dan FBR nya. Berikut ini adalah Antena Polarisasi Pola HPBW FBR Gain Level
gambar hasil gabungan dari masing-masing polarisasi Radiasi (dBm) (dBm) (dBm) Maks
(dBm)
(horizontal dan vertikal) suatu antena yaitu Antena Dipole,
Antena Yagi 3 elemen dan Antena Yagi 6 elemen.
Dipole H-H Biderectional 50° -0,19 0 -46,32
0 -37.3 ½λ
30 30
-50.1275 V-V Omnidirectional - - 0 -37,3
60 -62.955 60
Keterangan :
-75.7825 Polarisasi H-H Yagi 3 H-H Unidirectional 50° 10,84 1,46 -49,16
Polarisasi V-V Elemen
90 90
V-V Unidirectional 41° 10,06 0,41 -48,2

120 120 H-H Unidirectional 23,03 -12,1 -35,26


Yagi 6 60°
Elemen
150 150
180 V-V Unidirectional 51° 22,08 -1,3 -45,5

Gambar 20. Pola Radiasi Antena Dipole


Berdasarkan tabel 1, Antena Dipole memiliki nilai Gain 0
dBm pada level terima maksimum -46,32 dBm dan -37,3
30
0 -48.02
30
dBm. Sedangkan Antenna Yagi memiliki nilai HPBW
-56.275 maksimum 60° dan nilai minimum 41°. Untuk FBR bernilai
60 -64.53 60 Keterangan : maksimum ketika 23,03 dBm dan bernilai minimum ketika
-72.785 Polarisasi H-H 10,06 dBm. Selain itu, nilai Gain pada antena Yagi juga
90 90 Polarisasi V-V mencapai titik maksimum ketika 1,46 dBm dan bernilai
minimum saat -12,1 dBm.
120 120

150 150
180

Gambar 21. Pola Radiasi Antena Yagi 3 Elemen


6

V. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil
kesimpulan bahwa Antena Yagi merupakan pengembangan
dari Antena Dipole yang mana Antena Dipole memiliki pola
radiasi Biderectional pada polarisasi horizontal dan memiliki
pola radiasi Omnidirectional pada polarisasi vertikal. Untuk
mengatur jangkauan jauh pola radiasi suatu antena dibutuhkan
elemen yang dapat memantulkan pancaran radiasi ke satu arah
(depan) yaitu elemen reflector dan elemen director yang
dimiliki oleh Antena Yagi sehingga menghasilkan pola radiasi
Unidirectional (terfokus pada satu arah). Kemudian semakin
banyak elemen pada Antena Yagi, maka akan semakin tinggi
nilai HPBW dan nilai FBR yang diperoleh. Dapat dibuktikan
pada data percobaan Antena Yagi 3 elemen memiliki nilai
HPBW 50° dan nilai FBR 10,84 dBm. Sedangkan untuk
Antena Yagi 6 elemen nilai HPBW 60° dan FBR bernilai
23,03 dBm.

VI. DAFTAR PUSTAKA

1. Alaydrus,Mudrik.2011.(Antenna Prinsip Dan Aplikasi).


Yogyakarta. Graha Ilmu.

2. Wowok. 2008. Antena Wireless Untuk Rakyat. Yogyakarta.


Cv Andi Offset.

3. Firdaus N dan Yulindon.2016. Teori Dan Perancangan


Antena. Padang. Politeknik Negeri Padang.