You are on page 1of 8

MAKALAH AL-QUR’AN MAKIYAH DAN MADANIYAH

OLEH TRI MUERI SANDES


SABTU, 11 OKTOBER 2014

Bagikan :
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Para ulama dan ahli tafsir terdahulu memberikan perhatian yang besar
terhadap penyelidikan surat-surat al-Qur’an. Mereka meneliti al-Qur’an
ayat demi ayat dan surat demi surat untuk disusun sesuai dengan
nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat.
Bahkan lebih dari itu, merek amengumpulkan sesuai dengan waktu.,
tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat
yang memberikan kepada peneliti obyektif., gambaran menegenai
penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makki dan Madani.
Perhatian terhadap ilmu al-Qur’an menjadi bagian terpenting para
sahabat dibanding berbagai ilmu yang lain. Termasuk di dalamnya
membahas tentang nuzul suatu ayat, tempat nuzulnya, urutan turunnya,
di Mekkah dan Madaniah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi
termasuk kelompok Madani atau ayat yang diturunkan di Madaniah tetapi
masuk dalam kategori Makki dan sebagainya. Pada intinya persoalan ini
telah menjadi perhatian urgen pada masa sahabat. (Al-Qathathan,
1996:72).
Tema-tema seputar Makki dan Madani ini sangat banyak ragam
penyelidikannya. Abu al-Qasim al Hasan al Muhammad bin Habib al-
Nayaburi menyebutkan dalam kitabnya al-Tanbib ‘ala fadll ‘Ulum al-
Qur’an, bahwa di antara ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling mulia adalah
ilmu tentang nuzul al-Qur’an dan tempat turunnya, urutan turunnya di
Mekkah dan di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi masuk
dalam kategori Madaniyah dan diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam
kategori Makkiyah, tentang yang diturunkan di Madinah mengenai
penduduk Mekkah, tentang yang serupa dengan yang diturunkan di
Mekkah (Makki) tetapi termasuk Madaniyah dan serupa dengan yang
diturunkan di Madinah (Madaniyah) tetapi termasuk Makkiyah dan tentang
yang diturunkan di Juhafah, di Bayt al-Maqdis, di Tha’if maupun
Hudaibiyyah. Demikian juga yang diturunkan di waktu malam, di waktu
siang, secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Ayat-ayat Makki dan
surat-surat Madani atau sebaliknya dan seterusnya; tema-tema itu
keseluruhan berjumlah berjumlah tidak kurang dari 25 pokok bahasan.
Kesemuanya itu berkumpul dalam satu ilmu yaitu Ilmu Makki dan Madani.
Tema-tema tersebut merupakan persoalnan penting untuk didiskusikan
dalm rangka memeperdalam ilmu-ilmu al-Qur’an, namun demikian dalam
tulisan ini tidak akan dibahas semuanya, melainkan hanya beberapa tema
dasarnya saja yang dirasa sudah cukup sebagai pengantar. Hal demikian
semata-mata mempertimbangkan keterbatasan tempat dan waktu. Dan
bukan dalm artian memperkecil nilai tema-tema di atas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan makkiyah dan madaniyah?
2. Apa perbedaan makkiyah dan madaniyah?
4. Apa ciri-ciri ayat makiyah dan madaniyah?
5. Apa contoh-contoh surat yang tergolong makiyah dan madaniyah?
6. Apa saja kegunaan mempelajari makiyah dan madaniyah?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian makiyah dan madaniyah.
2. Mengetahui perbedaan makiyah dan madaniyah..
4. Mengetahui ciri-ciri ayat makiyah dan madaniyah.
5. Mengetahui contoh-contoh surat yang tergolong makiyah dan
madaniyah.
6. Memahami kegunaan mempelajari makiyah dan madaniyah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Makiyah dan Madaniyah
Makkiyah diambil dari nama kota Makkah, tempat Islam lahir dan tumbuh.
Kata makkiyah merupakan kata sifat yang disandarkan kepada kota
tersebut. Dan sesuatu disebut makkiyah apabila ia mengandung kriteria
yang berasal dari Makkah atau yang berkenaan dengannya. Begitu pula
dengan madaniyah, ia diambil dari nama kota Madinah, tempat Rasulullah
SAW berhijrah dan membangun masyarakat Islam serta mengembangkan
Islam hingga ke segala penjuru dunia.
Sekalipun kemudian da'wah Rasulullah melewati batas-batas wilayah
kedua kota tersebut, namun Makkah dan Madinah tetap mempunyai peran
yang signifikan dalam setiap proses pengembangan Islam. Karenanya
pengertian makkiyah dan madaniyah tidak hanya terbatas pada ruang
lingkup tempat atau penduduk yang berdiam dikedua kota tersebut,
melainkan mencakup didalamnya periode waktu. Dari sini kemudian para
ulama dalam mendefinisikan makkiyah dan madaniyah tidak hanya
terpaku pada pengertian yang sangat sempit, melainkan juga memasukan
unsur waktu yang tak terpisahkan dari sejarah Rasulullah.
Imam Az Zarkasyi dalam bukunya Al Burhan fi Ulum Al Qur'an telah
menyebutkan tiga variabel definisi mengenai makkiyah dan madaniyah.
1. Definisi berkonotasi tempat, bahwa makkiyah adalah unit
wahyu yang diturunkan di Mekah, dan madaniyah adalaha unit wahyu
yang diturunkan di Madinah.
2. Definisi berkonotasi periode waktu, bahwa makkiyah adalah
unit wahyu yang diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Dan madaniyah adalah unit wahyu yang diturunkan setelah hijrah.

3. Definisi berkonotasi objek wahyu, atau kepada siapa


khitabnya ditujukan. Maka makkiyah adalah unit wahyu yang dikhitabkan
kepada penduduk Mekah, sedangkan madaniyah adalah unit wahyu yang
dikhitabkan kepada penduduk Madinah.
Dan menurut beliau definisi yang kedua adalah yang sangat popular
dikalangan para ulama. Begitu pula dengan Imam As Suyuthi dalam
bukunya Al Itqan fi Ulum Al Qur'an.

B. Perbedaan Makiyah dan Madaniyah


Dari ketiga definisi yang telah dibahas, nampaklah bahwa ada tiga
konteks dalam melihat makkiyah dan madaniyah. Yaitu pertama, konteks
tempat. Kedua, konteks khitab. Dan ketiga, konteks waktu. Bila diteliti
lebih mendalam, akan terlihat kekhususan masing-masing konteks dan
kelebihannya. Dan atas dasar itulah kemudian para ulama melakukan
tarjih, definisi yang mana yang lebih tepat untuk dijadikan pijakan dalam
pembahasan makkiyah dan madaniyah. Sebab tidak mustahil kesalahan
dalam memilih definisi akan menyebabkan munculnya berbagai benturan
dan kesulitan dalam aplikasi. Karena itu akan kita bahas sekilas ketiga
konteks tersebut.
1. Makkiyah dan madaniyah dalam konteks tempat (tempat turunnya
wahyu).
Konteks ini menggolongkan setiap surat dan ayat yang turun di Makkah
dan sekitarnya sebagai makkiyah. Sekalipun ia turun setelah hijrahnya
Rasulullah. Begitu pula dengan halnya yang turun di Madinah dan
sekitarnya tergolong madaniyah. Lalu bagaimana dengan ayat atau surat
yang turun diluar kedua daerah tersebut?
Disini para ulama yang mendukung pendapat ini mengalami kesulitan,
mereka melihat tidak semua unit wahyu turun di Makkah dan Madinah
saja, melainkan ada yang turun diwilayah sekitar kota tersebut tapi tidak
termasuk dalam bagian kota. Imam Al Suyuthi sendiri telah memasukkan
wilayah sekitar Makkah seperti Mina, Arafat, Hudaybiah sebagai Makkah.
Dan memasukkan wilayah sekitar Madinah seperti Badar, Uhud dan Sala
sebagai wilayah Madinah. Hal ini tentunya mengundang perdebatan.
Akan tetapi ada yang memunculkan istilah baru dengan sebutan " ma
laysa bi makkiy wala madaniy" untuk memasukan ayat yang turun diluar
kedua kota tersebut seperti Tabuk dan Bait al Maqdis. Konteks ini memang
sulit diterima, dan dari sini tampaklah kelemahan pengertian makkiyah
dan madaniyah yang hanya terpaku pada konteks tempat.
2. Makkiyah dan madaniyah dalam konteks khitab (kepada siapa
ayat ditujukan).
Dalam konteks ini setiap unit wahyu yang didalamnya terkandung khitab
bagi penduduk Makkah yang notabene masih banyak yang belum beriman
dengan ciri khas diawali "ya ayyuha annas" dan "ya bani adam" maka
termasuk makkiyah. Sedangkan yang khitabnya ditujukan kepada
penduduk Madinah, yang notabene rata-rata telah beriman hingga diawali
dengan seruan "ya ayyuha al ladzina amanu" maka ayat-ayat itu
dikategorikan sebagai madaniyah. Lalu bagaimana dengan wahyu yang
tidak berbentuk khitab kepada mereka, melainkan khitab kepada Nabi,
"ya ayyuha an nabiy"? Disinilah para ulama banyak yang menolak konteks
ini. Imam Ibnu Uthiyah mengatakan, "untuk ungkapan yang dimulaii
dengan "ya ayyuha al ladzina amanu" itu bisa diterima tapi yang dimul ai
dengan ”ya ayyuha an nas" tidak bisa diterima karena ungkapan ini juga
terdapat dalam surat madaniyah". Penolakan yang cukup kuat dilakukan
pula oleh Ibn Al Hasshar, dengan mengatakan: "Telah sepakat ulama
bahwa surah An Nisa' Madaniyyah, tapi ia dimulai dengan ungkapan "ya
ayyuha an nas", begitu juga surat Al Hajj disepakati sebagai Makkiyah,
sementara didalamnya terdapat " ya ayyuha al ladzina amanu" Melihat
kenyataan ini Imam Al Makkiy segera melakukan justifikasi, bahwa ciri
khitab itu bukanlah suatu hal yang paten dan berlaku untuk semua
kelompok makkiyah atau madaniyah, melainkan mayoritas dari masing-
masing surah kedua kelompok tersebut bercirikan ungkapan itu". Akan
tetapi justifikasi tersebut tetap tidak bisa menutupi kekurangan yang
terkandung dalam konteks khitab tersebut. Karena yang terpenting bagi
sebuah kaidah bukanlah mencari-cari alasan untuk menjustifikasi suatu
kesalahan, melainkan adanya fleksibilitas dan cakupannya terhadap
semua unsur yang harus diikutkan didalamnya, dalam istilah ushul disebut
mani' wa jami'.
3. Makkiyah dan madaniyah dalam konteks waktu (periode hijrah ke
Madinah).
Konteks ini merupakan pembebasan makkiyah dan madaniyah dari
konotasi tempat dan khitab. Dalam konteks ini makkiyah dan madaniyah
menjadi lebih fleksibel dan mencakup semua unit wahyu yang diturunkan,
sebab titik pemisah keduanya adalah hijrahnya Rasulullah SAW. Karena itu
semua ayat yang turun sebelum hijrah, dimanapun turunnya dan kepada
siapapun khitabnya termasuk bagian dari makkiyah. Begitu pula wahyu
yang turun setelah hijrah adalah madaniyah, meskipun turun ditempat
selain Madinah. Syeikh Az Zurqani mengatakan bahwa jika makkiyah dan
madaniyah dibawa dalam konteks waktu maka ia akan lebih tepat. Sebab
dengan ini tidak ada lagi kebingungan dalam pengelompokan unit-unit
wahyu yang diturunkan diberbagai tempat dan berbagai situasi. Sehingga
para ulama pun banyak yang mendukung konteks ini.

D. Ciri-ciri Ayat Makiyah dan Madaniyah


1. Makkiyyah
a) Di dalamnya terdapat ayat sajdah.Tetapi versi lain menyebutkan
bahwa ada perkecualian, yakni untuk surat maryam ayat 98, ar-ra’d:15,
dan al-hajj ayat 18 dan 77.
b) Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla
c) Dimulai dengan ungkapan yaa ayyuhan an-naas dan tidak ada
ayat yang dimulai dengan ungkapan yaa ayyuhan al-ladziina, kecuali
dalam surat Al-Hajj (22), karena di penghujung surat itu terdapat sebuah
ayat yang dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha al-ladziina
d) Ayat-ayatnya mengandung tema kisah para Nabi dan umat-umat
terdahulu.kecuali Al-Baqarah.
e) Mayoritas mengandung seruan tauhid, pokok-pokok keimanan
kepada Allah Swt. Hari kiamat, penggambaran keadaan surga dan neraka,
soal-soal azab,pahala dan nikmat, kebaikan dan kejahatan.
f) Kebanyakan Menyeru kepada manusia untuk berperangai mulia
dan berjalan diatas rel kebenaran, serta urusan-urusan kebajikan dan
keluhuran lainnya.
g) Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf-huruf terpotong-potong (huruf
at-tahajji) seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat Al-Baqarah
(2) dan Ali ‘imran (3).

2. Madaniyah
a) Mengandung ketentuan-ketentuan farai’dh dan hadd
b) Mengandung sindiran-sindiran terhadapa kaum munafik kecuali
surat Al-Ankabut
c) Mengandung uraian tentang perdebatan dengan ahli kitab

Sedangkan berdasarkan titik tekan tematis, para ulama merumuskan ciri-


ciri spesifik Makkiyah dan Madaniyyah sebagai berikut :
1. Makkiyyah
(a) Menjelaskan ajakan monotheisme, ibadah kepada Allah semata,
penetapan risalah kenabiaan, penetapan hari kebangkitan dan
pembalasan, uraian tentang kiamat dan perihalnya, neraka dan siksanya,
surga dan kenikmatannya, dan mendebat kelompok musyrikin dengan
argumentasi-argumentasirasional dan naqli.
(b) Menetapkan fondasi-fondasi umum bagi pembentukan hukum syara’
dan keutamaan akhlak yang harus dimiliki anggota masyarakat. Juga
berisikan celaan-celaan terhadap kriminalitas yang dilakukan kelompok
musyrikin, misalnya mengambil harta anak yatim secara zalim serta
uraian tentang hak-hak.
(c) Menuturkan kisah para Nabi umat-umat terdahulu serta perjuangan
Muhammad dalam menghadapi tantangan-tantangan kelompok
musyrikin.
(d) Ayat dan suratnya pendek-pendek dan nada serta perkataannya
agak keras.
(e) Banyak mengandung kata-kata sumpah.

2) Madaniyyah
(a) Menjelaskan permasalahan ibadah, muamalah, hudud, bangunan
rumah tangga, warisan, keutramaan jihad, kehidupan sosial, aturan-
aturan pemerintahan menangani perdamaian dan peperangan, serta
persoalan-persoalan pembentukan hukum syara’
(b) Mengkitabi Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani dan mengajaknya masuk
islam, menguraikan perbuatan mereka yang telah menyimpangkan Kitab
Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihannya setelah datang
kebenaran.
(c) Mengungkap langkah-langkah orang-orang munafik.
(d) Surat dan sebagain ayatnya panjang serta menjelaskan hukum
secara jelas dan menggunakan ushlub yang jelas pula.

Ciri-ciri spesifik yang dimiliki Madaniyyah, baik dilihat dari perspektif


analogi ataupun tematis, memperlihatkan langkah-langkah yang
ditempuh islam dalam mensyariatkan peraturan-peraturannya, yaitu
dengan cara periodik hirarkis (tadarruj).
Laporan-laporan sejarah telah membuktikan adanya sistem sosiokultural
yang berbeda antara Mekkah dan Madinah. Mekkah dihuni komunitas
ateis yang keras kepala dengan aksinyayang selalu menghalangi dakwah
Nabi dan para sahabatnya, sedangkan di Madinah setelah Nabi hijrah ke
sana, terdapat tiga komunitas : komunitas muslim yang terdiri atas
kelompok Muhajirin dan Anshar, komunitas munafik, dan komunitas
Yahudi. Al-Qur’an menyadari perbedaan sosiokultural antara keduatempat
itu. Oleh karena itu, alur pembicaraan ayat yang diturunkan bagi
penghuni Mekkah sangat berbeda dengan alur yang diturunkan bagi
penduduk Madinah.

E. Contoh-contoh Surat Makiyah dan Madaniyah


Surat-surat yang tergolong dalam Makiyah:
Al-Fatehah, Al-An’aam, Al-A’raaf, Yunus,Huud,Yusuf, Ibrahim, Al-Hijr, An-
Nahl, Al-Isroo’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiya’, Al-Mu’minuun, Al-
Furqaan, Asy-Syu’aro’, An-Naml, Al-Qashash, Al-Ankabuut, Ar-Ruum,
Luqman, As-Sajdah, Sabaa, Al-Faathir, Yaasiin, Ash-Shaffaat, Shaad, Az-
Zumar, Ghaafir, Fushshilat, Asy-Syuuroo, Az-Zukhruf, Ad-Dukhoon, Al-
Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Qaaf, Adz-Dzaariyaat, Ath-Thuur, An-Najm, Al-Qamar,
Al-Waaqi’ah, Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haaqqah, Al-Ma’aarij, Nuuh, Al-Jin, Al-
Muzzammil, Al-Muddatstsir, Al-Qiyaamah, Al-Muraasalaat, An-Naba’, An-
Naazi’aat ,Abasa,At-Takwiir, Al-Infithaar, Al-Muthaffifiin, Al-Insyiqaaq,Al-
Buruuj, Ath-Thaariq, Al-A’laa, Al-Ghaasyiyah, Al-Fajr,Al-Balad, Asy-Syams,
Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Al-’Ashr, At-Tiyn,Al-’Alaq, Al-Qadr, Al-’Aadiyaat, Al-
Qaari’ah, At-Takatsur, Al-Ashr,Al-Humazah, Al-Fiyl, Quraisy, Al-Maa’uun, Al-
Kautsar, Al-Kaafiruun,Al-Masad, Al-Ikhlaash, Al-Falaq, An-Naas.
Surat-surat yang tergolong Madaniyah:
Al-Baqarah,Ali Imran,An-Nisaa’,Al-Maa`idah,Al-Anfaal,At-Taubah, Ar-Ra’d,
Al-Hajj, An-Nuur,Al-Ahzaab, Muhammad, Al-Fat-h, Al-Hujuroot, Ar-Rahman,
Al-Hadiid, Al-Mujaadalah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaf, Al-Jumu’ah,
Al-Munaafiquun, At-Taghaabun, Ath-Thalaaq, At-Tahriim, Al-Insaan, Al-
Bayyinah, Al-Zalzalah, An-Nashr.

F. Kegunaan Mempelajari Makiyah dan Madaniyah


Pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah adalah bagian dari ilmu-
ilmu Al-Qur’an yang sangat penting. Hal itu karena pada pengetahuan
tersebut memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
a. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan alqur’an, sebab
pengetahuan, mengenai tempat turunnya ayat dapat membantu
memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang
benar, sekalipun ayat yang menjadi pegangan adla pengertian umum
lafaz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir
dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila
diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif sehingga
lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai
nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun
setelah ayat Makkiyah.
b. Meresapi gaya bahasa alqur’an dan memanfaatkannya dalam
metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai
bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki situasi
merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya
bahasa surah Makkiyah dan surah Madaniyah pun memberikan kepada
orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah
ke jalan Allah yang sesuai dengan kewajiban lawan berbicara dan
menguasai pikiran dan perasaanya serta mengatasi apa yang ada dalam
dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
c. Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan
mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam
berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang
penting.
d. Mengatahui sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat alqur’an, sebab
turunnya wahyu kepada rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan
segala peristiwanya, baik pada periode Mekah maupun periode Madinah,
sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengetahuan tentang ayat-ayat Mekkah dan Madinah merupakan bagian
yang terpenting dalam ‘Ulum Qur’an. Hal ini bukan saja merupakan
kepentingan kesejarahan melainkan juga untuk memahami dan
menafsirkan ayat-ayat yang bersangkutan. Sebagaian surat di dalam al-
Qur’an berisi ayat-ayat dari kedua periode tersebut dan dalam beberapa
hal muncul perbedaan pendapat dari kalangan para ulama tentang
klasifikasi ayat-ayat tertentu. Bagaimanapun juga secara keseluruhan
memang sudah berhasil disusun suatu pola pemisahan (pembagian) yang
sudah mapan, telah digunakan secara meluas secara ilmu tafsir dan
dijabarkan dari bukti-bukti internal yang ada dalam teks al-Quran itu
sendiri.
Definisi Al-Makiyyah dan Madaniyah oleh para ahli tafsir meliputi
berdasarkan tempat turunnya suatu ayat, berdasarkan khittab/ seruan/
panggilan dalam ayat tersebut, berdasarkan masa turunnya ayat tersebut.
Adapun kegunaan mempelajari Ilmu ini antara lain agar dapat
membedakan ayat-ayat nasikh dan mansukh, agar dapat mengetahui
sejarah hukum Islam dan tahapan-tahapannya secara umum, mendorong
keyakinan yang kuat, agar mengetahui fase-fase dakwah Islamiyah yang
telah ditempuh oleh Al-Qur’an secara bertahap agar dapat mengetahui
keadaan lingkungan, situasi, dan kondisi masyarakat pada waktu turun
ayat-ayat Al-Qur’an, agar mengetahui gaya bahasanya yang berbeda-
beda.
http://trimuerisandes.blogspot.co.id/2014/10/makalah-al-quran-makiyah-dan-madaniyah.html
diambil hari sabtu, 12 September 2015, pukul 15.30 WIB