You are on page 1of 35

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/330513140

MAKALAH KGD DISOLKASI SENDI

Presentation · January 2019


DOI: 10.13140/RG.2.2.29001.80484

CITATIONS READS
0 45

1 author:

Harsismanto harsismanto
Universitas Muhammadiyah Bengkulu
5 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

pengaruh jenis kelamin dengan kemampuan belajar siswa SD View project

All content following this page was uploaded by Harsismanto harsismanto on 21 January 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


MAKALAH PELENGKAP MATERI AJAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DISLOKASI SENDI

Dosen : Ns. Harsismanto M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan
Hidayah-Nya, dan tak lupa pula kita mengucapkan salam dan sholawat kepada nabi
junjungan kita nabi muhammad saw yang telah membawa kita dari alam jahilia kealam
yang serba terang-menerang dan penuh ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Sehingga kelompok dapat menyusun tugas mata kuliah Kegawatdaruratan sistem yang
berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN MUSKOLESKELETAL DENGAN
DISLOKASI SENDI”.
Dalam penulisan makalah ini masih banyak lagi kekurangan-kekurangan yang
harus di perbaiki, maka dari itu kelompok senantiasa menerima kritikan dan saran dari
sipembaca makalah ini. Harapan dari kelompok, semoga makalah ini menambah wawasan
dan ilmu, khususnya bagi kelompok sendiri dan pada umumnya bagi pembaca makalah
ini.

Bengkulu, 05 Januarai 2019

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1


1.2. Tujuan ............................................................................................... 2
A. Tujuan umum ............................................................................... 2
B. Tujuan khusus .............................................................................. 2
1.3. Manfaat ............................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian ......................................................................................... 3
2.2.Etiologi............................................................................................... 3
2.3. WOC.. ............................................................................................... 4
2.4. Manifestasiklinis ............................................................................... 5
2.5. Pemeriksaanpenunjang ..................................................................... 5
2.6. Penatalaksanaan ................................................................................ 6
2.7. Prognosis ........................................................................................... 6
2.8. Macam-macamdislokasisendi ........................................................... 6

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT


DISLOKASI
3.1. Pengkajian ......................................................................................... 13
3.2. Analisa data ....................................................................................... 17
3.3. Diagnosakeperawatan ....................................................................... 20
3.4. Perencanaan ...................................................................................... 20

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan ....................................................................................... 27


4.2. Saran ................................................................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan yang normal antara kedua
permukaan sendi secara komplet / lengkap .terlepasnya kompresi jaringan tulang dari
kesatuan sendi, Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi).
Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya
adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi
rahangnya telah mengalami dislokasi (Santosa, 2013).

Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan
sendi pinggul (paha).Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi
macet.Selain macet, juga terasa nyeri.Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi,
ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang
dislokasi lagi (Santosa, 2013).

Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me


lindungin beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul.Kerangka
juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan permukaan
untuk kaitan otot-otot kerangka.Oleh karena fungsi tulang yang sangat penting bagi
tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar terhindar dari trauma
atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah tulang atau dislokasi tulang.

Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa


sehinggaTulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat
disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak
lahir (kongenital) (Santosa, 2013).

1
1.2 Tujuan

A. Tujuan umum
untuk mendapatkan gambaran dan mengetahui tentang bagaimana asuhan
keperawatan pada klien dengan diagnosa “dislokasi “

B. Tujuan khusus
Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi:
1. Mampu memahami dan menjelaskan definisi Dislokasi sendi
2. Mampu memahami dan menjelaskan etiologi Dislokasi sendi
3. Mampu memahami dan menjelaskan patofisiologi Dislokasi sendi
4. Mampu memahami dan menjelaskan manifestasi klinis Dislokasi sendi
5. Mampu memahami dan menjelaskan penatalaksanaan Dislokasi sendi
6. Mampu memahami dan menjelaskan diagnostik penunjang Dislokasi sendi
7. Mampu memnuat asuhan keperawatan pada pasien dengan Dislokasi sendi

1.3 Manfaat

A. Manfaat Bagi mahasiswa


Agar mahsiswa mengetahui dan memahami cara asuhan keperawatan
muskluskletal dengan diagnosa dislokasi dengan cepat dan tanggap dan
meningkatkan potensi diri sehubungan dengan penanggulangannya

B. Manfaat bagi masyrakat


Agar masyarakat dapat mengetahui tindakan atau intervensi tentang dislokasi
dengan cepat dan tanggap

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Dislokasi sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang
membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis.Dislokasi sendi di
maksud juga dengan keluarnya kepala sendi dari mangkuknya atau tulang lepas
dari sendi.
Dislokasi sendi jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan nekrosis
avaskuler, yaitu kematian jaringan akibat anoksia dan hilangnya pasokan darah,
dan juga mengakibatkan paralysis syaraf.
Dislokasi sendi dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Dislokasi Congonital :Dislokasi sendi yang terjadi sejak lahir akibat kesalahan
pertumbuhan.
2. Dislokasi Patologik : Dislokasi sendi akibat penyakit sendi atau jaringan sekitar
sendi.
3. Dislokasi Traumatic : Dislokasi sendi akibat kedaruratan ortopedi ( seperti
pasokan darah, susunan syaraf rusak, dan mengalami stress berat, kematian
jaringan akibat anoksia ) yang disebabkan oleh cedera dimana sendi mengalami
kerusakan akibat kekerasan (Brunner and Suddarth, 2012).

2.2 Etiologi
Dislokasi sendi terjadi karena trauma akibat kecelakaan, seperti kecelakaan
mobil, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan terjatuh dari tempat yang tinggi, dan
lain-lain.Dislokasi sendi dapat disebabkan juga oleh trauma akibat pembedahan
ortopedi.Dislokasi sendi juga dapat disebabkan oleh factor predisposisi, terjadi
infeksi di sekitar sendi dan juga akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
(Brunner and Suddarth, 2012).

3
2.3 WOC
Trauma

Infeksi dari penyakit Dislokasi Kelainan Kongietal


lain Pada Sendi

Trauma Joint
Dislocation

Deformatis Tulang

Gangguan Bentuk
dan Pergerakan

Kesulitan Dalam Rasa tidak nyaman


Menggerakkan Sendi karena inflamasi

MK : Gangguan MK : Nyeri
mobilitas fisik Tidak nafsu
makan

Ketidaknyamanan MK : Ketidakseimbangn nutrisi


Akibat Bentuk yang kurang dari kebutuhan tubuh
tidak normal

Pengungkapan secara
Verbal merasa malu,
cemas dan takut tidak
di terima

MK : Gangguan citra tubuh

Sumber : Sylvia A(2009)

4
2.4 MANIFESTASI KLINIS
Pada penderita Dislokasi sendi, akan menunjukkan tanda dan gejala seperti :
1. Nyeri
2. Perubahan kontur sendi
3. Perubahan panjang ekstremitas
4. Kehilangan mobilitas normal
5. Kekakuan
6. Deformitas
7. Perubahan sumbu tulang yang mengalami Dislokasi

Diagnosis Dislokasi :
1. Anamnesis
a. Ada trauma
b. Mekanisme trauma yang sesuai
c. Ada rasa sendi keluar
d. Bila trauma minimal
2. Pemeriksaan Klinis
a. Deformitas
 Hilangnya tonjolan tulang yang normal
 Pemendekan atau pemanjangan
 Kedudukan yang khas untuk Dislokasi tertentu
b. Nyeri
c. Functio Laesa
(Brunner and Suddarth, 2012).

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Untuk melakukan diagnose terhadap penyakit Dislokasi dapat dilakukan
beberapa cara pemeriksaan, seperti :
1. Pemeriksaan Foto Rontgen yang digunakan untuk menentukan lokasi
Dislokasi.
2. Pemeriksaan Radiologi Foto X-Ray yang digunakan untuk menentukan arah
Dislokasi dan apakah disertai fraktur.

5
3. Pemeriksaan CT Scan, MRI, Scan tulang, dan Tomogram yang digunakan
untuk memperlihatkan Dislokasi, juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak (Brunner and Suddarth, 2012).

2.6 PENATALAKSANAAN
Sendi yang terkena harus di imobilisasi saat pasien dipindahkan.Pada saat
Dislokasi sendi ini harus segera dilakukan reposisi atau dislokasi reduksi yaitu
dikembalikan ke tempat semula dengan menggunakan anestesi, misalnya bagian
yang bergeser dikembalikan ke tempat semula yang normal.Dislokasi sendi kecil
dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi.Kaput tulang yang mengalami
Dislokasi harus dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.Sendi kemudian di
imobilisasi dengan pembalut, bidai, gips, atau traksi dan dijaga tetap dalam posisi
stabil. Beberapa hari sampai satu minggu setelah reduksi, dilakukan mobilisasi
dengan gerakan aktif lembut 3 – 4 x sehari yang berguna untuk mengembalikan
kisaran gerak sendi. Sendi tetap harus disangga diantara dua saat latihan.Memberikan
kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.Untuk Dislokasi
bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anestesi local dan obat-obat penenang
misalnya Valium.Sedangkan untuk Dislokasi sendi besar memerlukan anestesi
umum (Brunner and Suddarth, 2012).

2.7 PROGNOSIS
Dislokasi sendi biasanya tidak fatal.Gejala klinis dapat dihilangkan dengan
terapi adekuat.Dan bedrest total.Melakukan aktifitas yang berlebih dapat
memperburuk gejala (Brunner and Suddarth, 2012).

2.8. MACAM-MACAM DISLOKASI SENDI


1. Dislokasi siku
a. Mekanisme terjadinya ( Patofisiologi )
o Penderita jatuh dalam posisi siku fleksi
o Penderita jatuh dalam posisi siku hiperekstensiBagian distal humerus
terdorong ke depan akan merobek kapsul anterior, sedang kepala radius +
ulna ⅓ distal Dislokasi ke posterior
b. Gejala klinik
o Tampak pembengkakan yang hebat di siku .
6
o Posisi siku dalam semifleksi.
o Ujung olecranon teroba lari ke posterior.
o Segitiga sama kaki dari epikondilus humeri medial, epikondilus humeri
lateral dan ujung olecranon berubah.
c. Pemeriksaan radiology
o Dengan proyeksi AP atau LAT
d. Penatalaksanaan
Dilakukan reposisi tertutup dalam Narkose.Dengan melakukan tarikan
kea rah distal lengan bawah sambil melakukan gerakan fleksi siku, bila
tereposisi, siku tetap diletakkan dalam posisi fleksi > 100, guna
mendekatkan bagian-bagian anterior soft tissue yang robek.Di imobilisasi
dipasang gips, dipertahankan sampai tiga minggu.
e. Komplikasi
Kekakuan sendi ( Ankylosis ). Hal ini dapat diatasi dengan melakukan
fisioterapi cukup dengan latihan pasif.
o Cedera n. medianus berupa neuroproxia
o Myositis ossifikan
o Cedera a. brakhialis

2. Dislokasi sendi bahu


Stabilitas sendi bahu tergantung dari otot-otot dan kapsul tendon yang
mengitari sendi bahu sedang hubungan antara kepala humerus dengan
cekungan glenoit terlalu dangkal, sehingga sendi bahu mudah mengalami
Dislokasi. Ada empat macam bentuk Dislokasi sendi bahu, yaitu : bentuk
anterior, posterior
(1). Dislokasi sendi bahu anterior
a. Sering terjadi pada usia dewasa muda, kecelakaan lalu lintas atau
cidera olah raga. Biasanya terjadi karena gerakan untiran ke luar,
tekanan ke arah ekstensi dari sendi bahu. Posisi lengan atas dalam
abduksi. Dalam posisi tersebut akan terjadi tegangan yang berat pada
kapsul yang melekat pada glenoit bagian depan bawah. Selain itu
mekanismenya adalah trauma langsung. Penderita jatuh, pundak
bagian belakang terbentur lantai atau tanah. Gaya akan mendorong
permukaan belakang humerus bagian proksimal ke depan.
7
b. Gejala klinik
1. Pundak terasa sakit sekali, bentuk pundak asimetris dimana bentuk
deltoid pada sisis yang cidera tampak mendatar.
2. Polposi daerah subacromicus jelas teraba cekung, posisi lengan
bawah dalam kedudukan abduksi ringan.
3. Terjadi lesi pada n. aksilaris atau n. musculocutaneus, terjadi
gangguan pada plexus brokhialis.
c. Pemeriksaan penunjang
Foto X – Ray dengan proyeksi AP untuk mendiagnosis adanya
Dislokasi sendi bahu.
d. Komplikasi
1. Terjadinya neuropraxia n. aksilaris yang menyebabkan kumpulnya
m. deltoid sehingga bahu dapat diangkat ke abduksi.
2. Robeknya mosculotendineus cuff.
3. Dislokasi ulang ( Rekurens Dislokasi ).
4. Interposisi dari tendo bicef kaput longus.
e. Penatalaksanaan
Dilakukan tindakan reposisi tertutup. Yang sering dipakai adalah cara
kocher, yaitu :
1. Penderita ditidurkan di atas meja.
2. Dalam posisi siku fleksi penolong menarik lengan atas ke arah
distal.
3. Dilakukan gerakan Eksorotasi dari sendi bahu.
4. Melakukan gerakan adduksi dan fleksi pada sendi bahu.
5. Melakukan gerakan endorotasi sendi bahu.
(2). Dislokasi sendi bahu posterior
a. Jarang terjadi, mekanismenya adalah penderita jatuh dimana posisi
lengan atas dalam kedudukan adduksi atau internal rotasi.
b. Gejala klinik
1. Sangat sakit di daerah bahu.
2. Posisi lengan dalam kedudukan adduksi dan internal rotasi.
c. Pemeriksaan Radiologi
Proyeksi AP kadang sulit dilihat kalau perlu dilakukan proyeksi
Aksial.
8
d. Penatalaksanaan
Di bawah anestesi dilakukan gerakan eksorotasi dari bahu dan
dibantu kepala humerus didorong ke depan. Setelah masuk bahu
diistirahatkan dengan memakai sling selama 3 minggu.

2. Dislokasi sendi Acromio – Clavikula


a. Mekanisme terjadinya ( Patofisiologi )
Sering terjadi pada dewasa muda karena trauma langsung pada
waktu olah raga atau kecelakaan lalu lintas.Terjadi dorongan yang
kuat pada daerah acromion ke bawah, sedang otot-otot trapetius
dan otot sternomastoid menarik dengan kuat klavikula ke atas. Hal
tersebut akan menyebabkan robeknya kapsul dari sendi acromio-
clavicular. Kalau disertai robeknya ligament coracoclavicula akan
terjadi Dislokasi.
b. Gejala
Nyeri pada pundak, nyeri tekan jelas ditemukan tampak tonjolan
ujung lateral klavikula.
c. Pemeriksaan Penunjang
d. Foto X – Ray dengan proyeksi AP, sebaiknya posisi penderita
berdiri.
e. Penatalaksanaan
f. Dilakukan tindakan operasi dengan open reduksi melakukan repair
kapsul dan dipasang internal fiksasi. Memfiksasi antara acromion
dan klavikula.

3. Dislokasi sendi Sternoklovikula


a. Mekanisme terjadinya ( Patofisiologi )
Jarang terjadi. Terjadi benturan yang kuat di bagian depan dari pundak.
Hal ini menyebabkan dorongan ke belakang yang kuat dari ujung
lateral klavikula dan mendorong bagian medial klavikula ke depan. Hal
ini akan merobek kapsul sendi sternoklavikula yang mengakibatkan
Dislokasi.

9
b. Gejala klinis
Nyeri daerah sendi sternoklavikula, tampak benjolan di daerah itu
nyeri tekan ( + ).

c. Pemeriksaan Penunjang
Foto X – Ray proyeksi AP, tak jelas tampak kelainan.

d. Penatalaksanaan
Dilakukan reposisi tertutup dengan menekantonjolan ujung klavikula
bagian medial.Setelah masuk dipertahankan dengan memasang
bantalan penekan difiksasi dengan plester. Bahu diistirahatkan dengan
memakai sling 3 minggu. Bila terjadi Dislokasi kembali dilakukan
tindakan operasi melakukan rekonstruksi sendi sternoklavikula.

4. Dislokasi panggul bawaan


Ini merupakan fase spectrum dari ketidakstabilan sendi panggul pada
bayi.Lebih sering terjadi pada wanita.
a. Etiologi dan Patogenesis
 Faktor genetic
 Faktor hormonal
 Malposisi intrauterine
 Faktor pasca natal
 Faktor lingkungan
b. Gambaran klinis
Gambaran klinis Dislokasi panggul bawaan adalah asimetri pada
lipatan-lipatan kulit paha.
Pemeriksaan untuk mengetahui Dislokasi :
1. Uji Ortolani : Ibu jari pemeriksa memegang paha bayi di
sebelah medial dan jari-jari lainnya opada trokanter mayor.
Sendi panggul difleksikan 90º kemudian diabduksi secara hati-
hati. Pada bayi normal abduksi sebesar 65 - 80º dapat dengan
mudah dilakukan dan bila abduksi kurang dari 60º maka harus
dicurigai adanya Dislokasi panggul bawaan. Bila terdengar

10
bunyi klik ketika trokanter mayor ditekan maka hal ini
menandakan adanya reduksi Dislokasi, maka (+).
2. Uji Barlow : Paha bagian atas dipegang dan ibu jari diletakkan
pada lipat paha kemudian dicoba dimasukkan / mengeluarkan
kaput femoris dari asetabulum baik dalam keadaan abduksi
maupun adduksi. Bila kaput dapat dikeluarkan dari soketnya
dan dimasukkan kembali maka (+ ).
3. Tanda Galeazzi : Kedua lutut bayi dilipat penuh dengan
panggul dalam keadaan fleksi 90º serta kedua paha saling
dirapatkan. Keempat jari pemeriksa memegang bagian
belakang tungkai bawah dengan ibu jari di depan tungkai yang
mengalami Dislokasi, lututnya akan terlihat lebih rendah, maka
( + ).
c. Pemeriksaan radiologis
Dengan ultrasound untuk menggantikan pencitraan panggul
dengan foto Rontgen.
1. Diagnosis
a. Asimetri lipatan paha
b. Uji ortolani, Barlow, Galeazzi positif
 Asetabuler indeks 40º atau lebih besar
 Disposisi lateral kaput femokis pada radiogram
 Limitasi yang menetap dari grerakan sendi panggul
2. Pengobatan
Dengan memasang bidal untuk mempertahankan sendi panggul
dalam posisinya diDislokasi sendi lutut.
3. Mekanisme trauma ( Patofisiologi )
Dislokasi ini terjadi apabila penderita mendapat trauma dari
depan dengan lutut dalam keadaan fleksi. Dengan tanpa
mempertimbangkan jenis Dislokasi sendi yang terjadi, trauma
ini merupakan suatu trauma hebat yang selalu menimbulkan
kerusakan pada kapsul, ligament yang besar dan sendi.
4. Gambaran klinis
Adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan, nyeri
dan hemartrosis serta deformitas.
11
5. Pemeriksaan Radiologis :Dengan Foto Rontgen.
6. Pengobatan
Tindakan reposisi dan manipulasi dengan pembiusan harus
dilakukan sesegera mungkin dan dilakukan aspirasi hemartrosis
dan setelahnya dipasang bidal gips posisi 10 – 15 º selama satu
minggu dan setelah pembengkakan menurun dipasang gips
sirkuler di atas lutut selama 7 – 8 minggu.
5. Dislokasi dan fraktur Dislokasi sendi panggul
Dengan makin meniingkatnya kecelakaan lalu lintas mengakibatkan
Dislokasi sendi panggul sering ditemukan.Dislokasi panggul
merupakan suatu trauma yang hebat.
Dislokasi dan fraktur Dislokasi sendi panggul dibagi dalam tiga jenis :
1. Dislokasi posterior atau Dislokasi posterior disertai adanya fraktur
2. Dislokasi anterior
3. Dislokasi sentral

a. Klasifikasi
1. Dislokasi posterior
 Tanpa fraktur
 Disertai fraktur rim posterior yang tunggal dan besar
 Disertai fraktur komunitif aserabulum bagian posterior
dengan atau tanpa kerusakan pada dasar asetabulum
 Disertai fraktur kaput femur

2. Dislokasi anterior
 Obturator
 Illiaka
 Pubik
 Disertai fraktur kaput femur

3. Dislokasi sentral asetabulum


 Hanya mengenai bagian dalam dinding asetabulum
 Fraktur sebagian dari kubah asetabulum

12
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN PENYAKIT DISLOKASI

Kasus :
Tn.S yang berumur 37 tahun datang kerumah sakit bersama Ny.t yang mengeluh nyeri
pada lutut akibat tertimpa benda berat saat duduk di bawah benda, saat ini Tn.S susah untuk
beraktifitas.

1. Pengkajian Primer
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat
kelemahan reflek batuk. Jika ada obstruksi maka lakukan :
– Chin lift / jaw trust
– Suction / hisap
– Guedel airway
– Intubasi trakhea dengan leher ditahan (imobilisasi) pada posisi netral.
b. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit
dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi, whezing, sonor, stidor/
ngorok, ekspansi dinding dada.
c. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi
jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin,
sianosis pada tahap lanjut
d. Disability
Menilai kesadaran dengan cepat,apakah sadar, hanya respon terhadap nyeri atau atau
sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur GCS.
e. Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera yang mungkin
ada, jika ada kecurigan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi in line
harus dikerjakan

13
3.1 PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 2 Januari 2017
Jam : 08.00
Dx : Dislokasi sendi

1 BIODATA
a. Identitas klien
Nama : Tn. S
Umur : 37 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Grab
Pendidikan : SMA

Penanggung jawab
Nama : Ny. T
Umur : 35
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Pendidikan : SMA
Hubungan dengan pasien : Istri

2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Keluhan utama
Pada pasien Dislokasi sendi mengeluh nyeri pada lutut akibat tertimpa benda berat
saat duduk di bawah benda.

b. Riwayat penyakit sekarang


Pasien mengeluh nyeri pada bagian lututnya.Pasien tidak dapat melakukan aktivitas
fisik seperti biasanya. Pasien tidak dapat mandi secara mandiri.Pasien mengeluh
susuah tidur karena merasakan nyeri pada lututnya.Pasien di bawa ke rumah sakit dan
didiagnosa menderita Dislokasi sendi pada lutut.

14
c. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien tidak menderita penyakit menular sebelumnya.Pasien belum pernah
mengalami pembedahan dan kecelakaan sebelumnya.

d. Riwayat kesehatan lingkungan


Pasien mengatakan di lingkungan rumahnya bersih dan luas.

3. POLA FUNGSI KESEHATAN


a. Pola Persepsi Kesehatan
Apabila sakit pasien biasanya menceritakan kepada ibunya dan pasien biasanya
berobat ke pelayanan kesehatan / dokter.
b. Pola Aktivasi Latihan
Aktivitas 0 1 2 3 4
Mandiri √
Berpakaian √
Eliminasi √
Mandi √
Mobilitas di tempat tidur √
Makan √
Ambulansi √

Pola aktivasi latihan pasien Dislokasi sendi lutut tergantung pada tingkat keparahan
Dislokasi sendi lutut, dengan keterangan :
: Mandiri
1 : Menggunakan alat Bantu
2 : Dibantu orang lain
3 : Dibantu orang dan alat
4 : Tergantung penuh / total

15
c. Pola Istirahat Tidur
Pada pasien Dislokasi sendi lutut mengalami susuah tidur karena merasakan nyeri
pada lututnya. Pasien tidur siang sekitar kurang lebih selama 1 jam paling lama,
sedangkan saat malam pasien hanya tidur sekitar 4 jam.

d. Pola Nutrisi Metabolik


Pada pasien Dislokasi sendi lutut tidak mengalami gangguan nutrisi ataupun
penurunan berat badan.Pasien tidak mengalami penurunan nafsu makan. Berat
badan pasien sebelum mengalami sakit 70 kg sedangkan saat sakit berat badan
pasien menurun sekitar 55 kg.

e. Pola Eliminasi
Pasien tidak mengalami gangguan eliminasi baik urin maupun bowel. BAB pasien
normal tidak ada konstipasi, sedangkan BAK pasien normal sekitar 4 sampai 10 kali
dalam sehari, IWL eliminasi pasien berkisar 300-400 ml per hari.

f. Pola Kognitif Perseptual


Saat pengkajian pasien dalam keadaan sadar, tidak mengalami gangguan bicara,
pendengaran, penglihatan.

g. Pola Konsep Diri


Pasien cemas karena takut akan penyakitnya dan takut akan mengalami perubahan
harga diri.

h. Pola koping
Bila pasien punya masalah pertama kali menceritakan pada ibunya.

i. Pola seksual reproduksi


Pasien belum menikah

j. Pola peran hubungan


Dalam kehidupan sehari-hari pasien memiliki hubungan yang sangat baik dengan
keluarga dan masyarakat.

16
k. Pola nilai dan kepercayaan
Pasien beragama Islam taat beribadah

4. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tanda vital :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 140x/menit
Suhu : 36ₒC
RR : 21x/menit

b. Keadaan umum
 Kesan umum : Baik
 Wajah : Menahan nyeri lutut
 Kesadaran : CM
 Pakaian, Penampilan dan kebersihan baik

c. Pemeriksaan Head to – toe


1. Kepala
- Inspeksi : Distribusi merata, tekstur halus, bentuk kepala bulat, kulit kepala
bersih, tidak ada ketombe.
- Palpasi : Tidak ada massa/benjola, tidak ada nyeri tekan

2. Mata
- Inspeksi : Penglihatan baik, kunjungtiva tidak anemis, tidak sekret, simetri kiri
dan kanan, pupil miosis, sklera tidak ikterus
- Palpasi : Tidak ada peningkatan tekanan intra okuler, tidak ada nyeri tekan

3. Telinga
- Inspeksi : Pendengaran baik, ada serumen, tidak ada lesi
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

17
4. Hidung
- Inspeksi : Penciuman baik, pernapasan cuping hidung tidak ada, tidak ada
sekret, distribusi rambut mereta hidung merata, tidak ada polip, septum
lurus
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.

5. Mulut
- Inspeksi : Gigi lengkap, lidag bersih, mulut bersih, bibir kering.

6. Leher
- Inspeksi : Tidak ada pembesaran vena jugularis
- Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan kelenjar tiroid.
7. Dada
- Inspeksi : Ekspansi paru baik, bentuk dada simetris kiri dan kanan, tidak ada
kelainan
- Palpasi : Tidak ada masa
Paru-paru
- Inspeksi : Pola napas teratur, pergerakan simetris kiri dan kanan, pergerakan teratur
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
- Perkusi : Bunyi resonan
- Auskultasi : Bunyi napas vaskuler
Jantung
- Inspeksi : Terlihat iktus kortis
- Palpasi : Tidak ada cardiomegali
- Perkusi : Bunyi pekak
- Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2

8. Abdomen
- Inspeksi : Terlihat lemas, dan datar, umbilikus terletak di tengah
- Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada masa, tidak ada asites.
- Perkusi : Abdomen kembung
- Auskultasi : bising usus ada

18
9. Genetalia
- Inpeksi : Tak ada kelainan, kebersihan baik

10. Anus
- Inspeksi : Tidak ada kelainan, tidak ada hemoroid.

11. Ekstremitas Atas


Kiri : Inspeksi : Tidak ada odema, pergerakan baik, kekuatan otot 5, kuku bersih
Palpasi : Tidak ada odema.
Kanan : Inspeksi : Tidak ada odema, pergerakan baik, kekuatan otot 5

12. Ekstremitas Bawah


Kiri : Inspeksi : Terdapat luka, ada fraktur femur, hematom, pergerakan kurang
baik, warna luka putih karena ada pus, kekuatan otot 0, luka dibalut

Palpasi : Ada odema.


Kanan : Inspeksi : Pergerakan baik, kekuatan otot 5

13. Kulit
- Inspeksi : Kulit sawo matang.
- Palpasi : Turgor kulit baik

3.2. ANALISA DATA


No Data Etiologi Problem
1. DS : Trauma Nyeri
Pasien mengatakan nyeri
di sendi Dislokasi pada sendi
DO :
- Klien tampakmenahan
rasa nyeri
- Klien tampak perubahan
cara berjalan Trauma Joint Dislocation

-Klien tampak kesulitan

19
untuk tidur Deformatis Tulang

Gangguan bentuk dan


pergerakan

Rasa tidak nyaman karena


inflamasi

2. DS : Trauma Gangguan mobilitas


- Klien mengatakan fisik
membolak balik posisi Dislokasi pada sendi
- Klien mengatakan
perubahan cara berjalan
DO : Trauma Joint Dislocation
- Klien tampak
keterbatasan rentang
pergerakan sendi Deformatis tulang

- Klien tampak
keterbatasan kemampuan
Gangguan bentuk dan
melakukan keterampilan
pergerakan
motorik halus
- Klien tampak
pergerakan lambat
Kesulitan dalam menggerakan
Kekuatan otot :
sendi
0 : Tidak ada pergerakan
otot
1 : Pergerakan otot yang
dapat terlihat, namun
tidak ada pergerakan
sendi

20
2 : Pergerakan sendi,
namun tidak melawan
gravitasi
3 : Pergerakan melawan
gravitasi, namun tidak
melawan tahanan
4 : Pergerakan melawan
tahanan, namun kurang
dari normal
5 : Kekuatan otot normal

3. DS : Trauma Gangguancitra tubuh


-Klienmengatakan
perubahan pola hidup Dislokasi pada sendi
DO :
- Klien tampak trauma
pada bagian yang tidak Trauma Joint Dislocation
berfungsi
- Klien tampak perubahan
dalam keterlibatan sosial Deformatis Tulang

Gangguan bentuk dan


pergerakan

Ketidaknyamanan akibat
bentuk yang tidak normal
4. DS : Trauma Ketidak seimbangan
-Klien mengatakan nyeri nutrisi kurang dari
pada sendi kebutuhan tubuh
-Klien mengatakan Dislokasi pada sendi
mengeluh gangguan
sensasi rasa

21
DO : Trauma Joint Dislocation
- Klien tampak kelemahan
otot pada sendi
-Klien tampak membran Deformatis tulang
mukosa pucat
Berat badan pasien
sebelum sakit 70 kg dan Gangguan bentuk dan

setelah sakit berat badan pergerakan

pasien menurun menjadi


55 kg.
Porsi makan pasien 2-3
Rasa tidak nyaman karena
perhari.
inflamasi

Tidak nafsu makan

3.3. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan
beraktifitas(gangguan sendi)
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan bergerak
4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan mengunyah atau menelan

22
3.4. INTERVENSI
No Diagnosa Tujuan Intervensi

Noc Nic
1. Nyeri akut  Pain Level, Pain Management
berhubungan dengan  Pain control, - Lakukan
cedera fisik.  Comfort level pengkajian nyeri
Definisi :pengalaman Kriteria Hasil : secara
sensori dan emosional  Mampu mengontrol komprehensif
yang tidak nyeri(tahu penyebab termasuk lokasi,
menyenangkan yang nyeri, mampu karakteristik,
muncul akibat kerusakan menggunakan tehnik durasi, frekuensi,
jaringan yang aktual atau nonfarmakologi untuk kualitas dan faktor
potensial atau mengurangi nyeri, presipitasi.
digambarkan dalam hal mencari bantuan) - Observasi reaksi
kerusakan sedemikian  Melaporkan bahwa nonverbal dari
rupa(International nyeri berkurang dengan ketidaknyamanan
Association for the study menggunakan - Gunakan teknik
of pain): awitan yang manajemen nyeri komunikasi
tiba-tiba atau lambat dari  Mampu mengenali terapeutik untuk
intensitas ringan hingga nyeri (skla, intensitas, mengetahui
berat dengan akhir yang frekuensi dan tanda pengalaman nyeri
dapat diantisipasi atau nyeri) pasien.
diprediksi dan  Menyatakan rasa - Kaji kultur yang
berlangsung <6 bulan. nyaman setelah nyeri mempengaruhi
berkurang. respon nyeri.
- Evaluasi
pengalaman nyeri
masa lampau
- Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi
- Evaluasi

23
keefektifan kontrol
nyeri
- Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil
- Monitor
penerimaan pasien
tentang
manajemen nyeri

Analgesic
Administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian obat.
- Tentukan pilihan
analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
- Berikan analgesik
tepat waktu
terutama saat nyeri
hebat
- Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda
dan gejala

24
2. Gangguan mobilitas  Joint Movement : Exercise therapy :
fisik berhubungan Active ambulation
dengan  Mobility Level - Monitoring vital
ketidakmampuan  Self care : ADLs sign
beraktifitas(gangguan  Tranfer performance sebelum/sesudah
sendi). Kriteria hasil : latihan dan lihat
 Klien menngkat dalam respon pasien saat
Definisi:Keterbatasan aktivitas fisik latihan
pada pergerakan fisik  Mengerti tujuan dari - Bantu klien untuk
tubuh atau satu atau peningkatan mobilitas menggunakan
lebih ekstremitas secara  Memverbalisasikan tongkat saat
mandiri dan terarah. perasaan dalam berjalan dan cegah
meningkatkan kekuatan terhadap cedera
dan kemampuan - Kaji kemampuan
berpindah pasien dalam
 Memperagakan mobilisasi
penggunaan alat - Latih pasien dalam
 Bantu ntuk pemenuhan
mobilisasi(walker) kebutuhan ADLs
secara mandiri
sesuai kemampuan
- Damping dan
bantu pasien saat
mobilisasi dan
bantu penuhi
kebutuhan ADLs
ps
- Berikan alat bantu
jika klien
memerlukan
- Ajarkan pasien
bagaimana
merubah posisi dan

25
berikan bantuan
jika diperlukan.

3. Gangguan citra tubuh  Body image Body image


berhubungan dengan  Self esteem enchanchement
ketidakmampuan Kriteria hasil : - Kaji secara verbal
bergerak.  Body image positif dan non verbal
 Mampu respon klien
Definisi:konfusi dalam mengidentifikasi teradap tubuhnya
gambaran mental tentang kekuatan personal - Monitor frekuensi
diri-fisik individu  Mendedkripsikan mengkritik dirinya
secara factual - Jelaskan tentang
perubahan fungsi pengobatan,
tubuh perawatan,
 Mempertahankan kemajuan dan
interaksi sosial prognosis penyakit
- Dorong klien
mengungkapkan
perasaannya
- Identifikasi arti
pengurangan
melalui pemakaian
alat bantu
- Fasilitasi kontak
dengan individu
lain dalam
kelompok kecil

Oxygen therapy
- Bersihkan mulut,
hidung, dan trakea
sekresi, sesuai
- Menjaga patensi

26
jalan nafas
- Memantau aliran
liter oksigen
- Secara berkala
memeriksa
perangkat
pengiriman
oksigen untuk
memastikan bahwa
kosentrasi yang
ditentukan sedang
disampaikan

4. Ketidakseimbangan  Cardiac pump Nutrition management


nutrisi kurang dari effectivenessnutritional - Kaji adanya alergi
kebutuhan tubuh status: makanan
berhubungan dengan  Nutritional status: food - Kolaborasi dengan
kesulitan mengunyah and fluid intake alat gizi untuk
atau menelan.  Nutritional status: menentukan
Definisi: asupan nutrisi nutrient intake jumlah kalori dan
tidak cukup untuk  Weight control nutrisi yang
memenuhi kebutuhan Kriteria Hasil : dibutuhkan pasien
metabolik  Adanya peningkatan - Anjurkan pasien
berat badan sesuai untuk
dengan tujuan meningkatkan
 Berat badan ideal protein dan
seauai dengan tinggi vitamin C
badan - Yakinkan diet
 Mampu yang
mengidentifikasi dimakanmengandu
kebutuhan nutrisi ng tinggi serat
 Tidak ada tanda-tanda untuk mencegah
konstipasi

27
malnutrisi - Ajarkan pasien
bagaimana
membuat catatan
makanan harian
- Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
- Kaji kemampuan
pasien untuk
mendapatkan
nutrisi yang
dibutuhkan

Nutrition monitoring
- Monitor adanya
penurunan berat
badan
- Monitor tipe dan
jumlah aktivitas
yang biasa
dilakukan
- Monitor interaksi
anak dan orang tua
selama makan
- Monitor
lingkungan selama
makan
- Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
- Monitor kalori dan
intake nutrisi
- Catat adanya

28
edema, hiperemik,
hipertonik papilla
lidah dan cavitas
oral
- Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

3.5 Evaluasi
klien mengatakan nyeri berkurang/hilang
Klien dapat melakukan fisik seoptimal mungkin
Infeksi tidak terjadi
Klien menyatakan pemahaman tentang kondisi, prognosis, danpengobatan.

29
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dislokasi sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang
membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis.Dislokasi sendi di maksud
juga dengan keluarnya kepala sendi dari mangkuknya atau tulang lepas dari sendi.
Dislokasi sendi jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan nekrosis avaskuler,
yaitu kematian jaringan akibat anoksia dan hilangnya pasokan darah, dan juga
mengakibatkan paralysis syaraf.
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan Dislokasi sendi adalah :
1. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan
beraktifitas(gangguan sendi).
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan bergerak
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan mengunyah atau menelan.
3.2 Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan sekali keritik yang membangun bagi makalah ini, agar
penulis dapt berbuat lebih baik lagi dikemudian hari. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

30
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2012. Keperawatan medical Bedah volume 3. Jakarta : EGC

Santosa, Budi. 2013. Panduan Diagnosa NANDA.Jakarta : Prima Medika

Mc Loskey, Joanne C dan Gloria M. Bulechec. 2014. NIC. USA : Mosby-year book

Nurarif, A.H, & Kusuma, H. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis
& nanda nic-noc, jilid 1. jogjakarta : Mediaction.

Rendy , M.C, & Th, M. (2012). Asuhan keperawatan medikal bedah penyakit dalam . yogjakarta
: Nuha medika.

View publication stats