You are on page 1of 10

________________________________________________________________________________

BAB 2 :

TAHAP-TAHAP PENELITIAN ILMIAH

By : Nuryaman & Veronica.Ch

Widyatama University

Pengetahuan cara Memperoleh Pengetahuan (Gaya Berfikir)

Pengetahuan seseorang adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia dan tersimpan
dalam memory otaknya. Pengetahuan seseorang akan mempengaruhi perilaku, tindakan
keputusan seseorang, untuk itu maka betapa pentingnya pengetahuan bagi kehidupan manusia.
Bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan, atau sumber pengetahuan meliputi apa saja.

Banyak cara manusia mendapatkan pengetahuan. Filsafat ilmu memberikan penggolongan


bagaimana cara manusia mendapatkan pengetahuan dan kebenaran (Emory; 2003), jika
disederhanakan dapat dipetakan dalam gambar kuadran berikut ini :

Rasionalisme
* Scientific Methode
Idealisme *Metode otority Empirisme

Eksistensialisme

Gaya berfikir :
Empirisme: Cara mengungkapkan kebenaran melalui pengamatan empiris dan pengalaman.
Pengalaman dan atau pengamatan empiris sebagai sumber utama pengetahuan. Manusia
memperoleh pengetahuan melalui panca inderanya, melihat dan mendengarkan, merasakan dan
menyentuh, dsb. Bagi kelompok empirisme, “sesuatu tersebut” dapat dipandang sebagai
pengetahuan dan kebenaran jika telah dibuktikan secara empiris.

Bab 2 Hal. 1
Rasionalisme: Cara mengungkapkan kebenaran melalui Penalaran, atau menggunakan akal
sehat logika . Penalaran merupakan sumber utama pengetahuan.

Eksistensialisme. Cara mengungkapkan kebenaran karena keyakinannya bahwa itu


‘benar’. Eksistensialisme merupakan bentuk pengetahuan yang tetap diyakini
kebenaraannya dan dijadikan acuan keputusan, meskipun ada bukti-bukti lain yang tidak
mendukung pengetahuan tersebut. Kelompok eksistensialisme menggunakan pengetahuan
tersebut karena mereka yakin atas pengetahuan tersebut. Misal ada mitos kepercayaan atas
“Manfaat benda keramat untuk kemajuan usaha”, ada sebagian orang meyakini jika
memiliki benda keramat tersebut, maka usahanya akan berhasil, meskipun belum ada bukti
empiris terhadap keyakinannya tersebut.

Idealisme. Salah satunya adalah kebenaran karena otoritas atau kewenangannya (knowing
from authority). Pengetahuan atau kebenarana diperoleh dari sumber yang memiliki
otoritas. Otoritas di sini maknanya bisa orang yang memiliki otoritas keilmuan, misalnya
dokter atau otoritas karena kewenangannya. Pasien mempercayai apa yang dikata dokter,
karena dokter adalah expert pada bidang kesehatan. Contoh lain Gubernur BI mengatakan
bahwa tingkat suku bunga umum saat ini 15 %, dan kita mempercayainya karena yang
mengatakan seorang Gubernur BI.

Scientific Methodes : Cara mengungkapkan kebenaran melalui penalaran (kebenaran logika


dan didukung oleh bukti empiris hasil pengamatan atau pengalaman (kebenaran empiris).
Metode ilmiah merupakan cara memperoleh pengetahuan dengan menggagungkan dua cara
berfikir yaitu cara berfikir rasional dan cara berfikir empiris.

Proses berfikir Ilmiah, Metode Ilmiah, dan Penelitian Ilmiah


Manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan karena mempunyai kemampuan berfikir
menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu. Cara berfikir seperti itu disebut penalaran
(reasoning). Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri, yaitu logis
dan analitis (Suriasumantri, 1996). Berfikir secara logis dan analitis ini merupakan proses
berfikir ilmiah. Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari dua cara
penalaran, yaitu:

Bab 2 Hal. 2
Ilmu pengetahuan berkembang pesat karena manusia diberi kemampuan untuk dapat berfikir
ilmiah, berkat kemampuan berfikir ilmiah pengetahuan-pengetahuan baru ditemukan. Menurut
John Dewey (Emory, 1996) Proses berfikir ilmiah merupakan gabungan cara berfikir deduktif
dan cara berfikir induktif yang dikenal dengan gaya berfikir reflektif yang dapat diuraikan
sebagai berikut.

Deduksi. Penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, yaitu cara memperoleh pengetahuan
berdasarkan rasionalisme atau pemikiran adalah sumber kebenaran. Deduksi adalah cara
berfikir dengan menarik sebuah kesimpulan khusus dari pernyataan-pernyaatan yang besifat
umum; atau dari umum kekhusus. Kesimpulan umum ini menggambarkan alasan-alasan
(premis) yang dijadikan dasar dalam menarik kesimpulam khusus. Alasan atau premis tersebut
merupakan ilmu atau terori sebelumnya yang sudah diakui kebenarannya. Dalam metode
ilmiah. Berfikir deduktif ini digunakan pada saat penyusunan hipotesis. Hipotesis disusun
secara deduktif dari teori-teori yang disusun secara jelas, logis, dan sistematis sehingga menjadi
kerangka pemikiran. Salah satu cara berfikir deduktif adalah silogisme, yaitu dengan contoh
berikut:

Contoh 1 :
Premis pertama :
Setiap Manusia memiliki perasaan
Premis kedua :
Tn. Achmad adalah Manusia
Kesimpulan :
Jadi Tn. Achmad memiliki memiliki perasaan

Contoh 2 :
Premis pertama :
Orang yang memiliki kompetensi tinggi biasanya memiliki kinerja Tinggi.
Premis kedua :
Tn.Ahmad memiliki kompetensi tinggi
Kesimpulan:
Tn. Akmad memiliki kinerja tinggi.

Bab 2 Hal. 3
Induksi. Induksi merupakan cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum
dari berbagai kasus yang bersifat individual; atau dari khusus ke umum. Memang tidak ada
keterkaitan erat antara alasan dan kesimpulan yang kuat seperti dalam deduksi. Penalaran
induktif terkait dengan empirisme, yaitu faham bahwa pengalaman manusia merupakan
sumber kebenaran. Dalam metode ilmiah berfikir induktif ini digunakan dalam pembuktian
hipotesis. Berdasarkan satu atau lebih fakta atau kejadian yang ditemukan, kita menarik
kesimpulan bahwa fakta atau kejadian tersebut juga berlaku umum.

Contoh 3 : Berdasarkan sample dari beberapa orang, kita menemukan orang yang memiliki
kinerja yang tinggi ternyata memiliki kompetensi tinggi. Dari hasil pengamatan empiris (kasus
ini) tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan umum (generalisasi) bahwa orang yang memiliki
kompetensi tinggi, memiliki kinerja tinggi.

Hypothetico-Deductive Method
(Empirisme)
INDUCTIVE : Berdasarkan kasus (empiris) - menarik kesimpulan umum

DEDUCTIVE : Berdasarkan pernyataan umum (Premis)- menarik kesimpulan khusus


(Rasionalisme)

Contoh 4. Berfikir reflektif, (Emory; 1996)


Seperti telah diungkapkan sebelumnya Scientific Methodes (metode ilmiah) adalah salah satu
cara manusia memperoleh pengetahuan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupannya.
Pada metode ilmiah, pengetahuan dikembangkan dengan menggunakan pendekatan proses
berfikir ilmiah, yaitu cara berfikir yang menggabungkan pendekatan berfikir rasional melalui
pendekatan deduktif dan empiris melalui pendekatan induktif.
Menjawab masalah dengan penelitian ilmiah

(2) Mencari
pemecahan/Jawaban (4) Alternatif
(1) Masalah
yang Rasional Pemecahan/
Jawaban Masalah
(3) Melakukan uji empiris

Bab 2 Hal. 4
Kebutuhan atas pengetahuan ilmiah timbul karena kita menghadapi sesuatu masalah yang harus
dipecahkan. Untuk mendapatkan pengetahuaan ilmiah: langkah pertama, pengetahuan
diturunkan dengan proses berfikir rasional (rasionalisasi), dilakukan secara deduktif. Hasil dari
proses berfikir deduktif akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan sementara berdasarkan
pada: pengalaman empiris masa lalu baik yang dialami sendiri maupun yang dialami orang
lain, kepercayaan terhadap orang lain yang memiliki otoritas, kesimpulan argumentasi sendiri
(logika). Kemudian kesimpulan sementara yang telah dirumuskan secara deduktif ini harus
diuji secara empiris (research, riset), untuk membuktikan bahwa pernyataan secara deduktif
tersebut, realitas empirisnya menunjukkan hal yang sama. Pengujian empiris ini, dilakukan
secara induktif. Jika pengetahuan didukung dengan kebenaran rasional dan didukung oleh hasil
uji empiris, maka pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah inilah
akan dijadikan informasi dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah.

Bab 2 Hal. 5
Tahap-Tahap Proses Penelitian Ilmiah

Identifikasi Masalah • Latar Belakang Masalah


Penelitian • Rumusan Masalah Penelitian
• Tujuan Penelitian
• Kegunaan Penelitian

Kerangka Teori & • Identifikasi Variable Penelitian


Hipotesis Penelitian • Menyusun Kerangka Teori/
Kerangka Pemikiran
• Mengajukan Hipotesis Penelitian

• Desain Strategi Penelitian


Desain Penelitian • Desain Pengumpulan data
• Desain Instrumen Penelitian
• Desain Sampling
• Desain Analisis Data

• Analisis Deskriptif dan


Analisis dan Interpretasinya
Interpretasi Data
• Analisis Hubungan dan
Interpretasinya
• Pengujian Hipotesis dan
Pembahasan

Kesimpulan • Kesimpulan
• Saran/ Rekomendasi
• Keterbatasan Penelitian

Jawaban dari masalah penelitian

Bab 2 Hal. 6
Identifikasi masalah penelitian
Masalah dapat didefinisikan sebagai suatu situasi kesulitan yang perlu dipecahkan, suatu situasi
dimana terdapat kesenjangan (gap) antara keadaan sesungguhnya dengan keadaan yang
seharusnya atau keadaan yang diharapkan. Setiap penelitian harus berdasarkan masalah
penelitian (research problem). Pada tahapan ini yang lebih ditekankan adalah menemukan
masalah sesungguhnya (real problem) yang dihadapi perusahaan, berdasarkan gejala atau
fenomena yang berhasil ditemukan di lapangan. Sebagai contoh dalam beberapa tahun terakhir
perusahaan mengalami masalah keuntungan perusahaan menurun (rugi), ini fenomena yag
terjadi di perusahaan. Masalah penelitiannya adalah faktor apakah yang menyebabkan
keuntungan perusahaan menurun ?, atau apakah kualitas produk yang mempengaruhi
keuntungan perusahaan ?. Ini membutuhkan penelitian agar kesulitan yang dihadapi
perusahaan (kerugian) dapat terpecahkan. Setelah masalah penelitian berhasil diketemukan,
maka kemudian Masalah tersebut harus dirumuskan secara jelas. Rumusan masalah peneltian
dapat dituangkan dalam bentuk kalimat pertanyaan atau kalimat pernyataan.

Menyusun kerangka teori/ kerangka pemikiran dan Merumuskan Hipotesis Penelitian


Proses penyusunan kerangka teori atau kerangka pemikiran adalah sebuah proses pencarian
alternatif pemecahan/jawaban masalah penelitian secara logis, berdasarkan teori, dalil-dalil,
dan temuan-temuan penelitian sebelumnya. Kerangka teori (Theoritical framework)
menjelaskan secara argumentatif bagaimana hubungan antara variable penelitian yang sedang
diamati, dan mengapa variable tertentu dapat mempengaruhi variable lainnya. Berdasarkan
kerangka teori, maka dapat disusun sebuah hipotesis penelitian.

Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah penelitian berdasarkan karangka teori, yang
harus diuji benar atau tidaknya secara empiris melalui pengumpulan data/fakta. Hipotesis
menjawab pertanyaan penelitian didasrkan atas logika, teori, pengalaman, atau pikiran rasional.
Hipotesis dirumuskan berdasarkan pendekatan deduktif. Sebagai contoh, setelah melakukan
proses kajian teori dan analisis situasi awal, peneliti memiliki dugaan kuat atau hipotesis bahwa
‘kualitas produk berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan’. Pernyataan (hipotesis)

Bab 2 Hal. 7
tersebut baru dugaan, namun bukan hanya sekedar dugaan karena dugaan tersebut didukung
oleh alasan yang kuat (argumentatif) yang dijelaskan pada kerangka teori atau kerangka
pemikiran, dan dugaan (hipotesis) tersebut akan diuji secara empiris.

Desain Penelitian
Setelah hipotesis penelitian berhasil dirumuskan, maka langkah penelitian selajutnya adalah
melakukan uji empiris, maka untuk itu perlu disiapkan desain penelitian yang baik agar
kegiatan penelitian dapat tercapai. Desain penelitian merupakan garis besar rencana, struktur,
dan strategi penelitian secara komprehensive dari mulai tahap awal perumusan masalah
penelitian sampai dengan tahap akhir analisis data, dengan tujuan agar masalah penelitian dapat
terjawab. Desain penelitian merupakan cetak biru/blue print bagi peneliti tentang prosedur dan
metode yang akan digunakan pada setiap tahapan kegiatan penelitian yaitu prosedur:
pengumpulan data; pengukuran variabel penelitian; dan analisis data. Desain penelitian
merupakan rencana dan struktur penelitian yang dibuat sedemikian rupa agar masalah
penelitian dapat terpecahkan.
Desain penelitian mencakup berbagai hal metode dan prosedur yang dipilih dalam penelitian
yang bersangkutan, desain penelitian mencakup :

• Desain Strategi Penelitian


• Desain Pengumpulan data
• Desain Instrumen Penelitian
• Desain Sampling
• Desain Analisis Data

Masing-masing desain tersebut akan dibahas pada masing-masing bab tersendiri.

Analisis Data dan Interpretasi


Setelah data penelitian berhasil dikumpulkan, maka langkah penelitian berikutnya adalah
melakukan analisis data dan interpretasinya. Tujuan dari analisis data dan interpretasi yaitu
untuk menjawab masalah penelitian yang telah dirumuskan pada langkah penelitian
sebelumnya, sehingga hasil analisis data dan interpretasinya, dapat dijadikan dasar dalam
membuat kesimpulan serta rekomendasi bagi pengguna, untuk pengambilan keputusan bisnis.
Langkah-langkah analisis data dapat meliputi : tahap persiapan, tahap analisis data dan
interpretasi, dan pembahasan.

Bab 2 Hal. 8
Tahap persiapan mencakup editing dan coding. Editing dimaksudkan untuk memeriksa
kelengkapan data, konsistensi dalam klasifikasi. Mengkode jawaban adalah menaruh angka
pada setiap jawaban. Pemberian kode ini akan memudahkan dalam proses analisis data,
terutama jika analisis data menggunakan analisis statistik, maka dalam proses analisis data,
semua model statistik hanya mengenal angka.

Langkah berikutnya adalah melakukan analisis data dengan menggunakan metode analisis
tertentu yang relevance dengan masalah penelitinnya. Metode analisis data yang digunakan
tergantung dari tipe masalah penelitiannya dapat berupa : masalah deskriptif, masalah
komparatif, eksplanatory (uji hubungan), dan prediktif. Analsis data dan pengujian hipotesis
mencakup :

• Analisis Deskriptif dan Interpretasinya


• Analisis Hubungan dan Interpretasinya
• Pengujian hipotesis

Menarik Kesimpulan dan Menyusun Laporan Penelitian.


Tahap akhir dari proses penelitian adalah membuat kesimpulan penelitian dan menyiapkan
laporan penelitian. Kesimpulan ini merupakan jawaban dari masalah penelitian yang akan
digunakan dalam pengambilan keputusan. Kesimpulan dibuat berdasarkan pada analsis data
beserta pembahasannya, serta harus konsisten dengan hasil analisis dan temuan-temuannya
pada saat pembahasan. Seringkali para pengguna penelitian lebih tertarik pada hasil
penelitiannya daripada analisis detailnya berupa perhitungan statistik, tabel dll

Laporan penelitian secara tertulis perlu dibuat agar peneliti dapat mengkomunikasikan hasil
penelitiannya kepada para pembaca dan penyandang dana penelitian. Oleh karena itu, laporan
penelitian harus disusun secara epektif, komunikatif, dan komprehensif. Pada kegiatan
penelitian fundamental yang dilaksanakan oleh Mahasiswa di Perguruan Tinggi berupa :
Skripsi, thesis, dan disertasi, laporan penelitian umumnya terdiri atas lima bagian (bab) yaitu
: Pendahuluan (Bab I), Tinjauan pustaka (Bab II), Metode penelitian (Bab III), Hasil penelitian
dan pembahasan (Bab IV), dan Kesimpulan (Bab V).
Referensi

Bab 2 Hal. 9
Emory

Uma Sekaran

Dermawan Wibisono

Bab 2 Hal. 10