You are on page 1of 10

ARTIKEL ILMIAH

MENGENAL POTENSI DAN RESIKO WISATA MINAT KHUSUS


PENDAKIAN DI GUNUNG MERAPI
Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidika Geografi
Dosen Pengampu: Dra. Suparmini, M.Si.

Oleh:
Nama: Roja Nuryana
NIM: 15405241059

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
Artikel Ilmiah
Mengenal Potensi dan Resiko Wisata Minat Khusus Pendakian di Gunung
Merapi
Roja Nuryana
NIM.15405241059

Indonesia adalah negara kepulauan yang berada pada jalur cincin api pasifik
(The Pasific Ring of Fire) yang merupakan jalur rangkaian gunung aktif di dunia .
Hal ini mengakibatkan wilayah Indonesia banyak ditumbuhi Gunung berapi yang
membentang di sepanjang zona subduksi lempeng Indo-Australia, Eurasia dan
Pasifik. Menurut data Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
(2018) tercatat 76 Gunung berapi yang ada di Indonesia. Sebaran Gunung Api di
Indonesia berada pada Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Kepulauan Nusa
Tenggara, Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara dan Manado. Pulau jawa terdapat
salah satu gunung api teraktif dunia yaitu Gunung Merapi.

Gunung Merapi (2986 m dpl) terletak di perbatasan empat kabupaten yaitu


Kabupaten Sleman, Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali
dan Kabupaten Klaten di Propinsi Jawa Tengah. Propinsi Jawa Tengah. Posisi
geografinya terletak pada 7° 32'30" LS dan 110° 26'30" BT. Berdasarkan tatanan
tektoniknya, gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia
menunjam di bawah Lempeng Eurasia yang mengontrol vulkanisme di Sumatera,
Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Gunung Merapi muncul di bagian selatan dari
kelurusan dari jajaran gunungapi di Jawa Tengah mulai dari utara ke selatan yaitu
Ungaran-Telomoyo-Merbabu-Merapi dengan arah N165 E. Kelurusan ini
merupakan sebuah patahan yang berhubungan dengan retakan akibat aktivitas
tektonik yang mendahului vulkanisme di Jawa Tengah. Aktivitas vulkanisme ini
bergeser dari arah utara ke selatan, dimana G. Merapi muncul paling muda (Badan
Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, 2018)
Pada era digital saat ini, kegiatan pariwisata berkembang pesat di Indonesia.
Hampir berbagai daerah dikembangkan sebagai daerah wisata. Hal ini tentu saja
karena adanya “trend” masa kini yang mendukung industri wisata semakin laris di
pasaran. Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu
yang diselnggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk
berusaha (business) atau untuk mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi
semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi
atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. (Yoeti, 1996)

Wisata Gunung Merapi

Gunung Merapi yang merupakan daerah vulkan aktif tak luput menjadi
sasaran dari pengembangan obyek wisata. Kegiatan pariwisata pastinya terbentuk
akibat adanya ketertarikan akan suatu hal. Daya tarik wisata (tourist attraction)
adalah segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk berkunjung ke
tempat tertentu (Yoeti, 1996).Gunung Merapi dalam kajian ini diposisikan sebagai
Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) akan keindahan alam, kebudayaan
masyarakat sekitarnya, serta menjadi tempat bagi kegiatan minat khusus. Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 Pasal 16 Tentang
Kepariwisataan, Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata meliputi kegiatan
membangun dan mengelola obyek dan daya tarik wisata beserta prasarana dan
sarana yang diperlukan atau kegiatan mengelola obyek dan daya tarik wisata yang
telah ada. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata terbagi menjadi 3, yaitu:
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata alam, budaya dan minat khusus. Apabila
mengacu pada pengelompokan tersebut, Gunung Merapi mememiliki Objek Daya
Tarik Wisata ketiganya (Alam, Budaya.dan Minat Khusus).

Special Interest Tourism atau wisata minat khusus merupakan jenis


pariwisata dimana wisatawan melaksanakan perjalanan untuk belajar dan berupaya
mendapat pengalaman tentang sesuatu hal di daerah yang dikunjungi (Diah Sastri,
2017).

Potensi Wisata Minat Khusus Pendakian Gunung Merapi


Wisata minat khusus bukan seperti wisata pada umumnya. Wisata jenis ini
lebih mengarah pada hobi, minat dan bakat seseorang, komunitas dan didasari pada
rasa ingin tahu yang tinggi. Ada beberapa prinsip yang mendasari wisata minat
khusus diantaranya;

1. Motivasi untuk mencari sesuatu yang baru (anti mainstream).


2. Kepuasan dalam melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang
lain.
3. Mencari pengalaman baru.

Selain prinsip bentuk-bentuk wisata minat khusus didasari bebrapa tujuan;

1. Rewarding, penghargaan terhadap objek yang dikunjungi.


2. Enriching, pengkayaan diri, dapat juga dalam rangka bisnis.
3. Adventure, minat bertualang yang tinggi.
4. Learning, keinginan untuk mempelajari hal yang baru

Gunung Merapi yang merupakan Objek dan Daya Tarik Wisata Minat
Khusus, seperti Jeep tour, Down hill, dan yang terkenal yaitu pendakian gunung.
Pendakian gunung merupakan kegiatan yang dilakukan dengan menyusuri lereng
hingga mencapai puncak/daerah tertinggi yang diperbolehkan. Gunung Merapi
dikenal memiliki tiga jalur pendakian utama yang resmi sebelum tahun 2010, yaitu
Jalur Pendakian Kinahrejo (Sleman), Jalur Pendakian Sapuangin (Klaten) dan Jalur
Pendakian Selo (Boyolali). Namun pada saat erupsi pada tahun 2010 ketiga jalur
pendakian berubah. Jalur Pendakian Kinahrejo dan Sapuangin terpaksa harus
ditutup akibat kerusakan jalur pasca erupsi. Sedangkan Jalur Selo berubah menjadi
Jalur New Selo yang dikenal saat ini. s

Menurut Kepala Resort Kemalang dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH)


Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Arif Sulfiantono, 5 tahun
terakhir jumlah pendaki terus meningkat. Tahun 2011 ada 4.978 orang pendaki, luar
biasanya di 2016 menjadi 32.256 orang. Saat musim liburan, jumlah pendaki
membeludak. Liburan 17 Agustus 2016 lalu terdapat sekurangnya 2.700 pendaki
(Johan Vembrianto, 2017).
Meningkatnya pendakian minat khusus (pendakian) ini, BTNGM membuka
Jalur Sapuangin sebagai solusi mengatasi banyaknya pendaki ke Gunung Merapi.
Pada tahun 2018 ini tercatat dua jalur resmi yang dapat digunakan sebagai jalur
pendakian, yaitu New Selo (Boyolali) dan Sapuangin (Klaten).

Gambar: peresmian jalur sapuangin yang dihadiri oleh puluhan peserta


(dokumentasi pribadi)

Dampak Wisata Minat Khusus Pendakian

Seperti halnya pariwisata umumnya, pariwisata minat khusus memiliki potensi-


potensi yang dapat dikembangkan sebagai upaya keberlangsungan hidup obyek
wisata. Karakteristik wisata pendakian ini ialah memanfaatkan keindahan alam
Gunung Merapi dengan menyusuri jalur yang telah disediakan hingga pos terakhir.
Adanya kegiatan wisata tentunya akan memiliki dampak baik itu positif maupun
negatif. Dampak positif dari pengembangan pariwisata meliputi;

 memperluas lapangan kerja;


 bertambahnya kesempatan berusaha;
 meningkatkan pendapatan;
 terpeliharanya kebudayaan setempat;
 dikenalnya kebudayaan setempat oleh wisatawan.

Dampak negatifnya dari pariwisata tersebut akan menyebabkan;

 terjadinya tekanan tambahan penduduk akibat pendatang baru dari luar


daerah;
 timbulnya komersialisasi;
 berkembangnya pola hidup konsumtif;
 terganggunya lingkungan;
 semakin terbatasnya lahan pertanian;
 pemahaman budaya; dan
 terdesaknya masyarakat setempat (Spillane, 1989).

Apabila melihat realita yang ada, masyarakat setempat sudah menggali


potensi ekonomi seperti memperdagangkan hasil panen kepada wisatawan,
membuka peluang usaha (kuliner, aksesoris dan jasa), dan menambah lapangan
kerja yang dapat mengurangi tingkat pengangguran daerah setempat.

Gambar: warung makanan di gerbang jalur pendakian

Selain itu dampak negatif yang dirasakan akibat adanya wisata ini ialah
menurunya kualitas lingkungan. Hal ini diakibatkan oleh beberapa oknum pendaki
yang tidak memiliki kesadaran akan lingkungan sehingga banyak sampah yang
tidak dibawa turun. Selain itu permasalahan lingkungan timbul akibat budaya
vandalisme yang merusak nilai estetika pada alam.

gambar: vandalisme pada batu di area pasar bubrah

Resiko Wisata Minat Khusus

Gunung Merapi yang merupakan vulkan aktif menyimpan banyak sekali


resiko bencana kedepannya. Kejadian 11 Mei 2018 lalu menyadarkan masyarakat
akan bahaya mendaki. Mengetahui resiko pendakian tentu dapat menambah
kesiapsiagaan wisatawan dan pengelola akan bahaya yang dapat mengancam
kegiatan wisata minat khusus ini. Berbagai bahaya dalam kegiatan pendakian
gunung dapat dibagi menjadi dua, yaitu bahaya subjektif dan bahaya objektif.
Bahaya subjektif adalah bahaya yang diakibatkan oleh faktor manusia, yaitu
pendaki itu sendiri, antara lain meremehkan alam, kurangnya persiapan mental,
fisik, perlengkapan, peralatan, dan pengetahuan. Bahaya objektif adalah bahaya
yang diakibatkan oleh faktor alam. Bahaya objektif dapat dihindari dengan
mempersiapkan diri sebaik-baiknya.Bahaya subjektif tidak dapat dihindari, tetapi
dapat diminimalkan akibatnya. Fakta menunjukan bahwa sebagian besar musibah
pendakian gunung terjadi karena faktor manusia (Harry Wijaya, Christian Wijaya,
2005). Contoh bahaya objektif yang sering dialami pada saat kegiatan pendakian
ialah; Erupsi gunung, longsoran tanah dan batu, sambaran petir, badai dan lainnya.
Sedangkan bahaya subjektif seperti Hipotermia akibat peralatan dibawah standar,
terperosok ke jurang akibat tersesat, dan lain-lain.

Selain bahaya-bahaya yang dirasakan pendaki, resiko kerusakan lingkungan


perlu menjadi sorotan khusus untuk diperhatikan. Semakin tinggi minat wisata
maka ancaman kelestarian lingkungna juga semakin tinggi. Bahaya pencemaran
lingkungan serta terjaganya keanekaragaman hayati dikawasan taman nasional
dapat muncul apabila pendaki tidak memiliki kesadaran lingkungan.

Kebijakan kedepan

Meningkatnya aktivitas pendakian ini meningkatkan juga angka kecelakaan


pendakian di gunung setiap tahunnya. Dari tahun 2013-2015 tercatat 39 kecelakaan
di Gunung Merapi dan diperkirakan semakin ramainya trend pendakian angka ini
akan semakin meningkat (Ilham, 2015). Rasanya pihak pengelola khususnya
BTNGM perlu mempertegas aturan dan membuat kebijakan baru terkait prosedur
pelaksanaan kegiatan wisata minat khusus (pendakian). Ada beberapa poin yang
dirasa penting terkait langkah, kebijakan dan aturan yang ditegakan untuk
meminimalisir dampak negatif dan bahaya yang timbul dari kegiatan pendakian,
yaitu:

 Standarisasi alat yang diberlakukan saat registrasi,

Hal ini dirasa perlu dilakukan untuk menekan angka kecelakaan selama
kegiatan pendakian berlangsung. Jalur pendakian Gunung Merapi yang
sudah menerapkan ini adalah Jalur Sapuangin. Namun seharusnya tidak
hanya Jalur Sapuangin saja melainkan jalur pendakian New Selo harus
menerapkan sistem ini, mengingat kegiatan pendakian merupakan kegiatan
olahraga ekstrim yang memiliki bahaya tersendiri.

 Larangan mendaki hingga Puncak Merapi

Larangan yang sudah terdengar pasca 2010 ini ternyata banyak di


langgar oleh pendaki yang mengejar rasa penasaran untuk sampai ke
puncak. Larangan mendaki ke puncak dipertegas BTNGM karena kondisi
yang belum stabil di kawah merapi sehingga dapat sewaktu-waktu runtuh
atau terdapat guguran material dari lubang kepundan Gunung merapi. Selain
itu aktivitas yang diizinkan di puncak hanyalah untuk penelitian semata.
Alasan tersebut harus diperkuat dengan langkah tegas dari pihak pengelola
untuk melarang segala bentuk kegiatan pendakian ke area puncak dengan
sanksi.

 Aturan mewajibkan membawa sampah turun

Kebijakan pihak pengelola pendakian gunung seharusnya sudah


mengetahui dampak lingkungan seperti sampah yang dibawa oleh
wisatawan/pendaki di gunung. Aturan tegas ini memang sudah di
berlakukan di beberapa gunung di Indonesia seperti Gunung Rinjani dan
Gede Pangrango. Apabila kebijakan ini diterapkan di Gunung Merapi, maka
dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah dapat diminimalisir

 Pemasangan sistem peringatan bencana

Kejadian 11 Mei 2018 lalu seperti menjadi evaluasi dalam dunia


pendakian di Indonesia khususnya di gunung yang berstatus aktif.
Walaupun kejadian tersebut bukanlah erupsi magmatik, namun perlu
diperhatikan juga keselamatan pendaki akibat guguran material yang
terlempar akibat erupsi freatik. Walaupun saat ini erupsi freatik belum dapat
diprediksi kapan terjadi, namun pembuatan sistem peringatan dini dapat
meminimalisir bahaya erupsi dengan memerintahkan pendaki untuk segera
turun di basecamp pendakian. Sistem peringatan dini tersebut dapat berupa
siaran Handy Talky yang wajib dibawa oleh pendaki ataupun alarm kejadian
bencana.
Daftar Pustaka

A.Yoeti, Oka. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Angkasa: Bandung.

Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana. 2018. Data Dasar
Gunung Api. http://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-
gunungapi. Diakses pada 28 Mei 2018.

Harry Wijaya, Christian Wijaya. 2005. Jejak Sang Petualang. Penerbit Andi:
Yogyakarta.

Ilham. 17 Juni 2015. Ada 39 Kecelakaan Pendakian Merapi Sejak 2013.


http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/17/nq2xiu-ada-39-
kecelakaan-pendakian-merapi-sejak-2013.

Johan Vembrianto. 12 Mei 2017. Ini Karakter Sapu Angin, Jalur Pendakian
Gunung Merapi yang Kembali Dibuka Untuk Umum.
https://phinemo.com/jalur-pendakian-gunung-merapi/.

Spillane, James J. 1989. Pariwisata Indonesia; Siasat Ekonomi Dan Kebudayaan.


Kanisius: Yogyakarta.

Sastri, Diah. 2017. Yuk Kenalan Dengan Pariwisata Minat Khusus (Special Interest
Tourism). https://diahsastri.com/2017/08/09/yuk-kenalan-dengan-
pariwisata-minat-khusus-special-interest-tourism/. Diakses pada 28 Mei
2018.

. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990.