You are on page 1of 2

Perawat Salah Beri Obat, Dua Balita Meninggal Usai Imunisasi

Rabu, 13 Juni 2007 17:39 WIB

Pewarta: surya

Ungaran (ANTARA News) - Kematian dua anak Balita, Elva Yunita (tiga bulan) dan Zahrodin
(sembilan bulan), warga Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang usai menjalani imunisasi di
Puskesmas pada 5 Mei lalu, mendapat perhatian besar dari DPRD setempat. Dalam rapat
pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LKPj) Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang
dengan Komisi D DPRD yang digelar Rabu, masalah itu pun menjadi dibahas secara khusus
untuk mendengarkan klarifikasi dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr Sulthoni.
Ketua Komisi D, Bambang DN, dalam rapat itu menyatakan bahwa kematian dua Balita tersebut
diduga karena petugas atau perawat Puskesmas Pembantu Candi, tempat keduanya menerima
imunisasi, telah salah memberikan obat. Dengan maksud mengatasi panas, efek samping dari
pemberian imunisasi, perawat di Puskesmas Pembantu Candi diduga justru tidak memberikan
obat turun panas, melainkan obat diabetes sehingga keduanya meninggal dunia setelah
meminum obat tersebut. Menurut Bambang DN, dari hasil investigasi, sebenarnya ada tiga
Balita yang menerima imunisasi secara bersamaan dan ditangani oleh perawat Puskesmas
Pembantu Candi, Khotijah dan Nurul. Setelah memberikan imuniasi pada Jumat (25/5) lalu,
perawat Nurul meminta tolong kepada Siman, tukang sapu Puskesmas untuk mengambilkan
obat yang akan diberikan kepada tiga anak balita itu. Ternyata obat yang diberikan bukan
penurun panas, tetapi obat diabetes, karena dua jenis obat itu hampir sama, katanya. "Seusai
meminum obat itu, satu anak Balita muntah sehingga bisa selamat, sedangkan dua anak Balita
lainnya bernama Elva Yunita (tiga bulan) dan Zahrodin (sembilan bulan) meninggal dunia,"
katanya. Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr Sulthoni, menegaskan, kedua
perawat dimaksud sudah menjalankan tugas memberikan imunisasi dan obat sesuai prosedur
standar. Ia juga menyatakan bahwa kematian dua Balita itu bukan karena imuniasi.
"Meninggalnya dua balita itu bukan karena imunisasi," katanya. Dinas Kesehatan juga sedang
menunggu hasil pemeriksaan laboratorium mengenai penyebab kematian dua anak Balita itu.
"Sampai saat ini kita belum tahu hasilnya," katanya. Setelah kejadian itu, kata dia, pihaknya
sedang mengevaluasi setiap Puskesmas pembantu dan induk di Kabupaten Semarang, dan tidak
semua obat diperbolehkan tersedia di puskesmas pembantu.(*)

Editor: Suryanto
Analisis kasus : Hasil analisis saya telah terjadi kesalahan komunikasi antar perawat dan rekan
sejawatnya atau bidan. Oleh karena itu, kurangnya tenaga medis seperti perawat di puskesmas
pembantu menyebabkan selain petugas kesehatan boleh mengambil obat untuk imunisasi
tersebut. Kesalahan komunikasi perawat sesama teman sejawat mengakibatkan kesalahan
pemberian obat atau imunisasi pada balita yang menyebabkan Dua orang balita meninggal
dunia. Di kasus ini seharusnya perawat menerapkan prinsip benar obat dan saling mengingatkan
sesama teman sejawat. Pada kasus tersebut terlihat jelas bahwa tenaga kesehatan tersebut
tidak melakukan manajemen patient safety karena kurangnya komunikasi.