You are on page 1of 21

84

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam BAB ini,penulis akan membahas hasil pengkajian, dan kesenjangan


antara teori dan kasus yang ditemukan dalam memberikan Asuhan Keperawatan
pada Klien An.M dengan Demam thypoid di Ruang Ahmad Dahlan Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang dari tanggal 29 - 31 Oktober 2018. Pembahasan
dibuat menggunakan tahap-tahap proses keperawatan melalui pengkajian,
diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, evaluasi dan discharge planning.

A. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama atau langkah awal dari suatu proses
keperawatan yang terdiri dari tiga tahap yaitu pengumpulan data,
pengorganisasian serta kemampuan menganalisa dan merumuskan diagnosa.
Pengkajian yang penulis lakukan dalam asuhan keperawatan pada klien An.M
Demam thypoid di Ruang Ahmad Dahlan Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang dan meliputi identitas pasien, primary survey, secondary survey
yaitu wawancara dan pemeriksaan fisik,pengkajian psikososial, budaya,
spiritual, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan. Pada saat melakukan
pengkajian penulis menggunakan instrument pengkajian sebagai pedoman
yaitu pengkajian menurut buku keperawatan medikal
bedah(Brunner&Suddart,2013).
Data pengkajian studi kasus yang penulis lakukan pada klien An.M
dengan Demam thypoid diantaranya adalah Klien mengatakan demam 7 hari
disertai mual, pada pagi hari panas turun kemudian sore sampai malam hari
panas kembali tinggi, klien juga mengeluh kurang nafsu makan dan minum
karena mual yang dirasa. Klien tampak lemas, Kulit teraba hangat, suhu
tubuh 39,1ºC, mukosa bibir tampak kering disertai lidah kotor diselimuti
selaput putih.
85

Data penunjang dari kasus ini, didapatkan bahwa uji widal klien
salmonella thypi H (+) 1/320 dan salmonella thypi O (+) 1/320 menunjukan
bahwa klien positif terjangkit kuman salmonella thypi. Dari hasil
pemeriksaan laboratorium, Hb (hemoglobin) klien 13g/dL, hematocrit 36,7%,
trombosit 215/ul, leukosit 16,3/uL.
Menurut Lestari (2016) Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut
yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang
lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran.
Penyebab utama thypoid ini adalah bakteri salmonella thypii, masalah rumit
yang sering timbul masalah karier (carrier) atau relaps dan resistensi.
Penyakit ini dapat sembuh sempurna, tetapi jika tidak ditangani dengan baik,
maka selain dapat menyebabkan seseorang menjadi karier atau relaps, dan
resistensi, juga menimbulkan komplikasi seperti perforasi dan kematian.
Indonesia terletak di daerah tropis, sehingga banyak yang menderita penyakit
thypoid, terutama mereka yang berasal dari kalangan kurang mampu yang
daya tahan tubuhnya kurang serta berbagai faktor lain, misalnya disebabkan
oleh kekurangan nutrisi, lingkungan yang kurang bersih, padat, lembab, dan
lain sebagainya. Salah satu penyakit yang sering terjadi di daerah tropis yang
memerlukan tindakan segera dimana pasien berada dengan ancaman kematian
karena adanya gangguan sistem pencernaan yaitu typhoid penyakit infeksi
akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi (Marni,2016).
Demam typhoid harus ditangani karena penyakit ini bersifat endemis dan
mengancam kesehatan masyarakat. penyakit ini lebih mudah terserang,
dikarenakan penyediaan air bersih yang tidak adekuat, serta hygiene masing-
masing penduduk yang kurang memadai dan tidak memenuhui syarat
kesehatan (Purba,2016).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa hasil
pengkajian sejalan dengan teori pendukung. Bahwasanya tanda gejala
Demam Thypoid yaitu suhu tubuh tinggi disertai demam, tidak ada nafsu
86

makan, bibir kering, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepi lidah
kemerahan.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat dan pasti
tentang masalah klien serta pengembangan yang dapat dipecahkan atau
diubah melalui tindakan keperawatan menggambarkan respon actual atau
potensial klien terhadap masalah kesehatan. Diagnosa keperawatan
memberikan dasar pemilihan intervensi untuk mencapai hasil yang
diharapkan ( Potter dan Perry, 2012).
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien demam thypoid
yang sesuai dengan teori menurut (Nurarif & kusuma,2015) adalah sebagai
berikut:
1. Hipertermi Berhubungan dengan Proses Penyakit
2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan
dengan Faktor Biologis
3. Kekurangan Volume Cairan Berhubungan dengan Kehilangan Cairan
Aktif
4. Nyeri Akut Berhubungan dengan Agen Cidera Biologis
5. Defisiensi Pengetahuan Berhubungan dengan Kurang Informasi

Setelah penulis mengumpulkan data pada pengkajian dan menganalisa


data maka penulis dapat menegakan diagnosa yang terdapat dalam teori dan
juga terdapat dalam kasus diantaranya adalah:
1. Hipertermi berhubungan dengan Proses Penyakit
Hipertermi adalah suhu tubuh diatas kisaran normal karena
kegagalan termoregulasi dengan batasan karakteristik Apnea, Gelisah,
Hipotensi, Kejang, Koma, Kulit kemerahan, Kulit terasa hangat, Letargi,
Postur abnormal, Stupor, Takikardi, Takipnea, dan Vasodilatasi
(Herdman & Kamitsuru, 2015).
87

Diagnosa ini di tegakan karena pada pengkajian penulis


menemukan, Data subjektif : An.M Klien mengatakan demam 7 hari
disertai mual, pada pagi hari panas turun kemudian sore sampai malam
hari panas kembali tinggi, klien juga mengeluh kurang nafsu makan dan
minum karena mual yang dirasa. Data obyektif yang meliputi : klien
tampak lemas, kulit klien teraba hangat, bibir klien tampak kering,dan
Data yang di temukan melalui permeriksaan fisik TD 110/80 mmHg,
Denyut nadi: 80x/ menit Pernafasan 20x/ menit Suhu:39,1ºC.
Alasan menegakkan diagnosa keperawatan hipertemi sebagai
diagnosa yang pertama karena diagnosa hipertermi ini dapat
mengakibatkan suhu tubuh semakin meningkat dan dapat menyebabkan
klien akan syok jika tidak ditangani terlebih dahulu.
Secara patofisiologi mekanisme demam terjadi ketika pembuluh
darah disekitar hipothamus terkena pirogen eksogen tertentu (seperti
bakteri) atau pirogen atau endogen sebagai penyebab demam, maka
metabolit asam arakidonat dilepaskan dari endotel sel jaringan
pembuluh darah. prostaglandin E2, akan melintasi barrier darah –otak
dan menyebar ke dalam pusat pengaturan suhu di hipothalamus yang
kemudian memberikan respon dengan meningkatkan suhu
(Nugroho,2014)

2. Mual
Mual adalah suatu fenomena subjektif tentang rasa tidak nyaman
pada bagian tenggorokan atau lambung, yang dapat mengakibatkan
muntah. Ini mengacu pada dehidrasi. Diagnosa ini ditegakkan karena
pada pengkajian penulis menemukan data subyektif: Data Subjektif :
Klien mengatakan mual dan muntah, Klien mengatakan BAK 4x hari ini
dengan frekuensi ±200cc, Klien mengatakan warna urinenya kuning
jernih, Klien mengatakan BAB dengan frekuensi 1x sehari. Data Objektif
: Klien tampak lemas, Bibir klien tampak kering, Lidah klien tampak
88

ditutupi selaput putih Data yang di temukan melalui pemeriksaan fisik


TD 110/80mmHg, Pernafasan 20x/menit, Denyut nadi :80x/ menit, Suhu
39,1ºC.
Alasan menegakkan diagnosa keperawatan mual sebagai diagnosa
yang kedua karena diagnosa ini muncul setelah terdapat diagnosa
hipertermi serta diagnosa ini apabila tidak ditangani masalah mual ini
dapat mengakibatkan kurangnya tenaga bahkan terjaninya dehidrasi.
Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan mual sangat
penting di lakukan tindakan keperawatan dengan segera hal ini di
sebabkan karena akan mempengaruhi proses hidrasi didalam tubuh.

3. PK : Infeksi

C. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah semua rencana keperawatan untuk
membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini ke status yang diuraikan
dalam hasil yang diharapkan (Potter& Perry, 2012).
Menurut Asmadi (2011) sebelum menentukan intervensi keperawatan
harus ditentukan tujuan dilakukan tindakan sehingga rencana tindakan dapat
diselesaikan dengan metode smart yaitu spesifik adalah rumusan tujuan yang
harus jelas dan khusus Measurable adalah tujuan yang dapat diukur,
Achierable adalah tujuan yang dapat diterima, dicapai dan ditetapkan bersama
klien, rasional adalah tujuan dapat tercapai dan nyata dan time harus ada
target waktu.
Rencana tindakan keperawatan merupakan tindakan agar tercapainya
tujuan yang diinginkan dalam memenuhi kebutuhan klien, berdasarkan
masing-masing diagnosa yang ditegakkan. Pada prinsipnya penulis tidak
menemukan hambatan yang berarti dalam melakukan tindakan keperawatan.
Hal ini disebabkan faktor-faktor yang mendukung antara lain adalah
hubungan kerja sama yang baik antara penulis dan klien dalam mengatasi
89

masalah klien dan memenuhi kebutuhan klien, hubungan kerja sama yang
baik dan bimbingan dengan pembimbing akademik dan sarana prasarana
penunjang di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Dari 3 diagnosa yang sesuai dengan teoritis, perencanaan juga sesuai
dengan perencanaan teoritis, diambil dari pengkajian dan menganalisa yaitu:
1. Hipertermi berhubungan dengan Proses Penyakit
Dalam proses keperawatan ini penulis menetapkan tujuan
keperawatan di mana terdapat tujuan jangka panjang dan tujuan jangka
pendek, pada penelitian ini adalah hipertermiberkurang sampai dengan
sembuh, dengan tujuan jangka pendek yaitu Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24jam diharapkan tidak terjadi peningkatan suhu
dengan kriteria hasil:merasa merinding saat dingin, berkeringat saat panas,
Mengigil saat dingin, sakit kepala, peningkatan suhu kulit, perubahan
warna kulit, dehidrasi berkurang dengan :
a. Monitor tekanan darah, nadi, dan respiratory rate penulis mengambil
intervensi ini untuk mengetahui nilai tanda-tanda vital
b. Monitor suhu kulit penulis mengambil intervensi ini untuk mengetahui
suhu dan tanda vital klien dalam rentang normal
c. Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi untuk mengetahui
kenaikan dan penurunan suhu tubuh secara ekstrem
d. Anjurkan untuk meningkatkan intake cairan dan nutrisi Untuk
mengetahui kenaikan dan penurunan suhu tubuh secara ekstrem
e. Selimuti pasien untuk mencegah kehilangan kehangataan tubuh Untuk
mengetahui kenaikan dan penurunan suhu tubuh secara ekstrem
f. Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena Untuk meningkatkan
volume cairan didalam tubuh pasien dan mencegah terjadinya syok
g. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat (antipiretik dan
antibiotik) Untuk meningkatkan volume cairan didalam tubuh pasien
dan mencegah terjadinya syok
90

h. Berikan kompres hangat pada area dahi dan lipat paha dan aksila alasan
penulis mengambil intervensi ini hal ini di sebabkan karena dengan di
berikan tindakan perawatan kompres hangat dapat menurunkan demam
tujuan dari kompres hangat dapat menurunkan suhu tubuh melalui
proses evaporasi. Hasil penelitiaannya menunjukkan adanya kompres
hangat dalam menurunkan suhu tubuh. Kompress hangat telah
diketahui mempunyai manfaat yang baik dalam menurunkan suhu
tubuh yang mengalami panas tinggi dengan cepat (Wurangian, 2014).
2. Mual
Dalam proses keperawatan ini penulis menetapkan tujuan
keperawatan di mana, Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3
x 24 jam diharapkan Mual teratasi dengan kriteria hasil: Turgor kulit
elastis, Membran mukosa lembab, Intake cairan tercukupi, Output urin
normal, Perfusi jaringan normal, fungsi kognisi normal, suhu tubuh
normal, haus meningkat.
a. Tentukan faktor-faktor resiko yang mungkin menyebabkan
ketidakseimbangan cairan (malnutrisi,hipertermia,mual,muntah)
Mempermudah untuk mendiagnosis penyakit dan meruuskan
intervensi selanjutnya
b. Monitor tanda tanda vital untuk mengetahui tekanan darah, suhu
tubuh
c. Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan respon haus Untuk
mengetahui tekanan darah, suhu tubuh
d. Monitor status cairan termasuk intake dan output cairan Untuk
mengetahui keseimbangan cairan tubuh
e. Monitor status hidrasi (membran mukus, keadekuatan denyut nadi)
untuk mengetahui diagnosis lanjutan dan tanda kekurangan volume
cairan
f. Monitor pemberian cairan IV untuk mengetahui pemberian cairan
secara tepat
91

g. Anjurkan untuk banyak minum air putih untuk menggantikan cairan


yang hilang dan memperlancar proses metabolisme dalam tubuh
karena jika kurang mengkonsumsi cairan mrupakan masalah penting
dibidang kesehatan karena sel tubuh manusia memerlukan air dalam
proses metabolisme. Air sebagai zat gizi tubuh berperan dalam
media transportasi dan eliminasi produk sisa metabolisme. Asupan
air yang kurang akan menimbulkan masalah kesehatan bagi tubuh
(Hardinsyah, 2012).
3. PK : Infeksi
a. Memantau tanda dan gejala infeksi
b. Mendapatkan specimen pemeriksan kultur, dengan melakukan
periksaan laboratorium dengan respon hemoglobin 13 gr/dL,
leukosit 16,3 uL, hematokrit 36,7%, trombosit 215 uL.
c. Memantau tanda dan gejala dari septicemia
d. Memantau efek taraupetik dan nontaraupetik antibiotika
e. Menjelaskan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirhat serta
perlunya mengkonsumsi nutrsi.

D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan adalah
katagori dari perilaku keperawatan di massa tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan
mengikuti komponen perencanaan keperawatan (Potter, 2013).
Penulis melakukan tindakan keperawatan berdasarkan rencana tindakan
yang telah dibuat. Pada tahap pelaksanaan tindakan keperawatan yang
merupakan tindakan yang nyata terhadap klien dalam rangka mencapai tujuan
yang diinginkan. rencana tindakan dapat diaplikasikan dalam tindakan
keperawatan yang nyata. dari setiap diagnosa dilakukan sesuai dengan
rencana disusun berdasarkan perencanaan.
92

Secara teoritis tindakan keperawatan dipilih untuk membantu klien dalam


mencapai hasil yang diharapkan dan tujuan pemulangan, tindakan
keperawatan yang di lakukan penulis pada klien An.M antara lain :
1. Hipertermi berhubungan dengan Proses Penyakit
a. Memonitor tekanan darah, nadi, dan respiratory rate dengan cara
mengukur tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan
keperawatan dengan respon TD: 120/80mmHg, N: 84x/m, RR:
20x/m.Memonitor tanda-tanda vital merupakan suatu cara untuk
mendeteksi adanya perubahan system tubuh dan memantau
perkembangan kesehatan klien (Hidayat, 2012).
b. Memonitor suhu kulit dengan cara mengukur suhu tubuh klien dengan
termometer dengan respon Suhu: 36,1ºC
c. Memonitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi dengan cara
mengukur suhu tubuh klien dengan termometer
d. Menganjurkan untuk meningkatkan intake cairan dan nutrisi dengan
cara memotivasi klien untuk banyak minum air putih serta mematuhi
diet yang diberikan
e. Menyelimuti pasien untuk mencegah kehilangan kehangataan tubuh
dengan cara menganjurkan klien untuk menutupi tubuhnya dengan
selimut
f. Mengkolaborasikan dalam pemberian cairan intravena dengan cara
memonitor cairan yang telah terpasang pada intravena
g. Mengkolaborasikan dengan dokter dalam pemberian obat (antipiretik
dan antibiotik) dengan menganjurkan klien patuh untuk minum obat
yang telah diresepkan dokter
h. Memberikan kompres hangat pada area dahi dan lipat paha dan aksila
intervensi ini dilakukan, engan cara membasahi kain yang tipis dan
lembut lalu di kompres pada (leher, ketiak dan dahi) setelah di lakukan
tindakan tersebut demam klien berkurang, hal ini sejalan dengan
penelitian terdahulu bahwa kompres hangat dapat menurunkan suhu
93

tubuh melalui proses evaporasi. Hasil penelitianya menunjukan,


kompres hangat telah di ketahui mempunyai banyak manfaat yang baik
dalam menurunkan suhu tubuh yang mengalami panas tinggi di rumah
sakit karena menderita berbagai penyakit infeksi (Wurangian, 2014).
2. Mual
a. Menentukan faktor-faktor resiko yang mungkin menyebabkan Mual
dengan cara menanyakan langsung ke klien dan mengkaji keadaaan
klien
b. Memonitor tanda tanda vital dengan cara mengukur satu persatu
tanda vital dengan respon TD: 120/80, N: 84x/m, RR:20x/m, T:
36,1ºC
c. Memonitor membran mukosa, turgor kulit, dan respon haus dengan
cara melihat langsung dan menanyakan kepada klien dengan respon
Bibir kering, turgor elastis, respon haus kurang
d. Memonitor status cairan termasuk intake dan output cairan dengan
cara menanyakan ke klien Cairan masuk minum ±1000cc/hari, BAK
±400cc/hari
e. Memonitor status hidrasi (membran mukus, keadekuatan denyut
nadi) dengan respon Membran mukosa kering, denyut nadi lemah
f. Memonitor pemberian cairan IV dengan cara memastikan cairan
yang diberikan tepat yaitu terpasa assering 500cc
g. Menganjurkan untuk banyak minum air putih dengan cara
memotivasi klien untuk lebih meningkatkan lagi asupan cairannya
karena respon klien minum air putihmasih kurang. Air putih yang
kita butuhkan dalam keaadaan normal sebaiknya 8-10 air gelas/hari.
Berbada dengan orang yang sedang sakit, mereka memerlukan air
putih yang lebih banyak dari ukuran normal, karena pada waktu sakit
lebih banyak cairan yang digunakan untuk kegiatan metabolisme
dalam tubuh. Dua gelas per hari adalah ukuran minimal yang harus
diminum dalam kondisi pemulihan kesehatan. Sehingga untuk
94

memenuhi kebutuhan setiap hari seseorang membutuhkan dukungan


dan motivasi agar memiliki semangat dalam memenuhi kebutuhan
cairannya (Hafidudin, 2016).
3. PK : Infeksi
a. Memantau tanda dan gejala infeksi
b. Mendapatkan specimen pemeriksan kultur, dengan melakukan
periksaan laboratorium dengan respon hemoglobin 13 gr/dL, leukosit
16,3 uL, hematokrit 36,7%, trombosit 215 uL.
c. Memantau tanda dan gejala dari septicemia
d. Memantau efek taraupetik dan nontaraupetik antibiotika
e. Menjelaskan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirhat serta
perlunya mengkonsumsi nutrsi.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang
rencana keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatan
actual, mencegah kekambuhan dari masalah potensial dan mempertahankan
status kesehatan. Evaluasi terhadap tujuan asuhan keperawatan menentukan
tujuan ini telah terlaksana (Potter, 2013).
Penulis mengevaluasi apakah prilaku atau respon klien mencerminkan
suatu kemajuan atau kemunduran dalam diagnosa keperawatan. Pada evaluasi
penulis menyesuaikan dengan teori yang ada yaitu SOAP yang berarti S
adalah subjektif keluhan utama klien, O adalah objektif hasil pemeriksaan, A
adalah perbandingan data dengan teori dan P adalah perencanaan yang akan
dilakukan (Asmadi, 2011).
1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Ditandai dengan data,klien mengatakan badannya panas, klien
mengatakan pusing, Kulit teraba hangat klien tampak lemas, bibir klien
tampak kering. Data yang di temukan melalui permeriksaan fisik TD
95

110/80 mmHg, Denyut nadi: 80x/menit Pernafasan 20x/ menit


Suhu:39º1C.
Evaluasi di lakukan pada tanggal 29 Oktober 2018 pada pukul
15.00 WIB, klien mengatakan masih demam dan menggigil, klien
mengatakan pusing, akral teraba hangat, klien masih tampak menggigil,
klien memegangi area kepala, TTV (TD: 110/80 mmHg,S: 39,1ºC, N : 80
x/ menit, RR: 20 x/menit), intervensi di lanjutkan pada pada tanggal 30
oktober 2018 pukul 15.00 WIB, klien mengatakan masih demam dan
menggigil, klien mengatakan pusing, akral teraba hangat, klien masih
tampak menggigil, klien memegangi area kepala, TTV (TD: 100/80
mmHg,S: 38ºC, N : 88 x/ menit, RR: 22 x/menit), ), intervensi di
lanjutkan pada pada tanggal 31 Oktober 2018 pada pukul 15.00 WIB,
klien mengatakan tidak demam lagi, klien mengatkankan tidak pusing,
akral teraba sedikit hangat, TTV (TD: 120/80 mmHg,S: 36,1ºC, N : 84 x/
menit,RR: 20 x/menit)
Assement :Masalah keperawatan hipertermi teratasi dengan
intervensi di hentikan
2. Mual
Di tandai dengan klien mengatakan BAK 6x/hari, Klien mengatakan
masih mual, tidak nafsu makan dan minum, Klien mengatakan warna
urinenya kuning jernih. Klien mengatakan BAB 1x/hari, klien tampak
lemas, bibir klien tampak kering, lidah klien tampak kotor ditutupi selaput
putih.
Evaluasi di lakukan pada tanggal 29 juli 2018 pada pukul 15.00
WIB, BAK 6x/hari, Klien mengatakan masih mual, tidak nafsu makan dan
minum, Klien mengatakan warna urinenya kuning jernih. Klien
mengatakan BAB 1x/hari, klien tampak lemas, bibir klien tampak kering,
lidah klien tampak kotor ditutupi selaput putih. Masalah belum teratasi
intervensi di lanjutkan pada pada tanggal 30 Oktober 2018 pukul 09.00
WIB, Evaluasi dilakuan pada pukul 15.00 WIB,klien mengatakan BAK 5x
96

hari ini, klien mengatakan masih mual, mengatakan warna urinenya


kuning jernih, klien mengatakan masih BAB frekuensi 1x, Klien masih
tampak lemas, bibir klien masih tampak kering, lidah klien masih tampak
putih, TTV(TD: 110/80 mmHg, S: 38ºC, N : 88 x/ menit, RR: 22 x/
menit). Malasalah belum teratasi intervensi di lanjutkan pada tanggal 31
Oktober 2018 pukul 09.00 WIB, Evaluasi dilakuan pada pukul 15.00 WIB,
klien mengatakan BAK 6x hari ini, klien mengatakan tidak lagi mual,
klien mengatakan warna urinenya kuning keruh, klien mengatakan tidak
lagi BAB 1x, klien tidak lagi tampak lemas, bibir klien tidak lagi kering,
lidah klien bersih, TTV (TD: 120/80mmHg, S: 36,1ºC, N: 84x/menit, RR:
20x/menit.
Assement :Masalah keperawatan mual teratasi, intervensi dihentikan
pasien pulang.
3. PK : Infeksi
Evaluasi di lakukan pada tangal 29 Oktober 2018 pada pukul 15.00
WIB, klien mengatakan mual, klien mengatakan badannya panas, akral
terasa hangat, memegangi area kepala. TTV (TD: 110/80 mmHg,S:
39,1ºC, N : 80 x/ menit, RR: 20 x/menit), intervensi di lanjutkan pada
pada tanggal 30 oktober 2018 pukul 15.00 WIB, klien mengatakan masih
demam dan menggigil, klien mengatakan pusing, akral teraba hangat,
klien masih tampak menggigil, klien memegangi area kepala, TTV (TD:
100/80 mmHg,S: 38ºC, N : 88 x/ menit, RR: 22 x/menit), ), intervensi di
lanjutkan pada pada tanggal 31 Oktober 2018 pada pukul 15.00 WIB,
klien mengatakan tidak demam lagi, klien mengatkankan tidak pusing,
akral teraba sedikit hangat, TTV (TD: 120/80 mmHg,S: 36,1ºC, N : 84 x/
menit,RR: 20 x/menit)
Assement :Masalah keperawatan teratasi, intervensi dihentikan
pasien pulang dan dilanjutkan dengan Discharge Planning.
97

F. Discharge Planning
1. No. Reg : XX-XX-XX
2. Nama : An.M
3. Jenis Kelamin : Laki-Laki
4. Tanggal MRS : 26 Oktober 2018
5. Diagnosis MRS : Demam Thypoid
6. Di pulangkan dari RS dengan keadaan: Sembuh
7. Lanjutan perawatan dirumah
a. Memberikan pendidikan pencegahan penyakit Demam thypoid
dengan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang faktor resiko penyakit
Demam thypoid.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat kompres hangat
dan manfaat mencuci tangan dengan benar.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penerapan proses keperawatan yang penulis lakukan pada
An.M selam tiga hari yang dilakukan di Ruang Ahmad Dahlan Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Pengkajian
Pada data pengkajian yang penulis lakukan pada studi kasus pada
An.M, dengan Demam thypoid, data-data yang penulis temukan pada
pemeriksaan fisik didapatkan: bada panas, suhu tubuh 39,1ºC, akral
hangat, mual setelah makan dan minum, mukosa kering, pusing, dan
sebagian aktivitas dibantu keluarga.
2. Diagnosa Keperawatan
Setelah melakukan pengkajian dan melakukan analisa data pada
klien An.M, dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang,
kemudian penulis dapat menegakkan diagnosa keperawatan sebagai
berikut: Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit, Mual
berhubungan dengan iritasi gastrointestinal, dan PK : Infeksi
3. Intervensi Keperawatan
Adapun perencanaan dan tindakan yang diberikan sesuai dengan
keluhan yang dirasakan klien, dan merencanakan tindakan pada diagnosa
pertama, antara lain: Monitor TD, nadi, dan RR, Monitor suhu kulit,
Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi, Anjurkan untuk
meningkatkan intake cairan dan nutrisi, Selimuti pasien untuk mencegah
kehilangan kehangataan tubuh, Berikan kompres hangat pada area dahi
dan lipat paha dan aksila, Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena,
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat (antipiretik dan
antibiotik). tindakan pada diagnosa kedua, antara lain : Tentukan faktor-
faktor resiko yang mungkin menyababkan ketidak seimbangan cairan,

101
102

Monitor tanda vital, Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan respon
haus, Monitor status cairan termasuk intake dan output cairan, Monitor
status hidrasi (membran mukus, tekanan ortostatik, keadekuatan denyut
nadi), Monitor pemberian cairan IV, Anjurkan untuk banyak minum air
putih. tindakan pada diagnosa kedua, antara lain :

4. Implementasi Keperawatan
f. Terdapat beberapa implementasi yang penulis lakukan secara
langsung pada pasien. Diagnosa pertama ; Memonitor TD, nadi, dan
RR, Memonitor suhu kulit, Memonitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi, Menganjurkan untuk meningkatkan intake cairan dan
nutrisi, Menyelimuti pasien untuk mencegah kehilangan kehangataan
tubuh, dan Memberikanerikan kompres hangat pada area dahi,
Diagnosa kedua; Menentukan faktor-faktor resiko yang mungkin
menyebabkan ketidakseimbangan cairan (malnutrisi, hipertermia,
mual, muntah), Memonitor tanda vital, Memonitor membran
mukosa, turgor kulit, dan respon haus, serta Menganjurkan untuk
banyak minum air putih, Diagnosa ketiga; PK: Infeksi, Memantau
tanda dan gejala infeksi, Mendapatkan specimen pemeriksan kultur,
dengan melakukan periksaan laboratorium dengan respon
hemoglobin 13 gr/dL, leukosit 16,3 uL, hematokrit 36,7%, trombosit
215 uL, Memantau tanda dan gejala dari septicemia, Memantau efek
taraupetik dan nontaraupetik antibiotika, Menjelaskan perlunya
keseimbangan aktivitas dan istirhat serta perlunya mengkonsumsi
nutrsi. Melakukan implementasi selama 3 x 24jam penulis bekerja
sama dengan keluarga dan perawat ruang Ahmad dahlan.
5. Evaluasi Keperawatan
Pada evaluasi keperawatan didapatkan perkembangan kondisi klien
mengingat penyakit klien membutuhkan perawatan yang optimal. Pada
hari kedua masalah hipertermi teratasi pada Ny.H dengan demam thypoid
di Bangsal Ahmad Dahlan Rumag Sakit Muhammadiyah Palembang.
Pada hari ke dua masalah Mual dan Infeksi belum bisa teratasi. Pada hari
ketiga masalah mual dan infeksi bisa teratasi serta dilanjutkan dengan
103

pendidikan kesehatan (Discharge Planning) karena klien akan pulang


setelah dinyatakan sembuh.
6. Discharge Planning
Setelah semua tindakan keperawatan telah diberikan dan pasien
dipulangkan terdapat discharge planning atau perawatan lanjutan
dirumah diantaranya yaitu:
a. Memberikan pendidikan pencegahan penyakit Demam thypoid
dengan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang faktor resiko penyakit
Demam thypoid.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang manfaat kompres
hangat dan manfaat mencuci tangan dengan benar.
104

B. Saran
Berdasarkan hasil penerapan asuhan keperawatan yang dilakukan, maka
penulis dapat memberikan beberapa saran antara lain:
1. Bagi Institusi pendidikan
Sebagai bahan kajian dan informasi dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan demam thypoid dalam ruang lingkup
keperawatan medikal bedah.
2. Bagi Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Sebagai bahan kajian untuk petugas Rumah Sakit menyusun Standar
Operasional Prosedur Perawatan dan informasi dalam melakukan Asuhan
Keperawatan pada klien demam thypoid di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang.
3. Bagi Mahasiswa
a. Referensi terbaru dalam penulisan makalah ini sangat diperlukan guna
mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.
b. Mahasiswa dapat mengkaji lebih dalam dan melakukan asuhan
keperawatan pada pasien Demam Thypoid.
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi, Khayan. 2011. Metode Asuhan Keprawatan. Yogyakarta: Gosyen


Publishing

Aziz. 2009. Edisi I, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba


Medika.

Bulechek. Gloria,dkk. 2016. Nursing interventions classification(NIC). Singapore:


Elsevier

Depkes RI. 2013. Informasi Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan


Lingkungan. Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI. 2010. Laporan Hasil Riset Dasar (RISKESDAS.)


Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dinkes Palembang. 2017. Laporan Bulanan Desember 2017.


http://dinkes.palembang.go.id/tampung/dokumen/dokumen-144-258.pdf
Diakses tanggal 2 April 2018

Hardinsyah. 2012. Kecukupan Energi, Lemak, Protein, dan Karbohidral. Skripsi.


Bogor: IPB

Herdman, Heather, Shigemi kamitsuru. 2015. Diagnosa Keperawatan Defenisi


dan Klasifikasi 2015 – 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC

Irianto Koes. 2014. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: Alfabet.

Kunoli. 2012. Asuhan Keperawatan Penyakit Trofis.Jakarta: CV.Trans Info


Media.
Lestari Titik. 2016. Asuhan keperawatan anak, Yogyakarta : Nuha Medika

Mansjoer, A. 2011, Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4, Jakarta : Medica


Acsculapius FKUI

Marni. 2016. Asuhan keperawatan anak pada penyakit tropis. Jakarta : Erlangga

Moorhead, Sue, dkk. 2016.Nursing outcomes classification(NOC). Singapore:


Elsevier

Nanda. 2013. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi. Edisi 10. Alih
Bahasa: Keliat,A,B, Dkk

Ngastiyah. 2014. Perawatan anak sakit. Edisi II. Jakarta : EGC.

Nur’arif dan Kusuma, H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Bedasarkan


NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Media Hardy.
Nurvina, Artati W. 2013. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan, Higiene
Perorangan, dan Karakteristik Individu Dengan Kejadian Demam
Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas KedungMundu Kota Semarang
2012.Semarang: Universitas Negeri Semarang

Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika

Paputangan, dkk 2016. Hubungan Antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Dengan Kejadian Demam Tifoid Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT

Potter & Perry. 2013. Buku Ajar Fundamental Keprawatan : Konsep, Proses &
Praktek. Edisi4. Philadelpia: Lippinchot

Proverawati, Atikah dan Asifuah, Siti. 2012. Buku ajar Gizi. Yogyakarta: Nuha.
Medika

Purba, dkk 2016. Typhoid Fever Control Program in Indonesia: Challenges and
Opportunities

Sodikin, 2011. Asuhan keperawatan anak gangguan sistem gastrointestinal dan


Hepatobilier. Jakarta : Salemba Medika.

Soedarmo, Sumarmo S Poorwo, dkk. 2008. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis.
Jakarta: IDAI

Sudoyo, A.W., dkk. 2014, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 5, Jilid III, Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta, 398 : 1791-
179

Sujono Riyadi & Suharsono, 2010, Asuhan Keprerawatan Pada Anak Sakit, Edisi
1, Yogyakarta : Gosyen Publishing

Suratun, Lusianah. 2016, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Gastrointestinal. Jakarta: Trans Info Media.

Suriadi & Yuliani, R., 2006. Asuhan keperawatan pada anak: Edisi II. Jakarta :
Sagung Seto.

Widiastuti, S., 2012, Belajar Bertolak dari Masalah Demam Typhoid, Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis. Jakarta: Erlangga.

Wurangian. H, 2014. Penyakit Infeksi Tropik. Edisi 2. Jakarta : EGC

Zulkoni. 2010. Parasitologi. Yogyakarta: Nuha Medik