You are on page 1of 18

OPTIMASI VARIASI MASSA DAN LAMA FERMENTASI

Saccharomyces cerevisiae TERHADAP BIOETANOL LIMBAH KULIT


NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.)

PROPOSAL

Sigit Satria Putra


NIM 121710101111

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu Negara dengan luas areal
perkebunan nanas terbesar di Asia selain Thailand, Filipina dan Malaysia
yaitu mencapai lebih dari 165.690 hektar. Nanas merupakan salah satu jenis
tanaman yang banyak mengandung gula yaitu sekitar 15 hingga 20%.Pada
industri pengolahan nanas, perlu diperhitungkan kemungkinan pemanfaatan
kulitnya.Selain menjadi alternatif pemanfaatan limbah industri, usaha
pemanfaatan kulit nanas dapat memberikan nilai tambah (Murniati. 2006).
Secara ekonomi kulit nanas masih bermanfaat untuk diolah menjadi pupuk
dan pakan ternak.
Berdasarkan kandungan nutriennya, ternyata kulit buah nanas
mengandung karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Menurut Wijana, dkk
(1991) kulit nanas mengandung 81,72 % air, 20,87 % serat kasar, 17,53 %
karbohidrat, 4,41 % protein dan 13,65 % gula reduksi. Mengingat kandungan
karbohidrat dan gula yang cukup tinggi tersebut maka kulit nanas
memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan
kimia, salah satunya adalah bioetanol melalui proses fermentasi.
Bioetanol dihasilkan dari gula yang merupakan hasil aktivitas
fermentasi sel khamir. Khamir yang baik digunakan untuk menghasilkan
bioetanol adalah dari genus Saccharomyces. Saccharomyces cerevisiae
menghasilkan enzim zimase dan invertase. Enzim zimase berfungsi
sebagai pemecah sukrosa menjadi monosakarida (glukosa dan fruktosa).
Enzim invertase selanjutnya mengubah glukosa menjadi bioetanol
(Judoamidjojo dkk, 1992). Kriteria pemilihan khamir untuk produksi
bioetanol adalah mempunyai laju fermentasi dan laju pertumbuhan cepat,
perolehan bioetanol banyak, tahan terhadap konsentrasi bioetanol dan
glukosa tinggi, tahan terhadap konsentrasi garam tinggi, pH optimum
fermentasi rendah, temperatur optimum fermentasi sekitar 25-30 oC.
Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah bioetanol yang dihasilkan
dari fermentasi adalah mikroorganisme dan media yang digunakan
(Astuty,1991). Selain itu hal yang perlu diperhatikan selama fermentasi
adalah pemilihan khamir, konsentrasi gula, keasaman, ada tidaknya oksigen
dan suhu dari perasan buah. Pemilihan sel khamir didasarkan pada jenis
karbohidrat yang digunakan, sebagai medium untuk memproduksi alkohol
dari pati dan gula digunakan Saccharomyces cerevisiae. Suhu yang baik
untuk proses fermentasi berkisar antara 25-30°C. Derajat keasaman (pH)
optimum untuk proses fermentasi sama dengan pH optimum untuk proses
pertumbuhan khamir yaitu pH 4,0-4,5.
Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk lebih
meningkatkan potensi limbah kulit nanas sebagai bahan baku bioetanol
dengan penambahan Saacharomyces cereviceae dan waktu fermentasi
terhadap bioetanol yang dihasilkan.

1.2 Perumusan Masalah


Pemanfaatan kulit buah nanas dalam produk pangan memang belum
dimanfaatkan di Indonesia. Sehingga diperlukan adanya upaya pemanfaatan
untuk menambah nilai guna dan ekonomis dari kulit buah nanas tersebut.
Jika kulit buah nanas biasanya dibuang ,Ternyata kulit buah nanas bisa
dimanfaatkan sebagai penghasil etanol yang dapat diaplikasikan sebagai
bahan bakar alternative. Sampai saat ini masih belum diketahui teknik pasti
kulit buah nanas menjadi etanol berdasarkan pengaruh massa ragi
Saccharomyces Cereviceae dan waktu fermentasi tersebut. Oleh karena itu,
diperlukan pemanfaatan limbah kulit nanas sebagai bahan baku bioetanol
dengan penambahan Saacharomyces cereviceae dan waktu fermentasi
terhadap bioetanol yang dihasilkan.

1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan limbah nanas ( Kulit buah nanas ) untuk pembuatan
bioetanol sebagai energi alternatif dengan fermentasi menggunakan
Saccharomyces Cereviceae.
2. Mengetahui pengaruh massa ragi Saccharomyces Cereviceae
terhadap fermentasi bioetanol dari kulit buah nanas
3. Mengetahui pengaruh waktu fermentasi terhadap bioetanol yang
dihasilkan dari fermentasi kulit buah nanas.

1.4 Manfaat
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
sebagai berikut:
1. Mengurangi limbah kulit buah nanas yang tidak termanfaatkan;
2. Meningkatkan nilai guna dan ekonomis kulit buah nanas;
3. Menambah alternatif sumber Bioetanol yang dapat digunakan sebagai
bahan bakar alternative.
BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.)

Nenas (Ananas comosus (L.) Merr.) termasuk famili Bromeliceae dari kelas
Monokotyledoneae. Tanaman ini merupakan hortikultura yang mulai berproduksi
pada umur 12 bulan. Nenas yang terkenal di Indonesia adalah nenas dari Sumatera
(nenas Siantar dan Palembang), dan di Jawa adalah nenas Bogor, nenas klayatan.
Sedangkan di luar negeri yang terkenal adalah dari Pilipina, Hawai dan Brazilia
(Djatmiko, 1985).
Tanaman nenas tumbuh secara liar di dataran tinggi yang kering di Brazil dan
Paraguai dan kemungkinan sekali tanaman nenas ini berasal dari negara tersebut.
Kemudian tersebar ke Amerika, Spanyol, Portugis hingga akhirnya sampai ke
daerah tropis seperti Pilipina dan Asia Tenggara. Nenas dapat tumbuh pada
ketinggian 90 – 800 meter di atas permukaan laut. Temperatur optimum untuk
pertumbuhan adalah berkisar 21-27 oC (Logman Group, 1975).
Adapun klasifikasi buah nanas adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Bromeliales
Famili : Bromiliaceae
Genus : Ananas
Species : Ananas sativus
(Wikipedia Indonesia, 2010).
Buah Nenas merupakan buah yang kaya akan karbohidrat, terdiri atas beberapa
gula sederhana misalnya sukrosa, fruktosa, dan glukosa, serta enzim gromelin yang
dapat merombak protein menjadi asam amino agar mudah diserap tubuh
(Rismunandar, 1989).
Nenas merupakan buah yang terdiri dari sebagian besar daging buah yang
banyak mengandung gula, Vitamin A, vitamin C dan mengandung mineral yang
diperlukan tubuh (Collins, 1960).
2.1 Kulit Buah Nanas
Kulit buah nanas merupakan bagian mesokarp atau diding buah nanas yang
mencakup bagian terluar sampai daging buah dan memiliki tekstur lunak,kasar pada
bagian luar.
Kulit buah nanas merupakan limbah pertanian yang ketersediannya cukup
banyak dan belum maksimal dalam pemanfaatanya. Menurut Suprapti (2001),
limbah nenas berupa kulit, ati/ bonggol buah atau cairan buah/ gula dapat diolah
menjadi produk lain seperti sari buah atau sirup. Kumalamingsih(1993), secara
ekonomi kulit nenas mash bermanfaat untuk diolah menjadi pupuk dan pakan
ternak. Komposisi limbah kulit nenas dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat Limbah Kulut Nenas Berdasarkan Berat Basah
Komposisi Rata-rata Berat Basah (%)
Air 86,70
Protein 0,69
Lemak 0,02
Abu 0,48
Serat basah 1,66
karbohidrat 10,54
Sumber: Sidharta (1989)
Selain itu juga kulit buah nanas mengandung karbohidrat dan gula yang
cukup tinggi. Menurut Wijana, et al. (1991) cit Novitasari (2008), kulit nanas
mengandung 81,72% air; 20,87% SK; 17,53% karbohidrat; 4,41% PK dan 13,65%
gula reduksi. Dilihat dari jumlah serat kasar, karbohidrat dan glukosa yang
dikandung kulit nenas yang cukup tinggi maka kulit nenas memungkinkan untuk
dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan bioetanol.

2.3 Bioetanol
Salah satu energi alternatif yang dapat menggantikan sumber energi fosil
adalah bioetanol. Etanol yang disebut juga sebagi etil alkohol, mempunyai sifat
berupa cairan yang tidak stabil, mudah terbakar dan tidak berwarna dan merupakan
alkohol rantai lurus dengan rumus molekul C2H5OH. Etanol adalah salah satu
bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan, serta
menghasilkan gas emisi karbon yang rendah dibandingkan dengan bensin atau
sejenisnya (sampai 85% lebih rendah). Bioetanol dihasilkan dari gula yang
merupakan hasil aktivitas fermentasi sel khamir. Khamir yang baik digunakan untuk
menghasilkan bioetanol adalah dari genus Saccharomyces.Saccharomyces
cerevisiae menghasilkan enzim zimase dan invertase. Enzim zimase berfungsi
sebagai pemecah sukrosa menjadi monosakarida (glukosa dan fruktosa). Enzim
invertase selanjutnya mengubah glukosa menjadi bioetanol (Judoamidjojo dkk,
1992).
Kriteria pemilihan khamir untuk produksi bioetanol adalah mempunyai laju
fermentasi dan laju pertumbuhan cepat, perolehan bioetanol banyak, tahan terhadap
konsentrasi bioetanol dan glukosa tinggi, tahan terhadap konsentrasi garam tinggi,
pH optimum fermentasi rendah, temperatur optimum fermentasi sekitar 25- 30 oC.
Bioetanol dapat dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif memiliki
beberapa keunggulan yaitu mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18 %, bioetanol
merupakan bahan bakar yang tidak beracun dan cukup ramah lingkungan serta
dihasilkan melalui proses yang cukup sederhana yaitu melalui proses fermentasi
menggunakan mikrobia tertentu. Bioetanol sebagai bahan bakar memiliki nilai oktan
lebih tinggi dari bensin sehingga dapat menggantikan fungsi aditif seperti metal
tertiary butyl ether (MTBE) yang menghasilkan timbal (Pb) pada saat pembakaran.
Di Indonesia, minyak bioethanol sangat potensial untuk diolah dan dikembangkan
karena bahan bakunya merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di negara ini
dan sangat dikenal masyarakat. Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan
bioetanol adalah tanaman yang memiliki kadar karbohidrat tinggi atau selulosa,
seperti: tebu, nira, sorgum, ubi kayu, garut, ubi jalar, sagu, jagung, jerami, bonggol
jagung, dan kayu.

2.4 Saccharomyces cerevisiae


Menurut Retno dan Nuri (2011), mikroorganisme yang umumnya digunakan
dalam proses produksi bioetanol adalah Saccharomyces cerevisiae.
Saccharomyces cerevisiae memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan
mikroorganisme lain yang dapat memproduksi bioetanol. Kelebihan tersebut antara
lain lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan,lebih tahan terhadap kadar alcohol
tinggi,dan lebih mudah didapat.
S. cerevisiae merupakan khamir sejati tergolong eukariot yang secara
morfologi hanya membentuk blastospora berbentuk bulat lonjong silindris, oval atau
bulat telur yang dipengaruhi oleh strainnya. Dapat berkembang biak dengan
membelah diri melalui pertunasan. Reproduksinya dapat dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan serta jumlah nutrisi yang tersedia bagi pertumbuhan sel. Penampilan
makroskopik mempunyai koloni berbentuk bulat, warna kuning muda, permukaan
berkilau, licin, tekstur lunak dan memiliki sel bulat dengan askospora 1-8 buah
(Nikon, 2004).
Penggunaan Saccharomyces cerevisiae dalam produksi etanol secara
fermentasi telah banyak dikembangkan di beberapa negara, seperti Brasil, Afrika
Selatan, dan Amerika Serikat (Narita, 2005). Hal ini disebabkan karena
Saccharomyces cerevisiae dapat memproduksi etanol dalam jumlah besar dan
mempunyai toleransi terhadap alkohol yang tinggi. Saccharomyces cerevisiae
mempunyai aktivitas optimum pada suhu 3 - 35oC dan tidak aktif pada suhu lebih
dari 40oC. Saccharomyces cerevisiae dapat memfermentasi glukosa, sukrosa,
galaktosa serta rafinosa (Kunkee dan Mardon 1970). Biakan Saccharomyces
cerevisiae mempunyai kecepatan fermentasi optimum pada pH 4,48 (Harrison dan
Graham 1970). Proses fermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae adalah proses
pengubahan sebagian besar energi dari gula ke dalam bentuk etanol.
Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah bioetanol yang dihasilkan dari
fermentasi adalah mikroorganisme dan media yang digunakan (Astuty,1991). Selain
itu hal yang perlu diperhatikan selama fermentasi adalah pemilihan khamir,
konsentrasi gula, keasaman, ada tidaknya oksigen dan suhu dari perasan buah.
Pemilihan sel khamir didasarkan pada jenis karbohidrat yang digunakan, sebagai
medium untuk memproduksi alkohol dari pati dan gula digunakan Saccharomyces
cerevisiae. Suhu yang baik untuk proses fermentasi berkisar antara 25-30°C.
Derajat keasaman (pH) optimum untuk proses fermentasi sama dengan pH optimum
untuk proses pertumbuhan khamir yaitu pH 4,0-4,5.Menurut Admianta (2001),
semakin lama proses fermentasi,dan semakin banyak dosis ragi Saccaromyces
cereviceae yang diberikan maka kadar bioetanol semakin meningkat.

2.5 Proses Fermentasi


Tiap proses fermentasi mendayagunakan aktifitas biokimia suatu mikrobia
tertentu atau campuran dari beberapa spesies mikrobia. Dari segi biokimia
fermentasi adalah aktifitas dari mikrobia untuk memperoleh energi melalui
pemecahan substrat atau katabolisme guna keperluan metabolisme dalam
pertumbuhannya. Jadi salah satu fungsi substrat yang terpenting adalah sebagai
sumber energi disamping sebagai bahan pembentuk sel dan produk metabolisme
(Rahman, 1989).Pembentukan alkohol dari gula dilaksanakan oleh khamir penghasil
alkohol, seperti Saccharomyces cerevisiae (Desrosier, 1988).
Fermentasi adalah suatu proses perubahan kimia pada substrat organik, baik
karbohidrat, protein, lemak atau lainnya, melalui kegiatan katalis biokimia yang
dikenal sebagai enzim dan dihasilkan oleh jenis mikroba spesifik (Prescott dan Dunn
1981). Selama fermentasi berlangsung, gula dalam bentuk glukosa dirombak
menjadi etanol dan berbagai substansi lainnya seperti gliserol dan asam laktat yang
disebut sebagai produk fermentasi. Perombakan tersebut berlangsung bersamaan
dengan pembentukkan asam-asam, khususnya asam asetat yang semakin
meningkat jumlahnya dari asam-asam volatile lainnya (Winton dan Winton,
1958).Secara biokimia fermentasi juga dapat diartikan sebagai pembentukan energi
melalui senyawa organik. Secara sederhana proses fermentasi alkohol dari bahan
baku yang mengandung gula atau glukosa terlihat pada reaksi berikut:
Glukosa 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP + 5 Kkal
Dari reaksi diatas, 70% energi bebas yang dihasilkan dibebaskan sebagai
panas dan secara teoritis 100% karbohidrat diubah menjadi 51,1% etanol dan 48,9
% menjadi CO2.

Salah satu faktor yang dapat mempengruhi fermentasi dan kadar bioetanol
pada proses produksi adalah lama fermentasi. Semakin lama waktu fermentasi
maka semakin tinggi kadar bioetanol yang dihasilkan. Jika bioetanol yang
terkandung di dalam substrat tinggi maka hal ini justru akan berpengaruh buruk
terhadap pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae. Karena pada kadar alcohol 2,5%
pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae akan terhambat. Hanya Saccharomyces
cerevisiae strain tertentu saja yang dapat bertahan pada kadar alcohol 2,5--‐5%.
Oleh karena itu dibutuhkan lama fermentasi yang tepat untuk proses fermentasi
bioetanol agar didapatkan kadar etanol dalam jumlah yang tinggi, nlai pH rendah,
dan produksi gas yang tinggi tetapi tidak mengganggu pertumbuhan
Saccharomyces cerevisiae.
Menurut Roukas (1996), penurunan bioetanol terjadi pada konsentrasi
glukosa berlebih sebagai efek inhibisi substrat dan produk. Konsentrasi substrat
yang terlalu tinggi mengurangi jumlah oksigen terlarut, walaupun dalam jumlah yang
sedikit,oksigen tetap dibutuhkan dalam fermentasi oleh Saccaromyces cerevisiae
untuk menjaga kehidupan dalam konsentrasi sel tinggi (Hepworth, 2005;Nowak,
2000; Tao dkk. 2005)

2.5 Hipotesis
Penelitian ini menunjukan pengaruh optimasi variasi massa dan lama
fermentasi dari Saccaromyces cerevisiae, berperan penting dan merupakan factor
penentu jumlah bioetanol yang dihasilkan,sehingga dapat menambah nilai guna
menjadi bahan bakar alternative serta mengurangi jumbah limbah kulit buah nanas.
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Bahan dan Alat Penelitian


3.1.1 Bahan Penelitian
Bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah
nanas yang diperoleh dari hasil limbah pengolahan buah nanas. Kulit
buah nanas dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan bioetanol.
Sedangkan bahan mikroorganisme yang digunakan untuk
fermentasi adalah Saccharomyces cerevisia, serta menggunakan
aquadest.
3.1.2 Alat Penelitian
Peralatan yang digunakan meliputi timbangan analitik (Ohaus), kertas
saring (whatman no.4), blender (National), gelas ukur 100 ml (Pyrex),
beaker glass 1000 ml (Pyrex), erlenmeyer 250 ml (Kimax), pipet ukur 1 ml
dan 10 ml (Pyrex), pipet volume 25 ml (Socorex), labu takar 250 ml
(Pyrex), corong kaca, bulb pipet, spatula kaca, alumunium foil, alat
destilasi.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Laboratorium Rekayasa Hasil Pertanian,
Laboratorium Analisa Terpadu, dan Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil
Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember. Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari 2015 –
September 2015.

3.3 Rancangan dan Pelaksanaan Penelitian


3.3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan variasi jumlah massa
Saccharomyces cerevisia dan perlakuan monofaktor yaitu lama fermentasi
dengan lingkungan Rancangan Acak Lengkap (RAL),kemudian juga
dilakukan respon hasil bioetanol meliputi kadar alcohol, pH, dan produksi gas.
Pada perlakuan variasi massa Saccharomyces cerevisia
menggunakan 20 gr, 30 gr, 40 gr. Kemudian untuk perlakuan respon yang
diamati dari hasil lama fermentasi,perlakuan yang dibagi dalam 5 taraf. Data
yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dan jika terdapat perbedaan maka
dilakukan dengan uji wilayah ganda Duncan. Adapun taraf variasi lama
perlakuan yang digunakan 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam.

3.3.2 Pelaksanaan Penelitian


Kulit buah nanas dicuci bersih menggunakan air mengalir untuk
menghilangkan sisa kotoran yang terdapat pada kulit buah. Kemudian
menyiapkan ukuran perbandinagan kulit buah nanas dan aquadest yaitu 1 : 2,
Kulit
setelah itu dilakukan proses buah nanas dengan
penghancuran 100 cara diblender hingga halus.
Setelah didapatkan hasil proses grpenghancuran dilakukan ekstraksi yaitu
Pencucian
memisahkan filtrat dari ampas kulit nanas menggunakan kain saring. Hasil dari
filtart kulit buah nanas kemudian dipasteurisasi dengan pemanasan suhu 700 c
Aquadest 200 15
selama Penghancuran
ml menit, setelah itu larutan filtrat didinginkan pada suhu kamar 300c.
Proses fermentasi dilakukan di dalam ruangan khusus yang suhunya
Penyaringan
diatur agar tetap memenuhi persyaratan optimal pertumbuhanAmpas
Saccharomyces
cerevisiae. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan hasil filtrat kulit nanas
Filtrat
dengan starter Saccharomyces cerevisiae variasi jumlah 20 gr, 30 gr, 40 gr .
Proses fermentasi dilaksanakan selama 60 jam dan setiap 12 jam sekali
Pasteurisasi
dilakukan pengujian terhadap kadar
0 alcohol, pH, dan produksi gas. Diagram alir
70 C, 15 menit
produksi bioetanol kulit nanas dengan variasi massa dan lama fermentasi
dapat dilihat pada Gambar 3.1.Pendiaman
300 C
Saccharomyces
cerevisiae Penambahan
20,30,40 gr strater

Fermentasi
12,24,36,48,60 jam

Bioetanol
Gambar 3.1 Prosedur pembuatan bioetanol kulit nanas
3.4 Parameter Pengamatan

Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi:

a. Kadar Alkohol;

b. pH;

c. Produksi Gas (Richana,2011 Termodifikasi);

3.5 Prosedur Analisa

3.5.1 Kadar Alkohol


Prosedur analisa kadar alcohol dilakukan dengan metode
piknometer Sesuai dengan petunjuk Putri dan Sukandar (2008), pertama-tama
sampel sebanyak 100 ml dimasukkan ke dalam labu destilasi Kjeldahl kemudian
ditambahkan dengan aquades sebanyak 100 ml. Selanjutnya didestilasi pada
suhu 80oC. Destilat ditampung di dalam Erlenmeyer hingga volume 50 ml.
Destilat tersebut kemudian dimasukkan ke dalam piknometer yang telah
ditimbang sebelumnya. Destilat dimasukkan hingga memenuhi piknometer.
Kelebihan destilat Pada puncak pipa kapiler dibersihkan. Piknometer yang berisi
destilat ditimbang dan beratnya dicatat. Prosedur yang sama dilakukan pada
aquades sebagai pembanding. Berat jenis alcohol dihitung dari (berat
piknometer + destilat) dikurangi Berat piknometer kosong kemudian dibagi
(berat piknometer + aquades) dikurangi berat piknometer kosong. Hasil
penghitungan berat jenis alcohol kemudian dikonversikan dengan
menggunakan tabel konversi BJ alkohol.
3.5.2 pH
Prosedur pengujian pH dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus
yang dicelupkan kedalam larutan bioetanol sehingga bisa didapatkan hasil
pengukuran pH. Namun untuk pengukuran pH secara spesifik bisa dilaukan
dengan cara pengukuran menggunakan pH meter,prosedur yang dilakukan
ialah mengukur suhu sampel terlebih dahulu kemudian mengatur suhu pH
meter pada suhu terukur. pH meter dihidupkan dan dibiarkan agar stabil selama
15- 30 menit. Elektroda dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan tissu.
Kemudian elektroda dicelupkan pada sampel sampai diperoleh pembacaan
skala yang stabil (Richana,2011).

3.5.1 Produksi Gas


Prosedur pengukuran produksi gas dilakukan dengan cara menghitung
penurunan air yang ada di dalam gelas ukur 250 ml. Alat untuk mengukur
volume gas yang keluar selama proses pembuatan bioetanol ini adalah suatu
rangkaian yang terdiri dari filtering flask 1500 ml yang dihubungkan dengan
gelas ukur 500 ml yang posisinya terbalik melalui selang. Gelas ukur terlebih
dahulu dilubangi sesuai besar selang. Gelas ukur tersebut diisi dengan air
(volume awal). Kemudian karena adanya produksi gas maka air yang ada di
dalam gelas ukur akan mengalami penurunan. Volume air pada saat
pengukuran produksi gas merupakan volume akhir. Besarnya produksi gas
dapat diukur dengan menghitung selisih volume awal dan volume akhir.
Produksi gas dinyatakan dalam satuan ml (Datar et al., 2004 termodifikasi).
DAFTAR PUSTAKA

Admianta, Noer Z dan Fitrianida. (2001). “Pengaruh Jumlah Yeast Terhadap Kadar
Alkohol Pada Fermentasi Kulit Nanas dengan Menggunakan Fermentor”.
Teknik Kimia ITN Malang.

Astuty ED. (1991). ”Fermentasi Etanol Kulit Buah Pisang”. UGM, Yogyakarta.

Collins, J.L. 1960. The Pineapple: Botany, Cultivation, and Utilization. New York:
Interscince Publisers Inc.

Desrosier, N. W. 1988. Teknologi Pengawetan Pengan. Terjemahan Muchfi


Mulyoharjo. Jakarta : UI Press.

Harrison JS. Graham JGJ. 1970. Yeast in Destilery Practice. Academic Press. New
York.

Hepworth, M. (2005),”Technical, Environmental and Economic Aspects of Unit


Operations for the Production of Bioethanol from Sugar Beet in the United
Kingdom”, CET IIA Exercise 5, Corpus Christi College.

Judoamidjojo M, Abdul AD, Endang GS. (1992). ”Teknologi Fermentasi”. Jakarta:


Rajawali - Press.

Kunkee K D. C J Mardon. 1970. Yeast Wine Making. Academic Press, London

Purseglove, J.W.1975. Tropical Crops : Monocotyledons. Longman Group Ltd.


London, 2nd edition.

Nikon. 2004. Saccharomyces Yeast cells : Nikon Microscopy. Available at :


http//www.microscopyyu.com/ (Diakses tanggal 17 maret 2015)
Prescott, S. G and C. G. Dunn, 1959, “Industrial Microbiology”. McGraw-Hill
BookCompany, New York.

Rahman, A. 1989. Pengantar Teknologi Fermentasi. Bogor: PAU Institut


Pertanian Bogor.

Retno, D.T dan Nuri, W. 2011. Pembuatan Bioetanol Dari Kulit Pisang. Jurusan
Teknik Kimia FTI UPN Veteran. Yogyakarta.

Richana, N. 2011. Bioetanol: Bahan Baku, Teknologi, Produksi dan Pengendalian


Mutu. Penerbit Nuansa, Bandung.

Roukas T. (1996), “Continuous Bioetanol Production from Nonsterilized Carob Pod


Extract by Immobilized Saccharomyces cerevisiae on Mineral Kissiris Using A
Tworeactor System”, Journal Applied Biochemistry and Biotechnolo-gy, Vol.
59, No. 3.

Siddharta, F. M. 1989. Pemanfaatan Limbah Pengolahan Nenas (Ananas comossus


L.) Merr) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Silase Secara Biologis [ Skripsi ].
Bogor: FATETA IPB.

Wijana S, Kumalaningsih A, Setyowati U, Efendi dan Hidayat N. (1991).


“Optimalisasi Penambahan Tepung Kulit Nanas dan Proses Fermentasi pada
Pakan Ternak terhadap Peningkatan Kualitas Nutrisi”. ARMP (Deptan).
Universitas Brawijaya. Malang. Wijana S, Kumalaningsih A, Setyowati U,
Efendi dan Hidayat N. (1991). “Optimalisasi Penambahan Tepung Kulit Nanas
dan Proses Fermentasi pada Pakan Ternak terhadap Peningkatan Kualitas
Nutrisi”. ARMP (Deptan). Universitas Brawijaya. Malang.
Wikipedia Indonesia, (2010), Nanas, (http://id.wikipedia.org/wiki/Nanas), Tanggal
akses 17 Maret 2015

Winton, A. L. and K. B. Winton, 1958. The Analysis of Food. John Willey and Sons,
Inc., London.