You are on page 1of 18

MAKALAH RESEARCH BASED LEARNING

Dispersi carbon nanofiber dimodifikasi dengan koloid polimer untuk meningkatkan


sifat mekanik film nanokomposit PVA

OLEH KELOMPOK 1
David Nicodemus Yanuar (1706070886)
Ibnu Aryo Prayogi (1606907846)
Lila Maritza Morris (1706021814)
Rahmatallah (1706071030)
Shafira Azzahra (1706071062)
Shamira Ausvy (1706023896)

Program Studi Teknik Kimia (S1 Paralel)


Departemen Teknik Kimia – FT UI
Depok – 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan Makalah Kimia Fisika ini tepat
pada waktunya. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Research Based
Learning dan juga sebagai media pembelajaran yang mandiri untuk dapat lebih memahami
topik mengenai penerapan sifat partikel koloid pada dispersi carbon nanofiber dalam film.
Dalam proses penyusunan makalah ini, ada beberapa kendala yang kami hadapi.
Namun, berkat bantuan dan bimbingan berbagai pihak, laporan ini dapat terselesaikan
dengan baik. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Eny Kusrini S.Si., Ph.D. selaku fasilitator dan dosen pengampu mata kuliah
Kimia Fisika.
2. Teman-teman kelompok 1 yang bekerja sama dengan baik dalam menyusun
makalah ini dan telah memberikan kritik dan saran yang membangun.
3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini yang tidak
dapat kami sebutkan satu persatu.
Selain itu, kami juga menyadari bahwa baik dalam segi sistematika penyusunan
maupun materi yang dipaparkan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
berharap kritik dan saran dari pembaca yang dapat disampaikan sebagai bahan evaluasi
kami kedepannya. Semoga adanya laporan ini dapat bermanfaat dan dipergunakan sebaik-
baiknya.

Depok, 7 Desember 2018

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................... 1
Latar Belakang .................................................................................................................... 1
Rumusan Masalah ............................................................................................................... 2
Tujuan Pembelajaran ........................................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................... 3
METODE ............................................................................................................................ 6
BAB II ISI .............................................................................................................................. 8
2.1 Sifat-sifat Koloid dan Contohnya.................................................................................. 8
2.2 Proses Pembuatan Koloid ............................................................................................. 9
2.3 Aplikasi Koloid ........................................................................................................... 10
2.4 Adsorpsi Partikel Polimer ke CNF .............................................................................. 10
2.5 Dispersi CNF dalam Larutan PVA ............................................................................. 10
2.6 Sifat Mekanis dari Film Komposit PVA ..................................................................... 11
BAB III KESIMPULAN .................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 14

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Koloid Negatif Mengadsorpsi Kation ................................................................... 4


Gambar 2. Pola Gerak Brown ................................................................................................. 5
Gambar 3. Sifat Mekanik Film Komposit PVA dengan 2 Wt% CNF dengan Berbagai
Modifikasi...................................................................................................................... 11
Gambar 4. Efek Fraksi Massa Tertentu CNF Pada Sifat Mekanik Komposit PVA ............. 12

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi Koloid ..................................................................................................... 8

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Karbon nanotube (carbon nanotube - CNT) merupakan salah satu nanomaterial
yang paling menjanjikan untuk digunakan sebagai pengisi fungsional tinggi dalam bahan
nanokomposit menggunakan resin matriks sebagai bahan dasar, karena sifat listrik, termal,
dan mekaniknya yang unik. Beberapa penelitian telah memeriksa sifat mekanik material
komposit CNT menggunakan matriks resin. CNT tunggal dan multi-dinding, serta karbon
nanofibers uap-tumbuh (CNFs) adalah material yang dapat memperkuat berbagai matriks
polimer. Di antara matriks-matriks ini, polivinil alkohol (PVA) adalah polimer hidrofilik
yang memiliki aplikasi luas dan memiliki banyak manfaat dari biaya rendah, keamanan
yang baik, dan penanganan yang mudah. CNFs memiliki mekanik yang sangat baik sifat,
seperti kekuatan aksial yang sangat tinggi dan sebuah aksial modulus Young dari urutan
beberapa ratus GPa. Namun, sampai saat ini, kekuatan mekanik material komposit CNF
lebih rendah dari yang diharapkan. Untuk memperoleh bahan polimer komposit CNF
dengan sifat mekanik yang tinggi, perlu untuk dicapai dispersi seragam CNF di dalam resin
dan adhesi permukaan yang ideal di antara keduanya komponen. Dalam bahan komposit
polimer CNF yang sebenarnya, CNF tidak seragam terdispersi dalam resin matriks.
Selanjutnya, CNFs tidak membawa gaya tarik tetapi sebaliknya ditarik keluar dari resin
pada saat patah karena adhesi yang buruk terhadap resin. Untuk menyelesaikan masalah ini,
banyak penelitian telah mempresentasikan metode untuk memodifikasi permukaan CNF
menggunakan surfaktan, polimer, dan metallic complexes.
Koloid merupakan suatu bentuk campuran fase peralihan homogen menjadi
heterogen. Campuran tersebut merupakan keadaan antara larutan dan suspensi. Secara
makroskopis koloid tampak homogen, akan tetapi sebenarnya koloid tergolong campuran
heterogen, karena perbedaan partikel kedua fase koloid masih dapat diamati dan dibedakan
secara makroskopis. Koloid dalam pelarut nonpolar sangat penting dalam banyak industri
dan aplikasi. Sebagai contoh, mikroemulsi air dalam minyak dapat digunakan sebagai
"nanoreaktor" untuk menghasilkan banyak jenis nanopartikel, koloid karbonat logam yang
digunakan sebagai deterjen pelumas, dan koloid bermuatan dapat membentuk struktur
kristal yang dapat dipelajari pada skala mikroskopik. Spesies yang digunakan adalah yang
tidak mudah stabil dalam pelarut nonpolar seperti dalam air, penting dalam banyak aplikasi
seperti mencegah ledakan dalam proses petrokimia dan baru-baru ini dalam tampilan
elektroforetik.
Sistem dispersi merupakan campuran antara zat terlarut dengan pelarut. Dalam
sistem dispersi, jumlah zat terlarut akan lebih sedikit dibandingkan dengan zat pelarut. Zat
terlarut dinamakan fase terdispersi, sementara itu, zat pelarut dinamakan medium
pendispersi. Jadi, sistem dispersi adalah campuran antara fase terdispersi dengan medium
pendispersi yang bercampur merata. Sistem dispersi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
dispersi kasar, dispersi halus, dan dispersi koloid.
1
Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses meningkatkan sifat mekanis PVA Nanocomposite Film dengan
dispersi karbon nanofibers yang dimodifikasi?

Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui proses meningkatkan sifat mekanis PVA Nanocomposite Film dengan
dispersi karbon nanofibers yang dimodifikasi.

2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada penelitian ini, akan diaplikasiakan prinsip dari koloid polimer untuk
meningkatkan dispersi CNF dalam resin PVA. Koloid polimer adalah sistem koloid
heterogen yang kompleks yang terbentuk dari proses polimerisasi dari monomer atau dari
proses emulsi surfaktan, tetapi juga memungkinkan untuk membuat koloid dari polimer
yang terbentuk sebelumnya dengan menggunakan proses seperti inversi fase atau
pengendapan. Beberapa koloid polimer, seperti getah karet, muncul secara alami tetapi
banyak dari mereka dibuat secara sintetis.
Penggunaan koloid polimer pada penelitian ini dikarenakan koloid polimer memiliki
partikel yang lebih kecil dibandingkan polimer biasa, yaitu sekitar 10-7 m – 10-9 m atau 10
– 10.000 Ao. Sehingga akan lebih mudah terdispersi pada CNF. Hal ini dikarenakan
polimer merupakan gabungan dari beberapa subunit yang sama, gabungan monomer yang
membentuk polimer pada berat molekul tertentu akan memiliki berat molekul yang sangat
tinggi sehingga akan memilki sifat viskositas yang tinggi.
Pada penelitian ini, koloid polimer akan dibuat dengan cara emulsi polimerisasi,
dimana dibutuhkan pelarut polar, monomer, dan surfaktan. Jenis surfaktan yang digunakan
adalah surfaktan polimer PVA. Hal ini dikarenakan Polyvinil-Alcohol (PVA) memiliki
degree polymerization yang cukup tinggi. Dimana mengindikasikan tingkat kelarutan PVA
sangat tinggi dalam air sehingga dapat membantu melarutkan monomer ke dalam air ketika
polimerisasi koloid Polystyrene (Pst) pada saat proses pencampuran yang akan
menghasilkan emulsi.
Salah satu penghambat dispersi dari CNF adalah gaya adhesi CNF yang rendah. Hal
ini dikarenakan gaya dari kohesi (tarik menarik antar molekul yang sama) yang tinggi dari
CNF menghambat CNF untuk berinteraksi dengan molekul yang berbeda, dalam hal ini
merupakan PVA. Sehingga penyebaran (dispersi) di dalam resin PVA sulit. Prinsip pada
pembuatan polimer koloid dapat dibuat dengan kondensasi dari partikel kecil menjadi
partikel yang lebih besar atau disintegrasi (penguraian) dari partikel yang lebih besar.
Dimana dalam prosesnya akan melepas daya kohesi sehingga dapat meningkatkan daya
adhesi. Adhesi merupakan gaya Tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis.
Peningkatan gaya adhesi pada polimer akan sangat berpengaruh untuk membantu untuk
meningkatkan kemampuan dispersi CNF dalam resin PVA dikarenakan koloid polimer
dapat mengubah permukaan dari CNF. Sehingga dapat membantu dispersi (penyebaran)
CNF ke dalam resin PVA.

3
Selain gaya adhesi, prinsip dari peningkatan dispersi pada CNF ini digunakan
prinsip adsorpsi. Adsorpsi merupakan proses melekatnya suatu zat pada permukaan padatan
atau cairan. Partikel koloid memiliki sifat mudah mengadsorpsi warna. Ukuran partikel
koloid kecil sehingga permukaannya luas dan menyebabkan kemampuan adsorpsinya
besar. Partikel koloid akan bermuatan listrik, apabila partikel koloid menyerap ion yang
bermuatan, dan ion tersebut menempel pada permukaan koloid, sehingga partikel koloid itu
akan bermuatan. Kemampuan adsorpsi pada partikel koloid dapat membantu dispersi dari
CNF. Dimana koloid polimer akan membantu mengadsorpsi PVA ke CNF dengan adanya
interaksi elektrostatik pada koloid polimer.
Sifat adsorpsi suatu lapisan molekul pada koloid ini juga digunakan untuk
menstabilkan suatu partikel. Koloid yang bertindak sebagai bahan penstabil disebut koloid

Gambar 1. Koloid Negatif Mengadsorpsi Kation


ptotektif. Koloid protektif terutama efektif dalam menstabilkan koloid cair dalam cair, yang
disebut emulsi. Pada aplikasinya susu merupakan suatu emulsi butiran lemak dalam air,
dengan kasein, suatu protein, bertindak sebagai bahan penstabil. Mayones adalah suatu
emulsi, suatu lemak cair (seperti minyak zaitun atau minyak jagung) dalam air, dengan
kuning telur bertindak sebagai bahan penstabil. Gelatin digunakan sebagai suatu koloid
protektif datam membuat eskrim unruk mencegah pembentukan partikel besar gula ataupun
es. Hal ini sangat berguna dalam emulsi polimerisasi dan menstabilkan kemampuan
disperse CNF ke dalam resin PVA.

4
Gambar 2. Pola Gerak Brown
Stabilisasi dari sistem koloid disebabkan oleh sifat gerak Brown yang dimiliki oleh
koloid. Gerak Brown ini termasuk ke dalam sifat kinetic dari koloid. Sifat kinetik koloid
ada dua, yaitu gerakan termal dan gerakan akibat gaya grafitasi. Partikel koloid senantiasa
bergerak terus menerus dengan gerakan patah-patah (zig-zag) yang kemudian dikenal
dengan Gerak Brown Gerak Brown ini pertama kali dikemukakan oleh Robert Brown, pada
waktu mempelajari gerak serbuk tepung sari di atas air. Gerak Brown terjadi sebagai akibat
tumbukan yang tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap pertikel koloid.
Sifat ini dinyatakan dapat menstabilkan koloid partikel-partikel koloid bergerak terus
menerus menghasilkan gerakan yang dapat mengimbangi gravitasi, sehingga koloid itu
tidak akan mengendap.

5
METODE

Material
1. CNFs: Panjang serat rata2 9μm dan diameter 150nm
2. Resin Matriks PVA: 98% dihidrolisis dengan tingkat polimerisasi dari 1500 - 1800
3. Koloid Polimer
Koloid polimer dibuat menggunakan metode polimerisasi emulsi yang merupakan
penggabungan dari air, monomer, dan surfaktan dimana monomer dipolimerisasi melalui
proses polimerisasi radikal bebas dalam media berair dengan sistem yang seimbang.
Monomer yang digunakan adalah stiren yang telah dihilangkan inhibitor polimerisasinya
(zat yang menghambat laju polimerisasi) yang kemudian dimurnikan dengan distilasi.
Sementara itu PVA / N-vinylacetamide berperan sebagai surfaktan yaitu surfaktan jenis
polimer yang berfungsi untuk menstabilkan partikel polimer yang tumbuh (emulsi
monomer). PVA dan PNVA (2,2’-Azobis[2-(2-imidazolin-2-yl)propane]dihydrochloride)
atau (VA-004, Sigma Aldrich Co. LLC) juga berfungsi sebagai inisiator yang merupakan
sumber radikal bebas dalam polimerisasi emulsi. Inisiator berperan dalam menginisiasi
terjadinya reaksi polimerisasi adisi monomer-monomer untuk membentuk polimer.
Polimerisasi emulsi kemudian diikuti dengan bubbling gas nitrogen dan di bubbling ke
dalam air untuk menghilangkan oksigen terlarut.
Suatu dispersi partikel polimer dalam lingkungan berair (lateks) dihasilkan dari proses
ini. Lateks dapat digunakan dalam bentuk ini untuk aplikasi pelapisan atau dapat
dipisahkan dari medium dan diproses untuk membentuk bahan polimer dan digunakan
dalam sejumlah aplikasi, Pada pembuatan koloid primer ini, lateks dipisahkan dari
mediumnya (pemurnian air yang digunakan dalam emulsi) dan diproses untuk membentuk
bahan polimer.

Pembuatan Film Komposit


Pembuatan polistiren (PSt) koloid menggunakan metode polimerisasi emulsi dilakukan
dengan mencampurkan monomer stirena (0.1 g), VA-004 (5 mg), dan PVA/NVA (0.1 g) ke
dalam 15 mL air. Kemudian larutan dipanaskan pada suhu 70℃ dan diaduk dengan
kecepatan 130 rpm selama 6 jam.
Kemudian PVA (1 g) dan CNF (5-50 mg) yang dilarutkan dalam 15 mL air suling yang
kemudian di ekstraksi menggunakan metode ultrasonik selama 3 menit dan diaduk pada
suhu 90℃ selama 3 jam. Tahapan tersebut merupakan tahapan permukaan CNF yang
dihidrofil oleh PVA.
Selanjutnya, koloid PSt (9 mL larutan koloid PSt yang diencerkan) ditambahkan ke
dalam PVA/CNFs. Penambahan koloid PSt untuk memodifikasi CNFs untuk meningkatkan
sifat mekaniknya. Selanjutnya larutan diaduk pada 400 rpm selama 3 jam agar terjadi
adsorpsi partikel koloid PSt ke permukaan PVA/CNFs.
Film komposit PVA/CNFs dibuat menggunakan metode solution casting. Larutan
PVA/CNFs disintesis dengan menuangkan larutan ke plat kaca dan menguapkan
6
kandungan air dengan memanaskan pada suhu 70℃ selama 6 jam sehingga terbentuk film
yang kemudian dilanjutkan dengan tahap pengeringan menggunakan oven pada suhu 80℃
selama 24 jam.

Evaluasi Dispersi CNF dalam Larutan PVA dan Film Komposit


Dispersi CNFs dalam larutan PVA dapat dievaluasi menggunakan Zetasizer. Zetasizer
merupakan alat yang mampu menganalisa ukuran partikel, analisa zeta potensial, analisa
berat molekul, mobilitas protein dan pengukuran mikrorheologi. Evaluasi yang diperlukan
yaitu mengukur partikel menggunakan hamburan cahaya dinamis (dynamic light scattering)
dan zeta potensial menggunakan hamburan cahaya elektroforesis. Zeta potensial adalah
parameter muatan listrik antar partikel koloid. Semakin tinggi nilai zeta potensial maka
akan semakin mencegah terjadinya flokulasi (CNFs terdispersi merata).
Sementara itu dispersi CNF dalam film komposit PVA dievaluasi secara kuantitatif
menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 400nm dan dapat
dilakukan perhitungan transmitansi dan absorbansinya.

Uji Tarik Film Komposit


Uji tarik film komposit dilakukan pada suhu kamar menggunakan mesin uji tarik kecil
yang kemudian dapat diukur sifat mekaniknya menggunakan rumus:

∆𝜎 × 10−3
𝑌=
∆𝜀

Dimana 𝜎 dapat dicari dengan rumus:

𝐹𝑚𝑎𝑥 × 106
𝜎𝑑 =
(𝑎 × 𝑏)

Keterangan:
Y [GPa]: Modulus Tarik
∆σ [MPa] ∶ Perbedaan tegangan
∆ε ∶ Perbedaan distorsi
𝜎𝑑 [MPa] ∶ Kekuatan tarik
𝐹𝑀𝑎𝑥 [N] ∶ Beban Maksimum
a dan b [mm]: Ketebalan dan lebar spesimen

7
BAB II
ISI

2.1 Sifat-sifat Koloid dan Contohnya


Koloid merupakan sistem dispersi dengan ukuran partikel mikro, dengan fasa
terdispersinya yang berukuran 1 – 1000 nm. Partikel fasa terdispersi dan medium koloid
tidak dapat dipisahkan secara gaya gravitasi, sentrifugal, dan gaya lain.
Koloid dikenal dengan sifat uniknya yang terlihat dalam efek Tyndall, yaitu
penyebaran cahaya ketika melewati koloid karena dimensi yang sama dari panjang
gelombang cahaya dan ukuran partikel tersebar koloid. Selain itu, koloid mempunyai luas
permukaan yang besar karena partikel mikronya dan karena itu mempunyai rasio luas
terhadap volume yang besar. Hal ini mengakibatkan adanya sifat-sifat khas dari koloid.
Proses adsorpsi antara fasa dispersi dan mediumnya berpengaruh cukup signifikan
pada sifat fisika, reaksi kimia dan stabilitas koloid, sehingga dapat dibuat berbagai aplikasi
berkaitan dengan hal-hal tersebut.
Berikut adalah klasifikasi dari koloid tergantung dengan fasa terdispersi dan fasa
pendispersinya (medium)
Tabel 1. Klasifikasi Koloid

Adapun contoh-contoh dari koloid adalah sebagai berikut:


 Sol
o Pasta gigi
o Larutan kanji
 Gel - sol, di mana partikel yang terdispersi saling terhubung membentuk jaringan.
Sifat-sifat gel mirip dengan yang padat.
o Jelly
o Gel aloe vera
 Sol padat
o Berlian hitam
o Kaca rubi

8
 Emulsi
o Susu
o Mayones
 Emulsi padat
o Mentega
o Mutiara
 Aerosol cair
o Kabut
 Aerosol padat
o Asap
o Debu halus di udara
 Busa cair
o Krim
o Busa pemadam kebakaran
 Busa padat
o Arang
o Lahar

2.2 Proses Pembuatan Koloid


Terdapat dua metode umum preparasi koloid untuk mencapai ukuran partikel dalam
fasa terdispersi koloid sebesar 1 – 1000 nm. Metode tersebut adalah preparasi dengan
dispersi dan preparasi dengan kondensasi molekul dari larutan.
Penggilingan biasanya digunakan untuk memecah partikel-partikel padat besar.
Metode ini mampu mendispersi partikel ke ukuran tertentu secara mekanik. Cara lain
adalah dengan penambahan surfaktan untuk mengurangi energi permukaan partikel dan
membuat partikel lebih terdispersi. Kemudian, pengenceran fase terdispersi juga dapat
dilakukan untuk menghasilkan pengurangan tabrakan antar partikel. Media pengenceran
kemudian dihapus dan partikel yang tersebar digunakan untuk persiapan koloid.
Sedangkan untuk kondensasi molekul, dilakukan dengan persiapan larutan jenuh,
dan dengan proses kondensasi menghasilkan partikel terdispersi. Proses ini terjadi dalam
dua tahap:
 Nukleasi
Nukleasi dapat terjadi baik oleh mekanisme homogen atau heterogen
tergantung pada besarnya nilai supersaturation larutan. Kehadiran partikel asing
atau zat asing lainnya dalam larutan memungkinkan pengendapan dengan nilai
supersaturation kecil. Ini adalah nukleasi heterogen. Jika tidak ada partikel padat,
kejenuhan lebih tinggi diperlukan untuk membentuk inti yang stabil, yang
dinamakan nukleasi homogen, dan berlanjut ke tahapan pertumbuhan.
 Pertumbuhan

9
Jumlah inti stabil per satuan volume larutan menentukan ukuran partikel
yang terdispersi. Partikel tumbuh dengan dua mekanisme: transfer molekul terlarut
ke fase baru dan agregasi/koalesensi partikel bertabrakan.

2.3 Aplikasi Koloid


Dalam penggunaan koloid sendiri diaplikasikan dalam berbagai jenis produk atau
proses yang dapat ditemui sehari-hari. Berikut adalah beberapa contoh dari penggunaan
sifat koloid dalam produk makanan dan obat-obatan serta pemurnian air:
A. Makanan dan obat-obatan:
a. Susu adalah emulsi (cairan dalam sistem koloid cair). Dalam susu, mentega
dan lemak didispersikan dalam air.
b. Roti adalah sistem koloid dimana udara terdispersi dalam adonan yang
dipanggang.
c. Obat koloid lebih efektif karena mereka mudah diserap oleh tubuh sehingga
banyak obat-obatan yang beredar adalah emulsi.
d. Beberapa antibiotik utama seperti penicillin dan streptomisin disuntikkan ke
dalam tubuh dalam bentuk koloid sehingga mereka akan diserap oleh tubuh
dengan mudah.
B. Pemurnian Air
Salah satu metode yang populer digunakan untuk pemurnian air adalah
penambahan elektrolit seperti tawas tumbuk. Penambahan elektrolit ini didasarkan
pada fakta bahwa air yang tidak murni biasanya merupakan sistem koloid.
Air yang tidak murni biasanya mengandung partikel koloid yang tersebar
sehingga tidak dapat dihilangkan dengan cara filtrasi. Penambahan elektrolit
tersebut menghasilkan koagulasi yang terbentuk dari zat pengotor sehingga dapat
dipisahkan dengan filtrasi.

2.4 Adsorpsi Partikel Polimer ke CNF


Permukaan CNF terlapisi oleh PVA akibat dari interaksi hidrofobik antara CNF
dengan bagian Hidrofobik PVA. Hal ini menyebabkan permukaan CNF terhidrasi
(mengandung air) dan membentuk lapisan dengan stabilitas dispersi yang baik.
Partikel PSt bermuatan positif (polyvinyl alcohol (PVA)) akan teradsorpsi ke
permukaan CNF oleh interaksi elektrostatik. Oleh karena itu, CNF akan tertutupi oleh
partikel PSt yang tersebar di air dengan electrical double layers.

2.5 Dispersi CNF dalam Larutan PVA


CNF yang dimodifikasi dengan partikel PNVA / PST dapat mempertahankan
stabilitas dispersi yang baik dalam larutan PVA. Hal ini terjadi karena ukuran CNF yang
telah dimodifikasi dengan partikel PNVA / PST jauh lebih kecil daripada CNF yang tidak
dimodifikasi.

10
Partikel disini memainkan peran penting sebagai spacer atau gaya tolak listrik antar
partikel untuk mencegah koagulasi antara CNF. Hal ini dikarenakan partikel-partikel
tersebut tidak larut, namun tetap dalam keadaan padat dalam larutan PVA.

2.6 Sifat Mekanis dari Film Komposit PVA


Penambahan hanya partikel PNVA-PST atau 2 wt% U-CNF kurang berpengaruh
pada kekuatan tekanan (tensile strength) dari film PVA. Alasannya adalah partikel PNVA-
PSt dalam film terlalu kecil, dan CNF tidak terdispersi merata dalam resin, sehingga adhesi
yang buruk dengan resin terjadi
Dibandingkan dengan penambahan PVA/ PNVA-PSt, PVA/U-CNF, akan lebih
berpengaruh dalam dua parameter yaitu tensile strength (kekuatan tekanan) dan tensile
modulus (modulus tarik). Hal ini dapat dilihat dari hasil eksperimen yang diinterpretasikan
dalam tabel berikut.

Gambar 3. Sifat Mekanik Film Komposit PVA dengan 2 Wt% CNF dengan Berbagai
Modifikasi

Dari gambar terlihat dengan penggunaan hanya partikel PNVA-PSt berdampak


lebih buruk atau kurang lebih sama dengan tanpa CNF sama sekali jika diukur kekuatan
tekanan dan modulus tariknya. Adapun dengan tambahan PVA-PSr dan PNVA-Pst terdapat
kenaikan yang signifikan.
Jika ditelaah dalam segi komposisi, semakin besar fraksi massa CNF pada film
PVA/U-CNF dan PVA/CNF/PNVA-CSt (lebih banyak CNF secara total) maka lebih besar
modulus tariknya. Hal ini karena modifikasi lapisan dengan polimer meningkatkan adhesi
dan modulus tarik.

11
Gambar 4. Efek Fraksi Massa Tertentu CNF Pada Sifat Mekanik Komposit PVA

Dari kedua perbandingan untuk dua sifat mekanik ini, dapat dilihat efek
penggunaan polimer koloid. Penggunaan polimer koloid tersebet memberi efek
peningkatan kekuatan tekanan CNF secara signifikan dari komposisi 5 wt%. Hal ini akibat
dispersi dalam PVA dan adhesi antar CNF dan PVA ditingkatkan dengan partikel polimer
koloid tersebut.

12
BAB III
KESIMPULAN

Dari pembelajaran melalui makalah ini dapat disimpulkan bahwa:


1. Studi ini memperkenalkan metode memodifikasi lapisan CNF dengan koloid
polimer dengan PVA yang mengakibatkan peningkatan sifat mekanik dari film
komposit PVA dengan CNF termodifikasi.
2. Peningkatan sifat mekanik film komposit dilakukan dengan adsorpsi dari partikel
polimer pada CNF termodifikasi dengan PVA, karena CNF termodifikasi dapat
didispersikan secara merata pada resin PVA.
3. Adhesi lapisan CNF dengan PVA menaik secara signifikan.
4. Sifat mekanik yang meningkat akibat modifikasi dengan partikel polimer ini adalah
kekuatan tekanan dan modulus tarik.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2017. Malvern Instruments Karakterisasi Partikel Seri Zetasizer Nano. Malvern
Panalytical. http://www.dksh.com/id-id/products/malvern-zetasizer-nano. 6
Desember 2018 (11.11)
Daniels, E.S., Sudol, E.D., El-Aasser, M. S. 2001. Overview of Polymer Colloids :
Preparation, Characterization, and Application.
Fitch, R. (1971). Polymer Colloids. Boston, MA: Springer US.
Gouy, G., About the electric charge on the surface of an electrolyte, J. Phys. A,9, 457, 1910
Hadera, M. 2013. Polimer Emulsi. https://www.slideshare.net/rudysitorus/polimer-emulsi.
6 Desember 2018 (18.03).
Myers, D., Surfaces, Interfaces, and Colloids: Principles and Applications, JohnWiley &
Sons, New York, 1999
Naoya, T., Yamamoto, T., (2018) Dispersion of Carbon Nano Fiber modified with polymer
Colloids to enchance mechanicalproperties of PVA nanocomposites film, Colloid
and Surface A: Physicochemcial and Engineering Aspects, Volume 556. Pp258-252
S. Manivannan, I.O. Jeong, J.H. Ryu, C.S. Lee, K.S. Kim, J. Jang, K.C. Park, (2008)
Dispersion of single-walled carbon nanotubes in aqueous and organic solvents
through a polymer wrapping functionalization, J. Mater. Sci. Mater. Electron. 20.
223–229.
Sharipova, A., Aidarova, S., Mutaliyeva, B., Babayev, A., Issakhov, M., Issayeva, A.,
Madybekova, G., Grigoriev, D. and Miller, R. (2017). The Use of Polymer and
Surfactants for the Microencapsulation and Emulsion Stabilization. Colloids and
Interfaces, 1(1), p.3.
Substech.com. (2018). Preparation of colloids [SubsTech]. [online] Available at:
http://www.substech.com/dokuwiki/doku.php?id=preparation_of_colloids
[Accessed 7 Dec. 2018].
Substech.com. (2018). Colloids [SubsTech]. [online] Available at:
http://www.substech.com/dokuwiki/doku.php?id=colloids [Accessed 7 Dec. 2018].
UNY. (n.d.). [pdf] Yogyakarta: UNY. Available at:
http://staffnew.uny.ac.id/upload/198001032009122001/pendidikan/sistem-
koloid.pdf [Accessed 7 Dec. 2018].
Y. Tsutsumi, T. Fujigaya, N. Nakashima, (2014). Polymer synthesis inside a nanospace of a
surfactant–micelle on carbon nanotubes: creation of highly-stable individual
nanotubes/ultrathin cross-linked polymer hybrids, RSC Adv. 4
Yanti, A., dkk. 2015. Ekstraksi Ultrasonik. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. UIN
Syarif Hidayatullah. Jakarta.

14